FEB

Kategori: s2_maksi

  • Pengurus BEM, Dema dan Ormawa FEB Ikuti Sosialisasi Anggaran dan SPJ

    Pengurus BEM, Dema dan Ormawa FEB Ikuti Sosialisasi Anggaran dan SPJ

    Beralihnya status UNS dari Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) serta keberadaan UNS  di klaster 1 perguruan tinggi di Indonesia, maka  peran dan aktifitas kemahasiswaan menjadi lebih besar. Mahasiswa kita dorong agar aktif berpartisipasi dalam berbagai macam aktifitas dan kegiatan sehingga bisa meningkatkan prestasi di level nasional maupun internasional.

    Pernyataan itu disampaikan  Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si., Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) saat memberikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi dan Informasi Anggaran dan SPJ bagi Pengurus BEM, Dema dan Ormawa yang digelar Senin, 1 Maret 2021 secara daring.

    Selanjutnya Prof. Izza mengatakan, Pimpinan FEB, mulai dari Dekanat, Kaprodi dan pengelola lainnya serta dosen akan selalu mendukung aktifitas positif yang dilakukan oleh mahasiswa. Selain ikut secara aktif,  hal penting yang juga harus dilakukan mahasiswa di setiap aktifitas yang dilaksanakannya adalah mahasiswa harus mempertanggungjawabkan kegiatannya dalam wujud kelengkapan administrasi pelaporan.

    “Setiap aktifitas yang dilakukan mahasiswa harus Success,  Clear dan Clean (SCC). Aktifitas yang dilakukan harus meliputi 3 hal itu” kata Prof. Izza.

    Success, kegiatan yang dihelat oleh mahasiswa secara substansi harus sukses, baik yang bersifat internal antar mahasiswa di lingkungan FEB, ataupun aktifitas-aktifitas yang bersifat eksternal di level nasional  maupun internasional. Fakultas menyediakan  pembimbing agar mahasiswa bisa berkonsultasi terkait dengan kegiatan yang diikutinya agar berjalan dengan lancar.

    Clear, setiap aktifitas yang dilakukan mahasiswa harus bersih, artinya harus jelas sebelum dan juga sesudahnya. Apakah mendapatkan pendanaan dari fakultas, atau dari sponsor. Apakah akan menarik pembiayaan dari peserta dan sebagainya.

    Clean, setiap kali aktifitas yang telah dilakukan baik dari perencanaan, pelaksanaan maupun pertanggungjawabannya harus bersih, tidak meninggalkan sumbatan-sumbatan. Pertanggungjawaban dalam bentuk pelaporan kegiatan harus diselesaikan juga.

    Arahan juga disampaikan oleh Ketua Perencanaan dan Pengembangan FEB UNS Drs. Supriyono, M.Si.  Dan sesi pelatihan dipandu oleh Koordinator Tata Usaha, Tunggul Ardhi, S.Si. serta Christina Yulia Puspita Dewanti, S.IP., Bendahara FEB UNS. (Humas FEB)

  • FEB Bertambah Dua Profesor Baru

    FEB Bertambah Dua Profesor Baru

    Dua guru besar baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS),  Prof. Dr. Bandi, M.Si., Ak. dan Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si.yang telah dikukuhkan bersama dengan tiga  guru besar dari Fakultas Pertanian  dan satu dari Fakultas Teknik pada Selasa, 9 Maret 2021  merupakan kado terindah bagi UNS saat merayakan Dies Natalisnya yang  ke-45.

    Prof. Bandi merupakan guru besar bidang Ilmu Akuntansi dari Prodi Akuntansi FEB, saat ini  menjabat sebagai Wakil Rektor  Bidang Umum dan Sumber Daya Manusia UNS. Di pengukuhan, Prof. Bandi menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul Kejujuran dalam Pelaporan untuk Meningkatkan Kepercayaan Pengguna pada Laporan Keuangan.

    Prof. Bandi saat menyampaikan pidato pengukuhan guru besar

    Sedangkan Prof. Izza merupakan guru besar Bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan dari Prodi Ekonomi Pembangunan, saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan FEB UNS. Di pengukuhan, Prof. Izza menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul Implementasi Financial Inclusion bagi Pekerja Migrant Indonesia,  Best Practice Teori Permanen Income Life Cycle Hypothesis.

    Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho dalam sambutannya sangat bangga dengan hadirnya 6 profesor baru di UNS. Selamat bergabung kepada 6 guru besar baru dalam keanggotaan dewan professor. Kehadirannya akan meningkatkan reputasi akademik UNS,  khususnya di dalam bidang riset dan inovasi.

    “Peristiwa ini patut dicatat dalam sejarah UNS karena baru kali pertama UNS menyelenggarakan pengukuhan guru besar yang jumlahnya 6. Suatu jumlah yang tidak biasanya, biasanya 1, 2 atau 3  ini adalah kado indah untuk Dies natalis ke-45 UNS. Dengan bertambahnya 6 guru besar baru maka jumlah seluruh guru besar di UNS adalah 235 orang dan 131 diantaranya adalah  guru besar aktif” paparnya.

    Prof. Izza saat menyampaikan pidato pengukuhan guru besar

    Meskipun diakui dengan bertambahnya 6 guru besar, sejatinya  belum mencukupi kebutuhan yang ideal, tapi setidaknya mampu mendorong dosen  lain untuk dapat diusulkan kenaikan jenjang akademik tertinggi yaitu guru besar.

    Rektor mengajak kepada  6 guru besar agar lebih produktif melakukan riset,  menulis buku dan melakukan publikasi pada jurnal internasional serta menghasilkan karya inovatif apalagi di 2021 itu Kementerian Riset dan Teknologi atau  Badan Riset Nasional Inovasi Indonesia telah mengusulkan dana unggulan untuk 12 PTNBH yang nilainya 399,3 Miliar. Ini adalah  kesempatan yang baik sekaligus sebagai  ajang pembuktian bagi kita untuk menunjukkan klaster riset dan inovasi UNS  yang semakin maju dan dapat merespon masa depan dengan baik. (Humas FEB)

  • FEB Sambut Dua Guru Besar Baru

    FEB Sambut Dua Guru Besar Baru

    Karangan bunga yang berjajar rapi di Halaman Gedung I Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan gelaran “Nonton Bareng (Nobar)” di selasar menambah kemeriahan penyambutan dua guru besar FEB yang baru saja dikukuhkan, Selasa 9 Maret 2021.

    Prof. Dr. Bandi, M.Si., Ak. dan Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si. yang telah dikukuhkan sebagai guru besar bersama dengan tiga  guru besar dari Fakultas Pertanian  dan satu dari Fakultas Teknik merupakan kado terindah bagi UNS yang saat ini sedang merayakan Dies Natalis ke-45.

    Kegiatan Nonton Bareng Pengukuhan Guru Besar di Selasar sebagai Ungkapan Suka Cita Keluarga Besar FEB

    Prof. Bandi merupakan guru besar bidang Ilmu Akuntansi dari Prodi Akuntansi FEB yang  juga sebagai Wakil Rektor  Bidang Umum dan Sumber Daya Manusia. Sedangkan Prof. Izza Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan dari Prodi Ekonomi Pembangunan yang juga sebagai Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan.

    Kehadiran dua guru besar disambut dengan meriah oleh pimpinan, dosen dan tenaga kependidikan (Tendik). Memasuki area lobi gedung 1 FEB, keduanya disambut dengan riuhnya musik dan konfeti warna-warni.

    Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof. Djoko Suhardjanto, M. Com (Hons)., Ph,D, Ak dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada Prof. Bandi dan Prof. Izza yang telah sampai pada puncak tertinggi jenjang akademik.

    Kehadiran Kedua Guru Besar Disambut Meriah oleh Pimpinan, Dosen dan Tendik FEB

    “Hadirnya 2 profesor yang hebat ini harus bisa menginspirasi para dosen FEB untuk  mencapai gelar professor,  harus keluar dari rutinitas, jangan yang biasa-biasa. Bagi yang Lektor segera ke Lektor Kepala  dan untuk yang Lektor Kepala harus segera diusahakan meraih gelar profesor. Sesuai harapan Rektor, guru besar harus tercapai minimal  20%” tegasnya.

    Sementara itu, kedua guru besar dalam kesan dan pesannya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Dekan dan seluruh sivitas akademika FEB UNS yang menyambut kehadirannya dengan suasana meriah. Keduanya juga mengajak agar para dosen memacu agar mampu mencapai guru besar.

    Menurut Prof. Bandi, ke depan,  proses administrasi untuk Penilaian Angka Kredit (PAK) akan lebih sederhana melalui sistem yang terintegrasi sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama dalam prosesnya dan juga meminimalisir berkas.   (Humas FEB).

