FEB

Blog

  • FEB UNS Establish a Collaboration with FEB UBL

    FEB UNS Establish a Collaboration with FEB UBL

    The Faculty of Economics and Business, Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) establish a collaboration with the Faculty of Economics and Business, Universitas Bandar Lampung (FEB UBL). The collaboration was marked with the MOU signing by both parties in FEB UBL, on Friday, December 13, 2019.

    FEB UNS and FEB UBL were agreed to establish a collaboration in the coaching of education and teaching (visiting professor and speaker), research coaching (assistance and research workshops and joint research), and publication of joint research article in international journals. This collaboration aims to accelerate the improvement of education quality, research, and publication of joint research articles in international journal, especially to improve Faculty’s member competency.

  • Lolos Global Talent 2019, Lucida Magang di Kasetsart University

    Lolos Global Talent 2019, Lucida Magang di Kasetsart University

    Bersama dengan tiga tenaga kependidikan (tendik) Universitas Sebelas Maret (UNS), Lucida Rectavia, tendik Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS mendapat kesempatan untuk magang di universitas mitra UNS di luar negeri, selama sepuluh hari, di akhir Oktober lalu.

    Kesempatan magang diperoleh setelah Lucida terpilih menjadi salah satu dari empat tendik terbaik di Program UNS Global Talent 2019 yang diselenggarakan oleh International Office (IO) UNS.

    Berfoto bersama Mr. Tanapon Chaisan, Ph.D Deputi Direktur KURDI (tengah) dan para penelitinya

    Sebelumnya, serangkaian kegiatan UNS Global Talent 2019 untuk menyeleksi kepiawaian tendik telah dilaksanakan, diantaranya adalah beberapa lokakarya dengan materi English Language Skill in The Workplace, Cross Cultural Understanding, dan Global Mindset.

    Program bagi tendik ini adalah kali kedua yang diselenggarakan oleh IO UNS. Di tahun 2018, IO juga telah memberangkatkan 4 tendik untuk magang ke universitas di Thailand dan Taiwan.

    UNS Global Talent bagi tendik adalah program peningkatan keterampilan untuk mengembangkan jaringan dan keterampilan komunikasi di tempat kerja di tingkat internasional.

    Saat ditemui Media FEB UNS di ruang kerjanya, Lucida memang sangat berharap untuk dapat lolos di program ini. Namun, waktu itu sempat ada sedikit “minder” karena ternyata kegiatan ini, dikuti oleh tendik yang memiliki kecakapan sangat baik dalam berbahasa Inggris, terlebih yang keseharian bekerja di UPT Bahasa UNS.

    “Alhamdulillah, akhirnya bisa lolos juga, meski kekhawatiran itu ada. Ini adalah amanah yang dipercayakan ke saya, dan saya akan berusaha memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, untuk menjaga nama baik UNS” tuturnya

    Selama sepuluh hari, Lucida dengan  Wuji anggraini,  tendik  UPT Bahasa UNS menjalani aktifitas magangnya di Kasetsart University, Bangkok, Thailand.

    Diskusi dengan Assoc. Prof. Piwat Hitakorn, Ph.D Direktur KU Language

    Di hari pertama magang,  masih mengikuti masa orientasi dan gambaran umum tentang Kasetsart University (KU). Orientasi dimulai dengan pengenalan petugas, lingkungan, peraturan dan fasilitas Krissana International Dormitory. Krissana International Dormitory adalah salah satu gedung dormitory yang berada di komplek KU Dormitory yang dikhususkan untuk mahasiswa asing yang belajar/ magang di KU.

    Hari berikutnya, secara berturut-turut Lucida mengikuti aktifitas di beberapa tempat, training di International Affairs Division (IAD), mengunjungi KU Research and Development Institute (KURDI), Kasetsart University Language Center (KU Lang), mengunjungi salah satu Fakultas yaitu Faculty of Business Administration, dan dihari terakhir mengunjugi KU Library (KU Lib) yang berada pada komplek KU Learning Center.

