FEB

Kategori: s1_mnj

  • Prodi S-1 Manajemen Gelar Pleno Lokakarya Kurikulum

    Prodi S-1 Manajemen Gelar Pleno Lokakarya Kurikulum

    Program Studi (Prodi) S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar Pleno Lokakarya Kurikulum, Selasa-Rabu, 4-5 Agustus 2020.

    Pembahasan di hari pertama lokakarya, fokus pada Bidang Minat Studi yakni Manajemen Operasi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pemasaran, Manajemen Keuangan dan Pleno Kurikulum Konvensional. Sedangkan di hari kedua fokus pada bidang Kampus Merdeka meliputi Bidang Penelitian, Magang Kerja, Kewirausahaan, Proyek di Desa dan Pertukaran Pelajar.

    Dalam sambutan sekaligus membuka acara, Dr. Atmaji, MM, Kepala Prodi S-1 Manajemen FEB UNS mengatakan lokakarya kurikulum ini memiliki makna yang berbeda dengan lokakarya sebelumnya karena beririsan dengan Kampus Merdeka.

    “Rekonstruksi kurikulum saat ini semestinya menggunakan dua paradigma, Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 berdasarkan Permenristekdikti No. 50/2018 diramu dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka berdasarkan Permendikbud No. 3/2020.” paparnya.

    Selanjutnya dijelaskan kurikulum tahun 2020 yang mengacu pada Permendikbud No. 3/2020 tentang Merdeka Belajar Kampus Merdeka adalah hal yang baru dan harus dicermati bersama dari panduan dan buku saku yang telah diterbitkan Kemendikbud. Dalam Merdeka Belajar, mahasiswa dapat mengambil SKS di luar perguruan tinggi sebanyak 2 semester yang setara dengan 40 Satuan Kredit Semester (SKS) serta dapat mengambil SKS di prodi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak 1 semester yang setara dengan 20 SKS.

    Terkait dengan pelaksanaan Kurikulum Kampus Merdeka, berdasarkan pembahasan bersama di Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP), UNS akan mulai menerapkan Kampus Merdeka pada semester V, jadi semester depan. Saat ini aturannya masih dalam proses penggodokan.

    Menurutnya, paling tidak prodi sudah membuat rambu- rambu tentang bagaimana merekognisi kegiatan belajar di luar kampus selama tiga semester dan juga satuan kredit semester selanjutnya didefinisikan sebagai jam kegiatan, bukan jam belajar.

    Dalam aturan baru di UNS yang akan terbit sekitar bulan Oktober atau November 2020, bentuk-bentuk merdeka belajar ada 10 bidang yakni magang atau praktik kerja, asistensi mengajar di satuan pendidikan, penelitian/riset, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, studi/proyek independen, membangun desa/kuliah kerja nyata tematik, pelatihan militer, bentuk lain yang ditetapkan oleh Rektor, serta pertukaran mahasiswa.

    Tidak hanya sekedar merekonstruksi kurikulum namun juga mengkonstruksikan beberapa hal yakni persyaratan sehingga mahasiswa boleh atau tidak mengikuti kegiatan itu, mekanisme, pembentukan penanggung jawab per bidang, menyusun rubrik penilaian termasuk kemungkinan adanya sanggahan dari mahasiswa, kemungkinan pembiayaan mandiri atau kerjasama dan juga monitoring.

    Dr. Atmaji juga berpesan, dalam pelaksanaan Kurikulum Kampus Merdeka ini, peran Pembimbing Akademik (PA) menjadi sangat penting.

    “PA perannya sangat luar biasa dalam Merdeka Belajar, PA akan ditanya mahasiswa dalam banyak hal, mohon PA selalu mempelajari panduan Kampus Merdeka dari Kemendikbud’ tegasnya.

    Pada pleno lokakarya tersebut, para peserta banyak memberikan masukan kepada masing-masing bidang untuk menyempurnakan kurikulum prodi.

    Diantara masukan peserta, harus ada MoU dan MoA diantara perguruan tinggi yang melakukan pertukaran mahasiswa karena hubungannya dengan kewajiban pelaporan hasil studi mahasiswa ke pangkalan data perguruan tinggi. Perlu ditetapkan pula matakuliah yang dipertukarkan dan termasuk kuota mahasiswanya. Selain itu harus ada seleksi administrasi dan akademik.

