FEB

Kategori: s2_mesp

  • Mahasiswa FEB Juara Favorit Lomba Fotografi

    Mahasiswa FEB Juara Favorit Lomba Fotografi

    Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan Dwi Sekar Darojati,  mahasiswa Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2018 untuk menghasilkan karya. Dwi berhasil meraih juara Favorit di lomba fotografi bertema Pahlawan di Era Pandemi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tidar Magelang, Desember lalu.

    Dwi bersaing dengan 72 karya mahasiswa dari 17 perguruan tinggi yakni Universitas Tidar, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Amikom Purwokerto, Universitas Bakrie, Poltekkes Kemenkes Surakarta, Universitas PGRI Yogyakarta, UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Amikom Yogyakarta, Universitas Maritim Raja Ali Haji, IAI Nusantara Batanghari, UPN Veteran Jakarta, Universitas Mercu Buana, Universitas Brawijaya serta Universitas Sebelas Maret.

    Dengan kamera DSLRnya, Dwi tertarik mengambil obyek seorang bapak penjual kentang di Pasar Segamas, Purbalingga. Menurutnya, para pedagang,  pelaku ekonomi di pasar rakyat adalah juga salah satu pahlawan di era Pandemi.

    “Para pedagang juga pahlawan di era pandemi. Tepatnya salah satu pahlawan ekonomi kita di tengah pandemi. Meskipun Indonesia diterjang krisis di era pandemi ini, ekonomi kerakyatanlah menjadi tameng dan support sistem yang dapat membuat perekonomian Indonesia tetap bertahan di tengah krisis” tutur mahasiswa yang memiliki hobi fotografi dan desain.

    Kejuaraan seperti ini, bukan kali pertama yang diikuti Dwi.  Sebelumnya Dwi pernah mengikuti lomba-lomba, diantaranya yang diselenggarakan Bursa Mahasiswa Fakultas Pertanian UNS dan mendapat peringkat 5 besar poster dan fotografi.

    Tak hanya untuk menyalurkan bakat, aktifitas ini juga sebagai pengisi waktu luang usai  kuliah online. Kegiatan ini pun untuk meningkatkan imunitas, melepas kejenuhan ketika aktifitas harus dibatasi karena pandemi. (Humas FEB)

  • Webinar Seri Pertama Kolaborasi Empat Perguruan Tinggi Diikuti Lebih Dari 500 Peserta

    Webinar Seri Pertama Kolaborasi Empat Perguruan Tinggi Diikuti Lebih Dari 500 Peserta

    Lebih dari 500 peserta ikuti webinar seri pertama di rangkaian webinar series, kolaborasi dari empat perguruan tinggi yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan  Universitas Borneo Tarakan, Kamis, 1 Oktober 2020.

    Kegiatan yang bertema Mengantisipasi Paralisis dalam Perekonomian Indonesia, Strategi, Kebijakan dan Implementasi Selama Pandemi Covid-19 dibuka oleh Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS.

    Di awal sambutannya, Dr. Izza menjelaskan bahwa Indonesia telah melalui tiga masa krisis dan tahun 2020 adalah krisis yang keempat.

    “Krisis di tahun 1965 dimulai dengan krisis politik selama beberapa tahun sebelumnya; tahun 1998 terkena imbas dari krisis perbankan yang sangat cepat bergerak pada krisis moneter yang mengarah juga pada krisis kepercayaan; tahun  2008 krisis keuangan global meskipun tidak terkena imbas secara keras tapi cukup menurunkan laju pertumbuhan ekonomi dan di tahun 2020 krisis kesehatan yang menjadi krisis multidimensi, imbas besarnya juga terjadi pada sektor perekonomian” terangnya.

    Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS

    Lebih lanjut dikatakan webinar yang dilaksanakan untuk mendiskusikan bagaimana membangun struktur industri yang kompetitif untuk menghindari atau paling tidak mengeliminir dampak dari resesi dan paralisis. Harapannya dengan pandemi yang tidak tahu kapan usainya karena vaksin belum ada, namun sudah ada kesiapan imunitas yang harus selalu kita bangun, tidak hanya dari segi kesehatan, tapi juga imunitas dari dunia usaha.

