FEB

Kategori: fakultas

  • Dosen FEB UNS Diseminasikan Hasil Penelitian Perilaku Pengguna FinTech DIY

    Dosen FEB UNS Diseminasikan Hasil Penelitian Perilaku Pengguna FinTech DIY

    Perkembangan teknologi keuangan (Financial Technology atau FinTech) di Indonesia terus menunjukkan tren positif, meskipun pertumbuhannya masih lebih lambat dibandingkan peningkatan kredit perbankan. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dua jenis layanan FinTech yang paling diminati masyarakat adalah paylater dan pinjaman daring (pindar).

    Fenomena ini menarik perhatian dua dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan (EP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Malik Cahyadin, S.E., M.Si.,Ph.D. dan Ayya Agmulia Asmarani Islam, S.E., M.E untuk melakukan penelitian mendalam mengenai perilaku pengguna FinTech di wilayah tersebut. Survei dilaksanakan selama bulan Juli hingga awal Agustus 2025 dengan dukungan pendanaan dari Hibah Penelitian DRPM Dikti Tahun 2025.

    Sebagai bagian dari proses diseminasi hasil penelitian, keduanya menjadi narasumber dalam Kuliah Umum bertajuk “Perilaku Pengguna Teknologi Keuangan di Provinsi DIY Tahun 2025” yang diselenggarakan di FEB Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Jumat (31/10/2025). Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 80 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB UMY.

    Acara dibuka oleh Kaprodi Ekonomi Pembangunan FEB UMY, Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kolaborasi kedua perguruan tinggi.

    Kami berterima kasih kepada dosen-dosen FEB UNS yang berkenan mengadakan kuliah umum di UMY. Kami berharap kegiatan kuliah umum dan P2M antarprogram studi dapat diperkuat di masa datang untuk mendorong iklim akademik yang semakin baik dan memperkuat kompetensi keilmuan ekonomi bagi mahasiswa,” ungkap Dyah.

    Dalam paparannya, Ayya Agmulia Asmarani Islam menjelaskan bahwa banyaknya pilihan platform paylater dan pindar menunjukkan potensi besar inklusi keuangan digital di masyarakat. Namun, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian.

    Pilihan layanan FinTech harus didasarkan pada informasi sahih yang dirilis oleh OJK untuk menghindari praktik penipuan FinTech ilegal. Mahasiswa sepatutnya peduli terhadap informasi resmi yang ada di OJK sebagai bentuk literasi masyarakat terdidik,” tegas Ayya.

    Ia juga menambahkan bahwa hasil survei menunjukkan tingkat kepatuhan pengguna FinTech di DIY masih tergolong baik.

    Kepatuhan pembayaran pengguna FinTech masih tinggi, menunjukkan bahwa masyarakat tergolong patuh terhadap kewajiban keuangannya,” tambahnya.

    Sementara itu, Malik Cahyadin memaparkan hasil survei terhadap 351 responden pengguna FinTech di Provinsi DIY yang mencakup mahasiswa, pekerja formal, dan pelaku usaha mikro.

    Hasil deskriptif menunjukkan bahwa 61,54% responden berjenis kelamin perempuan dan 38,46% laki-laki; 85,18% pengguna FinTech merupakan lulusan SMA dan Sarjana; Rentang usia terbanyak pengguna adalah 20–27 tahun; dan Mayoritas beragama Islam (93,16%).

    Malik menjelaskan bahwa faktor yang paling signifikan dalam memengaruhi keputusan menggunakan FinTech adalah kemampuan adaptasi terhadap teknologi keuangan dan manfaatnya dalam memenuhi kebutuhan pengguna.

    Adaptasi teknologi berpengaruh positif terhadap keputusan penggunaan FinTech, sementara usia dan tingkat pendidikan berkontribusi negatif terhadap intensitas transaksi,” jelas Malik.

    Ia juga memberikan rekomendasi bagi otoritas dan pelaku industri.

    OJK dan penyedia layanan FinTech perlu meningkatkan literasi kepada masyarakat agar mampu mengambil keputusan keuangan yang tepat. Selain itu, tata kelola bisnis FinTech dan jaminan keamanan data nasabah juga harus terus diperkuat, pungkasnya.

    Kegiatan kuliah umum ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi akademik antara Prodi Ekonomi Pembangunan FEB UNS dan Prodi Ekonomi Pembangunan FEB UMY. Selain memperluas jejaring keilmuan, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan literasi keuangan digital dan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya perilaku keuangan yang bertanggung jawab di era teknologi finansial.

    Kegiatan ini turut mendukung capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan literasi keuangan di kalangan mahasiswa, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong pemahaman masyarakat terhadap penggunaan teknologi keuangan yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.

