FEB

Kategori: fakultas

  • Entrepreneurship Cukup Power Full di Dunia Akademik dan Aktifitas di Luar Akademik

    Entrepreneurship Cukup Power Full di Dunia Akademik dan Aktifitas di Luar Akademik

    Prodi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS)  mengadakan kegiatan Technical Assistance Program Kampus Merdeka-Kewirausahaan: Social Entrepreneurship, Selasa 3 Agustus 2021.  Kegiatan yang dihadiri oleh dosen dan juga mahasiswa dari berbagai prodi itu menghadirkan Melia Famiola, STP, MT, Ph.D,  Dosen School of Business and Management ITB.

    Di awal presentasinya, Melia, Ph.D mengenalkan lebih detil tentang social entrepreneur dan banyak bercerita tentang pengalaman orang-orang yang menggelutinya. Menurutnya, isu social entrepreneur lahir dengan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh beberapa orang. Semua orang yang melakukan social entrepreneur pastilah orang cerdas karena tidak mudah bagi mereka untuk melihat celah dari kegiatan sosialnya untuk menghasilkan sesuatu perubahan bagi orang lain dan ada perputaran ekonomi.

    “Inilah alasannya, hari ini  entrepreneurship menjadi cukup memiliki kekuatan yang penuh dalam dunia akademik juga aktifitas di luar, bahkan bisnis-bisnis yang berjalan sudah sekian lama kemudian  di direct untuk bisa mengambil apa isu kontribusi mereka terhadap SDGs, apakah dalam hal mengurangi kemiskinan, mengurangi kelaparan, mengatasi kesehatan, mengatasi masalah lingkungan  dan berbagai masalah di sekitar kita.” jelasnya.

    Lebih lanjut dikatakan, elemen penting dari social entrepreneur menurut portales ada empat hal.  Dalam social entrepreneur, harus ada social mission kemudian dibalut dengan systemic change. Agar social mission menciptakan systemic change harus digali dengan aktifitas sosial dan aktifitas ekonomi. Tujuan akhirnya adalah bagaimana menciptakan sebuah impact, sesuatu yang positif.

    Sedangkan atribut social entrepreneur meliputi social motivation, economic  intelligence, courage serta quick and alternative thinking.

    Seorang social entrepreneur adalah orang yang memiliki misi sosial, punya empati, punya interest sosial tertentu. Impact tidak akan terjadi hanya melakukan charity atau kegiatan amal, namun harus melakukan change, bagaimana orang hingga bisa berubah ke arah positif sesuai dengan diharapkannya.

    Selain itu, yang dimiliki social entrepreneur adalah economic intelligence yakni kemampuan melihat peluang bisnisnya.

    Dua karakter lain yang dimiliki social entrepreneur adalah courage, orang yang berani mengambil keputusan yang sulit. Keberanian seorang social entrepreneur bahkan harus melebihi  orang yang melakukan bisnis tertentu saja karena terkadang  nilai sosial yang diangkat itu menurut kita tidak ada nilai ekonominya, lebih banyak charitynya, tapi seorang  social entrepreneur harus berani mengambil itu dan harus kreatif mencari strategi ekonominya, punya nyali yang lebih kuat dari seorang entrepreneur biasa.

    Sedangkan atribut quick and alternative thinking, ketika kita berhadapan dengan komunitas, berhadapan dengan banyak perilaku orang, kita harus beradaptasi mencari strategi bagaimana bisa melakukan  perubahan.

    Sementara itu, Melia, Ph.D menyampaikan ada tiga hal yang diperlukan dalam hal pengembangan kompetensi kampus merdeka kewirausahaan berbasis social entrepreneur yakni perubahan mindset, ekosistem pendidikan sebagai institusi pengembangan kewirausahaan dan peran baru kampus sebagai ope.

    Selanjutnya, ekosistem pendidikan kewirausahaan dibangun dengan tiga peran yaitu stimulation, supporting dan sustainability. Stimulation meliputi pendidikan kewirausahaan, pelatihan motivasi, bantuan dan bimbingan dalam memilih produk dan menyiapkan laporan proyek, pengembangan produk dan proses, membuat forum wirausaha dan pengakuan keterampilam.

    Supporting berupa bantuan pendanaan, penyediaan tempat berkeja (working space), bimbingan,  mendapatkan bantuan hukum, dan menyediakan fasilitas umum lainnya. Sedangkan untuk sustainability berupa bantuan modernisasi, pembiayaan tambahan untuk pemanfaatan kapasitas, pemesanan produk, pengujian kualitas dan peningkatan layanan serta fasilitas umum berbasis kebutuhan. (Humas FEB)

  • Proyek Kemanusiaan Latih Mahasiswa Memiliki Kepekaan Sosial

    Proyek Kemanusiaan Latih Mahasiswa Memiliki Kepekaan Sosial

    Proyek Kemanusiaan menjadi salah satu bagian dalam program kampus merdeka. Mahasiswa dengan jiwa muda, kompetensi ilmu, dan minatnya dapat menjadi “foot soldiers” dalam proyek-proyek kemanusiaan dan pembangunan lainnya baik di Indonesia maupun di luar negeri. Proyek ini bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa unggul yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan etika. Juga melatih mahasiswa memiliki kepekaan sosial untuk menggali dan menyelami permasalahan yang ada serta turut memberikan solusi sesuai dengan  minat dan keahliannya masing-masing.

