Asosiasi Dosen Akuntansi Indonesia (ADAI) dan Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Ngopi Gayeng Nasional bertemakan Membangun Budaya Publik Governance untuk Indonesia Maju, Sabtu, 27 Februari 2021 .
Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak, Kepala Program Studi (Kaprodi) PDIE yang juga sebagai penasihat di ADAI menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan daring bersama antara PDIE dan ADAI.
Disampaikannya, PDIE sudah melakukan kegiatan ilmiah rutin setiap bulan, mendatangkan praktisi dan juga pelatihan-pelatihan. Hal ini diupayakan sebagai tuntutan akreditasi BAN PT agar unggul, paling tidak sebulan sekali ada interaksi dosen, mahasiswa dan juga masyarakat.
“Kami dekat dengan masyarakat, terutama dibidang ekonomi bisnis, dekat dengan usaha kecil menengah. Di masa pandemi ini kita bangkitkan masyarakat terutama masyarakat yang memiliki usaha kecil dan menengah” katanya.
Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak, Kepala Program Studi PDIE
Mewakili Dekan FEB UNS, Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, dan Mahasiswa membuka kegiatan yang diikuti lebih dari 300 peserta.
Empat pembicara panel dihadirkan yakni Agung Nur Probohudono, SE, M.Si, Ph.D, AK, CA, Kepala Program Studi S1 Akuntansi, Drs. H. Yuliatmono, MM, Bupati Karanganyar, Gibran Rakabuming Raka, Walikota Surakarta dan Dwinanto, SE, Kepala Desa Krandegan. Keynote speaker Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, SH, M.IP yang disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taz Yasin Maimoen, Wakil Gubernur Jawa Tengah.
Ketua ADAI, Dr. Edy Supriyono, S.E.,M.Si.,Ak., CA. dalam laporannya menyampaikan jumlah anggota ADAI Jawa Tengah berjumlah 242 orang, secara nasional ada 12 provinsi yang resmi, secara embrio ada 10 provinsi. Kegiatannya masih berfokus pada kegiatan-kegiatan ilmiah yang sifatnya webinar. Ke depan akan mengadakan pengabdian masyarakat dan kegiatan lainnya.
Ketua ADAI, Dr. Edy Supriyono, S.E.,M.Si.,Ak., CA.
ADAI sebagai wadah bagi dosen akuntansi, baik yang akuntan maupun non akuntan berusaha bersama-sama bersinergi meningkatkan kualitas dosen yang didalam maupun kualitas mahasiswa sebagai tanggung jawabnya. ADAI ditingkat pusat banyak kegiatan yakni koperasi syariah, pengabdian masyarakat, dan penerbitan jurnal. ADAI di Jawa Tengah akan segera bekerjasama untuk memberikan sertifikat bagi mahasiswa akuntansi, dalam waktu dekat. (Humas FEB)
Pendidikan di perguruan tinggi harus bisa membuka peluang kepada mahasiswa untuk mengembangkan kemampuannya, mengaktualisasikan dirinya, dan ini menjadi tantangan terbesar bagi para dosen. Mahasiswa harus difasilitasi agar bisa menghasilkan suatu capaian prestasi yang unggul, jangan sampai potensi tetap menjadi potensi. Sebagai tenaga pendidik, dosen harus selalu melakukan rekonstruksi pembelajaran.
Hal itu disampaikan Prof. Dr, Sarwiji Suwandi, M.Pd., Ketua Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengawali presentasinya dalam Worskhop Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Berbasis Case Method yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS, Kamis 18 Februari 2021.
Dikatakannya, paradigma pembelajaran saat ini sudah bergeser. Dalam proses pembelajaran, yang belajar bukan hanya mahasiswa tetapi juga dosennya dan satu hal yang harus kita perhatikan adalah sumber belajar. Dosen secara berkala harus meng-update RPS, setiap semester ditinjau lagi. Harus disesuaikan jika ada bahan kajian baru atau referensi baru atau hasil riset-riset terbaru.
“Dosen sebagai pembelajar sejati, menyiapkan rencana pembelajaran, membaca banyak referensi dan hasil-hasil riset dan dimasukkan dalam RPS. Dengan ini kita bisa lebih yakin bahwa hasil dari pembelajaran itu lebih baik” jelasnya.