  • Prof. Wimboh: Ekonomi Indonesia Diprediksi Pulih Di Tahun 2021

    Prof. Wimboh: Ekonomi Indonesia Diprediksi Pulih Di Tahun 2021

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Prof. Wimboh Santoso yang juga alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Seblas Maret (UNS) hadir sebagai keynote speech pada webinar Contemporary Issues on Islamic Finance and Banking yang diselenggarakan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) UNS Fintech Center, Rabu (03/03/2021) malam.

    Prof. Wimboh menyampaikan materi terkait kondisi perbankan syariah di Indonesia serta potensi perbankan sharia di Indonesia dalam perbaikan ekonomi pasca pandemi. Di paparannya juga dijelaskan tentang rencana kebijakan OJK pada tahun 2020-2021.

    “Nilai perdagangan produk halal/industri halal 3 billion USD, Indonesia merupakan tujuan wisata halal terbaik,” jelas Prof. Wimboh mengawali paparannya.

    Ekonomi Indonesia diprediksi dapat pulih di tahun 2021. Dimulainya program vaksinasi nasional meningkatkan optimisme, hal ini didukung dengan peningkatan consumer index di bulan Februari yang mencapai 88%.

    Dalam hal kebijakan di bidang ekonomi, telah terdapat sinergi kebijakan antar regulator di sektor keuangan perbankan, seperti restrukturisasi kredit, subsidi bunga pinjaman, budget deficit policy, bantuan likuiditas, LTV relaksasi, quantitative easing.

    Terkait peran perbankan syariah, Prof. Wimboh menyatakan bahwa pertumbuhan perbankan syariah cenderung tidak terpengaruh efek pandemi Covid-19 karena mayoritas perbankan syariah terletak di daerah pedesaan.

    Menutup materi yang disampaikan, Prof. Wimboh berharap semoga materi yang disampaikan akan bermanfaat bagi peserta webinar. “Semoga informasi yang saya sampaikan dapat menjadi dasar pengetahuan tentang kondisi sharia banking in indonesia,” pungkasnya.

    Salah satu pembicara dalam webinar tersebut, Tastaftiyan Risfandy, S.E., M.Sc,.Ph.D, dosen FEB UNS yang membahas mengenai mekanisme tata kelola di perbankan syariah.

    Melalui penelitian yang telah dilaksanakan, Dr. Tastaftiyan menemukan bahwa mayoritas akademisi yang bertindak sebagai anggota Dewan Syariah di bank syariah juga menjabat sebagai anggota Dewan Syariah di bank syariah lain.

    “SSB atau Dewan Syariah seharusnya independen dari pengaruh manajemen bank. Akan tetapi, anggota Dewan Syariah tetap menerima remunerasi dari perusahaan terkait. Hal ini dapat menyebabkan konflik kepentingan, terlebih jika seseorang menduduki jabatan sebagai anggota Dewan Syariah di lebih dari satu bank,” jelas Dr. Tastaftiyan.

    Narasumber lain dalam webinar yang digelar secara daring itu yakni Prof. M. Kabir Hassan, (University of New Orleans, USA), Prof. Hussein A. Abdou dari University of Central Lancashire, UK., Dr. Taufiq Hidayat selaku,  Direktur KNEKS Indonesia dan  Dwi Irianti, M.A., Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan Indonesia, Prof. Mansor H. Ibrahim (INCEIF, Malaysia), Prof. Ahmet Faruk Aysan (Hamad bin Khalifa University, Qatar), Dr. Mariani Abdul-Majid dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof Dian Masyita (Universitas Padjajaran-UNPAD), serta Dr. Fakarudin Kamarudin dari Universiti Putra Malaysia (UPM).

    Para peserta menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi pada sesi tanya jawab webinar yang dipandu oleh Dewanti Cahyaningsih M.Rech tersebut.

    Dengan terlaksananya international webinar ini diharapkan mampu mengungkapkan potensi-potensi dari perkembangan kegiatan keuangan dan perbankan islami di Indonesia dan secara global sehingga masyarakat dan peneliti dapat menyesuaikan diri dengan cepatnya perkembangan teknologi keuangan, terutama teknologi keuangan Islam.

