FEB

Kategori: fakultas

  • Bidang Akademik, Riset, Kemahasiswaan dan Alumni FEB Undang ORMAWA dan UKM Bahas Peningkatan Prestasi dan Kegiatan Mahasiswa

    Bidang Akademik, Riset, Kemahasiswaan dan Alumni FEB Undang ORMAWA dan UKM Bahas Peningkatan Prestasi dan Kegiatan Mahasiswa

     

    Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, Kemasiswaan dan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si. mengundang perwakilan Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk membahas Peningkatan Prestasi dan Kegiatan Mahasiswa, Rabu, 20 Januari 2021 di Ruang Sidang I FEB UNS.

    Kegiatan yang baru kali pertama digelar setelah UNS berstatus PTNBH itu dihadiri pula oleh Ketua Perencanaan dan Pengembangan, Koordinator Tata Usaha, Sub Koordinator dan Tenaga Kependidikan yang menangani kemahasiswaan.

    Usai perkenalan dengan pengurus ORMAWA dan UKM, Prof. Izza menjelaskan, pada periode sebelumnya Bidang I hanya menangani bidang Akademik saja, namun saat ini bidang I selain menangani bidang akademik, juga riset, kemahasiswaan serta alumni dan untuk memudahkan disebutnya dengan AKRIMA.

    “AKRIMA menjadi tugas Bidang I dan ini jangan menjadikan sesuatu beban yang berat. Namun jadikan sebagai  tantangan. Kita harus lebih power full, bergerak bersama untuk mencapai apa yang telah ditargetkan” tegasnya.

    Lebih lanjut disampaikan, saat ini terjadi perubahan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang cukup mendasar. Mahasiswa menjadi bagian utama di pencapaian IKU 1 dan 2, yakni Persentase lulusan S1 dan Program Diploma yang berhasil dapat pekerjaan, melanjutkan studi, atau menjadi wiraswasta dengan penghasilan yang cukup di luar kampus serta persentase  lulusan S1 dan D4/D3/D2 yang menghabiskan paling tidak 20 sks di luar kampus atau meraih prestasi minimal tingkat nasional.

    Dengan Kampus Merdeka Merdeka Belajar (KMMB), mahasiswa selain beraktifitas dikampus juga berhak beraktifitas di luar kampus dan akan dihitung dalam sks matakuliah.

    KMMB terdiri dari 8 aktifitas yakni pertukaran mahasiswa, diantaranya pertukaran antar prodi di dalam perguruan tinggi ataupun dalam satu prodi antar perguruan tinggi, magang, KKN Tematik, riset, proyek independen, kegiatan kewirausahan, proyek kemanusiaan, serta asistensi.

    Dikatakannya juga, bidang akademik telah menyusun rencana untuk meningkatkan prestasi mahasiswa agar dapat bersaing di dunia kerja. Achievement Motivation Training (AMT) dan Pre Job Training (PJT) yang sebelumnya pernah dilakukan akan tetap dilaksanakan dengan pola baru, tidak sekedar paparan materi namun dikembangkan dengan praktek-praktek. Dalam hal ini akan melibatkan alumni yang telah sukses. Selain itu juga akan diadakan Business Motivation Training (BMT) yang dilombakan.

    “Kita akan berusaha memacu lebih softskill mahasiswa dengan berbagai program di bidang akademik, kemahasiswaan dan riset dan kita akan support dalam hal pendanaannya. Silahkan kembangkan potensi teman-teman, ikuti lomba-lomba yang banyak ditawarkan DIKTI,  buat prestasi di tingkat nasional bahkan Internasional, bergabung dengan riset-riset dan pengabdian yang dilakukan dosen. Komunikasikan dengan kami jika mengalami kendala, kami akan bimbing.”  tegas Prof Izza memotivasi.

    Prof. Izza juga berharap semua mahasiswa FEB terlibat dalam ORMAWA ataupun UKM, tidak hanya menjadi mahasiswa yang “kutu buku”.

    Sementara itu, Ketua Perencanaan dan Pengembangan FEB UNS, Drs. Supriyono,M.Si. mengingatkan kepada para Pengurus  ORMAWA dan UKM yang hadir sebagai wakil dari seluruh mahasiswa FEB UNS agar bisa merekonstruksi kegiatan-kegiatannya. ‘

    “ORMAWA dan UKM perlu merekonstruksikan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan, terutama yang bisa mewadahi peningkatan softskill. Kegiatan yang akan diajukan ke fakultas harus dikreasikan dengan berbagai pengembangan dan inovasi yang lebih, harus ada perubahan dari sebelumnya, jangan seperti kemarin. Kami siap mendukung pendanaannya” tegasnya. (Humas)

  • Pakar Ekonomi UNS Tanggapi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat

    Pakar Ekonomi UNS Tanggapi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat

    Sebanyak 23 kabupaten dan kota di Jawa Tengah telah ditetapkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam rangka Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pembatasan aktifitas telah berjalan sejak tanggal 11 Januari 2021 dan akan berlangsung hingga 25 Januari mendatang.