Prof. Dr, Sarwiji Suwandi, M.Pd., Ketua LPPMP UNS
Selanjutnya disampaikan, metode pembelajaran yang harus diterapkan saat ini mengacu pada Indikator Kinerja Utama (IKU) ke 7, persentase matakuliah S1 dan dipoma yang menggunakan metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) atau pembelajaran kelompok berbasis project (team based project) sebagai sebagian bobot evaluasi.
Metode kasus (case method) merupakan pembelajaran partisipatif berbasis diskusi untuk memecahkan kasus atau masalah. Penerapan metode ini akan mengasah dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis untuk memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan kreativitas.
“Di dalam menerapkan case method, mahasiswa jangan diberikan tugas secara individual namun dikerjakan secara berkelompok. Hal ini dikarenakan permasalahan kehidupan riil menuntut pemecahan masalah secara bersama-sama dengan menggunakan perspektif yang berbeda-beda dan dengan berbagai strategi yang bisa diusulkan anggota kelompok” paparnya.
Metode kasus ini termasuk jenis pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Mahasiswa memiliki peran utama dalam pemecahan masalah, sedangkan dosen berperan sebagai fasilitator yang bertugas mengobservasi, memberi pertanyaan, dan mengarahkan diskusi, memberikan pertanyaan, dan observasi.
Case method memiliki kelebihan yakni pelibatan mahasiswa secara aktif mengembangkan keterampilan berpikir yang sangat tinggi. Selain itu, pengetahuan akan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki oleh mahasiswa sehingga pembelajaran lebih bermakna dan mahasiswa dapat merasakan manfaat dari pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung berkaitan dengan kehidupan nyata. Dengan metode ini, mahasiswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi dan menerima pendapat dari orang lain, dan menanamkan sikap sosial yang positif antarmahasiswa.
Sisi lemah metode ini, memerlukan persiapan pembelajaran meliputi alat, problem, dan konsep yang kompleks, terkadang tidak mudah mencari dan menemukan permasalahan yang relevan dan membutuhkan waktu yang cukup lama (Humas FEB)
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons), Ph.D,Ak melantik Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Mahasiswa (DEMA) dan Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA) Periode Tahun 2021, Kamis, 25 Februari 2021 di Aula Gedung 3 FEB UNS.
Dalam acara yang dihadiri oleh para Wakil Dekan, Kepala Unit Kerjasama dan Pimpinan Administrasi FEB UNS juga dilakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Pengurus yang diwakili oleh Ketua BEM dan DEMA dari Pengurus Tahun 2020 ke Pengurus Tahun 2021.
Dekan FEB UNS dalam sambutannya memberikan ucapan selamat kepada pengurus baru yang telah dilantik dan juga ucapan terima kasih kepada pengurus lama, tetap mendampingi pengurus yang baru agar berprestasi lebih dari sebelumnya.
Selanjutnya disampaikan, perubahan status UNS dari Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) menuntut banyak penyesuaian, baik dari sisi organisasi maupun pola kerja, perlu lompatan yang cepat. UNS dituntut untuk mencapai target yang dicanangkan pemerintah, masuk ke 500 Top Perguruan Tinggi di dunia.
Penandatanganan Berita Acara Serah Terima Pengurus BEM, DEMA dan ORMAWA
Dekan mendorong agar mahasiswa terutama para pengurus BEM, DEMA dan ORMAWA bergerak aktif, mengadakan dan juga mengikuti aktifitas yang levelnya internasional hingga berprestasi. Fakultas akan membantu dalam pencapaian prestasi tersebut.
“Dengan status UNS sebagai PTNBH, aktifitas dan kegiatan mahasiswa, baik akademik dan non akademik harus mengarah kepada pencapaian prestasi tingkat internasional. Universitas, fakultas dan prodi akan sangat mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa tersebut. Jika ada kesulitan, kita selesaikan bersama. Kita harus guyub rukun bekerja keras untuk mencapai target itu” tegas Dekan menyemangati mahasiswa.
Dekan berpesan, meskipun mahasiswa aktif di organisasi, namun secara individu harus punya prestasi akademik, IPKnya harus tetap bagus, jangan merosot. Mahasiswa juga harus menjalin komunikasi yang baik, menjaga silaturahmi dengan pimpinan, dosen dan juga tenaga kependidikan. (Humas FEB).