    Reporter: Aulia

    Editing: Humas

  • DP 0%,  Ini Kata Pengamat Ekonomi

    DP 0%,  Ini Kata Pengamat Ekonomi

    Pandemi yang mulai merebak di Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu membawa keterpurukan dari berbagai sektor. Setelah satu tahun berada dalam masa pandemi, ada upaya pemerintah untuk menggerakkan sektor ekonomi, salah satunya adalah kebijakan Down Payment (DP) 0%. Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk membebaskan uang muka atau DP 0% bagi pembelian rumah dan kendaraan bermotor sejak 1 Maret hingga 31 Desember 2021.

    Pemerintah optimis, dengan adanya vaksinasi, masyarakat akan semakin percaya diri untuk mulai bergerak sehingga aktifitas ekonomi masyarakat kembali pulih.

    Menyikapi kebijakan pemerintah itu, Prof. Hunik Sri Runing Sawitri, M.Si., Pengamat Ekonomi Universitas Sebelas Maret  mengatakan, kebijakan itu memang dimaksudkan untuk menstimulasi pasar otomotif dan properti yang saat ini lesu. Namun saat ini tanda-tanda ke arah itu belum begitu jelas,  belum memberikan dampak yang signifikan.

    “Kebijakan pemerintah yang sudah dilaunching kemarin, belum bisa memberi dampak yang signifikan, sekalipun Bank Indonesia sudah melihat adanya tanda-tanda perekonomian sudah mulai bergerak tetapi kan banyak faktor yang mempengaruhinya, bagaimana Usaha Kecil Menengah (UKM), pengusaha memanfaatkan kebijakan ini. Harapannya roda perekonomian akan berjalan secara normal, masyarakat kembali beraktifitas, kenyataannya pemerintah masih melakukan pembatasan-pembatasan di masyarakat sehingga orang akan berpikir dua kali untuk meminjam uang, pengusaha juga akan berpikir ulang untuk melakukan ekspansi” papar Prof. Hunik dalam Dialog Pagi RRI, Selasa, 2 Maret 2021.

    Setidaknya dalam waktu dekat ini belum berdampak, masih menunggu keberhasilan vaksinasi sejauh mana. Dengan DP 0% sekilas menarik masyarakat untuk membeli mobil atau rumah, tetapi masyarakat akan terbebani angsurannya yang mungkin lebih besar.

    Namun demikian, Prof. Hunik mendorong agar masyarakat juga tetap optimis. Pemerintah sudah berusaha menggelontorkan banyak bantuan untuk mengatasi permasalahan selama masa pandemi.   Harapannya ke depan dengan kebijakan DP 0 % ini akan dapat mengangkat perekonomian masyarakat. Mudah-mudahan vaksinasi berhasil dan pemerintah juga melonggarkan mobilitas masyarakat sehingga optimisme bisa terwujud dan pada akhirnya bisa mengangkat ekonomi masyarakat Indonesia.

    Disisi lain, Prof. Hunik melihat ada fenomena yang menarik yang terjadi di masyarakat. Di masa pandemi ini muncul wirausaha baru, banyak bermunculan bisnis online yang cukup mampu menyangga ekonomi rumah tangga. Mulai dari pedagang sayuran, kuliner sampai kepada fashion, muncul kreatifitas di kalangan masyarakat karena kondisi “kepepet”.

    Prof. Hunik berharap masyarakat mampu melihat peluang-peluang usaha baru ketika usaha yang sebelumnya digeluti jatuh karena pandemi. Masyarakat diharapkan tidak menyerah dalam berusaha, selalu memunculkan ide-ide usaha baru, usaha online misalnya. (Humas FEB)

  • FEB UNS Adakan Workshop Pengajuan Anggaran dan Penyusunan SPJ

    FEB UNS Adakan Workshop Pengajuan Anggaran dan Penyusunan SPJ

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) adakan Workshop Pengajuan Anggaran dan Penyusunan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) yang diikuti 20 peserta perwakilan masing-masing program studi dan Pelaksana Helpdesk, Kamis 25 Februari 2021 di Ruang Laboratorium Komputer FEB UNS.

    Koordinator Tata Usaha, Tunggul Ardhi, S.Si. saat memberi sambutan dan arahan

    Koordinator Tata Usaha FEB UNS Tunggul Ardhi, S.Si.  dalam sambutannya mengatakan dengan perubahan UNS dari Badan Layanan Usaha (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) terjadi pula beberapa perubahan dalam model pengajuan anggaran dan penyusunan SPJ. Pedoman yang digunakan mulai saat ini menggunakan Standar Biaya Minimum (SBM) UNS.

