FEB

Kategori: fakultas

  • Dekan FEB UNS Ajak Pemerintah Kabupaten Grobogan Gandeng Generasi Milenial untuk Pengembangan Daerah

    Dekan FEB UNS Ajak Pemerintah Kabupaten Grobogan Gandeng Generasi Milenial untuk Pengembangan Daerah

    Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Pertanian, Pariwisata dan Industri Kreatif menjadi topik yang diangkat oleh Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com, Hons, Ph. D, Ak, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret pada Webinar yang diselenggarakan Litbang Bappeda Kabupaten Grobogan, Senin 14 Desember 2020.

    Di awal paparannya Prof. Djoko mengatakan Kabupaten Grobogan dengan jumlah penduduk 1.473.431 orang dan memiliki banyak UMKM serta kawasan yang sangat indah merupakan aset yang berharga, terlebih jika mampu dikembangkan secara optimal. Terutama di masa pandemi, yang harus mampu beradaptasi dengan berbagai kreasi digital.

    “Banyak potensi aset di Grobogan diantaranya Aliran Kali Lusi, Api Abadi Mrapen, Bledug Kuwu, Hutan Jati, Kereta Api, Bukit Kendeng, Gua Macan, hamparan lahan pertanian dan juga kuliner masih perlu dioptimalkan pemanfaatannya untuk lebih mensejahterakan masyarakat dan juga mengangkat nama Grobogan” katanya.

    Hal mendasar yang harus dilakukan pemerintah Kabupaten Grobogan untuk beradaptasi adalah dengan mengelola aset daerah menjadi lebih produktif, mengubah mental birokratis  menjadi jiwa enterpreneur yang berani berfikir dan bertindak kreatif, inovatif dan visioner, penerapan new public management serta memiliki leadership yang kuat.

    Lebih lanjut dikatakan,  pilih leading sector yang bisa mengangkat sektor lainnya, apakah wisata agro atau wisata budaya. Ekonomi kreatif mengikuti leading sector yang dipilih. Paling memungkinkan berdasar kawasan, misalnya Pulokulon yang berkarakteristik pertanian. Kawasan ini bisa didorong memblanded dengan wisata dan diblow-up dengan media digital.

    “Banyak potensi alam di Grobogan yang perlu digarap dengan lebih baik. Tempat-tempat wisata yang menarik bisa dikelola dan dikolaborasikan dengan kegiatan yang menampilkan budaya lokal. Kemudian di setiap event harus diviralkan melalui media sosial untuk menarik pengunjung” tegas Prof. Djoko.

    Pengelolaan aset wisata yang lebih kreatif dan inovatif akan sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar secara keseluruhan. Kegiatan ekonomi pun akan bergulir terus dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat  Grobogan.

    Berulang-ulang Prof. Djoko mengajak kepada peserta webinar untuk berani berfikir out of the box,  harus keluar dari rutinitas, harus memiliki pemikiran yang lebih  kreatif, inovatif dan visioner dan juga perlu menggandeng para anak muda generasi milenial yang memahami teknologi untuk lebih mengangkat nama Grobogan melalui media-media sosial.

    Di akhir paparannya, Prof. Djoko menyampaikan beberapa strategi pengembangan ekonomi kreatif yang bisa dilakukan di Grobogan. Diantaranya dengan mengadakan lomba desa wisata tingkat kecamatan dan kabupaten, berikan reward untuk pemenang lomba desa wisata, viralkan dan gunakan medsos. Dalam hal ini ASN bisa diajak untuk bergerak. Siapkan juga semua keperluan seperti kuliner, souvenir dan sebagainya.

