FEB

Kategori: fakultas

  • Nilai-Nilai Pancasila Harus Menjadi Dasar Perilaku Masyarakat

    Nilai-Nilai Pancasila Harus Menjadi Dasar Perilaku Masyarakat

    Kegiatan untuk memperdalam pemahaman pancasila sangat penting, khususnya bagi para mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa. Terlebih di era 4.0,  harus tetap teguh menyandarkan diri pada nilai-nilai luhur Pancasila sebagai fondasi dalam kehidupan berbangsa, diantaranya, semangat untuk guyup rukun dan bergotong royong.

    Hal itu disampaikan Prof. Djoko Suhardjanto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) dalam Forum Aksi Pendekar (Pendidikan Karakter) Pancasila yang digelar Program Studi S1 Akuntansi FEB UNS bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI),  Jumat, 30 Agustus 2019 di Aula FEB UNS .

    Pernyataan senada, juga disampaikan Wiryatna, Ph.D, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kemenkominfo RI.  Perilaku aktif masyarakat dalam penerapan nilai nilai-nilai sangat penting, di berbagai bidang, baik sosial maupun ekonomi, untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan unggul.

    “Tagline yang didengungkan Presiden RI, yakni Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Indonesia Maju, dapat diartikan dalam konteks SDM  yang mumpuni,  yang memiliki karakter pancasila, dan memiliki  kompetensi yang tinggi menuju Indonesia yang  maju di 2024 mendatang “ jelas Wiryatna .

    Di kesempatan yang sama,  pembicara lain, Sudarsana, PGD in Pop&Dev, menyatakan bahwa  urgensi pembangunan SDM menjadi faktor kunci dalam memenangkan persaingan global, yang selayaknya mendapatkan dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan.

    “SDM yang unggul dan berkualitas adalah yang memiliki karakter yang ulet, tekun, kreatif-inovatif, jujur dan berdedikasi” ungkapnya.

  • UNS Kukuhkan Wimboh Santoso sebagai Guru Besar

    UNS Kukuhkan Wimboh Santoso sebagai Guru Besar

    UNS mengukuhkan Wimboh Santoso sebagai Guru Besar Dosen Tidak Tetap Bidang Ilmu Manajemen Risiko, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS, di Auditorium GPH Haryo Mataram UNS Surakarta, Senin, 26/8/2019.

    Dalam Pengukuhan yang digelar  pada Sidang Senat Terbuka UNS dan dihadiri sejumlah pimpinan kementerian atau lembaga, pimpinan pemerintah daerah, dan para pimpinan jasa keuangan, Wimboh menyampaikan pidatonya yang berjudul Revolusi Digital: ”New Paradigm” di Bidang Ekonomi dan Keuangan.

    Dikatakannya bahwa  budaya digital telah merevolusi gaya hidup dan perilaku masyarakat di berbagai bidang, seperti perdagangan, transportasi, pendidikan dan kedokteran.

    Gaya hidup berbelanja dan pola konsumsi masyarakat saat ini telah mulai mengalami perubahan dengan maraknya  e-commerce. Banyak pusat perbelanjaan yang mulai sepi pengunjung dan beralih fungsi sebagai tempat meeting point, bercengkerama dengan keluarga dan handai tolan.

    Perubahan di dunia pendidikan juga sudah terlihat. Banyak program-program pendidikan yang ditawarkan secara online dengan hadirnya e-learning dan e-library. Proses belajar mengajar semakin mudah karena dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja.Dan jasa layanan pendidikan akan menjadi murah karena tidak memerlukan infrastruktur gedung yang besar.

    Wimboh juga mengatakan bahwa adanya revolusi digital menjadi tantangan untuk selalu berinovasi, meningkatkan daya saing ekonomi dan terbukanya akses keuangan masyarakat.

    “Disisi lain, ada potensi risiko yang dapat mendisrupsi ekonomi dan stabilitas sektor jasa keuangan jika tidak cepat meresponnya” Jelas Wimboh,  alumni FEB UNS tahun 1983 yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan periode 2017-2022

    Teori ekonomi dan pendekatan pengaturan dan  pengawasan industri jasa keuangan menjadi kurang relevan sehingga membutuhkan pendekatan baru yang lebih dinamis, kontekstual dan mengadopsi teknologi terkini.

    Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH, M.Hum,  Rektor UNS  dalam sambutannya menyampaikan,  UNS yang saat ini berada di kluster satu universitas terbaik di Indonesia sangat membutuhkan keahlian beliau.

