FEB

Blog

  • Dekan FEB UNS: International Business Model Canvas Competition Munculkan Ide-Ide Baru yang Out of The  Box

    Dekan FEB UNS: International Business Model Canvas Competition Munculkan Ide-Ide Baru yang Out of The  Box

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Webinar Internasional Business Model Canvas Competition bertema Finding Success as Creative Millenial Entrepreneurs in The Digital Economy Era dan diikuti oleh lebih dari 1000 peserta melalui zoom cloud meeting dan youtube, Senin 26 April 2021.

    Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S. menghadirkan empat narasumber yakni Utari Octavianty, Co-Founder and General Director Aruna; Keke Genio, Co-Founder and CMO of Lokapoin Content Creator at Youtube; Meidy Fitranto, Co-Founder and CEO Nodeflux serta Agung Nur Probohudono, SE, M.Si. Ph,D, AK, CA, CFrA, Kepala Program Studi Akuntansi FEB UNS.

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiago Salahuddin Uno hadir sebagai Keynote Speaker pada webinar yang juga merupakan rangkaian peringatan Dies Natalis ke 45 UNS.

    Dekan FEB UNS, Prof. Djoko Suhardjanto

    Mengawali sambutannya, Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com, (Hons). Ph,D.,Ak, mengatakan pandemi Covid 19 telah memberikan efek domino yang multisektoral dari semua aspek kehidupan seperti kesehatan, sosial, ekonomi, keuangan dan lain sebagainya. Meskipun demikian, aktifitas ekonomi harus terus berjalan dengan tetap memperhatikan faktor-faktor kesehatan.

    Selama masa pandemi ini, pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara mengalami peningkatan. Banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan digital seperti berbelanja online, ecommerce hingga jasa pengantar makanan.

    Mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebutkan bahwa perkembangan ekonomi digital dan industri 4,0 di Indonesia merupakan yang tercepat di Asia Tenggara dan akan menjadi kekuatan tersendiri untuk mewujudkan Visi Indonesia Emas melalui industri 4,0.

    Agung Nur Probohudono, Ph,D, Kepala Program Studi Akuntansi FEB UNS

    Selanjutnya disampaikan bahwa adanya pandemi covid 19 membawa percepatan adopsi digital permanen dan yang masif. Pertumbuhan ini juga tidak terlepas dari perkembangan infrastruktur dan penetrasi digital di Indonesia.

    Bersumber dari Google, Temasek, Bain and Company  menyebutkan  pengguna baru sebanyak 37% dari total pengguna digital di Indonesia.

    Meidy Fitranto, Co-Founder and CEO Nodeflux

    “Bisnis startup di Indonesia mulai menjadi trend dan mulai banyak digandrungi para milenial  sejak 5 tahun belakangan ini. Kesuksesan para perusahaan start up besar di tanah air menjadi suatu penggerak utama bagi bisnis-bisnis startup di Indonesia. Pemilik bisnis startup lokal selalu bertambah setiap tahunnya dan menyentuh jumlah hingga 1500 bisnis. Hal ini karena pengguna internet di Indonesia terus meningkat secara drastis setiap harinya” jelas Dekan FEB yang di tahun ini juga sebagai Ketua Dies Natalis ke 45 UNS.

    Keke Genio, Co-Founder and CMO of Lokapoin Content Creator at Youtube

    Meskipun peluang dalam membangun startup sangat terbuka, namun  Profesor Thomas R. Eisenmann dari Havard Business School mencatat bahwa bisnis rintisan atau startup banyak yang berujung pada kegagalan.

    Utari Octavianty, Co-Founder and General Director Aruna

    Berdasarkan riset CB Insights berjudul Top 20 Reasons Startup Fail, ada 5 faktor utama penyebab kegagalan perusahaan rintisan antara lain, produk tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, kurangnya pendanaan, tim yang tidak solid, kalah bersaing, dan penetapan harga produk atau biaya operasional yang tidak akurat. Hal tersebut merupakan catatan penting bagi para milenial yang akan memulai bisnis startup.