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) adakan Workshop Pengajuan Anggaran dan Penyusunan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) yang diikuti 20 peserta perwakilan masing-masing program studi dan Pelaksana Helpdesk, Kamis 25 Februari 2021 di Ruang Laboratorium Komputer FEB UNS.
Koordinator Tata Usaha, Tunggul Ardhi, S.Si. saat memberi sambutan dan arahan
Koordinator Tata Usaha FEB UNS Tunggul Ardhi, S.Si. dalam sambutannya mengatakan dengan perubahan UNS dari Badan Layanan Usaha (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) terjadi pula beberapa perubahan dalam model pengajuan anggaran dan penyusunan SPJ. Pedoman yang digunakan mulai saat ini menggunakan Standar Biaya Minimum (SBM) UNS.
Dalam kegiatan ini, pelaksana teknis akan dikenalkan dengan pedoman yang baru, bagaimana caranya mengajukan anggaran dan menyusun SPJ. Dengan pelatihan ini diharapkan para pelaksana teknis dari bidang maupun prodi lebih cepat melakukan penyesuaian, tidak mengalami kesulitan lagi.
Christina Yulia Puspita Dewanti, S.IP, Bendahara Fakultas dan Gigih Fantriko Tri Wibowo, A.Md. dari Bagian Perencanaan FEB UNS menjadi instruktur dalam workshop yang digelar selama sehari.
Gigih Fantriko memberikan gambaran layanan di Bagian Perencanaan FEB UNS diantaranya upload data dukung fakultas (KPI), revisi ajuan revisi anggaran, download perencanaan fakulas dan prosedur pencairan anggaran. Dipandu pula bagaimana operator bidang dan prodi mengoperasikan aplikasi Sistem Perencanaan dan Evaluasi Anggaran (Sireva).
Sementara itu, Christina Yulia menyampaikan teknis tentang pengajuan anggaran hingga penyusunan SPJ. Peserta diharapkan untuk benar-benar mempelajari pedoman baru, SBM UNS.
Christina Yulia, S.IP memandu peserta
Untuk dapat mengevaluasi sejauh mana peserta mampu memahami apa yang disampaikannya, disesi terakhir, Yulia memberikan soal-soal yang harus dikerjakan dengan tepat oleh peserta. Soal yang diberikan diantaranya penyusunan SPJ dari Surat Perintah Bayar (SPBY), kuitansi dengan kesesuaian tarif-tarif yang digunakan dan pajak sesuai peraturan yang baru. Kemudian beberapa soal lain juga diberikan yang berhubungan dengan perhitungan honor narasumber, pembelian, jasa dan SPPD. (Humas FEB UNS)
54 alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti Ujian Seleksi Program Management Trainee (MT) PT Intan Pariwara, Rabu, 24 Februari 2021 di Gedung I FEB UNS.
Kegiatan seleksi program MT bagi lulusan FEB ini merupakan salah satu bentuk kerjasama FEB UNS dengan PT Intan Pariwara. Dari 54 alumni, diantaranya ada yang akan diwisuda di 27 Februari mendatang.
Dalam sambutannya dihadapan Direktur ,Tim Manajemen PT Intan Pariwara serta alumni FEB, Dr. Mugi Harsono, S.E., M.Si, Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi FEB UNS menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kali pertama diadakan setelah UNS berstatus Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH).
Dr. Mugi berharap agar lulusan FEB memanfaatkan kesempatan seleksi ini dengan sebaik-baiknya. Dan berpesan agar ketika bergabung menjadi bagian dari PT Intan Pariwara untuk selalu menjaga nama baik institusi.
“Jika saudara berhasil dalam seleksi Program MT dan bergabung dengan PT Intan Pariwara, tolong patuhi standar kerja yang telah ditetapkan organisasi di sana, termasuk standar etikanya. Berikan torehan emas untuk FEB UNS” pesan Dr. Mugi.
Sementara itu, Ir. H. Tomy Utomo Putro, M.M, Direktur PT Intan Pariwara memberikan gambaran tentang alur seleksi dan program MT.
Di masa pandemi ini, PT Intan Pariwara masih tetap eksis dan bahkan berkembang. Melalui jalur MT, PT memerlukan tenaga muda yang potensial dan handal untuk menjadi seorang pimpinan. Sebagai calon pemimpin yang mengelola perusahaan, PT Intan Pariwara sangat mengutamakan kejujuran.
