FEB

Blog

  • Lebih dari 300 peserta Ikuti Workhop Analisis multivariate dengan SPSS

    Lebih dari 300 peserta Ikuti Workhop Analisis multivariate dengan SPSS

    Lebih dari 300 peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa pascasarjana mengikuti Workhop Analisis multivariate dengan SPSS melalui aplikasi zoom cloud meeting, Rabu-Kamis, 7-8 April 2021.

    Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret itu menghadirkan Prof. H. Imam Ghozali, M.Com, Ph.D. sebagai narasumber.

    Sebelumnya, peserta yang akan mengikuti workshop diwajibkan telah menginstal SPSS karena diworkshop ini sebagian besar materi langsung praktek menggunakan perangkat SPSS untuk menganalisis data.

    Di awal presentasinya, Prof. Imam memulai dengan menyampaikan landasan teori analisis multivariate, hal ini sangat penting untuk bisa digunakan sebagai acuan dalam menulis skripsi, tesis ataupun disertasi.

    Workshop yang berlangsung dari pagi hingga siang hari sangat padat materi dan diikuti dengan seksama oleh peserta. Di hari pertama dan kedua masing-masing terbagi menjadi 3 sesi. Bahasan di hari pertama diantaranya: parametrik vs non-parametrik statistik, kerangka model penelitian, metode analisis data, screening data sebelum diolah hingga multivariate analysis of variance  (Manova).

    Sedangkan materi di hari kedua diantaranya teori regresi dan uji asumsi klasik, regresi berganda dan uji asumsi klasik, regresi berganda dengan data sekunder dan primer hingga regresi multilevel dan logistic regression (Humas FEB ).

  • Re-Programming Dukcapil, Sederhanakan Proses Birokrasi

    Re-Programming Dukcapil, Sederhanakan Proses Birokrasi

    Mulai tahun 2015, sejak diangkat sebagai  Dirjen Dukcapil Kemendagri,  Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H. telah melakukan reprogramming Dukcapil. Dukcapil yang sebelumnya hanya menghasilkan dokumen, telah berbenah dengan mengoptimalkan data  dan memberikan ruang-ruang untuk kemudahan masyarakat, salah satunya dengan menyederhanakan proses birokrasinya.

    Berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya dari respon penduduk, persepsi publik terhadap layanan dokumen produk Dukcapil  dianggap kurang bagus karena prosesnya yang panjang, ribet, dan sangat tidak efektif,  mulai dari RT RW setempat.

    Ada 24 dokumen kependudukan yang dihasilkan dari pelayanan administrasi kependudukan (adminduk) Dukcapil dan penduduk perlu memilikinya, diantaranya KK, KIA, KTP-el, Akta Kelahiran, Akta Kematian, Akta Perkawinan dan berbagai surat keterangan lainnya. Transformasi layanan untuk kemudahan perolehan dokumen bagi masyarakat sangat segera untuk direalisasikan.

    Konsep transformasi layanan Dukcapil hingga pada implementasi kepada masyarakat luas ini disampaikan Prof. Zudan saat menjadi narasumber pada Studium General yang diselenggarakan oleh Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas sebelas Maret, Sabtu 10 April 2021.

    Dukcapil tidak hanya bertransformasi dalam layanan, namun juga dari aspek hukumnya untuk membangun kenyamanan.

    “Saya  melakukan  pembaharuan-pembaharuan hukum karena situasinya sudah berubah dan masyarakat meminta perubahan yang sangat cepat. Dukcapil merubah berbagai aturan agar harapan masyarakat bisa direspon.  Kita melakukan suatu transformasi regulasi, dari aturan yang ribet berubah menjadi userfriendly, dari yang berbayar menjadi gratis, dari layanan tunggal menjadi terintegrasi. Kalo dulu ngurus akte hanya dapat akte saja, sekarang dapat juga kartu identitas anak, sudah satu paket dan berbagai kemudahan lainnya. Seluruh  produk dokumen hasil transformasi menggunakan kertas putih bercirikan QR code sehingga dapat dicek keaslian dokumennya. Hal ini dapat mencegah adanya pemalsuan dokumen”, jelasnya.

