FEB

Blog

  • Tendik FEB UNS Ikuti Pelatihan IT

    Tendik FEB UNS Ikuti Pelatihan IT

    Menjelang akhir tahun 2020, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan Pelatihan Information technology  (IT) bagi Tenaga Kependidikan (Tendik), Rabu 30 Desember 2020 di Ruang Laboratorium Komputer FEB.

    Peserta Pelatihan IT Kelompok 1

    Peserta pelatihan dibagi dalam 3 kelompok yakni dasar, menengah dan lanjutan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Pengelompokan ini dimaksudkan  agar pelatihan dapat berjalan lebih efektif.

    Dalam pelatihan ini, tentor berasal dari internal Tendik FEB UNS  yang memiliki keahlian di bidang IT. Ketiga tentor itu yakni Ngadimin, S.Kom.M.Kom, Ardian Oktobrima Hangga Kusuma, S.Pd dan Gigih Fantriko Tri Wibowo, A.Md.

    Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Manusia, Keuangan dan Logistik FEB UNS, Dr. Djuminah, M.Si, Ak dalam sambutannya mengatakan di era digital seperti saat ini, Tendik sebagai bagian dari sivitas akademika harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan yang serba cepat. Tendik dituntut untuk  selalu belajar dan mengasah ilmunya, terutama kemampuan  IT agar dapat memberikan pelayanan yang prima, cepat dan tepat.

    Peserta Pelatihan IT Kelompok 2

    Dr. Djuminah berharap usai pelatihan ini,  Tendik mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diajarkan para tentor di unit kerjanya masing-masing. Dengan keterbatasan waktu pelatihan yang hanya digelar sehari, para peserta dapat menanyakan kembali kepada para tentor apabila masih ada yang belum paham usai pelatihan.

    “Terimakasih saya ucapkan kepada para tentor, para peserta yang berperan aktif hingga terlaksananya pelatihan ini. Pelatihan untuk pengembangan SDM ini akan rutin dilaksanakan fakultas setiap tahunnya dengan menyesuaikan bidang kerja Tendik. Ke depan, pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan akan dikemas kembali agar semakin baik”  jelasnya.

    Peserta Pelatihan IT Kelompok 3

    Selama pelatihan, peserta sangat antusias mengikuti paparan materi dari para tentor. Peserta juga melakukan praktik langsung dengan soal-soal yang diberikan para tentor.

    Ditemui usai pelatihan, Ngadimin, salah satu tentor yang mengajar di kelompok 2 berharap pelatihan-pelatihan seperti ini lebih sering diselenggarakan dan dengan waktu yang lebih lama,  2 hingga 3 hari agar peserta lebih mudah menyerap ilmu yang disampaikan. Sebelum membentuk kelompok pelatihan, ada baiknya peserta diberi kuesioner untuk  dapat mengukur kemampuan dari masing-masing peserta.  (Humas)

  • Academic Staff of FEB UNS Joined IT Training

    Academic Staff of FEB UNS Joined IT Training

    Nearing the end of 2020, the Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) held a Training for Information Technology (IT) for academic staff on Wednesday (30/12/2020) in FEB Computer Room. The participants were divided into three groups, basic, medium, and expert, according to staff’s skills. This category aims to achieve practical training.

    In this training, the tutor came from FEB UNS academic staff who have skills in IT. The tutors are Ngadimin, S.Kom., M.Kom, Ardian Oktobrima Hangga Kusuma, S.Pd, and Gigih Fantriko Tri Wibowo, A.Md.

    Vice-Dean for Human Resources, Finance, and Logistic FEB UNS, Dr. Djuminah, M.Si, Ak in her remark, stated that in the digital era, academic staff as a part of the academic community should be able to adapt to the rapid changes. Academic staff is demanded to always learn and hone their knowledge, especially their IT skills, to provide excellent, fast, and precise services.