    Dalam kegiatan ini, pelaksana teknis akan dikenalkan dengan pedoman yang baru, bagaimana caranya mengajukan anggaran dan menyusun SPJ.  Dengan pelatihan ini diharapkan para pelaksana teknis dari bidang maupun prodi lebih cepat melakukan penyesuaian,  tidak mengalami kesulitan lagi.

    Christina Yulia Puspita Dewanti, S.IP, Bendahara Fakultas dan Gigih Fantriko Tri Wibowo, A.Md. dari Bagian Perencanaan FEB UNS menjadi instruktur dalam workshop yang digelar selama sehari.

    Gigih Fantriko memberikan gambaran layanan di Bagian Perencanaan FEB UNS diantaranya upload data dukung fakultas (KPI), revisi ajuan revisi anggaran, download perencanaan fakulas dan prosedur pencairan anggaran. Dipandu pula bagaimana operator bidang dan prodi mengoperasikan aplikasi Sistem Perencanaan dan Evaluasi Anggaran (Sireva).

    Sementara itu, Christina Yulia menyampaikan teknis tentang pengajuan anggaran hingga penyusunan SPJ. Peserta diharapkan untuk benar-benar mempelajari pedoman baru,  SBM UNS.

    Christina Yulia, S.IP memandu peserta

    Untuk dapat mengevaluasi sejauh mana peserta mampu memahami apa yang disampaikannya, disesi terakhir, Yulia memberikan soal-soal yang harus dikerjakan dengan tepat oleh peserta. Soal yang diberikan diantaranya penyusunan SPJ dari Surat Perintah Bayar (SPBY), kuitansi dengan kesesuaian tarif-tarif yang digunakan dan pajak sesuai peraturan yang baru. Kemudian beberapa soal lain juga diberikan yang berhubungan dengan perhitungan honor narasumber, pembelian, jasa dan SPPD.  (Humas FEB UNS)

  • Perlu Sinergitas Internal dan Eksternal Auditor di Masa Pandemi Covid-19

    Perlu Sinergitas Internal dan Eksternal Auditor di Masa Pandemi Covid-19

    Dalam kondisi normal, selama 5 tahun ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menangani tindak pidana korupsi sejumlah 1152 pelaku. Belum lagi yang ditangani aparat hukum yang lainnya. Dari sejumlah itu, yang paling banyak adalah jenis penyuapan.

    Di masa darurat penanganan pandemi Covid-19, pemerintah banyak menggelontorkan bantuan kepada masyarakat. Kelonggaran ini menjadikan peluang tindak korupsi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab akan semakin tinggi.

    Pernyataan itu disampaikan Dhoni Widianto, S.Sos., M.si., C.FrA, Inspektur Pembantu Khusus, Inspektorat Provinsi Jawa Tengah (Jateng) pada Webinar yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret,  Sabtu 26 September 2020.

    Selanjutnya dikatakan, Provinsi Jateng sudah menganggarkan sebanyak Rp 2,126 Triliun untuk penanganan pandemi Covid-19. Anggaran itu  dialokasikan dalam empat uraian kegiatan yakni penanganan dampak kesehatan, penanganan dampak ekonomi, bantuan keuangan pembangunan desa dan penyediaan  jaring pengaman sosial.

    Dhoni Widianto, S.Sos., M.si., C.FrA, Inspektur Pembantu Khusus, Inspektorat Provinsi Jateng

    “Itu adalah angka yang sangat besar dan akan menjadi celah oknum untuk melakukan aksi korupsi. Menurut Bareskrim, beberapa area yang sangat berisiko terjadi penyimpangan, penyelewengan, dan  fraud diantaranya pada pengadaan barang dan jasa, penyerapan anggaran, distribusi bantuan serta kebijakan pemberian insentif” jelasnya.

    Inspektorat Jateng telah melakukan pengawalan dalam penanganan Covid-19 yakni dengan melakukan reviu usulan SKPD sehingga dapat diyakini bahwa rencana belanja tersebut benar-benar untuk penanganan Covid. Juga melakukan validasi data calon penerima manfaat jaring pengaman sosial bekerjasama dengan dinas sosial.