    Program kampus merdeka dengan konvensional tidak bersifat kompetitif, namun berjalan sinergi dan saling melengkapi. Prodi bertanggung jawab terhadap berjalannya program tersebut.

    (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • New Normal, Saat Tepat Me-Rebranding Pasar Tradisional

    New Normal, Saat Tepat Me-Rebranding Pasar Tradisional

    Pembatasan sosial yang diterapkan di awal Maret 2020 lalu karena pandemi Covid-19 berdampak pada menurunnya transaksi ekonomi. Banyak pedagang khususnya di pasar tradisional yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya karena pendapatan mereka turun drastis. Data dari Dinas Perdagangan  Solo di bulan Mei 2020 transaksi di Kota Solo menurun terus  antara 30% hingga 90% sesuai jenis komoditas.

    Kondisi seperti di atas melatarbelakangi  Tim Riset dari Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai Dr. Sutanto, S.Si., DEA, Prof. Jamal Wiwoho, SH, M.Hum serta beranggotakan Dr. Intan Novela Qurrotul Aini, S.E., M.Si, Dr. Isharyanto, S.H., M.Hum. dan Tonang Dwi Ardyanto, dr.,Sp.PK., Ph.D. untuk  mencari alternatif solusi mengurangi keterpurukan para pedagang.

    Tim mulai menyusun gagasan dan segera mengimplementasikan sistem barter,  sistem perdagangan dengan saling bertukar barang. Dasar dari konsep ini adalah ketika transaksi berkurang karena krisis covid-19 dan jumlah uang beredar adalah tetap, maka agar tidak terjadi inflasi yang harus dilakukan adalah mengurangi kecepatan (velocity) uang berpindah tangan. Cara mengurangi velocity uang adalah membuat sistem barter di pasar tradisional dimana pedagang dapat menukarkan komoditasnya dengan sembako.

    Hal itu disampaikan Dr. Intan Novela Qurrotul Aini, S.E., MSi. dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, selaku anggota tim riset ini, pada Seminar Riset Daring, Kamis 16 Juli 2020.

    Konsep ini mulai dijalankan pada April-Mei 2020 kepada para pedagang di Pasar Legi Solo.  Pedagang sangat antusias karena memang mereka saat itu tidak mendapatkan pemasukan karena penurunan omzet pejualan yang sangat drastis. Dana awal yang didapat Tim dari donatur, dalam dan luar negeri dibelikan sembako dan pedagang melakukan barter dengan  barang dagangan mereka, diantaranya pisang, buah, sayur, empon-empon dan lain sebagainya.

    “Ketika barang dari pedagang sudah banyak, pada Mei-Juni 2020 Tim sudah menformalkan konsep barter, barang-barang barter dari pedagang mulai diseleksi kualitasnya, diberi petunjuk harga dan dijual online melalui WA Bisnis, facebook, instagram dan aplikasi lainnya. Dan memasuki new normal kegiatan barter mulai menurun namun pasar penjualan online semakin luas, pedagang banyak mengambil manfaatnya dari penjualan online. Pesanan konsumen semakin meluas tidak hanya  barang yang ada di Pasar Legi namun merambah juga barang-barang yang dijual di pasar-pasar lainnya, seperti ikan dan ayam dan lainnya.” jelasnya.

    Dr. Intan melanjutkan, fokus dari konsep barter  itu tidak hanya menopang hidup para pedagang tapi juga mengedukasi tentang protokol kesehatan. Dalam proses menukar barang, pedagang harus belajar mentaati protokol kesehatan, mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.

    Dalam menjalankan sistem barter ini, Tim memiliki  keterbatasan dalam hal  sosialisasi yang kurang masiv dan belum ada kepercayaan dari semua pedagang, mengingat ini adalah hal yang baru buat mereka. Baru sebagian pedagang yang bersedia bergabung dan bekerja sama. Profil pedagang sebagian besar merupakan wanita berusia lebih dari 30 tahun, berpendidikan SMA dan berdagang yang lebih dari 10 tahun.