  • Dosen FEB UNS Kupas Perilaku Pengguna Fintech Jawa Tengah dan Respon Kebijakan Moneter

    Dosen FEB UNS Kupas Perilaku Pengguna Fintech Jawa Tengah dan Respon Kebijakan Moneter

    Keberadaan teknologi keuangan (Financial Technology atau FinTech) kini tidak hanya membuka akses bagi masyarakat untuk melakukan pinjaman, tetapi juga mempermudah transaksi keuangan, baik secara tunai maupun angsuran. Seiring dengan itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan sejumlah regulasi sejak tahun 2018 (POJK No.13/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital) hingga 2024 (POJK No.40/2024 tentang LPBBTI) untuk memperkuat pengawasan terhadap usaha FinTech.

    Perkembangan bisnis FinTech di Indonesia tumbuh positif meskipun masih relatif kecil dibandingkan sektor perbankan. Kondisi ini mendorong para akademisi untuk meneliti perilaku pengguna FinTech dan mendiseminasikan hasilnya kepada mahasiswa sebagai bagian dari pembelajaran akademik.

    Sebagai wujud diseminasi hasil penelitian, dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan (EP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Perilaku Pengguna FinTech Jawa Tengah dan Respon Kebijakan Moneter”, Sabtu 1 November 2025 di Fakultas Teknik Universitas Tidar (UNTIDAR). Kegiatan ini diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri atas dosen dan mahasiswa.

    Kaprodi S1 EP FEB UNTIDAR, Dr. Emma Dwi Ratnasari, S.E., M.Si. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antarperguruan tinggi yang memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

    Kegiatan kuliah umum seperti ini menjadi sarana berharga untuk berbagi hasil riset dan memperluas wawasan mahasiswa melalui interaksi langsung dengan para peneliti,” ungkapnya.

    Dalam paparannya, Ika Alicia Sasanti, S.E., M.E. dosen EP FEB UNS, menjelaskan pentingnya literasi FinTech yang tepat bagi mahasiswa di era digital. Ia menekankan bahwa berbagai platform FinTech yang kini beroperasi telah diatur oleh OJK dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan kajian akademik.

    Mahasiswa perlu memahami peluang dan risiko FinTech agar bisa memanfaatkannya secara produktif. Tingkat kepatuhan pembayaran yang sudah di atas 90% menunjukkan masyarakat semakin bertanggung jawab terhadap kewajibannya, jelas Ika.

    Ia juga menambahkan pentingnya tata kelola bisnis dan keamanan data untuk mendukung inklusi keuangan digital yang sehat, serta menyoroti perlunya kebijakan moneter yang adaptif terhadap perkembangan FinTech di masa mendatang.

    Selanjutnya, Malik Cahyadin,  S.E., M.Si.,Ph.D dosen EP FEB UNS, memaparkan hasil penelitian tentang perilaku pengguna FinTech di Provinsi Jawa Tengah yang didukung pendanaan dari LPPM UNS tahun 2025. Penelitian dilakukan pada Juli hingga awal Agustus 2025 dengan 585 responden, terdiri dari pekerja formal dan pelaku usaha mikro.

    Hasil survei menunjukkan bahwa 61,03% responden adalah perempuan, 56,41% berpendidikan SMA, dan mayoritas berusia 17–25 tahun. Malik menjelaskan bahwa faktor adopsi teknologi keuangan, kemampuan membayar angsuran, dan tingkat kepercayaan berpengaruh positif terhadap intensitas transaksi FinTech. Sebaliknya, usia dan jenis kelamin berpengaruh negatif terhadap transaksi tersebut.

    Selain literasi, OJK dan penyedia layanan FinTech perlu memastikan bisnis keuangan digital ini berjalan secara terpercaya dan aman. Bank Indonesia pun perlu memperhatikan dampak FinTech terhadap jumlah uang beredar dan inflasi, terang Malik.

    Kegiatan kuliah umum ini tidak hanya memperkuat jejaring akademik antarperguruan tinggi, tetapi juga menjadi sarana penerapan hasil riset bagi mahasiswa di bidang ekonomi digital. Diseminasi penelitian ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan literasi keuangan, inklusi digital, dan penguatan tata kelola keuangan yang berkelanjutan.

     

  • FEB UNS dan BPKP Jateng Kolaborasi Dorong Penguatan Tata Kelola BUMD

    FEB UNS dan BPKP Jateng Kolaborasi Dorong Penguatan Tata Kelola BUMD

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Workshop Penerapan Tata Kelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di UNS Tower.

    Kegiatan yang digelar pada Senin, 3 November 2025 dihadiri oleh jajaran Direksi dan Dewan Pengawas dari 32 BUMD di Provinsi Jawa Tengah, baik dari perusahaan daerah air minum maupun BUMD tingkat provinsi.