    Dr. Djuminah hopes that after this training, academic staff can apply the skills they learned in their unit. With the limited time, the training was only held a day, but participants can follow up the training with all the tutors. “I conveyed my thanks to all tutors and participants who actively participate in this training. This Human Resource development training will be held routinely by the faculty annually by adjusting the training with academic staff field of work. The training will be repackaged to get better,” she stated.

    During the training, the participants were enthusiastic about following the material delivered by the tutors. Participants also performed direct practice through the questions provided by the tutor. In an interview after the training, Ngadimin, as one of the tutors, hopes that this kind of training can be held more often on a more extended period, 2 or 3 days, so that participants have more time to absorb the shared knowledge. Before forming the training groups, it will be better if participants were asked to fill a questionnaire to assess their skills. (Humas)

  • Undang Praktisi,  Prodi MM Gelar Diskusi Perbankan Pemulihan Ekonomi Di Tengah Pandemi

    Undang Praktisi,  Prodi MM Gelar Diskusi Perbankan Pemulihan Ekonomi Di Tengah Pandemi

    Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) adakan Diskusi Perbankan dan Pemulihan Ekonomi Ditengah Pandemi dengan narasumber Prof. Rofikoh Rokhim, SE, SIP, DEA, Ph. D., Kamis, 3 Desember 2020.

    Dalam presentasinya, Prof. Rofikoh, Dosen FEB Universitas Indonesia yang juga sebagai Komisaris Independen BRI mengatakan dengan adanya Pandemi Covid-19, perbankan menjadi sektor yang juga terpengaruh karena disaat industri berhenti otomatis bank tidak ada pendapatan.

    “Dengan pandemi Covid-19, perbankan termasuk yang terpengaruh. Bank akan melakukan restruksturisasi, meminta penundaan, keringanan bunga,  perpanjangan waktu dan seterusnya.  Kendati demikian,  industri perbankan kita masih positif, wajar dan  sehat” katanya.

    Selanjutnya disampaikannya potret Bank Buku 4 yaitu bank dengan modal paling tinggi dibanding Bank Buku lainnya dengan modal intinya Rp 30 triliun. Per September 2020, Bank Buku 4 assetnya bertambah 14,2%, LOAN meningkat 4,8%, deposit meningkat 19.3 %, NPL  meningkat 3,14 %, dan net profit mengalami penurunan,  -30,2%.

    Bank Buku 2 dan 4 likuiditasnya melimpah, bank tidak kekurangan likuiditas kecuali bank-bank kecil, Bank Buku 1 dan 3. Inilah yang menjadi “pe-er” pemerintah, berdasarkan hasil wawancara meskipun masyarakat mendapatkan bantuan ternyata banyak yang tidak dibelanjakan, namun disimpan di bank untuk berjaga-jaga karena pandemi belum tahu hingga kapan selesainya, sementara untuk keseharian masih ada dana.

    Untuk hal ini, jika ada stimulus baru lagi,   Kementerian Keuangan sudah berencana menerapkan bantuan kemungkinan wujudnya bukan transfer uang tapi barang atau voucher agar masyarakat membeli barang sehingga ekonomi berputar terus. Jika suasana sudah aman, subsidinya pada perjalanan, restoran, bis, harga pesawatnya dan seterusnya.

    Potret perbankan dari sisi Net Interest Margin (NIM) terjadi  penurunan, sebagian besar disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga dan peningkatan biaya provisi, termasuk biaya investasi digitalisasi perbankan. Indonesia, sebelumnya memiliki NIM paling tinggi di dunia, dengan Covid ini terjadi penyesuaian-penyesuaian.

    Lebih lanjut,  biaya operasional semua bank mengalami peningkatan.  Beban operasional industri perbankan terus meningkat karena adanya biaya pencadangan untuk mengantisipasi penurunan kualitas kredit.

    Banyak dukungan pemerintah untuk menanggulangi permasalahan karena Covid-19, begitu Presiden mengumumkam kan adanya Covid, segera direspon oleh OJK mengeluarkan POJK No 11/2020 tentang restrukturisasi bagi UMKM maupun kredit lainnya, lalu muncul Perppu, Permenko, PMK dan PP terkait Covid agar ekonomi jangan terperosok seperti krisis yang terjadi di  1998, minus 13.