    Kodrat Wibowo, SE, MA, Ph.D,  Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha

    Salah satu hal penting untuk mengeliminir dampak krisis adalah bagaimana kita bisa masuk secara utuh dalam industri 4.0, dimana mekanisme-mekanisme online atau mekanisme lain  yang belum pernah dilakukan yang merupakan bagian dalam disruption ternyata bisa membantu kita dalam mengatasi dampak-dampak krisis.

    Sementara itu, narasumber webinar, Kodrat Wibowo, SE, MA, Ph.D,  Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan ditingkat nasional, KPPU telah mengukur indeks persaingan usaha dan perkembangan indeks terakhir menunjukkan bahwa sektor industri dan perbankan nasional levelnya masih berada pada kategori iklim persaingan yang kurang sehat. Salah satu indikator menunjukkan bahwa kedua sektor industri ini masih didominasi oleh segelintir perusahaan tertentu dengan penguasaan penjualan hanya oleh 4 kelompok perusahaan terbesar dengan lebih dari 40% total sales di industri tersebut, secara rata-rata.

    Seperti yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang 20/2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, KPPU juga mengawasi kemitraan. Pelaku-pelaku usaha baik di konvensional, semi digital, murni digital atau apapun sektor di luar non industri yang melibatkan e-commerce harus ada kolaborasi yang disebut dengan kemitraan. Pelaku usaha yang sudah besar bahkan sudah menerapkan digital  harus bermitra dengan usaha kecil dan menengah dengan tidak ada unsur menguasai dan mengendalikan.

    Diakhir paparannya, Kodrat Wibowo menyimpulkan pentingnya meningkatkan kinerja komponen tingkat persaingan usaha yang sehat di sektor industri Indonesia, baik ditingkat pusat maupun daerah propinsi/kota dan kabupaten dalam upaya meningkatkan efisiensi perekonomian sekaligus meningkatkan daya saing nasional.

    Selanjutnya perlu meriview ulang substansi dan pentahapan “Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035” dengan “Making Indonesia 4.0” karena ada ketidakharmonisan antar aturan kelembagaan ditambah minimnya pertimbangan tentang aspek dan semangat persaingan usaha yang sehat dalam program eksekutif mengembangkan sektor industri/manufaktur berbasis digitalisasi jaringan, otomatisasi produksi, serta cloud and big data management. (Humas)

  • Webinar Series 2,  Kolaborasi 4 Perguruan Tinggi Bahas  Tinjauan Kebijakan Moneter Di Masa Pandemi Covid 19

    Webinar Series 2, Kolaborasi 4 Perguruan Tinggi Bahas Tinjauan Kebijakan Moneter Di Masa Pandemi Covid 19

    Pandemi Covid-19 telah menyebabkan dampak negatif yang signifikan pada aspek kesehatan, ekonomi, sosial dan keuangan. Dari sisi output, negara-negara maju akan lebih terdampak negatif dalam pengertian pertumbuhan ekonomi lebih negatif. Meskipun dari sisi tenaga kerja, angka penggangguran negara berkembang akan relatif lebih tinggi.

    Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk akhir tahun 2020 akan tumbuh negatif antara -1,7% s.d -0,6%,  sebelumnya -1,1% s.d 0,2%. Namun untuk tahun depan di 2021, pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi positif pada kisaran 4,5% s.d 5,5% .

    Pernyataan itu disampaikan Prof. Dr Nurry Effendy, SE. MA., Guru Besar FEB UNPAD yang juga sebagai anggota  Badan Supervisi Bank Indonesia pada Webinar Series 2 di rangkaian Webinar Series kolaborasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Universitas Siliwangi, Universitas Islam Negeri Jakarta dan  Universitas Borneo Tarakan, Rabu, 14 Oktober 2020.