    Selain itu, strategi yang dapat ditempuh untuk pengembangan ekonomi kreatif bisa dilakukan dengan kunjungan kelembagaan secara bergiliran dan selalu kreatif membuat agenda kegiatan, hadirkan pejabat pusat dan orang berpengaruh dan minta dukungannya, ajak komunitas Grobogan yang di luar kota terutama yang sukses untuk berkumpul di desa wisata . (Humas FEB)

     

     

     

  • Workshop Series 4 Grup Riset Applied Microeconomics Bahas Developing Social Economy Index

    Workshop Series 4 Grup Riset Applied Microeconomics Bahas Developing Social Economy Index

    Grup Riset Mikroekonomi Terapan (Applied Microeconomics) kembali mengadakan workshop series ke-4 pada, Selasa, 10 November 2020. Workshop yang dimoderatori oleh Tri Mulyaningsih SE., M.Si., Ph.D., yang juga merupakan Kepala Grup Riset Mikroekonomi Terapan Universitas Sebelas maret (UNS) Surakarta tersebut mengundang Assoc. Prof. Riyana Miranti dari University Canberra Australia sebagai pembicara. Workshop tersebut merupakan bagian dari serangkaian workshop yang diadakan dalam rangka kolaborasi riset antara UNS dan University Canberra Australia.

    Diawal pemaparan materi, Assoc. Prof. Riyana menyampaikan struktur materi yang akan disampaikan yang mencakup pengenalan, kelebihan dan kekurangan dari composite index, langkah-langkah pembuatan index, berbagai pengukuran index (indeks pembangunan manusia-HDI, Child Social Exclusion-CSE, dll), pemanfaatan indeks dalam kebijakan publik, contoh kasus di indonesia.

    “Indikator pengukuran yang sudah ada saat ini tidak cukup untuk menjelaskan tingkat pertumbuhan secara komprehensif. Kebijakan holistik yang mencakup aspek multidimensional dianggap akan lebih berhasil dalam memajukan hak populasi terkait dengan kesetaraan,”jelas Prof. Riyana.

    Indeks sendiri adalah kumpulan dari berbagai indikator pengukuran untuk meringkasnya menjadi sebuah komposite indikator. Indeks tersebut dapat memberikan informasi yang lebih mendalam dibandingkan indikator tunggal, serta dapat menjadi alat yang berguna dalam pembuatan kebijakan. Dari sisi keunggulan indeks, indeks dapat meringkas indikator multidimensional yang rumit, lebih mudah untuk diinterpretasi, dapat dikembangkan seiiring waktu, mengurangi jumlah indikator yang digunakan tanpa mengurasi esensi dari informasi yang terkandung di dalamnya, dapat dipecah menjadi indikator-indikator yang lebih kecil, serta memberikan kesempatan bagi pengguna untuk melakukan uji coba dan perbandingan.

    Disisi lain indeks juga memliki kelemahan seperti ketersediaan data yang mungkin menghambat penyusunan indeks, dimana pengukuran untuk dimensi tertentu yang sulit untuk diukur akan menjadi tidak sesuai/salah ukur, dapat menyebabkan pengambilan kebijakan praktis, serta kesulitan dalam konstruksi indeks yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam interpretasi informasi.

    Setelah menyampaikan pengantar mengenai penyusunan indeks komposit, Dr. Riyana melanjutkan presentasinya mengenai teknik penyusunan indeks di sesi kedua webinar. Teknik penyusunan indeks yang terdiri dari Principle Component Analysis (PCA) dan Factor Anaylisis. Selanjutnya dijelaskan proses penyusunan PCA karena merupakan teknik yang telah digunakan sebelumnya.

    “Masalah yang mungkin muncul dalam mengembangkan indeks di negara berkembang seperti Indonesia antara lain adalah adanya perubahan lingkungan perekonomian, adanya indikator-indikator yang mungkin relevan bagi negara maju namun tidak relevan bagi negara berkembang, ketersediaan data, dan masalah unit georafis yang sesuai dengan kondisi sebuah negara,”ungkap Dr. Riyana diakhir pemaparan materi mengenai kelemahan indeks.

    Aulia/Humas

     

  • Usai Gowes, Rektor Tinjau Studio Pembelajaran dan Fasilitas Lain di FEB UNS

    Usai Gowes, Rektor Tinjau Studio Pembelajaran dan Fasilitas Lain di FEB UNS

    “Gowes Sehat Bebas Emisi”  merupakan agenda rutin Universitas Sebelas Maret (UNS)  setiap Jumat di Minggu pertama pada bulan berjalan dan pelaksanaannya bergilir ke beberapa fakultas. Aktifitas bersepeda berkeliling kampus UNS itu diikuti oleh Pimpinan dan Dharma Wanita UNS.