    Otoritas Jasa Keuangan akhirnya memperpanjang relaksasi dengan dikeluarkan POJK no  11/POJK.03/2020,  restrukturisasi diperpajang dari semula sampai pada 31 Maret 2021 menjadi 31 Maret 2022, karena pemulihan ekonomi baru tahun depan. Total yang direlaksasi Rp 932,4 triliun kredit untuk 7,53 juta debitur yang menikmati, berlaku bagi Bank Umum Konvesional, Bank Umum Syariah, Unit Syariah, Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah.

    “Bank harus menerapkan manajemen risiko yang baik dalam penerapan stimulus,memastikan adanya kapasitas modal dan likuiditas. Prinsip kehatian-hatian, karena uang negara. Jangan sampai keliru diberikan kepada yang tidak berhak menerimanya” tegasnya.

    Kepada peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa, Prof Rofikoh berpesan agar mahasiswa mengambil peran di masa pandemi, mengambil peluang dengan melakukan riset-riset penelitian, yang selain bermanfaat bagi studinya, juga bermanfaat bagi masyarakat.

    “Banyak sekali ide riset yang bisa dikerjakan mulai dari dampak covid terhadap performa perbankan, tidak hanya keuangan, termasuk bagaimana perbankan menjaga juga resiko, baik resiko pasar atau resiko operasional. Bisa juga yang terkait dengan pencadangan, apakah bank yang pencadangannya semakin besar, apakah semakin kuat atau sebaliknya dan banyak lagi ide lain.

    Banyak jurnal yang menawarkan publikasi yang kaitannya dengan permasalahan Covid, bahkan tidak sulit untuk masuk di jurnal Q1 dan Q2.  (Humas)

  • Pimpinan FEB dan FH UNS Ikuti Sosialisasi 8 Indikator Kinerja Utama

    Pimpinan FEB dan FH UNS Ikuti Sosialisasi 8 Indikator Kinerja Utama

    Pimpinan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret  UNS menghadiri undangan Roadshow Rektor dengan agenda Sosialisasi 8 Indikator Kinerja Utama (IKU)  Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH) UNS yang diselenggarakan di Aula Fakultas Hukum, Senin 21 Desember 2020.

    Rektor di awal roadshow menyampaikan sejak tanggal 6 Oktober 2020 UNS resmi menjadi perguruan tinggi berstatus PTNBH. Setelah jadi PTNBH, ada perubahan struktur dari sebelumnya tapi substansinya tidak banyak berubah.

    Dengan status PTNBH ini, Rektor mengajak semua elemen di UNS untuk memacu pencapaian IKU sebagai indikator peningkatan kualitas kinerja. Pada IKU pertama, persentase lulusan S1 dan Program Diploma yang berhasil mendapat pekerjaan, melanjutkan studi atau wiraswasta dengan penghasilan yang cukup. Indikator ini penting, kita tidak sekedar meluluskan mahasiswa saja. Targetnya 90% dan dapat dibagi pada lulusan yang melanjutkan  studi, mendapat pekerjaan atau wiraswasta.

    IKU yang kedua,  persentase lulusan S1 dan D4/D3/D2 yang menghabiskan paling tidak 20 SKS di luar kampus atau meraih prestasi minimal tingkat nasional. Untuk hal ini, ditargetkan ada 30% yang dibagi ke prodi dan fakultas.

    IKU yang ketiga, persentase dosen yang berkegiatan tri dharma di kampus lain di QS 100 (berdasarkan ilmu), bekerja sebagai praktisi di dunia industri atau membina mahasiswa yang berprestasi paling rendah tingkat nasional  dalam 5 (lima) tahun terakhir. Prosentase diharapkan mencapai 55%.