    Penetapan yang tertuang dalam edaran Gubernur Jawa Tengah itu merupakan tindak lanjut dari kebijakan pemerintah pusat untuk pembatasan kegiatan masyarakat di Jawa dan Bali. Diantara aturan dalam edaran tersebut adalah pembatasan aktifitas kegiatan restoran, makan/minum ditempat sebesar 25% dan untuk layanan makanan melalui pesan antar/dibawa pulang tetap diijinkan sesuai jam operasional restoran. Juga membatasi jam operasional untuk pusat perbelanjaan/mal hingga pukul 19.00 WIB.

    Menyikapi adanya pembatasan kegiatan tersebut, Lukman Hakim, SE, Msi, Ph.D, Pakar Ekonomi Universitas Sebelas Maret menanggapi bahwa PPKM yang telah diberlakukan pemerintah pasti ada dampaknya bagi perekonomian masyarakat karena aktifitas masyarakat berkurang, namun pengaruhnya tidak terlalu besar.

    “Berdasarkan pengalaman yang terjadi, pola transaksi dan konsumsi masyarakat sudah berubah sejak awal pandemi, dugaan saya pengaruhnya bagi ekonomi masyarakat tidak terlalu besar. Apalagi seperti aturan yang diterapkan di Solo, transaksi  kuliner yang semula dibatasi hingga pukul 7 malam akhirnya dibatalkan dan para pedagang tetap diijinkan berjualan sesuai jam operasional dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Ini artinya tidak ada bedanya dengan sebelumnya” katanya optimis.

    Menurutnya, bagaimanapun pemerintah tetap memikirkan dampak ekonomi bagi masyarakat dengan adanya pembatasan aktifitas. Selama ketersediaan bahan kebutuhan pokok pemerintah cukup, tidak ada masalah.

    Mungkin akan terjadi sedikit penurunan inflasi karena  transaksi akan berkurang karena ada pembatasan, tetapi ketersediaan barang-barang masih cukup banyak. Apalagi pemerintah tetap menggelontorkan bantuan dari berbagai skema, bantuan sosial yang sifatnya tunai maupun transfer. Termasuk juga adanya bantuan untuk kelompok karyawan non PNS yang penghasilan di bawah 5 juta yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

    “Daya beli masyarakat tetap oke hanya dibatasi waktunya saja. Masyarakat tetap berbelanja dengan waktu yang telah ditentukan dan tetap mematuhi protokol kesehatan” pungkasnya. (Humas)

  • PDIE Gelar Webinar Bahas Kajian Literatur

    PDIE Gelar Webinar Bahas Kajian Literatur

    Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menyelenggarakan webinar bertemakan Kajian Literatur: Metode dan Bias Penelitian dengan narasumber Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom, Cand Merc., Ph.D dari  Universitas Gadjah Mada, Selasa 12 Januari 2021.

    Prof. Dr. Rahmawati,M.Si, Ak., Kepala Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS dalam sambutannya mengatakan, di kegiatan ini, mahasiswa baru diwajibkan hadir  untuk mata kuliah Metodologi Penelitian. Namun acara ini juga terbuka bagi kalangan umum yang tertarik.    Diharapkan, ilmu yang diberikan dari narasumber menambah ilmu dan pengetahuan mahasiswa baru dan juga bermanfaat pula bagi mahasiswa yang sedang dalam proses penulisan disertasi serta para dosen.

    Prof. Dr. Rahmawati,M.Si, Ak., Kepala PDIE Saat Beri Sambutan

    Sebelum webinar berlangsung, Prof. Nurul  membagikan beberapa sumber bacaan kepada peserta sebagai acuan paparan,  artikel yang  dipublikasikan di jurnal dan konferen berdasarkan kajian literatur. Harapannya,  peserta sudah meluangkan waktu membaca agar paparan yang disampaikan narasumber lebih efektif terserap.

    Diawal paparannya, Prof. Nurul menyampaikan, kajian literatur atau literature review adalah ringkasan sebuah topik di bidang penelitian tertentu yang mendukung  pengidentifikasian pertanyaan penelitian. Dengan kata lain kajian literatur intinya “how researcher really arrived at their research question?”.

    “Inti kajian literatur sebenarnya adalah membaca, iqra (bacalah). Kadar membaca seorang tidak sama tergantung kemampuan menyerap bacaan, ada yang bisa paham dalam 3 jam dan ada yang sampai satu hari. Ini adalah proses. Jika teman-teman S3 belum tahu apa masalah penelitian dan pertanyaan penelitiannya berarti membacanya kurang dan tidak melakukan kajian literatur” ungkapnya

    Selanjutnya dikatakan, kajian literatur ini memiliki tujuan untuk membedakan apa yang sudah banyak dilakukan dan apa yang perlu dilakukan. Juga bisa mengidentifikasi variabel-variabel penting yang relevan bagi sebuah topik. Selain itu kajian literatur juga bisa merasionalisasi signifikansi masalah penelitian, mengidentifikasi metodologi utama dan teknik penelitian yang sudah dilakukan serta menetapkan penelitian dalam konteks kebaruan. .