    Dekan Foto Bersama Dosen dan Tendik FEB UNS

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS pada Jumat, 4 Desember 2020  mendapat kesempatan menjadi tuan rumah gowes. Pimpinan, Dosen dan Tendik FEB UNS pun ikut menyemarakkan kegiatan tersebut, beberapa bergabung bersepeda dengan pimpinan UNS dan lainnya melakukan kegiatan Senam Sehat .

    Usai gowes, diadakan peresmian wall climbing dan lapangan voli FEB UNS. Peresmian dilakukan secara simbolis dengan melepas lebih dari 40 ekor burung yang terbagi dalam 8 sangkar dan diterbangkan oleh Rektor, Ketua Senat, Perwakilan dari Majelis Wali Amanat,  Wakil Rektor, Dekan dan Dharma Wanita UNS. Pelepasan burung dari sangkarnya merupakan wujud kontribusi FEB UNS yang cinta lingkungan dengan mengembalikan burung kembali kealamnya.

    Peresmian wall climbing dan lapangan voli ditandai dengan melepas lebih dari 40 ekor burung

    Atraksi panjat dinding yang dilakukan oleh Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam (MEPA) dan permainan bola voli gabungan antara mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Voli dan pimpinan UNS turut memeriahkan acara.

    Selanjutnya, Rektor dan jajarannya melakukan peninjauan lokasi FEB. Studio Pembelajaran FEB yang berada di Gedung V Lantai III FEB menjadi salah satu ruang yang mengundang banyak perhatian pimpinan UNS. Rektor dan beberapa pimpinan lain mencoba praktek langsung. Studio pembelajaran merupakan fasilitas untuk mendukung proses pembelajaran daring yang bisa dimanfaatkan secara optimal oleh dosen.

    Atraksi panjat dinding Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam

    Selain studio pembelajaran, fasilitas lain yang ditinjau Rektor adalah student lounge, work station, student pantry dan aula pascasarjana serta beberapa ruang kelas yang telah memenuhi standar protokol Covid-19. Selain itu,  Rektor juga meninjau ke area renovasi kantin dan area yang akan dibangun gazebo.

    Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho dalam sambutannya mengapresiasi  FEB UNS yang selalu optimis untuk  menjadi contoh bagi fakultas-fakultas lain dan selalu berkembang untuk menjadi yang terbaik, FEB Jaya, UNS Bisa. (Humas)

  • FEB UNS dan UPN Veteran Jakarta Tanda Tangani Kerjasama Merdeka Belajar Kampus Merdeka

    FEB UNS dan UPN Veteran Jakarta Tanda Tangani Kerjasama Merdeka Belajar Kampus Merdeka

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dan FEB Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta bekerja sama dalam Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

    Naskah kerjasama ditandatangani oleh Dekan FEB UNS, Prof. Djoko Suhardjanto dan Dekan FEB UPN Veteran, Dr. Dianwicaksih Arieftiara, didampingi oleh para Wakil Dekan, Selasa, 1 Desember 2020 di Selasar Gedung 1 FEB UNS.

    Prof. Djoko berharap dengan penandatanganan naskah kerjasama ini, FEB UNS dan UPN bisa berkolaborasi, meng-create kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi pengembangan akademik, terutama dalam MBKM, misalnya dengan Program Bina Desa atau Proyek Kampus Merdeka. (Humas)

  • Program Studi S1 Akuntansi FEB UNS Adakan Visiting Lecturer Bersama Evan Lau

    Program Studi S1 Akuntansi FEB UNS Adakan Visiting Lecturer Bersama Evan Lau

    Program Studi (Prodi) S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan Visiting Lecturer in Methodology of Research dengan pembicara Assoc. Prof. Evan Lau dari Univesiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), Selasa-Rabu (24-25/11/2020).

    Dalam sambutannya,  Agung Nur Probohudono, Ph.D, Kepala Prodi S1 Akuntansi FEB UNS menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Evan yang telah bersedia membagikan pengalaman baru kepada mahasiswa tentang metodologi penelitian.