    Disampaikannya juga, Dukcapil telah menjalin kerjasama dalam hal integrasi data dengan banyak lembaga, hingga akhir tahun 2020 ada 2155 lembaga pusat  dan 698 lembaga daerah. Total hingga akhir 2020 berjumlah 2853  lembaga.

    “karena sudah terintegrasi, maka lembaga yang sudah bekerja sama sudah tidak memerlukan foto kopian berkas dari penduduk, misal dalam membuat SIM, tinggal tunjukan sim yang lama ketik NIK langsung dibuatkan” jelasnya.

    Dukcapil juga sudah membuat Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM) yang hingga saat ini  berjumlah 164 ADM, yang terakhir di Palu. Penduduk bisa lebih aktif mendapatkan dokumennya sendiri melalui ADM sepanjang memilik PIN dari QR code yang diberikan oleh Dukcapil.

    Reprogramming ini akan selalu dikawal dalam prosesnya, selalu dievaluasi agar masyarakat mendapatkan layanan yang mudah dan nyaman. (Humas FEB)

  • Rencanakan Kerjasama Tugas Belajar, Pusdiklat BPS Kunjungi FEB UNS 

    Rencanakan Kerjasama Tugas Belajar, Pusdiklat BPS Kunjungi FEB UNS 

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menerima kunjungan dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Pusat Statistik (Pusdiklat BPS), Rabu 7 April 2021. Kedatangan Kepala Pusdiklat BPS, Eni Lestariningsih beserta tim diterima oleh Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi, Wakil Dekan SDM, Logistik dan Keuangan, Para Kaprodi S2 dan juga para pengelola Badan Usaha Fakultas.

    Eny Lestariningsih menyampaikan bahwa kunjungannya bersama tim adalah  dalam rangka penjajagan kerjasama tugas belajar. Sejalan dengan perkembangan global, semua serba digitalisasi dan perlu spesialisasi tertentu di BPS yang tidak hanya mengandalkan latar belakang statistik saja, maka perlu adanya upaya peningkatan kompetensi SDM.

    “Dengan adanya kebutuhan peningkatan kompetensi, softskill maupun  hardskill, pimpinan BPS memandang urgent untuk meningkatkan skill SDM di BPS, tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis yang terbatas pada statistik saja, namun juga keilmuan lainnya. Dalam hal ini BPS perlu pendampingan dari  perguruan tinggi negeri, diantaranya adalah  ilmu akuntansi, Ilmu ekonomi moneter, manajemen SDM dan lain-lain” katanya

    BPS saat ini memiliki 16.000 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia, 60% sudah bergelar S1 ke atas.  Karyawan yang berpendidikan S2 sudah menyampai target minimal yang diharapkan, yakni 20% dan S3nya 13 %. Hanya saja belum memiliki keilmuan yang merata sesuai dengan yang dibutuhkan BPS saat ini.

    Dr. Mugi Harsono, S.E., M.Si., Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi FEB UNS menyampaikan ucapan selamat datang dan menyambut baik kunjungan dari Pusdikat UNS. Awalan rencana kerja sama ini diharapkan dapat berlanjut dengan diskusi-diskusi lain hingga sepakat membuat Perjajian Kerja Sama (PKS). Harapannya, kesepakatan yang dihasilkan dari diskusi tersebut hingga pelaksanaan kerjasama akan memberikan kemanfaatan lebih bagi kedua belah pihak. (Humas FEB)

  • FEB UNS Gelar Lokakarya Peningkatan Mutu Pelayanan Publik melalui PPK-BLUD

    FEB UNS Gelar Lokakarya Peningkatan Mutu Pelayanan Publik melalui PPK-BLUD

    Sebanyak 63 peserta dari rumah sakit negeri dan swasta serta puskemas dari seluruh Indonesia mengikuti Lokakarya Peningkatan Mutu Pelayanan Publik melalui Penerapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) yang digelar oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS).

    Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com.(Hons).Ph.D.,Ak, Dekan FEB UNS dalam sambutannya mengatakan PPK BLUD kini menjadi sebuah sistem yang ingin diterapkan oleh banyak unit kerja. Alasan utamanya adalah fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan  yang berbeda dari keuangan daerah. Banyak unit kerja di beberapa daerah yang hendak menerapkan PPK BLUD tapi tidak tahu apa manfaatnya dan kenapa harus diterapkan sistem tersebut.

    Terbitnya Permendagri no 79 tahun 2018 sebagai pengganti Permendagri 61 tahun 2007 adalah upaya untuk lebih meningkatkan kinerja BLUD baik berkaitan dengan tata kelola, pelayanan, perencanaan dan pelaksanaan anggaran serta pelaporan dan pertanggungjawaban. Permendagri ini telah merubah paradigma pengelolaan dari pengelolaan yang tadinya statis menjadi fleksibel, dari birokratis menjadi lebih leluasa.

    Kebijakan penerapan BLUD disebutkan pada Permendagri 79 tahun 2018 pasal 31 bahwa penerapan BLUD diutamakan untuk pelayanan kesehatan yaitu RSUD, puskesmas, dan balkesmas.

    Prof. Djoko Suhardjanto, Dekan FEB UNS saat memberikan sambutan

    “Kendala yang dirasakan puskesmas dalam memberikan layanan sebelum menerapkan BLUD adalah terkait dengan pengelolaan keuangan, penyediaan sarana dan prasarana, SDM dll. Oleh karena itu, BLUD memiliki konsep dasar adanya fleksibilitas dalam pengelolaan keuangannya. Sehingga dengan pengelolaan keuangan yang mandiri, akan menghasilkan meningkatnya pelayanan dan efisiensi anggaran” ungkapnya.

    Selanjutnya dikatakan, seringkali terjadi ketakutan di daerah untuk menerapkan fleksibilitas dalam penganggaran, misalnya penerapan ambang batas, menggeser anggaran, tidak merinci anggaran berdasarkan rincian objek, Dalam pengadaan barang dan jasa masih menerapkan mekanisme yang ribet, ketakutan untuk perekrutan tenaga non ASN dan sebagainya.

    Dari kondisi-kondisi inilah yang melatarbelakangi FEB untuk menginisiasi terselenggaranya  Lokakarya Peningkatan Mutu Pelayanan Publik melalui PPK-BLUD. Harapannya, kegiatan ini mampu memberikan sumbangan pengetahuan yang lebih khususnya bagi peningkatan kinerja dan  pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit ataupun puskesmas.

    Lokakarya digelar selama 2 hari, dari tanggal 8 hingga 9 April 2021 di Solo Paragon Hotel dengan menghadirkan 3 narasumber yakni  R. Wisnu Saputro (Kepala Seksi BLUD Wil.2, Subdit BLUD, Direktorat BUMD, BLUD dan BMD, Ditjen Bina Keuda, Kementerian Dalam Negeri); Drs. Syahrudin Hamzah, SE., MM (Ex Wadir Keuangan RSUD dr. Moewardi Prov Jateng, Pengurus Pusat ARSADA dan PERSI, Tim Penyusun dan Narasumber Nasional BLUD) serta Drs. Wartono, MSi, AK, CPA, CA (Anggota tim penyusun Permendagri tentang BLUD, Dosen FEB UNS, Dewan Pengawas beberapa RSUD, Narasumber Nasional BLUD di Kementerian Dalam Negeri, Dirjen Cipta Karya Kementerian P.U, dan ARSADA & Adinkes). (Humas-FEB)