    Di akhir sambutannya, Prof. Djoko berharap dengan terselenggaranya Internasional Business Model Canvas Competition akan menumbuhkan bibit-bibit baru di Indonesia yang mampu berinovasi, memunculkan ide-ide baru yang out of the box.

    Di kegiatan ini pula sebanyak 51 tim dari perguruan terbaik di Indonesia berkompetisi mengeksplorasikan ide-ide bisnis mereka. Dari sejumlah itu,  10 tim terbaik akan berlaga kembali mempresentasikan ide-ide bisnis mereka. (Humas FEB)

  • The Top 10 Teams in International Business Canvas Competition Present Their Business Idea

    The Top 10 Teams in International Business Canvas Competition Present Their Business Idea

    The top 10 (ten) team passed the elimination stages of the International Business Canvas Competition, organized by the Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. The teams will present their business idea in front of the Board of Judges on Tuesday, April 27th, 2021. The top ten teams are Sentelala Team from Universitas Prasetiya Mulya, ‘Diceritain’ Team from Universitas Indonesia, CoC Unsoed from Universitas Jenderal Sudirman, Labs from Telkom University, CnW from Universitas Negeri Malang, Jetz! from Universitas Gadjah Mada, Team * from Universitas Padjadjaran, Team Deadline Susulan from Univeristas Sebelas Maret, PalePale Team from Institut Teknologi Bandung, and Castelo from Telkom University.

    Jetz! One of the Top Teams in International Business Canvas Competition

    The judges for the session are Catur Sugiarto, S.E., M.S.M. Ph.D., and Ariyanto Adhi Nugroho, SE, M.Ec,Dev, MAPPI., as academics judges from FEB UNS, and Kusdarmawan Aryo Brakoso, CEO Rown Division, Bull Syndicate, and Hallosolo Kitchen, as a judge from the business sector.

    The Dean of FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com, (Hons), Ph.D., Ak., states that the International Business Canvas Competition aims to nurture the entrepreneurship spirit. The competition that was organized as a part of the UNS 45th Anniversary celebration is expected to be a channel for the students in Indonesia and from abroad countries to deliver new business ideas. Furthermore, the event is expected to bring new entrepreneurs with excellent business ideas and supporting new business initiatives.

    The Competition is open from 22 February 2021, with a total of 51 participating teams from the best universities across Indonesia. Starting with registration, the participating teams must compete among themselves with their excellent business idea virtually on April 5th, 6th, and 9th, 2021.

    The best 10 teams selected must present their business idea on April 27th, 2021, to select the top 5 teams that will be announced on May 20th, 2021. (Humas FEB)

  • Menparekraf Dorong Generasi Milenial Menjadi Wirausahawan

    Menparekraf Dorong Generasi Milenial Menjadi Wirausahawan

    Saat ini ada sekitar 34 juta masyarakat Indonesia yang menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata  dan ekonomi kreatif. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengajak kaum milenial untuk mulai merintis usaha, menjadi wirausahawan, mengambil peluang untuk menciptakan lapangan kerja.

    Indonesia butuh entrepreneur-entrepreneur agar sektor ini semakin cepat pulih dan berkembang karena ujung tombak penciptaan lapangan kerja adalah pariwisata dan ekonomi kreatif. 97% lapangan kerja diciptakan oleh Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Start Up dan  perusahaan rintisan.

    Pernyataan itu disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiago Salahuddin Uno saat menjadi Keynote Speaker pada Webinar International Business Model Canvas Competition yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Senin 26 April 2021.

    Pada masa pandemi,  hampir semua subsektor ekonomi kreatif mengalami penurunan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ada 2 subsektor yang memiliki laju positif terhadap pertumbuhan PDB, yakni aplikasi dan game developer serta pertelevisian dan radio yang semakin meningkat. Termasuk juga  eSports, industrinya total sudah lebih dari Rp 16 triliun per hari ini. Dua subsektor ini bertumpu pada teknologi dan digitalisasi pada pengaplikasiannya dan menyasar pada konsumen  yang melek teknologi.