    Prof. Dr Nurry Effendy, SE. MA

    Lebih lanjut dikatakan, data dari World Bank menunjukkan peningkatan pengangguran  di Indonesia akibat pandemi terbesar pada sektor manufaktur sebesar 35%  dari total pengangguran. Income loss pekerja terbesar di sektor transportasi sebesar 90% dari total income loss. Akibat covid-19 pengangguran di Indonesia bertambah 3,7 juta per Juli 2020.

    Pemerintah khususnya kementerian keuangan dan lembaga-lembaga keuangan yang berperan berusaha mengintervensi makro ekonomi di Indonesia agar perekonomian berjalan lagi melalui Program Pemulihan Ekonomi (PEN).

    Untuk pemulihan ekonomi, Bank Indonesia berkoordinasi dengan lembaga dan kementerian terkait dengan melakukan quantitative easing sebesar Rp 614,8 Triliun.

    Enam kebijakan moneter Bank Indonesia untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19 yaitu dengan penurunan suku bunga, stabilisasi nilai tukar rupiah, pasar uang dan valas, pelonggaran likuiditas, pelonggaran makro prudensial dan sistem pembayaran.

    “Pemerintah telah banyak menggelontorkan bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak pandemi, baik untuk konsumen maupun produsen. Yang juga penting untuk diperhatikan adalah menjaga agar penyaluran bantuan tersebut efektif dan benar-benar tepat sasaran, harus ada pengawasan. Kevalidan data menjadi kunci utama” paparnya menanggapi beberapa pertanyaan peserta tentang efektifitas bantuan pemerintah.

    Di akhir presentasinya, Prof. Nury mengatakan salah satu harapan dari pemerintah Indonesia dan juga pemerintah di semua negara adalah ditemukannya vaksin. Dengan ditemukannya vaksin, masyarakat akan merasa lebih aman untuk melakukan aktifitas secara normal. (Humas)

  • Pekik UNS Bisa FEB Jaya Semangati Mahasiswa Baru

    Pekik UNS Bisa FEB Jaya Semangati Mahasiswa Baru

    Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Bisa (FEB UNS), Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons). Ph.D Ak. menyemangati mahasiswa baru dengan  pekik “UNS Bisa FEB Jaya”  di kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang digelar secara daring,  Rabu, 16 September 2020.

    Kepada lebih dari 600 mahasiswa baru dari seluruh Program Studi (Prodi) di FEB UNS, Dekan mengucapkan selamat datang  dan secara simbolis menyerahkan Kartu Rencana Studi kepada empat  mahasiswa  perwakilan prodi.

    Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons). Ph.D Ak.

    “Segenap pimpinan FEB UNS mengucapkan selamat kepada mahasiswa baru. Perasaan senang dan bangga karena anda semua telah bergabung menjadi mahasiswa kami meskipun diterima dalam suasana pandemi Covid-19. Perkuliahan di awal semester ini masih dilakukan secara daring, tidak bisa tatap muka langsung tetapi harus tetap semangat untuk mengikutinya” kata Dekan  menyemangati.

    Ungkapan syukur harus senantiasa terpanjatkan karena mahasiswa telah diterima di FEB,  fakultas yang membanggakan, seluruh prodi di FEB UNS  telah terakreditasi A dari BAN PT. Akreditasi internasional pun telah diraih dari AUN QA dan  ABEST21.

    Mahasiswa baru dari seluruh prodi di FEB Ikuti PKKMB

    Dekan berpesan agar dalam menempuh perkuliahan  di FEB UNS, mahasiswa baru harus membaur dengan semua komponen yang telah lebih dulu melakukan aktifitas  di kampus. Mahasiswa juga diharapkan menorehkan prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional dengan tetap mengangkat nilai-nilai budaya bangsa.

    Di penutup sambutannya,  Dekan mengajak mahasiswa untuk semangat dalam belajar, belajar dan belajar.  Para dosen di FEB UNS akan selalu mensupport seluruh aktifitas belajar mahasiswa. Diharapkan bisa kuliah tepat waktu, mampu maksimal dalam memperoleh ilmu, pengetahuan dan pengalaman selama kuliah.