    Hal itu disampaikan Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, Tim Sosialisasi Dosen Penggerak MBKM Dikti saat menjadi narasumber pada Technical Assistance Program Kampus Merdeka-Proyek Kemanusiaan yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis 12 Agustus 2021.

    Selanjutnya dikatakan, untuk mekanismenya, prodi atau fakultas membuat kesepakatan dengan mitra dalam bentuk dokumen kerja sama (MoU/SPK), baik dalam negeri seperti dengan Pemda, PMI, BPBD, BNPB, kelurahan kecamatan, organisasi keagamanan  dan lain-lain maupun dengan  lembaga luar negeri  yakni UNESCO, UNICEF, WHO, UNOCHA, UNHCR dan sebagainya .

    Agar program berjalan dengan baik, diperlukan duta kampus merdeka yaitu dosen dari masing-masing prodi yang memiliki tugas memberikan pendampingan, pengawasan, penilaian dan evaluasi terhadap kegiatan proyek kemanusiaan yang dilakukan mahasiswa. Dosen bersama lembaga mitra menyusun form logbook.

    Ditahap berikutnya, prodi perlu membuat pedoman teknis kegiatan pembelajaran melalui proyek kemanusiaan. Perlu dibentuk gugus tugas yang kuat agar semua berjalan dengan baik dan juga melakukan evaluasi akhir serta penyetaraan kegiatan proyek kemanusiaan  mahasiswa menjadi mata kuliah yang relevan.

    Dr. Wisnu bersama dengan Kaprodi S1 Mnj dan Moderator

    “Dosen dapat membantu mengidentifikasi kegiatan, mencarikan mitranya sampai evaluasi akhir, menyetarakan kegiatan menjadi matakuliah yang relevan SKSnya  dan mendorong program ini berkesinambungan” ungkapnya.

    Semua kegiatan harus dilaporkan prodi ke fakultas, lalu fakultas ke gugus tugas MBKM Universitas. Dan dari universitas melaporkan hasil kegiatan belajar ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi.

    Untuk penyetaraan kurikulum dalam proyek kemanusiaan ada beberapa tipe,  ada free form,  dirumuskan dalam bentuk hard skill, merumuskan  penyelesaian permasalahan sesuai capaian pembelajaran lulusan, merumuskan penyesaian teknisnya,  dan kemampuan untuk sintesa. Sedangkan softskillnya, kemampuan berkomunikasi, kerjasama, kepemimpinan, kerja keras  dan kreatiftitasnya. Penyetaraan bisa juga membuat stucture form, distrukturkan  sesuai dengan kurikulum yang ditempuh mahasiswa. SKS dinyatakan dalam bentuk kesetaraan matakuliah yang disetarakan. Sebetulnya yang paling mudah adalah penggabungan antara  free form dan structure form.

    Mahasiswa dapat mengambil data pada saat mengikuti proyek kemanusiaan untuk dijadikan skripsi, misalnya membuat suatu rancangan anggaran dan biaya dalam rangka perolehan kemanusiaan, pengelolaan logistik,  networking dengan mitra-mitranya dan lain sebagainya.

    Di kegiatan yang sebagian besar pesertanya adalah dosen, Dr. Wisnu juga menjelaskan tentang  skema hibah riset keilmuan meliputi hibah riset mandiri dosen, hibah riset kewirausahaan, hibah riset desa dan hibah kegiatan kemanusiaan.

    Hibah kegiatan kemanusiaan bertujuan untuk menghasilkan rancangan atau model terkait penanganan kegiatan kemanusiaan yang bermanfaat dalam penanganan masalah kebencanaan, menghasilkan iptek, peralatan atau kebijakan yang berguna sesuai dengan jenis kebencanaan dan keahlian dosen masing-masing, menggabungkan kegiatan riset dengan program pembelajaran dalam kegiatan kemanusiaan dan mendesiminasikan hasil-hasil kegiatan riset kemanusiaan.

    Peserta Technical Assistance

    Fokus riset keilmuan untuk kegiatan kemanusiaan  diantaranya: riset keilmuan penanggulangan Covid 19, riset keilmuan teknologi dan manajemen bencana geologi, riset keilmuan teknologi dan manajemen bencana hidrometereologi,  riset      keilmuan   teknologi         dan manajemen bencana kebakaran lahan/hutan, riset keilmuan teknologi dan manajemen lingkungan, serta riset keilmuan kebijakan atau tatakelola terkait dengan manajemen penanggulangan bencana. (Humas  FEB)

  • Prodi S1 Manajemen Undang Dr. Alexander Bauer Dalam Technical Assistance: Project-Based Learning Method

    Prodi S1 Manajemen Undang Dr. Alexander Bauer Dalam Technical Assistance: Project-Based Learning Method

    Program Studi (Prodi) S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Surakarta kembali menghadirkan akademisi internasional dalam rangkaian kegiatan Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) 2021, Senin (16/8/2021).