    “Selain pada tataran konsep teori juga beliau sudah matang  pada level praktis, sejak berkarir di Bank Indonesia hingga saat ini sebagai Ketua Dewan Komisioner  OJK. Sehingga hal ini akan mewarnai riset dan publikasi UNS kedepan” jelasnya

    UNS akan sangat terbantu dengan keahlian beliau dalam menghadapi era industri 4.0 dimana telah terjadi disrupsi pada pengelolaan dan penyelenggaraan Perguruan tinggi. Utamanya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

  • Perlancar Studi Mahasiswa,  Prodi EP Bangun Kerjasama dengan Orang Tua

    Perlancar Studi Mahasiswa, Prodi EP Bangun Kerjasama dengan Orang Tua

    Berbagai capaian keunggulan telah diraih UNS, dan berita menggembirakan yang baru saja diumumkan Kemenristekdikti adalah pemeringkatan UNS ke klaster 1 perguruan tinggi (PT) terbaik di Indonesia di antara 4.000-an PT.

    Demikian juga untuk Program Studi Ekonomi Pembangunan (Prodi EP) FEB yang telah tersertifikasi oleh lembaga internasional, AUN QA. Para alumni FEB pun banyak yang berhasil dalam meniti karirnya.

    Hal itu disampaikan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB UNS, Dr.Mugi Harsono dalam sambutannya di acara Forum Silaturahmi dengan Wali Mahasiswa Angkatan 2019, yang digelar Prodi EP, Rabu 21/8/2019 di Aula Gedung 5 FEB.

    Di kesempatan yang sama, Kepala Prodi EP, Bhimo Rizky Samudro, Ph.D menginformasikan kepada orang tua mahasiswa, beberapa hal terkait dengan prodi EP, diantaranya tentang pengetahuan atau ilmu yang akan didapat mahasiswa selama studi, proses penilaian, dukungan pengembangan karir, serta informasi peluang kerja ke depan.

    Untuk memperlancar studi dan keberhasilan mahasiswa, pihak kampus tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kerjasama yang dibangun antara orang tua, mahasiswa dan pengelola prodi.

    Kaprodi EP juga tidak menginginkan ada kejadian mahasiswa yang secara administrasi keuangan lancar, meminta biaya kuliah terus ke orang tua, tetapi ternyata tidak aktif mengikuti perkuliahan.

    “Kami memberi kemudahan bagi orang tua/wali mahasiswa untuk mengetahui dan memantau perkembangan studi putra-putrinya, dan bisa mengakses langsung melalui sistem akademik, nanti akan kami simulasikan cara mengaksesnya ” jelasnya.

    Para orang tua juga diharapkan untuk tidak segan-segan memberi masukan dan kritikan yang membangun bagi kemajuan Prodi EP.

    Forum itu tampak hidup dengan banyaknya  orang tua mahasiswa yang memanfaatkan kesempatan yang baik itu untuk  aktif berdiskusi.

    Acara yang ditutup dengan foto bersama.

    (Humas FEB)

  • Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila, Mendorong Kualitas Ekonomi dan Sumber Daya Manusia yang Unggul

    Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila, Mendorong Kualitas Ekonomi dan Sumber Daya Manusia yang Unggul

     

    Pancasila sebagai ideologi bangsa menjadi pagar pengamanan bangsa dari pengaruh negatif dari luar. Dalam konteks ekonomi, nilai Pancasila menjadi platform pembangunan manusia untuk meningkatkan daya saing bangsa.

    Ekonomi kerakyatan diharapkan menjadi tulang punggung kesejahteraan masyarakat dan melalui pemberdayaan masyarakat, kita bisa unggul dalam menghadapi tantangan global khususnya di revolusi industri 4.0.

    Hal itu disampaikan Prof. Djoko Suhardjanto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) dalam sambutannya di Seminar Pancasila sebagai Platform Pembangunan Manusia & Kebudayaan, di Aula Gedung 4 FEB UNS, Senin 19/8/2019.

    Senada dengan pernyataan di atas, Lia Kian, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang menjadi salah satu narasumber seminar menyatakan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa harus kita tanamkan di seluruh gerak dan fikir dalam aktifitas sehari hari, terlebih di dunia pendidikan.

    “Dalam mengejar kualitas ekonomi dan sumber daya manusia yang unggul, ada 5 platform yang harus kita kuasai dan aplikasikan, yaitu moral agama, moral kemanusiaan, moral nasionalisme ekonomi, moral kerakyatan, dan moral keadilan” jelas Kian

    Disisi lain, Bambang Saroso, akademisi FEB UNS, memberikan sorotan kepada dunia pendidikan khususnya yang masih menerapkan teori-teori ekonomi dari luar yang masih kurang relevan dengan nilai-nilai ekonomi pancasila.