    “Meskipun dilaksanakan secara virtual,  semoga kondisi saat ini tidak mengurangi nilai dari kuliah tersebut. Metodologi penelitian sangatlah penting mengingat mata kuliah tersebut dapat memberikan pengetahuan mengenai langkah-langkah dan metode yang tepat dalam melaksanakan riset akhir”paparnya.

    Sementara itu.  Prof. Evan kepada mahasiswa yang FEB UNS yang sedang menempuh mata kuliah metodologi penelitian dan beberapa dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menyampaikan berbagai definisi dari penelitian dan alasan mengapa penelitian diperlukan.

    Penelitian adalah proses mencari dan investigasi, untuk mencari ‘truth’ dari sebuah kejadian atau kondisi, yang harus dilakukan sesuai dengan metodologi, sistematis, dan mengikuti kaidah serta etika penelitian,” jelasnya.

    Lebih lanjut dijelaskan secara rinci mengenai aspek-aspek dalam sebuah penelitian, termasuk di dalamnya 3C yaitu concentration, commitment, dan continuity. Sesi pertama ditutup dengan tanya jawab antara pembicara dengan peserta yang berlangsung secara interaktif.

    Prof. Evan juga memaparkan mengenai problem statement atau rumusan masalah yang berhubungan dengan topik penelitian apa yang menarik dan bagaimana mengindentifikasi permasalahan yang bisa menjadi topik penelitian.

    “Dalam memulai penelitian kita harus berangkat dari ketidakpastian, keraguan, pertanyaan, atau permasalahan. Jika sudah ada jawaban dari permasalahan tersebut, jangan lakukan penelitian itu. Atau lakukan pengembangan dari apa yang telah dilakukan di penelitian sebelumnya,”jelasnya.

    Rumusan masalah adalah aspek yang penting karena akan mempengaruhi literatur yang harus direview, hipotesis, data yang dibutuhkan, teknik analisis yang diperlukan, serta pengambilan simpulan yang tepat.

    Sebuah rumusan masalah yang baik akan mencakup beberapa hal diantaranya menjawab pertanyaan yang belum terjawab dalam literatur sebelumnya, mereplikasi penelitian sebelumnya tetapi berfokus pada objek penelitian yang berbeda, dapat memperluas atau memperdalam analisis dari penelitian sebelumnya, dan terkait dengan kondisi praktis di lapangan. Untuk hal ini, Prof. Evan mengajak peserta mencoba brainstorming ide.

    Di hari kedua visiting lecturer dilanjutkan dengan pokok bahasan Research Design. Desain penelitian dapat diartikan sebagai rencana yang dilakukan untuk menjawab rumusan masalah. Desain ini mencakup teknik yang akan digunakan, objek yang akan terlibat dalam penelitian, bagaimana data dikumpulkan, dan bagaimana data dianalisis. Terdapat beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam menentukan desain penelitian antara lain sifat dari rumusan masalah, tujuan penelitian, sumber data yang tersedia, dan disiplin ilmu.

    (Aulia/Humas)

  • Dua Alumni FEB UNS Jadi Narasumber di Webinar Bertema Mempertahankan Kualitas Audit di Masa Pandemi

    Dua Alumni FEB UNS Jadi Narasumber di Webinar Bertema Mempertahankan Kualitas Audit di Masa Pandemi

    Di masa pandemi, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengambil kebijakan membangun tata kelola untuk mengatasi dan mengurai masalah yang kompleks. BPK telah melakukan strategi pemeriksaan yang dilakukan dengan menetapkan alur distribusi kebijakan audit dan kebijakan informasi, penguatan infrastruktur TI untuk auditor, pengaplikasian kertas kerja elektronik, platform internal untuk berbagi file atau file sharing elektronik serta perubahan pada manajemen tim audit.

    Pernyataan itu disampaikan Mohamad Iqbal Arruzi, MBIT., Ak.,CA.,Ph.D., alumni FEB UNS yang saat ini berprofesi sebagai Auditor BPK RI.  Iqbal menjadi salah satu narasumber pada Kuliah Umum bertema Mempertahankan Kualitas Audit di Masa Pandemi yang diselenggarakan oleh Program Studi S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Rabu, 18 November 2020.