    Acara yang di ikuti kalangan akademisi itu mengundang Dr. Alexander Christian Bauer dari Wittenborg University of Applied Science.

    Mengawali paparan materi, Dr. Bauer menjelaskan definisi dari pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning (PBL), bentuk-bentuk penerapan PBL dalam proses belajar-mengajar di universitas, dan contoh-contoh PBL yang pernah beliau terapkan.

    Secara umum, Dr. Bauer menjelaskan bahwa PBL adalah bentuk metode pembelajaran dimana mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi dunia riil dan menemukan solusi untuk permasalahan tersebut.

    Melalui metode tersebut mahasiswa diharuskan untuk melakukan riset mendalam untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kompleks dan berkolaborasi dalam tim untuk menyelesaikan masalah serta menemukan solusi.

    Metode PBL tidak lagi bergantung pada kuliah yang disampaikan oleh dosen, melainkan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis melalui cerita atau permasalahan yang berhubungan dengan teori yang dipelajari mahasiswa. Selain itu kelebihan dari PBL antara lain adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menggunakan teknologi dalam proses penyelesaikan proyek, mengenalkan teknis ‘lifelong-learning’ kepada mahasiswa, mengenalkan mahasiswa pada permasalahan yang terjadi di dunia nyata, mengembangkan skill, kreatifitas, and imaginasi dari mahasiswa, serta memotivasi mahasiswa untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran aktif.

    “Proyek mahasiswa membantu mereka untuk melakukan review terhadap materi kuliah yang telah mereka terima serta mempersiapkan mereka untuk materi selanjutnya,” ungkap Dr. Bauer.

    Materi dilanjutkan dengan contoh-contoh project based learning yang diterapkan oleh Dr. Bauer, yang secara umum dapat dibagi menjadi dua kriteria. Proyek yang terintegrasi dalam mata kuliah dan proyek di luar mata kuliah. Setiap proyek yang dilaksanaan diawali dengan penyampaian informasi umum proyek yang berkaitan dengan kondisi bisnis dan permasalahan yang timbul, diikuti dengan pertanyaan penelitian proyek yang memiliki tingkat kesulitan sesuai dengan semester mahasiswa. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, mahasiswa harus melakukan riset/penelitian terhadap permasalahan yang terjadi.

    Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil yang mencakup beberapa peran khusus seperti ketua tim, bagian penelitian, sekretaris, dan bagian keuangan. Tim yang telah terbentuk kemudian melaksanakan rangkaian proyek dengan didampingi oleh dosen mata kuliah terkait untuk memberikan saran dan masukan. Di akhir sesi, tim mahasiswa diharuskan membuat laporan akhir dan melakukan presentasi dari hasil kerja mahasiswa.

    Acara yang dihadiri oleh lebih dari 30 peserta itu berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab antara dosen Prodi S1 Manajemen FEB UNS dengan Dr. Bauer.

    Reporter: Aulia
    Editor: Humas

  • Sambut Maba, Dekan FEB Ajak Mahasiswa Torehkan Prestasi di Tingkat Nasional Maupun Internasional

    Sambut Maba, Dekan FEB Ajak Mahasiswa Torehkan Prestasi di Tingkat Nasional Maupun Internasional

    Lebih dari 700 mahasiswa baru Program Studi (Prodi) S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang digelar secara daring, Senin, 16 Agustus 2021.

    Dekan FEB, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons). Ph.D A,k. mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa baru dan secara simbolis menyerahkan Kartu Rencana Studi kepada tiga mahasiswa perwakilan prodi, Widya Zhafira dari S-1 Akuntansi, Devina Alfa Levia Rizky Alharis dari S-1 Manajemen dan Perdana Gilang Yudha Firmansyah dari S-1 Ekonomi Pembangunan.

    “Segenap pimpinan FEB UNS mengucapkan selamat kepada mahasiswa baru. Perasaan senang dan bangga karena Anda semua telah bergabung menjadi mahasiswa kami. Sekali lagi, selamat, Anda sudah menjadi warga FEB UNS, mohon untuk selalu semangat belajar dan belajar, perkuat jati diri Anda di kawah candradimuka FEB, tempat menggembleng agar kalian semua menjadi sukses”  kata Dekan menyemangati.

    Ungkapan syukur harus senantiasa terpanjatkan karena mahasiswa telah diterima di FEB UNS, fakultas yang membanggakan, kampus yang mempunyai reputasi, nasional maupun internasional.

    Seluruh prodi di FEB UNS telah terakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Sertifikasi akreditasi internasional pun telah diraih yakni  EPAS, AUN QA dan ABEST21. Sejak 6 Oktober 2020 lalu, UNS menyandang status sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Selain itu, UNS masuk klaster satu atau klaster utama dari Perguruan Tinggi (PT) terbaik di Indonesia.