    Dhoni juga menyampaikan arahan Presiden Joko Widodo mempersilahkan penegak hukum di masa pandemi ini untuk menindak tegas pejabat dan aparat pemerintah yang melakukan tindak pidana korupsi dan mengedepankan aspek pencegahan. Dan juga menjaga sinergi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah  (APIP) dengan lembaga pemeriksa keuangan.

    Narasumber kedua dalam Webinar bertemakan Sinergi Auditor Internal dan Auditor Eksternal dalam Mewujudkan Good Government pada Masa Pandemi Covid-19 adalah Mohamad Iqbal Arruzi,Ph.D, Auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia.

    Mohamad Iqbal Arruzi,Ph.D Auditor BPK RI

    Disampaikannya,  di masa pandemi, BPK telah melakukan strategi pemeriksaan yang dilakukan dengan menetapkan alur distribusi kebijakan audit dan kebijakan informasi, penguatan infrastruktur TI untuk auditor, pengaplikasian kertas kerja elektronik, platform internal untuk berbagi file atau file sharing elektronik serta perubahan pada manajemen tim audit.

    BPK juga telah menerapkan Remote Audit sebagai solusi, yakni metode audit yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, dengan analisa data untuk menilai keakuratan data keuangan dan kontrol internal, mengumpulkan bukti elektronik dan berinteraksi dengan klien.

    Keunggulan remote audit mengurangi  biaya perjalanan, meningkatkan ketersediaan kelompok auditor, memperluas cakupan audit, peningkatan hasil reviu dokumen, peningkatan penggunaan teknologi yang ada dapat memperkuat dokumentasi dan pelaporan, beban audit terhadap fasilitas operasional dapat dimitigasi.

    Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A., Ak., C.A, Kaprodi Magister Akuntansi FEB UGM

    Sementara itu, Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A., Ak., C.A, Kepala Program Studi Magister Akuntansi FEB UGM menegaskan kembali bahwa adanya pandemi telah membawa pengaruh yang besar pada berbagai kehidupan termasuk aspek negara dalam mengelola keuangan negara hingga ke pengauditan pengelolaan. Perlu sinergitas antara internal dan eksternal auditor dalam kondisi pandemi. (Humas)

  • Pekik UNS Bisa FEB Jaya Semangati Mahasiswa Baru

    Pekik UNS Bisa FEB Jaya Semangati Mahasiswa Baru

    Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Bisa (FEB UNS), Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons). Ph.D Ak. menyemangati mahasiswa baru dengan  pekik “UNS Bisa FEB Jaya”  di kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang digelar secara daring,  Rabu, 16 September 2020.

    Kepada lebih dari 600 mahasiswa baru dari seluruh Program Studi (Prodi) di FEB UNS, Dekan mengucapkan selamat datang  dan secara simbolis menyerahkan Kartu Rencana Studi kepada empat  mahasiswa  perwakilan prodi.

    Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons). Ph.D Ak.

    “Segenap pimpinan FEB UNS mengucapkan selamat kepada mahasiswa baru. Perasaan senang dan bangga karena anda semua telah bergabung menjadi mahasiswa kami meskipun diterima dalam suasana pandemi Covid-19. Perkuliahan di awal semester ini masih dilakukan secara daring, tidak bisa tatap muka langsung tetapi harus tetap semangat untuk mengikutinya” kata Dekan  menyemangati.

    Ungkapan syukur harus senantiasa terpanjatkan karena mahasiswa telah diterima di FEB,  fakultas yang membanggakan, seluruh prodi di FEB UNS  telah terakreditasi A dari BAN PT. Akreditasi internasional pun telah diraih dari AUN QA dan  ABEST21.

    Mahasiswa baru dari seluruh prodi di FEB Ikuti PKKMB

    Dekan berpesan agar dalam menempuh perkuliahan  di FEB UNS, mahasiswa baru harus membaur dengan semua komponen yang telah lebih dulu melakukan aktifitas  di kampus. Mahasiswa juga diharapkan menorehkan prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional dengan tetap mengangkat nilai-nilai budaya bangsa.

    Di penutup sambutannya,  Dekan mengajak mahasiswa untuk semangat dalam belajar, belajar dan belajar.  Para dosen di FEB UNS akan selalu mensupport seluruh aktifitas belajar mahasiswa. Diharapkan bisa kuliah tepat waktu, mampu maksimal dalam memperoleh ilmu, pengetahuan dan pengalaman selama kuliah.