Selanjutnya disampaikan, dalam rekrutmen reguler, untuk menjadi seorang manajer, memerlukan waktu lima tahun, itupun jika prestasinya luar biasa. Namun untuk kerjasama dengan FEB UNS ini, para alumni yang lolos dalam Program MT, setelah 6 bulan atau 1 tahun dapat langsung menjadi pimpinan, manajer atau setara dengan pimpinan.
Peserta yang berhasil masuk dalam Program MT akan digembleng selama 6 bulan. Jam kerja MT bisa mencapai 12 jam sehari. Setelah seharian dididik, malam harinya peserta akan diberi tugas untuk dipresentasikan besoknya dan seterusnya demikian. Hal ini untuk melatih kekuatan fisik dan mental para peserta MT sebagai calon pemimpin.
Dikatakannya, dalam seleksi ini, Alumni FEB UNS mendominasi program MT. Setelah dievaluasi di pelaksanaan program MT, bagi peserta yang kurang memenuhi syarat tidak diberhentikan namun akan dicadangkan untuk yang akan datang atau bisa diterima di tempat lain, namun tidak sebagai peserta MT.
Dalam program ini, peserta tidak dipungut biaya. Setelah mengikuti tes tertulis di FEB, peserta akan mengikuti tes lanjutan di PT Intan Pariwara dan langsung interview dengan Board Director.
Usai mendapatkan arahan dari Pimpinan FEB dan juga dari Tim Seleksi PT Intan Pariwara, peserta menuju ruang kelas di Gedung I FEB untuk menjalani ujian tertulis. Kelas yang digunakan telah memenuhi standar protokol kesehatan, berjarak dan bersekat. (Humas FEB)
Perkuliahan semester genap, Februari – Juli 2021 dimulai pada tanggal 22 Februari 2021. Di Semester ini, Aktifitas perkuliahan masih diselenggarakan secara daring. Berikut Kalender Akademik Tahun 2020/2021
Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan Dwi Sekar Darojati, mahasiswa Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2018 untuk menghasilkan karya. Dwi berhasil meraih juara Favorit di lomba fotografi bertema Pahlawan di Era Pandemi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tidar Magelang, Desember lalu.
Dwi bersaing dengan 72 karya mahasiswa dari 17 perguruan tinggi yakni Universitas Tidar, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Amikom Purwokerto, Universitas Bakrie, Poltekkes Kemenkes Surakarta, Universitas PGRI Yogyakarta, UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Amikom Yogyakarta, Universitas Maritim Raja Ali Haji, IAI Nusantara Batanghari, UPN Veteran Jakarta, Universitas Mercu Buana, Universitas Brawijaya serta Universitas Sebelas Maret.
Dengan kamera DSLRnya, Dwi tertarik mengambil obyek seorang bapak penjual kentang di Pasar Segamas, Purbalingga. Menurutnya, para pedagang, pelaku ekonomi di pasar rakyat adalah juga salah satu pahlawan di era Pandemi.
“Para pedagang juga pahlawan di era pandemi. Tepatnya salah satu pahlawan ekonomi kita di tengah pandemi. Meskipun Indonesia diterjang krisis di era pandemi ini, ekonomi kerakyatanlah menjadi tameng dan support sistem yang dapat membuat perekonomian Indonesia tetap bertahan di tengah krisis” tutur mahasiswa yang memiliki hobi fotografi dan desain.
Kejuaraan seperti ini, bukan kali pertama yang diikuti Dwi. Sebelumnya Dwi pernah mengikuti lomba-lomba, diantaranya yang diselenggarakan Bursa Mahasiswa Fakultas Pertanian UNS dan mendapat peringkat 5 besar poster dan fotografi.
Tak hanya untuk menyalurkan bakat, aktifitas ini juga sebagai pengisi waktu luang usai kuliah online. Kegiatan ini pun untuk meningkatkan imunitas, melepas kejenuhan ketika aktifitas harus dibatasi karena pandemi. (Humas FEB)
Kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) secara daring diikuti oleh lebih dari 6000 peserta melalui aplikasi zoom cloud meeting maupun youtube FEB UNS, selasa 9 Februari 2021.