    Workshop bertujuan untuk memperkuat implementasi prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam tata kelola BUMD serta mendorong peningkatan akuntabilitas dan profesionalisme pengelolaan usaha milik daerah.

    Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama berkelanjutan antara FEB UNS dan BPKP yang telah diinisiasi sejak beberapa tahun terakhir. Kolaborasi tersebut meliputi berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan, riset bersama, hingga pengembangan kelas kerja sama yang melibatkan dosen dan praktisi.

    “Kerja sama ini sangat bermanfaat, bukan hanya bagi BPKP, tetapi juga bagi kami di FEB UNS. Kegiatan workshop ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan lembaga pengawasan untuk mendukung pengelolaan BUMD yang lebih efektif, presisi, dan tajam” ujar Prof. Bhimo.

    Ia berharap hasil dari kegiatan ini dapat berkontribusi nyata terhadap peningkatan tata kelola BUMD di Jawa Tengah, yang pada akhirnya berdampak positif bagi pembangunan daerah.

    Sementara itu, Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Jawa Tengah, Buyung Wiromo Samudro, S.E., MBA, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kajian efektivitas penerapan Good Corporate Governance bagi BUMD tahun 2025.

    Ia menegaskan, penerapan GCG merupakan keniscayaan bagi setiap BUMD dalam menjalankan bisnisnya. Prinsip ini juga diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2017 tentang BUMD sebagai upaya untuk menciptakan tata kelola yang profesional, transparan, dan berintegritas.

    “Untuk memastikan penerapan GCG berjalan baik, dibutuhkan komitmen dari kepala daerah agar semangat good governance menular ke seluruh organ perusahaan, mulai dari dewan pengawas, direksi, hingga jajaran karyawan,” terang Buyung.

    Buyung juga memaparkan bahwa BPKP telah melakukan asesmen penerapan GCG pada tiga BUMD di Jawa Tengah, yaitu di Surakarta, Demak, dan Sragen. Pengawasan ini bertujuan memastikan prinsip tata kelola korporasi dijalankan sesuai regulasi dan berorientasi pada peningkatan nilai publik.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa perhatian BPKP terhadap tata kelola korporasi telah dimulai sejak akhir 1990-an. Kala itu, BPKP membentuk task force khusus GCG yang berperan dalam memperkuat tata kelola di BUMN, sebelum kemudian memperluas fokusnya pada BUMD yang memiliki karakteristik dan tantangan berbeda.

    “BUMD memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pelaku usaha, tetapi juga agen pembangunan daerah. Karena itu, sinergi dengan dunia akademik seperti UNS menjadi sangat penting untuk mengembangkan metodologi dan evaluasi tata kelola yang relevan dengan kebutuhan daerah,” jelasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, Internasionalisasi, dan Informasi UNS, Prof. Irwan Trinugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., QCRO menyampaikan apresiasi kepada BPKP atas kepercayaannya kepada UNS.

    Ia menegaskan bahwa UNS memiliki perhatian besar terhadap penguatan tata kelola dan integritas lembaga publik, baik melalui riset, pendidikan, maupun pengabdian kepada masyarakat.

    “Kolaborasi ini sudah lama terjalin, baik dalam bentuk riset bersama, sosialisasi, maupun tugas belajar pegawai BPKP di UNS. Workshop ini menjadi wujud nyata sinergi antara akademisi dan praktisi dalam memperkuat tata kelola sektor publik dan korporasi daerah,” ujar Prof. Irwan.

    Ia juga menekankan bahwa tata kelola yang baik akan berbanding lurus dengan kinerja dan kontribusi BUMD terhadap pembangunan daerah.

    “Jika BUMD memiliki tata kelola yang baik, maka kinerjanya akan meningkat, layanan publik akan membaik, dan pada akhirnya berkontribusi positif terhadap pendapatan daerah serta kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

    Workshop yang menghadirkan narasumber dari BPKP dan FEB UNS diakhiri dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) mengenai strategi penerapan tata kelola yang efektif di BUMD. Melalui forum ini, peserta diharapkan memperoleh wawasan dan rumusan praktis untuk memperkuat implementasi GCG di masing-masing daerah.

    Sinergi ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas pengelolaan BUMD, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Goal 16: Peace, Justice and Strong Institutions serta Goal 8: Decent Work and Economic Growth, melalui penguatan kelembagaan dan tata kelola ekonomi daerah yang berkeadilan dan berkelanjutan.

  • MAKSI FEB UNS Kupas Pentingnya Metode Kualitatif dalam Riset Akuntansi

    MAKSI FEB UNS Kupas Pentingnya Metode Kualitatif dalam Riset Akuntansi

    Program Studi Magister Akuntansi (MAKSI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), kembali menghadirkan kegiatan akademik inspiratif melalui Guest Lecture bertajuk “Seeing What Statistics Can’t: The Value of Qualitative Approaches for Early-Career Researchers.”

