FEB

Kategori: fakultas

  • Prodi MESP Bimbing 11 Proposal Tesis yang Memperoleh Pendanaan Dikti

    Prodi MESP Bimbing 11 Proposal Tesis yang Memperoleh Pendanaan Dikti

    Sejumlah mahasiswa Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret  (UNS) mengikuti Klinik Proposal Thesis yang digelar dalam dua hari, 2 dan 9 Juni 2021.

    Kegiatan yang baru kali pertama digelar MESP merupakan tindak lanjut dari informasi skim Dikti yang diteruskan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS termasuk diantaranya proposal tesis.

    Mahasiswa yang proposalnya diajukan tersebut akan dibimbing secara intensif oleh dua pembimbing yang mengampu matakuliah Metodologi Penelitian yakni Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si dan Tri Mulyaningsih, SE, M.Si.

    Kepala Program Studi MESP, Dr. Evi Gravitiani, M.Si mengatakan untuk memberikan bekal kepada mahasiswa yang menyusun 11 proposal tersebut,  di tri wulan tiga, Prodi akan mengundang editor, kerjasama dengan Editor di Sinta 2 dan Q3. (Humas FEB).

  • Tiga Narasumber Webinar Beri Strategi Publikasi pada Jurnal Bereputasi

    Tiga Narasumber Webinar Beri Strategi Publikasi pada Jurnal Bereputasi

    Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret menyelenggarakan Webinar bertajuk Strategi Publikasi pada Jurnal Bereputasi, Selasa, 15 Juni 2021.

    Tiga narasumber dihadirkan dalam webinar yang dihadiri lebih dari 180 peserta, yakni Syaiful Ali, MIS, Ph.D, Ak, CA dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Sylvia Veronica N.P.S, SE, Ak dari Universitas Indonesia, dan Fitra Roman Cahaya, SE, M.Com, Ph.D, CSSR, CSRA dari University of Essex, United Kingdom.

    Di awal paparan presentasinya, Syaiful Ali menyampaikan  bahwa bagi peneliti pemula sebaiknya membuat template atau format proposal riset yang fokusnya pada pertanyaan “What, Why, dan How. Hal ini agar penelitian lebih terstruktur dan memudahkan bagi peneliti dalam proses publikasi.

    Peneliti bisa menempuh beberapa strategi agar papernya dapat dipublikasikan di jurnal bereputasi. Diantara strategi yang bisa ditempuh yaitu belajar dari penulis terkenal, bagaimana cara menyusun introduction, cara menyajikan argumen, tiru style-nya, bukan plagiasi.

    Selain itu, peneliti juga dapat mengutip paper dari penulis yang berpotensi jadi reviewer atau ketika submit di jurnal X, pastikan beberapa artikel di jurnal X itu muncul di jurnal peneliti, jangan menonjolkan kelemahan paper dan paragraf jangan terlalu panjang.

    “Biasanya reviewer melihat di abstrak dan introduction, bila bagian itu menarik, maka sudah mendapat gambaran utuh papernya. Selain itu, perlu diperhatikan untuk menggunakan editor bahasa Inggris yang profesional. Peneliti harus memperhatikan pula setiap respon dari reviewer.  Tulis respon rinci untuk setiap poin reviewer, tulis dengan bahasa yang baik, sopan dan menjelaskan dengan sangat detil. Tanggapi dengan sangat serius di setiap poin-poinnya” jelasnya.

    Di akhir paparannya, Syaiful Ali berpesan agar peneliti harus selalu siap jika papernya ditolak. Rejection adalah sebuah proses yang biasa dalam publikasi, jangan menyerah.

    Sementara itu, Dr. Sylvia menegaskan pada saat peneliti submit ke jurnal akan melalui tahap review oleh editor.

    Kadang-kadang tahap awal sudah ditolak oleh editor sebelum ke reviewernya. Peneliti harus menyampaikan sangat baik dan meyakinkan apa kontribusi penelitiannya. Jika ditolak jangan menyerah, perbaiki dan submit lagi dan submit lagi, hingga paper peneliti benar-benar bisa dipublikasikan.

    Terkadang paper seorang peneliti ditolak bukan karena kualitas papernya yang tidak bagus tapi karena tidak sesuai dengan ruang lingkup jurnalnya. (Humas FEB )

  • Studium General MM UNS Angkat Tema Re-Programming Dukcapil

    Studium General MM UNS Angkat Tema Re-Programming Dukcapil

    Peran dan tugas pertama Direktorat Dukcapil adalah memberikan identitas kepada seluruh penduduk Indonesia yang jumlahnya 271.349.889 jiwa dan juga Warga Negara Asing yang sudah lama tinggal di Indonesia serta memiliki ijin tetap.