    “BPIP diharapkan, selain memberikan pembinaan, juga melakukan pengawasan yang ketat bagi terlaksana pengamalan ideologi Pancasila oleh masyarakat Indonesia, khususnya dalam sisi perekonomian” paparnya.

    Seminar di FEB UNS mengambil tema Membumikan Nilai-Nilai Pancasila dalam Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang diikuti oleh dosen dan mahasiswa baru FEB UNS juga menghadirkan tokoh-tokoh terkenal yang merupakan ikon Pancasila yakni Handaka Vijjananda, pengusaha farmasi dan Livi Zheng, sutradara film.

    Seminar Pancasila  secara serentak digelar di tiga belas fakultas di UNS sebagai upaya menanamkan nilai-nilai Pancasila terutama kepada generasi muda sebagai penerus bangsa.

    (Humas FEB UNS)

  • Pemahaman Halal yang Berkembang di Masyarakat, Pacu Perkembangan Fintech Syariah

    Pemahaman Halal yang Berkembang di Masyarakat, Pacu Perkembangan Fintech Syariah

    Fintech syariah (fintech) telah memberikan beberapa penawaran dalam pinjaman model yang lebih mudah dibandingkan dengan fintech konvensional, layanan pembayaran digital dan layanan keuangan cakupan dengan pencatatan keuangan dan penjelasan serta konsultasi.

    Namun, interaksi masyarakat yang masih rendah, sekitar 29,7%, sarana dan infrakstruktur yang belum menunjang, serta kurangnya pemahaman akad dari pemegang saham dan investor masih menjadi tantangan fintech syariah.

    Hal itu disampaikan Achmad Buchori, Advisor Strategis Committee dan Pusat Riset Otoritas Jasa Keuangan RI dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan FEB UNS bekerja sama dengan Bank Syariah Mandiri, Jumat 9/8/2019.

    Dijelaskannya lagi bahwa fintech syariah akan semakin berkembang dengan pemahaman halal yang berkembang di masyarakat.

    Disisi lain, Erwin Haryono menyoroti, bahwa telah banyak fintech yang mulai menggerogoti bank dan  e-commers yang berjalan seperti Alibaba memiliki alipays, yang baru 4 tahun saja sudah dapat memberikan kredit pada UMKM.

    “Bank harus bertransformasi menjadi digital open banking” tegasnya

    Selain menghadirkan keynote speaker,Achmad Bukhori dan Erwin Haryono (Direktur Eksekutif Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia),  forum ini juga menghadirkan dua pembicara lain yakni Iskandar Zulkarnain (Anggota Badan Pengelola Keuangan Haji RI), , dan Irwan Trinugroho (Akademisi FEB UNS).

     

  • Divisi International Relations FEB Ajak Diskusi Mahasiswa yang Tergabung dalam AIESEC

    Divisi International Relations FEB Ajak Diskusi Mahasiswa yang Tergabung dalam AIESEC

    Sebagian besar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia, masih merasa nyaman untuk menjalankan usaha dan marketingnya secara manual dan tradisional, berbeda dengan yang ada di luar negeri,  lebih kepada kepraktisan. Dan juga untuk  cara bayar pun,   di luar negeri sudah cashless, di Indonesia  masih jarang.

    Hal itu diungkapkan oleh beberapa mahasiswa asing saat Lintang Ayuninggar, dari Divisi International Relations meminta pendapat mereka tentang UMKM dalam diskusi yang digelar Rabu, 24/7/2019 di Aula FEB.

    Tastaftiyan, yang juga dari tim internasionalisasi, menanyakan kepada peserta, apakah betul, ke depan, beberapa penyedia lapangan kerja sudah tidak membutuhkan ijazah, tapi lebih pada kompetensi,  artinya bisa jadi 10 atau 20 tahun lagi ketertarikan mahasiswa untuk belajar ke universitas akan berkurang karena mereka bisa mempelajari apapun via online.

    Secara umum tanggapan mereka adalah tidak menyetujui,  karena walau mungkin beberapa perusahaan sudah tidak mensyaratkan ijazah, tapi saat ini yang menggunakan ijazah sebagai seleksi administratif lebih banyak. Mereka juga berpendapat bahwa universitas bukan hanya tempat untuk mencetak ijazah namun juga tempat mencari pengalaman bagi mahasiswa itu sendiri.

