FEB

Kategori: fakultas

  • Tim Dosen S1 Manajemen Bersama KADIN Surakarta Laksanakan Program Pengabdian Masyarakat

    Tim Dosen S1 Manajemen Bersama KADIN Surakarta Laksanakan Program Pengabdian Masyarakat

    Tim dosen Program Studi S1 Manajemen melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema “Literasi Pemahaman Proses Bisnis sebagai Landasan Solusi Digital bagi UKM”, yang menyasar para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) binaan KADIN Kota Surakarta.

    Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman pelaku UKM terhadap proses bisnis dan pengambilan keputusan sebagai fondasi transformasi digital yang efektif.

    Dalam kegiatan ini, para pelaku UKM diajak memetakan proses bisnis mereka melalui identifikasi dan refleksi atas 20 keputusan bisnis yang pernah mereka buat. Proses ini menggunakan pendekatan participatory learning dan teknik step-laddering yang terbukti mampu meningkatkan kualitas diskusi dan pengambilan keputusan kelompok.

    Ketua pelaksana pengabdian, Drs. Yong Dirgiatmo, M.Sc., Ph.D menjelaskan bahwa banyak pelaku UKM masih mengandalkan intuisi dalam menjalankan usaha, tanpa memisahkan mana keputusan yang bersifat strategis dan mana yang operasional.

    “Pemahaman terhadap proses bisnis adalah kunci agar pelaku usaha dapat menentukan prioritas dan memilih teknologi digital yang benar-benar relevan,” ujar perwakilan tim dosen.

    Kegiatan ini juga memperkenalkan kerangka pengambilan keputusan McKinsey yang mengklasifikasikan keputusan menjadi empat kategori: big bets, cross-cutting decisions, delegated decisions, dan ad hoc decisions. Melalui kerangka ini, peserta dapat memahami bahwa transformasi digital tidak dapat dilakukan tanpa analisis proses bisnis yang matang.

    Selain itu, pelaku UKM mendapatkan edukasi mengenai berbagai solusi digital yang dapat mendukung pengelolaan usaha, seperti aplikasi akuntansi, platform CRM, sistem kolaborasi, dan pemasaran digital. Peserta diajak menautkan kategori keputusan dengan teknologi yang paling efektif agar digitalisasi berjalan tepat sasaran.

    Hasil evaluasi menunjukkan bahwa lebih dari 80% peserta mengalami peningkatan pemahaman terhadap proses bisnis dan kesiapan digital. Sebagian besar peserta menyatakan siap mengadopsi minimal satu teknologi digital dalam waktu dekat untuk meningkatkan efisiensi usaha mereka.

    KADIN Surakarta menyambut baik program ini dan mengharapkan keberlanjutan pendampingan bagi pelaku UKM.

    “Digitalisasi UKM harus dimulai dari literasi bisnis yang kuat. Kami mengapresiasi upaya akademisi dalam membangun pondasi tersebut,” ungkap David R Wijaya, SE selaku Direktur Eksekutif KADIN Surakarta.

    Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian merencanakan penyelenggaraan Klinik Digitalisasi UKM yang akan membantu pelaku usaha menerapkan teknologi secara bertahap, mulai dari pencatatan digital hingga pemasaran berbasis analitik.

    Program pengabdian ini diharapkan menjadi model kolaborasi strategis antara perguruan tinggi, asosiasi bisnis, dan pelaku usaha dalam memperkuat daya saing UKM di era digital.

    Program pengabdian ini mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan kapasitas UKM, SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui penguatan literasi proses bisnis dan penerapan solusi digital, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi perguruan tinggi dan KADIN Surakarta.

  • Kajian Buku UU P2SK, Kupas Arsitektur Baru Sektor Jasa Keuangan Indonesia

    Kajian Buku UU P2SK, Kupas Arsitektur Baru Sektor Jasa Keuangan Indonesia

    Prodi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar kegiatan Kajian Buku bertajuk “Arsitektur Baru Sektor Jasa Keuangan Indonesia Pasca Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang P2SK”, Senin (24/11/2025) di Aula Gedung Soedarah Soepono FEB UNS.

    Kegiatan ini menghadirkan langsung penulis buku yang akan dikaji dalam forum, Setiawan Budi Utomo, yang juga sebagai Peneliti Eksekutif Senior (Direktur), Spesialis Riset dan Widyaiswara OJK Institute. Acara dipandu oleh Arum Setyowati, Dosen FEB UNS.

    Kegiatan kajian buku ini menjadi wadah akademik untuk memahami lebih mendalam transformasi besar sektor jasa keuangan Indonesia melalui hadirnya UU P2SK, sebuah regulasi dalam format omnibus yang menata ulang arsitektur kelembagaan, ruang lingkup pengawasan, serta arah pengembangan keuangan nasional.