    Ruang kerja Dukcapil berada di 514 kabupaten kota, 34 provinsi. Sekarang bertambah dengan 130 perwakilan RI di luar negeri, bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri.  Jadi jika ada WNI yang memiliki anak yang lahir di luar negeri akan diberi Nomor Induk Tunggal (NIT), dan jika kembali ke Indonesia akan disesuaikan sebutannya menjadi Nomor Induk Kependudukan (NIK).

    Peryataan itu disampaikan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri),  Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H. saat memberikan Studium General bertema Re-Programming Dukcapil yang diselenggarakan oleh Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Sabtu 12 Juni 2021.

    Selanjutnya disampaikan, Direktorat Dukcapil telah melakukan transformasi internal sehingga banyak perubahan  layanan-layanan yang diberikan dukcapil kepada masyarakat Indonesia.

    Dukcapil memiliki semangat besar untuk melakukan transformasi yakni bagaimana Indonesia mewujudkan single identity number. Sebelumnya, saat belum ada Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau e-KTP, banyak orang yang memiliki KTP ganda.

    Tahun 2009 merupakan tonggak revolusi adminitrasi kependudukan (adminduk) di Indonesia, Indonesia mulai menggunakan single identity number. Ini transformasi besar dari penduduk yang memiliki banyak KTP, sekarang sudah mulai dirapikan.

    Saat ini Dukcapil mengelola big data penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 271 juta jiwa  dengan tiga data center,  dua berada di Jakarta dan satu di Batam.

    “Pelayanan kependudukan sekarang dilayani setiap hari, tidak mengenal hari libur. Ketika fakta kependudukan terjadi dinamika yang luar biasa, maka cara kerja dukcapil juga menyesuaikan. Data center harus hidup sehingga penduduk bisa mencetak dokumennya dan menerima layanan secara online di hari Sabtu dan Minggu, tidak ada hari libur dalam pelayanan Dukcapil. Ini perubahan yang kita bawa” ungkapnya.

    Apakah dengan ini semua masalah bisa diselesai? Belum, ada satu problem yang masih kita hadapi yaitu kita belum memiliki instrumen yang bagus dan akurat untuk bisa mendata penduduk yang non permanen, penduduk yang bertempat tinggal tidak sesuai dengan alamat KTP-nya. Contoh mahasiswa dari luar kota yang tinggal di kos-kosan sekitar kampus UNS.

    Menurutnya, masalah ini harus kita kelola. Saat ini sedang disiapkan portal untuk mendata penduduk yang non permanen. Penduduk melapor dimana tempat tinggalnya yang berbeda dari KTPnya. Dari sini akan kelihatan berapa data penduduk berdasarkan  de jure (data base kependudukan) dan berapa data penduduk de facto per satu daerah. Hal ini penting sekali untuk perencanaan pembangunan, untuk mitigasi resiko, juga untuk kebutuhan transportasi dalam hal perpindahan penduduk. (Humas FEB)

  • Rektor UNS Tandatangani MoU dengan Pemkab Trenggalek

    Rektor UNS Tandatangani MoU dengan Pemkab Trenggalek

    Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menandatangani MoU atau Kesepakatan Bersama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek. Kesepakatan Bersama tersebut berlaku selama tiga tahun, ditandatangani oleh Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho dan Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin. Kegiatan penandatanganan berlangsung secara daring, dihadiri oleh pejabat Pemkab Trenggalek dan pejabat di lingkungan UNS, Selasa 29/6/2021.

    Kerjasama yang diinisiasi oleh Bidang Kerjasama Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS ini mencakup lingkup pendidikan, penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masyarakat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, perencanaan strategis daerah, kajian dan evaluasi pembangunan daerah, pendampingan dan bantuan teknis implementasi pembangunan daerah, pendampingan dan bantuan teknis peningkatan pendapatan asli daerah serta pelaksanaan Kampus Merdeka Merdeka Belajar (KMMB).

    Dalam sambutannya, Prof. Jamal menyampaikan bahwa tujuan kerjasama ini adalah untuk meningkatkan potensi dan keunggulan sumber daya yang dimiliki kedua belah pihak, baik oleh UNS maupun Kabupaten Trenggalek. Khususnya untuk kepentingan pembangunan daerah Trenggalek dan peningkatan mutu pendidikan di UNS.