    Dari sistematika proses kajian yang dilakukan, tipe kajian literatur dibedakan menjadi kajian literatur tradisonal atau naratif dan kajian literatur terstruktur atau sistematis. Sedangkan dari metode kajian atau pendekatan yang digunakan dibedakan  mejadi meta analasis dan meta sintesis. Dan yang telah  dilakukan Prof. Nurul beserta tim adalah kajian literatur terstuktur.

    Kajian literatur tradisional tidak terlalu power full dan tantangannya luar biasa ketika kita melakukan publikasi karena pemilihan sumber bacaan tidak dijelaskan, sehingga kritik terbesar dalam kajian literatur naratif adalah kurang akurat, subyektif dan mengandung bias penelitian.

    Narasumber Webinar, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom, Cand Merc., Ph.D

    “Ketika para peneliti menulis bab 1 dan bab 2,  membahas sekian banyak literatur lalu mengatakan belum banyak yang meneliti tentang X,  masih sedikit yang meneliti tentang Y,   jangan-jangan kurang akurat, subyektif dan bias  karena yang dibaca hanya 50 artikel, aksesnya hanya sedikit artikel saja” ungkapnya.

    Pada kajian literatur terstruktur dianggap memiliki struktur yang logis dan kemampuan reliabilitas dan validitas yang lebih tinggi karena  memiliki kriteria dalam pemilihan literatur yang akan  dikaji.

    Kajian literatur mengumpulkan banyak literatur dan menggunakan salah satu teknik yang dipakai yaitu teknik bibliometrik, atau teknik yang berbasis pada statistik, pengolahannya menggunakan perangkat lunak, software yang digunakan PoP software (publish of perish software).

    Selama hampir 2 jam, Prof. Nurul menjelaskan dan berdiskusi dengan peserta secara detil tentang  kajian literatur, bagaimana metode itu dilakukan dan mengapa bisa menghasilkan sebuah artikel serta tentang bias dalam kajian literatur. (Humas)

  • Sosialisasikan UNS PTNBH, Dekan FEB Dorong Mahasiswa Berprestasi di Tingkat Internasional

    Sosialisasikan UNS PTNBH, Dekan FEB Dorong Mahasiswa Berprestasi di Tingkat Internasional

    Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) serta Tenaga Kependidikan Sub Bagian Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti Sosialisasi dan Informasi Bidang Akademik, Riset dan Kemahasiswaan,   Rabu 13 Januari 2021.

    Kegiatan yang digelar secara daring itu membahas 4 agenda utama yakni Sosialisasi Perubahan SOTK UNS Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), Kampus Merdeka, Evaluasi Bidang 3 dan Informasi Akademik dan Kemahasiswaan.

    Dekan FEB UNS, Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com, (Hons), Ph.D, Ak dalam arahannya  menyampaikan beberapa hal terkait penyesuaian UNS setelah resmi menjadi PTNBH sejak 6 Oktober 2020 lalu dengan lompatan kerja yang harus segera dijalankan.

    “Kita perlu memahami adanya perubahan status UNS dari BLU menjadi PTNBH. Dengan status PTNBH, UNS harus bisa mencapai target yang dicanangkan pemerintah,  masuk ke 500 Top Perguruan Tinggi di dunia, harus ada lompatan yang besar dan ini perlu kerja keras dari seluruh sivitas akademika. Tata kelola diefisiensikan, banyak perubahan di struktur organisasinya, dirampingkan sehingga kinerja lebih efektif” jelasnya.

    Dalam struktur  organisasi  UNS sebagai PTNBH,  ada 4 organ penting di level pusat yakni Majelis Wali Amanah, Senat Akademik, Rektor dan Dewan Profesor. Sedangkan di level fakultas, Dekan dibantu oleh Wakil Dekan Bidang Riset, Akademik, Kemahasiswaan, Wakil Dekan Sumber Daya Manusia Keuangan dan Logistik, serta Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama,  Bisnis dan Informasi. Sebelumnya bernama Wakil Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.

    Perubahan juga terjadi pada Pimpinan Administrasi Tenaga Kependidikan. Sebelumnya dipimpin oleh Kepala Bagian Tata Usaha dengan 4 orang menjabat Kepala Sub Bagian berubah menjadi Koordinator Tata Usaha dan dengan hanya 2 Sub Koordinator, yakni Akademik dan Non Akademik.

    Beberapa perubahan ini akan membawa dampak pada kegiatan di fakultas, termasuk juga kegiatan akademik maupun kemahasiswaan dan mahasiswa harus segera menyesuaikan diri.

    Dekan mendorong agar mahasiswa  bergerak aktif, mengikuti kegiatan-kegiatan pada level internasional dan fakultas akan membantu dalam pencapaian prestasi tersebut, baik dari pendanaan maupun pelatihan-pelatihan.