    Ketua Prodi S1 Manajemen, Dr. Sinto Sunaryo, S.E., M.Si.,SHRM.CP dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi recharging akademik dan akan menambah wawasan mahasiswa.

    Menurutnya, sangat penting menghadirkan perspektif yang relevan dengan konteks nasional, terutama terkait lanskap kebijakan keuangan Indonesia pasca lahirnya UU P2SK.

    “Kami mendorong berbagai perspektif dari akademisi maupun praktisi agar terjadi link and match. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami bagaimana teori itu berlaku dalam konteks Indonesia. Silakan manfaatkan acara ini, bertanyalah sebanyak mungkin, dan kami berharap Pak Setiawan dapat berbagi pengalaman agar mahasiswa semakin memahami realitas sektor keuangan di Indonesia.” Tuturnya.

    UU P2SK sebagai Tonggak Reformasi Keuangan Nasional

    Dalam pemaparannya, Setiawan menjelaskan bahwa sebelum disahkannya UU P2SK, sektor jasa keuangan Indonesia menghadapi berbagai tantangan, di antaranya fragmentasi regulasi, tumpang tindih kewenangan, lemahnya koordinasi antarotoritas, hingga rendahnya inklusi keuangan di berbagai wilayah. Setidaknya terdapat 17 undang-undang sektoral yang berjalan sendiri-sendiri, sehingga diperlukan harmonisasi yang lebih kuat melalui pendekatan omnibus law.

    UU P2SK yang disahkan pada Januari 2023 menjadi lompatan terbesar dalam reformasi sektor keuangan setelah pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2011. Regulasi ini memuat 341 pasal dan mengatur penguatan kelembagaan, perluasan cakupan pengawasan, tata kelola digital, perlindungan konsumen, hingga penguatan sektor syariah dan pembiayaan berkelanjutan.

    Transformasi Kelembagaan dan Penguatan Koordinasi

    Salah satu aspek penting dalam UU P2SK adalah penguatan koordinasi lintas otoritas antara OJK, Bank Indonesia, LPS, dan Kementerian Keuangan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). KSSK kini memiliki dasar hukum yang lebih kuat untuk melakukan pencegahan krisis, memberikan respons dini, dan menyusun protokol kebijakan saat terjadi tekanan sistemik.

    Selain itu, pengawasan koperasi jasa keuangan dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) kini berada di bawah OJK, sehingga pengawasan sektor keuangan menjadi lebih terintegrasi. Langkah ini menjadi penting karena banyak koperasi dan LKM yang sebelumnya berjalan tanpa standar tata kelola yang memadai.

    Reformasi Perbankan dan Munculnya Bank Digital

    Pada sektor perbankan, narasumber menegaskan bahwa UU P2SK memperkenalkan pengawasan berbasis risiko yang lebih sistematis melalui tiga kategori: pengawasan normal, intensif, dan khusus. UU P2SK juga mendorong konsolidasi BPR/BPRS, penguatan struktur perbankan syariah, serta percepatan digitalisasi layanan.

    Kehadiran bank digital menjadi salah satu isu strategis. UU P2SK memberikan kerangka tata kelola yang lebih jelas mengenai modal minimum, keamanan siber, mekanisme know your customer (KYC) digital, dan manajemen risiko teknologi.

    Tidak hanya itu, UU P2SK juga mendorong integrasi prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam portofolio pembiayaan sebagai bagian dari transisi menuju keuangan berkelanjutan.

    Sektor Non-Bank dan Inovasi Teknologi Keuangan

    Reformasi juga menyentuh sektor non-bank seperti asuransi, dana pensiun, perusahaan pembiayaan, dan modal ventura. Industri ini dituntut memperkuat tata kelola, memperluas transformasi digital, serta meningkatkan transparansi layanan kepada masyarakat.

    Pada aspek teknologi, narasumber menguraikan bagaimana UU P2SK mengatur Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) termasuk fintech, e-wallet, P2P lending, insurtech, hingga aset digital. Regulasi mencakup perizinan, perlindungan data pribadi, pelaporan digital real-time, serta penguatan regulatory sandbox dan innovation hub yang menjadi ruang kolaborasi antara regulator dan pelaku industri.

    Perlindungan konsumen digital turut menjadi fokus utama, terutama melalui transparansi algoritma, pembatasan akses data pribadi, serta penyediaan kanal aduan berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI).

    Inklusi Keuangan, Koperasi, dan Keuangan Syariah

    UU P2SK juga memuat strategi untuk memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi perempuan, pelaku UMKM, penyandang disabilitas, dan masyarakat di daerah tertinggal. Pemerintah daerah didorong untuk mengintegrasikan program inklusi ke dalam RPJMD dan APBD.