Kegiatan yang menarik banyak peserta dari mahasiswa dan juga dosen itu menghadirkan dua narasumber, Dra. Ec. Aniek Maschudah Ilfitriah, M.Si, STIE Perbanas Surabaya dan Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, ST, MT, Wakil Rektor Riset dan Inovasi UNS.
Prof. Kuncoro dalam arahannya menyampaikan, PKM yang ujungnya adalah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) merupakan ‘event’ ilmiah nasional dengan keterlibatan mahasiswa dalam jumlah yang sangat besar. PKM merupakan wadah peningkatan mutu lulusan perguruan tinggi.
Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, ST, MT, Wakil Rektor Riset dan Inovasi UNS
Di tahun 2020, UNS masuk dalam lima besar untuk mendapatkan pendanaan di Belmawa, ada 103 proposal yang lolos. Dan di tahun 2020 ini pula, UNS masuk dalam sepuluh besar perguruan tinggi lolos Pimnas dengan 23 proposal.
Jika dikaitkan dengan mutu lulusan, keterlibatan mahasiswa di PKM akan memberikan satu perubahan yang luar biasa. Para mahasiswa yang hadir di PKM dan Pimnas adalah yang memiliki pengetahuan akademik yang sangat hebat. Hal ini menjadi salah satu filter siapapun yang menang Pimnas akan melekat pada curriculum vitae-nya, dan ini sangat bermanfaat ketika mahasiswa lulus.
Dengan seleksi yang sangat ketat, mahasiswa yang terlibat di PKM selain memiliki kehebatan dari academic knowledge, juga dari sisi management skill, skill of thinking dan juga communication skillnya.
“Tim PKM yang lolos ke Pimnas mencerminkan satu keberhasilan kita menghasilkan lulusan yang hebat dan kompetitif. Di tahun 2021 dengan tata kelola PTNBH diharapkan Tim UNS semakin meningkat peraihannya” paparnya.
Dra. Ec. Aniek Maschudah Ilfitriah, M.Si.
Sementara itu, narasumber dari STIE Perbanas, Aniek Maschudah mengatakan, Pimnas merupakan kompetisi yang luar biasa untuk meningkatkan kualitas mahasiswa. Tujuannya adalah memandu mahasiswa menjadi pribadi yang tahu dan taat aturan, kreatif dan inovatif serta objektif kooperatif dalam membangun keragaman intelektual.
Beberapa bidang PKM diantaranya Penelitian, Kewirausahaan, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Gagasan Futuristik Konstruktif. Tidak hanya yang eksakta, mahasiswa yang dirumpun ilmu humaniora pun memiliki cukup banyak kesempatan untuk berkompetisi diajang ilmiah nasional itu.
Kunci awal keberhasilan PKM adalah tim harus mempelajari benar-benar Pedoman PKM di laman https://simbelmawa.kemdikbud.go.id/portal/. Mahasiswa juga harus mengfungsikan dosen pembimbing secara optimal, bukan sekedar tanda tangan proposal. (Humas FEB)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan Sosialisasi dan Strategi Menyusun Matching Fund yang digelar secara daring, Rabu, 10 Februari 2021.
Kegiatan yang diikuti lebih dari 70 peserta menghadirkan dua narasumber, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, ST, MT, Wakil Rektor Riset dan Inovasi UNS dan Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak, Kepala Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) FEB UNS.
Dekan FEB UNS, Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons)., Ph.D, Ak. dalam sambutannya mengatakan di awal tahun 2020, pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Kebijakan ini sebenarnya ingin mendekatkan atau mengintegrasikan dunia kampus dengan dunia industri. Desain Kurikulum MBKM diantaranya mahasiswa boleh memilih selama satu semester di luar prodi di satu perguruan tinggi dan dua semester di luar perguruan tinggi.
Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons)., Ph.D, Ak, Dekan FEB UNS
Awal tahun 2021, pemerintah meluncurkan Matching Fund yang besarnya Rp 250 Miliar untuk seluruh perguruan tinggi yang merupakan insentif untuk mengintegrasikan lebih lanjut kebijakan Merdeka Belajar. Diharapkan dengan adanya insentif ini, kampus akan memberikan kebermanfatan bagi industri dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Prof. Rahmawati, Kaprodi PDIE yang telah memulai langkah lebih awal di program Matching Fund dalam presentasinya mengatakan, program ini untuk mengakselerasi penerapan Merdeka Belajar yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa, utamanya yang S-1, namun untuk mahasiswa program pascasarjana juga dapat ikut. Program ini berjalan selama 2 tahun dan khusus pendanaannya di tahun berikutnya dievaluasi dulu dari tahun pertama.