    “Diantara ruang lingkup kerjasama UNS dan Pemkab Trenggalek adalah untuk melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Program KMMB. Seperti yang telah dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi,  kita berharap ada pertautan dan hubungan yang dekat antara kampus dan dunia usaha serta dunia industri, termasuk didalamnya dengan Pemkab Trenggalek” ungkapnya.

    Selanjutnya disampaikan institusi perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam berbagai kesempatan memang harus melakukan kegiatan sinergitas dan memadukan program kerja agar arah dan pengembangan masing-masing memiliki titik temu untuk menyukseskan kebijakan antara pemerintah daerah dengan kampus UNS.

    Di akhir sambutan, Prof. Jamal berharap MoU ini tidak hanya sekedar penandatanganan saja tapi lebih dari itu, UNS dan Pemkab Trenggalek  bersama-sama bisa mengimplementasikan isi kesepakatan kerjasama tersebut sehingga berdaya guna dan berhasil guna. (Humas FEB)

  • Prodi Akuntansi Hadirkan Prof. Maurizio Massaro dalam Agenda Visiting Professor

    Prodi Akuntansi Hadirkan Prof. Maurizio Massaro dalam Agenda Visiting Professor

    Program Studi Sarjana (S1) Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Surakarta, kembali mengadakan Kuliah Umum Visiting Lecture pada Jum’at (18/06/2021) secara daring melalui Zoom Cloud Meeting.

    Dalam sambutannya, Dr. Agung Nur Probohudono, Ph.D., Kepala Program Studi (Kaprodi) S1 Akuntansi menyampaikan agar seluruh perserta yang hadir bisa belajar banyak dari Prof. Massaro dan semoga topik yang disampaikan pada hari ini akan dapat memperluas pengetahuan mahasiswa, khususnya di bidang akuntansi.

    Visiting lecturer merupakan agenda rutin yang diadakan oleh Prodi Akuntansi FEB UNS yang sebelumnya telah mengundang Prof. Hooi Che Wooy, Prof. Evan Lau, dan Prof. Corina Yosef. Topik mengenai Intellectual Capital yang dihadirkan pada hari tersebut merupakan topik yang penting dan menarik karena mahasiswa lebih sering berfokus pada praktek akuntansi yang berkaitan dengan Tangible Asset. Sehingga materi mengenai Intangible Asset yang termasuk didalamnya adalah Modal Intelektual akan menjadi materi pendamping yang bermanfaat bagi mahasiswa.

    Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi utama oleh Prof. Massaro dari Ca’Foscari University of Venice. Mengawali materi, Prof. Massaro menyampaikan lima bagian materi yang akan disampaikan secara daring melalui Zoom dan Youtube Livestreaming, yaitu, pengenalan Knowledge Economy, Definisi riset di bidang Modal Intelektual, dan Tahapan riset di bidang Modal Intelektual.

    “Saat ini, banyak dari layanan digital yang tersedia secara gratis untuk kita gunakan. Hal ini dapat terjadi karena marginal cost yang dibutuhkan untuk membentuk produk digital memiliki nilai yang mendekati nol, sehingga perusahaan dapat memberikan layanan jasa digital seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, secara gratis,” jelas Prof. Massaro. Kondisi inilah yang disebut sebagai free economy.

    Kondisi free economy tersebut membawa implikasi yang sangat besar di bidang akuntansi. Karena hampir semua aplikasi internet yang ditawarkan merupakan produk yang berdasarkan pengetahuan atau knowledge-based. Sementara ilmu akuntansi yang kita pelajari menyatakan bahwa nilai sebuah barang atau produk akan berkurang setelah digunakan, pengetahuan  tidak mengikuti hukum tersebut karena saat digunakan, pengetahuan akan bertambah dan bukannya berkurang.

    “Hal ini sangat menarik untuk dipelajari karena kondisi ini telah membawa perubahan yang sangat besar dan disruptif hingga merubah model bisnis dari perusahaan,” jelas Prof. Massaro.

    Paparan materi berlanjut dengan tahap perkembangan riset di bidang modal intelektual, cara pengukuran, dan perspektif ekosistem. Acara berlangsung secara interaktif melalui aplikasi Wooclap sehingga peserta dan pembicara dapat berinteraksi secara aktif.