    “Dengan status UNS sebagai PTNBH, aktifitas dan kegiatan mahasiswa, baik akademik dan non akademik harus mengarah kepada pencapaian prestasi tingkat internasional. Universitas, fakultas dan prodi akan sangat mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa tersebut. Jika ada kesulitan, kita selesaikan bersama supaya kita bisa mencapai target yang dicanangkan pemerintah, masuk ke 500 Top Perguruan Tinggi di dunia. Kita harus guyub rukun bekerja keras untuk mencapai target itu” tegas Dekan menyemangati mahasiswa.

    Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Riset, Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si menambahkan, mahasiswa menjadi bagian utama di pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 1 dan 2, yakni Persentase lulusan S1 dan Program Diploma yang berhasil dapat pekerjaan, melanjutkan studi, atau menjadi wiraswasta dengan penghasilan yang cukup di luar kampus serta persentase  lulusan S1 dan D4/D3/D2 yang menghabiskan paling tidak 20 sks di luar kampus atau meraih prestasi minimal tingkat nasional.

    Prof. Izza menegaskan, ada satu hal penting dalam pencapaian prestasi mahasiswa. Selain memiliki hardskill atau kemampuan intelektual, mahasiswa harus memiliki softskill yang kuat. Sebagai contoh, mahasiswa harus memiliki etika dalam berkomunikasi,  menyampaikan pendapat.  Bersikap kritis bagi mahasiswa adalah wajib, namun cara dalam bersikap kritis itu juga sangat penting.

    Untuk mendukung kompetisi di dunia kerja, mahasiswa tidak cukup hanya pandai dalam bidang akademik namun juga harus aktif di kegiatan-kegiatan non akademik. Dalam hal ini fakultas menerbitkan SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah).

    Di sisi lain, Dr. Mugi Harsono, M.Si., Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Kerjasama, Bisnis dan Informasi mengatakan, dalam Program Kampus Merdeka, mahasiswa akan memiliki kemerdekaan untuk belajar di luar kampus, diantaranya adalah pada Program Membangun Desa dan Proyek Kemanusiaan yang aktifitasnya dapat direkognisi kedalam matakuliah.  (Humas)

  • Dekan FEB Beri Motivasi Tendik di Acara Sarasehan

    Dekan FEB Beri Motivasi Tendik di Acara Sarasehan

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Sarasehan Tenaga Kependidikan, Rabu 6 Januari 2021 di Padepokan Aji Tirta Wening (ATW), Boyolali. Kegiatan yang digelar dari pagi hingga sore hari bertema Sarasehan Upgrading Kinerja Tenaga Kependidikan FEB untuk Mendukung PTNBH.

    Sarasehan Tendik yang dihadiri oleh Dekanat dan Para Kaprodi merupakan agenda rutin fakultas yang bertujuan untuk menjalin semangat kekeluargaan di lingkungan FEB UNS.  Kekompakan, kebersamaan dan tanggung jawab bersama yang terbangun akan memacu peningkatan kinerja dan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan FEB.

    Dekan FEB UNS, Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com, (Hons), Ph.D, Ak di awal sambutannya  menyampaikan beberapa hal terkait telah resminya UNS menyandang status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNHBH) sejak 6 Oktober 2020 lalu dengan segala loncatan kerja keras yang harus dijalankan.

    “Dengan status PTNBH, UNS harus bisa masuk ke 500 Top Perguruan Tinggi di dunia, harus ada loncatan yang besar dan ini perlu kerja keras dari seluruh sivitas akademika. Selain itu, tata kelola diefisiensikan. Banyak perubahan di struktur organisasinya, dirampingkan sehingga kinerja lebih efektif” jelasnya.

    Tuntutan ke depan akan lebih keras dan harus bisa dipahami bersama. Dekan mengajak kepada seluruh Tendik untuk selalu guyub rukun, saling membantu, bekerja sama dan punya rasa peduli.

    Sementara itu, Wakil Dekan Riset, Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si menambahkan, PTNBH adalah sebuah prestasi tetapi juga tantangan dan jika bagus akan menjadi reward.

    Dr. Izza menegaskan, dengan status PTNBH, kita harus kerja full power dan itu tidak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak. Ada 4 pelaku utama dalam PTNBH untuk mencapai Indikator Kinerja Utama (IKU) yakni regulator, eksekutor, supporting system dan end user. Sebagai regulatornya adalah 4 pimpinan di universitas yang terdiri dari Majelis Wali Amanah, Senat Akademik, Rektor dan Dewan Profesor.

    “Akan banyak perubahan namun bukan perubahan yang total tetapi memasukkan  unsur-unsur agar kita menjadi Word Class University. Salah satu yang telah diterapkan oleh regulator adalah 8 IKU yang mengkaitkan dari aspek akademik, kemahasiswaan serta dosen, dimana yang dilihat  bukan hanya output, akan tetapi  outcome” urainya.

    Pada tataran Dekanat ke bawah adalah eksekutor sebagai pelaksana regulasi-regulasi yang diterapkan pemerintah.  Dalam SOTK, ada perubahan struktur organisasi yang dipilahkan menjadi akademik dan non akademik sehingga beban kita menjadi cukup berat.