    “Biasanya fesyen, kuliner dan kriya merupakan subsektor ekonomi kreatif yang berkontribusi terbesar pada kontribusi PDB. Namun saat ini justru mengalami penurunan yang signifikan yakni 2,8 % untuk fesyen, 3,3% untuk kriya dan 3,89% untuk kuliner” ungkapnya.

    Menparekraf, Sandiago Salahuddin Uno saat menjadi Keynote Speaker

    Hal ini dikarenakan subsektor ini belum secara optimal beradaptasi pada digitalisasi. Ecommerce dan platform lainnya yang mendukung dan memudahkan pelaku UMKM untuk mengubah bisnisnya belum secara maksimal diaplikasikan oleh para pelaku bisnis fesyen, kuliner maupun juga kriya. Meskipun  sudah ada yang memulai tapi masih terbatas dan perlu ditingkatkan.

    Menurutnya, tantangan ekonomi kreatif di tahun 2021 adalah bagaimana mengubah UMKM yang konvensional menjadi bisnis yang berbasis digital. Hal ini karena terjadi perubahan perilaku konsumen di seluruh dunia yang mengedepankan pada kesehatan, higienitas, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

    Bisnis digital sangat perlu dikembangkan, bisnis yang berdasarkan teknologi dan big data, cloud computing, artificial intelligence dan internet of everything. Hal ini menjadikan pelaku ekonomi kreatif semakin efisien,semakin efektif  dalam menentukan kebijakan yang secara cepat, real time dan akurat karena basisnya data yang semakin hari semakin smart.

    Dihadapan lebih dari 1000 peserta webinar yang bertema Finding Success as Creative Millenial Entrepreneurs in The Digital Economy Era, Sandiago menyampaikan, Indonesia saat ini memiliki penduduk usia muda sebanyak 170,9 juta yang milenial dan generasi Z, di tahun 2030 menjadi 187,6 juta. Bonus demografi ini merupakan peluang namun sekaligus tantangan, jika kita tidak memberikan entrepreneurship, edukasi dan leadership, mereka malah menjadi beban.

    Tantangan tersebut harus diatasi dengan peningkatan SDM.  SDM ekonomi kreatif harus terbentuk dengan mindset milenial yang entrepreneur, inovatif, proaktif dan berani mengambil resiko. Aspek inovasi, adaptasi dan juga kolaborasi dengan berbagai stakeholder harus kita dorong.

    “Saya berharap kegiatan International Business Model Canvas Competition ini  dapat memunculkan bisnis baru dan ide-ide baru dari para milenial sehingga ekonomi Indonesia dapat  semakin meningkat, tumbuh berkembang berbasis start up dalam bingkai digital di berbagai sektor” pungkasnya.

    Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S. dan Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com, (Hons). Ph,D.,Ak, menghadirkan empat narasumber, Utari Octavianty, Co-Founder and General Director Aruna, Keke Genio, Co-Founder and CMO of Lokapoin Content Creator at Youtube, Meidy Fitranto, Co-Founder and CEO Nodeflux serta Agung Nur Probohudono, SE, M.Si. Ph,D, AK, CA, CFrA, Kepala Program Studi Akuntansi FEB UNS. (Humas FEB)

  • Menparekraf Encourages Millennials to be Entrepreneurs

    Menparekraf Encourages Millennials to be Entrepreneurs

    Currently, around 34 million Indonesians are dependent on the tourism sector and the creative economy. The government of Indonesia, through the Ministry of Tourism and Creative Economy, invites millennials to start a business, become entrepreneurs, and take opportunities to create jobs.

    Indonesia needs new entrepreneurs to stimulate SME’s recovery and development because tourism sectors and the creative economy are the spearheads of job creation. Currently, 97% of jobs are created by Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) and Start-ups businesses. This statement was mentioned by the Minister of Tourism and Creative Economy (Menparekraf), Sandiago Salahuddin Uno, as the Keynote Speaker in the International Business Model Canvas Competition Webinar, organized by the Faculty of Economics and Business, Universitas Sebelas Maret (UNS), Monday, April 26, 2021.