    Reporter: Aulia

    Editor: Humas FEB

  • Bicara Prakerja Bahas 3 Topik Menarik

    Bicara Prakerja Bahas 3 Topik Menarik

    Diskusi daring “Bicara Prakerja”, kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Project Management Officer (PMO) Kartu Prakerja dan Universitas Sebelas Maret (UNS) membahas 3 topik menarik seputar Prakerja, Technology Stack Prakerja, Job, Skills and Trainings Prakerja serta Good Governance Prakerja, Jumat 18 Juni 2021.

    Kegiatan yang dihelat dari pagi hingga sore itu menghadirkan keynote speech, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dan Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho.

    Ketiga topik diskusi disajikan menarik oleh para narasumber  yang ahli dibidangnya yakni Prof. Adi Sulistyono, Ketua Senat Akademik UNS, Prof. Izza Mafruhah, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, Sumarna Abdurrahman, Direktur KPPE MPPKP, Dr. Bambang Harjito, Kepala TIK UNS, Hengky Sihombing, Direktur Operasi dan Teknologi MPPKP, Raynata, VP Director PT Qerja Manfaat Bangsa, Yulias, Asdep Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Kemenko Perekonomian, Sidiq Juniarso,  Direktur HUK MPPKP, dan Dr. Piter Abdullah, Ekonom Senior CORE.

    Mengawali  keynote speech, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan Pandemi Covid-19 tidak hanya menguji pemerintah untuk mendengarkan amanat penderitaan rakyat namun juga menjadi tantangan agar pemerintah bisa cepat beradaptasi dan merespon pandemi. Kali pertama kali kasus Covid ditemukan 2 Maret 2020 lalu dan dalam waktu dua minggu, pemerintah mengeluarkan Inpres Realokasi Anggaran serta Pengadaan Barang dan Jasa dalam Rangka Percepatan Penangananan Covid-19.

    Program Kartu Prakerja yang diberlakukan sejak 11 April 2020, dimulai membuka pendaftaran dengan kuota sebesar 200 ribu orang dengan bentuk semi bansos. Sampai minggu ini, sebanyak 8,3 juta orang sudah menjadi penerima kartu prakerja, yang merata di seluruh kabupaten kota di Indonesia.

    Selanjutnya dikatakan, melalui Kartu Prakerja, beragam pelatihan dapat disediakan dengan singkat berkat kolaborasi dengan swasta. Saat ini, ekosistem Prakerja terdapat 179 lembaga pelatihan yang menawarkan lebih dari 1591 jenis pelatihan, mereka bersaing dan tidak semua otomatis terjual.  Semua pelatihan disalurkan melaui 7 platform  digital. Selain itu, audit berjalan baik oleh BPK maupun oleh BPKP sehingga akuntabilitas program ini terus terjaga  dan dapat dipertanggungjawabkan.

    “Kartu Prakerja sangat terbuka untuk semua, berapapun umurnya apapun gendernya, tentunya yang  masih sekolah tidak eligible. Semua yang membutuhkan mendaftar ke situs Prakerja secara  mandiri tanpa perantara,  tidak ada birokrasi, tidak ada joki. Di antara penerima Kartu Prakerja diantaranya difabel, purnatugas,  pekerja migran Indonesia, lulusan SD, pencari kerja,  korban PHK, karyawan, hingga wirausaha” ungkapnya.

    Jalan digital end-to-end yang ditempuh Program Kartu Prakerja agar bisa membantu masyarakat dalam  skala lebih luas, lebih cepat dan akurat dengan tranparansi yang maksimal. Digital end-to-end juga meminimalkan resiko kesehatan bagi masyarakat di tengah pandemi covid.

    Untuk melihat tujuan akhir dari Prakerja, evaluasi juga telah dilakukan, survei angkatan kerja nasional melalui BPS pada Februari 2021 menunjukkan 90,97% penerima Kartu Prekerja mengatakan keterampilan mereka telah meningkat setelah mengambil pelatihan ini.

    Sementara itu, Sumarna Abdurrahman mengatakan Kartu Prakerja merupakan paradigma baru yang harus kita kembangkan untuk bisa memberikan akses yang sama untuk angkatan kerja. Kita akan selalu meningkatkan kualitas agar pelatihan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jika pola pelatihan konvensional, peserta yang mendatangi lembaga pelatihan, maka di pelatihan daring,  pelatihan yang mendatangi rumah-rumah mereka.