    Kegiatan yang digelar secara daring pada Rabu, 15 Oktober 2025 ini berfokus pada pentingnya pendekatan kualitatif dalam penelitian, terutama bagi peneliti muda dan mahasiswa pascasarjana yang tengah mendalami fenomena kompleks di bidang akuntansi, bisnis, maupun organisasi nirlaba.

    Kuliah tamu ini menghadirkan Dr. Miranti Kartika Dewi, S.E., M.B.A., Ph.D., dosen dari Universitas Indonesia sekaligus peneliti yang dikenal atas kepakarannya dalam bidang penelitian kualitatif, akuntansi Islam, dan akuntabilitas organisasi nirlaba (NGO).

    Dalam sesi yang berlangsung interaktif, Dr. Miranti membedah secara mendalam nilai dan keunggulan penelitian kualitatif dalam memahami konteks sosial di balik data angka statistik.

    Dalam pemaparannya, Dr. Miranti menekankan bahwa pendekatan kualitatif memiliki keunggulan dalam menggali makna dan pengalaman manusia secara utuh, sesuatu yang sering kali tidak terjangkau oleh metode kuantitatif.

    “Jika penelitian kuantitatif bertujuan untuk menggeneralisasi temuan (to generalize findings), maka penelitian kualitatif berfokus untuk memahami keunikan dari setiap kasus (to understand the uniqueness of the case),” jelasnya.

    Ia juga mencontohkan penelitian yang pernah dilakukannya pada sebuah NGO kemanusiaan besar di Indonesia (ACT) dengan menggunakan metodologi kualitatif interpretatif. Studi tersebut melibatkan 46 wawancara semi-terstruktur, 5 focus group discussions, observasi, dan analisis dokumenter untuk menelusuri makna akuntabilitas dalam konteks organisasi nirlaba.

    Melalui studi tersebut, ditemukan bahwa akuntabilitas NGO tidak hanya berhenti pada pelaporan keuangan, tetapi harus berorientasi pada kemandirian penerima manfaat (beneficiaries’ self-reliance), yang diibaratkan sebagai memberikan “alat pancing” bukan sekadar “ikan.”

    Selain menyoroti teknik dan metodologi, Dr. Miranti juga menggarisbawahi perjalanan peneliti dalam memaknai data.

    “Dari data kita memperoleh informasi, dari informasi lahir pengetahuan (knowledge), dan pada akhirnya menghasilkan kebijaksanaan (wisdom) yaitu kemampuan untuk melakukan hal yang benar (doing the right things),” ungkapnya.

    Ia menambahkan bahwa meskipun penelitian kualitatif kerap mendapat kritik terkait validitas dan reliabilitas, justru pendekatan ini sangat krusial dalam memahami praktik akuntansi dalam konteks sosial dan organisasi yang dinamis.

    Kegiatan kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Program Studi Magister Akuntansi FEB UNS dalam memperkuat kapasitas mahasiswa dan peneliti muda di bidang metodologi penelitian yang relevan dengan perkembangan ilmu akuntansi kontemporer.

    Melalui kegiatan seperti ini, MAKSI FEB UNS berkomitmen untuk mendorong lahirnya peneliti yang tidak hanya berpikir analitis, tetapi juga reflektif dan kontekstual, sejalan dengan tujuan pendidikan tinggi yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas dan Tujuan 16: Kelembagaan yang Tangguh dan Inklusif.

  • Kuliah Umum Akuntansi Publik, Diskusikan Isu Kontemporer dan Pendekatan Mixed Methods dalam Riset

    Kuliah Umum Akuntansi Publik, Diskusikan Isu Kontemporer dan Pendekatan Mixed Methods dalam Riset

    Sebagai upaya memperkuat literasi riset dan memperluas wawasan akademik di bidang akuntansi sektor publik, Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk Isu Kontemporer Akuntansi Sektor Publik dan Pendekatan Mixed Methods dalam Riset.

    Kegiatan ini diikuti oleh 90 mahasiswa program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang merupakan para pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

    Dalam sambutannya, Prof. Doddy Setiawan, S.E., M.Si., Ph.D., Ak., Ketua Program Studi S1 Akuntansi menyampaikan pentingnya kegiatan ini sebagai sarana untuk memperluas wawasan penelitian mahasiswa, khususnya dalam bidang akuntansi sektor publik.

    “Kami ingin teman-teman memahami bahwa pendekatan kualitatif dan kuantitatif sama pentingnya. Keduanya memberi cara pandang yang berbeda namun saling melengkapi. Harapannya, kegiatan ini dapat membantu mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu, bahkan menghasilkan publikasi bereputasi seperti di Sinta 2 atau Scopus,” ujar Prof. Doddy.

