FEB

Kategori: s2_mm

  • Pelatihan Brevet Pajak yang Digelar FEB UNS Semakin Banyak Diminati

    Pelatihan Brevet Pajak yang Digelar FEB UNS Semakin Banyak Diminati

    Sebanyak 42 peserta mengikuti Pelatihan Brevet A dan B  yang diadakan oleh  Divisi Pengembangan Kerjasama Ekonomi dan Akuntansi (DPKEA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS).

    Kegiatan berlangsung secara daring sejak 22 Februari 2021 dan akan berakhir hingga 16 April 2021 mendatang. Pelatihan ada 36 sesi,  terdiri dari 26 sesi materi dan 9 kali ujian.

    Setianingtyas Honggowati, MM, Ak, Ketua DPKEA FEB menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan keahlian dalam bidang perpajakan yang komprehensif  dan terbaru. Selain itu, juga memberikan keahlian dan keterampilan mengenai perencanaan, perhitungan dan pelaporan pajak sehingga bermanfaat baik individu, institusi ataupun perusahaan.

    Peserta pelatihan sebagian besar adalah mahasiswa aktif yang ada di Solo Raya. Selebihnya adalah fresh graduate, para pegawai di BUMN, advokat serta wiraswasta. Adapun untuk instrukturnya terdiri atas dosen UNS, konsultan pajak dan pegawai kantor wilayah DJP Jawa Tengah.

    Menurut Dr. Setianingtyas, antusias  peserta brevet semakin meningkat setiap periodenya. Bahkan ketika kegiatan sudah berlangsung pun masih ada yang menginginkan untuk mengikuti, dan akhirnya didaftarkan untuk angkatan berikutnya.

    “Kami sangat senang karena pelatihan brevet ini ternyata cukup banyak diminati. Bagi yang tidak bisa mengikuti karena keterlambatan mendaftar, kami ikutkan pada pelatihan berikutnya” katanya.

    Setiap periode pelatihan, DPKEA melakukan evaluasi untuk perbaikan, termasuk dari sisi instrukturnya. Agar paparannya lebih berkualitas dan mengena, di pelatihan ini, hampir separuhnya instruktur adalah dari konsultan pajak. (Humas FEB)

  • Webinar MESP Bahas Digitalisasi dan Inklusi Keuangan

    Webinar MESP Bahas Digitalisasi dan Inklusi Keuangan

    Tugas Bank Indonesia selain menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga stabilitas sistem keuangan melalui kebijakan makroprudential yang efektif, juga mengembangkan ekonomi dan keuangan digital.

    Hal itu disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI),  Doni P Juwono, SE, M.Si dalam webinar yang diselenggarakan Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Senin,  15 Maret 2021.

    Selanjutnya disampaikan, BI telah menerbitkan Blue Print Sistem Pembayaran Indonesia (BPSPI) 2025 untuk menyikapi perkembangan digital yang sangat cepat  diantaranya integrasi ekonomi- keuangan digital nasional sehingga menjamin fungsi bank dalam mendorong inklusi keuangan. Digitalisasi perbankan juga dilakukan melalui open banking maupun pemanfaatan teknologi digital dan data dalam bisnis keungan. Dan interlink antara fintech dengan perbankan untuk menghindari shadow – banking melalui pengaturan teknologi digital seperti API, kerjasama binis maupun kepemilikan perusahaan.

    “Kita perlu untuk melakukan reborn karena inovasi digital itu sangat cepat.  Bank Indonesia juga ikut mendorong terciptanya ekonomi keuangan digital, tidak hanya di financing, di payment dan di lending, tapi juga disektor riil. Mari kita bersama membangun ekonomi keuangan digital untuk membantu pemulihan ekonomi nasional” paparnya.

    Deputi Gubernur BI,  Doni P Juwono Paparkan Implikasi Digitalisasi Keuangan terhadap Perekonomian Indonesia

    Sementara itu, narasumber lain, Prof. Izza Mafruhah, SE, M.Si., Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyampaikan Implementasi Pemanfaatan Inklusi Keuangan pada Masyarakat yang Rentan.