    Keterbatasan lain untuk menjalankan gagasan ini adalah banyak pedagang yang kurang melek teknologi sehingga kurang termotivasi untuk ikut terlibat.

    Tim riset tetap optimis sistem perdagangan online akan berkembang di lingkungan pasar tradisional, karena era digitalisasi adalah sesuatu keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan.  Agar konsep penjualan baru ini bisa berjalan dengan baik, para pedagang perlu mendapatkan lebih banyak edukasi, butuh usaha yang keras untuk memahamkan kepada pedagang agar lebih digital mindset. Juga perlu kerjasama intensif dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas SDM serta kerjasama dari aspek digitalisasi dan pembiayaan. Perlu juga di atur peran pemerintah untuk memberi regulasi barter serta pemberian insentif untuk memacu penjualan online pasar tradisional.

    Beberapa manfaat sistem barter yang diterapkan pada pedagang pasar tradisional mampu memperluas jaringan pasar dengan membuat market place bersama secara online, mempunyai komoditas hasil barter yang bisa dijual secara online, serta data komoditas beserta daftar harga akan menjadi peluang untuk membuat sistem perdagangan online dimana stok komoditas tetap berada di kios-kios pedagang.

    Di akhir paparannya, Dr. Intan menyampaikan, menuju new normal adalah sebuah momentum yang sangat tepat sekali untuk mulai me-rebranding pasar tradisional. Pasar yang semula di-image-kan sebagai tempat kumuh, tidak rapi dan kurang nyaman dapat diubah sebagai pasar yang bersih,  rapi, dan  mengikuti protokol kesehatan serta memiliki keunggulan dan keunikan. Pasar bukan sekedar tempat bertemunya pembeli dan penjual tapi juga tempat yang memberikan kenyamanan sebagai salah satu destinasi wisata dan menjadi edu wisata bagi kenormalan baru. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Prodi S1 Manajemen FEB UNS Selenggarakan Family Business Webinar

    Prodi S1 Manajemen FEB UNS Selenggarakan Family Business Webinar

    Program Studi Sarjana Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mengadakan Family Business Webinar (Fabinar) “Advance Your Academic Career by Publishing a Family Business Teaching Cases with SAGE” pada Selasa, 23 Juni 2020 melalui Zoom Meeting.

    Fabinar ini menghadirkan Dr. Marleen Dieleman, Associate Professor of strategy and family business National University of Singapore dan Rachel Taliaferro, editor SAGE Business Cases serta dimoderatori oleh Dr. Sinto Sunaryo, dosen manajemen FEB UNS. Acara ini diikuti oleh 150 peserta.

    Fabinar ini bertujuan untuk memberikan motivasi serta tips and tricks untuk mulai menulis teaching case, khususnya dalam bidang family business. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Marleen, teaching case adalah alternatif metode pengajaran di perguruan tinggi.

    Teaching case merupakan narasi panjang yang memuat satu atau beberapa isu yang membutuhkan alternatif penyelesaian, tentunya dengan metode yang terstruktur. Teaching case dibuat agar seolah-olah mahasiswa ikut dalam proses penyelesaian masalah dalam sebuah family business dengan memberikan beberapa alternatif solusi berdasarkan teori dan ilmu yang telah dipelajari.

    Topik family business di Indonesia seperti kelangsungan family business di tangan generasi kedua dan selanjutnya, implementasi nilai keluarga, dan tata kelola family business adalah topik-topik yang menarik untuk family business teaching case.

    Menulis family business case memiliki tantangan tersendiri. Selain faktor keterbatasan akses dan izin ke perusahaan family business untuk menemukan topik permasalahan, banyak family business yang tidak ingin ketika nama dan perusahaan mereka dicantumkan dalam case yang ditulis.

    Rachel Taliaferro memberikan alternatif dimana isu yang ditulis dalam family business case tidak harus merupakan isu internal yang terjadi di dalam family business, namun juga bisa berupa isu-isu yang bersumber dari secondary data dan public source lainnya atau yang selanjutnya disebut secondary case. Selain itu, tantangan lain untuk publikasi family business teaching case adalah masalah bahasa.

    Feranita, salah satu penulis family business case di SAGE dari Indonesia menyarankan agar bahasa inggris yang digunakan saat menulis family business case harus benar-benar diperhatikan dan telah di-proofread terlebih dahulu.