    Lebih lanjut, Prof. Doddy menekankan pentingnya menyiapkan penelitian sejak dini agar penulisan skripsi tidak dilakukan secara terburu-buru.

    “Kami berharap kegiatan ini menjadi tonggak bagi mahasiswa untuk memulai riset dengan baik dan menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas,” imbuhnya.

    Di akhir sambutannya, Prof. Doddy menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini dan berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai bagian dari upaya membangun budaya riset di lingkungan akademik FEB UNS.

    Sementara itu, Dr. Sutaryo, S.E., M.Si., Ph.D., Ak., CA., CRA., CRP., ACPA, Wakil Dekan Bidang Nonakademik yang juga bertindak sebagai moderator menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan lanjutan dari kerja sama antara UNS dan BPKP.

    “UNS dipercaya untuk mengelola 90 pegawai BPKP dalam program ini. Mereka masih muda, penuh potensi, dan diharapkan kelak menjadi calon-calon pemimpin di lingkungan BPKP. Oleh karena itu, penguatan literasi riset menjadi fokus utama agar mereka mampu menghasilkan penelitian yang relevan dan bermanfaat,” terangnya.

    Menurutnya, riset tidak sekadar mengumpulkan data, tetapi merupakan proses berpikir kritis dan kreatif untuk menemukan hal-hal baru yang belum banyak diperhatikan orang lain.

    “Riset adalah tentang melihat apa yang orang lain lihat, namun berpikir tentang apa yang orang lain tidak pikirkan,” pungkasnya.

    Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama. Dr. Rusdi Akbar, M.Sc., Ph.D., Ak., CA. dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) memaparkan materi bertajuk “Mixed Research Approach”. Dalam paparannya, Ia menekankan pentingnya sinergi antara metode kualitatif dan kuantitatif untuk memahami realitas sosial secara komprehensif.

    “Riset yang baik tidak hanya menguji teori, tetapi juga memahami makna di balik angka. Pendekatan campuran memberi pandangan yang lebih utuh terhadap fenomena akuntansi publik,” jelasnya.

    Sesi berikutnya disampaikan oleh Taufiq Arifin, S.E., M.Sc., Ph.D, Ak dengan materi “Generating Research Ideas”.

    Dalam paparannya, Ia mengajak mahasiswa memahami bagaimana menghasilkan ide riset yang berdampak tinggi (high-impact research) melalui identifikasi research gap, pengamatan isu kontemporer, serta pemanfaatan data yang semakin beragam, termasuk data teks seperti laporan publik, pidato, maupun media sosial.

    Ia juga menekankan bahwa riset besar tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.

    Melalui kuliah umum ini, para peserta diperkenalkan pada pendekatan riset modern, mulai dari analisis teks dalam laporan keuangan publik, eksplorasi data kualitatif melalui wawancara dan focus group discussion, hingga integrasi hasil penelitian untuk menjawab tantangan tata kelola sektor publik.

    Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian penting dalam penguatan kompetensi riset mahasiswa serta mendukung upaya menciptakan tata kelola publik yang lebih transparan, akuntabel, dan berintegritas.

    Kegiatan ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas) dan Tujuan 16 (Institusi yang Kuat dan Inklusif), melalui peningkatan kapasitas riset dan literasi akademik di bidang akuntansi publik yang berorientasi pada tata kelola yang transparan dan berkeadilan.

  • P4M FEB Fasilitasi Peneliti dengan Pendampingan Publikasi Penelitian Kualitatif

    P4M FEB Fasilitasi Peneliti dengan Pendampingan Publikasi Penelitian Kualitatif

    Pusat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P4M) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Webinar dan Pendampingan bertajuk “Qualitative Research in Practice: From Field Insights to Academic Writing”,  Jumat, 17 Oktober 2025.

    Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh dosen serta peneliti dari berbagai rumpun keilmuan.

    Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D, Wakil Dekan Akademik dan Penelitian FEB UNS, memaparkan pengembangan model klinik penelitian yang kini dikemas secara daring. Model ini melibatkan sesi review dan feedback langsung dari para ahli untuk meningkatkan keterampilan penulisan akademik di berbagai bidang penelitian.

    Ketua Pusat P4M, Dila Maghrifani, S.E., B.Sc., M.Sc., Ph.D., turut memberikan sambutan dan apresiasi kepada seluruh peserta serta narasumber. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat budaya riset di lingkungan FEB UNS.

    Sesi utama diisi oleh Dian Ekowati, S.E., M.Si., M.AppCom(OrgCh)., Ph.D., Kepala Kelompok Penelitian Human Capital and Organization Studies.