    Peserta mengikuti jalannya acara PKKMB melalui daring

    Dekan juga berpesan agar dalam menempuh perkuliahan di FEB UNS, mahasiswa baru harus membaur dengan semua komponen yang telah lebih dulu melakukan aktifitas di kampus dan juga berbaur dengan para alumni yang sering datang ke FEB.

    Alumni-alumni FEB banyak yang sukses dan menduduki jabatan penting di pemerintahan  maupun swasta. Diantaranya, Wimboh Santoso yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan RI, Doni P Joewono, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Didik Hartantyo, Dirut PT KAI, dan beberapa alumni lain yang sukses disektor swasta diantaranya Harijanto dan Nur Harjanto serta beberapa alumni lainnya.

    Di akhir sambutannya, Dekan berharap agar mahasiswa bisa menorehkan prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional dengan tetap mengangkat nilai-nilai budaya bangsa. Kita harus memiliki prinsip hidup ‘urip sing urup memayu hayuning bawana”. Ini adalah salah satu pedoman hidup dari para leluhur. Kehidupan kita harus memberikan manfaat untuk orang lain maupun untuk alam semesta.

    Kegiatan PKKMB yang digelar sejak pagi hingga menjelang sore tersebut diisi juga dengan paparan dari para Wakil Dekan, Pengelola Laboratorium dan Unit Pendukung serta dari Pengelola dan wakil dosen masing-masing program studi.

    Para alumni yang telah berjaya dan berprestasi pun dihadirkan untuk memotivasi mahasiswa baru, diantaranya Doni Primanto Joewono, SE, M.Si, Ubaidi Socheh Hamidi, SE, MM, Endang Kurniawan, SE, Ak., dan Dr. Nur Harjanto, MM.

    Salah satu alumni yang saat  ini menduduki jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doni Primanto, dalam arahan dan motivasinya menyampaikan empat hal penting untuk menjadi pegangan mahasiswa agar sukses dalam menempuh studi dan berkarir yakni, bersyukur, mencari role model, punya passion dan harus adaptif.

    Keberhasilan mahasiswa yang telah diraih saat ini adalah karena rido  Allah dan juga kedua orang tua. Rasa syukur harus senantiasa terpanjatkan karena bisa bergabung di kampus ini. Bersyukur karena saat ini prestasi FEB UNS sangat cepat berkembang. Buktinya banyak, seluruh prodi di FEB telah terakreditasi A dan juga telah tersertifikasi internasional.

    Selanjutnya disampaikan, mahasiswa juga harus punya role model yakni suatu cerminan untuk mendorong keberhasilan studi dan karir ke depan.

    “Role model memberikan  motivasi dan semangat dalam belajar untuk meraih keberhasilan. Dengan memiliki role model, memungkinkan kita untuk mengeksplor diri, kita punya mimpi, mulai hari ini kita mau jadi apa, apakah akan melanjutkan kuliah atau menjadi ahli ekonomi atau menjadi seorang pengusaha, siapa yang akan menjadi contoh kita” tegasnya penuh semangat.

    Doni P Joewono saat memberikan motivasi kepada mahasiswa baru

    Mahasiswa juga harus punya passion, harus punya minat. Passion akan mendorong menemukan role model, mendorong untuk aktif berorganisasi sebagai salah satu cara melakukan pengkayaan, meluaskan pengetahuan dan pengalaman.

    Dan yang keempat, mahasiswa harus adaptif. Orang yang berhasil adalah orang yang adaptif, bukan orang pintar dan yang cerdas. Berapa banyak orang yang dalam prestasi kuliahnya biasa saja, namun saat kerja sukses karena didukung dengan kemampuannya dalam beradaptasi. (Humas FEB)

  • Prodi S1 Manajemen Angkat Topik Menarik Pembelajaran Creative Thinking

    Prodi S1 Manajemen Angkat Topik Menarik Pembelajaran Creative Thinking

    Technical Assistance Pembelajaran Creative Thinking menjadi topik menarik yang diangkat pada kegiatan Prodi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS),   Kamis, 29 Juli 2021.  Kegiatan yang diiikuti oleh dosen dan juga mahasiswa dari berbagai prodi itu menghadirkan Dr. Leo Aldianto, MBA, M. SAE, Dosen School of Business and Management ITB

    Merangkum dari berbagai pendapat dari para ahli, Dr. Leo mengatakan bahwa kreatifitas merupakan proses untuk menciptakan sesuatu yang baru, unik dan bermanfaat. Sedangkan creative thinking adalah kemampuan untuk berfikir dengan cara baru, original dan secara sadar, meninggalkan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan, dari cara-cara yang beda, membelok dari hal-hal yang rutin dan meninggalkan ide-ide yang sudah jadi pakem.