    Fabinar yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam ini berlangsung sangat baik. Antusias peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk untuk para narasumber.

    Fabinar ini diharapkan mampu memotivasi peserta untuk menulis family business teaching case sebagai salah satu metode pengajaran di perguruan tinggi.(Tim/Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si

  • Masyarakat Harus Punya Pengendalian Diri, Jangan Asal Share Berita

    Masyarakat Harus Punya Pengendalian Diri, Jangan Asal Share Berita

    Sangat banyak hoaks yang beredar di masyarakat disaat pandemi Covid-19. Minggu ini ada 469 berita hoaks tentang corona dan ini bukan jumlah sedikit. Masifnya berita ini sangat berpotensi menimbulkan keragu-raguan pada masyarakat awam yang tidak tahu berita yang sebenarnya. Keragu-keraguan itu bisa mendorong masyarakat untuk bertindak yang sebaliknya.

    Pernyataan itu disampaikan Retno Tanding Suryandari, SE, M.E, Ph.D, pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) dan juga Relawan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) saat Dialog Interaktif RRI, Jumat 12 Juni 2020.

    Selanjutnya, dosen yang akrab dengan sapaan Tanding itu mengatakan hoaks yang menimbulkan keragu-raguan justru akan menimbulkan bahaya bagi masyarakat. Contoh salah satu hoaks adalah berita bahwa corona itu sama dengan influensa, jadi tidak perlu khawatir dengan corona, padahal tidak ada fakta yang mendukung bahwa corona sama dengan influensa. Justru riset membuktikan bahwa corona dan influensa adalah sesuatu hal yang berbeda. Corona belum ditemukan vaksinnya sedangkan influensa sudah ada.

    Saat pemerintah mulai mengajak masyarakat untuk masuk di tatanan kehidupan baru pun, hoaks masih banyak berkeliaran.

    Dalam hal persiapan menuju new normal, Tanding berharap kepada pemerintah agar aturan-aturan yang telah dibuat dikomunikasikan dengan lebih mengalir kepada masyarakat, apa yang harus dilakukan dengan kondisi ini.

    “Dalam kondisi new normal, aktifitas akan berjalan seperti biasa, jalan-jalan akan ramai, toko-toko, cafe-cafe mulai buka, kantor-kantor akan aktif secara penuh. Yang perlu kita tekankan bukan masalah pembukaannya, tapi ketika semuanya telah dibuka dan mulai ramai, apakah masyarakat sudah siap dengan tatanan yang baru ini, ada hal-hal yang harus dipertimbangkan, kebiasaan baru yang harus terus menerus dikomunikasikan, ditekankan dan terpantau agar masyarakat mau melakukan kebiasaaan baru yang diharapkan pemerintah” paparnya.

    Masyarakat perlu bijak menyaring informasi, apakah berita itu dari otoritas, apakah berita itu benar, apakah layak dan berguna untuk di-share. Kita harus punya pengendalian diri untuk tidak langsung share setiap informasi yang diterima, harus membaca secara utuh dan benar-benar yakin bahwa informasi itu benar, layak dan berguna untuk dishare.

    Dipenutup bincangnya, Tanding berharap semua individu punya tanggung jawab untuk meluruskan informasi yang diterima dan tersebar disekitar kita. Kita harus percaya kepada pemerintah, lebih banyak mendengarkan aturan-aturan dari pemerintah karena pemerintah yang membuat aturan meskipun mungkin kurang menyenangkan namun itu yang akan membuat hidup masyarakat lebih nyaman. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

    .

  • Dosen FEB UNS Bangkitkan Kampung Maronggelo

    Dosen FEB UNS Bangkitkan Kampung Maronggelo

    Dua Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Bambang Sarosa dan Heru Agustanto di Februari 2020 lalu, melakukan serangkaian kegiatan di Kampung Maronggelo, Desa Wolomeze, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Kedua dosen Program Studi Manajemen FEB UNS tersebut membantu mendukung kemajuan SMK Pertanian Terpadu Santo Bertelomeus Maronggelo di bidang sumber daya manusia , sarana dan prasarana pendidikan serta bantuan lainnya. SMK tersebut berada dibawah naungan Yayasan Pendidikan Cahaya Warukia (SANDICAKIA).