    Sementara itu,  Dr. Mugi Harsono, M.Si, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni menyampaikan arahan kepada mahasiswa bahwa dunia mahasiswa tidak hanya sekedar menyelesaikan tugas akademik tapi juga merupakan dunia aktualisasi. Mahasiswa harus mampu mengembangkan minat dan bakat serta menorehkan prestasi. Untuk mengasahnya, mahasiswa telah difasilitasi fakultas dengan   organisasi kemahasiswaan dan unit kegiatan mahasiswa.

    Dr. Mugi Harsono, M.Si

    “Jangan hanya menjadi kutu buku, tapi jadilah mahasiswa yang Indeks Prestasi Kumulatif nya OK dan penalarannya juga Ok. Serius kuliah adalah penting tapi beraktualisasi untuk menunjukkan siapa anda juga penting. Jadi, seimbangkan antara kegiatan akademis dan kegiatan kemahasiswaan “ tegasnya

    Lebih lanjut dikatakan, bidang tiga akan membentuk Komunitas Mahasiswa Prestatif untuk mewadahi mahasiswa yang memiliki kelebihan baik dalam menulis, entrepreneur, vokal dan sebagainya. Diharapkan mahasiswa baru dapat berkontribusi aktif untuk bergabung dalam komunitas tersebut selanjutnya mampu menorehkan prestasi.

    Kegiatan PKKMB yang digelar sejak pagi hingga menjelang sore tersebut diisi juga dengan paparan dari bidang akademik, bidang umum dan keuangan serta dari masing-masing program studi. Para alumni dan dosen yang telah berjaya dan berprestasi pun dihadirkan untuk memotivasi mahasiswa baru baik live ataupun melalui video, diantaranya Prof. Wimboh Santoso, Doni P Joewono, Didiek Hartantyo,  Endang Kurniawan, Putriesti Mandasari, Ibrahim Fatwa Wijaya dan Dewanti Cahyaningsih.  (Humas)

  • Webinar Prodi Maksi FEB Angkat Tema Optimalisasi Pembelajaran Daring pada Program Pascasarjana

    Webinar Prodi Maksi FEB Angkat Tema Optimalisasi Pembelajaran Daring pada Program Pascasarjana

    Dalam proses pembelajaran daring, ada lima hal yang harus dipersiapkan dosen  agar proses pembelajaran berjalan efektif, yakni mempersiapkan materi pembelajaran (learning object), menyampaikan materi pembelajaran (learning delivery), mempersiapkan interaksi pembelajaran  (learning engagement), mempersiapkan aktifitas dalam pembelajaran (learning activities) dan mempersiapkan assessment dalam pembelajaran (learning assessment).

    Kita harus mendorong agar mahasiswa bukan hanya mengkonsumsi konten, bukan hanya download materi dan tugas-tugas namun mengalami proses untuk learning activities. Aktifitas  pembelajaran yang membuat mahasiswa memiliki engagement (makna) atau kesan dan experience (pengalaman) .

    Dr. Ir. Ridi Ferdiana, ST, MT, IPM, Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

    Pernyataan itu disampaikan Dr. Ir. Ridi Ferdiana, ST, MT, IPM, Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada pada Webinar yang diselenggarakan  Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Sabtu 29 Agustus 2020.

     

    Selanjutnya dikatakan, pembelajaran daring itu bukan sesuatu yang mudah, membutuhkan  sekumpulan latihan, baik  dari sisi pengajar maupun mahasiswa. Dan yang paling penting adalah bagaimana interaksi pengalaman pembelajaran dari luring itu bisa kita pindahkan sebagian besar ke daring, sehingga aktifitas pembelajaran menjadi aktifitas yang penting melebihi dari aspek-aspek konten yang mungkin kita kembangkan.

    Sebelum mengarah ke pembelajaran daring, kita harus  memahami  juga infrastruktur pembelajaran.

    “Yang sangat perlu diperhatikan adalah bukan hanya kita memilih sinkronus dan asinkronus tapi juga harus melihat  kondisi mahasiswa. Sebaiknya dosen melakukan survei di kelas masing-masing sebelum merancang learning delivery untuk memastikan apakah perangkat lunaknya sudah siap atau belum” jelasnya .

    Hal senada disampaikan oleh Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS dalam pembelajaran daring perlu usaha lebih untuk mempersiapkan materi pembelajaran, harus dibuat semenarik mungkin, harus memperhatikan sisi pedagogi dari suatu materi,  mahasiswa perlu dimotivasi dan diorganisasikan agar mereka bisa terlibat secara langsung dan juga sarana dan prasarana harus mendukung.