    “Yang mempengaruhi dan penting dalam memberikan semangat creative thinking adalah bagaimana biasanya seseorang bekerja, bersikap dan berperilaku. Selain itu creative process mulai dari persiapan, menggenerate ide, memilih ide-ide yang diprioritaskan dan diimplementasikan.  Dan akhirnya harus ada produknya yang dihasilkan, bisa yang merupakan benar-benar produk barang atau konsep, ide dan sebagainya, Dan yang paling penting ditekankan, lingkungannya harus kita rancang agar kreatifitas bisa jalan” jelas Dr. Leo.

    Dosen harus mendorong mahasiswa untuk memiliki ide-ide baru, kemudian perbanyak ide-ide baru itu, fleksibel dan makin detil memberikan usulan-usulan baru,  serta makin beragam.

    Contoh mata kuliah creative thinking  adalah Creativity & Innovation, Star-up Creation (rangkaian matakuliah), Design Thinking, Introduction to Business. Matakuliah-matakuliah dasar lain juga bisa memasukkan creative thinking. Pada prinsipnya di semua aspek mata kuliah bisa dikombinasikan, mendorong mahasiswa menerapkan creative thinking, meningkatkan kemampuan mahasiswa dan diterapkan langsung dalam problem base dan project base.

    Untuk matakuliah-matakuliah dasar, misalkan Manajemen SDM, Keuangan, Akuntansi, fokus utamanya tetap di introduce. Mahasiswa  harus bisa memikirkan cara lain dan bisa menerapkannya. Karena masih belajar, yang bisa digunakan adalah mencari tahu berbagai masalah perusahaan melalui artikel, majalah, buku, paper atau di internet.

    “Penerapan langsung dalam problem base dimulai dari problem di sekitar kami, sampai kepada problem yang dihadapi perusahaan. Yang baru saja kami lakukan adalah mengundang dua perusahaan yang datang dengan masalah mereka.  72 mahasiswa dibagi 8 grup mengerjakan masalah dari perusahaan A dan 8 grup mengerjakan masalah perusahaan B. Di akhir sampai tahap evaluasi, perusahaan juga ikut mengevaluasi pekerjaan mahasiswa” jelasnya.

    Proses creative problem solving dapat dilakukan melalui beberapa langkah, dimulai dari menyatakan apa yang menjadi masalah, mengumpulkan fakta dan pendapat, tulis ulang masalahnya, buat kemungkinan solusinya, kemudian lakukan evaluasi , jalankan solusi yang dipilih dan evaluasi hasil. (Humas FEB)

  • Program Kerja KKN MBKM Harus Sesuai Target Capaian Pembelajaran Mata Kuliah

    Program Kerja KKN MBKM Harus Sesuai Target Capaian Pembelajaran Mata Kuliah

    Prodi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan kegiatan Technical Assistance Program Kampus Merdeka-Magang Industri dan Proyek Desa, Senin 9 Agustus 2021.  Kegiatan yang dihadiri oleh dosen dan juga mahasiswa dari berbagai prodi itu menghadirkan Dr. Ulil Hartono, SE, M.Si, Ketua Aliansi Program Studi Manajemen Bisnis Indonesia.

    Dr. Ulil berbagi pengalamannya dalam mengimplementasikan KKN MBKM untuk program studi S-1 Manajemen di Universitas Negeri Surabaya.

    Dalam melaksanakan KKN MBKM, tahap awal yang dilakukan prodi adalah melakukan penyesuaian desain kurikulum baru untuk angkatan 2018, matakuliah KKN dialihkan dari semester 7 ke semester 6 dan mengintegrasikan matakuliah-matakuliah, total 20 SKS.

    Lokasi KKN MBKM wajib berkriteria sesuai dengan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dari masing-masing mata kuliah, yakni desa atau kelurahan yang memiliki unit usaha. Hal ini untuk memastikan bahwa mahasiswa tidak mendesain program kerja di KKN nya diluar dari target CPMK dari masing-masing mata kuliah. Mahasiswa boleh memilih sendiri lokasi KKN MBKM.

    Di KKN konvensional, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) hanya satu DPL untuk satu desa,  berbeda dengan KKN MBKM yang memungkinkan banyak dosen sebagai DPL di satu desa. Ploting DPL variatif, satu dosen bisa membimbing beberapa mahasiswa  dan di beberapa desa. Ini konsekuensi dari mahasiswa memilih lokasi desanya karena mahasiswa lebih paham lokasinya.

    DPL berasal dari semua dosen pengampu matakuliah yang diintegrasikan ke KKN MBKM. Hal ini untuk memudahkan pada saat proses pembekalan dan workshop, pembimbingan atas mata kuliah yang diintegrasikan, pendampingan identifikasi unit usaha karena DPL menentukan kualitas dari Laporan Rencana Kegiatan (LRK) hingga memudahkan proses penilaian.

    “Terasa sekarang, pada saat penilaian di akhir semester  betul-betul memudahkan ketika dosen berasal dari seluruh matakuliah yang diintegrasikan.  Ada 12 MK dan ada 26 dosen pengampu dari matakuliah dengan surat penugasan sebagai DPL yang dikeluarkan langsung dari Rektor. Alhamdulillah, sesuatu yang tidak memungkinkan ketika di KKN konvensional” jelasnya.