    Mohamad Iqbal Arruzi, MBIT., Ak.,CA.,Ph.D., Auditor BPK RI

    Selanjutnya dikatakan, BPK telah menerapkan Remote Audit atau virtual audit sebagai solusi, yakni metode audit secara online dengan  memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, dengan analisa data untuk menilai keakuratan data keuangan dan kontrol internal, mengumpulkan bukti elektronik dan berinteraksi dengan klien.

    Keunggulan remote audit mengurangi  biaya perjalanan, meningkatkan ketersediaan kelompok auditor, memperluas cakupan audit, peningkatan hasil reviu dokumen, peningkatan penggunaan teknologi yang ada dapat memperkuat dokumentasi dan pelaporan, beban audit terhadap fasilitas operasional dapat dimitigasi.

    Namun demikian, ada hambatan dalam melakukan virtual audit yakni terkait dengan proses mendapatkan bukti audit, penerapan Teknik audit, keterbatasan mobilitas dan interaksi auditor dengan semua pihak terkait pemeriksaan menjadi sangat terbatas.

    Menurutnya, kesuksesan remote audit adalah kesiapan sarana teknologi, kemampuan SDM, baik dari sisi institusi pemeriksaan maupun pihak yang diperiksa seperti pemerintah dan pemerintah daerah.

    Pemateri kedua, Budi Santoso, SE, Ak., MFA., CA., CPA., CFE, Director PwC South East Asia Consulting yang juga alumni FEB UNS menegaskan bahwa perubahan pendekatan dan metodologi audit akibat pandemi covid 19 memerlukan respon yang cepat dimana transformasi digital menuntut sumber daya manusia memiliki kemampuan yang mahir dalam mengoperasikan software audit.

    Budi Santoso, SE, Ak., MFA., CA., CPA., CFE, Director PwC South East Asia Consulting

    “Muncul beberapa tantangan yang dialami auditor di masa pandemi saat ini, antara lain identifikasi fisik, risiko fraud yang muncul, komitmen dan moral, dan skeptisme auditor” katanya.

    Selanjutnya dikatakan audit harus memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan juga harus meningkatkan efisiensi, relativitas, kepercayaan dalam suatu perusahaan.

    Ada 6 poin cara mempertahankan kualitas audit yakni mencari SDM yang mahir dalam menggunakan teknologi, seperti data analytics, merencanakan dan melaksanakan metodelogi audit pada software yang terhubung dengan setiap auditor, pelaksanaan quality control, berkala diskusi antar tim, komunikasi secara berkala dengan klien serta menjaga keamanan data auditor dan klien. (Humas)

  • Kuliah Umum Prodi Akuntansi Angkat Tema Peran Pajak Sebagai Instrumen Pemulihan Ekonomi Nasional di Tengah Pandemi Covid 19

    Kuliah Umum Prodi Akuntansi Angkat Tema Peran Pajak Sebagai Instrumen Pemulihan Ekonomi Nasional di Tengah Pandemi Covid 19

    Program Studi S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Kuliah Umum Perpajakan bertema Peran Pajak Sebagai Instrumen Pemulihan Ekonomi Nasional di Tengah Pandemi Covid 19, Selasa, 17 November 2020.

    Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 200 mahasiswa itu menghadirkan narasumber Hersona Bangun, S.H., S.E., Ak., BKP., CA., M.Ak., CLA., Kuasa Hukum Pajak dan juga Dosen Praktisi.

    Di awal paparannya, Hersona mengatakan Covid 19 mempengaruhi kondisi ekonomi nasional Indonesia terutama terkait dengan penurunan penerimaan pajak. Padahal pajak memiliki peran

    Tax revenue sampai dengan akhir Agustus 2020, terjadi penurunan penerimaan pajak sekitar 15,6%, dari 1.577,6 triliun menjadi 1.198,8 triliun, dan realisasinya menurun menjadi 676,9 triliun, sebelumnya 802,5 triliun. Sedangkan pemanfaatan insentif pajak meningkat dan terjadi pertumbuhan pendapatan bea cukai dan cukai mencapai 1,83%.