    During the pandemic, almost all creative economy sub-sectors are seeing a decline in their contribution to the Gross Domestic Product (GDP). There are only 2 (two) sub-sectors with a positive and steady GDP growth, namely mobile/computer application and game developers, as well as television and radio broadcasting. Including eSports, the economic values of these industries are more than IDR 16 trillion in total. These two sub-sectors relied on technology and digitalization in their application and targeted the technology-savvy consumers.

    “Normally, fashion, culinary, and crafts are the creative economy sub-sectors that contribute the most to the GDP. However, currently, those sectors experienced a significant decline, reaching up to 2.8% in fashion, 3.3% for crafts, and 3.89% for the culinary sector,” Sandiaga said.

    This situation happened because those subsectors have not optimally adapted to digitalization. E-commerce and other digital platforms, which support and facilitate MSME to improve their business, have not been optimally adopted by fashion, culinary, and craft businesses. Even though some MSMEs have initiated digital adoption, the implementation is still limited and needs further improvement.

    According to Sandiaga, in 2021 creative economy faced a challenge in the transformation of conventional MSMEs into digital-based businesses. Such condition is motivated by a change in global consumer behavior that prioritizes health, hygiene, and limited mobility.

    Development is crucial for digital businesses or any other businesses based on technology, big data, cloud computing, artificial intelligence, and the internet of things. This development will encourage creative economy actors to be more efficient and time-efficient in policies making based on real-time and accurate information because data science is getting more advanced each coming day.

    In front of more than 1,000 participants in the webinar ‘Finding Success as Creative Millennial Entrepreneurs in The Digital Economy Era,’ Sandiaga said that Indonesia currently has approximately 170.9 million young population (millennials and Generation Z) and is predicted to reach 187.6 million population in 2030. This demographic bonus is an opportunity but also a challenge, and if the current education does not equip the young generation with entrepreneurship, education, and leadership, they will become a burden in the future.

    These challenges must be solved through human resources development. The human resources in the creative economy sector must be established with an entrepreneurial, innovative, proactive, and risks taker millennial mindset. We must encourage innovation, adaptation, and collaboration with various stakeholders.

    “I hope that this International Business Model Canvas Competition can introduce new businesses and ideas from millennials, thus contributing to the Indonesian economic growth, supported by digital start-ups in various sectors,” Sandiaga concluded.

    The seminar, which was opened by the Vice-Rector for Academic and Student Affairs, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, MS and the Dean of FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. Ph.D., Ak., invited four speakers, namely Utari Octavianty, the Co-Founder and General Director of Aruna, Keke Genio, the Co-Founder and CMO of Lokapoin Content Creator at Youtube, Meidy Fitranto, the Co-Founder and CEO of Nodeflux, and Agung Nur Probohudono, SE, M.Si. Ph.D., AK, CA, CFrA, as the Head of Accounting Study Program FEB UNS. (Humas FEB).

  • Tim Peneliti Kolaborasi Dua Perguruan Tinggi Bantu Pulihkan Ekonomi Kampung Kaos

    Tim Peneliti Kolaborasi Dua Perguruan Tinggi Bantu Pulihkan Ekonomi Kampung Kaos

    Usaha konveksi kaos di Desa Pandes merupakan industri unggulan di Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten. Dengan keunggulannya, Kampung Kaos menjadi sebutan yang melekat bagi desa itu.

    Sejak pandemi COVID-19 yang melanda dunia akhir tahun 2019 lalu, industri konveksi di Kampung Kaos terkena dampaknya. Turunnya konsumsi dan daya beli masyarakat sangat berpengaruh terhadap permintaan pasar kerajinan konveksi di Kampung Kaos Desa Pandes.