    Selanjutnya disampaikan, workshop sebagai pengganti perkuliahan sangat dimungkinkan dan  ini diatur dalam buku panduan Kegiatan Bisnis Manajemen Mahasiswa Indonesia (KBMI tahun 2020) yang mengatur tentang MBKM.

    “Pada saat implementasi kegiatan MBKM, sebenarnya kan tidak boleh melakukan perkuliahan, tidak ada UTS dan UAS. Namun kita terbentur bagaimana pada saat visitasi akreditasi, evaluasi kurikulum, bagaimana menjawab kualitas akademik atas KKN MBKM yang mengintegrasikan 12 MK, inilah yang menjadi semacam strategi kami mengadakan workshop sebagai pengganti perkuliahan” ungkapnya.

    Workshop dilakukan selama 2 minggu untuk semua mata kuliah yang diintegrasikan dan  semua dosen menjadi narasumbernya. Berapa kali workshopnya untuk matakuliah dikembalikan kepada masing-masing pengampu. Narasumber dari eksternal juga diundang untuk menjaga kualitas akademik di workshop itu. Workshop bisa digunakan sebagai pengganti perkuliahan. Mahasiswa tidak langsung berangkat ke KKN. Dengan beberapa hal ini, akan menjadi dasar prodi pada saat ada akreditasi.

    Dr. Ulil mengatakan di  KKN MBKM, prodi mengambil alih kegiatan di LPPM sehingga LPPM tinggal terima laporan saja untuk bukti kinerja universitas. LPPM juga dilibatkan saat koordinasi awal.

    Di penutup paparannya, dikatakan, pelaksanaan KKN MBKM ini memang memerlukan banyak koordinasi.  Kami tidak ingin, mahasiswa yang ber KKN di desa itu hanya  mengecat pagar pembatas, bersih-bersih desa, ikut gotong royong perbaikan jalan dan sebagainya, namun mahasiswa datang ke desa itu dengan membawa mata kuliah-mata kuliah yang diintegrasikan. Mahasiswa membawa beban 20 SKS yang disepakati untuk diintegrasikan dengan program kerja yang jelas. (Humas FEB).

  • Studi Independen, Wadah bagi Mahasiswa Wujudkan Karya Besar

    Studi Independen, Wadah bagi Mahasiswa Wujudkan Karya Besar

    Studi atau proyek independen sebagai salah satu program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan, namun tetap diakui sebagai perkuliahan. Dalam hal ini, program studi (prodi) harus membuatkan aturannya dalam bentuk panduan agar jelas bagi mahasiswa, bagaimana prosedur yang harus dilalui untuk mengembangkan diri di luar perkuliahan. Di studi ini, diarahkan bagi mahasiswa yang melengkapi dirinya dengan menguasai kompetensi spesifik dan praktis yang juga dibutuhkan oleh DUDI.

    Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. I Ketut Widyana, M.Si.,  Tim Ahli MBKM Dikti untuk Proyek Independen, saat menjadi pembicara pada kegiatan Technical Assistance Program Kampus Merdeka-Studi/Proyek Independen yang diselenggarakan oleh   Prodi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS),  Kamis 5 Agustus 2021.

    Selanjutnya dikatakan, fakultas atau prodi dapat menjadikan studi independen untuk melengkapi topik yang tidak termasuk dalam jadwal perkuliahan tetapi masih tersedia dalam silabus prodi atau fakultas. Tidak ada uraian matakuliah tentang studi independen yang akan diambil mahasiswa. Topik-topik yang ada dalam perkuliahan barangkali perlu dilengkapi, sehingga perlu diusulkan dari mahasiswa. Jadi hanya bersifat melengkapi saja.

    Dalam studi ini, mahasiswa yang memiliki passion dapat mewujudkan karya besarnya, baik tidak atau dilombakan di tingkat nasional atau karya dari ide inovatif.

    “Bagi mahasiswa yang sudah memiliki talenta untuk mewujudkan karya besar yang dimilikinya diberikan kesempatan untuk mengambil studi independen, misal sekelompok mahasiswa memiliki bakat untuk membuat sebuah model usaha, merekalah yang akan merancangnya. Karena sering kali mahasiswa punya ide-ide brilian dan ini yang patut diwadahi dalam studi independen. Termasuk merancang berbagai bentuk-bentuk kewirausahaan lain, atau bersama-sama dengan prodi lain membetuk usaha terkait pariwisata.

    Peserta Technical Assistance Program Kampus Merdeka-Studi/Proyek Independen

    Idealnya, studi atau proyek independen dijalankan untuk menjadi pelengkap dari kurikulum yang sudah diambil oleh mahasiswa, dapat menjadi penguat atau pengganti mata kuliah yang harus diambil. Ada beberapa kuliah yang tidak diambil, dan kemudian diberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menggantikannya dengan studi independen.