    “Pelatihan daring di Program Kartu Prakerja memiliki manfaat yang luar biasa, dapat diikuti peserta yang tersebar di wilayah Indonesia, pedesaan maupun perkotaan.  Selain itu terdapat dinamika baru dalam pasar kerja kita, kegiatan usaha mandiri perkembangannya sangat meningkat. Saat industri demandnya rendah karena terdampak pandemi, kegiatan mandiri berkembang pesat dibuktikan dengan hasil survei dan testimoni” katanya.

    Hal senada juga diungkapkan  Prof. Izza bahwa dengan adanya kartu prakerja, masyarakat sudah dilatih sejak awal bahwa mereka akan bekerja secara daring sehingga adaptasi terhadap 4.0 sudah masuk dan lama kelamaan akan terlatih. Dengan Kartu Prakerja, masyarakat juga bisa memilih pelatihan sesuai dengan minat, bakat dan keinginan mereka .

    “Saya yakin dengan kondisi saat ini, maka keberlanjutan di masa depan akan bagus karena memberikan dukungan kepada angkatan kerja kita tentang skill-skill yang mungkin selama ini tidak diterima mereka di dunia pendidikan atau skil-skill yang terkinikan. Dengan daring, maka update dari model, pembelajaran dan ilmu akan lebih cepat, dan sifatnya sangat global. Aktifitas yang dilakukan diseluruh dunia bisa dimasukkan dalam model pembelajaran kita termasuk juga peluang-peluang kerja” jelasnya.

    Prof. Izza menambahkan, model pembelajaran atau pelatihan dalam bentuk tayangan video untuk para peserta Kartu Prakerja memiliki keunggulan, memudahkan peserta untuk mengulang-ulang materi pelatihan hingga memberikan pemahaman yang lebih. (Humas FEB)

  • Selamat, Prodi S1 Manajemen FEB Menangkan PKKM

    Selamat, Prodi S1 Manajemen FEB Menangkan PKKM

    Program Studi (Prodi) S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) termasuk  salah satu prodi yang berhasil memenangkan bantuan pemerintah Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) Tahun Anggaran 2021. Pengumuman pemenang bantuan telah dipublikasikan  melalui laman pkkmdikti.kemdikbud.go.id  pada Senin 7 Juni 2021.

    Melalui laman tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) mengucapkan selamat kepada perguruan tinggi yang dinyatakan sebagai penerima bantuan pemerintah PKKM Tahun Anggaran 2021. Bagi perguruan tinggi yang belum mendapatkan bantuan PKKM Tahun Anggaran 2021 dapat berpartisipasi pada bantuan pemerintah program Ditjen Dikti lainnya.

    PKKM merupakan program kompetisi terbuka, dapat mencakup program studi dan program di tingkat institusi yang diutamakan untuk sistem pengelolaan Kampus Merdeka atau disebut Institutional Support System (ISS). Kompetisi dilakukan  melalui tiga tahapan yaitu evaluasi administratif, evaluasi kualitas dan  kelayakan proposal dan tahap verifikasi kelayakan dengan visitasi yang dilakukan secara daring.

    Program ini bertujuan untuk mendorong transformasi di bidang pendidikan tinggi, meningkatkan kualitas lulusan, dosen serta kurikulum.

    Sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 754/P/2020 tentang Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020, perguruan tinggi dituntut untuk meningkatkan kompetensi lulusan, memperluas wawasan dan kesempatan mahasiswa mendapatkan kompetensi dari dunia profesi, meningkatkan kualitas dosen, meningkatkan sinergi dengan masyarakat dan dunia kerja, mendorong praktisi dan profesional.

    Selain itu perguruan tinggi juga dituntut turut menyiapkan kompetensi lulusan, dan meningkatkan kualitas dan relevansi kurikulum dan pembelajaran agar lulusan lebih utuh kompetensinya serta siap memasuki dunia kerja baik sebagai pencipta lapangan kerja maupun sebagai seorang profesional.

    Ketua Program Studi S1 Manajemen FEB UNS yang juga menjadi Ketua Task Force dalam penyusunan proposal PKKM,  Dr. Atmaji, MM kepada Media FEB menyampaikan bahwa tim mendapatkan informasi PKKM relatif mendadak dibandingkan dengan ke 4 prodi lainnya di UNS.

    PKKM ini sifatnya penunjukan dari universitas ke program studi di UNS berdasarkan rumpun bidang ilmu dari Pusat Unggulan Iptek di UNS, yaitu Javanologi, Baterei Lithium, dan Fintech Center. Prodi S1 Manajemen lebih dekat pada PUI Fintech Center di UNS.