    Diawal dijelaskan, inklusi keuangan merupakan upaya mengurangi segala hambatan baik yang bersifat harga maupun non harga  terhadap akses masyarakat untuk mendapatkan layanan jasa keuangan, termasuk hambatan geografis dan administratif. Di beberapa wilayah, masalah administrasi masih jadi kendala. Belum semua masyarakat memiliki KTP sehingga untuk masuk ke lembaga perbankan secara formal masih jadi kendala. Di banyak wilayah  juga masih menjadi kendala  dari aspek komunikasi.

    Merupakan bentuk strategi nasional keuangan inklusif yaitu hak setiap orang untuk memiliki akses dan layanan penuh dari lembaga keuangan secara  tepat waktu, nyaman, informatif, terjangkau biayanya egan penghormatan penuh kepada harakat dan martabat.

    Selanjutnya dikatakan, berdasarkan data Financial Index dari  World Bank pada tahun 2011, masyarakat Indonesia dewasa yang mempunyai akun bank masih sekitar 20% dan pada tahun 2014 meningkat sekitar 30-an%.  Hal ini menunjukkan, belum banyak masyarakat Indonesia yang melek perbankan.

    Prof. Izza Mafruhah Mengangkat Inklusi Keuangan pada Masyarakat Rentan

    Masyarakat yang  memanfaatkan perbankan baru sebagian kecil saja dan berada di area perkotaan. Sedangkan untuk masyarakat yang rentan, yang  berada di  wilayah-wilayah kecil,  yang terpelosok atau area perbatasan, masih banyak yang belum memanfaatkan.

    Keuntungan keuangan inklusi adalah terjadi efisiensi ekonomi. Dengan masuknya masyarakat pada lembaga keuangan perbankan, efisiensi ekonomi akan terjadi, masyarakat akan menabung dan memanfaatkan kredit. (Humas FEB)

  • FEB UNS Sambut Mahasiswa Baru Pascasarjana

    FEB UNS Sambut Mahasiswa Baru Pascasarjana

    Mahasiswa baru pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)  Universitas Sebelas Maret (UNS),  baik S2 maupun S3 harus memiliki komitmen untuk berproses menjadi output yang terbaik.

    Pernyataan itu disampaikan  Prof . Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si,  Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan FEB UNS saat mewakili sambutan Dekan di Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa baru (PKKMB), Jumat 12 Maret 2021.

    Prof. Izza yakin, mahasiswa baru Pascasarjana FEB yang jumlahnya lebih dari 90 orang itu, dari Program Studi (Prodi) Magister Akuntansi, Magister Manajemen, Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan dan Program Doktor Ilmu Ekonomi merupakan mahasiswa terbaik.

    Prof . Dr. Izza Mafruhah, Saat Memberikan Sambutan

    “Harapan kami,  kita bisa berjalan sinergi, inputnya luar biasa,  karena sudah melalui seleksi Tes Potensi Akademik,  tes bidang, bahasa inggris dan wawancara. Dalam proses pembelajaran pun kita berikan yang terbaik, kita memiliki SDM yang unggul, tenaga pengajar bergelar doktor dan profesor. Dan dari aspek fasilitas, laboratorium dan kerjasama juga kita siapkan. Namun,  itu semua tidak akan ada artinya jika mahasiswa tidak belajar keras” tegasnya .

    Dikatakannya, secara teknis dan non teknis harus siap. Kuliah S2 dan S3 bukan lagi masalah  kompetensi tapi kaitannya dengan waktu, motivasi, pekerjaan yang selama ini sudah dilakukan. Proses yang disediakan di internal di FEB tidak cukup, mahasiswa juga harus  ikut berproses. Untuk mahasiswa PDIE, target kelulusan  3 tahun atau 4 tahun sedangkan bagi S2 harapannya lulus 1,5 tahun hingga 2 tahun, jangan sampai lebih karena akan merugikan baik dari mahasiswa maupun kampus.