    Dalam konteks koperasi dan LKM, buku ini menekankan pentingnya pembenahan tata kelola, standarisasi pelaporan, sertifikasi SDM, serta penguatan pengawasan untuk mencegah praktik rentenir berkedok koperasi.

    Tak kalah penting, UU P2SK memberikan perhatian besar pada keuangan syariah, termasuk integrasi dengan ekosistem halal, penguatan kepatuhan syariah, dan pengembangan instrumen pembiayaan berbasis syariah.

    Sesi diskusi berjalan aktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta terkait tantangan implementasi UU P2SK, kesiapan transformasi digital, dan peran mahasiswa dalam mengawal tata kelola sektor jasa keuangan di masa depan.

    “Keberhasilan UU P2SK sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, harmonisasi regulasi turunan, dan kemampuan lembaga keuangan beradaptasi dengan teknologi” ungkap Setiawan.

    Kegiatan ini mendukung capaian SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan literasi sektor keuangan, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui penguatan akses keuangan inklusif, serta SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui pemahaman tata kelola dan regulasi kelembagaan keuangan yang lebih kuat.

  • FEB UNS Selenggarakan Short Course “Applied Microeconomics of Global Health” Bersama Erasmus University dan Wageningen University

    FEB UNS Selenggarakan Short Course “Applied Microeconomics of Global Health” Bersama Erasmus University dan Wageningen University

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar program internasional melalui penyelenggaraan Short Course “Applied Microeconomics of Global Health” yang berlangsung pada 25–27 November 2025 di UNS Tower.

    Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara FEB UNS, Erasmus University Rotterdam, dan Wageningen University & Research, dengan peserta yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia.

    Short course dibuka secara resmi oleh Prof. Tri Mulyaningsih, Ph.D., Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset dan Penelitian FEB UNS sekaligus co-organizer kegiatan.

    Dalam sambutannya, Prof. Tri mengungkapkan rasa senang melihat antusiasme peserta yang datang dari beragam latar belakang dan wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, dan berbagai provinsi lainnya.

    Dikatakan bahwa isu kesehatan global semakin memerlukan pendekatan multidisiplin, terutama mengingat banyaknya diskusi publik mengenai universal health coverage, defisit BPJS, malnutrisi, hingga isu kesehatan mental.

    “Workshop ini mempertemukan para ekonom dan akademisi kesehatan agar kita dapat melihat isu-isu besar seperti malnutrisi, pandemi, hingga kesehatan mental dengan perspektif interdisipliner. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperluas jejaring dan kolaborasi riset,” ujar Prof. Tri.

    Dalam kesempatan tersebut, Prof. Tri juga memperkenalkan tiga narasumber internasional yang hadir yakni Robbert Sparrow (Associate Professor of Development Economics, Erasmus University), Matthias Rieger (Professor of Global Health, Erasmus University), serta Margarita de Vries Mecheva (peneliti di bidang behavioral experiments, Wageningen University).

    Selama tiga hari, peserta mengikuti enam sesi intensif yang dikemas secara terstruktur. Pada hari pertama, selain pembahasan mengenai Universal Health Coverage dan Economics of Nutrition & Stunting.

    Peserta juga mengikuti kegiatan kelompok yang dipandu narasumber. Setiap kelompok diminta mengidentifikasi satu isu kesehatan publik yang relevan, berbagi pandangan, lalu menyepakati satu isu untuk dianalisis lebih lanjut selama rangkaian workshop. Kelompok kemudian melaporkan hasil diskusi mereka sebelum melanjutkan sesi berikutnya.

    Short course hari pertama ditutup dengan aktivitas budaya di Javanologi UNS. Narasumber dan peserta berkesempatan mencoba memainkan gamelan, mengenal instrumen-instrumen tradisional Jawa, serta merasakan langsung pengalaman berkesenian yang menjadi bagian penting dari budaya lokal.

    Hari kedua, peserta mengikuti pembahasan dan diskusi tentang Nutrition Transition & Triple Burden of Malnutrition dan Globalization & Health.

    Sementara itu di hari ketiga berfokus pada Health Behaviours & Behavioural Field Experiments serta Behavioural Design Tutorial.  Rangkaian short course ditutup dengan Dinner.

    Prof. Tri berharap kegiatan ini menjadi ruang bertemunya peneliti, praktisi, dan akademisi dari berbagai disiplin untuk bersama-sama membangun pemahaman yang lebih kuat mengenai isu ekonomi kesehatan global.

    “Semoga Bapak Ibu menikmati kegiatan ini dan merasakan keramahan UNS serta Kota Solo,” pungkasnya.

    Kegiatan short course ini juga memiliki keterkaitan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan kapasitas akademik dan riset di bidang kesehatan global mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being), sementara peningkatan kualitas pembelajaran internasional dan kolaborasi lintas institusi selaras dengan SDG 4 (Quality Education) dan SDG 17 (Partnerships for the Goals).