  • Surat Edaran tentang Uji Coba Kuliah Tatap Muka

    Rektor UNS mengeluarkan Surat Edaran nomor 18/UN27/PK.01/2021 tentang Uji Coba Kuliah Tatap Muka Mahasiswa Angkatan 2020/2021 Program Sarjana dan Diploma UNS sebagai berikut:

    Edaran Rektor

  • Lebih dari 400 peserta Ikuti Webinar Prodi Magister Akuntansi FEB

    Lebih dari 400 peserta Ikuti Webinar Prodi Magister Akuntansi FEB

    Webinar bertema Trend Penelitian Bidang Akuntansi di Masa Pandemi Covid 19: Adakah yang baru? menarik minat lebih dari 400 peserta yang bergabung di aplikasi zoom cloud meeting. Sebaran peserta terdiri dari mahasiswa dan dosen dari perguruan tinggi di Indonesia.

    Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Binsis (FEB) Universitas Sebelas Maret, Jumat 26 Maret 2021, menghadirkan dua narasumber, Iman Harymawan, S.E,  MBA, Ph,D., Dosen Prodi FEB UNAIR dan Dr. Sylvia Veronica NP. Siregar, S.E, Ak, CA., Dosen Prodi Akuntansi Universitas Indonesia.

    Di awal presentasinya, Iman memulai dengan membandingkan tiga isu menarik di Negara Asia, Hongkong, Singapura dan Indonesia. Menurutnya,  Hongkong dan Singapura adalah leading publikasi akuntansi di Asia Timur. Banyak peneliti-penelitinya di kedua negara itu yang mempublikasikan artikel di Jurnal Top Tier.

    Di tahun 2010-2020, Hongkong telah mempublikasikan 1159 artikel, Singapura 735 artikel dan  Indonesia 591 artikel. Dilihat dari kolaborasinya, luaran yang dihasilkan dari peneliti-peneliti di Hongkong, 87% dihasilkan dari international collaboration, sekitar 13 % saja yang national collaboration, bahkan institutional collaboration dan single authorship.

    Demikian juga untuk Singapura hampir sama, luaran yang dihasilkan dari peneliti-peneliti di sana, 87,3% dihasilkan dari international collaboration  dan sekitar 13 % yang national collaboration, institutional collaboration dan single authorship.

    “Sedangkan luaran yang dihasilkan dari peneliti-peneliti di Indonesia, yang jumlahnya sangat banyak adalah dari institutional collaboration.  Artinya, dosen dalam institusi yang sama menulis bersama dan dipublikasikan. Dari fakta ini, mudah-mudahan  bisa meng-encourage kita  untuk semakin banyak berkolaborasi,  tidak hanya di institusi yang sama tapi lebih luas kolaborasinya,  di level nasional bahkan internasional. Akan banyak keuntungan melakukan kolaborasi dengan rekan yang lebih luas, di luar negeri, potensi untuk keterbacaannya akan semakin tinggi” jelasnya.

    Selanjutnya disampaikan, di  masa pandemi, sangat banyak topik-topik yang bisa diangkat oleh para peneliti diantaranya: accounting as a control and surveillance mechanism in a pandemic, How did the pandemic challenge existing public sector budgetary rules and institutional design?, Will it cause any permanent changes and unintended consequences to extant fiscal institutions?, The puzzle of transforming infected and dead people into numbers for the sake of control and knowledge the pandemic   dan lain sebagainya.

    Dr. Sylvia Veronica saat pemaparan materi

    Hal senada diungkapkan narasumber kedua, Dr. Sylvia, cukup banyak topik penelitian yang bisa dikembangkan. Dalam paparannya, Sylvia memberikan contoh-contoh penelitian dari berbagai jurnal. Karena periode penelitian covid relatif masih pendek, maka pemilihan topik-topik yang disampaikannya tidak terfokus hanya pada Top Tier Jurnal.  (Humas FEB).