    “Kami memiliki waktu sekitar 1 bulan, meskipun sangat mendesak karena dasarnya adalah penugasan, maka saya langsung membentuk Task Force untuk penyusunan proposal sesuai dengan arahan dari universitas. Alhamdulillah Task Force yang saya bentuk dapat bekerja baik dan sangat solid, sehingga dalam waktu singkat prodi kami dapat mengejar ketertinggalan, dan dapat memenuhi ketentuan-ketentuan yang dipersyaratkan dalam kompetisi. Dari 5 Program Studi dan 1 Institutional Support System (LPPMP), pada akhirnya hanya ada 3 program studi yang lolos untuk didanai yaitu Prodi S1 Manajemen, S1 Agroteknologi, S1 Teknik Mesin” jelasnya.

    Taskforce Penyusunan Proposal PKKM Prodi S1 Manajemen terbagi dalam lima bidang yaitu pengembangan platform market place UNS untuk mendukung pembelajaran mahasiswa, pengembangan inovasi keuangan digital untuk mendukung market place UNS, peningkatan kompetensi manajerial lulusan, peningkatan minat mahasiswa berwirausaha dan peningkatan reputasi internasional program studi

    Lebih lanjut, Dr. Atmaji mengatakan setelah proposal di submit ke Kemendikbud oleh universitas, Tim Prodi S1 Manajemen FEB UNS menyiapkan diri untuk visitasi daring dan dalam proses itu selalu melakukan perbaikan terus menerus.

    Visitasi daring telah dilaksanakan Sabtu, 17 April 2021. Dalam visitasi dilakukan konfirmasi mengenai program-program yang diusulkan dan ditekankan pada implementasi Program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka. Saat visitasi, tim mendatangkan dosen, perwakilan mahasiswa, pengguna alumni, dan mitra kerjasama untuk diwawancarai oleh Tim Reviewer Kemendikbud.

    Selamat untuk Prodi S1 Manajemen FEB UNS, semoga pencapaian prestasi yang telah diraih semakin mendorong peningkatan kualitas lulusan, tenaga pendidik dan juga kurikulum.   (Humas FEB)

  • FEB UNS Adakan Training of Trainer Kewirausahaan

    FEB UNS Adakan Training of Trainer Kewirausahaan

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Training of Trainer Kewirausahaan secara daring, Sabtu 5 Juni 2021.

    Kegiatan yang diikuti khusus oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah Kewirausahaan FEB UNS itu menghadirkan narasumber Prof. Nurul Indarti, Sivilikonom, Cand Merc, Ph.D dari FEB UGM.

    Pembahasan materi dengan topik Model Bisnis dan Pembelajaran Kewirausahaan diawali dengan melihat kembali pola pembelajaran kewirausahaan sebelumnya, melihat beberapa inovasi yang dilakukan perusahaan.  Selanjutnya masuk ke materi konsep model bisnis, pola model bisnis dan inovasi model bisnis.

    Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE., M,Si., Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan FEB UNS dalam sambutan awalnya menyampaikan, FEB UNS telah memiliki tiga model pelatihan yang diberikan kepada mahasiswa yaitu AMT (Achievement Motivation Training), Business Motivation Training (BMT) dan Pre Job Training (PJT).

    “BMT atau kewirausahaan sebagai salah satu model pelatihan perlu adanya pembaharuan. Model BMT sebelumnya masih menggunakan pola yang lama padahal kewirausahaan saat ini berjalan dengan sangat cepat, ada keterbaruan yang luar biasa.  Hal inilah yang mendorong kami  untuk mengadakan acara ini” ungkapnya.

    Selanjutnya disampaikan, para dosen muda yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan  menjadi instruktur, membantu fakultas dengan model-model kewirausahaan yang terbarukan mendorong mahasiswa untuk menjadi wirausaha muda.   Hasil dari pelatihan kepada mahasiswa, salah satunya adalah mahasiswa mampu menyusun bisnis plan.

    Untuk pendampingan mahasiswa, FEB juga akan bekerja sama dengan Direktorat Inovasi dan Hilirisasi  UNS.

    Dari hasil pelatihan ini, fakultas akan melakukan revisi terhadap modul kewirausahaan  yang sudah dimiliki  sebelumnya. Direncanakan di awal bulan Juli akan ada pelatihan bagi mahasiswa.