    Dengan kondisi ini, Tim Peneliti dari dua perguruan tinggi berkolaborasi melakukan inisiasi untuk melakukan pelatihan dan pendampingan bagi pengrajin konveksi di Kampung Kaos agar tetap eksis di masa pandemi. Diperlukan upaya penanganan yang serius karena masyarakat di Desa Pandes banyak yang menggantungkan hidupnya dari industri ini.

    Kreasi sablon kaos

    Tim peneliti diketuai oleh  Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Universitas Sebelas Maret (UNS) dan beranggotakan Dr. Edi Kurniadi, M.Pd. dari FKIP UNS, Zaenah, S.E., M.A. dari STIE Dharma Agung serta Dr. Ign. Novie Endi Nugroho, S.E., M.Si. Alumni Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) UNS.

    Prof. Rahma mengatakan, kegiatan awal penelitian ini telah dilakukan di tahun 2020 lalu, berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Pandes, khususnya para pengurus BUMDes Karya Nyata dan perwakilan paguyuban pengusaha konveksi Kampung Kaos. Salah satu usaha BUMDES adalah produksi kaos dan yang kedua BUMDES punya lahan untuk arena budaya dan bermain anak-anak.

    Foto bersama tim peneliti dan pengrajin

    Dimulai pada tanggal 10 April 2021, tim peneliti  memberikan  berbagai pelatihan kepada para pengusaha UMKM kaos di Desa Pandes diantaranya pelatihan dan pendampingan perencanaan dan pengelolaan keuangan, pendampingan manajemen bisnis, pemasaran digital menggunakan teknologi informasi dan internet, pengembangan inovasi desain dengan pemanfaatan teknologi komputer, penggunaan teknologi tepat guna, implementasi pemasaran digital, inovasi desain, dan penggunaan teknologi tepat guna untuk produksi serta pembuatan arena bermain untuk anak-anak.

    “Hasil penerapan teknologi tepat guna dan pelatihan pelaku usaha ini diharapkan dapat meningkatkan inovasi, pemasaran, pengembangan dan keterampilan pengelola usaha yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Desa Pandes Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten” tuturnya.

    Sementara itu, dari sisi administratif diharapkan adanya peningkatan kemampuan perencanaan dan pengelolaan keuangan dan manajemen bisnis yang lebih baik. Dengan peningkatan keterampilan ini diharapkan para pelaku usaha yang tergabung dalam BUMDes Karya Nyata ini dapat melalui kondisi krisis ini dengan baik dan pada akhirnya mampu berkembang sesuai dengan tuntutan pasar.

    Setelah melakukan pelatihan dan pendampingan, tim akan melakukan kegiatan lanjutan untuk mengawal peningkatan hasil usaha konveksi kaos di Desa Pandes sehingga perekonomian di sektor UMKM dapat tumbuh kembali. (Humas FEB)

    Sumber: Tim Peneliti

  • Empat Mahasiswa FEB Raih Penghargaan di Kegiatan Olimpus 2021

    Empat Mahasiswa FEB Raih Penghargaan di Kegiatan Olimpus 2021

    Olimpus merupakan ajang kompetisi kreatifitas mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang digelar secara rutin setiap tahun. Di Olimpus 2021, ada empat bidang yang dikompetisikan yakni Keilmiahan, Olahraga, Seni dan Budaya serta Apresiasi Mahasiswa.

    Di kegiatan ini, 4 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS berhasil meraih penghargaan yang diumumkan pada Closing Olimpus yang digelar pada Minggu 11 April 2021 secara luring di Auditorium UNS dan daring.

    Di bidang Seni dan Budaya, Rosa Faustina Sari Maandag memperoleh juara I lomba Tari Tradisional. Tiga mahasiswa FEB lainnya memperoleh penghargaan di bidang apresiasi mahasiswa yakni  Titin Dwi Aryanti berhasil meraih Juara 3 Duta Kampus UNS, Budi Priyanto Ramelan sebagai Insan Aktifis Sosial dan Aqifa Febrianti sebagai Insan Penalaran Olimpus UNS 2021.