    Dalam pemaparannya, Dian menjelaskan perbedaan mendasar antara penelitian kualitatif dan kuantitatif, sekaligus meluruskan berbagai kesalahpahaman yang sering muncul tentang pendekatan kualitatif.

    “Penelitian kualitatif bukanlah pendekatan yang lemah atau subjektif. Justru melalui metode ini, kita dapat memahami dinamika manusia dan organisasi secara lebih mendalam,” ungkapnya.

    Dian juga membahas tahapan penelitian kualitatif mulai dari penyusunan pertanyaan riset, pengumpulan data, hingga analisis menggunakan teknik seperti coding dan analisis tematik. Ia menekankan pentingnya ketelitian, transparansi, serta pertimbangan etika dalam proses penelitian.

    Selain itu, Dian membagikan pengalaman membimbing mahasiswa dan peneliti dalam merumuskan pertanyaan riset yang fokus dan eksploratif. Menurutnya, pertanyaan yang tepat menjadi kunci dalam menghasilkan penelitian yang bermakna dan kontributif terhadap ilmu pengetahuan.

    Di sesi terakhir, panitia mengumumkan rencana sesi mentoring lanjutan bagi peserta. Dalam sesi tersebut, peserta akan mendapat kesempatan untuk meninjau dan memperbaiki naskah penelitian mereka bersama mentor. Tiga makalah telah dijadwalkan untuk ditinjau dalam sesi ini, mencakup tema-tema seperti kepemimpinan perempuan di pendidikan tinggi, perilaku digital generasi milenial, dan kepemimpinan virtual dalam tim global.

     FEB UNS berharap dapat memperkuat kapasitas riset kualitatif di kalangan akademisi serta mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah yang berdampak bagi pengembangan ilmu dan masyarakat.

    Melalui kegiatan ini, FEB UNS turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 9: Inovasi dan Infrastruktur, dengan memperkuat kapasitas penelitian dan budaya akademik yang berdampak.

  • Deputi BKKBN Dorong Mahasiswa UNS Siap Hadapi Bonus Demografi Menuju Indonesia Emas 2045

    Deputi BKKBN Dorong Mahasiswa UNS Siap Hadapi Bonus Demografi Menuju Indonesia Emas 2045

    Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, memberikan kuliah umum bertema “Kapitalisasi Bonus Demografi untuk Menggapai Indonesia Emas 2045” di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Selasa 14 Oktober 2025.

    Kegiatan ini dihadiri jajaran pejabat BKKBN serta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, Internasionalisasi, dan Informasi UNS, Prof. Irwan Trinugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., bersama mahasiswa dari berbagai program studi.

    Kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya BKKBN dalam mengedukasi generasi muda mengenai strategi pengelolaan kependudukan dan peluang bonus demografi bagi pembangunan nasional.

    Dalam sambutannya, Prof. Irwan menyampaikan apresiasi atas kerja sama antara UNS dan BKKBN yang telah terjalin melalui Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK) sejak 2023. Ia mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan tersebut guna memperluas wawasan dan kesadaran akan isu strategis kependudukan yang berdampak langsung pada masa depan bangsa.

    Dr. Bonivasius dalam pemaparannya menjelaskan bahwa bonus demografi merupakan peluang emas yang terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar daripada penduduk usia non-produktif.

    “Kondisi ini bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, asalkan diiringi dengan investasi yang tepat pada pendidikan, kesehatan, dan pelatihan kerja,” ujarnya.

    Ia juga memaparkan visi besar Indonesia Emas 2045, yang mencakup penguatan sumber daya manusia unggul, berbudaya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Beberapa negara seperti Tiongkok, Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan disebut sebagai contoh sukses dalam mengoptimalkan momentum bonus demografi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi.

    Lebih lanjut, Dr. Bonivasius menekankan peran penting mahasiswa dan generasi muda dalam mendukung program-program strategis BKKBN, di antaranya: Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), pendampingan keluarga berisiko stunting melalui edukasi dan pemantauan; Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), edukasi parenting dan pengelolaan daycare komunitas; Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), edukasi pranikah dan pengasuhan keluarga berkualitas; SIDAYA (Lansia Berdaya), pendampingan dan pelatihan perawatan lansia melalui pendekatan aged care.

    Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk terus meningkatkan kompetensi digital, jiwa kewirausahaan, partisipasi sosial-politik, serta kesiapan menghadapi ekonomi hijau dan industri 4.0. “Generasi muda bukan sekadar penonton, melainkan penggerak utama menuju Indonesia Emas 2045,” tegas Dr. Bonivasius.

    Kuliah umum ini juga memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 4 (Pendidikan Berkualitas), poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta poin 10 (Pengurangan Kesenjangan).