    IKU yang keempat, persentase dosen tetap berkualifikasi akademik S3, memiliki sertifikasi kompetensi/profesi yang diakui oleh industri atau dunia kerja, atau berasal dari kalangan praktisi profesional, dunia industri dan dunia kerja. Dan IKU kelima, jumlah keluaran penelitian yang berhasil mendapat rekognisi internasional atau diterapkan oleh masyarakat per jumlah dosen.

    Adapun di IKU ke enam, persentase Program Studi S1 dan D4/D3/D2 yang melaksanakan  kerjasama dengan mitra.  Untuk hal ini, harapannya MOU yang sudah ada dibreakdown ke prodi-prodi.

    IKU ke tujuh, persentase program studi S1 dan diploma yang menggunakan metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) atau pembelajaran kelompok berbasis projek (team based project) sebagai sebagian bobot evaluasi. Serta  IKU ke 8,  persentase Prodi S1 dan Diploma yang memiliki akreditasi atau sertifikasi internasional diakui pemerintah.

    Lebih lanjut dikatakan, berbeda saat UNS masih berstatus PTN Badan Layanan Umum (BLU) yang penekanannya pada kompetisi menengah, maka di PTNBH kompetisinya tingkat tinggi, internasional. Seluruh elemen di UNS harus bekerja keras dan berstrategi dalam pencapaian ke delapan IKU yang disyaratkan.

    Rektor juga menambahkan, ada beberapa hal yang mewarnai di tahun 2021. Salah satunya, yang berkaitan dengan eselonisasi. Eselon 3 dan 4 sudah tidak ada karena seluruh pegawai tenaga kependidikan yang saat ini menjabat di eselon 3 dan 4 dialihkan pada jabatan fungsional tertentu dengan diberikan tugas tambahan.

    “Karena PTNBH harus ramping, seluruh pejabat eselon 3 dan 4 kita ubah menjadi tenaga fungsional dengan tambahan tugas sebagai koordinator atau sub koordinator. Sub koordinator terbagi menjadi akademik dan non akademik” ungkapnya.

    Mulai tahun 2021, Rektor juga akan memberikan beberapa insentif kesejahteraan kepada karyawan. (Humas)

  • PDIE FEB UNS Gelar Kuliah Tamu Bersama Prof. Meryem Duygun

    PDIE FEB UNS Gelar Kuliah Tamu Bersama Prof. Meryem Duygun

    Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menyelenggarakan Webinar Digitalizing Finance with Technology: Future Trends and Research pada, Senin, 14 Desember 2020. Webinar dengan narasumber Prof. Meryem Duygun, Aviva Chair Risk in Insurance, Nottingham University Business School, UK tersebut dapat terselenggara dengan dukungan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) Fintech dan Banking.

    Dalam pidato pembukaan, Kepala Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) FEB UNS Prof. Rahmawati mengungkapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terlaksananya webinar tersebut.

    “Terima kasih atas kesediaan Prof. Meryem untuk berbagi ilmu dalam kuliah tamu ini dengan judul Digitalizing Finance with Technology: Future Trends and Research.Terima kasih juga kepada peserta atas antusiasme pada acara ini yang tidak hanya berasal dari PDIE FEB UNS, tetapi juga dari universitas internasional contohnya Malaysia,” ungkapnya.

    Prof. Rahmawati menyatakan bahwa perkembangan teknologi telah mendorong munculnya banyak inovasi di bidang keuangan, sehingga landscape industri finansial telah berubah. Inovasi ini mencakup Peer-to-Peer (P2P) Lending, Digital payment, Crypto-currency, InsurTech, Robo Advisor, dan lain sebagainya. Prof. Meryem Duygun yang merupakan President of IFABS (International Finance and Banking Society) serta editor di berbagai jurnal internasional bereputasi, akan menjadi narasumber yang tepat bagi peserta.

    Terlebih lagi bidang keilmuan Prof. Meryem sangat cocok dengan tujuan dari PDIE untuk mempersiapkan mahasiswanya dalam mengambil/memilih topik riset disertasi. “Kami berharap forum ini akan bermanfaat bagi para peserta dan terima kasih telah berparsipasi dalam kuliah tamu ini,” tutup Prof. Rahmawati.

    Materi Prof. Meryem diawali dengan contoh kondisi saat ini, bagaimana perusahaan asuransi menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mengumpulkan data-data pribadi pelanggan untuk memberikan layanan yang tepat. Hal ini dimungkinkan karena pengguna telah menyetujui bahwa perusahaan asuransi dapat mengakses data yang tersimpan dalam alat elektronik sebagai syarat pemberian premi asuransi yang lebih rendah. Lebih dari 75 persen eksekutif di bidang asuransi percaya bahwa kecerdasan buatan dapat menyebabkan revolusi di bidang industri asuransi.

    “Innovasi melalui teknologi telah menjadi pendorong utama dalam perubahan di sektor keuangan. Akhir-akhir ini, inovasi tersebut terkait dengan perkembangan teknologi yang seringkali dikenal sebagai FinTech, yang merupakan inovasi teknologi yang bertujuan untuk menurunkan biaya transaksi dan mempercepat proses penyediaan jasa,” jelas Prof. Meryem.

    Penggunaan inovasi di bidang asuransi memiliki manfaat dalam meningkatkan efisiensi dan fungsi. Inovasi ini mencakup berbagai hal seperti software, applikasi, startup, produk, dan jasa. Sehingga InsurTech memiliki kebijakan yang sangat terspesialiasi dan menggunakan basis data yang berasal dari peralatan yang terhubung ke internet, sehingga memungkinkan perusahaan untuk menentukan harga premi asuransi yang dinamis.

    Area utama dalam inovasi di bidang asuransi antara lain, model intermediasi dan distribusi, sharing ekonomi dan asuransi, robo advisor dan kecerdasan buatan (AI), serta data aggregation dan analytics. Beberapa contoh perusahaan InsurTech antara lain BIMA, Friendsurance, InsPeer.

    Kondisi asuransi di Indonesia masih rendah karena adanya hambatan seperti literasi asuransi yang rendah dan ketidakpercayaan terhadap insitusi jasa keuangan. Meskipun begitu tetap terdapat kesempatan bagi InsurTech untuk berkembang di Indonesia mengingat besarnya jumlah populasi di Indonesia, komunitas kelas menengah yang terus berkembang, dan berkembangnya ekonomi internet.

    Selanjutnya Prof. Meryem menjelaskan studi-studi yang telah dilakukan di bidang P2P serta riset-riset yang mungkin untuk dilakukan di masa depan terkait InsurTech. Webinar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara Prof. Meryem dengan lebih dari 70 peserta webinar.

    (Aulia/Humas)

  • PDIE FEB UNS Held Visiting Scholar Lecture with Prof. Meryem Duygun

    PDIE FEB UNS Held Visiting Scholar Lecture with Prof. Meryem Duygun

    The Doctoral Program in Economic (PDIE) Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) held Webinar Digitalizing Finance with Technology: Future Trends and Research, Monday (14/12/2020). The webinar that invited Prof. Meryem Duygun, Aviva Chair Risk in Insurance, Nottingham University Business School, UK, was held in collaboration with The Center for Science and Technology Pusat of Higher Education (PUI PT) Fintech and Banking.

    The event was opened by the Director of PDIE FEB UNS, Prof. Rahmawati, who delivered her gratitude to all parties who have contributed to managing the webinar and Prof. Meryem for the lecture. Prof. Rahma stated that technology development had encouraged innovations in finance that changes the financial industry landscape. These innovations are Peer-to-Peer (P2P) Lending, Digital payment, Crypto-currency, InsurTech, Robo Advisor, and many other innovations. Prof. Meryem Duygun, as the President of International Finance and Banking Society (IFABS) and editor of many reputable international journals, supports PDIE goals to prepare its students to select the dissertation topic.