    Saat dihubungi oleh media FEB, Rosa Faustina, mahasiswi Program Studi Akuntansi FEB UNS yang memiliki hobi menari khususnya tarian Jawa itu mengungkapkan kebahagiaannya bisa menjadi juara satu di Olimpus 2021. Rosa sangat mencintai budaya Jawa terutama tariannya yang gemulai, namun Rosa tidak menutup diri untuk mempelajari tarian dari daerah lain.

    “Sejak awal masuk kuliah, saya langsung mencari Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) untuk mengasah bakat tari yang sejak kecil saya tekuni. Di Badan Koordinasi Kesenian Tradisional (BKKT) UNS, saya mulai menyalurkan bakat bersama dengan mahasiswa lain yang memiliki budaya berbeda. Kebersamaan dengan mahasiswa dari lain daerah di BKKT UNS mampu menambah wawasan bagi saya tentang budaya dan seni Indonesia” Ungkap Rosa

    Sebelumnya, banyak prestasi di bidang seni yang di raih Rosa, diantaranya Juara harapan 2 lomba tari Festival Lomba Seni Siswa Nasional tahun 2011, tiga terbaik lomba tari Festival Lomba Seni Siswa Nasional tahun 2014, juara 2 Festival Tari Tradisional Pelajar dan Mahasiswa UNESA tingkat nasional tahun 2020, Tata Rias dan Busana Terbaik Festival Tari Tradisional Pelajar dan Mahasiswa UNESA tingkat nasional tahun 2020.

    Sementara itu, Titin Dwi Aryanti, mahasiswi Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB tidak menyangka jika dirinya bakal memperoleh juara 3 Duta Kampus UNS karena ajang seperti ini adalah pengalamannya yang pertama. Di Olimpus 2021, banyak peserta yang memiliki pengalaman sebagai duta dalam berbagai kompetisi.

    Dengan dorongan dari keluarga dan juga teman-teman di FEB UNS, Titin mampu melewati berbagai tahapan di ajang Duta Kampus UNS 2021 mulai dari pembekalan-pembekalan, tes tertulis, wawancara, uji bakat, uji prestasi dan juga uji publik.

    Dua mahasiswa lainnya dari Program Studi Ekonomi Pembangunan juga,  Budi Priyanto Ramelan yang memperoleh apresiasi penghargaan sebagai Insan Aktifis Sosial dan Aqifa Febrianti sebagai Insan Penalaran Olimpus UNS 2021 terpilih karena banyaknya aktifitas-aktifitas  yang diikutinya, baik kegiatan-kegiatan sosial maupun penalaran.

    Prestasi yang diraih keempat mahasiswa FEB UNS semoga mampu memacu prestasi bagi mahasiswa-mahasiswa lain di FEB UNS (Humas FEB).

  • Siapkan Perkuliahan Luring, FEB UNS  Adakan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Angkatan 2020

    Siapkan Perkuliahan Luring, FEB UNS  Adakan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Angkatan 2020

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus untuk Persiapan Perkuliahan Luring, Senin 19 April 2021 secara luring di Aula FEB UNS dan juga daring.

    Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Dr. Ir.Ahmad Yunus, MS diikuti oleh 49 mahasiswa FEB angkatan 2020 dari tiga Program Studi S1, Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi Pembangunan yang hadir di Aula FEB.  Sementara, mahasiswa lainnya dari angkatan yang sama mengikuti kegiatan pengenalan melalui daring.

    Mahasiswa Memberikan Pesan Kesan

    Kegiatan diawali dengan pengenalan pimpinan dan penyampaian profil FEB oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, MCom Hons. PhD, Ak. Dilanjutkan dengan pengenalan program studi oleh Kepala Program Studi S1, pengenalan Organisasi kemahasiswaan dan diakhiri dengan pengenalan fasilitas di lingkungan FEB UNS.

    Di awal sambutannya, Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Ahmad Yunus mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa angkatan 2020 yang selama menjadi mahasiswa di Agustus 2020 lalu belum pernah memasuki kelas untuk pembelajaran luring karena pandemi Covid-19.