    Hal penting lain yang cukup berat bagi mahasiswa pascasarjana adalah  saat mengerjakan tesis dan disertasi serta syarat-syarat pendukungya. Dalam hal ini, para kaprodi telah menyiapkan untuk membantu para mahasiswa, dengan memberikan pembimbing tesis atau disertasi yang kompeten. Harapannya mahasiswa dapat lulus tepat waktu.

    Di acara PKKMB itu,  juga disampaikan arahan dari Wakil Dekan Sumber Daya Manusia, Keuangan  dan Logistik, Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi, serta Sub Koordinator Akademik.

    Di sesi akhir, para mahasiswa memasuki ruang zoom di prodi masing-masing untuk mendapatkan pengarahan langsung dari para kaprodi, baik tentang kurikulum, aturan akademik dan strategi belajar agar bisa lulus tepat waktu. (Humas FEB)

  • FEB UNS Siapkan Pengembangan Laboratorium Menuju Revenue Generating

    FEB UNS Siapkan Pengembangan Laboratorium Menuju Revenue Generating

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Workshop Pengembangan Laboratorium FEB UNS Menuju Revenue Generating, Selasa, 16 Maret 2021 di UNS Inn.

    Workshop yang dihadiri oleh Dekanat, Kepala Program Studi, Kepala Unit dan Laboratorium FEB UNS itu menghadirkan praktisi sebagai narasumber, Ir. H. Utomo Putro, MM, Direktur PT. Intan Pariwara dan M. Wira Adibrata , Kepala BEI Jawa Tengah II.

    Praktisi dari PT Intan Pariwara dan BEI

    Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com (Hons), Ph.D, Ak, dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan ini sebagai salah satu upaya FEB dalam melaksanakan program Kampus Merdeka Merdeka Belajar (KMMB).  Terlebih, berubahnya status UNS sebagai Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH) sejak 6 Oktober 2020 lalu, menuntut Sivitas Akademika UNS untuk bergerak lebih cepat.

    “Perguruan tinggi harus menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan industri (DUDI) untuk mempercepat pengembangan kampus, diantaranya adalah dengan mengundang  para praktisi menjadi narasumber. Selain itu, praktisi juga ikut dilibatkan dalam mengajar, menggembleng para mahasiswa di kampus agar mengetahui langsung dunia kerja sesungguhnya sehingga mahasiswa akan siap berkompetisi di dunia kerja. ” paparnya.

    Prof. Djoko Suhardjanto Saat Memberikan Sambutan.

    Di KMMB, masih banyak  hal yang bisa kita kerjakan bersama antara DUDI dengan kampus agar ada link and match. Diantaranya, mahasiswa selain beraktifitas dikampus juga berhak beraktifitas di luar kampus dan akan dihitung dalam sks matakuliah, salah satunya adalah magang kerja di industri.

    Setelah paparan narasumber dari Direktur PT. Intan Pariwara dan Kepala BEI Jawa Tengah II serta  diskusi, acara dilanjutkan dengan Diskusi Internal Pengembangan Laboratorium dengan pemantik diskusi, Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan, Prof, Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si dan Dr. Mugi Harsono, SE, M.Si.,

    Penandatanganan Naskah Kerjasama antara FEB dan PT. Intan Pariwara

    Di acara yang digelar dari pagi hingga siang itu, diadakan juga Penandatanganan Naskah Kerjasama FEB UNS dan PT Intan Pariwara. Salah satu wujud kerjasama yang telah dilakukan adalah dengan terselenggaranya kegiatan  Ujian Seleksi Program Management Trainee (MT) PT Intan Pariwara beberapa waktu lalu yang diikuti oleh 54 alumni FEB UNS. (Humas FEB)

  • Pengurus BEM, Dema dan Ormawa FEB Ikuti Sosialisasi Anggaran dan SPJ

    Pengurus BEM, Dema dan Ormawa FEB Ikuti Sosialisasi Anggaran dan SPJ

    Beralihnya status UNS dari Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) serta keberadaan UNS  di klaster 1 perguruan tinggi di Indonesia, maka  peran dan aktifitas kemahasiswaan menjadi lebih besar. Mahasiswa kita dorong agar aktif berpartisipasi dalam berbagai macam aktifitas dan kegiatan sehingga bisa meningkatkan prestasi di level nasional maupun internasional.