    Sementara itu,  Dr. Mugi Harsono, M.Si, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni menyampaikan arahan kepada mahasiswa bahwa dunia mahasiswa tidak hanya sekedar menyelesaikan tugas akademik tapi juga merupakan dunia aktualisasi. Mahasiswa harus mampu mengembangkan minat dan bakat serta menorehkan prestasi. Untuk mengasahnya, mahasiswa telah difasilitasi fakultas dengan   organisasi kemahasiswaan dan unit kegiatan mahasiswa.

    Dr. Mugi Harsono, M.Si

    “Jangan hanya menjadi kutu buku, tapi jadilah mahasiswa yang Indeks Prestasi Kumulatif nya OK dan penalarannya juga Ok. Serius kuliah adalah penting tapi beraktualisasi untuk menunjukkan siapa anda juga penting. Jadi, seimbangkan antara kegiatan akademis dan kegiatan kemahasiswaan “ tegasnya

    Lebih lanjut dikatakan, bidang tiga akan membentuk Komunitas Mahasiswa Prestatif untuk mewadahi mahasiswa yang memiliki kelebihan baik dalam menulis, entrepreneur, vokal dan sebagainya. Diharapkan mahasiswa baru dapat berkontribusi aktif untuk bergabung dalam komunitas tersebut selanjutnya mampu menorehkan prestasi.

    Kegiatan PKKMB yang digelar sejak pagi hingga menjelang sore tersebut diisi juga dengan paparan dari bidang akademik, bidang umum dan keuangan serta dari masing-masing program studi. Para alumni dan dosen yang telah berjaya dan berprestasi pun dihadirkan untuk memotivasi mahasiswa baru baik live ataupun melalui video, diantaranya Prof. Wimboh Santoso, Doni P Joewono, Didiek Hartantyo,  Endang Kurniawan, Putriesti Mandasari, Ibrahim Fatwa Wijaya dan Dewanti Cahyaningsih.  (Humas)

  • Dua Narasumber Webinar Beri Tips Publikasi Ilmiah

    Dua Narasumber Webinar Beri Tips Publikasi Ilmiah

    Menulis menjadi suatu keharusan bagi mahasiswa untuk membagikan ide, menyelesaikan permasalahan, menambah ilmu pengetahuan dan membangun bangsa. Menulis sangat berkaitan erat dengan publikasi. Hasil penelitian seseorang dapat dilihat oleh masyarakat umum melalui adanya publikasi.

    Secara akademik, publikasi berguna untuk presentasi suatu seminar, hibah penelitian dan lain sebagainya. Sedangkan secara non akademik publikasi digunakan untuk kontribusi lapangan, pertimbangan untuk promosi serta reputasi. Publikasi dapat dilakukan di beberapa sumber seperti jurnal, buku, tesis, makalah, majalah dan lainnya.

    Untuk mempublikasikan paper dalam jurnal, yang harus disiapkan mahasiswa adalah menyiapkan manuskrip, mengidentifikasi langkah penting dalam penerbitan, mencari jurnal yang tepat, menerbitkan makalah ke jurnal yang terindeks oleh SCOPUS atau WoS.

    Hal tersebut disampaikan Prof. Tamat Sarmidi dari Universiti Kebangsaan Malaysia mengawali presentasinya dalam Webinar Academic Writing and Publication Tips yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan (MESP) Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret FEB UNS, Kamis, 27 Agustus 2020.

    Prof. Tamat Sarmidi dari Universiti Kebangsaan Malaysia

    Selanjutnya disampaikan, dalam penulisan pendahuluan sebuah paper hindari kalimat “studi pertama”, “sebelumnya belum dijelaskan” dan kata-kata negatif lain. Tulis sistematika yang logis agar pembaca dengan mudah memahami makalah atau jurnal kita.

    Dan untuk literature review menampilkan teori atau penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian kita, juga harus menekankan apa yang kita ketahui dan apa yang belum kita ketahui.

    Dalam mengangkat teori atau penelitian terdahulu harus memiliki landasan terlebih dahulu mengapa penting bagi penelitian kita. Hindari mengutip terlalu luas, mengutip jurnal dibawah publikasi tahun 2000 dan jangan mengutip di jurnal yang memiliki grade rendah.