    Kegiatan proyek independen dapat dilakukan dalam bentuk kerja kelompok lintas disiplin keilmuan Studi. Untuk mewujudkan sebuah karya membutuhkan bidang-bidang yang lain untuk melengkapi. Diharapkan mahasiswa membentuk tim yang saling menguatkan untuk program yang akan dilakukan.

    Di studi independen, bisa dilakukan dalam 2 sisi. Prodi menawarkan programnya kepada mahasiswa  sesuai dengan visi dan misi prodi, apa yang menjadi keunggulan  prodi dan mahasiswa melakukan secara independen. Bisa juga mahasiswa yang mengusulkan programnya ke prodi.

    Adapun bentuk kegiatan studi independen yakni mahasiswa mempelajari kompetensi yang spesifik, praktis dan dibutuhkan di masa depan.  Kemudian mahasiswa berinteraksi dengan para pakar untuk memahami penerapannya. Lalu mempraktekkan kompetensi  tersebut dalam sebuah proyek riil. (Humas FEB)

  • Riset Grup Kelembagaan dan SDM FEB UNS Berikan Pendampingan Pendirian BUMD Pariwisata di Kabupaten Magetan

    Riset Grup Kelembagaan dan SDM FEB UNS Berikan Pendampingan Pendirian BUMD Pariwisata di Kabupaten Magetan

    Riset Grup Kelembagaan dan SDM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) mengenai pendampingan pendirian BUMD Pariwisata di Kabupaten Magetan, Jum’at (25/6/2021), Bappeda Kabupaten Magetan.

    Kegiatan tersebut diketuai Vita Kartika Sari, S.E.,M.Sc., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis FEB UNS dan didampingi beberapa anggota yakni Dr. Dwi Prasetyani, S.E., M.Si, Aulia Hapsari Juwita, S.E.,M.E, Sumardi, S.E., M.Si., Dr. Guntur Riyanto, M.Si, Dr. Ahmad Daerobi, M.S., Dr. Vinc Hadi Wiyono WS, M.A dan Ana Shohibul Manshur Al Ahmad, S.E, M.Sc.

    Dalam pelaksanaan PKM itu, Tim Riset Grup mengadakan Focus Group Disscussion (FGD) dengan bahasan utama tentang peluang investasi, pemetaan paket investasi, dan strategi implementasi investasi. Sementara pada pembahasan kedua seputar rancangan perlunya pendirian BUMD Pariwisata untuk mengelola sektor pariwisata di Magetan.

    Suasana Focus Group Disscussion

    “Tujuan dari diadakannya kegiatan PKM ini adalah membuat Magetan sebagai kota kecil yang memiliki potensi pariwisata yang potensial,” jelas Vita Kartika Sari, S.E., M.Sc.

    Dikatakannya, kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan mendapatkan antusiasme yang sangat besar dari Pihak Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu, Kabupaten Magetan ketika berdiskusi dengan anggota RG Kelembagaan dan SDM karena mendapatkan banyak pengetahuan dan masukan yang membangun.

    Tim Riset Grup Kelembagaan dan SDM memberikan penjelasan mengenai pengertian bahwa BUMD merupakan badan usaha yang  didirikan oleh pemerintah daerah yang modalnya sebagian besar/ seluruhnya adalah milik pemerintah daerah serta fungsi Badan Usaha Milik Daerah yang sangat membantu pemerintah daerah dalam mengelola pariwisata.

    Walaupun dalam pelaksanaannya terdapat kendala karena dilaksanakan ditengah pandemi Covid-19, namun pelaksanaannya tetap berjalan dengan lancar dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

    Tim Riset Grup saat memberikan arahan

     “Pengelolaan pariwisata yang kurang maksimal dapat menyebabkan rendahnya Pendapatan Asli Daerah, maka dari itu kami membantu untuk mengatasi masalah tersebut “ tuturnya.

    Melalui kegiatan PKM berupa pendampingan pendirian BUMD di Kabupaten Magetan tersebut diharapkan dapat meningkatkan potensi pengelolaan pariwisata di Kabupaten Magetan sehingga dapat meningkatkan PAD tersebut.

    Di akhir acara, tim Riset Grup mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terkait karena telah berpartisipasi dalam kegiatan PKM. Diharapkan, Pihak Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu, Kabupaten Magetan bisa menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja BUMD dalam memenuhi tugasnya sebagai penyedia pemenuhan kebutuhan masyarakat dan economic driver, khususnya dalam mendorong pariwisata Magetan.

     

    Sumber: Riset Grup Kelembagaan dan SDM FEB UNS

    Editor: Humas FEB

  • Prodi Ekonomi Pembangunan Undang Ahli Ilmu Politik AS dalam Webinar State, Political Corruption, and Pandemic

    Prodi Ekonomi Pembangunan Undang Ahli Ilmu Politik AS dalam Webinar State, Political Corruption, and Pandemic

    Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan (EP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Surakarta kembali mengadakan webinar internasional dengan tajuk State, Political Corruption, and Pandemic on Heterodox Perspective dengan mengundang Dr. Peter Bratsis sebagai pembicara tunggal, Jumat, 23 Juli 2021.

