FEB

Blog

  • Zero Percent Down Payment Policy, What Expert Says

    Zero Percent Down Payment Policy, What Expert Says

    The Covid-19 pandemic hit Indonesia in March 2020 brought multi-sector economic declines. After one year of struggling with the pandemic, the government took action to recover the economic condition, one of them is the Zero Percent Down Payment (DP 0%). The Central Bank of Indonesia (Bank Indonesia-BI) decides to implement a free down payment policy or popularly known as DP 0% for housing and vehicle purchase starting on March 1, 2021, until December 31, 2021. The government is optimistic that with the start of vaccination, the public will be more confident to resume their economic activities, thus recover the economic condition.

    Responding to this policy, Prof. Hunik Sri Runing Sawitri, M.Si., an economist from the Faculty of Economics and Business, Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Surakarta, states that the policy is, indeed, aiming to stimulate the declining automotive and property market. However, there is no clear signal toward that direction, there is still no significant effect.

    The government policy launched yesterday has not been able to make a significant impact, even though Bank Indonesia has seen the sign of economic recovery, but many factors are affecting the outcome, such as how small and medium enterprises (SME). The expectation is for the economic condition to return to normal and the public resuming their activities. In reality, the government still imposing social restrictions, which made us reconsider our decision to take debt, entrepreneurs will also rethink their decision for expansion,” Prof. Hunik explains during RRI Morning Talk, Tuesday (02/02/2021).

    Today, there is no significant impact, while the public is waiting for the result of vaccination. The DP 0% program attracts public interest for a moment, but they will be burdened with the installment. However, Prof. Hunik encourages the community to stay optimistic. The government has taken many efforts and providing great assistance to overcome the challenges during the pandemic. The DP 0% policy is expected to improve the community economy. Hopefully, the vaccination effort will be successful and the government will reduce the mobility restriction policy. Therefore, improving optimism and developing the Indonesian economic condition.

    On the other hand, Prof. Hunik finds unique phenomena during the Covid-19 pandemic. In this ongoing pandemic, there are many new entrepreneurs in online business that can support the household economy sufficiently. These online businesses offer various merchandise such as fashion, food, and even vegetable. The phenomena show the public creativity during this hard period.

    Prof. Hunik hopes that the community can find new opportunities when their past business failed during the Covid-19 pandemic. Indonesian people are expected to never give up, always come up with new business ideas, for example, online businesses. (Humas FEB)

  • DP 0%,  Ini Kata Pengamat Ekonomi

    DP 0%,  Ini Kata Pengamat Ekonomi

    Pandemi yang mulai merebak di Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu membawa keterpurukan dari berbagai sektor. Setelah satu tahun berada dalam masa pandemi, ada upaya pemerintah untuk menggerakkan sektor ekonomi, salah satunya adalah kebijakan Down Payment (DP) 0%. Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk membebaskan uang muka atau DP 0% bagi pembelian rumah dan kendaraan bermotor sejak 1 Maret hingga 31 Desember 2021.

    Pemerintah optimis, dengan adanya vaksinasi, masyarakat akan semakin percaya diri untuk mulai bergerak sehingga aktifitas ekonomi masyarakat kembali pulih.

    Menyikapi kebijakan pemerintah itu, Prof. Hunik Sri Runing Sawitri, M.Si., Pengamat Ekonomi Universitas Sebelas Maret  mengatakan, kebijakan itu memang dimaksudkan untuk menstimulasi pasar otomotif dan properti yang saat ini lesu. Namun saat ini tanda-tanda ke arah itu belum begitu jelas,  belum memberikan dampak yang signifikan.

    “Kebijakan pemerintah yang sudah dilaunching kemarin, belum bisa memberi dampak yang signifikan, sekalipun Bank Indonesia sudah melihat adanya tanda-tanda perekonomian sudah mulai bergerak tetapi kan banyak faktor yang mempengaruhinya, bagaimana Usaha Kecil Menengah (UKM), pengusaha memanfaatkan kebijakan ini. Harapannya roda perekonomian akan berjalan secara normal, masyarakat kembali beraktifitas, kenyataannya pemerintah masih melakukan pembatasan-pembatasan di masyarakat sehingga orang akan berpikir dua kali untuk meminjam uang, pengusaha juga akan berpikir ulang untuk melakukan ekspansi” papar Prof. Hunik dalam Dialog Pagi RRI, Selasa, 2 Maret 2021.