    Lucida sangat menikmati aktifitas magangnya di Kasetsart University. Kegiatan ini semakin menambah wawasannya terkait internasionalisasi di tingkat universitas dan meningkatnya kemampuan bergaul dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris serta menumbuhkan ide-ide segar dalam pengelolaan administrasi suatu lembaga.

    Selain itu, aktifitas ini juga mampu menumbuhkan kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi pada lingkungan asing dan menjadi minoritas, kemampuan memecahkan masalah dan menghadapi berbagai kendala di lingkungan magang, dormitory dan masyarakat umum.

    Lucida berharap, ke depan,  teman-teman tendik di FEB juga memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti program ini.

    Di akhir ulasannya, Lucida mengatakan bahwa secara kelembagaan, hasil dari kegiatan ini adalah diundangnya Rektor UNS untuk menghadiri Anniversary Kasetsart University ke 77 pada bulan Februari 2020 mendatang.

  • Passing the 2019 Global Talent Selection, Lucida Joins an Internship at Kasetsart University

    Passing the 2019 Global Talent Selection, Lucida Joins an Internship at Kasetsart University

    Together with three Universitas Sebelas Maret (UNS) staff, Lucida Rectavia, staff of FEB UNS receives an opportunity to join an internship in UNS partner university in Thailand for 10 days, on the end of October 2019. This opportunity is given after Lucida is chosen as one of the best University staff on UNS Global Talent Program in 2019, organized by the UNS International Office (IO).

    together with Mr. Tanapon Chaisan, Ph.D the Deputy Direktur of KURDI (middle) and other researchers

    Previously, a series of selection process was conducted to choose the best University staff such as workshop in English Language Skill for Workplace, Cross Cultural Understanding, and Global Mindset. This year is the second year of the UNS Global Talent by the IO UNS, which first conducted in 2018. In 2018 IO had successfully assign 4 University staff to Thailand and Taiwan. The UNS Global Talent is a skill improvement program for UNS staff to expand their network and communication skill at workplace.

    When we met Lucida, she mentions that she really wished to pass the selection process but also felt a little inferior when she knew that the participants of the program were those UNS staff with excellent skills in English, particularly those who worked in UNS Language Center. “Alhamdulillah, finally I can passed the selection, even though there are some worries. I consider this as a mandate for me, thus I will try my best to make the most of this opportunity, to maintain UNS reputation,” she said. For ten days, Lucida and Wuji Anggraini, UNS staff from the UNS Language Center, undergo their apprenticeship activity at Kasetsart University (KU), Bangkok, Thailand.

    On their first day of internship, they followed the orientation program that provided a general description of Kasetsart University. The orientation program was started with the introduction of officers, environment,  regulations, and Krissana International Dormitory facilities. Krissana International Dormitory is one of a dormitory building in KU Dormitory that specifically for foreign students studying or taking internships in KU. The next days, Lucida attended several activities in different places such as training in International Affairs Division (IAD), visit to KU Research and Development Institute (KURDI), Kasetsart University Language Center (KU Lang),

    Discussion with Assoc. Prof. Piwat Hitakorn, Ph.D Director of KU Language

    visited one of the faculty in KU, the Faculty of Business Administration, and on the last day, they visit the KU Library (KU Lib) located in KU Learning Center complex.

    Lucida enjoyed her internship program in Kasetsart University. The program enhanced her insight in internationalization activities at university level, improves her English communication competency and foster new ideas in institution administration management. Moreover, this program also improves their self-esteem and capability to adapt in foreign environment as minority, problem solving skill, and competency in solving various problem in internship environment, dormitory, and general public.

    Lucida says that she expects, forward, that other staff from the FEB UNS can get similar opportunity to join this program. Finally, Lucida mentions that institutionally, the Rector of UNS is invited to the 77th Anniversary of the Kasetsart University, on the February 2020.

  • Masyarakat Perlu Diedukasi, Hindari Bisnis Fintech Ilegal

    Masyarakat Perlu Diedukasi, Hindari Bisnis Fintech Ilegal

    Bisnis financial technology (fintech) berkembang pesat di Indonesia, baik fintech payment maupun lending.