    Sementara itu, Dr. Sri Suning Kusumawardani, ST, MT,  Dosen DTETI FT Universitas Gadjah Mada menyampaikan meskipun  pembelajaran daring bukanlah sesuatu yang mudah namun pembelajaran ini bisa kita lakukan dengan pengalaman-pengalaman luring,  kita coba  merepresentasikan di dalam daring.   Meskipun ada keterbatasan, kita dapat mengkombinasikan antara sinkronus dengan asinkronus secara  harmonis.

    Dr. Sri Suning Kusumawardani, ST, MT, Dosen DTETI FT Universitas Gadjah Mada

    Pemaparan ketiga narasumber diikuti seksama oleh sekitar 40 peserta webinar dilanjutkan dengan diskusi  interaktif.  Acara yang bertema Optimalisasi Pembelajaran Daring pada Program Pascasarjana di Era New Normal dibuka oleh Ari Kuncara Widagdo, S.E., M.B.A.Ph.D,Ak. Kepala Program Studi Magister Akuntansi FEB UNS. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Tren Baru Penelitian Intellectual Capital

    Tren Baru Penelitian Intellectual Capital

    Setidaknya, ada empat tren baru dalam penelitian intellectual capital (IC) yakni 1) mengembangkan pengukuran intellectual capital pada industri yang spesifik (misalnya industri perhotelan, perbankan, dan sektor industri non profit), 2) inovasi dalam menganalisis interaksi antar komponen intellectual capital, 3) peran intellectual capital dalam model bisnis yang baru (misalnya start-ups), dan 4) pengambilan keputusan dalam pengungkapan modal intelektual atau Intellectual Capital Disclosure (ICD).

    Bukan hanya di Indonesia, namun juga di dunia, intellectual capital belum diakui sebagai aset perusahaan sehingga ICD menjadi alternatif dalam menyampaikan informasi IC perusahaan kepada stakehoder. Oleh karena itu, muncul agenda-agenda riset yang tren tentang ICD.

    Berdasarkan hasil reviu literatur yang dilakukan Cuozzo et al. (2019) selama periode tahun 2000-2017 pada 246 artikel yang masuk dalam 10 top tier journal (JIC, JHRCA, AAR, AAAJ, AF, BAR, AOS, CPA, EAR, MAR), ternyata penelitian Intellectual Capital Disclosure (ICD) mendapatkan beberapa kritik, penelitian ini dinilai kurang inovatif karena sebagian besar berdasarkan laporan keuangan tahunan. Sebaiknya menggunakan media yang lain. Selain itu riset ICD berkutat di second stage, sebagian besar menggunakan konten analisis, sehingga tidak berkembang. Trennya akan lebih bagus dan menarik jika peneliti bisa datang langsung ke lokasi perusahaan dan melakukan wawancara kepada stakeholder di perusahaan.

    Kritik lain terhadap penelitian ICD adalah terjebak dalam istilah intellectual capital versus Intangible assets. Para praktisi lebih familiar dengan intangible assets daripada intellectual capital.

    Hal ini disampaikan Dr. Wahyu Widarjo , dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Akuntansi FEB UNS bertema Tren Riset Intellectual Capital Selasa, 30/6/2020.

    “Untuk peneltian ICD, yang harus kita lakukan adalah perlu inovatif dalam mencari media pelaporan informasi bukan hanya laporan keuangan, namun bisa melalui website atau media yang lain. Perlu mencari alternatif metode pengumpulan data, bisa survei atau wawancara langsung untuk memperkaya wawasan kita, sehingga kita tahu betul apa yang terjadi di lapangan. Kita juga perlu mengeksplorasi, memperbanyak diskusi terkait istilah intellectual capital dan intangible assets” jelasnya.

    Sementara itu, narasumber lain, Prof. Dr. Ihyaul Ulum, Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Muhammadiyah Malang mengambil dari pendapat Bontis, 1998 bahwa secara umum, para peneliti mengidentifikasi IC disangga oleh tiga pilar yakni human capital, structural capital dan customer capital. Penelitian IC yang banyak dilakukan di Indonesia adalah IC performance dan IC disclosure. Karena IC tidak bisa diukur secara langsung, beberapa penelitian mengukur dampaknya, bukan IC-nya . (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.