    “Minta rekan anda untuk membaca hasil penelitian anda. Periksa kembali penulisan, pengumpulan data, pengolahan data serta logika hasil penelitian anda seperti teknik estimasi, ukuran sampel, indikator penelitian, variabel penelitian dan lainnya. Hindari kata-kata non kuantitatif, kata “tentu saja”, kata “jelas” dan minimalkan penggunaan kata “namun”, “sebagai tambahan”, “selain itu” paparnya.

    Sementara itu, disesi kedua webinar, Malik Cahyadin, SE, M.Si, dosen FEB UNS juga menegaskan bahwa    Iiteratur review itu bukan meringkas tapi mensintesis referensi, mengkaitkan inti satu hal dengan hal lain menjadi satu alur cerita yang jadi fokus isu atau tujuan riset kita .

    Malik juga memberikan solusi terhadap beberapa kendala yang sering dialami mahasiswa dalam publikasi, diantaranya mahasiswa harus aktif dalam kegiatan penulisn ilmiah, aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat di berbagai skema dan sumber pendanaan yang memenuhi syarat, jangan menunda menuliskan ide pubikasi dari hasil riset yang telah disusun dan yang terpenting juga gunakan software bahasa Inggris seperti grammarly dan lain-lain, tetapi paper tetap proffread. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

     

  • MM dan MESP FEB UNS Gelar Business Webinar Series Angkat Tema Behavioral Economics

    MM dan MESP FEB UNS Gelar Business Webinar Series Angkat Tema Behavioral Economics

    Program Studi Magister Manajemen (MM) dan Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menyelenggarakan webinar yang bertajuk Behavioral Economics, Prinsip dan Aplikasi Teori Prospek, Sabtu 18 Juli 2020.

    Kegiatan ini adalah kali kedua yang diselenggarakan dalam Business Webinar Series, diikuti oleh 107 peserta dengan narasumber Harry Susianto, Ph.D. , Psikolog Ekonomi dan Konsumen dari Universitas Indonesia.

    Behavioral Economics (BE) berusaha mengkombinasikan prinsip-prinsip dasar ilmu ekonomi dengan realita yang tidak jarang dipengaruhi oleh psikologi manusia. Lingkup ranah BE adalah mempelajari keputusan-keputusan irasional orang (dalam hal ini user atau pengguna).

    Harry menjelaskan bahwa BE mirip dengan psikologi, mayoritas menggunakan eksperimen, true experiment, ada randomisasi dan manipulasi. Dalam contoh- contoh kasusnya yang diberikan ke partisipan biasanya selalu diberikan konteks. Eksperimen dilakukan hanya satu kali dan ada insentif diberikan kepada partisipan yang sifatnya merata. Hal lain yang menjadi ciri khas BE adalah minoritas survei.

    Sementara itu, Experimental Economics (EE) yang pernah dibahas di webinar sebelumnya berbeda dengan BE, contoh- contoh kasusnya yang diberikan ke partisipan biasanya bersifat abstrak, eksperimen dilakukan berulang-ulang, banyak menggunakan contoh-contoh hipotetikal dan insentif untuk partisipan mengikuti performance, semakin rasional insentifnya semakin besar.

    “Di Indonesia, banyak studi yang menggunakan survei dan jarang sekali yang menggunakan eksperimen. Sebenarnya dengan eksperimen bisa mengklaim sebab akibat. Namun banyak orang berpikir keliru dengan menggunakan survei dan SEM (Structural Equation Modeling) untuk membuat sebab akibat. Padahal SEM itu hanya statistik, alat menghitung. Kita dapat membuat klaim sebab akibat jika penelitiannya berdesain eksperimen, jika tidak begitu, tidak bisa” jelasnya.

    Selanjutnya Harry menjelaskan penggunaan nudge dalam mempengaruhi keputusan ekonomi yang merupakan karya monumental Richard H Thaler. Nudge adalah suatu hal yang secara efektif mampu mengatur keputusan individu , kelompok atau masyarakat tanpa paksaan, sifatnya lebih kepada menggugah melalui alam bawah sadar. Bagaimana kita bisa mengatur orang untuk berperilaku tertentu tanpa merasa orang itu diatur atau dipengaruhi.

    Nugde terbagi menjadi dua , Edukatif Nudge dan Non Edukatif Nudge. Ide dari Edukatif Nugde adalah individu itu dibuat kapasitasnya meningkat, disadarkan, diingatkan, dari tidak tahu menjadi tahu. Jika ada perubahan maka perubahan itu disadari orang itu dan memang harus dilakukan.

    Menurut Harry, yang lebih menarik adalah yang Non Edukatif Nudge. Kita tidak berusaha menambah kemampuan orang itu, yang dieksploitasi atau yang diatur adalah lingkungannya, dimanipulasi. Dengan lingkungan itu diharapkan perilaku orang menjadi berubah. Dalam hal ini akan muncul choice architect, arsitek yang mengatur pilihan orang yang sehingga hasilnya seperti yang kita inginkan.

    Di kegiatan ini, Harry lebih banyak memberikan contoh-contoh teknis dari beberapa artikel dengan menggunakan teori prospek dan peserta aktif mengikuti jalannya acara. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Webinar Prodi MM dan MESP Bahas Ekonomika Eksperimen

    Webinar Prodi MM dan MESP Bahas Ekonomika Eksperimen

    Program Studi Magister Manajemen dan Magister Ekonomi Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) menggelar Webinar Behavioral Economics, Fondasi dan Arah Pengembangan Penelitian Ekonomi Keperilakuan, Sabtu 27 Juni 2020.

    Kegiatan diikuti oleh mahasiswa program pascasarjana dengan menghadirkan narasumber Rimawan Pradiptyo, SE, M.SC. Ph. D dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

    Dalam paparannya, Rimawan Pradiptyo yang menyebut Behavioral Economics dengan Ekonomika Eksperimen (EE) menjelaskan bahwa EE merupakan cabang ilmu ekonomi yang menggunakan metoda eksperimen untuk mempelajari bagaimana manusia mengambil keputusan ekonomi, baik secara mandiri maupun secara interaktif.

    Sebagian besar studi EE bertujuan untuk menguji teori ekonomi dan dilakukan di lingkungan yang mudah terkontrol (laboratorium). Hampir semua asumsi dalam teori ekonomi bisa dipenuhi di laboratorium.

    Dalam perkembangannya, EE dilakukan diluar laboratorium, yaitu sebagai field experiment yang menggunakan metoda randomised control trial (RCT).  RCT adalah tulang punggung analisis impact evaluation. Perkembangan selanjutnya,  EE digunakan untuk merumuskan kebijakan.

    Menurutnya, konsep rasionalitas di teori ekonomi cenderung memandang manusia tidak lebih dari sebuah robot yang  mengikuti program tertentu yang diinstal kepadanya. Manusia dalam teori ekonomi diasumsikan memiliki preferensi terhadap barang/ jasa/ prospek dengan ordering yang jelas dan manusia diasumsikan konsisten mengikuti preferensi tersebut. Faktanya manusia bukan robot yang memiliki keterbatasan kemampuan kognitif, memiliki  konsistensi preferensi yang sulit dipenuhi,  dan manusia secara sistematis melakukan kesalahan-kesalahan dalam pengambilan keputusan.

    Salah satu manfaat EE adalah untuk menguji kesahihan teori-teori ekonomi dalam lingkungan yang mudah terkontrol.

    Keunggulan lab eksperimen dapat digunakan untuk studi yang bersifat prospective (belum pernah terjadi) dan retrospektf. Lab eksperimen dapat digunakan sebagai “win tunnel” suatu kebijakan terutama untuk mengantisipasi hal yang belum terpikirkan dampaknya oleh peneliti. Beberapa tema yang terkait dengan Indonesia misalnya redenominasi, skema kompensasi untuk penurunan subsidi BBM dan perubahan nilai tanggungan simpanan nasabah dan lain-lain.