    Hersona Bangun, S.H., S.E., Ak., BKP., CA., M.Ak., CLA., Kuasa Hukum Pajak dan juga Dosen Praktisi.

    Selanjutnya dikatakan, pemerintah telah menetapkan beberapa kebijakan perpajakan seperti misalnya insentif pajak untuk sektor bisnis yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan juga agar pelaku usaha tetap dapat survive dan bangkit dalam menjalankan aktivitas bisnisnya.

    Insentif yang diberikan pemerintah kepada wajib pajak antara lain pembebasan pajak, penurunan tarif pajak, perpanjangan waktu kompensasi kerugian, percepatan penyusutan atau amortisasi.

    Pajak sebagai salah satu instrumen pemulihan ekonomi nasional di tengah covid ini membutuhkan peran banyak pihak. Akademisi maupun praktisi untuk mensosialisasikan kebijakan perpajakan, salah satunya adalah terkait dengan insentif pajak terutama pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) karena UMKM merupakan penyumbang terbesar dalam PDB.

    Peran kita adalah bagaimana kita mensosialisasikan, mengedukasi, dan mendampingi pelaku usaha mengenai kebijakan insentif pajak untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Dan para wajib pajak juga harus benar-benar mengetahui apa saja persyaratan dan ketentuan yang mengatur untuk memperoleh insentif tersebut.

    “Banyak wajib banyak terutama UMKM yang tidak memanfaatkan insentif perpajakan dan peran Bapak Ibu Dosen, mahasiswa, dan juga praktisi bersama-sama untuk mensosialisasikannya. Dan perlu diketahui juga setiap insentif yang diberikan pemerintah pasti ada bentuk pengawasan yang dilakukan. Tidak serta merta insentif yang diberikan dilepaskan begitu saja tanpa ada pengawasan” tegasnya.

    Diakhir forum, Hersona berharap para dosen, praktisi maupun mahasiswa bisa mengambil isu-isu strategis lain di masa pandemi ini untuk dijadikan rekomendasi atau masukan kepada Direktur Jenderal Pajak  (Humas).

  • Webinar Prodi Manajemen FEB UNS Bahas Managing Organizational Change: Digital Transformation

    Webinar Prodi Manajemen FEB UNS Bahas Managing Organizational Change: Digital Transformation

    Managing Organizational Change: Digital Transformation menjadi tema yang diangkat dalam webinar Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis, 5 November 2020.

    Webinar tersebut diadakan sebagai bagian dari World Class University Program UNS, dan bekerja sama dengan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) Fintech dan Banking (UNS Fintech Center).

    Tiga pembicara diundang dalam acara itu yakni Prof. Gerald C. (Jerry) Kane, dari Carroll School of Management, Boston College Amerika Serikat, Profesor di bidang sistem informasi, sekaligus Direktur dari Edmund H. Shea, Jr. Center for Entrepreneurship Boston College, Soelistiyo Rudi Sanjaya, VP Jenius Consumer Product Lead, Bank BTPN, serta Dr. Sinto Sunaryo dari FEB UNS.

    Dalam materi berjudul ‘The Technology Fallacy: How People Are the Real Key to Digital Transformation (especially during COVID)’, Prof. Kane mengatakan,  menurut hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat akselerasi bisnis yang sangat cepat bersamaan dengan hardirnya Covid-19. Kita melihat transformasi yang dalam kondisi normal terjadi dalam kurun waktu 5 tahun, menjadi 5 bulan.

    Lebih lanjut, penulis buku berjudul The Technology Fallacy itu menyebutkan bahwa semua pihak mengetahui terjadinya transformasi teknologi, akan tetapi perusahaan tidak melakukan cukup usaha untuk menghadapinya, hal ini dikenal sebagai ‘the knowing doing gap‘. Terkait hal tersebut terdapat tiga tantangan yang dihadapi perusahaan dengan munculnya trend digital antara lain masalah internal, lingkugan pasar, dan tekanan kompetisi.