    Hal itu tercermin dari tersalurkannya Rp 41 triliun telah untuk lebih dari 5 juta pemberi pinjaman dan melibatkan lebih dari 480.000 pemberi pinjaman, per Mei 2019.

    Pernyataan itu disampaikan Irwan Trinugroho,Ph.D, akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) pada Workshop bertajuk Sosialisasi Bisnis Fintech, Rabu, 11 Desember 2019.

    Dikatakannya, bisnis fintech, inovasi keuangan berbasis teknologi harus berperan untuk memberdayakan masyarakat miskin dan mengurangi kerentanan mereka.

    Meskipun perkembangan fintech pesat, namun masih banyak masyarakat yang belum paham.

    Dalam hal ini, perguruan tinggi juga memiliki peran  untuk mengedukasi masyarakat, mengenalkan lebih dekat tentang bisnis fintech agar bisa terhindar dari bisnis yang ilegal.

    Mahasiswa melalui Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) dapat membuat produk yang riil dan aplikatif yang bermanfaat bagi masyarakat agar masyarakat bisa terhindar dari jasa keuangan yang ilegal.

    “Mahasiswa juga dapat memanfaatkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai media untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang bisnis fintech” jelasnya

    Lebih lanjut Irwan berpesan kepada peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa agar berhati-hati dalam menggunakan aplikasi bisnis fintech.

    Pada saat download aplikasi fintech jangan asal klik atau “alllow”, jangan sesekali memberikan no kontak dan storage.

    Jika kita mengijinkan, maka seluruh no kontak yang ada di handphone kita otomatis akan terekam diserver pemilik aplikasi tersebut dan akan digunakan menekan  apabila ada keterlambatan dalam pembayarannya. Hal ini akan berakibat tercemarnya nama baik kita di publik.

    Fintech yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah terjamin keamanannya. Pemilik bisnis harus melakukan demo aplikasinya, tidak boleh akses terhadap kontak maupun storage.

    Pesan senada disampaikan pembicara workshop lainnya, Peter Febian, Head of Corporate Communication-Ladang Modal kepada hampir lebih dari 150 peserta workshop agar selektif dalam melakukan pinjaman online.

    “Jangan asal pinjam, pastikan legalitas kreditur fintech melalui kontak OJK 157 atau ojk.go.id” katanya

    Sebaiknya pinjaman tidak digunakan untuk “gali lubang tutup lubang”, karena akan menyeret kita ke masalah yang lebih dalam lagi dan maksimal pinjaman fintech yang kita ambil juga sebaiknya tidak lebih dari 30% dari penghasilan.

     

     

  • The Need to Educate the Community to Avoid Illegal Fintech Business

    The Need to Educate the Community to Avoid Illegal Fintech Business

    The financial technology business (Fintech) has grown rapidly in Indonesia, both for payment and lending service. This is shown with the distribution of 41 Trillion Rupiah credit for more than 5 million debtor that involves 480,000 creditors as of May 2019. This was mentioned by Dr. Irwan Trinugroho, the faculty member of the FEB UNS, during a Workshop on Fintech Business, Wednesday, December 11, 2019. He mentions that Fintech business that provide information technology-based innovation should empower the underprivileged community and reduce their vulnerability.

    Even though, the Fintech business has a rapid growth, there are many people who has not understand about Fintech operation yet. This becomes the role of a university to educate the community and explain further about Fintech business to prevent them from illegal Fintech business. Students can also propose a proposal on the Student Creativity Program (PKM) to establish an applicative product that would be useful for the community to avoid the illegal financial service.

    “Students can use the Student Community Service Program (Kuliah Kerja Nyata-KKN) as a media to improve community’s literacy on Fintech business,” Dr. Irwan says.

    Further, Irwan advised to the participants who mostly are students, to be careful when using a Fintech application. When downloading application, do not randomly press or choose “Allow” option, do not gives your contact number and giving permission to access storage. If users give permission on these two items, then, all contact in users’ phone will automatically recorded in the application owner’s server and will be used to ‘pressing’ the users when there is a delay in payment. This will defame the users.