    Selanjutnya disampaikan, sejak 6 Oktober 2020,  UNS telah dipercaya oleh pemerintah menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). UNS dinilai sebagai perguruan tinggi yang mandiri sehingga diberi otonomi atau keleluasaan dalam mengelola pendidikan, keuangan, SDM dan program-programnya.

    Dengan beralihnya status dari Badan Layanan Umum (BLU) ke PTNBH, UNS mempunyai target-target yang berbeda dari sebelumnya.

    “Target itu adalah kualitas yang lebih baik dari sebelumnya, mutunya harus level internasional” tegasnya

    Ada tiga belas prodi di UNS yang diajukan untuk akreditasi internasional. UNS menargetkan  15% prodi yang ada harus terakreditasi internasional di akhir tahun ini.

    Sesi Pengenalan Prodi di Kelas

    UNS juga sudah mempunyai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sejak November 2020. LSP merupakan kepanjangan dari Badan Nasional Standarisasi Profesi (BNSP).

    Dengan capaian ini, lulusan dari UNS nantinya diharapkan mampu untuk berkompetisi di dunia kerja.

    Prof. Yunus juga berpesan agar mahasiswa mampu menggunakan kesempatan selama 4 tahun kuliah di FEB UNS dengan peraihan prestasi yang baik dan memperoleh sertifikat-sertifikat keahlian pendukung ijazah serta bisa menyelesaikan studinya tepat waktu. (Humas-FEB)

  • Beasiswa S2 UNAIR

    Yth. Para Alumni Prodi S1, S2 dan S3 FEB UNS

    Untuk memudahkan penyampaian Informasi dan Media Diskusi, maka di pandang perlu untuk membuat Group Telegram dengan kapasitas peserta lebih banyak.

    Silahkan bergabung dalam Group Telegram Para Alumni Prodi S1, S2 dan S3 FEB UNS sebagai Media Informasi dari UNS / FEB UNS Baik Lowongan Kerja, Penawaran Beasiswa dan update Treasure Alumni FEB UNS

    Mohon untuk klik link di bawah ini dan share ke Teman-Teman Mahasiswa Aktif FEB UNS yang lain.
    https://t.me/joinchat/F-jOpqsDvlYqLUln

    Terima Kasih

    An. WD 3 FEB UNS (Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi FEB UNS)
    Sub Koordinator Akademik FEB UNS_14042021

  • Diskusi Kebangsaan Prodi EP Bahas Optimalisasi Batubara

    Diskusi Kebangsaan Prodi EP Bahas Optimalisasi Batubara

    Potensi sumber daya batubara Indonesia hanya tersebar di Sumatera dan Kalimantan, dengan cadangan sebesar 37 Milyar MT. Cadangan batubara negara kita lebih kecil dibandingkan dengan negara Amerika,  Rusia, Australia, China dan India. Pertumbuhan produksi lebih besar daripada pertumbuhan konsumsi batubara di dalam negeri.

    Pertambangan  batubara akan dikendalikan pada produksi sekitar 600 juta ton per tahun dan masih dinilai sebagai sektor non migas yang cukup baik.  Cadangan batubara dinilai mencukupi untuk kebutuhan jangka panjang dengan sisa cadangan sebesar 24,8 Milyar MT di tahun 2040

    Pernyataan itu disampaikan Ir. Singgih Widagdo, M.Hum., Ketua Kebijakan Publik Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) pada Seri Diskusi Kebangsaan 4 yang digelar Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret bertema Optimalisasi Batubara: Pengendalian Produksi Batu Bara, Kamis 1 April 2021.

    Selanjutnya disampaikan, batubara sebagai satu-satunya mineral berunsur karbon yang dapat memberikan kunci untuk kepentingan ke depan. Batu bara merupakan sumberdaya yang besar dan merupakan pilihan alternatif yang ekonomis. Teknologi pengembangan batubara telah terbukti dan dapat diimplementasikan. Dalam hal ini, pemerintah atau BUMN seharusnya menjadi lokomotif hilirisasi batubara mengingat resiko bisnis yang cukup tinggi.