    Pernyataan itu disampaikan  Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si., Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) saat memberikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi dan Informasi Anggaran dan SPJ bagi Pengurus BEM, Dema dan Ormawa yang digelar Senin, 1 Maret 2021 secara daring.

    Selanjutnya Prof. Izza mengatakan, Pimpinan FEB, mulai dari Dekanat, Kaprodi dan pengelola lainnya serta dosen akan selalu mendukung aktifitas positif yang dilakukan oleh mahasiswa. Selain ikut secara aktif,  hal penting yang juga harus dilakukan mahasiswa di setiap aktifitas yang dilaksanakannya adalah mahasiswa harus mempertanggungjawabkan kegiatannya dalam wujud kelengkapan administrasi pelaporan.

    “Setiap aktifitas yang dilakukan mahasiswa harus Success,  Clear dan Clean (SCC). Aktifitas yang dilakukan harus meliputi 3 hal itu” kata Prof. Izza.

    Success, kegiatan yang dihelat oleh mahasiswa secara substansi harus sukses, baik yang bersifat internal antar mahasiswa di lingkungan FEB, ataupun aktifitas-aktifitas yang bersifat eksternal di level nasional  maupun internasional. Fakultas menyediakan  pembimbing agar mahasiswa bisa berkonsultasi terkait dengan kegiatan yang diikutinya agar berjalan dengan lancar.

    Clear, setiap aktifitas yang dilakukan mahasiswa harus bersih, artinya harus jelas sebelum dan juga sesudahnya. Apakah mendapatkan pendanaan dari fakultas, atau dari sponsor. Apakah akan menarik pembiayaan dari peserta dan sebagainya.

    Clean, setiap kali aktifitas yang telah dilakukan baik dari perencanaan, pelaksanaan maupun pertanggungjawabannya harus bersih, tidak meninggalkan sumbatan-sumbatan. Pertanggungjawaban dalam bentuk pelaporan kegiatan harus diselesaikan juga.

    Arahan juga disampaikan oleh Ketua Perencanaan dan Pengembangan FEB UNS Drs. Supriyono, M.Si.  Dan sesi pelatihan dipandu oleh Koordinator Tata Usaha, Tunggul Ardhi, S.Si. serta Christina Yulia Puspita Dewanti, S.IP., Bendahara FEB UNS. (Humas FEB)

  • FEB Bertambah Dua Profesor Baru

    FEB Bertambah Dua Profesor Baru

    Dua guru besar baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS),  Prof. Dr. Bandi, M.Si., Ak. dan Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si.yang telah dikukuhkan bersama dengan tiga  guru besar dari Fakultas Pertanian  dan satu dari Fakultas Teknik pada Selasa, 9 Maret 2021  merupakan kado terindah bagi UNS saat merayakan Dies Natalisnya yang  ke-45.

    Prof. Bandi merupakan guru besar bidang Ilmu Akuntansi dari Prodi Akuntansi FEB, saat ini  menjabat sebagai Wakil Rektor  Bidang Umum dan Sumber Daya Manusia UNS. Di pengukuhan, Prof. Bandi menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul Kejujuran dalam Pelaporan untuk Meningkatkan Kepercayaan Pengguna pada Laporan Keuangan.

    Prof. Bandi saat menyampaikan pidato pengukuhan guru besar

    Sedangkan Prof. Izza merupakan guru besar Bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan dari Prodi Ekonomi Pembangunan, saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan FEB UNS. Di pengukuhan, Prof. Izza menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul Implementasi Financial Inclusion bagi Pekerja Migrant Indonesia,  Best Practice Teori Permanen Income Life Cycle Hypothesis.

    Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho dalam sambutannya sangat bangga dengan hadirnya 6 profesor baru di UNS. Selamat bergabung kepada 6 guru besar baru dalam keanggotaan dewan professor. Kehadirannya akan meningkatkan reputasi akademik UNS,  khususnya di dalam bidang riset dan inovasi.

    “Peristiwa ini patut dicatat dalam sejarah UNS karena baru kali pertama UNS menyelenggarakan pengukuhan guru besar yang jumlahnya 6. Suatu jumlah yang tidak biasanya, biasanya 1, 2 atau 3  ini adalah kado indah untuk Dies natalis ke-45 UNS. Dengan bertambahnya 6 guru besar baru maka jumlah seluruh guru besar di UNS adalah 235 orang dan 131 diantaranya adalah  guru besar aktif” paparnya.

    Prof. Izza saat menyampaikan pidato pengukuhan guru besar

    Meskipun diakui dengan bertambahnya 6 guru besar, sejatinya  belum mencukupi kebutuhan yang ideal, tapi setidaknya mampu mendorong dosen  lain untuk dapat diusulkan kenaikan jenjang akademik tertinggi yaitu guru besar.

    Rektor mengajak kepada  6 guru besar agar lebih produktif melakukan riset,  menulis buku dan melakukan publikasi pada jurnal internasional serta menghasilkan karya inovatif apalagi di 2021 itu Kementerian Riset dan Teknologi atau  Badan Riset Nasional Inovasi Indonesia telah mengusulkan dana unggulan untuk 12 PTNBH yang nilainya 399,3 Miliar. Ini adalah  kesempatan yang baik sekaligus sebagai  ajang pembuktian bagi kita untuk menunjukkan klaster riset dan inovasi UNS  yang semakin maju dan dapat merespon masa depan dengan baik. (Humas FEB)

  • FEB Sambut Dua Guru Besar Baru

    FEB Sambut Dua Guru Besar Baru

    Karangan bunga yang berjajar rapi di Halaman Gedung I Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan gelaran “Nonton Bareng (Nobar)” di selasar menambah kemeriahan penyambutan dua guru besar FEB yang baru saja dikukuhkan, Selasa 9 Maret 2021.

    Prof. Dr. Bandi, M.Si., Ak. dan Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si. yang telah dikukuhkan sebagai guru besar bersama dengan tiga  guru besar dari Fakultas Pertanian  dan satu dari Fakultas Teknik merupakan kado terindah bagi UNS yang saat ini sedang merayakan Dies Natalis ke-45.

    Kegiatan Nonton Bareng Pengukuhan Guru Besar di Selasar sebagai Ungkapan Suka Cita Keluarga Besar FEB

    Prof. Bandi merupakan guru besar bidang Ilmu Akuntansi dari Prodi Akuntansi FEB yang  juga sebagai Wakil Rektor  Bidang Umum dan Sumber Daya Manusia. Sedangkan Prof. Izza Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan dari Prodi Ekonomi Pembangunan yang juga sebagai Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan.

    Kehadiran dua guru besar disambut dengan meriah oleh pimpinan, dosen dan tenaga kependidikan (Tendik). Memasuki area lobi gedung 1 FEB, keduanya disambut dengan riuhnya musik dan konfeti warna-warni.

    Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof. Djoko Suhardjanto, M. Com (Hons)., Ph,D, Ak dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada Prof. Bandi dan Prof. Izza yang telah sampai pada puncak tertinggi jenjang akademik.

    Kehadiran Kedua Guru Besar Disambut Meriah oleh Pimpinan, Dosen dan Tendik FEB

    “Hadirnya 2 profesor yang hebat ini harus bisa menginspirasi para dosen FEB untuk  mencapai gelar professor,  harus keluar dari rutinitas, jangan yang biasa-biasa. Bagi yang Lektor segera ke Lektor Kepala  dan untuk yang Lektor Kepala harus segera diusahakan meraih gelar profesor. Sesuai harapan Rektor, guru besar harus tercapai minimal  20%” tegasnya.