    Setidaknya dalam waktu dekat ini belum berdampak, masih menunggu keberhasilan vaksinasi sejauh mana. Dengan DP 0% sekilas menarik masyarakat untuk membeli mobil atau rumah, tetapi masyarakat akan terbebani angsurannya yang mungkin lebih besar.

    Namun demikian, Prof. Hunik mendorong agar masyarakat juga tetap optimis. Pemerintah sudah berusaha menggelontorkan banyak bantuan untuk mengatasi permasalahan selama masa pandemi.   Harapannya ke depan dengan kebijakan DP 0 % ini akan dapat mengangkat perekonomian masyarakat. Mudah-mudahan vaksinasi berhasil dan pemerintah juga melonggarkan mobilitas masyarakat sehingga optimisme bisa terwujud dan pada akhirnya bisa mengangkat ekonomi masyarakat Indonesia.

    Disisi lain, Prof. Hunik melihat ada fenomena yang menarik yang terjadi di masyarakat. Di masa pandemi ini muncul wirausaha baru, banyak bermunculan bisnis online yang cukup mampu menyangga ekonomi rumah tangga. Mulai dari pedagang sayuran, kuliner sampai kepada fashion, muncul kreatifitas di kalangan masyarakat karena kondisi “kepepet”.

    Prof. Hunik berharap masyarakat mampu melihat peluang-peluang usaha baru ketika usaha yang sebelumnya digeluti jatuh karena pandemi. Masyarakat diharapkan tidak menyerah dalam berusaha, selalu memunculkan ide-ide usaha baru, usaha online misalnya. (Humas FEB)

  • ADAI and PDIE UNS Held Ngopi Gayeng Nasional

    ADAI and PDIE UNS Held Ngopi Gayeng Nasional

    The Association for Accounting Lecturer Indonesia (ADAI) and the Doctoral Program in Economics (PDIE) Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, held a webinar entitled ‘Ngopi Gayeng Indonesia in Establishing Public Governance Culture for the Advancement of Indonesia, Saturday, 27 February 2021.

    Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak., the Director of PDIE FEB UNS

    Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak., the Director of PDIE FEB UNS, who also serves as the advisor in ADAI expressed her gratitude to all parties that supported the collaboration between PDIE FEB UNS and ADAI.

    Prof. Rahmawati states that PDIE FEB UNS had organized various scientific events every month, inviting practitioners and also training. This event aims to maintain the interaction between the students and the community.

    “We are close to the public, especially in the business sector, economics, and small and medium enterprises. During this pandemic, we should motivate the public and small business owners,” she states.

    Representing the Dean of the FEB UNS, Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Vice-Dean for Academic, Research, and Student Affairs officially opened the discussion attended by more than 300 students.

    The Chair of ADAI, Dr. Edy Supriyono, S.E., M.Si., Ak., CA., delivering a report during ADAI webinar

    The four-panel speakers invited for the event are Agung Nur Probohudono, SE, M.Si, Ph.D., AK, CA., the Head of Accounting Study Program FEB UNS, Drs. H. Yuliatmono, MM., the Head of Karanganyar District, Gibran Rakabuming Raka, the Major of Surakarta city, and Dwinanto, SE, the Head of Krandegan Village. Keynote speaker was delivered by the Governor of Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, SH, M.IP., represented by Taz Yasin Maimoen, the Deputy Governor of Jawa Tengah.

    The Chair of ADAI, Dr. Edy Supriyono, S.E., M.Si., Ak., CA., in his remarks reported that currently there are 242 members in ADAI Jawa Tengah, while nationally there are 12 provinces that officially registered as a member, where the initial members are from 10 provinces. The main focus of the ADAI is scientific discussion or webinar. In the future, there will be a community service program and various other activities.

    ADAI as an organization for Accounting Lecturer, both with accountant certification and without accountant certification, aims to build synergy in enhancing lecturers’ quality. At the national level, ADAI has many other activities such as sharia cooperation, community service, and journal publication. At the Provincial level, ADAI will collaborate to provide certification for accounting students. (Humas FEB)

  • ADAI dan PDIE Gelar Ngopi Gayeng Nasional

    ADAI dan PDIE Gelar Ngopi Gayeng Nasional

    Asosiasi Dosen Akuntansi Indonesia (ADAI) dan Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Ngopi Gayeng Nasional bertemakan Membangun Budaya Publik Governance untuk Indonesia Maju, Sabtu, 27 Februari 2021 .

    Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak, Kepala Program Studi (Kaprodi) PDIE yang juga sebagai penasihat di ADAI menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan daring bersama antara PDIE dan ADAI.

    Disampaikannya, PDIE sudah melakukan kegiatan ilmiah rutin setiap bulan, mendatangkan praktisi  dan juga pelatihan-pelatihan. Hal ini diupayakan sebagai tuntutan akreditasi BAN PT agar unggul, paling tidak sebulan sekali ada interaksi dosen, mahasiswa dan juga masyarakat.

    “Kami dekat dengan masyarakat, terutama dibidang ekonomi bisnis, dekat dengan usaha kecil menengah. Di masa pandemi ini kita bangkitkan masyarakat terutama masyarakat yang memiliki usaha kecil dan menengah” katanya.

    Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak, Kepala Program Studi PDIE

    Mewakili Dekan FEB UNS, Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, dan Mahasiswa membuka kegiatan yang diikuti lebih dari 300 peserta.

    Empat pembicara panel dihadirkan yakni Agung Nur Probohudono, SE, M.Si, Ph.D, AK, CA, Kepala Program Studi S1 Akuntansi, Drs. H. Yuliatmono, MM, Bupati Karanganyar, Gibran Rakabuming Raka, Walikota Surakarta dan Dwinanto, SE, Kepala Desa Krandegan. Keynote speaker Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, SH, M.IP yang disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taz Yasin Maimoen, Wakil Gubernur Jawa Tengah.

    Ketua ADAI, Dr. Edy Supriyono, S.E.,M.Si.,Ak., CA. dalam laporannya menyampaikan jumlah anggota ADAI Jawa Tengah berjumlah 242 orang, secara nasional ada 12 provinsi yang resmi, secara embrio ada 10 provinsi. Kegiatannya masih berfokus pada kegiatan-kegiatan ilmiah yang sifatnya webinar. Ke depan akan mengadakan pengabdian masyarakat dan kegiatan lainnya.

    Ketua ADAI, Dr. Edy Supriyono, S.E.,M.Si.,Ak., CA.

    ADAI sebagai wadah bagi dosen akuntansi, baik yang akuntan maupun non akuntan berusaha bersama-sama bersinergi meningkatkan kualitas dosen yang didalam maupun kualitas mahasiswa sebagai tanggung jawabnya. ADAI ditingkat pusat banyak kegiatan yakni koperasi syariah, pengabdian masyarakat, dan penerbitan jurnal. ADAI di Jawa Tengah akan segera  bekerjasama untuk memberikan sertifikat bagi mahasiswa akuntansi, dalam waktu dekat. (Humas FEB)

  • FEB Gelar Workshop RPS, Bahas Pembelajaran Berbasis Case Method

    FEB Gelar Workshop RPS, Bahas Pembelajaran Berbasis Case Method

    Pendidikan di perguruan tinggi harus bisa membuka peluang kepada mahasiswa untuk mengembangkan kemampuannya, mengaktualisasikan dirinya, dan ini menjadi tantangan terbesar bagi para dosen. Mahasiswa harus difasilitasi agar bisa menghasilkan suatu capaian prestasi yang unggul,  jangan sampai potensi tetap menjadi potensi. Sebagai tenaga pendidik, dosen harus selalu melakukan rekonstruksi pembelajaran.