    Dr. Bratsis adalah seorang Associate Professor di bidang Political Science di the City University of New York, Amerika Serikat. Webinar tersebut terselenggara atas kolaborasi dari Prodi EP FEB UNS dengan Riset Grup Ekonomi Kerakyatan, Evolusi Institusi, dan Studi Dinamika Pembangunan, serta Prodes Institute.

    Dr. Bratsis mengawali paparan dengan definisi tindak korupsi yang definisinya terus berubah dari waktu ke waktu. Pada awalnya korupsi dianggap sebagai sesuatu yang di luar kondisi normal serta dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Meskipun begitu, definisi korupsi berubah menjadi kondisi dimana terjadi ketidakterbukaan informasi atau tidak adanya transparansi.

    “Pada kenyataannya, persepsi akan korupsi di berbagai negara tidaklah sama. Terkadang korupsi dipersepsikan dalam lingkup yang luas atau terkadang lebih sempit di negara lain,” ungkap Dr. Bratsis.

    Secara universal,  korupsi dihubungkan dengan ketidakterbukaan informasi dan kondisi korup di sektor privat. Namun kondisi riil dari korupsi dapat berbeda dari setiap negara akibat adanya efek budaya dan lain hal.

    Webinar berjalan secara interaktif dimana peserta dapat menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada pembicara disela-sela pemaparan materi.

    Reporter: Aulia

    Editor: Humas FEB

  • Prodi S1 Manajemen Adakan Technical Assistance Bersama Marleen Dieleman

    Prodi S1 Manajemen Adakan Technical Assistance Bersama Marleen Dieleman

    Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mengadakan virtual Technical Assistance: Case Methods-Teaching and Writing dalam rangkaian Kegiatan Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), Selasa (27/07/2021).

    Di acara yang dihadiri oleh lebih dari 40 dosen tersebut, prodi mengundang Dr. Marleen Dieleman dari National University of Singapore (NUS) Business School. Dr. Dieleman adalah associate professor yang juga menjabat sebagai Founding Editor dari Family Series-Sage Business Cases, yang telah menerbitkan lebih dari 25 teaching cases.

    Dr. Dieleman menyampaikan materi terkait penulisan teaching case yang terdiri dari pengertian dari teaching case, tips dan trik penyusunan teaching case, dan diskusi.

    “Tujuan dari teaching case adalah memberi kesempatan pada siswa untuk mempelajari sesuatu secara mandiri,” jelas Dr. Dieleman.

    Lebih lanjut, beliau menjelaskan jenis-jenis teaching case yang terdiri dari kasus primer, sekunder, dan pengalaman. Kasus primer dibuat berdasarkan informasi yang diperoleh dari narasumber langsung melalui wawancara atau observasi. Sementara kasus sekunder adalah jenis studi kasus yang data atau informasinya diperoleh dari sumber sekunder seperti berita, laporan, dan lain sebagainya.

    “Untuk dapat mempublikasikan jenis studi kasus primer, kita harus memperoleh izin dari institusi/perusahaan narasumber terkait. Sementara untuk studi kasus sekunder izin tersebut tidak diperlukan, kita hanya perlu mencantumkan sumber informasi atau data yang kita gunakan,” paparnya.

    Selanjutnya disampaikan, secara umum manuskrip studi kasus terdiri dari dua bagian, yaitu ‘teaching case‘ yang ditujukan kepada mahasiswa dan ‘teaching note‘ yang digunakan oleh dosen dalam memandu jalannya diskusi kasus.

    Terdapat beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam menyusun studi kasus. Salah satu poin penting adalah judul manuskrip. Bagian ini sangat penting karena dapat menarik perhatian reviewer/publisher.

    Bagian penting lainnya adalah ‘positioning paragraph‘ yang menjelaskan dan memperkenalkan kasus yang diangkat dan permasalahan yang perlu diselesaikan. Selanjutnya adalah background yang menjelaskan latar belakang dan kondisi lingkungan dimana kasus terjadi untuk pembaca yang tidak atau kurang familiar dengan kondisi lingkungan.Sementara naskah ‘teaching note‘ terdiri dari, ringkasan, tujuan pembelajaran, pertanyaan tugas, dan analisis untuk pengajar atau dosen.

    Setelah penyajian materi dari Dr. Dieleman, peserta dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil dengan anggota 4 orang untuk mendiskusikan topik studi kasus yang menarik untuk dikaji. Setelah berdiskusi di breakout room, perwakilan peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan idenya dan berdiskusi secara langsung dengan Dr. Dieleman.

    Diakhir acara Dr. Dieleman mengucapkan terima kasih telah mengikuti sesi ini sampai akhir dan juga untuk seluruh pertanyaan yang disampaikan serta berharap bisa menerima draf studi kasus dari Indonesia.

     

    Reporter: Aulia

    Editor: Humas FEB