    Sementara itu, kedua guru besar dalam kesan dan pesannya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Dekan dan seluruh sivitas akademika FEB UNS yang menyambut kehadirannya dengan suasana meriah. Keduanya juga mengajak agar para dosen memacu agar mampu mencapai guru besar.

    Menurut Prof. Bandi, ke depan,  proses administrasi untuk Penilaian Angka Kredit (PAK) akan lebih sederhana melalui sistem yang terintegrasi sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama dalam prosesnya dan juga meminimalisir berkas.   (Humas FEB).

  • Prof. Wimboh: Ekonomi Indonesia Diprediksi Pulih Di Tahun 2021

    Prof. Wimboh: Ekonomi Indonesia Diprediksi Pulih Di Tahun 2021

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Prof. Wimboh Santoso yang juga alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Seblas Maret (UNS) hadir sebagai keynote speech pada webinar Contemporary Issues on Islamic Finance and Banking yang diselenggarakan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) UNS Fintech Center, Rabu (03/03/2021) malam.

    Prof. Wimboh menyampaikan materi terkait kondisi perbankan syariah di Indonesia serta potensi perbankan sharia di Indonesia dalam perbaikan ekonomi pasca pandemi. Di paparannya juga dijelaskan tentang rencana kebijakan OJK pada tahun 2020-2021.

    “Nilai perdagangan produk halal/industri halal 3 billion USD, Indonesia merupakan tujuan wisata halal terbaik,” jelas Prof. Wimboh mengawali paparannya.

    Ekonomi Indonesia diprediksi dapat pulih di tahun 2021. Dimulainya program vaksinasi nasional meningkatkan optimisme, hal ini didukung dengan peningkatan consumer index di bulan Februari yang mencapai 88%.

    Dalam hal kebijakan di bidang ekonomi, telah terdapat sinergi kebijakan antar regulator di sektor keuangan perbankan, seperti restrukturisasi kredit, subsidi bunga pinjaman, budget deficit policy, bantuan likuiditas, LTV relaksasi, quantitative easing.

    Terkait peran perbankan syariah, Prof. Wimboh menyatakan bahwa pertumbuhan perbankan syariah cenderung tidak terpengaruh efek pandemi Covid-19 karena mayoritas perbankan syariah terletak di daerah pedesaan.

    Menutup materi yang disampaikan, Prof. Wimboh berharap semoga materi yang disampaikan akan bermanfaat bagi peserta webinar. “Semoga informasi yang saya sampaikan dapat menjadi dasar pengetahuan tentang kondisi sharia banking in indonesia,” pungkasnya.

    Salah satu pembicara dalam webinar tersebut, Tastaftiyan Risfandy, S.E., M.Sc,.Ph.D, dosen FEB UNS yang membahas mengenai mekanisme tata kelola di perbankan syariah.

    Melalui penelitian yang telah dilaksanakan, Dr. Tastaftiyan menemukan bahwa mayoritas akademisi yang bertindak sebagai anggota Dewan Syariah di bank syariah juga menjabat sebagai anggota Dewan Syariah di bank syariah lain.

    “SSB atau Dewan Syariah seharusnya independen dari pengaruh manajemen bank. Akan tetapi, anggota Dewan Syariah tetap menerima remunerasi dari perusahaan terkait. Hal ini dapat menyebabkan konflik kepentingan, terlebih jika seseorang menduduki jabatan sebagai anggota Dewan Syariah di lebih dari satu bank,” jelas Dr. Tastaftiyan.

    Narasumber lain dalam webinar yang digelar secara daring itu yakni Prof. M. Kabir Hassan, (University of New Orleans, USA), Prof. Hussein A. Abdou dari University of Central Lancashire, UK., Dr. Taufiq Hidayat selaku,  Direktur KNEKS Indonesia dan  Dwi Irianti, M.A., Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan Indonesia, Prof. Mansor H. Ibrahim (INCEIF, Malaysia), Prof. Ahmet Faruk Aysan (Hamad bin Khalifa University, Qatar), Dr. Mariani Abdul-Majid dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof Dian Masyita (Universitas Padjajaran-UNPAD), serta Dr. Fakarudin Kamarudin dari Universiti Putra Malaysia (UPM).