  • Prodi S1 Manajemen Selenggarakan Kuliah Tamu: Membedah Etika dan Regulasi AI di Sektor Perbankan

    Prodi S1 Manajemen Selenggarakan Kuliah Tamu: Membedah Etika dan Regulasi AI di Sektor Perbankan

    Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Navigating the Ethics of AI in Banking Industry” sebagai bagian dari mata kuliah Etika Bisnis, Minggu 19 Oktober 2025.

    Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Yuni Dwi Wijayanti, S.E., Ak., M.B.A., M.Com., CHRP, PCC, Policy Account Consultant di Hays Consulting Service, New Zealand.

    Dalam paparannya, Yuni Dwi Wijayanti menjelaskan bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa transformasi besar dalam dunia perbankan, mulai dari layanan pelanggan hingga sistem manajemen risiko dan upaya pencegahan pencucian uang (anti-money laundering/AML). Pemanfaatan AI kini menjadi elemen penting dalam meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan akurasi di sektor keuangan.

    Ia mencontohkan penggunaan chatbot seperti DINI milik BNI untuk layanan pelanggan 24 jam, implementasi machine learning dalam credit scoring yang mempercepat proses pengambilan keputusan kredit, serta sistem deteksi penipuan berbasis AI yang memperkuat keamanan finansial di berbagai bank, termasuk BNI dan Suncorp.

    Namun, di balik manfaatnya, Yuni menegaskan bahwa AI juga membawa tanggung jawab moral dan sosial.

    “AI bukan hanya sekadar alat teknologi, tetapi juga refleksi dari nilai dan keputusan manusia yang mengoperasikannya,” ujarnya. Tantangan etika yang perlu diantisipasi meliputi bias dan diskriminasi dalam data, kurangnya transparansi dalam keputusan otomatis, pentingnya perlindungan data pribadi sesuai UU PDP 2022 dan Privacy Act 2020 di Selandia Baru, serta isu akuntabilitas atas kesalahan sistem.

    Ia menekankan pentingnya prinsip explainability, yaitu kemampuan lembaga keuangan menjelaskan alasan keputusan AI kepada nasabah. Di tingkat global, praktik etika AI diatur melalui OECD AI Principles dan EU AI Act (2024), sementara Indonesia telah memiliki arah melalui National AI Strategy 2020–2045 yang menekankan inovasi berbasis etika dan kemanusiaan.

    Sebagai penutup, Yuni mengingatkan mahasiswa agar memandang AI bukan sekadar alat efisiensi, melainkan ruang pengambilan keputusan yang berintegritas. “AI bisa menggantikan banyak fungsi manusia, tetapi tidak akan pernah menggantikan moralitas, empati, dan tanggung jawab,” pesannya.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari inisiatif DIKTISAINTEK BERDAMPAK, yang menegaskan komitmen Program Studi S1 Manajemen FEB UNS dalam memberikan pendidikan relevan dan berdaya saing global. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan ke-4 (Pendidikan Berkualitas) dan tujuan ke-9 (Inovasi dan Infrastruktur) melalui penguatan literasi etika digital di era kecerdasan buatan.

  • Wakil Wali Kota Surakarta Beri Kuliah Praktisi di FEB UNS: Bangun Kepemimpinan Otentik di Era Digital

    Wakil Wali Kota Surakarta Beri Kuliah Praktisi di FEB UNS: Bangun Kepemimpinan Otentik di Era Digital

    Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi secara daring bertajuk “Leadership in the Digital Era: Building an Authentic Presence on Social Media” Kamis, 16 Oktober 2025.

    Kegiatan ini menghadirkan Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A., Ph.D (Cand.), Wakil Wali Kota Surakarta, sebagai narasumber utama, dan dipandu oleh Dr. Wulan Permatasari, S.E., M.M., SHRM.CP sebagai moderator.

    Dalam sambutannya, Dr. Sinto Sunaryo, S.E., M.Si., SHRM.CP., Ketua Program Studi S1 Manajemen FEB UNS, menjelaskan bahwa kuliah praktisi merupakan agenda rutin yang menghubungkan teori akademik dengan praktik profesional.

    “Mahasiswa diharapkan memperoleh wawasan langsung dari para praktisi agar dapat memahami penerapan teori dalam konteks nyata, terutama di bidang kepemimpinan,” ujarnya.

    Astrid Widayani membuka pemaparannya dengan membahas konsep persona pejabat publik di media sosial, yaitu bagaimana citra dan identitas seorang pemimpin dibangun secara daring untuk menjangkau publik, menjelaskan kebijakan, serta menampilkan sisi personal dan emosional.

    Ia juga menguraikan bahwa citra pemerintah terbentuk dari dua dimensi: citra birokrasi dan citra politik, yang keduanya sangat dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap aparatur dan pemimpin publik.