    Hal itu disampaikan  Prof. Dr, Sarwiji Suwandi, M.Pd., Ketua Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengawali presentasinya dalam Worskhop Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Berbasis Case Method yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS, Kamis 18 Februari 2021.

    Dikatakannya, paradigma pembelajaran saat ini sudah bergeser. Dalam proses pembelajaran, yang belajar bukan hanya mahasiswa tetapi juga dosennya dan satu hal yang harus kita perhatikan  adalah sumber belajar. Dosen secara berkala harus meng-update RPS, setiap semester ditinjau lagi. Harus disesuaikan jika ada bahan kajian baru atau referensi baru atau hasil riset-riset terbaru.

    “Dosen sebagai pembelajar sejati, menyiapkan rencana pembelajaran, membaca banyak referensi dan hasil-hasil riset dan dimasukkan dalam RPS. Dengan ini kita bisa lebih yakin bahwa hasil dari pembelajaran itu lebih baik” jelasnya.

    Prof. Dr, Sarwiji Suwandi, M.Pd., Ketua LPPMP UNS

    Selanjutnya disampaikan, metode pembelajaran yang harus diterapkan saat ini mengacu pada Indikator Kinerja Utama (IKU) ke 7,  persentase matakuliah S1 dan dipoma yang menggunakan metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) atau pembelajaran kelompok berbasis project (team based project) sebagai sebagian bobot evaluasi.

    Metode kasus (case method) merupakan pembelajaran partisipatif berbasis diskusi untuk memecahkan kasus atau masalah. Penerapan metode ini akan mengasah dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis untuk memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan kreativitas.

    “Di dalam menerapkan case method, mahasiswa jangan diberikan tugas secara individual namun dikerjakan secara berkelompok. Hal ini dikarenakan permasalahan kehidupan riil menuntut pemecahan masalah secara bersama-sama dengan  menggunakan perspektif yang berbeda-beda dan dengan berbagai strategi yang bisa diusulkan anggota kelompok” paparnya.

    Metode kasus ini termasuk jenis pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Mahasiswa memiliki peran utama dalam pemecahan masalah, sedangkan dosen berperan sebagai  fasilitator yang bertugas mengobservasi, memberi pertanyaan, dan mengarahkan diskusi, memberikan pertanyaan, dan observasi.

    Case method memiliki kelebihan yakni pelibatan mahasiswa secara aktif mengembangkan keterampilan berpikir yang sangat tinggi. Selain itu, pengetahuan akan tertanam berdasarkan skemata  yang dimiliki oleh mahasiswa sehingga pembelajaran lebih bermakna dan mahasiswa dapat merasakan manfaat dari pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung berkaitan dengan kehidupan nyata. Dengan metode ini, mahasiswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi dan menerima pendapat dari orang lain, dan menanamkan sikap sosial yang positif antarmahasiswa.

    Sisi lemah metode ini, memerlukan persiapan pembelajaran meliputi alat, problem, dan konsep yang kompleks, terkadang tidak mudah mencari dan menemukan permasalahan yang relevan dan membutuhkan waktu yang cukup lama (Humas FEB)

  • FEB UNS Held RPS Workshop, Discussing Case Method-Based Learning

    FEB UNS Held RPS Workshop, Discussing Case Method-Based Learning

    Higher education must open new opportunities for students to develop their skills and actualizing their talent. This has become a great challenge for educators. Students must be facilitated to achieve great accomplishments and wasting their potential. Lecturers as an educator must reconstruct learning experience continuously. This was delivered by Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Chairman of the Institute of Educational Quality Assurance and Development (LPPMP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, when opening his material presented in the Worskhop of Case Method-Based Semester Course Plan (RPS) organized by the Faculty of Economics and Business (FEB) UNS, Thursday 18 February 2021.

    Prof. Sarwiji states that the learning paradigm has shifted. The learning process does not only require the students to learn but also the lecturers. Source of material become a crucial point. Lecturers must update their RPS periodically. The course plan must be adjusted if there is new literature or reference related to the current research.

    “Lecturer as a true learner prepare course plan read many references, and research result to be included in the course plan (RPS). With this we can be more assured that the learning outcomes will be better,” he explains.

    Further, Prof. Sarwiji explains the learning method that must be applied according to the 7th Main Performance Indicator (IKU), the percentage of Bachelor and Diploma program that use case method or team-based project as evaluation assessment. The case method is participative learning based on a discussion process to solve a case or problem. The implementation of this method will hone and improve students’ critical thinking in problem-solving, communication skills, collaboration, and creativity.

    “Implementing the case method, students should not be given an individual assignment, but a group assignment. This is because the problem in real life requires us to solve a problem collectively, using a different perspective, and various strategies proposed by team members,” he explains.

    In the case method, students took the main role in problem-solving, while the lecturer only acts as a facilitator, who observe the discussion, inquiring, and leading the discussion. Using this method, students will be involved actively to improve their creative and critical thinking. Moreover, the insight from the solved cases will give them a real-life problem-solving experience. This method can also train students to instill a positive social attitude and helping students to receive others’ opinions.

    The weakness of this method is the need for extensive preparation including tools, problems, and complex concepts, and sometimes there are no relevant cases to be discussed. (Humas FEB)

  • The Dean of FEB UNS Inaugurates BEM, DEMA, and Student Association Administrator

    The Dean of FEB UNS Inaugurates BEM, DEMA, and Student Association Administrator

    The Dean of the Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons), Ph.D., Ak. Inaugurates the administrator for the Student Executive Board (BEM), Student Supervisory Board (DEMA), and Student Organizations (ORMAWA) for 2021. The ceremony took place on Thursday, 25 February 2021 in FEB UNS Auditorium (Building 3).

    The ceremony was attended by the Vice-Dean, Head of Partnership Unit, and FEB UNS Administrative Leaders, where a signatory of Minutes of Management Handover also took place. The signatory was represented by the Chair of BEM and DEMA FEB UNS, which symbolizes the transfer of responsibility from the Administrator for the previous period (2020) to the new Administrator in 2021.

    The Dean of FEB UNS in his opening remarks congratulate the elected new administrator and thanking the previous administrator for their service and devotion. Prof. Djoko also requested that the previous leader will assist the new leader to accomplish even greater achievements. Further, regarding the shift of UNS status from a Public Service Agency (BLU) into a State University as Legal Entity (PTN BH), there are many adjustments, both in terms of organizational structure and working pattern, there must be a great leap. UNS is required to accomplish a target set by the government to enter the top 500 global universities.

    Prof. Djoko also encourages the students, especially the administrators for BEM, DEMA, and ORMAWA to actively engage, organize, and joining international events. The FEB UNS will assist the students to reach international achievements. “The designation of UNS as PTNBH, students’ activities both in academic and non-academic sector lead to international achievements. University, faculty, and study programs will support students’ activities. If there is any difficulty, we will solve it together. We must collaborate to reach the target,” he stressed while motivating the students.

    Concluding the event, the Dean delivers a message for the students that even though they are actively participating in the organization, they must maintain their academic achievement. (Humas FEB).

  • Dekan Lantik Pengurus BEM, DEMA dan ORMAWA FEB UNS

    Dekan Lantik Pengurus BEM, DEMA dan ORMAWA FEB UNS

    Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons), Ph.D,Ak melantik Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Mahasiswa (DEMA) dan Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA) Periode Tahun 2021, Kamis, 25 Februari 2021 di Aula Gedung 3 FEB UNS.

    Dalam acara yang dihadiri oleh para Wakil Dekan, Kepala Unit Kerjasama dan Pimpinan Administrasi FEB UNS juga dilakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Pengurus yang diwakili oleh Ketua BEM dan DEMA dari Pengurus Tahun 2020 ke Pengurus Tahun 2021.

    Dekan FEB UNS dalam sambutannya memberikan ucapan selamat kepada pengurus baru yang telah dilantik dan juga ucapan terima kasih kepada pengurus lama,  tetap mendampingi pengurus yang baru agar berprestasi lebih dari sebelumnya.

    Selanjutnya disampaikan, perubahan status UNS dari Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) menuntut banyak penyesuaian, baik dari sisi organisasi maupun pola kerja, perlu lompatan yang cepat. UNS dituntut untuk mencapai target yang dicanangkan pemerintah,  masuk ke 500 Top Perguruan Tinggi di dunia.

    Penandatanganan Berita Acara Serah Terima Pengurus BEM, DEMA dan ORMAWA

    Dekan mendorong agar mahasiswa terutama para pengurus BEM, DEMA dan ORMAWA bergerak aktif, mengadakan dan juga mengikuti aktifitas yang levelnya internasional hingga berprestasi. Fakultas akan membantu dalam pencapaian prestasi tersebut.

    “Dengan status UNS sebagai PTNBH, aktifitas dan kegiatan mahasiswa, baik akademik dan non akademik harus mengarah kepada pencapaian prestasi tingkat internasional. Universitas, fakultas dan prodi akan sangat mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa tersebut. Jika ada kesulitan, kita selesaikan bersama. Kita harus guyub rukun bekerja keras untuk mencapai target itu” tegas Dekan menyemangati mahasiswa.

    Dekan berpesan, meskipun mahasiswa aktif di organisasi, namun secara individu harus punya prestasi akademik, IPKnya harus tetap bagus, jangan merosot. Mahasiswa juga harus menjalin komunikasi yang baik, menjaga silaturahmi dengan pimpinan, dosen dan juga tenaga kependidikan. (Humas FEB).

  • FEB UNS Adakan Workshop Pengajuan Anggaran dan Penyusunan SPJ

    FEB UNS Adakan Workshop Pengajuan Anggaran dan Penyusunan SPJ

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) adakan Workshop Pengajuan Anggaran dan Penyusunan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) yang diikuti 20 peserta perwakilan masing-masing program studi dan Pelaksana Helpdesk, Kamis 25 Februari 2021 di Ruang Laboratorium Komputer FEB UNS.

    Koordinator Tata Usaha, Tunggul Ardhi, S.Si. saat memberi sambutan dan arahan

    Koordinator Tata Usaha FEB UNS Tunggul Ardhi, S.Si.  dalam sambutannya mengatakan dengan perubahan UNS dari Badan Layanan Usaha (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) terjadi pula beberapa perubahan dalam model pengajuan anggaran dan penyusunan SPJ. Pedoman yang digunakan mulai saat ini menggunakan Standar Biaya Minimum (SBM) UNS.

    Dalam kegiatan ini, pelaksana teknis akan dikenalkan dengan pedoman yang baru, bagaimana caranya mengajukan anggaran dan menyusun SPJ.  Dengan pelatihan ini diharapkan para pelaksana teknis dari bidang maupun prodi lebih cepat melakukan penyesuaian,  tidak mengalami kesulitan lagi.

    Christina Yulia Puspita Dewanti, S.IP, Bendahara Fakultas dan Gigih Fantriko Tri Wibowo, A.Md. dari Bagian Perencanaan FEB UNS menjadi instruktur dalam workshop yang digelar selama sehari.

    Gigih Fantriko memberikan gambaran layanan di Bagian Perencanaan FEB UNS diantaranya upload data dukung fakultas (KPI), revisi ajuan revisi anggaran, download perencanaan fakulas dan prosedur pencairan anggaran. Dipandu pula bagaimana operator bidang dan prodi mengoperasikan aplikasi Sistem Perencanaan dan Evaluasi Anggaran (Sireva).

    Sementara itu, Christina Yulia menyampaikan teknis tentang pengajuan anggaran hingga penyusunan SPJ. Peserta diharapkan untuk benar-benar mempelajari pedoman baru,  SBM UNS.

