Selama tiga hari, 14-16 Januari 2020, Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (Prodi MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menyelenggarakan Orientasi Mahasiswa Baru.
Acara yang diselenggarakan di Ruang Sidang II Gedung IV FEB UNS diikuti oleh 9 orang mahasiswa baru MESP. Dari sebelas orang mahasiswa yang diterima di Prodi MESP, sembilan orang yang melakukan heregistrasi dan mengikuti kegiatan orientasi.

Orientasi merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Prodi MESP untuk refreshing, dengan diskusi-diskusi ringan terkait materi-materi dasar perkuliahan yang pernah dipelajari semasa S1. Dengan adanya orientasi ini, seluruh mahasiswa akan memiliki start yang sama, memiliki gambaran yang sama selama 2 semester ke depan di MESP.

Dr. Evi Gravitiani, SE, M.Si, Kaprodi MESP dalam sambutannya berharap mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dan bisa lulus tepat waktu. Dari data yang ada, rata-rata kelulusan mahasiswa MESP adalah 2 tahun 2 bulan.
“Kami berharap mahasiswa bisa lulus tepat waktu, tidak lebih dari dua tahun” tegasnya menyemangati mahasiswa baru yang di periode ini seluruhnya freshgraduate S1 Ekonomi Pembangunan FEB UNS.
Proses yang paling berat bagi mahasiswa semasa kuliah adalah diakhir , karena selain mengerjakan tesis, mahasiswa harus melakukan publikasi, mengerjakan paper untuk disubmit ke jurnal dengan persyaratan tertentu, tidak harus scopus tapi yang penting bukan jurnal predator. Mahasiswa juga harus melakukan presentasi di seminar nasional dan internasional.
Selama tiga hari tersebut, mahasiswa diajak berdiskusi tentang materi-materi dasar, Matematika Ekonomi, Ekonomi Mikro, dan Ekonomi Makro yang disampaikan oleh tiga dosen MESP, Aulia Hapsari Juwita, SE.,M.E, Danur Condro Guritno, S.E., M.E. dan Vita Kartika Sari, S.E., M.Sc. Sebelum materi disampaikan diadakan pre-test dan diakhiri dengan post-test untuk dapat mengukur kesiapan mahasiswa memasuki awal semester di MESP .


Jumat, 20 September 2019 bertempat di Ruang Telekonferens, Gedung 4,Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret, telah dilaksanakan Kuliah Pakar oleh Prof. Catherine Baron. Kuliah tersebut dihadiri oleh sekitar 30 orang yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) baik angkatan 2018 maupun angkatan 2019. Dr. Evi Gravitiani sebagai Kepala Prodi MESP memberikan sambutan sekaligus membuka acara. Prof. Catherine memberikan materi tentang bagaimana memulai penelitian yang baik dan benar. Sebelumnya, kuliah diawali dengan presentasi proposal penelitian oleh empat (4) orang mahasiswa. Antara lain, Winny Perwithosuci, Nuri Resti Chayyani, Dhea, dan Amalia Choya. Proposal penelitian yang diajukan memiliki topik yang temanya sama yaitu air dan perubahan iklim.Setelah presentasi dilakukan, Prof. Catherine memberikan beberapa arahan untuk setiap topik. Yang pertama adalah milik Winny Perwithosuci, tentang pengaruh Emisi Karbon dan Foreign Direct Investment (FDI) terhadap Pendapatan Nasional, studi kasus di Indonesia. Tanggapan yang diperoleh adalah untuk menuliskan tujuan penelitan dan rumusan masalah. Perhitungan ekonometrika memang baik, namun harus dikerucutkan kembali karena ruang lingkup masih terlalu besar. Yang kedua adalah Nuri Resti Chayyani yang membahas tentang kerentanan sosial ekonomi masyarakat yang terdampak banjir. Saran dari Prof Catherine adalah untuk lebih memperhatikan variabel yang digunakan, dalam pemilihan jurnal acuan serta pemilihan lokasi penelitian. Perlu dikuatkan juga alat analisis kuantitatif dan kualitatif. Presenter selanjutnya adalah Dea, menjelaskan tentang Water Management di desa Cokro Tulung, Klaten. Dea memaparkan masalah yang terjadi dalam pengelolaan air yaitu adanya konflik antara pengguna, pengelola, dan perusahaan Aqua. Setelah di presentasikan, Saran yang diterima adalah Dea perlu memberikan sebuah research question. Proposal yang diajukan belum sepenuhnya mengangkat permasalahan yang terjadi. Ada masalah mengenai kelembagaan, dan aspek politik belum dimasukkan ke dalam perhitungan. Dan yang terakhir presentasi dari Amelia Choya tentang kerentanan masyarakat yang hidup di pinggiran Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo.