FEB

Penulis: admin

  • Focus Group Discussion FEB UNS Sukses Digelar, Bahas Strategi Fakultas Mencapai Reputasi Taraf Internasional

    Focus Group Discussion FEB UNS Sukses Digelar, Bahas Strategi Fakultas Mencapai Reputasi Taraf Internasional

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) telah mengadakan FGD (Focus Group Discussion) yang merupakan rangkaian acara terakhir dari FEB UNS Sustainable Business Summit 2023. FGD dilaksanakan secara online menggunakan media Zoom Meeting pada Jumat, 27 Oktober 2023. Dengan mengangkat tema “Fostering Excellence in Economics and Business Faculty: Achieving Global Reputation through Cultural Synergy and Engagement“, FGD terlaksana dengan lancar.

     

    FEB UNS Sustainable Business Summit 2023 mengundang empat pembicara dengan berbagai fokus bidang, yakni Yeshika Alversia, S.E., M.Sc. Veronica Ken Adiani Windoe, Willy Bachtiar, S.I.Kom., M.I.Kom., dan Anthony Hartanto. FGD dihadiri lebih dari 10 peserta, termasuk Wakil Dekan FEB UNS, Kepala Divisi Inkubator Bisnis UNS Innovation Hub, serta para panitia yang telah menyiapkan acara tersebut.

    Rangkaian acara FGD diawali dengan sambutan oleh Dr. Dwi Prasetyani, S.E., M.Si., Wakil Dekan Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan. “Kami berharap pertemuan hari ini berlangsung santai, komunikatif, dan tentunya insightful. Saya yakin FGD ini merupakan awalan dalam serangkaian kegiatan kedepannya dalam mempersiapkan akreditasi internasional melalui kerja sama dengan universitas-universitas lain.”, ungkap Dr.Dwi dalam sambutan singkatnya.

     

    FGD diawali dengan pemaparan materi Yeshika Alversia, S.E., M.Sc., selaku Kepala Akreditasi Internasional FEB Universitas Indonesia. “Peran Akreditasi Internasional dalam Peningkatan Kualitas dan Reputasi Universitas” merupakan judul yang dipaparkan dalam kesempatannya sebagai pembicara. Yeshika menyarankan FEB UNS untuk segera mengurus akreditasi internasional. “Akreditasi internasional dilakukan ketika fakultas telah memiliki visi dan misi yang sejalan, semangat untuk continuous improvement, international benchmark, dan menciptakan Standar Mutu Internasional (World Class University).”, jelasnya.

     

    FGD dilanjutkan dengan pembicara kedua, yaitu Willy Bachtiar, S.I.Kom., M.I.Kom., selaku Dosen Komunikasi Digital dan Media Institut Pertanian Bogor. Beliau menyampaikan materi dengan judul “FEB UNS: World Class Branding in a Sustainable World”, topiknya berfokus pada pentingnya branding dalam FEB UNS. “Branding dalam fakultas sangatlah penting, karena fakultas juga merupakan suatu merek yang nantinya berdampak pada reputasi internasionalnya”, ujar Willy.

     

     

    Setelah sesi pembicara kedua selesai, langsung dilanjutkan sesi pemaparan oleh pembicara ketiga, Veronica Ken Adiani Windoe. Perempuan yang kerap disapa Kendi ini adalah seorang Brand Expert dan Dewan Penasihat Perhumas Indonesia. Sama hal nya dengan Willy Bachtiar, Kendi juga memiliki fokus pada branding. Dalam pemaparan materinya, Kendi mengidentifikasi dan memberi saran cara-cara yang cocok untuk diterapkan FEB UNS dalam melakukan rebranding. Selain itu, Ia juga memberikan strategi komunikasi untuk meningkatkan reputasi FEB UNS ke arah yang lebih maju setara standar internasional.

     

    Sesi pemaparan materi terakhir disampaikan oleh Anthony Hartanto selaku Business Development Strategist pada Suitmedia Digital Agency. Anthony memaparkan materi terakhir dengan membawakan judul “Being Academically Social ”. Menurutnya dalam melakukan kegiatan rebranding, FEB UNS dapat lebih fokus pada kegiatan research journal. Hal ini dikarenakan tingkat literasi di Indonesia masih tergolong rendah.

     

     

    Setelah sesi FGD pertama yaitu pemaparan materi oleh keempat pembicara selesai dilakukan, maka kegiatan selanjutnya adalah sesi FGD kedua. Pada sesi ini dilakukan diskusi penerapan rencana rebranding FEB UNS. Dilanjut dalam sesi FGD yang ketiga, ditetapkannya rumusan strategi rencana rebranding FEB UNS dalam membangun brand dan positioning yang ditetapkan serta kebijakan branding yang diperlukan untuk kebutuhan fakultas. Di penghujung acara, Dila Maghrifani S.E., B.Sc.,  M.Sc., Ph.D moderator FGD menyampaikan hasil diskusi.

  • FEB UNS Hosted Focus Group Discussion on Fiscal Corner Program

    FEB UNS Hosted Focus Group Discussion on Fiscal Corner Program

    The Faculty of Economics and Business (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS) in collaboration with the Ministry of Finance of the Republic of Indonesia initiated the Fiscal Corner Program, which is expected to initiate at least one activity, later this year.

    This statement was conveyed by Dr. Dwi Prasetyani S.E., M.Sc., Vice Dean for Academic, Research, and Student Affairs FEB UNS, who commenced her remarks at the Focus Group Discussion (FGD) for the Fiscal Corner Program, Monday, October 23, 2023, in the 1st Assembly Room FEB UNS.

    Furthermore, the FGD, which presents Risky Sulistyanto from the Ministry of Finance, also invited the Head of the Study Programs and FEB UNS Lecturers to further finalize the Fiscal Corner concept, which has been initiated since October 2022.

    “The FGD will be held for two days, other than to finalize our previous discussions with the Ministry of Finance, at the same time we will try to gain insight from the Head of the Study Programs and also the FEB Lecturers. The room for the program has been provided, located on the 1st floor of the Soeharno FEB Building,” said Dr. Dwi.

    Meanwhile, Risky Sulistyanto from the Ministry of Finance said the initiation of the Fiscal Corner was a transformation effort stemming from the Ministry of Finance Goes to Campus agenda, into an integrated collaboration program package through learning, research/study, internships, and all activities related to fiscal management. Furthermore, the beneficiaries of the fiscal corner were UNS lecturers or students, Ministry of Finance Representative Office/other KL, Community/ Local Government, FEB alumni, and even other universities.

    In this collaboration, the FEB UNS team provides infrastructure, supporting IT, layout/ interior design, and human resources or community support. Meanwhile, the Ministry of Finance Team contributed related to the policy/ content/coordination within the Ministry of Finance scope unit.

    Some of the activities and programs for the Fiscal Corner include information/lectures/laboratories/workshops/webinars, access to fiscal policy data/state budget/publications, and also collaboration and partnership/studies/research development. “In addition, there is also a Simple Guideline for Fiscal Corner as a tool and guideline in managing Work Plans and Fiscal Corner Programs/Activities. In the future, it can also function as a Fiscal Corner catalog,” he said.

    In the discussion that lasted for about 2 (two) hours, Dr. Dwi said that the material included in the lecture program is from the Accounting and Development Economics Study Program. Further integration is needed in other study programs, including the Management and Digital Business Study Program.

    Dr. Mulyanto, Lecturer of FEB UNS added that hopefully, the Fiscal Corner will be able to provide data for analysis, thus, there may be a synergy among the study programs in FEB UNS, namely, the Development Economics, Accounting, Management, and even Digital Business Study Program. The next FGD will take place at the same place, on Tuesday, October 24th, 2023, with the agenda of the Formulation of the Fiscal Corner Work Program.

  • UNS and Universitas Pekalongan Assiting Batik SMEs in Pekalongan by Utilizing Innovation Technology

    UNS and Universitas Pekalongan Assiting Batik SMEs in Pekalongan by Utilizing Innovation Technology

    Pekalongan City is famous as Batik City. In this city, many batik artisans and SMEs can be found, each of which has its own peculiarities. Even Pekalongan has a typical batik motif, namely Batik Jlamprang. The batik culture in Pekalongan City is so legendary that Pekalongan is dubbed the World Creative City. To facilitate the development of batik SME business, many batik SMEs in Pekalongan City establish batik SMEs association. One of them is the Kampung Batik Kauman Association and Kampoeng Wisata Batik Pesindon. The association aims to provide independent parties that bridge the deliberation between the Pekalongan City government and batik craftsmen. In addition, this batik association also makes it easier to coordinate exhibitions, establish a website to display members’ profiles, and so on.

    The Pekalongan City Government also highly appreciates the establishment of batik SME associations. On several occasions, the Pekalongan City Government always involves the Batik SME association in the policy-making process related to environmental health, urban planning, and others. Not only that, the Pekalongan City Government also facilitates various forms of batik marketing initiated by the associations. This is manifested in the form of batik exhibitions and the establishment of a special e-commerce platform in Pekalongan City.

    However, this batik SME association still facing numerous problems that are suitable as the development focus of the Kosabangsa program. One of the problems is the dilemma of using chemical dyes that are not environmentally friendly. The Pekalongan City Government itself has conducted extensive discussions with batik SMEs to advocate the use of natural dyes. However, this cannot be done due to operational constraints. This problem will be the focus of this community service program.

    To achieve an environmentally friendly batik production process, the Kosabangsa Community Service Team assisted the association member on how to utilize batik dye machines, batik heating machines, and cow bone powder, which is in line with the technology offered by the Universitas Sebelas Maret Counsel Team (UNS) chaired by Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak.

    Prof. Rahmawati said that the production process using this technology is expected to overcome the environmental pollution problem due to batik dye waste and production processes’ inefficiency in Kampung Batik Kauman and Pesindon.

    As for the problem of the lack of variations of new batik motifs in Kampung Batik Kauman, the Implementation Team conducted training and assistance to create new batik motifs by considering art management in its creation. This was done with the assistance of the UNS Team which has created a new batik motif technology, namely Kupu Tinebar, which has been registered with IPR.

    The training and mentoring are expected to bring up new variations in batik motifs that can follow the advances in fashion trends but remain instilling the characteristics of Pekalongan batik. Furthermore, particular to the business management problem, the Implementing Team held bookkeeping training and mentoring on how to establish Kampung Batik Kauman dashboards. Meanwhile, in Kampung Batik Pesindon, the team proposed to conduct training and assistance on the use of e-commerce applications, google ads, and Facebook ads in accordance with the technology offered by the UNS Counsel Team.

    In addition, there will also be training on trademark registration for both Kampung Batik Kauman and Pesindon. This is because many batik artisans have yet to understand the importance of trademark usage. After creating a brand, the team will also conduct brand utilization training to create advertising content and product packaging.

  • FEB UNS Seminar on Financial Technology and Small Business

    FEB UNS Seminar on Financial Technology and Small Business

    A wonderful collaboration between the Faculty of Economics and Business (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS), Digital Business Study Program, PUI Fintech and Banking, and MES (Sharia Economic Community) Surakarta, presented a seminar entitled Financial Technology and Small Business, Wednesday, October 18, 2023.

    The seminar was held on the 3rd floor, KONIMEX Hall, Bachtiar Effendi Building FEB UNS, where two speakers were invited to deliver materials related to funding for small businesses (MSMEs) and the halal ecosystem. The two speakers invited in this occasion were Prof. Andrea Moro from Cranfield University, UK, and Krishna Adityangga, CEO of PT Xyz Digital Innovation.

    Dr. Tastaftiyan Risfandi, Vice Dean of Planning, Partnership, Business, and Information FEB UNS, in his remarks, revealed the importance of understanding funding sources for MSMEs in Indonesia, especially those provided by Fintech. Moreover, students also need to know which financial technology service providers are registered and supervised by the Financial Services Authority (OJK).

    “Welcome to UNS, Prof. Moro and Mr. Krishna. We at UNS always strive to establish networks with the industrial world, for this reason, today we will learn from the invited speakers about MSME funding. I hope we will be able to receive a lot of knowledge from today’s seminar,” explained Dr. Tastaftiyan.

    Delivering a material entitled ‘The Black Box of Funding Small Firms,’ Prof. Moro argues that contrary to the general opinion that an entrepreneur only focuses on financial benefits, they often prefer the organic growth of their business. “Entrepreneurs often have less money than regular employees but are more optimistic about their long-term vision. Therefore, they are willing to accept a lower income at the present time,” said Prof. Moro.

    Regarding funding, business owners or entrepreneurs prefer funding sources that provide freedom for them to manage the businesses they established. This allows businesses to grow, have greater resources, and with lower interest rates. Furthermore, Prof. Moro explained the types of funding sources including the advantages and disadvantages of each funding source.

    Continuing the discussion related to funders, Khrisna Adityangga stated that the biggest problem faced by small businesses is the difference in expectations between entrepreneurs and investors. Krishna also discussed material entitled ‘Halal Ecosystem in the Digital Transformation of the Decentralized Era: Discourse for Small Business.’

    According to him, the main purpose of digital transformation is to reduce moral hazard. Meanwhile, data decentralization, which is a form of digital transformation, can cut supply chains and help to realize data sovereignty. “Decentralized finance essentially is in line with sharia values. MSMEs can receive many benefits from decentralized finance, one of them is the availability of many funding sources. On the other hand, decentralized finance can encourage small businesses to be more transparent, considering that with the use of decentralized finance, business transaction reports can no longer be manipulated,” he explained.

    Regarding education in the digital sector, Krishna added that one of the problems faced by MSMEs is related to education, especially related to digital literacy. “Digital literacy in Indonesia is still very low. Therefore, the curriculum carried out by the Digital Business Study Program is very good and useful to be applied in the community, this knowledge can be used to prepare a better business incubation program and encourage the establishment of a good digital business,” he said concluding his material presentation.

    The seminar, which lasted for approximately two hours, went interactively with more than 100 participants having the opportunity to interact directly with the speakers through the question-and-answer sessions.

  • UNS dan Universitas Pekalongan Dampingi UKM Batik Di Pekalongan dengan Pemanfaatan Teknologi Inovasi

    UNS dan Universitas Pekalongan Dampingi UKM Batik Di Pekalongan dengan Pemanfaatan Teknologi Inovasi

    Kota Pekalongan terkenal dengan sebutan Kota Batik. Di kota ini, dapat ditemukan banyak perajin dan UKM batik yang masing-masing memiliki kekhasannya sendiri. Bahkan Pekalongan memiliki motif batik khas yaitu Batik Jlamprang. Kebudayaan batik di Kota Pekalongan begitu melegenda sehingga Pekalongan dijuluki sebagai Kota Kreatif Dunia. Untuk memudahkan dalam mengembangkan usaha UKM batik.

    Banyak UKM batik di Kota Pekalongan membuat perkumpulan UKM batik. Salah satunya adalah Perkumpulan Kampung Batik Kauman dan Kampoeng Wisata Batik Pesindon. Perkumpulan tersebut dimaksudkan agar terdapat pihak yang menjembatani musyawarah antara pemerintah Kota Pekalongan dengan perajin batik. Selain itu, batik juga mempermudah dalam koordinasi dalam acara pameran, pembentukan web profil anggota dan sebagainya.

    Pemerintah Kota Pekalongan pun sangat menghargai keberadaan perkumpulan UKM batik. Beberapa kali proses pengambilan kebijakan terkait kesehatan lingkungan, penataan kota, maupun hal yang lain, Pemerintah Kota Pekalongan selalu melibatkan perkumpulan UKM batik tersebut. Tidak hanya itu, Pemerintah Kota Pekalongan juga memfasilitasi berbagai bentuk pemasaran batik dari perkumpulan. Hal ini diwujudkan dalam bentuk pengadaan pameran batik, pembuatan e-commerce platform khusus di Kota Pekalongan.

    Walau demikian, masih banyak permasalahan di dalam perkumpulan UKM batik tersebut yang dapat menjadi obyek garapan dalam program Kosabangsa ini. Salah satunya adalah masalah penggunaan pewarna kimia yang tidak ramah lingkungan. Pemerintah Kota Pekalongan sendiri pun sudah seringkali melakukan diskusi dengan pihak UKM batik agar menggunakan pewarna alami. Akan tetapi, hal tersebut belum dapat dilakukan karena faktor kendala operasional. Hal inilah yang akan menjadi fokus program kosabangsa ini.

    Untuk mewujudkan proses produksi batik yang ramah lingkungan, Tim Pelaksana Kosabangsa melakukan pendampingan dan memanfaatkan mesin pewarna batik, mesin pemanas batik, dan bubuk tulang sapi sesuai dengan teknologi yang ditawarkan oleh Tim Pendamping Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai oleh Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak..

    Prof. Rahmawati menyampaikan bahwa proses produksi dengan menggunakan teknologi tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan akibat limbah pewarna batik, permasalahan kurang efisiennya proses produksi di Kampung Batik Kauman dan Pesindon.

    Sedangkan untuk permasalahan kurangnya variasi motif batik baru di Kampung Batik Kauman, Tim Pelaksana melakukan pelatihan dan pendampingan pembuatan motif batik baru dengan mempertimbangkan manajemen seni dalam penciptaannya. Hal ini dilakukan dengan pendampingan dari Tim UNS yang telah memiliki teknologi motif batik baru yaitu Kupu Tinebar yang juga telah memiliki Hak Cipta.

    Pelatihan dan pendampingan tersebut, diharapkan dapat muncul variasi dari motif batik baru yang tetap membawa ciri khas batik Pekalongan tetapi juga mengikuti perkembangan jaman.

    Selanjutnya, untuk masalah di bidang pengelolaan manajemen usaha, Tim Pelaksana mengadakan pelatihan pembukuan dan pembuatan dashborad di Kampung Batik Kauman. Sedangkan di Kampung Batik Pesindon, diusulkan untuk mengadakan pelatihan dan pendampingan penggunaan aplikasi e-commerce, google ads, dan facebook ads sesuai dengan teknologi yang ditawarkan oleh Tim Pendamping UNS.

    Selain itu, juga akan diadakan pelatihan pendaftaran merek dagang ke Kampung Batik Kauman dan Pesindon. Hal ini disebabkan banyak perajin batik yang tidak memahami pentingnya penggunaan merek dagang. Setelah memiliki merek, juga akan dilakukan pemanfaatan merek dalam pembuatan konten iklan maupun packaging produk.

  • FEB Gelar Focus Group Discussion Program Fiscal Corner

    FEB Gelar Focus Group Discussion Program Fiscal Corner

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan  Kementerian Keuangan Republik Indonesia menginisiasi Program Fiscal Corner yang diharapkan untuk akhir tahun ini sudah mulai terwujud minimal satu kegiatan.

    Pernyataan itu disampaikan Dr. Dwi Prasetyani S.E., M.Si. Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset dan Kemahasiswaan FEB, mengawali sambutannya pada Focus Group Discussion (FGD) Program Fiscal Corner, Senin 23 Oktober 2023 di Ruang Sidang 1 FEB UNS.

    Lebih lanjut dikatakan, FGD yang menghadirkan Risky Sulistyanto dari Kementerian Keuangan, juga mengundang Kepala Program Studi dan Dosen FEB agar lebih mematangkan konsep Fiscal Corner yang sudah mulai diinisiasi sejak Oktober 2022.

    “FGD yang akan digelar selama dua hari ini, selain untuk mematangkan perbincangan kami sebelumnya dengan Kementerian Keuangan, namun juga sekaligus mendapatkan insight dari Kepala Pogram Studi dan juga Dosen FEB. Untuk ruangan  sudah disediakan, berada di lantai 1 Gedung Soeharno FEB” kata Dr. Dwi.

    Sementara itu, Risky Sulistyanto dari Kementerian Keuangan  mengatakan inisiasi Fiscal Corner merupakan upaya bertransformasi dari kegiatan Kementerian Keuangan Goes to Campus menjadi paket program kolaborasi yang terintegrasi baik melalui pembelajaran, penelitian/kajian, magang, dan segala kegiatan terkait pengelolaan fiskal.

    Lebih lanjut disampaikan penerima manfaat dari adanya fiscal corner yakni dosen atau mahasiswa UNS, Kantor Perwakilan Kemenkeu/KL lainnya, Masyarakat/ Pemda, alumni FEB, dan bahkan perguruan tinggi lainnya.

    Dalam kolaborasi ini, tim FEB UNS menyediakan sarana prasarana, IT pendukung, layout/ interior desain, dan sumber daya manusia atau komunitas. Sedangkan dari Tim Kemenkeu berkontribusi terkait kebijakan/ content/ koordinasi unit lingkup kemenkeu.

    Adapun bentuk dari Fiscal Corner diantaranya informasi/ perkuliahan/ laboratorium/ workshop/ webinar, akses data kebijakan fiskal/ APBN/ publikasi, dan juga pengembangan kerja sama/ kajian/ penelitian.

    “Selain itu juga ada Simple Guide for Fiscal Corner sebagai alat bantu dan pedoman dalam mengelola Rencana Kerja dan Program/Kegiatan Fiscal Corner. Kedepan dapat juga berfungsi sebagai katalog Fiscal Corner” ungkapnya.

    Dalam diskusi yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut, Dr. Dwi mengatakan bahwa bahan materi yang masuk pada sistem perkuliahan masih pada Program Studi Akuntansi dan Ekonomi Pembangunan. Perlu integrasi lebih lanjut pada program studi lainnya, yaitu Manajemen dan Bisnis Digital.

    Dr. Mulyanto, Dosen FEB UNS juga menambahkan,  diharapkan Fiscal Corner mampu menyediakan data untuk analisis, maka dimungkinkan adanya sinergitas antara program studi Ekonomi Pembangunan, Akuntansi, Manajemen, bahkan Bisnis Digital.

    FGD berikutnya berlangsung di tempat yang sama, Selasa 24 Oktober 2023 dengan agenda Perumusan Program Kerja Fiscal Corner.

  • Seminar FEB UNS Bahas Financial Technology and Small Business

    Seminar FEB UNS Bahas Financial Technology and Small Business

    Kolaborasi apik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS), Program Studi S1 Bisnis Digital, PUI Fintech dan Banking, dan MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) Surakarta, menghadirkan seminar bertajuk Financial Technology and Small Business, Rabu, 18 Oktober 2023.

    Dalam gelaran seminar yang berlangsung di Aula KONIMEX Gedung Bachtiar Effendi FEB UNS lantai 3, dua pembicara hadir dengan materi terkait pendanaan untuk usaha kecil (UMKM) dan ekosistem halal.

    Kedua pembicara yang hadir adalah Prof. Andrea Moro dari Cranfield University, UK dan Khrisna Adityangga CEO PT Xyz Digital Innovation.

    Dr. Tastaftiyan Risfandi, Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis, dan Informasi FEB UNS, dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya pemahaman terkait sumber-sumber pendanaan bagi UMKM di Indonesia, terutama yang berasal dari Fintech. Terlebih lagi, mahasiswa juga perlu mengetahui penyedia jasa teknologi finansial yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    “Selamat datang di UNS, Prof. Moro dan Pak Khrisna. Kami di UNS senantiasa berusaha untuk dapat membangun jejaring dengan dunia industri, untuk itu hari ini kita akan belajar dari pembicara yang hadir terkait UMKM. Saya harap kita akan dapat menerima banyak pengetahuan dari seminar hari ini,” jelas Dr. Tastaftiyan.

    Menyampaikan materi berjudul ‘the Black Box of Funding Small Firms,’ Prof. Moro berpendapat bahwa berbeda dari pendapat umum yang menganggap bahwa seorang enterpreneur hanya berfokus pada keuntungan finansial, mereka justru seringkali lebih memilih pertumbuhan organik bisnis yang mereka miliki.

    “Enterpreneur seringkali memiliki lebih sedikit uang dibandingkan pegawai biasa, namun lebih optimis dengan visi jangka panjang. Sehingga mereka bersedia menerima pendapatan yang lebih rendah saat ini,” ungkap Prof. Moro.

    Terkait pendanaan, pemilik bisnis atau entrepreneur lebih memilih sumber pendanaan yang memberikan kebebasan bagi mereka untuk mengatur bisnis yang mereka bangun. Sehingga memungkinkan bisnis untuk tumbuh, memiliki sumber daya yang lebih besar, dan dengan tingkat bunga yang rendah.

    Lebih lanjut, Prof. Moro menjelaskan tentang tipe sumber-sumber pendanaan termasuk kelebihan dan kekurangan dari setiap sumber pendanaan tersebut.

    Menyambung pembahasan terkait pemberi dana, Khrisna Adityangga menyatakan bahwa masalah terbesar yang dihadapi oleh bisnis kecil adalah perbedaan ekspektasi atau harapan antara enterpreneur dan investor.

    Lebih lanjut, Khrisna membahas dengan materi berjudul ‘Halal Ecosystem in the Digital Transformation of the Decentralized Era: Discourse for Small Business.’

    Menurutnya, tujuan utama dari transformasi digital adalah untuk mengurangi moral hazard. Sementara itu, desentralisasi data yang merupakan bentuk dari transformasi digital dapat memotong rantai pasokan dan mewujudkan kedaulatan data.

    “Decentralized finance pada dasarnya selaras dengan nilai syariah. UMKM dapat menerima banyak manfaat dari decentralized finance, salah satunya adalah dengan tersedianya banyak sumber pendanaan. Disisi lain, decentralized finance dapat mendorong bisnis kecil untuk dapat menjadi lebih transparan, mengingat dengan penggunaan decentralized finance, laporan transaksi bisnis tidak lagi bisa dimanipulasi,” jelasnya.

    Terkait edukasi di bidang digital, Khrisna menambahkan bahwa salah satu permasalahan yang dihadapi oleh UMKM adalah terkait pendidikan, khususnya terkait literasi digital.

    “Literasi digital di Indonesia masih sangat rendah. Oleh karena itu kurikulum yang diusung oleh Prodi Bisnis Digital sangatlah baik dan bermanfaat untuk dapat diterapkan di masyarakat, pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk mempersiapkan program inkubasi bisnis yang lebih baik dan mendorong berdirinya bisnis digital yang baik,” ungkapnya mengakhiri paparan materi.

    Seminar yang berjalan selama kurang lebih dua jam tersebut berlangsung secara interaktif dimana lebih dari 100 peserta yang hadir mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pembicara yang hadir melalui sesi tanya jawab.

     

  • Marketing and Behavioral Research Group FEB UNS Discusses the Development of Reputable Journals and the Management of Scientific Publications with ISEI

    Marketing and Behavioral Research Group FEB UNS Discusses the Development of Reputable Journals and the Management of Scientific Publications with ISEI

    Marketing and Behavioral Research Group (RG), Faculty of Economics and Business (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS) alongside the Indonesian Economics Undergraduate Association (ISEI) Surakarta held a Workshop with the theme Developing a Reputable Journal and Managing Scientific Publications, Monday, October 23, 2023 at Café BoloDewe Manahan, Solo.

    Dr. Ahmad Ikhwan S., SE., MT., Chairman of Marketing and Behavioral RG FEB UNS in his remarks expressed his gratitude to Lukman Hakim, Ph.D., and Gunawan Setyadi who had delivered material at the workshop attended by academicians from UNS and those from out of UNS. “This workshop was conducted in line with our concern in the Marketing and Behavior RG, after going through discussions with ISEI, which has a publication division to develop a reputable Journal. Hopefully, there will be a forum that can technically help scientific article publication management prepared by the academic community, especially in FEB UNS,” he said.

    Lukman Hakim, Ph.D., added that, so far, for the journals in FEB, there have been initiatives taken in every study program, but the central focus is regarding a journal’s sustainability until it can get indexed in Scopus. “The initiative has been taken in each study program in FEB UNS. In order to be sustainable and to get indexed in Scopus, the most essential foundation in establishing a journal is consistency, and adequate numbers of publications, which should not be too large and not too little, while the reviewers and partners are also well-managed. The journal management is carried out by a professional institution appointed by the faculty, thus, it is not a side job of the faculty members,” he explained later.

    Furthermore, Lukman, Ph.D., also talked about the dynamics of managing professional organizations and also publications in ISEI.

    Meanwhile, Gunawan in his material explained that international publications resulting from academic research are one of the important criteria for obtaining higher accreditation and university ranking. Based on the SINTA database, UNS produced 8,557 Scopus documents with 49,157 citations as of January 2022, where 3% of the publications were published in the top 10% percentile top journals and 8.4% were included in the top 10% most cited worldwide. However, publications in the fields of business, management, and accounting accounted for only 3% and 5.6% of the Social Sciences publications.

    Furthermore, an overview of FEB publications in Scopus as of January 2022 listed 226 documents (159 journal articles, 7 book chapters, and 60 conference papers). “There is quite a hope of seeing this number doubled in the near future because there are quite a number of associate professors who have the potential to be appointed as professors. FEB’s resources and capital can support UNS, since becoming a world-class research university is an excellent achievement and hopefully, it can be realized soon,” he said later.

    That is why it is necessary to establish a journal clinic in FEB. The existence of this clinic is to provide international publication assistance for S1, S2, S3, and lecturers, starting from submission to publication process in Scopus/Thomson ISI Indexed International Journal.

    In addition, the existence of the publication clinic can also provide technical support for scientific publications to lecturers and students, improving the quality and quantity of research publications in FEB. Moreover, the clinic is also expected to increase research collaboration by bridging the relationship between FEB Lecturers with international and national institutions. In the forum, participants actively discussed, and gave suggestions and input to the two speakers.

  • RG Pemasaran dan Keperilakuan FEB UNS bersama ISEI Diskusikan Pengembangan Jurnal Bereputasi dan Pengelolaan Publikasi Ilmiah

    RG Pemasaran dan Keperilakuan FEB UNS bersama ISEI Diskusikan Pengembangan Jurnal Bereputasi dan Pengelolaan Publikasi Ilmiah

    Research Group (RG) Pemasaran dan Keperilakuan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Surakarta mengadakan Workshop dengan tema Mengembangkan Jurnal Bereputasi dan Mengelola Publikasi Ilmiah, Senin, 23 Oktober 2023 di Café BoloDewe Manahan, Solo.

    Dr. Ahmad Ikhwan S., SE. MT, Ketua RG Pemasaran dan Keperilakuan FEB UNS dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Lukman Hakim, Ph.D dan Gunawan Setyadi yang berkenan menjadi narasumber pada workshop yang dihadiri oleh para akademisi UNS dan juga dari luar UNS.

    “Workshop ini diselenggarakan atas kepedulian kami dari RG Pemasaran dan Keperilakuan, setelah melalui diskusi dengan ISEI yang memiliki divisi publikasi untuk mengembangkan Jurnal yang bereputasi. Harapannya ada satu wadah yang secara teknis bisa membantu pengelolaan publikasi artikel atau tulisan-tulisan sivitas akademika, khususnya di FEB.” ungkapnya.

    Lukman Hakim, Ph.D  menambahkan, selama ini, untuk jurnal di FEB embrionya sudah ada di setiap program studi, namun yang terpenting adalah keberlanjutannya hingga sampai pada scopus.

    “Embrionya sebenarnya sudah ada di setiap prodi. Agar dapat berkelanjutan dan bisa masuk scopus maka dasar-dasar yang penting dalam membangun jurnal adalah konsistensi sejak awal, terbitnya tidak boleh terlalu banyak dan tidak boleh terlalu sedikit dan mitra bestarinya juga terkontrol. Pengelolaannya dikerjakan oleh lembaga profesional yang ditunjuk oleh fakultas, jadi bukan kerja sampingan dari sivitas akademika” jelasnya kemudian.

    Lebih lanjut Lukman, Ph.D menceritakan dinamika pengelolaan organisasi profesi dan juga publikasi di ISEI.

    Sementara itu, Gunawan dalam materinya memaparkan bahwa publikasi internasional sebagai hasil penelitian merupakan salah satu kriteria penting untuk mendapatkan akreditasi dan pemeringkatan perguruan tinggi yang lebih tinggi.