    Sedangkan kelemahan lab eksperimen cenderung kurang realistis sehingga subyek berpotensi kurang serius dalam mengambil keputusan (main-main), untuk riset dengan tujuan menguji teori maka ketidakrealistisan setting tidak menjadi masalah mengingat sebagian besar teori ekonomi memiliki banyak asumsi yang seringkali juga tidak realistis. Dan masalah muncul ketika studi bertujuan untuk menformulasikan kebijakan. Pada titik ini desain eksperimen perlu lebih membumi dan mencerminkan situasi nyata.  (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

     

     

  • Pengembangan Ekonomi Pariwisata Perlu Libatkan Masyarakat

    Pengembangan Ekonomi Pariwisata Perlu Libatkan Masyarakat

    Masalah utama dari ekonomi pariwisata atau ekonomi lingkungan adalah bahwa ekonomi pariwisata merupakan barang publik yang memiliki eksternalitas yang mungkin kita mengalami kesulitan untuk mengestimasi.

    Beberapa metode valuasi yang bisa digunakan untuk mengestimasi adalah dengan beberapa metode valuasi yakni Travel Cost Methods, Hedonic Price, Contingent Valuation, dan Benefit Transfer.

    Hal itu diungkapkan Agni Alam Awirya, SE, MSE, narasumber pada Visiting Lecture yang diselenggarakan Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Kamis 7 Mei 2020.

    Acara yang sebagian besar diikuti oleh mahasiswa MESP dan beberapa dosen itu dilaksanakan secara daring dan berisi sharing penelitian tentang ekonomi pariwisata dan lingkungan yang telah dilakukan oleh narasumber.

    Menurut Agni, ada tiga hal yang bisa diupayakan untuk memelihara lingkungan wisata diantaranya dengan memberikan tarip wisata yang lebih tinggi bagi pengunjung untuk biaya pengelolaan lingkungan wisata. Ada harga tinggi untuk keindahan lingkungan.

    Pemeliharaan lingkungan wisata juga bisa ditempuh dengan keterlibatan masyarakat yang lebih luas. Masyarakat turut aktif dalam menjaga lingkungan sekaligus mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata. Pengembangan wisata merupakan salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi wisata.

    Selain itu, pariwisata dapat diorganisir dengan baik. Sebagai contoh implementasinya di Yogyakarta ada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pengelola bisa juga menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, melibatkan mahasiswa yang Kuliah Kerja Nyata (KKN).

    “Ekonomi pariwisata bukan sekadar pengalaman mengunjungi tempat. Namun ada tanggung jawab secara sosial dan secara emosional merawat lokasi yang dikunjungi, pun kesediaan untuk membayar lebih mahal. Peran ekonomi pariwisata adalah untuk memangkas aspek negatif dari pariwisata massal” jelasnya

    Selanjutnya disebutkan indikator pariwisata berkelanjutan dapat dibangun dengan memanfaatkan sumber daya lingkungan secara optimal, menghormati keaslian budaya sosial masyarakat tuan rumah dan juga memberikan manfaat sosial ekonomi bagi semua pemangku kepentingan yang terdistribusi secara adil, termasuk kesempatan kerja yang stabil dan berkontribusi pada pengurangan kemiskinan.

    Di sisi lain, Agni menjelaskan bahwa upaya meningkatkan kunjungan wisatawan tidak hanya mengandalkan tujuan wisata utama. Namun penting juga untuk pengembangan kawasan wisata pendukung (peripheral area).

    Pengembangan wisata pendukung diharapkan dapat meningkatkan pilihan tujuan wisata sehingga memperpanjang lama tinggal wisatawan.

    Selain itu, pengembangan wisata pendukung juga diharapkan dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal dengan memanfaatkan momentum peningkatan kunjungan wisatawan.

    Menyinggung kondisi lokasi wisata di masa wabah Corona, Agni melihat dengan wabah ini, ada keseimbangan alam yang terjadi, lokasi wisata alam tampak lebih segar dan bersih.