    Diskusi berlangsung dalam suasana  penuh keakraban, dengan 18 mahasiswa asing dari Kanada, Amerika, China, Vietnam,  Maroko, Polandia dan Perancis. Beberapa pembahasan utama selain pengembangan kurikulum internasional dan entrepreneurship, juga tentang student exchange dan double degree.

    Ke delapan belas mahasiswa asing tersebut merupakan tim yang tergabung dalam Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC). Kedatangan mereka ke Solo adalah dalam rangka  projek sosial tahunan mereka yang tergabung dalam Summer Project 2019. Dalam Summer Project kali ini, terdapat empat projek sosial yang akan diselenggarakan, yakni Entrevolution 9.0, Kids n Care 2.0, Eduvaganza 3.0 dan Global Village. Acara ini mulai terselenggara sejak 17 Juni yang lalu dan akan berakhir pada 24 Agustus mendatang.

    Kedatangan mereka di Solo diharapkan mampu membantu pemecahan sosial di masyarakat Solo, terutama terkait variasi dan keberagaman strategi dan alternatif cara bisnis.

     

     

  • Tangkal Radikalisme melalui Pendekatan Budaya

    Tangkal Radikalisme melalui Pendekatan Budaya

    Radikalisme merupakan ideologi, paham, aliran, pikiran atau tindakan yang ingin merubah tatanan sosial masyarakat yang sudah mapan, hal ini bisa positif atau negatif.

    Hal itu disampaikan Prof. Djoko Suhardjanto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) pada Seminar Nasional bertema Upaya Menangkal Radikalisme melalui Pendekatan Budaya, Jumat 27/7/2019.

    Dihadapan lebih dari 300 peserta, Prof.Djoko menyatakan bahwa untuk mencegah radikalisme yang bersifat negatif bisa dilakukan dengan pendekatan budaya.

    “Urip sing urup memayu hayuning bawono, kita hidup itu harus memberikan manfaat kepada yang lain dan jika itu bisa kita lakukan maka radikalisme yang bersifat negatif bisa ditangkal” jelasnya

    Tata kesopanan yang menjadi nilai-nilai budaya luhur perlu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, punya rasa tepo seliro, grapyak, lembah manah, guyub rukun, ewuh pekewuh juga bisa mencairkan yang sifat radikalisme.

    Pendapat senada juga disampaikan oleh Abdul Kharis Almasyhari, Ketua Komisi I DPR RI, banyak permasalahan yang mengemuka ternyata bisa selesai dengan budaya-budaya yang kita miliki.

    “Pada era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, kita dituntut untuk menemukan alternatif solusi melalui budaya. Listrik bisa mati, kalau provider eror komunikasi melalui ponsel bisa berhenti. Namun budaya kentongan dapat menjadi strategi keamanan alternatif dalam kondisi darurat tanpa gangguan provider dan listrik,” jelas Abdul.

    Lebih lanjut dikatakan, jika RT dan RW berfungsi, musyawarah dengan warganya dioptimalkan, pendekatan secara personil, saling kontrol lingkungan sekitar, akan mampu menyelesaikan segala permasalahan di masyarakat, termasuk radikalisme.

    Seminar yang digelar di Aula FEB UNS terlaksana atas kerjasama Komisi I DPR RI, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dan FEB UNS.

    Di malam harinya, FEB gelar pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Warseno Slenk, mengambil lakon Wisanggeni Lair.

    Ke depan, Dekan FEB UNS akan terus menggagendakan event-event budaya di FEB yang digelar pada masa libur perkuliahan.

    Selain untuk “nguri-uri” budaya lokal, mengenalkan kembali kepada para generasi muda yang sudah banyak ditinggalkan, aktifitas ini juga bertujuan untuk menyatukan alumni ,mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan, melalui cara-cara yang cair, kumpul bareng wedangan sehingga hubungan kekeluargaan civitas akademika menjadi semakin erat.

    Sesuai dengan semangat kita bahwa UNS sebagai Benteng Pancasila yang bisa menangkis radikalisme yang bersifat negatif.

  • Grup Riset FEB Beri Pelatihan E-Branding Di Kampung Wisata Kepuhsari

    Grup Riset FEB Beri Pelatihan E-Branding Di Kampung Wisata Kepuhsari

    Era digital ekonomi 4.0 menuntut pelaku bisnis untuk kreatif melakukan marketing online dan E Branding agar bisnisnya semakin berkembang.