“Silahkan pelajari Panduan Matching Fund dan juga contoh proposal yang telah kami susun bersama tim. Setiap perguruan tinggi boleh mengusulkan lebih dari satu proposal. Pola kemitraannya bisa satu perguruan tinggi dengan satu dunia usaha dan industri (DUDI), bisa satu perguruan tinggi dengan beberapa DUDI, beberapa perguruan tinggi dengan satu DUDI atau beberapa perguruan tinggi dengan beberapa DUDI” paparnya.
Lebih lanjut, Prof. Rahma menjelaskan secara detil teknik penyusunan proposal kepada peserta sosialisasi daring.
Sementara itu, Prof. Kuncoro memulai dengan bahasan Kedaireka, katalog inovasi produk yang bisa diakses publik. Kedaireka semacam ‘rumah pernikahan’ antara perguruan tinggi dan industri. Industri memiliki pilihan solusi terbaik dari 4700 kampus di Indonesia. Sedangkan Matching fund adalah salah satu dari program Kedaireka.
Lebih lanjut dikatakan, Kedaireka bersifat open hingga sekitar pertengahan Juni 2021. Proses seleksinya akan melalui 3 tahap, seleksi tahap awal sekitar minggu ketiga atau 4 bulan Februari, tahap kedua sekitar April, dan tahap ketiga sekitar bulan Juni.
“Yang paling mudah dilakukan adalah mari kita cari mitra kita, DUDI dalam konteks luas, misalnya desa yang terintegrasi dengan UKMnya, Pemda atau dunia industri riil berskala besar maupun UKM. Untuk mematching-kan, kita tanyakan apakah program mitra kita di tahun 2021, bagaimana ploting anggarannya. Nantinya, anggaran mitra tetap berjalan sebagai pendamping, lalu kita menambahkan sejumlah anggaran yang sama dengan mengagendakan kegiatannya menjadi lebih besar dan lebih bermanfaat. Kira-kira begitu konsep Kedaireka” jelas Prof. Kuncoro
Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, ST, MT, Wakil Rektor Riset dan Inovasi UNS
Prof. Kuncoro mengingatkan, dalam konsep kedaireka, problem riil yang ada adalah problem yang ada di DIDU dan para akademisi masuk untuk membantu menyelesaikan. Jangan sampai masyarakat kita bawa sesuai dengan keinginan kita. Intinya ketika kita akan menggandeng mitra, sampaikan apa permasalahan mereka dan apa yang bisa kita bantu.
Kedua narasumber mendorong dosen dan mahasiswa untuk mulai bergerak menyusun proposal berdasarkan panduan. Dan yang penting juga adalah timnya adalah multidisiplin sehingga menunjukkan adanya kerjasama. (Humas FEB)
Seorang fakih bisa mendekati Allah dengan ibadahnya, seorang seniman bisa mendekati Allah dengan dengan karya seninya dan seorang penulis bisa mendekati Allah dengan tulisannya.
Pernyataan K.H. Abdurrahman Wahid itu dikutip Riwi Sumantyo, SE, M.Si., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mengawali presentasinya saat menjadi narasumber Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media Massa yang digelar FEB UNS secara daring, Kamis 11 Februari 2021.
Kutipan itu diartikannya, proses menulis bukan sebuah obsesi yang sepele, namun sebuah proses yang perlu kontemplasi yang mendalam, bukan tidak mungkin jika dilakukan dengan passion yang sungguh-sungguh akan memberikan kemanfaatan yang lebih baik bagi dirinya sendiri dan terutama bagi orang banyak.
Selanjutnya, Dosen yang aktif menulis di media massa itu mengatakan bahwa menulis itu penting, menggambarkan kemampuan atau kompetensi seseorang, dan juga merupakan ciri-ciri seseorang yang peka atau aware terhadap masalah yang sedang terjadi, bukan apatis, ada sesuatu yang perlu dicermati dan disampaikan dengan opini atau pendapatnya serta memberikan alternatif solusi. Menulis juga memberikan nilai tambah bagi pribadi penulis.