  • Prodi Ekonomi Pembangunan Adakan Workshop, Bahas Ekonometrika Spasial dengan Stata

    Prodi Ekonomi Pembangunan Adakan Workshop, Bahas Ekonometrika Spasial dengan Stata

    Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas adakan Workshop secara daring bertajuk Analisis Ekonometrika Spasial Menggunakan Software Stata, Sabtu 27 Maret 2021 dengan narasumber,  Randi Kurniawan, SE, MSC, Dosen FEB Universitas Hasanuddin.

    Sebelum paparan materi meliputi pengenalan konsep ekonometika spasial dan dilanjutkan dengan aplikasinya, narasumber memberikan kuesioner kepada peserta untuk gambaran  seberapa banyak peserta yang telah mengetahui software stata untuk analisis ekonometrika.

    Di awal materinya, disampaikan bahwa secara umum, ekonometrika spasial merupakan bagian dari ekonometrika yang mempertimbangkan aspek spasial yaitu adanya keterkaitan antar wilayah (autocorrelation) dan variasi struktur wilayah (spatial heterogeneity) dalam regresi, baik pada data cross section maupun panel.

    “Untuk menjalankan ekonometika spasial dibutuhkan data yang memiliki identitas lokasi,  seperti koordinat. Garis lintang, garis bujur adalah indikator untuk menentukan titik koordinat  dari suatu area” katanya.

    Mengutip dari Anselin pada tahun 1998, munculnya aspek spasial dalam ekonometrika teori dan terapan dilatarbelakangi oleh dua faktor yaitu muncul perhatian dalam teori ekonomi untuk memodelkan interaksi antar agen ekonomi dalam suatu sistem.

    Oleh karena itu,  dibutuhkan suatu spesifikasi model ekonometrika yang dapat mengestimasi pengaruh suatu variabel di suatu wilayah terhadap variabel yang sama di wilayah lainnya. Contoh, tingkat kriminalitas di suatu wilayah kemungkinan dipengaruhi oleh tingkat kriminalitas di wilayah tetangganya. Dalam hal ini, model ekonometrika standar yang biasa kita pelajari tidak mampu menjawabnya sehingga membutuhkan teknik tersendiri untuk mengatasi  hal tersebut.

    Juga munculnya banyak data-data spasial yang memiliki identitas lokasi. Sekarang sudah banyak data yang didapatkan secara gratis maupun berbayar, yang  spasialnya didapatkan titik koordinatnya.

    “Misalkan, kita tidak hanya bicara kemiskinan di satu kabupaten, tapi kita tahu bahwa kabupaten itu memiliki titik koordinat sekian-sekian, kemudian kita bisa melihat keterkaitan antara kabupaten yang satu dengan kabupaten lain dari bantuan titik koordinat. Dari itu, maka kita bisa melakukan analisis dengan ekonometrika spasial” ungkapnya.

    Sementara itu, untuk tahapan analisisnya, pertama dengan menyusun spesifikasi model ekonometri yang mempertimbangkan efek spasial. Lalu melakukan estimasi model ekonometri yang mempertimbangkan efek spasial dan melakukan uji spesifikasi serta diagnostik model terkait keberadaan efek spasial (Humas FEB)

  • Pengendalian Manajemen adalah Sumber Kekuatan dalam Bisnis Ritel Modern

    Pengendalian Manajemen adalah Sumber Kekuatan dalam Bisnis Ritel Modern

    Sifat alami dalam sebuah bisnis ritel modern yaitu meliputi skala ekonomi, jumlah outlet dan efiensi.  Bisnis ritel adalah bisnis uang  receh yang dikumpulkan seperak demi seperak, untungnya sangat kecil maka harus memiliki jumlah outlet banyak,  jika hanya punya satu outlet maka akan rugi.

    Dalam hal skala ekonomi, jumlah outlet dan efisiensi, maka pihak manajemen harus melakukan kontrol terhadap banyak faktor, misalnya pada saat menambah outlet, ada penambahan investasi,  inventori, orang, penjualan. Sehingga dalam bisnis ritel ini, kekuatan yang paling penting adalah kontrol. Bagaimana me-record semua transaksi, melakukan kontrol terhadap seluruh aktifitas, memanage sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

    Pernyataan itu disampaikan I Nyoman Sugiarta, Retail and Distribution Business Consultant saat menjadi narasumber pada Guest Lecture Mata Kuliah Sistem Pengendalian Manajemen yang diselenggarakan oleh Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Sabtu 27 Maret 2021.