    The Fintech business that listed in the Financial Services Authority (OJK) is secure. The business owner of the application that want to get listed in OJK should provide a demonstration on their application and the application should not asking for accessing contact and storage. This was mentioned by Peter Febian, the Head of Corporate Communication of Ladang Modal, to the more than workshop 150 participants, while advise them to be selective in choosing online lending.

    “Do not carelessly borrow money from Fintech, ensure the legality of a Fintech through OJK contact 157 or ojk.go.id,” Peter said. Fintech credit should not be used as a settlement for other debt, because this action will brought the borrowers to a bigger problem. Furthermore, the maximum amount of Fintech loans a borrower take should not bigger than 30% of their income.

  • Pembentukan Kelas Internasional, Perlu Komitmen Bersama

    Pembentukan Kelas Internasional, Perlu Komitmen Bersama

    Menginisiasi hingga melaksanakan kelas internasional merupakan pekerjaan besar yang memerlukan komitmen bersama, keikhlasan, saling mendukung banyak pihak, dosen, program studi (prodi), fakultas hingga universitas.

    Pernyataan itu disampaikan Prof. Anis Chariri, SE,M.Com, Ph.D.,Ak. pada Workshop Inisiasi Kelas Internasional yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) , Senin, 9 Desember 2019.

    Prof. Chariri berbagi pengalamannya kepada peserta workshop yang seluruhnya dosen FEB UNS , bagaimana  menginisiasi dan mengelola kelas internasional di Universitas Diponegoro (UNDIP).

    Kelas internasional, selain mendorong income generating, berkontribusi pada pencapaian  world class university dan juga memotivasi secara umum bagi program- program lainnya.

    Banyak hal yang perlu dipersiapkan, mulai dari menentukan kriteria dosen pengampu, program pendukung, hingga aspek kelembagaan.

    Dikatakannya, dosen pengampu di kelas internasional harus memiliki kriteria khusus, tak hanya lancar berbahasa Inggris, namun perlu juga memiliki kedisiplinan yang tinggi dan memahami perbedaan budaya. Misal, mampu memahami cara berpakaian mahasiswa asing.

    Kelas internasional harus berbeda dari program reguler, bukan hanya bahasanya saja, namun lebih dari itu.

    Beberapa program pendukung diantaranya
    leadership and cross cultural training camp, Exchange programs Internasional Student/Culture Week serta sertifikasi profesional.

    Sementara itu, dari aspek kelembagaan, perlu didukung dengan tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Adanya international office tingkat fakultas, staf administrasi yang lancar berbahasa Inggris, web khusus, dokumen berbahasa Inggris serta kerja sama dengan universitas mitra.

    Mahasiswa kelas internasional berkesempatan pula untuk menempuh  Program Double Degree, Credit Transfer System atau Summer Course.

    Dalam diskusi itu, Prof. Chariri menyampaikan bahwa persiapan yang paling sulit dari seluruh persiapan yang ada adalah saat melakukan pemetaan kurikulum dengan universitas partner.

    “Untuk hal ini, memakan waktu sekitar 6 bulan karena pola kurikulum yang sangat jauh berbeda. Jumlah matakuliah kita dalam satu semesternya jauh lebih banyak dengan mereka yang hanya 4 matakuliah dalam satu semesternya ” paparnya.

    Di siang harinya, dalam tema yang sama, kegiatan workshop ini dilanjutkan dengan  audien yang berbeda, yakni dengan para Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kepala Program Studi di lingkungan UNS.

  • The Establishment of an International Class Needs a Collective Commitment

    The Establishment of an International Class Needs a Collective Commitment

    Initiating and implementing an international class is tedious work that needs collective commitment and supports from faculty stakeholders such as lecturers, study programs, the faculty, as well as the university. This was expressed by Prof. Anis Chariri, SE, M.Com, PhD., Ak., in the Workshop on International Class Initiative, by the Faculty of Economics and Business, Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) on Monday, December 9, 2019.

    Prof. Chariri shares his experience to the participants who were the Faculty members of FEB UNS, regarding how to initiate and conducting an international class in Universitas Diponegoro (UNDIP). International class leads to income generating that will contribute to the world class university achievement and motivate other programs in general. There are many aspects that need to be prepared started from the Lecturers, supporting program, and institutional aspect.

    International class is different from regular program not only in term of language but also beyond that. The Lecturers designed for international class should have certain criteria, not only proficient in English but also have a great discipline and understand the cultural differences. The supporting programs that needed in an international class are leadership and cross-cultural training camp, exchange programs, International Student or Culture Week, and professional certification.

    Meanwhile, in term of institutional aspect, supporting infrastructures are needed. The availability of international office at faculty level, supporting staff with favorable English proficiency, special website, official English document, and collaboration with partner university. A double-degree program for the international student can be offered, also Credit Transfer System or Summer Course.

    During the discussion, Prof. Chariri mentions that the hardest part in preparing an international class is related with the curriculum mapping with partner universities. “Regarding this, it takes approximately 6 months, because of the curriculum pattern that significantly different. The number of course subject offered in one semester in Indonesia is greater than those offered in partner universities, which usually ranged up to 4 courses only in one semester,” he explained.

    For the afternoon session, a similar topic is presented with different audiences. For this session the audience consist of the Vice Dean of Academic Affairs and the Head of Study Program from all Faculties in UNS.

  • Dr. Tang Ajarkan Strategi Menulis artikel yang Baik

    Dr. Tang Ajarkan Strategi Menulis artikel yang Baik

    Sebagian orang mempublikasikan karya ilmiahnya karena tuntutan kelulusan dalam studinya.

    Hal ini sebenarnya merupakan motivasi yang bagus, akan tetapi hanya akan berfungsi dalam jangka pendek, karena setelah lulus mereka akan kehilangan motivasi untuk melakukan publikasi.

    Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, maka peneliti perlu mencari motivasi mereka yang sebenarnya dalam melakukan riset.

    Pernyataan itu disampaikan Dr. Chor Foon Tang, Senior Lecturer di bidang Ilmu Ekonomi, serta bagian dari Centre for Policy Research and International Studies (CenPRIS), Universiti Sains Malaysia saat memberikan kuliah umum, Senin, 25 November 2019 di FEB UNS.

    Kepada peserta yang sebagian besar mahasiswa pascasarjana FEB UNS, Dr. Tang memberikan saran agar publikasi dari hasil penelitian dilakukan segera dan tidak menunggu saat kelulusan.

    Hal ini untuk mengurangi kemungkinan akan adanya publikasi dengan topik yang sama.

    “Buatlah artikel yang berbeda. Caranya dengan menambahkan perspektif yang berbeda. Misalnya topik financial development atau poverty misalnya, itu topik yang sudah dijelaskan bertahun tahun dan sudah banyak yang membahas. Jika ingin membahas kembali apakah bisa? Tentu saja bisa” tegasnya.

    Namun perlu ditambahkan dengan pembaharuan-pembaharuan lain, misalnya ditambahkan variabelnya, ataupun dengan penjelaskan menggunakan sudut pandang yang berbeda.

    Di kesempatan itu pula, lecturer yang juga sebagai Associate (Regional) Editors di the International Journal of Social Economics, International Journal of Tourism Policy, and Asia menceritakan pengalamannya dalam proses mereview dari sebuah artikel riset hingga artikel tersebut dipublikasi.

    “Hal pertama yang akan saya lakukan ketika ada submisi artikel, maka saya akan melakukan pengecekan apakah artikel tersebut dapat dipublikasi. Terkadang ada artikel yang telah publish tetapi dikirimkan ke jurnal lain, akan tetapi semua isi, data, dan hasil yang diungkapkan sama persis dengan artikel yang telah dipublikasi.” paparnya.

    Dr. Tang menerima gelar Ph.D in Economics dari Faculty of Economics and Administration, Universityof Malaya (UM) dan sudah berpartisipasi dalam bidang riset akademis sejak tahun 2006 serta berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya dalam berbagai jurnal bereputasi pada tahun 2007.

    Dr. Tang memberikan tips untuk memulai menulis artikel yang baik sehingga nantinya diharapkan dapat terbit di jurnal ilmiah bereputasi.