    Selanjutnya,  supporting system, yakni pemerintah,  kalangan usaha, masyarakat menjadi bagian yang sangat penting di PTNBH UNS. Eksekutor harus bisa memberikan layanan prima kepada supporting system. Untuk mendukung hal ini perlu dilakukan pelatihan-pelatihan service excellent, terutama bagi yang berada di garda depan, security, misalnya.

    Pelaku utama lain yang juga penting adalah end user yaitu mahasiswa. Mahasiswa harus diberikan pelayanan yang sama karena penilaian kita salah satunya adalah dari mahasiswa.

    Pengarahan lain untuk memotivasi Tendik juga disampaikan oleh Wakil Dekan Sumber Daya Manusia Keuangan dan Logistik, Dr. Djuminah, M.Si, Ak. serta Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama,  Bisnis dan Informasi, Dr. Mugi Harsono, M.Si.

    Di kegiatan sarasehan tersebut diadakan pula pelepasan Kepala Subbagian FEB,  L. Setyo Budi, S.IP  dan Lidiya Kusuma Dewi, SE untuk bertugas di unit kerja yang baru di UNS.

    Selain bincang santai di Pendopo, acara dimeriahkan dengan  outbond dan lomba masak sate di seputar lingkungan ATW. (Humas)

  • Tendik FEB UNS Ikuti Pelatihan IT

    Tendik FEB UNS Ikuti Pelatihan IT

    Menjelang akhir tahun 2020, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan Pelatihan Information technology  (IT) bagi Tenaga Kependidikan (Tendik), Rabu 30 Desember 2020 di Ruang Laboratorium Komputer FEB.

    Peserta Pelatihan IT Kelompok 1

    Peserta pelatihan dibagi dalam 3 kelompok yakni dasar, menengah dan lanjutan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Pengelompokan ini dimaksudkan  agar pelatihan dapat berjalan lebih efektif.

    Dalam pelatihan ini, tentor berasal dari internal Tendik FEB UNS  yang memiliki keahlian di bidang IT. Ketiga tentor itu yakni Ngadimin, S.Kom.M.Kom, Ardian Oktobrima Hangga Kusuma, S.Pd dan Gigih Fantriko Tri Wibowo, A.Md.

    Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Manusia, Keuangan dan Logistik FEB UNS, Dr. Djuminah, M.Si, Ak dalam sambutannya mengatakan di era digital seperti saat ini, Tendik sebagai bagian dari sivitas akademika harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan yang serba cepat. Tendik dituntut untuk  selalu belajar dan mengasah ilmunya, terutama kemampuan  IT agar dapat memberikan pelayanan yang prima, cepat dan tepat.

    Peserta Pelatihan IT Kelompok 2

    Dr. Djuminah berharap usai pelatihan ini,  Tendik mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diajarkan para tentor di unit kerjanya masing-masing. Dengan keterbatasan waktu pelatihan yang hanya digelar sehari, para peserta dapat menanyakan kembali kepada para tentor apabila masih ada yang belum paham usai pelatihan.

    “Terimakasih saya ucapkan kepada para tentor, para peserta yang berperan aktif hingga terlaksananya pelatihan ini. Pelatihan untuk pengembangan SDM ini akan rutin dilaksanakan fakultas setiap tahunnya dengan menyesuaikan bidang kerja Tendik. Ke depan, pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan akan dikemas kembali agar semakin baik”  jelasnya.

    Peserta Pelatihan IT Kelompok 3

    Selama pelatihan, peserta sangat antusias mengikuti paparan materi dari para tentor. Peserta juga melakukan praktik langsung dengan soal-soal yang diberikan para tentor.

    Ditemui usai pelatihan, Ngadimin, salah satu tentor yang mengajar di kelompok 2 berharap pelatihan-pelatihan seperti ini lebih sering diselenggarakan dan dengan waktu yang lebih lama,  2 hingga 3 hari agar peserta lebih mudah menyerap ilmu yang disampaikan. Sebelum membentuk kelompok pelatihan, ada baiknya peserta diberi kuesioner untuk  dapat mengukur kemampuan dari masing-masing peserta.  (Humas)

  • Undang Praktisi,  Prodi MM Gelar Diskusi Perbankan Pemulihan Ekonomi Di Tengah Pandemi

    Undang Praktisi,  Prodi MM Gelar Diskusi Perbankan Pemulihan Ekonomi Di Tengah Pandemi

    Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) adakan Diskusi Perbankan dan Pemulihan Ekonomi Ditengah Pandemi dengan narasumber Prof. Rofikoh Rokhim, SE, SIP, DEA, Ph. D., Kamis, 3 Desember 2020.

    Dalam presentasinya, Prof. Rofikoh, Dosen FEB Universitas Indonesia yang juga sebagai Komisaris Independen BRI mengatakan dengan adanya Pandemi Covid-19, perbankan menjadi sektor yang juga terpengaruh karena disaat industri berhenti otomatis bank tidak ada pendapatan.

    “Dengan pandemi Covid-19, perbankan termasuk yang terpengaruh. Bank akan melakukan restruksturisasi, meminta penundaan, keringanan bunga,  perpanjangan waktu dan seterusnya.  Kendati demikian,  industri perbankan kita masih positif, wajar dan  sehat” katanya.