    “Kondisi saat ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk mengetahui apakah teknologi digital yang kita miliki sudah robust untuk menghadapi perubahan besar. Saya mendorong setiap orang untuk memiliki growth mindset, bahwa anda dan perusahaan anda dapat bergerak maju untuk menyongsong perubahan digital,” ungkapnya saat menutup presentasi.

    Pembicara kedua Soelistiyo Rudi Sanjaya, menyampaikan bagaimana ‘Jenius’ yang merupakan produk digital banking pertama di Indonesia berusaha untuk melakukan Transformasi di Indonesia. Langkah-langkah yang dilakukan Jenius dalam hal jasa perbankan melalui desain co-create (consumer centric), fitur yang ditawarkan oleh Jenius berasal dari co-create sehingga bisa memenuhi kebutuhan pengguna.

    Selain itu karena berfokus pada kebutuhan konsumen, Jenius selalu mendengarkan keinginan dan kebutuhan pengguna, hal ini berbeda dengan perbankan tradisional dimana penyedia jasa perbankan seringkali tidak mengetahui kebutuhan dari pengguna.

    Dari keterlibatan pengguna dalam pengembangan produk, Jenius memperkenalkan produk terbaru bernama Moneytory yang merupakan aplikasi terintegrasi, dapat digunakan untuk melakukan manajemen keuangan. Saat in jenius memiliki 2.7 juta pengguna yang tersebar di 514 kota dari Sabang sampai Merauke.

    Pembicara terakhir yaitu Dr. Sinto Sunaryo menyampaikan materi mengenai ‘Managing Readiness for Change’, yang diawali dengan pembahasan 8 tahap perubahan berdasarkan Kotter’s model yaitu: munculnya kondisi yang mendesak, penciptaan koalisi, penciptaan visi, komunikasi visi, eliminasi hambatan, pencapaian prestasi jangka pendek, menumbuhkan perubahan, dan menetapkan perubahan. Mengelola kesiapan berubah adalah tanggung jawab semua anggota organisasi.

    “Sangatlah penting bagi organisasi, khususnya pemimpin untuk memperhatikan kesiapan organisasi dalam menghadapi perubahan serta 4 aspek perubahan yang dibutuhkan guna mencapai perubahan yang sukses,” ungkapnya.

    Empat aspek perubahan yang dimaksud merujuk pada 4 kondisi dimana seseorang akan bersedia merubah pola pikir dan perilakunya, antara lain mendorong pemahaman dan keyakinan, penguatan melalui mekanisme formal, pengembangan bakat dan skills, serta role model.

    Dr. Sinto percaya bahwa perubahan adalah sesuatu yang penting untuk bertahan hidup, sehingga ia yakin bahwa organisasi harus bekerja sama untuk menghadapi perubahan dan mengubah tantangan dalam perubahan menjadi sebuah kesuksesan dan mendapatkan manfaat dari perubahan tersebut. (Aulia/Humas)

  • Grup Riset Ekonomi Mikro Terapan FEB UNS Gelar Workshop Kolaborasi Bersama University of Canberra

    Grup Riset Ekonomi Mikro Terapan FEB UNS Gelar Workshop Kolaborasi Bersama University of Canberra

    Grup Riset Ekonomi Mikro Terapan (Applied Microeconomics Research Group) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Workshop dengan tema “Health Economic and its Application to Health”, Selasa, 3 November 2020.

    Workshop yang dibuka oleh Tri Mulyaningsih, Ph.D. ini merupakan kali ketiga dari serangkaian workshop yang diadakan oleh Grup Riset Ekonomi Mikro Terapan dalam rangka riset kolaborasi internasional antara UNS dengan University of Canberra, Australia.

    Selama hampir 3 jam, narasumber workshop, Dr. Itismita Mohanty dari University of Canberra berbagi pengetahuan di bidang Ekonomi Kesehatan.

    Diawal presentasi, Dr. Itismita menjelaskan mengenai tujuan dari pembelajaran yang akan diberikan yaitu untuk memberikan pemahaman mengenai konsep dan prinsip ekonomi dalam mengelola jasa kesehatan (health care). Mencakup bagaimana ilmu ekonomi dapat membantu memahami proses penyediaan jasa kesehatan, membantu pengelola jasa kesehatan dalam mengambil keputusan, alokasi sumberdaya, peran pemerintah di sektor kesehatan, dan pengeluaran serta penganggaran keuangan di bidang jasa keuangan.