    Kegiatan Training of Trainer Kewirausahaan ini merupakan titik awal yang akan berkesinambungan dengan aktifitas-aktifitas lainnya. Hasil akhirnya adalah Indikator Kinerja Utama (IKU)  tercapai dan aktifitas kewirausahaan dapat dilakukan mahasiswa  hingga lulus kuliah. (Humas FEB)

  • Angkat Tema Method in Economic Analysis and Academic Writing, Webinar MESP Hadirkan 2 Pembicara dari UKM

    Angkat Tema Method in Economic Analysis and Academic Writing, Webinar MESP Hadirkan 2 Pembicara dari UKM

    Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan webinar bertajuk Method in Economic Analysis and Academic Writing, 25-26 Mei 2021.

    Dua pembicara internasional dari University Kebangsaan Malaysia (UKM) dihadirkan dalam webinar tersebut, Assoc. Prof. Dr. Tamat Sarmidi (Deputy Dean of Research and Innovation, Faculty of Economic and Management, UKM) and Assoc. Prof. Dr. Norlin Khalid the Cluster Head at the Center of Sustainable and Inclusive Development Studies UKM Malaysia.

    Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan FEB UNS, Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E., M.Si,  mewakili Dekan FEB UNS, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya workshop ini karena alat analisis statistik selalu berkembang baik alat analisis secara kualitatif maupun kuantitatif.

    Menurut Prof. Izza, penulisan artikel yang dipublikasikan selalu menjadi hambatan bagi mahasiswa program pascasarjana yang hendak lulus. Hal ini terjadi karena mahasiswa seringkali terlalu fokus pada proses penulisan tesis, sementara proses publikasi artikel cukup memakan waktu dan sering dilupakan. Harapannya, dengan bimbingan para pakar akan sangat membantu mahasiswa dalam mempublikasikan artikel.

    Pemateri di hari pertama, Assoc. Prof. Tamat Sarmidi (Deputy Dean of Research and Innovation, Faculty of Economic and Management, UKM) dengan bahasan Principal Component Analysis (PCA). Dr. Tamat menjelaskan dasar-dasar dari principal component,  cara menentukan kecukupan data untuk melakukan proses explanatory factor analysis, proses intepretasi hasil, dan prinsip-prinsip analisis reliability dalam penggunaan PCA menggunakan STATA. Materi dilanjutkan dengan pembahasan Propensity Score Matching, dan ditutup dengan Quintile Regression.

    Paparan materi di hari kedua disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Norlin Khalid, yang diawali dengan materi terkait academic writing dan publication, disusul dengan Recent Reseach in Covid-19.

    Dr. Norlin menjelaskan mengapa publikasi artikel merupakan aktivitas yang penting di institusi pendidikan, antara lain karena adanya tuntutan pemenuhan indikator kinerja, tuntutan bagi akademisi untuk dapat berkontribusi pada bidang studinya, dan sebagai bentuk usaha dalam meningkatkan networking antar institusi pendidikan.

    Tahapan proses publikasi harus dilalui oleh mahasiswa yang hendak mempublikasikan artikelnya di jurnal internasional bereputasi. Langkah-langkah tersebut meliputi proses penulisan review literatur, penentuan tujuan penelitian, menentukan kontribusi dari artikel yang ditulis atau penelitian yang dilakukan, serta proses proofreading oleh native speaker untuk memastikan bahwa artikel yang ditulis telah memenuhi kaidah penulisan dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

    Artikel yang telah siap dipublikasi dapat terlebih dahulu dipresentasikan dalam forum ilmiah seperti seminar atau konferensi untuk mendapatkan masukan dan saran untuk perbaikan artikel. Langkah terakhir yang perlu diperhatikan adalah terkait penentuan jurnal yang dituju. Dimana penulis hendaknya memilih jurnal yang memiliki tujuan (scope) yang sesuai dengan topik artikel yang ditulis.

    Dr. Norlin menambahkan bahwa untuk memperbesar kemungkinan publikasi hendaknya penulis dapat berkolaborasi dengan penulis atau peneliti yang telah dikenal di bidang tersebut, “Invite prominent author for collaboration (undang penulis yang telah terkenal untuk kolaborasi atau kerjasama,” katanya.

    Dijelaskan pula secara rinci langkah-langkah strategis bagi mahasiswa untuk dapat mempersiapkan artikel publikasi dengan baik, yaitu dengan mempersiapkan abstrak yang menarik karena abstrak merupakan impresi pertama yang didapatkan dan menarik perhatian pembaca.