    Selanjutnya dikatakan, bisnis ritel itu sangat dinamis, pada saat ada perubahan sedikit saja di teknologi, perubahan lifestyle, perubahan lingkungan maka bisnis ritel juga harus berubah dan menyesuaikan. Apa yang direncanakan hari ini, belum tentu 6 bulan lagi dipakai, mungkin  ada perubahan yang memaksa perusahaan untuk merubah strateginya. Dinamika bisnis ritel juga dipengaruhi oleh dinamika persaingan.

    “Di dalam bisnis ritel, memilih lokasi juga sangat penting.  Dalam hal ini,  ada dua pendekatan, kita melihat outlet-outlet mana yang bagus yang telah kita buka, sehingga pada saat buka outlet berikutnya kita sudah ada pola yang tepat. Jika belum memiliki outlet maka dengan melihat dan amati kompetitor kita,  amati trafiknya bagus atau tidak, pelajari tipe lokasinya juga” tuturnya.

    Menurutnya, kontrol atau proses pengendalian yang paling tepat adalah 75% dilakukan pada fase eksekusi atau pada saat berproses. Dan 25 % nya setelah hasilnya. Bagaimana manajemen memastikan proses eksekusi berjalan dengan tepat. Sebagus apapun strateginya jika tidak kontrol eksekusinya maka performance tidak maksimal. Performance adalah keberhasilan dari para eksekutor dalam menjalankan strategi perusahaan.

    Dalam manajemen ritel, inventori adalah bagian yang biasa ditangani oleh divisi logistik atau warehouse. Secara garis besar, inventori adalah bagian besar dari supply chain management, ada supply dan demand.  Pada prinsipnya, bagian inventori ini sederhana,  bagaimana kita bisa menyiapkan barang dagangan, waktunya tepat, dari sumber yang tepat, jumlahnya tepat, harganya tepat dan kualitasnya bagus. Kelihatan sederhana, tapi didalamnya seperti benang kusut, bagaimana kita harus melakukan kontrol terhadap inventori.

    Inventori merupakan salah satu bagian di dalam bisnis ritel yang membutuhkan kontrol yang luar biasa ketat. Manajemen banyak mengalokasikan waktu cukup besar untuk melakukan kontrol terhadap inventori. Berapa Day SaIes Inventory (DSI) nya, berapa tinggi Inventory Turn Over-nya, Ratio inventory terhadap Top of Payment, bagaimana service level-nya, product loss, bad stock, undelivered goods, stock out dan masih banyak lainnya.

    “Butuh energi khusus yang dikeluarkan untuk pengendalian inventori dari bisnis ritel. Inventori yang over atau berlebihan akan mengakibatkan barang rusak, resiko di likuiditas perusahaan akan terganggu. Sebaliknya,  jika inventori di bawah atau persediaannya kurang maka kemungkinan konsumen akan beralih ke pesaing Anda, Anda tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Masalah inventori sangat pelik, over salah under juga salah, bagaimana bisa menyeimbangkan antara supply dan demand. Ini kontrol yang paling rumit di bisnis ritel” jelasnya.

    Dihadapan lebih dari lebih dari 100 mahasiswa peserta kuliah umum, I Nyoman menjelaskan sangat detil tentang bisnis ritel modern mulai dari gambaran umum mengenai bisnis ritel modern  hingga strategi dalam membangun sebuah bisnis ritel modern. (Humas FEB)

  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Ajak Akademisi Dukung UU Cipta Kerja

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Ajak Akademisi Dukung UU Cipta Kerja

    Pengesahan Undang-Undang No 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja beserta turunannya merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk melakukan reformasi struktural. Hal ini merupakan upaya untuk menyederhanakan, menyinkronkan dan mengefektifkan peraturan yang terlalu banyak dan seringkali menimbulkan masalah dalam investasi.