    Hal itu diungkapkan Prof.Yunastiti Purwaningsih, MP, ketua Riset Grup (RG) Industrial Economics FEB UNS dihadapan  peserta pelatihan E-Branding produk wayang dan desa wisata Kampung Wayang Kepuhsari , Minggu, 14/7/2019.

    Peserta yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tetuko merupakan pengrajin seni tatah sungging dan pelaku wisata yang ada di Desa Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri.

    Peserta diajarkan strategi penggunaan media sosial untuk kepentingan promosi dan E-Branding. Johadi, M.Sc selaku pemateri menjelaskan bahwa ada trik-trik tertentu yang mesti dipahami oleh seorang yang melakukan pemasar online dalam menggunakan akun medsosnya.

    Materi kedua berupa pelatihan video grafis dan youtube yang disampaikan oleh Mulyadi, SE., M.Ec.Dev selaku ketua pelaksana kegiatan. Pemasaran online dan E- Branding dengan mengkombinasikan media sosial (facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube) menjadi sangat dibutuhkan pada saat ini.

  • PDIE FEB UNS gelar Lokakarya Evaluasi Kurikulum

    PDIE FEB UNS gelar Lokakarya Evaluasi Kurikulum

    Program Doktor  Ilmu Ekonomi (PDIE) FEB UNS gelar Lokakarya Evaluasi Kurikulum, Kamis 18/7/2019 di UNS Inn, Solo.

    Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak, Ketua Program Studi PDIE menyatakan upaya untuk mengevaluasi kurikulum adalah sebuah keharusan yang mendesak dalam rangka mempersiapkan diri,  karena dalam waktu tak lama lagi UNS menjadi PTNBH.  

    “Evaluasi ini kita lakukan agar mahasiswa dapat cepat menjalani proses studinya”  Jelas Prof Rahmawati.

    Sebelum diselenggarakannya lokakarya, telah disusun beberapa masukan awal  terkait perubahan struktur yakni kurikulum dirancang untuk 6 (enam ) semester dengan  total beban  belajar paling sedikit 52 SKS yang terdiri dari kelompok matakuliah wajib umum, mata kuliah wajib program studi dan matakuliah pilihan/ minat studi.

    Evaluasi terhadap kurikulum di PDIE ditempuh juga dengan melihat beberapa kurikulum Perguruan Tinggi yang ada di dalam dan di luar negeri.

  • Kapabilitas Bersaing Digital Diharapkan Tingkatkan Intensi Adopsi E-commerce UMKM

    Kapabilitas Bersaing Digital Diharapkan Tingkatkan Intensi Adopsi E-commerce UMKM

    Penetrasi internet tidak bisa dihindari dan semakin kuat dalam memasuki dunia bisnis. Kemajuan teknologi informasi mendorong banyaknya inovasi-inovasi baru yang dimanfaatkan manusia sebagai tanggapan terhadap era destruktif.

    Survei di tahun 2017, pengguna internet pada sektor bisnis di Indonesia lebih kurang 143 juta, di tahun 2019 akan lebih banyak lagi. Ini berarti, lebih dari 70% penduduk di Indonesia telah menggunakan internet. Sedangkan pelaku UMKM secara nasional hanya sekitar 2,6% yang menggunakan e-commerce. Penelitian yang mengfokuskan pada upaya intensi adopsi e- commerce sangat diperlukan.

    Hal itu dipaparkan Muhammad Kholid Arif Rozaq, diawal presentasinya pada Ujian Terbuka Promosi Doktor , Senin 1/7/2019 di Aula Gedung IV FEB UNS.

    Disertasi yang berjudul Kapabilitas Bersaing Digital sebagai Upaya Peningkatan Intensi Adopsi E-Commerce pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Provinsi DIY dipertahankan dihadapan sepuluh penguji, yang diketuai oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNS, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S.

    Kholid dalam penelitiannya mengembangkan model baru mengenai intensi adopsi e-commerce yang fokus pada kesiapan teknologi serta membangun model teoritikal dasar yang baru untuk melengkapi celah penelitian antara kesiapan teknologi dan intensi adopsi e-commerce. 

    Penelitian yang dilakukannya diharapkan memberikan kontribusi pada pengembangan model adopsi teknologi dengan adanya proposisi pengembangan variabel baru yaitu Kapabiltas Bersaing Digital (KBD). Kapabilitas bersaing digital ini juga diharapkan mampu meningkatkan tingkat intensi adopsi e-commerce bagi UMKM.