    Christina Yulia, S.IP memandu peserta

    Untuk dapat mengevaluasi sejauh mana peserta mampu memahami apa yang disampaikannya, disesi terakhir, Yulia memberikan soal-soal yang harus dikerjakan dengan tepat oleh peserta. Soal yang diberikan diantaranya penyusunan SPJ dari Surat Perintah Bayar (SPBY), kuitansi dengan kesesuaian tarif-tarif yang digunakan dan pajak sesuai peraturan yang baru. Kemudian beberapa soal lain juga diberikan yang berhubungan dengan perhitungan honor narasumber, pembelian, jasa dan SPPD.  (Humas FEB UNS)

  • Alumni FEB UNS Ikuti Seleksi Program Management Trainee

    Alumni FEB UNS Ikuti Seleksi Program Management Trainee

    54 alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti Ujian Seleksi Program Management Trainee (MT) PT Intan Pariwara, Rabu, 24 Februari 2021 di Gedung I FEB UNS.

    Kegiatan seleksi program MT bagi lulusan FEB ini merupakan salah satu bentuk kerjasama FEB UNS dengan PT Intan Pariwara. Dari 54 alumni, diantaranya ada yang akan diwisuda di 27 Februari mendatang.

    Dalam sambutannya dihadapan Direktur ,Tim Manajemen PT Intan Pariwara serta alumni FEB, Dr. Mugi Harsono, S.E., M.Si, Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi FEB UNS menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kali pertama diadakan setelah UNS berstatus Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH).

    Dr. Mugi berharap agar lulusan FEB memanfaatkan kesempatan seleksi ini dengan sebaik-baiknya. Dan berpesan agar ketika bergabung menjadi bagian dari PT Intan Pariwara untuk selalu menjaga nama baik institusi.

    “Jika saudara berhasil dalam seleksi Program MT dan bergabung dengan PT Intan Pariwara, tolong patuhi standar kerja yang telah ditetapkan organisasi di sana, termasuk standar etikanya. Berikan torehan emas untuk FEB UNS” pesan Dr. Mugi.

    Sementara itu,  Ir. H. Tomy Utomo Putro, M.M, Direktur PT Intan Pariwara memberikan gambaran tentang alur seleksi dan program MT.

    Di masa pandemi ini, PT Intan Pariwara masih tetap eksis dan bahkan  berkembang. Melalui jalur MT, PT memerlukan  tenaga muda yang potensial dan handal untuk menjadi seorang pimpinan. Sebagai calon pemimpin yang mengelola perusahaan, PT Intan Pariwara sangat mengutamakan kejujuran.

    Selanjutnya disampaikan, dalam rekrutmen reguler, untuk menjadi seorang manajer, memerlukan waktu lima tahun,  itupun jika prestasinya luar biasa. Namun untuk kerjasama dengan FEB UNS ini, para alumni yang  lolos dalam Program MT, setelah 6 bulan atau 1 tahun dapat langsung menjadi pimpinan, manajer atau setara dengan pimpinan.

    Peserta yang berhasil masuk dalam Program MT akan digembleng selama 6 bulan. Jam kerja MT bisa mencapai 12 jam sehari. Setelah seharian dididik,  malam harinya peserta akan diberi tugas untuk dipresentasikan besoknya dan seterusnya demikian. Hal ini untuk melatih kekuatan fisik dan mental para peserta MT sebagai calon pemimpin.

    Dikatakannya, dalam seleksi ini, Alumni FEB UNS  mendominasi program MT. Setelah dievaluasi di pelaksanaan program MT, bagi peserta yang kurang memenuhi syarat tidak diberhentikan namun akan dicadangkan untuk yang akan datang atau bisa diterima di tempat lain,  namun tidak sebagai peserta MT.

    Dalam program ini, peserta tidak dipungut biaya. Setelah mengikuti tes tertulis di FEB, peserta akan mengikuti tes lanjutan di PT Intan Pariwara dan langsung interview dengan  Board Director.

    Usai mendapatkan arahan dari Pimpinan FEB dan juga dari Tim Seleksi PT Intan Pariwara, peserta menuju ruang kelas di Gedung I FEB untuk menjalani ujian tertulis. Kelas yang digunakan telah memenuhi standar protokol kesehatan, berjarak dan bersekat. (Humas FEB)