    Pernyataan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian,  Dr. (HC) Airlangga Hartanto, M.BA., M.M.T saat menjadi Keynote Speaker pada Forum Diskusi Publik “Transformasi Ekonomi: Optimalisasi UU Cipta Kerja sebagai Strategi Utama Akselerasi Investasi Indonesia”, Kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Selasa, 30 Maret 2021.

    UU Cipta kerja beserta turunannya mereformasi dalam pemulihan izin usaha yang  sebelumnya menggunakan berbasis perizinan, sehingga berbasis pada resiko. Hal ini mendorong untuk lebih efisien, mudah dan transparan. Proses perizinan juga akan dilakukan secara online single submission yang akan dimulai pada bulan Juni 2021.

    Lebih lanjut, Airlangga Hartanto mengajak seluruh stakeholder termasuk dari akademisi untuk memastikan seluruh kebijakan  dapat terlaksana dengan baik, sehingga penerapan UU Cipta Kerja yang terdiri dari 11 klaster dapat berlangsung optimal, mengakselerasi peningkatan investasi serta kewirausahaan.

    Sementara itu, Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum dalam Opening Remaks menegaskan terbitnya Undang-Undang No 11 tahun 2020 tentang cipta kerja adalah salah satu bukti pemerintah hadir untuk mendorong investasi melalui berbagai kemudahan perizinan terutama bagi para investor.

    Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum

    “Selama ini, persoalan tumpang tindih dalam perizinan usaha antara kewenangan pusat dan  daerah serta kementerian atau lembaga telah menjadi penyebab sulitnya proses perizinan bagi investor yang akan masuk ke Indonesia. Tidak hanya memakan waktu yang lama, tetapi juga calon investor harus melalui  proses yang berlarut-larut dan cukup panjang” ungkapnya.

    Kehadiran Omnibus Law diharapkan dapat memberikan ruang yang luas bagi UMKM, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi sekitar 60% terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

    Lebih lanjut dikatakan, meskipun pada saat ini harus diakui,  UMKM dalam menjalankan aktifitasnya masih berada pada sektor informal. Tugas pemerintah harus selalu mendorong agar keberadaan  UMKM berubah menjadi sektor formal. Sehingga bisa memperoleh perizinan dan mendapatkan akses kredit dari perbankan Indonesia. Hadirnya UU ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi UMKM dalam hilirisasi riset dan inovasi di daerah.

    Perguruan Tinggi sangat mengharapkan agar UU Cipta Kerja dapat membuat sebuah pola untuk hilirisasi riset menjadi inovasi semakin mudah, cepat dan menarik sehingga dapat mendorong semangat berinovasi bagi para riset dan inovator yang ada di perguruan tinggi khususnya di UNS. Dengan semakin meningkatnya hilirisasi hasil riset dan inovasi yang dapat digunakan oleh industri dan masyarakat maka akan meningkatkan perekonomian Indonesia  dan berujung pada terciptanya lapangan kerja.

    Prof. Jamal juga berharap agar acara yang digelar secara luring dan daring itu memberikan hasil dan rekomendasi serta rumusan-rumusan penting  dalam membantu mendorong percepatan investasi di Indonesia melalui implementasi UU Cipta kerja yang efektif.

    Di acara itu, juga hadir sebagai Pengantar Diskusi, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono, S.E., M.E. Dan tiga narasumber lainnya, Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, I Ktut Hadi Prianta, SH, LL.M., Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan FEB Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E, M.Si serta Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Surakarta, Tulus Widajat, S.E., M.Si.  (Humas FEB)

  • Coordinating Minister for Economic Affairs Encourages Academicians to Support UU Cipta Kerja

    Coordinating Minister for Economic Affairs Encourages Academicians to Support UU Cipta Kerja

    The ratification of the UU Cipta Kerja and its supporting law is a form of government’s commitment in realizing the structural reform. This become the effort to simplify, synchronize, and create more effective law from the many applicable regulations, which usually create investment problems.