    Hilirisasi mampu mempercepat peran batubara sebagai economic booster dibandingkan dengan peran batubara saat ini yang hanya sebatas revenue driver sekaligus memberikan dampak penyerapan tenaga kerja baru.

    Pemerintah perlu untuk meningkatkan investasi dan  memperkecil impor serta memperbesar pengembangan serta pemanfaatan batubara di dalam negeri.

    Pengembangan tersebut diantaranya dengan peningkatan mutu batubara, briket batubara, batubara kokas, pencairan batubara, gasifikasi batubara termasuk underground coal gasification serta coal-slurry. Dan juga pemanfaatan batubara untuk PLTU Mulut Tambang.  (Humas-FEB)

  • Guest Lecture MESP Angkat Dua Tema Menarik

    Guest Lecture MESP Angkat Dua Tema Menarik

    Guest Lecture 2 yang diselenggarakan oleh Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret mengangkat dua tema menarik, Kondisi Perekonomian di Masa Covid-19 oleh I Made Krisna Yudhana Wisnu Gupta, M.S.E dan Dinamika Kebijakan Publik dalam Mengatasi Pandemi oleh Lukman Hakim, S.E., M.Si., Ph,D., Kamis 8 April 2021.

    Krisna dari Australian National University dalam presentasinya menyatakan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia memberikan tantangan yang sulit bagi negara,  diantaranya  kebutuhan fiskal untuk bantuan sosial yang meningkat tajam, industri meminta berbagai insentif seperti pemotongan pajak serta penerimaan berkurang karena ekonomi sedang lesu. Untungnya, dengan level utang saat ini, pemerintah masih memiliki ruang.

    “Yang menjadi tantangan dimasa pandemi seperti saat ini bukan pada utangnya namun dalam hal penyaluran atau disbursement. Contohnya, masyarakat yang bekerja informal yang belum memiliki BPJS Tenaga Kerja tidak mendapatkan bantuan sosial karena persyaratan tidak terpenuhi. Terlebih orang yang berada sedikit di atas kategori miskin, yang berada diluar PKH ataupun penerima bantuan lain akhirnya jadi miskin karena tidak memperoleh bantuan di masa sulit.” tegasnya.

    Menurutnya, pandemi membuka masalah yang selama ini tidak terlalu terlihat, ekonomi yang tidak kompetitif, sektor finansial yang tidak kompetitif, utang BUMN dan penerimaan pajak yang rendah. Tetapi Indonesia berada di posisi yang relatif  baik dibanding dengan negara-negara lain, tingkat suku bunga baik, tingkat utang dan defisit serta inflasi yang terkendali. Namun tetap harus hati-hati ke depannya.

    Sementara itu, Lukman Hakim, Ekonom UNS berpendapat kebijakan ekonomi yang dibuat selama Indonesia merdeka cenderung lebih banyak menggunakan wacana, paradigma asing atau bersifat eksogen. Dengan kata lain kebijakan lebih pada motivasi keinginan (want) daripada kebutuhan (need).

    Menurutnya, tiga kebijakan publik yang mendesak berdasarkan kebutuhan dan bukan keinginan adalah peningkatan kedalaman sektor keuangan, dimana Indonesia tidak naik kelas, masih sekitar 40%. Selanjutnya mewujudkan Indonesia Inc dengan berdasarkan pada sinergi antara akademis, bisnis dan pemerintah  (triple helix) serta menyediakan insentif khusus kepada petani dan UMKM, sehingga akan banyak generasi muda yang mau masuk dalam bisnis ini.

    Diperlukan blue print untuk membuat sistem insentif bagi petani dan UMKM. Beberapa negara seperti China dan Jepang memberikan insentif yang sangat komprehensif di sektor pertanian dan UMKM. Karena sesungguhnya perang ke depan adalah perang pangan dan energi, maka seharusnya dua hal ini diprioritaskan (Humas FEB).