    Lebih lanjut, Astrid menjelaskan dimensi “authentic presence” yang menjadi kunci kepemimpinan di era digital.

    “Kehadiran otentik di media sosial bukan sekadar eksis, tetapi harus konsisten antara nilai pribadi dan pesan yang disampaikan, transparan, serta membangun interaksi dua arah,” tegasnya.

    Ia menambahkan bahwa autentisitas diukur dari kredibilitas, kepercayaan, dan koneksi emosional yang tumbuh antara pemimpin dan publik.

    Sebagai strategi, Astrid menyoroti empat langkah membangun authentic presence: menemukan nilai inti (core value), menjaga konsistensi dengan konten yang relevan, mendengarkan audiens secara aktif, dan berinteraksi secara otentik tanpa gimmick. Ia menutup sesinya dengan menekankan bahwa autentisitas akan menumbuhkan kepercayaan publik, pondasi utama dalam kepemimpinan yang berkelanjutan.

    Kuliah ini diikuti secara daring oleh mahasiswa yang sebagian besar dari Prodi S1 Manajemen berjalan interaktif melalui sesi tanya jawab.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori kepemimpinan, tetapi juga bagaimana membangun citra diri dan kepemimpinan yang kredibel di ruang digital.

    Kegiatan kuliah praktisi ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, dengan menumbuhkan generasi pemimpin muda yang berintegritas, adaptif, dan komunikatif di era digital.

  • Forum Diskusi Pimpinan Ormawa FEB UNS Bahas Reorganisasi dan Penguatan Tata Kelola UKM

    Forum Diskusi Pimpinan Ormawa FEB UNS Bahas Reorganisasi dan Penguatan Tata Kelola UKM

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Forum Diskusi Pimpinan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Jumat 17 Oktober 2025 di Ruang Sidang 1 Gedung Soeharno TS FEB UNS.

    Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua dan Wakil Ketua/Sekretaris/Bendahara dari seluruh UKM dan Ormawa di lingkungan FEB, bersama jajaran Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.

    Forum ini merupakan pertemuan ketiga yang diselenggarakan dalam rangka persiapan reorganisasi kepengurusan Ormawa dan UKM tahun 2026.

    Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Tastaftiyan Risfandy, S.E., M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas berbagai kegiatan mahasiswa yang telah terlaksana dengan baik hingga penghujung tahun, seperti Management Carnival oleh HMJM, ALCOFE oleh HMJEP, dan ACTIVE oleh HMJAk dan sebagainya.

    “Kegiatan sudah sampai pada tahap puncak, dan saya tahu betul perjuangan teman-teman dalam menyelenggarakan acara itu tidak mudah. Apresiasi setinggi-tingginya untuk semua,” tutur Tastaftiyan.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pelaksanaan reorganisasi tahun ini rencananya dimajukan. Jika tahun lalu pelantikan pengurus baru dilakukan pada Maret, maka tahun 2026 akan digelar pada awal Januari. Langkah ini diambil agar pengurus baru memiliki waktu lebih panjang untuk beradaptasi dan menjalankan program kerja sebelum perkuliahan dimulai.

    Bidang Kemahasiswaan menargetkan rapat pleno Ormawa dapat diselenggarakan maksimal pada 28 November 2025, dengan tahapan seleksi pengurus, pemilihan pengurus harian, dan rekrutmen anggota baru yang terjadwal secara serentak antar-UKM.

    “Diharapkan SK pengurus sudah ditandatangani Dekan pada akhir Desember, dan pelantikan dilakukan bersama pada minggu pertama perkuliahan,” imbuhnya.

    Dalam forum tersebut juga dibahas sejumlah isu strategis, antara lain mekanisme survei mahasiswa, tata kelola peminjaman ruang, serta rencana renovasi sekretariat UKM.

    Perwakilan UKM mengusulkan agar SOP Ormawa dipublikasikan secara terbuka dan setiap perubahan aturan atau struktur organisasi (SOTK) disosialisasikan melalui forum bersama untuk menghindari miskomunikasi dan mendukung kelancaran kegiatan mahasiswa.

    Amelia Zailani Pertiwi, S.IP., Kepala Subbag Non Akademik menyampaikan bahwa renovasi ruang UKM tengah berproses serta akan disusun alur baru peminjaman ruang agar lebih transparan dan adil.

    Melalui forum ini, FEB UNS menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola kemahasiswaan yang partisipatif dan akuntabel. Langkah-langkah seperti penyamaan jadwal reorganisasi, transparansi SOP, serta optimalisasi fasilitas diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan organisasi mahasiswa yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan, sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 16 (Institusi yang Tangguh dan Inklusif).