    Selanjutnya disampaikannya potret Bank Buku 4 yaitu bank dengan modal paling tinggi dibanding Bank Buku lainnya dengan modal intinya Rp 30 triliun. Per September 2020, Bank Buku 4 assetnya bertambah 14,2%, LOAN meningkat 4,8%, deposit meningkat 19.3 %, NPL  meningkat 3,14 %, dan net profit mengalami penurunan,  -30,2%.

    Bank Buku 2 dan 4 likuiditasnya melimpah, bank tidak kekurangan likuiditas kecuali bank-bank kecil, Bank Buku 1 dan 3. Inilah yang menjadi “pe-er” pemerintah, berdasarkan hasil wawancara meskipun masyarakat mendapatkan bantuan ternyata banyak yang tidak dibelanjakan, namun disimpan di bank untuk berjaga-jaga karena pandemi belum tahu hingga kapan selesainya, sementara untuk keseharian masih ada dana.

    Untuk hal ini, jika ada stimulus baru lagi,   Kementerian Keuangan sudah berencana menerapkan bantuan kemungkinan wujudnya bukan transfer uang tapi barang atau voucher agar masyarakat membeli barang sehingga ekonomi berputar terus. Jika suasana sudah aman, subsidinya pada perjalanan, restoran, bis, harga pesawatnya dan seterusnya.

    Potret perbankan dari sisi Net Interest Margin (NIM) terjadi  penurunan, sebagian besar disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga dan peningkatan biaya provisi, termasuk biaya investasi digitalisasi perbankan. Indonesia, sebelumnya memiliki NIM paling tinggi di dunia, dengan Covid ini terjadi penyesuaian-penyesuaian.

    Lebih lanjut,  biaya operasional semua bank mengalami peningkatan.  Beban operasional industri perbankan terus meningkat karena adanya biaya pencadangan untuk mengantisipasi penurunan kualitas kredit.

    Banyak dukungan pemerintah untuk menanggulangi permasalahan karena Covid-19, begitu Presiden mengumumkam kan adanya Covid, segera direspon oleh OJK mengeluarkan POJK No 11/2020 tentang restrukturisasi bagi UMKM maupun kredit lainnya, lalu muncul Perppu, Permenko, PMK dan PP terkait Covid agar ekonomi jangan terperosok seperti krisis yang terjadi di  1998, minus 13.

    Otoritas Jasa Keuangan akhirnya memperpanjang relaksasi dengan dikeluarkan POJK no  11/POJK.03/2020,  restrukturisasi diperpajang dari semula sampai pada 31 Maret 2021 menjadi 31 Maret 2022, karena pemulihan ekonomi baru tahun depan. Total yang direlaksasi Rp 932,4 triliun kredit untuk 7,53 juta debitur yang menikmati, berlaku bagi Bank Umum Konvesional, Bank Umum Syariah, Unit Syariah, Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah.

    “Bank harus menerapkan manajemen risiko yang baik dalam penerapan stimulus,memastikan adanya kapasitas modal dan likuiditas. Prinsip kehatian-hatian, karena uang negara. Jangan sampai keliru diberikan kepada yang tidak berhak menerimanya” tegasnya.

    Kepada peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa, Prof Rofikoh berpesan agar mahasiswa mengambil peran di masa pandemi, mengambil peluang dengan melakukan riset-riset penelitian, yang selain bermanfaat bagi studinya, juga bermanfaat bagi masyarakat.

    “Banyak sekali ide riset yang bisa dikerjakan mulai dari dampak covid terhadap performa perbankan, tidak hanya keuangan, termasuk bagaimana perbankan menjaga juga resiko, baik resiko pasar atau resiko operasional. Bisa juga yang terkait dengan pencadangan, apakah bank yang pencadangannya semakin besar, apakah semakin kuat atau sebaliknya dan banyak lagi ide lain.

    Banyak jurnal yang menawarkan publikasi yang kaitannya dengan permasalahan Covid, bahkan tidak sulit untuk masuk di jurnal Q1 dan Q2.  (Humas)

  • Pimpinan FEB dan FH UNS Ikuti Sosialisasi 8 Indikator Kinerja Utama

    Pimpinan FEB dan FH UNS Ikuti Sosialisasi 8 Indikator Kinerja Utama

    Pimpinan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret  UNS menghadiri undangan Roadshow Rektor dengan agenda Sosialisasi 8 Indikator Kinerja Utama (IKU)  Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH) UNS yang diselenggarakan di Aula Fakultas Hukum, Senin 21 Desember 2020.

    Rektor di awal roadshow menyampaikan sejak tanggal 6 Oktober 2020 UNS resmi menjadi perguruan tinggi berstatus PTNBH. Setelah jadi PTNBH, ada perubahan struktur dari sebelumnya tapi substansinya tidak banyak berubah.