    “We hope that this forum will be beneficial for all participants and thank you for participating in this lecture,” Prof. Rahmawati stated.

    Prof. Meryem opened her material with examples of current conditions in which insurance companies employ Artificial Intelligence (AI) to collect their customers’ personal data to provide good services. It is possible because customers have agreed that their insurance company can access the data stored in their electronic devices as a term to get lower insurance premium. Additionally, 75% of the executive in the insurance field believe that artificial intelligence will revolutionize the insurance industry.

    “Technology innovation has become the main driver of changes in the financial sector. This innovation is often known as FinTech,” Prof. Meryem explained.

     

    She added that the use of innovation in the insurance industry would improve efficiency and functionality. This innovation can come in various forms such as software, application, startup, product, and service. Therefore, InsurTech has highly specialized policies and uses databases derived from equipment connected to the internet, enabling them to determine dynamic insurance premiums.

    “The main area in the insurance field’s innovation is the intermediation and distribution model, sharing economy and insurance, robo-advisor and artificial intelligence (AI), and data aggregation and analytics. Some examples of Insurance Technology (InsurTech) companies are BIMA, Friendsurance, and InsPeer,” she added.

    Insurance level in Indonesia, according to Prof. Meryem, is low because of various factors such as low insurance literacy and distrust toward the financial institution. However, there are still opportunities for InsurTech to grow in Indonesia, considering Indonesia’s population size, growing middle class, and the development of the internet economy. She concluded the material with studies on P2P and InsurTech. The webinar was closed with a question and answer session between Prof. Meryem and more than 70 webinar participants. (Aulia/Humas)

  • HMJ Manajemen FEB UNS Gelar Aksi Sosial

    HMJ Manajemen FEB UNS Gelar Aksi Sosial

    Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar Management Care (M-Care) aksi bakti sosial di Panti Jati Adulam Ministry, Pasar Kliwon, Solo pada Sabtu, 5 Desember 2020.

    Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan HMJ Manajemen dengan target masyarakat yang kurang mampu. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kepekaan sosial, kepedulian dan rasa cinta kasih serta saling memiliki antar sesama.

    Aktifitas M-Care diawali dengan menghimpun bantuan dari masyarakat yang mampu dalam bentuk apapun baik uang tunai maupun barang. Untuk selanjutnya, bantuan tersebut disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

    Penghuni panti yang sebagian besar memiliki gangguan mental dan beberapa telah lanjut usia

    M-Care mengajak kepada siapa saja untuk turut serta mengulurkan tangan memberikan bantuan.  Alhamdulillah, sekitar dua pekan kami berhasil menghimpun bantuan dari para donasi bahkan melebihi target yang ditentukan, salah satunya adalah dari komunitas motor FEB UNS, EMC, terimakasih telah mensupport kami” terang Nanda Febrian Adyningsih, Ketua Panitia kegiatan.

    Untuk tahun 2020 ini,  Panti Jati Adulam Ministry menjadi tujuan dari kegiatan M-Care.   Di panti itu, ada sekitar 70 orang yang mengalami gangguan mental dan  10 orang yang lanjut usia.

    Bantuan dalam wujud uang tunai, sembako dan peralatan kebersihan secara simbolis diberikan kepada pengurus panti untuk dapat dimanfaatkan bagi seluruh penghuni panti. Usai menyerahkan bantuan, para mahasiswa juga membantu pengurus menyiapkan makan sore untuk seluruh penghuni panti.  Pengurus panti sangat senang dan berterimakasih atas bantuan yang diberikan para mahasiswa FEB tersebut dan pastinya bantuan itu sangat  bermanfaat.

    Suasana di Sabtu sore itu menjadi momen yang penuh haru membahagiakan bagi penghuni panti.  Anak-anak muda yang memiliki empati berbagi telah hadir ditengah-tengah mereka. (Humas FEB)

     

     

     

     

  • HMJ Management FEB UNS Held Social Care

    HMJ Management FEB UNS Held Social Care

    Student Association of Undergraduate Program in Management (HMJ Manajemen) Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta held Management Care (M-Care), a social service program, in Panti Jati Adulam Ministry, Pasar Kliwon, Solo.