    Narasumber, Dr. Itismita Mohanty dan peserta workshop

    “Ilmu ekonomi tidak hanya mengulas tentang keuangan dan praktik yang dilakukan oleh para ekonom. Ilmu eknomi juga berusaha menjelaskan mengenai bagaimana memahami pilihan yang ada, keuntungan, biaya atau pengorbanan, serta efisiensi,”

    Ekonomi kesehatan (health economics) adalah aplikasi dari teori ekonomi, model, dan teknik empiris dalam analisa pengambilan keputusan individu, penyedia jasa kesehatan dan pemerintah, yang terkait dengan bidang kesehatan dan jasa kesehatan. Akan tetapi ekonomi kesehatan tidak hanya berfokus pada usaha untuk mengurangi biaya, akan tetapi juga berfokus pada efisiensi dan kesetaraan dalam alokasi modal dalam kaitannya dengan manajemen jasa kesehatan. (Aulia/Humas)

  • Grup Riset FEB Hadirkan Profesor Bidang Keuangan dari University of New Orleans dalam  Online Guest Lecture

    Grup Riset FEB Hadirkan Profesor Bidang Keuangan dari University of New Orleans dalam  Online Guest Lecture

    Grup Riset Institusi dan Pasar Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan UNS Fintech Center mengadakan Kuliah Umum Tamu pada Sabtu, 31 Oktober 2020.

    Acara yang dibuka oleh Dr. Irwan Trinugroho, Kepala UNS Fintech Center menghadirkan Prof. M. Kabir Hassan, dari University of New Orleans, Amerika Serikat.

    Prof. Hassan adalah Professor di bidang keuangan dari Universtiy of New Orleans, ahli terkemuka di bidang Keuangan Islam (Islamic Finance). Lebih dari 350 artikel ilmiah telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi.

    Dalam paparan materinya, Prof. Hassan membagi dalam dua bagian. Di bagian pertama disampaikan dasar teoretikal dari keuangan Islam dengan judul “Convergence of SRI, Impact Investing, and Islamic Finance”, berikutnya membedah risetnya di bidang ESG dan Islamic Finance.

    “Keuangan pada awalnya dibentuk untuk mendukung ekonomi riil, untuk mengalokasikan dan mengarahkan sumberdaya keuangan. Sayangnya, di kala krisis, sektor keuangan menjadi sebuah tujuan  akhir, yang seharusnya mendukung pertumbuhan ekonomi menjadi sumber pertumbuhan keuangan. Pada akhirnya finance menjadi sumber ketidakstabilan, yang awalnya berfokus pada pembentukan nilai long-term value creation menjadi short time returns,” ungkapnya.

    Selanjutnya, disampaikan poin-poin persamaan antara ethical finance dan Islamic finance yang berfokus untuk memberikan nilai ke sektor ekonomi. Hal ini sejalan dengan nilai Islamic finance yang berfokus pada penciptaan nilai ekonomi riil. Dalam hal pertumbuhan keuangan Islam, sektor yang tumbuh paling pesat adalah perbankan, pasar modal Islam, dan takaful.

    Indonesia dan Malaysia memegang peran penting dalam hal penerbitan Sukuk, kedua negara tersebut berkontribusi pada 80% penerbitan Sukuk di seluruh dunia.

    “Indonesia merupakan pemain penting dibidang keuangan Islam saat ini, dan yang menarik adalah Pemerintah Indonesia mendukung ekonomi Islam,” jelas Prof. Hassan.

    Selain membahas perkembangan keuangan Islam, Prof. Hassan juga menyinggung mengenai pendidikan yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan ekonomi dan keuangan Islam. Menurutnya, sebuah kurikulum baru dibutuhkan agar mahasiswa yang mempelajari tentang keuangan Islam.

    Diakhir acara, Prof. Hassan mengungkapkan harapannya, akan ada lebih banyak orang yang  menyadari nilai-nilai yang dibawa oleh Islamic finance. (Aulia/Humas)