Menurutnya, artikel populer di media massa merupakan buah fikir dari penulis, berisi permasalahan aktual dan pemecahannya dan bukan merupakan imajinasi. Meskipun demikian, terkadang ada tulisan yang tidak melulu menyajikan fakta-fakta yang ada tapi merupakan imajinasi atau hayalan penulisnya. Namun secara umum penulis menuangkan idenya berdasarkan fakta-fakta dan bahkan terkadang perlu melakukan riset kecil-kecilan.
Penulis harus memiliki bekal referensi dan pengalaman terhadap sesuatu yang ingin ditulis. Penulis juga harus memiliki inspirasi dan motivasi serta memiliki kemampuan merangkai kata dengan bahasa yang benar dan menarik. Selain itu, juga mampu memberikan argumentasi dan menawarkan solusi dan konsep yang berisi pilihan-pilihan.
Dihadapan lebih dari 80 peserta pelatihan, Riwi menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan penulis ketika menyusun artikel populer di media massa. Yang utama adalah tulisan harus aktual, dikaitkan dengan momentum yang tengah terjadi di masyarakat.
“Menulis artikel populer tidak susah. Permasalahan disekitar kitapun sangat banyak untuk digunakan sebagai bahan tulisan. Mulailah menulis, gunakan waktu sebaiknya-baiknya. Saat ini referensi sangat berlimpah tersedia, berbeda dengan dulu yang perlu usaha keras untuk mendapatkan referensi. Dan di media mainstream ada rubrik khusus untuk menuangkan opini atau gagasan. Terlebih untuk media online ruangnya lebih sangat terbuka luas. Bagi yang terbiasa menulis di blog dan media sosial lain hanya tinggal sedikit mengasah tulisan itu menjadi tulisan populer yang layak di media massa” dorong Riwi yang sejak mahasiswa terobsesi menjadi seorang penulis media massa.
Riwi Sumantyo, SE, M.Si., Dosen FEB UNS
Perlu diperhatikan pula, menulis artikel populer di media masa sangat berbeda dengan menulis artikel ilmiah (skripsi atau artikel jurnal). Karena pangsa pasarnya adalah masyarakat luas, maka tulisan harus dengan bahasa yang menarik, lugas dan tidak bertele-tele, jika perlu data, disampaikan sedikit untuk mengantarkan namun fokusnya pada pandangan penulis tentang fenomena yang terjadi dan pemecahannya. Berbeda dengan artikel ilmiah yang pangsa pasarnya adalah kalangan akademisi.
Orisinalitas dan kebaruan tulisan juga penting, apalagi jika kita berniat mengirimkan tulisan ke media mainstream yang tingkat kompetensinya tinggi sekali. Kolom di media sangat terbatas dan artikel yang masuk dalam sehari mungkin ribuan, sangat selektif ketat ketika mengeluarkan tulisan di media mereka.
“Menulis akan terasa mudah jika kita tidak terikat pada gaya tulisan seseorang, apa yang ingin kita tulis, tulis saja, kapanpun dan dimana saja dan juga kirimkan ke media massa agar apa yang kita tulis memberikan kemanfaatan kepada masyarakat luas ” ungkapnya diakhir paparannya.
Sementara itu, narasumber lain, Prof. Agus Kristiyanto, M.Pd., Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana menegaskan bahwa memproduksi artikel opini itu tidak sulit.
Prof. Agus Kristiyanto, M.Pd., Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana
Selanjutnya disampaikan, sebuah tulisan opini yang standar ditulis dalam rentang 650 hingga 900 kata. Judul berbentuk frasa yang “bermagnet” seperti judul dari paparan Bapak Riwi, Menulis dan Impian Merubah Dunia. Narasi di paragraf awal yang menarik, aktual dan ada sudut pandang konflik yang membutuhkan solusi.
Isi gagasan berupa pengembangan ide sistematis yang jelas dan sederhana dan arah gagasan memberikan jawaban pertanyaan publik dan memicu pertanyaan produktif baru yang terbarukan. Dan kesimpulan di akhir tulisan harus jelas dan tegas karena biasanya yang melekat di pembaca adalah kata kunci pernyataan di akhir tulisan.
Ketika ditanya kiat khusus menulis artikel, Prof. Agus menjawab simpel yakni mencoba memulai, memulai dan memulai. Jangan pernah berhenti untuk selalu memulai. (Humas FEB).