    The person in charge of this program, Nanda Febrian Adyningsih stated that this program is a routine agenda of HMJ Manajemen that targets financially disadvantaged people. This program aims to develop social sensitivity, care, and a sense of love and belonging to each other. M-Care started with fundraising from the financially advantaged community in various forms, both cash and goods. The collected money and goods were then distributed to the disadvantaged community.

    “M-Care invites people to participate and lend a hand to help others. Alhamdulillah, in around two weeks, we succeed in raising funds from donors that exceed our target. This includes funds from FEB UNS Motorbike Club, EMC, and we are thankful for the support. And on 5 December 2020, we had conducted the Social Service,” Nanda explained, Thursday (17/12/2020).

    For 2020, Panti Jati Adulam Ministry becomes the target of the M-Care event because the institution has 70 residents with mental disorders and 10 elderly people. The relief in the form of cash, staple foods, and cleaning tools was handed symbolically to the management. After the ceremony, the students assisted the administration in preparing afternoon tea for all residents. The management conveyed their gratitude and was glad to receive such assistance. (Humas)

  • Dekan FEB UNS Ajak Pemerintah Kabupaten Grobogan Gandeng Generasi Milenial untuk Pengembangan Daerah

    Dekan FEB UNS Ajak Pemerintah Kabupaten Grobogan Gandeng Generasi Milenial untuk Pengembangan Daerah

    Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Pertanian, Pariwisata dan Industri Kreatif menjadi topik yang diangkat oleh Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com, Hons, Ph. D, Ak, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret pada Webinar yang diselenggarakan Litbang Bappeda Kabupaten Grobogan, Senin 14 Desember 2020.

    Di awal paparannya Prof. Djoko mengatakan Kabupaten Grobogan dengan jumlah penduduk 1.473.431 orang dan memiliki banyak UMKM serta kawasan yang sangat indah merupakan aset yang berharga, terlebih jika mampu dikembangkan secara optimal. Terutama di masa pandemi, yang harus mampu beradaptasi dengan berbagai kreasi digital.

    “Banyak potensi aset di Grobogan diantaranya Aliran Kali Lusi, Api Abadi Mrapen, Bledug Kuwu, Hutan Jati, Kereta Api, Bukit Kendeng, Gua Macan, hamparan lahan pertanian dan juga kuliner masih perlu dioptimalkan pemanfaatannya untuk lebih mensejahterakan masyarakat dan juga mengangkat nama Grobogan” katanya.

    Hal mendasar yang harus dilakukan pemerintah Kabupaten Grobogan untuk beradaptasi adalah dengan mengelola aset daerah menjadi lebih produktif, mengubah mental birokratis  menjadi jiwa enterpreneur yang berani berfikir dan bertindak kreatif, inovatif dan visioner, penerapan new public management serta memiliki leadership yang kuat.

    Lebih lanjut dikatakan,  pilih leading sector yang bisa mengangkat sektor lainnya, apakah wisata agro atau wisata budaya. Ekonomi kreatif mengikuti leading sector yang dipilih. Paling memungkinkan berdasar kawasan, misalnya Pulokulon yang berkarakteristik pertanian. Kawasan ini bisa didorong memblanded dengan wisata dan diblow-up dengan media digital.

    “Banyak potensi alam di Grobogan yang perlu digarap dengan lebih baik. Tempat-tempat wisata yang menarik bisa dikelola dan dikolaborasikan dengan kegiatan yang menampilkan budaya lokal. Kemudian di setiap event harus diviralkan melalui media sosial untuk menarik pengunjung” tegas Prof. Djoko.

    Pengelolaan aset wisata yang lebih kreatif dan inovatif akan sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar secara keseluruhan. Kegiatan ekonomi pun akan bergulir terus dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat  Grobogan.