    Para peserta menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi pada sesi tanya jawab webinar yang dipandu oleh Dewanti Cahyaningsih M.Rech tersebut.

    Dengan terlaksananya international webinar ini diharapkan mampu mengungkapkan potensi-potensi dari perkembangan kegiatan keuangan dan perbankan islami di Indonesia dan secara global sehingga masyarakat dan peneliti dapat menyesuaikan diri dengan cepatnya perkembangan teknologi keuangan, terutama teknologi keuangan Islam.

    Reporter: Aulia

    Editing: Humas

  • DP 0%,  Ini Kata Pengamat Ekonomi

    DP 0%,  Ini Kata Pengamat Ekonomi

    Pandemi yang mulai merebak di Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu membawa keterpurukan dari berbagai sektor. Setelah satu tahun berada dalam masa pandemi, ada upaya pemerintah untuk menggerakkan sektor ekonomi, salah satunya adalah kebijakan Down Payment (DP) 0%. Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk membebaskan uang muka atau DP 0% bagi pembelian rumah dan kendaraan bermotor sejak 1 Maret hingga 31 Desember 2021.

    Pemerintah optimis, dengan adanya vaksinasi, masyarakat akan semakin percaya diri untuk mulai bergerak sehingga aktifitas ekonomi masyarakat kembali pulih.

    Menyikapi kebijakan pemerintah itu, Prof. Hunik Sri Runing Sawitri, M.Si., Pengamat Ekonomi Universitas Sebelas Maret  mengatakan, kebijakan itu memang dimaksudkan untuk menstimulasi pasar otomotif dan properti yang saat ini lesu. Namun saat ini tanda-tanda ke arah itu belum begitu jelas,  belum memberikan dampak yang signifikan.

    “Kebijakan pemerintah yang sudah dilaunching kemarin, belum bisa memberi dampak yang signifikan, sekalipun Bank Indonesia sudah melihat adanya tanda-tanda perekonomian sudah mulai bergerak tetapi kan banyak faktor yang mempengaruhinya, bagaimana Usaha Kecil Menengah (UKM), pengusaha memanfaatkan kebijakan ini. Harapannya roda perekonomian akan berjalan secara normal, masyarakat kembali beraktifitas, kenyataannya pemerintah masih melakukan pembatasan-pembatasan di masyarakat sehingga orang akan berpikir dua kali untuk meminjam uang, pengusaha juga akan berpikir ulang untuk melakukan ekspansi” papar Prof. Hunik dalam Dialog Pagi RRI, Selasa, 2 Maret 2021.

    Setidaknya dalam waktu dekat ini belum berdampak, masih menunggu keberhasilan vaksinasi sejauh mana. Dengan DP 0% sekilas menarik masyarakat untuk membeli mobil atau rumah, tetapi masyarakat akan terbebani angsurannya yang mungkin lebih besar.

    Namun demikian, Prof. Hunik mendorong agar masyarakat juga tetap optimis. Pemerintah sudah berusaha menggelontorkan banyak bantuan untuk mengatasi permasalahan selama masa pandemi.   Harapannya ke depan dengan kebijakan DP 0 % ini akan dapat mengangkat perekonomian masyarakat. Mudah-mudahan vaksinasi berhasil dan pemerintah juga melonggarkan mobilitas masyarakat sehingga optimisme bisa terwujud dan pada akhirnya bisa mengangkat ekonomi masyarakat Indonesia.

    Disisi lain, Prof. Hunik melihat ada fenomena yang menarik yang terjadi di masyarakat. Di masa pandemi ini muncul wirausaha baru, banyak bermunculan bisnis online yang cukup mampu menyangga ekonomi rumah tangga. Mulai dari pedagang sayuran, kuliner sampai kepada fashion, muncul kreatifitas di kalangan masyarakat karena kondisi “kepepet”.