    Pendirian SMK Pertanian Terpadu Santo Bertelomeus Maronggelo, beberapa tahun lalu telah digagas kedua dosen FEB UNS tersebut bersama dengan tokoh agama dari Desa Maronggelo, Romo Berto, Pastor yang juga Doktor di bidang Sosiologi Agama dan bersama beberapa tokoh masyarakat lain.

    Rapat dengan guru dan pengurus yayasan pendidikan membahas kurikulum SMK

    Sekolah itu saat ini sudah masuk tahun kedua dan untuk sementara masih menempati sekolah lain desa setempat.

    Rencananya momen 2 Mei 2020 akan dilakukan peletakan batu pertama untuk mulai pembangunan gedung. Targetnya selesai 5 tahun dengan 6 ruang kelas, aula, ruang guru, dan ruang penjaga sekolah.

    Menurut Heru Agustanto, gagasan pendirian SMK Pertanian Terpadu Santo Bertelomeus Maronggelo agak berbeda dengan ide pendirian sekolah-sekolah lain pada umumnya, yakni sekolah pertanian dan peternakan terpadu yang berorientasi pada kearifan lokal dengan pengembangan dan budidaya tanaman lokal.

    Nantinya diharapkan bisa menjadi contoh sekolah mandiri berbasis kearifan lokal, dimana sebagian dari biaya sekolah dan proses belajar mengajar didanai dari hasil pertanian dan peternakan yang dikelola oleh siswa dan guru di lahan seluas sekitar 10 hektar yang diserahkan oleh desa Maronggela sebagai lahan untuk praktek sekolah tersebut.

    “Itulah yang mendorong kami berdua untuk lebih punya perhatian dan melibatkan diri ikut mendorong memajukan sekolah tersebut” jelasnya.

    Selanjutnya dikatakan bahwa sebenarnya keduanya mulai masuk di Maronggelo sejak Desember 2017. Berbagai program yang telah dilakukan diantaranya membentuk koperasi pendidikan, koperasi petani, membuat latihan pupuk bokashi, dan juga memberikan pelatihan kerajinan bambu bagi masyarakat setempat.

    Untuk mensukseskan serangkaian program tersebut, selama tiga periode Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNS, keduanya mengajak mahasiswa ke Maronggelo untuk melanjutkan-programnya programnya.

    “Kami dan beberapa mahasiswa yang pernah KKN di sana, sampai sekarang terus berusaha melanjutkan mimpi-mimpi bersama masyarakat setempat” jelas dosen yang saat ini menjabat sebagai Koordinator Bidang Sarana dan Prasarana FEB UNS.

    Meninjau lahan pendirian SMK Pertanian Terpadu Santo Bertelomeus

    Bambang Sarosa dan Heru Agustanto saat ini juga sedang merancang program pertanian kedele di wilayah Riung Barat. Program ini akan bekerja sama dengan pemerintahan kecamatan dan desa.

    Dengan kesibukannya sebagai tenaga pengajar dan peneliti, aktifitas mulia kedua dosen FEB, membangun dan membangkitkan Kampung Maronggelo semoga menginspirasi tenaga pendidik lainnya untuk meringkankan langkah mengabdi bagi masyarakat yang lebih luas. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Getarkan Semesta dengan Bicara Positif, Tingkatkan Imunitas Cegah Penularan Covid-19

    Getarkan Semesta dengan Bicara Positif, Tingkatkan Imunitas Cegah Penularan Covid-19

    Virus corona yang mulai mewabah di Indonesia sejak awal Maret lalu menimbulkan banyak dampak negatif. Masyarakat tidak bisa beraktivitas seperti biasa, perekonomian melemah , dan tak sedikit orang merasakan ketakutan dan panik.

    Wabah Virus Corona tumbuh secara eksponensial, sejak 2 Maret, terinfeksi 2 orang ; 9 Maret terinfeksi 19 orang; 16 Maret terinfeksi 134 orang, 23 Maret terinfeksi 579 orang, 30 Maret terinfeksi 1414 orang. Setiap hari, jumlah orang yang terinfeksi mengalami lonjakan yang cukup besar.