    Berulang-ulang Prof. Djoko mengajak kepada peserta webinar untuk berani berfikir out of the box,  harus keluar dari rutinitas, harus memiliki pemikiran yang lebih  kreatif, inovatif dan visioner dan juga perlu menggandeng para anak muda generasi milenial yang memahami teknologi untuk lebih mengangkat nama Grobogan melalui media-media sosial.

    Di akhir paparannya, Prof. Djoko menyampaikan beberapa strategi pengembangan ekonomi kreatif yang bisa dilakukan di Grobogan. Diantaranya dengan mengadakan lomba desa wisata tingkat kecamatan dan kabupaten, berikan reward untuk pemenang lomba desa wisata, viralkan dan gunakan medsos. Dalam hal ini ASN bisa diajak untuk bergerak. Siapkan juga semua keperluan seperti kuliner, souvenir dan sebagainya.

    Selain itu, strategi yang dapat ditempuh untuk pengembangan ekonomi kreatif bisa dilakukan dengan kunjungan kelembagaan secara bergiliran dan selalu kreatif membuat agenda kegiatan, hadirkan pejabat pusat dan orang berpengaruh dan minta dukungannya, ajak komunitas Grobogan yang di luar kota terutama yang sukses untuk berkumpul di desa wisata . (Humas FEB)

     

     

     

  • FEB UNS Dean: Grobogan Government Should Involve Millennial Generation

    FEB UNS Dean: Grobogan Government Should Involve Millennial Generation

    The Dean of Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com, Hons, Ph. D, Ak., encourage the Regional Government (Pemkab) of Grobogan to involve the millennials in regional development. This was mentioned by Prof. Djoko while serving as a speaker in a Webinar organized by the Research and Development Department of the Development Planning Agency at Sub-National Level of Grobongan District regarding ‘Local Economy Development Based on Agriculture, Tourism and Creative Industries’, Monday (14/12/2020).

    In his presentation, Prof. Djoko states that Grobogan District has valuable assets, with a total of 1,473,431 population and plenty of MSMEs, as well as a beautiful environment. This asset will be more valuable when developed optimally. Especially during the ongoing pandemic, where the economic sector needs various digital creations. “There is substantial asset’s potential in Grobogan District, such as Lusi River, Timeless Fire in Mrapen, Bledug Kuwu, Teak Forest, Train, Kendeng Hill, Gua Macan, agricultural lands, and culinary tour. All of these potential need to be developed for the community welfare and popularize Grobogan District’s reputation,” Prof. Djoko explains.

    Additionally, a fundamental step that is needed by Pemkab Grobogan to adapt to the current condition is by managing regional assets to be more productive. Further, the bureaucratic mindset needs to be transformed into an entrepreneurs’ spirit with more courage to think and act creatively, innovatively, and visionary, to implement new public management and strong leadership. According to him, the leading sector can encourage other sectors, either in agro-tourism or cultural tourism. The creative economy follows the chosen leading sector. The most probable region is the Pulokulon with its agricultural characteristic. This region can be driven with appropriate branding and digital media coverage.

    “There are many natural potentials in Grobogan that need better management. Interesting tourism attraction can be managed and combined with activities showing local culture. Furthermore, each event must be broadcasted through social media,” Prof. Djoko states.

    A more creative and innovative regional tourism assets management can be useful for the local community. Economic activities can continue and improve Grobogan’s community welfare. Prof. Djoko encourages the participants to think out of the box, to think of something differently, creatively, innovatively, and visionary. The young generation’s involvement, especially those who understand the current technology, is crucial to promote Grobogan’s reputation through social media. In concluding his presentation, Prof. Djoko shares several strategies in developing the creative economy in Grobogan District. Among others are organizing tourism village competitions at sub-district and district level, give rewards to winners of tourism village competitions, promote them using social media. These activities can involve the Public Servant at the District level. Another supporting aspect such as culinary tourism, souvenirs, etc., should be prepared too. (Humas)