    This was delivered by the Coordinating Minister for Economic Affairs, Dr. (HC) Airlangga Hartarto, M.B.A., M.M.T., in the national seminar on Economic Transformation: Optimization of UU Cipta Kerja (Job Creation Law) as Key Strategy for Indonesia Investment Acceleration, organized by the Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, on Tuesday (30/3/2021). This event was held offline in Ruang Aula Seminar (Seminar Hall) FEB UNS and lived broadcasted on PC-PEN Information Center YouTube channel.

    The event’s keynote speaker was the Coordinating Minister for Economic Affairs, Dr. (HC) Airlangga Hartarto, M.B.A., M.M.T. The Rector of UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, opened the event led by Susiwijono, M.E., and other three speakers, I Ktut Hadi Priatna, S.H., LL.M., Prof. Izza Mafruhah, and Tulus Widajat, S.E., M.Si.

    In his remark, the Rector of UNS stated that the Covid-19 pandemic affects the health sector and economic sector alike. This disturbance can be observed from the increasing numbers of unemployment in Indonesia amid the pandemic. To solve this issue, the government needs to open job opportunities for the community. Inviting foreign investors to Indonesia is a means to achieve this objective. “The larger the number of investors entering (Indonesia), the more jobs will be available for the community,” Prof. Jamal said. Prof. Jamal also mentioned the role of MSME in post-Covid economic recovery and asked the government to support MSME in Indonesia to enter formal sectors, thus, facilitating the small business to achieve permit and bank loans.

    The Coordinating Minister for Economic Affairs, Dr. (HC) Airlangga Hartarto, M.B.A., M.M.T. stated that the Indonesian economy started to enter the recovery. “The signs of economic recovery are observable, reflected from PMI Manufacture above 50 or 50 plus 9 expansive level and investment realization and manufacture in 2020 was higher than previous years,” Dr. Airlangga said. He added that the proportion of consumption to saving continues to increase, and the Composite Stock Price Index (IHSG) and Foreign Exchange have returned to pre-pandemic level.

    Several international institutions, such as the World Bank, have predicted that economic growth in 2021 will reach 4.4% – 5.1% and in 2022 between 4.8% – 6.0%. This projection is in line with the government target in 4.5% – 5.3% level, supported by the mass vaccination program, national economic recovery program, and implementation of Law (UU) on Cipta Kerja (Job Creation) and Covid-19 handling. The government will take various efforts to reduce the pandemic impact, maintain health and economic condition to improve people’s trust, and increase consumption and investment in 2021.

    The government strategy in this matter is, first, acceleration in vaccination until 10.49 million dosages by 28 March 2021, with the first dosage for 7.25 million people and the second dosage for 3.2 million people. This program will be encouraged to achieve herd community in one year. Besides vaccination, the government applies the limitation for micro-community activities consistently to control the number of new Covid-19 infections by balancing social and economic aspects.

    The second strategy is the commitment to continue pouring funds for Covid-19 handling and national economic recovery in 2021 by allocating IDR 699.43 trillion funds, which increased from IDR 579.78 trillion last year (20%). As a form of commitment to structural reformation, the government has ratified UU Number 11 of 2020 that simplifies, synchronizes, and improves the effectiveness of large and complicated regulations that often hinder new businesses’ investment.

    UU Ciptaker grants business permits that initially licensing-based to risk-based. This reformation will create a more efficient and transparent government service. Dr. Airlangga said that all parties are open to capital investment, and it has protected MSME. The government also increase direct investment that forms sIndonesia’s investment authority. Concluding his material, Dr. Airlangga stated that the government needs collaboration from all stakeholders to implement the new regulation. He also congratulated UNS on the success of this national seminar.