     

    Reporter          : Aulia

    Editor              : Humas FEB

  • Webinar PDIE Bahas Paradigma Riset Kualitatif

    Webinar PDIE Bahas Paradigma Riset Kualitatif

    Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar webinar dengan tema Paradigma Riset Kualitatif dengan narasumber Prof. Dr. Iwan Tri Yuwono dari Universitas Brawijaya, Rabu, 26 Mei 2021.

    Prof. Iwan menfokuskan pada pembahasan dua paradigma dalam riset penelitian kualitatif yaitu paradigma interpretivis dan posmodernis. Desain penelitian paradigma interpretivis meliputi desain fenomenologi, etnografi, etnometodologi, hermenetika, narasi, histori, dan grounded theory.

    Desain etnometodologi di paradigma interpretivis menjadi bahasan yang diangkat dalam webinar yang diikuti hampir 100 orang peserta.

    Etnometodologi merupakan studi tentang bagaimana masyarakat menggunakan metode-metode tertentu dalam menjalani kehidupan sosialnya. Didalam etnometodologi ada konsep indexicality dan reflexivity sebagai alat analisis.

    Menurut Prof. Iwan di dalam etnometodologi, yang diteliti adalah pemahaman masyarakat, bukan atas dasar pemahaman peneliti. Peneliti tidak boleh memaksakan pikirannya kepada orang yang ditelitinya. Bagaimana orang-orang memaknai simbol-simbol yang mereka temukan versi mereka sendiri, bukan versi peneliti. Ini yang penting dalam paradigma interpretivis, bagaimana kita memahami orang lain.

    Disampaikannya, dalam penelitian non positivis tidak menghendaki adanya generalisasi dari hasil penelitian.

    “Jika kita melakukan penelitian, hasilnya spesifik dimana kita melakukan penelitian itu, misal di PT X, hasilnya tidak digeneralisasikan untuk PT yang lain karena memang penelitiannya spesifik. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa dipakai di PT Y dengan melakukan adaptasi karakter model yang kita temukan di PT X. Model dasar sudah ada, tapi untuk aspek lain harus disesuaikan dengan kondisi di perusahaan lainnya” ungkapnya.

    Desain etnometodologi meliputi pertanyaan penelitian, situs penelitian, metode koleksi data serta metode dan alat analisis data.

    Contoh pertanyaan untuk penelitian etnometodologi yaitu “Bagaimana cara mempraktikkan tanggung jawab sosial PT X dengan kerangka analisis etnometodologi?” dan contoh tujuan penelitian “Membangun konsep metode mempratikkan tanggung jawab sosial pada PT X dengan metode etnometodologi”

    Sepanjang pertanyaan penelitian menanyakan  cara bagaimana suatu komunitas mempraktikkan sesuatu maka termasuk ke dalam penelitian etnometodologi.

    “Di paradigma etnometodologi cukup satu pertanyaan saja karena penelitiannya sangat mendalam dan bisa mendapatkan konsep yang bisa dipakai peneliti. Berbeda dengan penelitian di paradigma positivis yang pertanyaannya bisa mencapai 10 hingga 15 pertanyaan tergantung dari banyaknya variabel” ungkapnya.

    Situs penelitian meliputi komunitas masyarakat tertentu secara aktif mempraktikkan budaya dalam kehidupan sehari-hari.  Komunitas bisa berarti perusahaan dengan stakeholdernya, organisasi nir-laba dengan stakeholdernya, perguruan tinggi, rumah tangga, accounting firm dan stakeholdernya ataupun masyarakat kota, desa, RW dan RT.

    Dalam pembahasan berikutnya, Prof. Iwan menjelaskan bahwa paradigma posmodernis mengkombinasikan antara sesuatu yang sudah ada dengan yang lain, misal dengan budaya. Contoh pertanyaan penelitian posmodernis, “Bagaimana praktik perolehan laba pada PT X dengan pendekatan kombinasi etnometodologi dan hamemayu hayuning bawana?”. Tujuannya membangun konsep metode perolehan laba pada PT X yang dapat membahagiakan manusia dan alam. Judul Penelitian:  “Hamemayu Hayuning Bawana sebagai Metode Perolehan Laba pada PT X untuk Kebahagiaan Manusia dan Alam dengan Paradigma Posmodernis.” Untuk paradigma ini, dapat pula dikombinasikan dengan agama.

    Berbeda dengan paradigma interpretivis, dalam  paradigma posmodernis bisa menggunakan pemikiran kita sebagai peneliti. (Humas FEB).