    Dr. Tang juga mempraktikkan secara langsung bagaimana cara menulis artikel, dimulai dari bagaimana memperoleh ide atau topik, eksekusi ide hingga mengolah data yang ada menjadi sebuah hasil yang baik.

    Pengalamannya dalam menulis 100 jurnal lebih membuat para audiens menjadi lebih terpacu untuk menulis papernya masing-masing.

  • Mahasiswa dan Dosen dari Perguruan Tinggi Di Indonesia Ikuti Pelatihan STATA dan IFLS yang Digelar FEB UNS

    Mahasiswa dan Dosen dari Perguruan Tinggi Di Indonesia Ikuti Pelatihan STATA dan IFLS yang Digelar FEB UNS

    Lebih dari 100 orang mahasiswa dan dosen dari perguruan tinggi di Indonesia mengikuti pelatihan Stata dan IFLS yang digelar oleh Tim Internasionalisasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Rabu 4 Desember 2019 di Swiss Bellin, Solo.

    Kegiatan yang dibuka oleh Dr. Izza Mafruhah, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS, menghadirkan dua narasumber , Wahyoe Soedarmono,Ph.D dari Universitas Sampoerna Jakarta dan Yohanes Sondang Kunto, Ph.D. dari Universitas Kristen Petra Surabaya.

    Di awal presentasinya, Wahyoe mengatakan bahwa paper yang diterima bukan karena paper itu sempurna, tetapi paper yang tidak terlalu salah. Argumen dibangun melalui analisis data yang solid.

    Di kesempatan itu juga,  Wahyoe berbagi pengalaman, bagaimana sebuah riset dilihat dari perspektif sebagai reviewer maupun sebagai author.

    Biasanya, reviewer dijurnal itu simpel, akan meriview paper mendekati deadline, 1 hari sebelumnya dan cukup baca abstraknya.

    “Jika dua paragraf pertama sudah kuat
    berarti penulisnya serius. Jika 2 paragaraf pertama tidak jelas , saya akan langsung reject” jelasnya.

    Reviewer akan melihat tabelnya indah atau tidak , jelas atau tidak, apakah tabel terkait dengan abstrak atau tidak. Setelah clear, lalu membaca lebih dalam.

    Sebuah paper yang bagus adalah paper yang hasil tabelnya jelas, bisa dibaca oleh pembaca secara otomatis tanpa harus dijelaskan oleh penulisnya.Dan perhatikan pula storyline juga harus bagus.

    Dari perspektif peneliti, Wahyoe menyarankan agar dapat meminimalisir ruang untuk reviewer mereject paper kita.

    “Jika seorang peneliti, membuat paper, running datanya memakai EViews lalu outputnya dikopas ke jurnal, tentu akan langsung direject oleh reviewer” papar peneliti yang dalam sepuluh tahun terakhir telah mempublikasikan 16 artikel di jurnal berputasi dengan menggunakan software STATA.

    Lebih lanjut, Wahyoe menjelaskan bagaimana menggunakan software STATA dalam mengolah data penelitian.

    Sementara itu, Yohanes Sondang Kunto, Ph.D. menjelaskan tentang Indonesian Family Life Surveys (IFLS) . IFLS, Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia, merupakan survei rumah tangga panel yang telah dilaksanakan beberapa tahun putaran.

    Tidak semua provinsi terkover dalam IFLS, hanya sebagian saja yang berada di Indonesia wilayah Timur.

    Paper yang menggunakan data IFLS telah tersebar di berbagai jurnal internasional. Namun di Indonesia, data IFLS ini belum banyak digunakan, baik oleh mahasiswa, akademisi, maupun pembuat kebijakan.

    Yohanes mengajak peserta pelatihan untuk dapat memanfaatkan data IFLS karena data itu sangat kaya sehingga dapat dieksplorasi untuk menganalisis fenomena masyarakat di Indonesia, terutama pengambilan kebijakan untuk provinsi-provinsi yang terkover IFLS.

    Dihari berikutnya, Kamis 5/12/2019 peserta akan langsung mempraktekkan pengolahan data IFLS dengan menggunakan software STATA.