    Dikatakan, berdasarkan data base Sinta, UNS Menghasilkan 8.557 dokumen Scopus dengan sitasi sebanyak 49.157 per Januari 2022 dimana 3% dari publikasi tersebut dimuat di top journal persentil top 10% dan 8,4% masuk dalam top 10% yang paling banyak dikutip di seluruh dunia. Namun, publikasi di bidang bisnis, manajemen dan akuntansi hanya menyumbang 3% dan 5,6% untuk Ilmu Pengetahuan Sosial.

    Lebih lanjut disampaikan ikhtisar publikasi FEB di scopus per Januari 2022 telah menghasilkan 226 dokumen (159 artikel jurnal, 7 book chapter dan 60 conference paper).

    “Harapan untuk melihat angka tersebut berlipat ganda dalam waktu dekat cukup besar karena ada cukup banyak lektor kepala yang berpotensi diangkat menjadi guru besar. Dengan sumber daya dan modal yang dimiliki FEB,  dapat mensupport UNS, menjadi universitas riset kelas dunia adalah suatu yang tinggi dan dapat segera terwujud” tegasnya kemudian.

    Itulah mengapa perlunya membentuk klinik jurnal di FEB.  Keberadaan klinik ini adalah untuk memberikan bantuan publikasi internasional bagi mahasiswa S1, S2, S3 dan dosen, mulai dari penyerahan hingga proses publikasi di Jurnal Internasional Terindeks Scopus/ Thomson ISI.

    Juga memberikan dukungan teknis publikasi ilmiah kepada dosen dan mahasiswa, meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi penelitian di FEB. Juga meningkatkan kerjasama dengan menjembatani keterkaitan antara Dosen FEB dengan institusi internasional dan nasional.

    Di forum tersebut, peserta aktif berdiskusi, memberikan saran dan masukan kepada kedua narasumber .

  • Three Selected Champions: Final Pitching Competition and FEB UNS Re-branding Identity Challenge

    Three Selected Champions: Final Pitching Competition and FEB UNS Re-branding Identity Challenge

    FEB UNS Sustainable Business Summit 2023 is a series of activities organized by the Faculty of Economics and Business (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS), in collaboration with UNS Innovation Hub and UNS Directorate of Innovation and Downstreaming.

    The second series of activities from the FEB UNS Sustainable Business Summit 2023, the Final Pitching Competition & Re-branding Identity Challenge was held on Sunday, October 22, 2023, at UNS Inn. This event was attended by more than 15 participants, most of whom are active students. The series of grand final events began with an opening remark by Catur Sugiarto, S.E., M.SM., M.Rech., Ph.D., CDMP., Head of Business Incubator Division UNS Innovation Hub. Whereas, the first part of the series, a virtual seminar entitled “Navigating the Digital Transformation Landscape: Challenges & Strategies for Sustainable Business,” was held on Tuesday, October 17, 2023.

    Catur conveyed his brief remark by thanking the participants who had participated in the two competitions to the final stage. “Thank you to all participants. The FEB UNS Sustainable Summit Business 2023 activities serve as a forum for the younger generation, especially students to train their skills in critical thinking, public speaking, business development ideas, and creativity development,” he said.

    Following the opening speech from the Head of the UNS Innovation Hub Business Incubator Division, the series of activities continued with the opening of the Final Pitching Competition session. In this session, the Atmagri team opened the final pitching presentation session, with their presentation for approximately 10 minutes and followed by a question-and-answer session. Following them, the other 9 teams also presented their final pitching material and engaged in a question-and-answer session with an average of 15 minutes time allocation. After the entire team presented the material, the jury and reviewers held a deliberation meeting followed by a short break.

    After the break, the series of grand final sessions was reopened by the MC and continued with the Final stage for the Re-branding Identity Challenge. The first pitch was conducted by the AI Capone Team, which followed with a question-and-answer session. The same goes for the other three teams. Like the previous Final Pitching Competition session, in this session, the judges and reviewers held a deliberation meeting followed by the second break session.

    Commencing after, the session that the participants had been waiting for had finally arrived, the awarding session and the prize awarding session. Marking the end of UNS Sustainable Business Summit 2023, the MC announced the winners of the Pitching Competition, which followed by the awarding ceremony for the champions. The 1st place in the FEB UNS Sustainable Business Summit 2023 Pitching Competition was won by the Panensia Team. The 2nd place is won by Team Mersif Lab, and 3rd place is won by Team Sekuling.

    After the Pitching Competition awarding session, another awarding session was conducted to announce the winners of the FEB UNS Re-branding Identity Challenge. For this category, the Basaman Team won 1st place, while 2nd place was won by the AI Capone Team, and 3rd place was won by Irsyad Akmal. The other participants also enlivened the award by applauding and congratulating the champions.