    Usai wabah, masyarakat bisa memilih wisata alam sebagai wahana wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. (Humas FEB)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Mahasiswa MESP Presentasikan Proposal Tesis Secara Online

    Mahasiswa MESP Presentasikan Proposal Tesis Secara Online

    Anggia Desty Rahmasari, mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Ekonomi (MESP) FEB UNS presentasikan proposal tesisnya pada Seminar Proposal Tesis secara online, Senin 30 Maret 2020.

    Seminar proposal berlangsung dengan menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meeting dan diikuti oleh 15 peserta, kaprodi, pembimbing, dosen, dan mahasiswa MESP .

    Dalam seminar itu, Anggia mempresentasikan proposal tesisnya yang bertajuk Analisis Modal Fisik, Psikis dan Sosial Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Sembilan Negara Asean Periode Tahun 2008-2018.

    Dr. Evi Gravitiani, SE, M.Si, Ketua Prodi MESP hadir untuk memantau langsung jalannya seminar online. Demikian juga Dr. Guntur Riyanto, S.E, M.Si sebagai pembimbing pertama dan Dr. Siti Aisyah Tri Rahayu, SE, M.Si.sebagai Pembimbing kedua hadir untuk mengarahkan mahasiswa.

    “Semua persyaratan kami cek semalam dan sudah terpenuhi semuanya sehingga seminar untuk Saudari Anggia sudah bisa dilaksanakan” kata Dr. Guntur sebelum seminar dimulai.

    Seminar Online yang dipandu oleh Amelia Choya Tia Rosalia, S.E. berjalan sekitar satu setengah jam. Beberapa masukan kepada presenter disampaikan peserta untuk dapat memperbaiki proposal tesis.

    Dr. Guntur di penghujung seminar menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang memberi masukan,  terutama kepada Dr. Budhi Haryanto, M.M., dosen dan juga Ketua Unit Penjaminan Mutu FEB UNS yang telah memberikan banyak masukan kepada Anggia. (Humas)

  • Prof. Tamat dari UKM Beri Kuliah Mahasiswa MESP dan PDIE

    Prof. Tamat dari UKM Beri Kuliah Mahasiswa MESP dan PDIE

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) bekerja sama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), khususnya dalam bidang akademik. Salah satu bentuk kerjasama yang dilakukan yakni dengan mendatangkan pengajar atau praktisi dari UKM sebagai team teaching.

    Magister Ekonomi Pembangunan (MESP) FEB UNS menghadirkan Prof. Tamat Sarmidi, Ph.D dari UKM sebagai narasumber Workshop Advanced Econometrics, Jumat 21/2/2020 di Ruang Teleconference Gedung 4 Lt 2 FEB UNS.

    Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa MESP dan Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) dibuka oleh Dr. Izza Mafruhah, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS.

    Dalam sambutannya, Dr. Izza mengatakan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat sehingga FEB UNS harus bekerja sama dengan pihak lain baik dalam maupun luar negeri khususnya yang berhubungan dengan bidang akademik.

    “Melalui jalinan kerjasama ini , banyak keuntungan yang diperoleh terutama bagi pengembangan kemampuan mahasiswa” paparnya.

    Prof. Tamat menjadi salah satu redaksi jurnal yang dimiliki UKM, dan akan menjadi salah satu team teaching, bersama dosen FEB lain, yakni dengan Dr. Siti Aisyah Tri Rahayu, S.E.,M.Si, Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D dan Dr. Agustinus Suryantoro,M.S untuk matakuliah Ekonometrika di Program Studi MESP dan PDIE.

    Lebih lanjut, Dr. Izza berharap, apa yang disampaikan Prof. Tamat bisa memberikan tambahan bagi mahasiswa khususnya yang akan menulis dengan menggunakan alat analisis ekonometrika.

    Di sekitar bulan September dan Oktober, mahasiswa MESP dan mungkin beberapa mahasiswa S1 akan berkunjung ke UKM untuk mengikuti seminar proposal tesis yang siap submit di jurnal bereputasi internasional dan juga academic writing. (Humas)

     

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si