    Hal itu disampaikan Dr. Intan Novela Qurrotul Aini, S.E., M.Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) yang tergabung dalam Ikatan Alumni Akademi Trainer (IAAT) dengan founder Bapak Jamil Azzaini, saat memberikan kuliah online Minggu, 5 April 2020.

    Dr. Intan bersama dengan 217 alumni Akademi Trainer se-Indonesia secara serentak mengisi acara online dalam rangka Festival Trainer Nasional dengan membuat #GerakanIndonesiaBicaraPositif. Tema yang diangkat seragam yaitu mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menyebarkan kata-kata, pembicaraan dan tindakan yang positif.

    (lebih…)

  • Mengabdi di Sekolah Asal, Dosen dan Alumni UNS Mengajar Siswa SMAN 1 Trenggalek

    Mengabdi di Sekolah Asal, Dosen dan Alumni UNS Mengajar Siswa SMAN 1 Trenggalek

    Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Dr. Mugi Harsono, M.Si. dan Risgiyanti,SE., M.Si. serta alumni Magister Kedokteran Keluarga UNS yang juga Kaprodi D3 ilmu Keperawatan Poltekes Negeri Malang, Rahayu Niningasih, S.Kep., Ners., M.Kes, melakukan pengabdian mengajar di SMAN 1 Trenggalek, Jumat 6 Maret 2020.

    Kedatangan ketiga dosen di SMAN 1 Trenggalek disambut oleh para Wakil Kepala sekolah beserta guru. Pengelola sekolah menyambut baik program UNS Mengajar dan berencana akan studi banding ke UNS untuk kerjasama.

     

    Di kegiatan mengajar itu, tim yang dipimpin oleh Dr. Mugi Harsono, M.Si yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB UNS membagi siswa dalam 2 kelas.

    Kelas Sosial dengan materi Family Business diampu oleh Dr. Mugi dan materi entrepreneurship diampu oleh Risgiyanti, M.Si. Sedangkan kelas Biologi dengan materi Kesehatan Reproduksi diampu oleh Rahayu Niningasih. M.Kes

    Di kelas sosial, Dr. Mugi yang juga alumni Program A3 (sosial) SMAN 1 Trenggalek di tahun 1988 mengajarkan pentingnya penguatan ekonomi sebagai unsur ketahanan nasional, implementasinya dalam nilai-nilai kewirausahaan, serta inisiasi (start up) dalam bentuk bisnis keluarga.

    Dr. Mugi juga menjelaskan bahwa bisnis keluarga biasanya hanya bertahan pada tiga generasi, dengan perumpamaan yang terkenal: generasi pertama memulai, generasi kedua mengembangkan, generasi ketiga menghancurkan. Oleh karena itu harus ada upaya perencanaan suksesi agar bisnis keluarga bisa bertahan lebih lama.

    Sementara itu, dosen muda FEB UNS, Risgiyanti, M.Si. menguatkan ketertarikan para siswa dengan entrepreneurship game, yang menggambarkan seberapa tinggi siswa berani menanggung risiko.

    Cara mengajar tim dibuat mengalir, diberi pengantar materi, dilanjutkan dengan diskusi dan permainan di dalam ruangan. Siswapun sangat antusias berpartisipasi, bertanya, berinisiatif maupun menjawab pertanyaan.

    Terkait sekolah asalnya itu, Dr. Mugi menerangkan bahwa SMAN 1 Trenggalek merupakan salah satu sekolah negeri tertua di Trenggalek yang saat ini sebagian besar staf pengajarnya berpendidikan S2.

    Saat berkunjung ke SMAN 1 Trenggalek, ketiga dosen merasakan kesan adanya persepsi dari pihak pengelola sekolah bahwa perguruan tinggi di Jawa Tengah (Jateng) melakukan rayonisasi sehingga calon mahasiswa dari luar Jateng sulit masuk.