    Dengan status PTNBH ini, Rektor mengajak semua elemen di UNS untuk memacu pencapaian IKU sebagai indikator peningkatan kualitas kinerja. Pada IKU pertama, persentase lulusan S1 dan Program Diploma yang berhasil mendapat pekerjaan, melanjutkan studi atau wiraswasta dengan penghasilan yang cukup. Indikator ini penting, kita tidak sekedar meluluskan mahasiswa saja. Targetnya 90% dan dapat dibagi pada lulusan yang melanjutkan  studi, mendapat pekerjaan atau wiraswasta.

    IKU yang kedua,  persentase lulusan S1 dan D4/D3/D2 yang menghabiskan paling tidak 20 SKS di luar kampus atau meraih prestasi minimal tingkat nasional. Untuk hal ini, ditargetkan ada 30% yang dibagi ke prodi dan fakultas.

    IKU yang ketiga, persentase dosen yang berkegiatan tri dharma di kampus lain di QS 100 (berdasarkan ilmu), bekerja sebagai praktisi di dunia industri atau membina mahasiswa yang berprestasi paling rendah tingkat nasional  dalam 5 (lima) tahun terakhir. Prosentase diharapkan mencapai 55%.

    IKU yang keempat, persentase dosen tetap berkualifikasi akademik S3, memiliki sertifikasi kompetensi/profesi yang diakui oleh industri atau dunia kerja, atau berasal dari kalangan praktisi profesional, dunia industri dan dunia kerja. Dan IKU kelima, jumlah keluaran penelitian yang berhasil mendapat rekognisi internasional atau diterapkan oleh masyarakat per jumlah dosen.

    Adapun di IKU ke enam, persentase Program Studi S1 dan D4/D3/D2 yang melaksanakan  kerjasama dengan mitra.  Untuk hal ini, harapannya MOU yang sudah ada dibreakdown ke prodi-prodi.

    IKU ke tujuh, persentase program studi S1 dan diploma yang menggunakan metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) atau pembelajaran kelompok berbasis projek (team based project) sebagai sebagian bobot evaluasi. Serta  IKU ke 8,  persentase Prodi S1 dan Diploma yang memiliki akreditasi atau sertifikasi internasional diakui pemerintah.

    Lebih lanjut dikatakan, berbeda saat UNS masih berstatus PTN Badan Layanan Umum (BLU) yang penekanannya pada kompetisi menengah, maka di PTNBH kompetisinya tingkat tinggi, internasional. Seluruh elemen di UNS harus bekerja keras dan berstrategi dalam pencapaian ke delapan IKU yang disyaratkan.

    Rektor juga menambahkan, ada beberapa hal yang mewarnai di tahun 2021. Salah satunya, yang berkaitan dengan eselonisasi. Eselon 3 dan 4 sudah tidak ada karena seluruh pegawai tenaga kependidikan yang saat ini menjabat di eselon 3 dan 4 dialihkan pada jabatan fungsional tertentu dengan diberikan tugas tambahan.

    “Karena PTNBH harus ramping, seluruh pejabat eselon 3 dan 4 kita ubah menjadi tenaga fungsional dengan tambahan tugas sebagai koordinator atau sub koordinator. Sub koordinator terbagi menjadi akademik dan non akademik” ungkapnya.

    Mulai tahun 2021, Rektor juga akan memberikan beberapa insentif kesejahteraan kepada karyawan. (Humas)

  • PDIE FEB UNS Gelar Kuliah Tamu Bersama Prof. Meryem Duygun

    PDIE FEB UNS Gelar Kuliah Tamu Bersama Prof. Meryem Duygun

    Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menyelenggarakan Webinar Digitalizing Finance with Technology: Future Trends and Research pada, Senin, 14 Desember 2020. Webinar dengan narasumber Prof. Meryem Duygun, Aviva Chair Risk in Insurance, Nottingham University Business School, UK tersebut dapat terselenggara dengan dukungan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) Fintech dan Banking.

    Dalam pidato pembukaan, Kepala Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) FEB UNS Prof. Rahmawati mengungkapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terlaksananya webinar tersebut.

    “Terima kasih atas kesediaan Prof. Meryem untuk berbagi ilmu dalam kuliah tamu ini dengan judul Digitalizing Finance with Technology: Future Trends and Research.Terima kasih juga kepada peserta atas antusiasme pada acara ini yang tidak hanya berasal dari PDIE FEB UNS, tetapi juga dari universitas internasional contohnya Malaysia,” ungkapnya.

    Prof. Rahmawati menyatakan bahwa perkembangan teknologi telah mendorong munculnya banyak inovasi di bidang keuangan, sehingga landscape industri finansial telah berubah. Inovasi ini mencakup Peer-to-Peer (P2P) Lending, Digital payment, Crypto-currency, InsurTech, Robo Advisor, dan lain sebagainya. Prof. Meryem Duygun yang merupakan President of IFABS (International Finance and Banking Society) serta editor di berbagai jurnal internasional bereputasi, akan menjadi narasumber yang tepat bagi peserta.