    Prof. Hunik berharap masyarakat mampu melihat peluang-peluang usaha baru ketika usaha yang sebelumnya digeluti jatuh karena pandemi. Masyarakat diharapkan tidak menyerah dalam berusaha, selalu memunculkan ide-ide usaha baru, usaha online misalnya. (Humas FEB)

  • FEB Gelar Workshop RPS, Bahas Pembelajaran Berbasis Case Method

    FEB Gelar Workshop RPS, Bahas Pembelajaran Berbasis Case Method

    Pendidikan di perguruan tinggi harus bisa membuka peluang kepada mahasiswa untuk mengembangkan kemampuannya, mengaktualisasikan dirinya, dan ini menjadi tantangan terbesar bagi para dosen. Mahasiswa harus difasilitasi agar bisa menghasilkan suatu capaian prestasi yang unggul,  jangan sampai potensi tetap menjadi potensi. Sebagai tenaga pendidik, dosen harus selalu melakukan rekonstruksi pembelajaran.

    Hal itu disampaikan  Prof. Dr, Sarwiji Suwandi, M.Pd., Ketua Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengawali presentasinya dalam Worskhop Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Berbasis Case Method yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS, Kamis 18 Februari 2021.

    Dikatakannya, paradigma pembelajaran saat ini sudah bergeser. Dalam proses pembelajaran, yang belajar bukan hanya mahasiswa tetapi juga dosennya dan satu hal yang harus kita perhatikan  adalah sumber belajar. Dosen secara berkala harus meng-update RPS, setiap semester ditinjau lagi. Harus disesuaikan jika ada bahan kajian baru atau referensi baru atau hasil riset-riset terbaru.

    “Dosen sebagai pembelajar sejati, menyiapkan rencana pembelajaran, membaca banyak referensi dan hasil-hasil riset dan dimasukkan dalam RPS. Dengan ini kita bisa lebih yakin bahwa hasil dari pembelajaran itu lebih baik” jelasnya.

    Prof. Dr, Sarwiji Suwandi, M.Pd., Ketua LPPMP UNS

    Selanjutnya disampaikan, metode pembelajaran yang harus diterapkan saat ini mengacu pada Indikator Kinerja Utama (IKU) ke 7,  persentase matakuliah S1 dan dipoma yang menggunakan metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) atau pembelajaran kelompok berbasis project (team based project) sebagai sebagian bobot evaluasi.

    Metode kasus (case method) merupakan pembelajaran partisipatif berbasis diskusi untuk memecahkan kasus atau masalah. Penerapan metode ini akan mengasah dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis untuk memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan kreativitas.

    “Di dalam menerapkan case method, mahasiswa jangan diberikan tugas secara individual namun dikerjakan secara berkelompok. Hal ini dikarenakan permasalahan kehidupan riil menuntut pemecahan masalah secara bersama-sama dengan  menggunakan perspektif yang berbeda-beda dan dengan berbagai strategi yang bisa diusulkan anggota kelompok” paparnya.

    Metode kasus ini termasuk jenis pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Mahasiswa memiliki peran utama dalam pemecahan masalah, sedangkan dosen berperan sebagai  fasilitator yang bertugas mengobservasi, memberi pertanyaan, dan mengarahkan diskusi, memberikan pertanyaan, dan observasi.

    Case method memiliki kelebihan yakni pelibatan mahasiswa secara aktif mengembangkan keterampilan berpikir yang sangat tinggi. Selain itu, pengetahuan akan tertanam berdasarkan skemata  yang dimiliki oleh mahasiswa sehingga pembelajaran lebih bermakna dan mahasiswa dapat merasakan manfaat dari pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung berkaitan dengan kehidupan nyata. Dengan metode ini, mahasiswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi dan menerima pendapat dari orang lain, dan menanamkan sikap sosial yang positif antarmahasiswa.

    Sisi lemah metode ini, memerlukan persiapan pembelajaran meliputi alat, problem, dan konsep yang kompleks, terkadang tidak mudah mencari dan menemukan permasalahan yang relevan dan membutuhkan waktu yang cukup lama (Humas FEB)