    Dalam kesempatan itu, Dr. Mugi Harsono menjelaskan perihal prosedur masuk ke UNS yang sangat terbuka bagi siswa-siswi di berbagai penjuru tanah air , termasuk dari Propinsi Jawa Timur.  (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Yong Dirgiatmo Lulus Program Ph.D Bidang Sistem Informasi di UUM Malaysia

    Yong Dirgiatmo Lulus Program Ph.D Bidang Sistem Informasi di UUM Malaysia

    Yong Dirgiatmo, salah satu tenaga pengajar di Fakultas Ekonomi dan  Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Program Studi Manajemen  telah dinyatakan lulus program Ph.D Bidang Sistem Informasi pada jurusan Akuntansi di Tunku Putri Intan Safinaz, School of Accountancy (TISSA), Universiti Utara Malaysia (UUM), Malaysia, Selasa, 21 Januari 2020.

    Kelulusan tersebut diumumkan setelah Yong Dirgiatmo mampu mempertahankan disertasinya di hadapan  tiga tim penguji (VIVA VOCE). Diantara ketiga penguji tersebut, hadir  Prof. Nor Asiah Omar dari Universiti Kebangsaan Malaysia sebagai penguji eksternal.

    Kepada Media FEB UNS, Yong menyampaikan bahwa topik yang dipilih  dalam disertasinya mengenai peran penggunaan media sosial untuk peningkatan kinerja Usaha Kecil dan Menengah (UKM) manufaktur di Indonesia yang dimediasi oleh orientasi kewirausahaan.

    “Inti dari disertasi saya, membahas tentang bagaimana meningkatkan kinerja UKM manufaktur melalui pemberdayaan orientasi kewirausahaan yang dimiliki pemilik atau manajer UKM melalui penggunaan media sosial” paparnya.

    Area penelitian meliputi UKM manufaktur di wilayah Eks Karesidenan Surakarta, dengan mengambil sampel sebanyak 220 UKM yang menjalankan usaha di bidang batik dan  bahan batik; sarung dan tenun; mebel kayu dan rotan; cor logam dan tembaga; makanan kering dan keju; tas dan sepatu, gitar, serta herbal.

    Dari hasil temuannya, UKM manufaktur bisa memberdayakan orientasi kewirausahaan yang dimilikinya dalam bentuk kreativitas, inovasi, lebih berani mengambil risiko dan lebih siap bersaing di pasar, khususnya pasar online, melalui optimalisasi penggunaan media sosial.

    Dengan media sosial UKM dapat lebih bisa melayani dan memberi kepuasan kepada konsumen, yang pada akhirnya bisa meningkatkan kinerja usahanya, baik keuangan maupun non-keuangan.

     

  • Perbaiki Kemasan dan  Pemasaran, Penjualan Kembang Goyang Meningkat

    Perbaiki Kemasan dan Pemasaran, Penjualan Kembang Goyang Meningkat

    Perkembangan teknologi  informasi yang demikian pesatnya, memacu seluruh sektor bisnis untuk mampu beradaptasi. Demikian halnya bagi Unit Kegiatan Masyarakat (UKM) yang mau tidak mau, suka atau tidak suka harus mengikuti perubahan yang semakin cepat jika tidak ingin terlindas.

    Kembang Goyang dengan Kemasan yang Lebih Menarik

    Dari  fenomena tersebut, Tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) yang terdiri dari Suryandari Istiqomah, SE, M.Sc, Yeni Fajaryanti SE, M,Si dan Amina Sukma Dewi, SE, M.Si melakukan pembinaan kepada  UKM Camilan tradisional Kembang Goyang “Bu Ninik” di daerah nglorog, Bulaksari, Sragen.

    Suryandari Istiqomah kepada Media FEB menyatakan bahwa selama ini UKM tersebut hanya berfokus pada pasar tradisional. Hanya  terbatas menggunakan media pemasaran dari mulut ke mulut saja atau getok tular.

    Tim melakukan inovasi produk yakni dengan memperbaiki kemasan dan memberikan berbagai varian rasa pada produk kembang goyang.

    Perbaikan kemasan dilakukan dengan melakukan desain kemasan yang lebih eye cathing,  yang menarik perhatian pelanggan, menggunakan stiker untuk kemasan plastik dengan warna yang menyala, kardus kemasan dengan desain yang biasa digunakan untuk pelanggan kelas premium, stiker untuk kemasan khusus seperti toples hantaran dan kardus oleh- oleh.