    Terlebih lagi bidang keilmuan Prof. Meryem sangat cocok dengan tujuan dari PDIE untuk mempersiapkan mahasiswanya dalam mengambil/memilih topik riset disertasi. “Kami berharap forum ini akan bermanfaat bagi para peserta dan terima kasih telah berparsipasi dalam kuliah tamu ini,” tutup Prof. Rahmawati.

    Materi Prof. Meryem diawali dengan contoh kondisi saat ini, bagaimana perusahaan asuransi menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mengumpulkan data-data pribadi pelanggan untuk memberikan layanan yang tepat. Hal ini dimungkinkan karena pengguna telah menyetujui bahwa perusahaan asuransi dapat mengakses data yang tersimpan dalam alat elektronik sebagai syarat pemberian premi asuransi yang lebih rendah. Lebih dari 75 persen eksekutif di bidang asuransi percaya bahwa kecerdasan buatan dapat menyebabkan revolusi di bidang industri asuransi.

    “Innovasi melalui teknologi telah menjadi pendorong utama dalam perubahan di sektor keuangan. Akhir-akhir ini, inovasi tersebut terkait dengan perkembangan teknologi yang seringkali dikenal sebagai FinTech, yang merupakan inovasi teknologi yang bertujuan untuk menurunkan biaya transaksi dan mempercepat proses penyediaan jasa,” jelas Prof. Meryem.

    Penggunaan inovasi di bidang asuransi memiliki manfaat dalam meningkatkan efisiensi dan fungsi. Inovasi ini mencakup berbagai hal seperti software, applikasi, startup, produk, dan jasa. Sehingga InsurTech memiliki kebijakan yang sangat terspesialiasi dan menggunakan basis data yang berasal dari peralatan yang terhubung ke internet, sehingga memungkinkan perusahaan untuk menentukan harga premi asuransi yang dinamis.

    Area utama dalam inovasi di bidang asuransi antara lain, model intermediasi dan distribusi, sharing ekonomi dan asuransi, robo advisor dan kecerdasan buatan (AI), serta data aggregation dan analytics. Beberapa contoh perusahaan InsurTech antara lain BIMA, Friendsurance, InsPeer.

    Kondisi asuransi di Indonesia masih rendah karena adanya hambatan seperti literasi asuransi yang rendah dan ketidakpercayaan terhadap insitusi jasa keuangan. Meskipun begitu tetap terdapat kesempatan bagi InsurTech untuk berkembang di Indonesia mengingat besarnya jumlah populasi di Indonesia, komunitas kelas menengah yang terus berkembang, dan berkembangnya ekonomi internet.

    Selanjutnya Prof. Meryem menjelaskan studi-studi yang telah dilakukan di bidang P2P serta riset-riset yang mungkin untuk dilakukan di masa depan terkait InsurTech. Webinar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara Prof. Meryem dengan lebih dari 70 peserta webinar.

    (Aulia/Humas)

  • HMJ Manajemen FEB UNS Gelar Aksi Sosial

    HMJ Manajemen FEB UNS Gelar Aksi Sosial

    Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar Management Care (M-Care) aksi bakti sosial di Panti Jati Adulam Ministry, Pasar Kliwon, Solo pada Sabtu, 5 Desember 2020.

    Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan HMJ Manajemen dengan target masyarakat yang kurang mampu. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kepekaan sosial, kepedulian dan rasa cinta kasih serta saling memiliki antar sesama.

    Aktifitas M-Care diawali dengan menghimpun bantuan dari masyarakat yang mampu dalam bentuk apapun baik uang tunai maupun barang. Untuk selanjutnya, bantuan tersebut disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

    Penghuni panti yang sebagian besar memiliki gangguan mental dan beberapa telah lanjut usia

    M-Care mengajak kepada siapa saja untuk turut serta mengulurkan tangan memberikan bantuan.  Alhamdulillah, sekitar dua pekan kami berhasil menghimpun bantuan dari para donasi bahkan melebihi target yang ditentukan, salah satunya adalah dari komunitas motor FEB UNS, EMC, terimakasih telah mensupport kami” terang Nanda Febrian Adyningsih, Ketua Panitia kegiatan.

    Untuk tahun 2020 ini,  Panti Jati Adulam Ministry menjadi tujuan dari kegiatan M-Care.   Di panti itu, ada sekitar 70 orang yang mengalami gangguan mental dan  10 orang yang lanjut usia.

    Bantuan dalam wujud uang tunai, sembako dan peralatan kebersihan secara simbolis diberikan kepada pengurus panti untuk dapat dimanfaatkan bagi seluruh penghuni panti. Usai menyerahkan bantuan, para mahasiswa juga membantu pengurus menyiapkan makan sore untuk seluruh penghuni panti.  Pengurus panti sangat senang dan berterimakasih atas bantuan yang diberikan para mahasiswa FEB tersebut dan pastinya bantuan itu sangat  bermanfaat.

    Suasana di Sabtu sore itu menjadi momen yang penuh haru membahagiakan bagi penghuni panti.  Anak-anak muda yang memiliki empati berbagi telah hadir ditengah-tengah mereka. (Humas FEB)