    Tim juga memberikan pelatihan dan pendampingan dalam pembuatan konten-konten pemasaran yang menarik dan diunggah ke media sosial. Pelatihan mencakup cara pemotretan dan pembuatan konten kreatif.

    Dengan penggunaan media sosial ini diharapkan cakupan penjualan produk camilan tradisional ini akan semakin luas dan merambah kalangan milenial.

    “Dari hasil evaluasi kami, setelah camilan kembang goyang diubah kemasannya  dan dipasarkan melalui facebook, penjualan produk meningkat, banyak respon positif” paparnya.

     

  • Tim Dosen Manajemen FEB UNS Beri Pelatihan Panti Asuhan

    Tim Dosen Manajemen FEB UNS Beri Pelatihan Panti Asuhan

    Tim Dosen Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) memberikan pelatihan dan pendampingan di Panti Asuhan Syifa’ul Qolbi, Dusun Ngasinan, Desa Tugu, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karangnyar, Tengah sejak bulan April 2019 hingga November 2019.

    Kegiatan yang diketuai oleh Risgiyanti,S.E.,M.Si, dan beranggotakan Ana Shohibul Manshur Al Ahmad, S.E.,M.Sc serta Dr. Intan Novela QA, M.Si. merupakan kegiatan pengabdian masyarakat melalui skim Program Kemitraan Masyarakat PNBP 2019.

    Risgiyanti,S.E.,M.Si dalam rilisnya menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan dilatarbelakangi oleh keinginan kuat panti asuhan untuk mandiri secara ekonomi namun belum tercapai secara optimal.

    Disampaikannya, panti asuhan ini memiliki beberapa usaha salah satunya di bidang fashion. Selain menerima jasa jahit, panti asuhan ini juga memproduksi berbagai jenis pakaian sesuai dengan permintaan konsumen.

    Usaha di bidang fashion memiliki potensi yang besar, menyadari hal ini panti asuhan juga memiliki cita-cita untuk mengembangkan usaha ini agar dapat menghasilkan berbagai jenis produk fashion dan memasarkannya secara luas.

    Beberapa anak asuh di panti ini juga dibekali keterampilan menjahit melalui pelatihan yang di selenggarakan langsung oleh pengelola panti. Namun karena kurangnya karakter dan motivasi wirausaha menjadikan keterampilan menjahit pada anak-anak panti tidak menghasilkan added value bagi diri mereka sendiri.

    Harapan pengurus panti agar nantinya keterampilan ini bisa dimanfaatkan ketika mereka sudah terjun ke masayarakat agaknya masih belum tercapai.

    “Berdasarkan dua fenomena tersebut, maka tim pengabdian masyarakat prodi S1 Manajemen FEB UNS membuat beberapa program untuk peningkatan kemandirian ekonomi baik untuk panti asuhan itu sendiri maupun para anak asuhnya” katanya.

    Beberapa program seperti pelatihan kewirausahaan, pelatihan desain dan pola, pelatihan manajemen bisnis, pelatihan e-marketing, pembuatan merek produk dan konsep pemasaran serta pendampingan usaha.

    Pada pelatihan e-marketing, tim membantu peserta untuk mengenal sarana pemasaran online yang efektif seperti instagram, shoope, dan facebook.

    Tim juga menfasilitasi pembuatan merek dagang dan logo yang menarik serta fasilitasi foto produk yang menarik agar program pemasaran menjadi efektif dan optimal.

    Hasil dari program pengabdian kepada masyarakat ini adalah peningkatan motivasi dan karakter kewirausahaan peserta pelatihan, peningkatan keterampilan desain dan pola jahit, peningkatan pengetahuan manajemen bisnis, terciptanya merek, sarana pemasaran online serta dan peningkatan kualitas produksi.

    Tim juga memberikan bantuan peralatan penunjang produksi untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas berupa mesin obras empat benang, mesin jahit high speed, dan mesin jahit portable. Hasil dari program pengabdian kepada masyarakat ini adalah peningkatan motivasi dan karakter kewirausahaan peserta pelatihan, peningkatan keterampilan desain dan pola jahit, peningkatan pengetahuan manajemen bisnis, terciptanya merek, sarana pemasaran online serta dan peningkatan kualitas produksi.

    Sumber: Risgiyanti,S.E.,M.Si,