  • International Students Sharing Session, Perkuat Wawasan Global Mahasiswa

    International Students Sharing Session, Perkuat Wawasan Global Mahasiswa

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menghadirkan suasana interaktif dan inspiratif melalui kegiatan International Students Sharing Session pada Kamis, 20 November 2025 di Aula Konimex FEB UNS.

    Kegiatan ini menghadirkan tiga mahasiswa internasional dari berbagai negara yang sedang menempuh studi di FEB UNS, Mabengba David Aja Kofi (Ghana), Sylivia Aulila Lugereka (Tanzania), dan Tazegul Nyyasmammedova (Turkmenistan) yang berbagi pengalaman tentang tantangan dan strategi bertahan sebagai mahasiswa.

    Dalam sambutannya, Mulyadi, S.E., M.Ec.Dev., Ph.D., Dosen FEB UNS, menekankan pentingnya kesempatan ini sebagai sarana belajar lintas budaya. Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus memanfaatkan momentum ini untuk melatih kemampuan bahasa Inggris secara langsung.

    “Saya berharap partisipasi aktif mahasiswa. Dorong diri kalian semaksimal mungkin agar kemampuan berbahasa Inggris meningkat melalui percakapan dengan mahasiswa internasional,” jelas Dr. Mulyadi.

    Dr. Mulyadi juga menambahkan bahwa interaksi seperti ini dapat membuka wawasan mahasiswa yang berencana melanjutkan studi ke luar negeri.

    Dalam sesinya, Kofi memberikan motivasi kuat kepada peserta untuk tidak takut melakukan kesalahan saat menggunakan bahasa Inggris. Menurutnya, komunikasilah yang utama.

    “Jangan takut salah. Kita bukan penutur asli, jadi tidak perlu memakai standar profesional. Yang penting lawan bicara memahami maksud kita,” tuturnya.

    Kofi mengingatkan bahwa ketakutan terhadap kesalahan justru menjadi penghalang terbesar dalam kemampuan berbahasa.

    Sementara itu, Sylivia menekankan pentingnya interest terhadap negara yang akan dikunjungi. Ketertarikan tersebut, katanya, akan membuat seseorang lebih siap menghadapi kehidupan di negara baru.

    “Walau banyak orang bisa bahasa Inggris, tetap ada situasi seperti di pasar tradisional di mana kita perlu memahami bahasa lokal,” jelasnya sambil memberi contoh pengalaman di Indonesia.

    Selain itu, Sylivia membagikan tips pengelolaan keuangan bagi mahasiswa asing. Ia menyarankan membandingkan harga dengan mata uang negara asal sebagai strategi penghematan yang efektif.

    Tazegul membagikan pengalaman personalnya ketika mengikuti training center bahasa Inggris. Di tempat tersebut, seluruh peserta didorong untuk terus berkomunikasi dalam bahasa Inggris meskipun belum sempurna.

    “Karena terbiasa berbicara bahasa Inggris setiap hari, kemampuan saya berkembang pesat, lingkungan sangat berpengaruh,” ungkapnya.

    Kegiatan sharing ini tidak hanya membahas persoalan bahasa, tetapi juga mengupas strategi bertahan hidup, mengatasi homesickness, manajemen keuangan, hingga cara membangun jejaring global sebelum lulus. Melalui interaksi langsung, mahasiswa FEB UNS mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang kehidupan sebagai pelajar internasional.

    Kegiatan International Students Sharing Session selaras dengan tujuan SDG 4: Quality Education dan SDG 17: Partnerships for the Goals. Melalui pertukaran pengalaman dan dialog lintas budaya, kegiatan ini memperkuat kualitas pembelajaran global dan membangun kemitraan internasional di lingkungan kampus.

  • Sinergi UNS–UNDIP Perkuat Ekosistem Inkubator Startup Berbasis Riset

    Sinergi UNS–UNDIP Perkuat Ekosistem Inkubator Startup Berbasis Riset

    Research Group (RG) Pemasaran Keperilakuan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama Klinik Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis (KKIB) Universitas Diponegoro (UNDIP) memperkuat kolaborasi pengembangan ekosistem inkubasi startup melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pada Selasa, 18 November 2025.

    Forum ini menjadi ruang strategis untuk mendalami peran inkubator dalam mengembangkan ide bisnis inovatif berbasis riset di lingkungan perguruan tinggi.

    Ketua RG Pemasaran Keperilakuan FEB UNS, Dr. Ahmad Ikhwan Setiawan menegaskan bahwa inkubator bisnis merupakan fondasi penting dalam mendorong mahasiswa dan peneliti mengembangkan ide, membangun model bisnis, serta mendapatkan pendampingan profesional.

    Menurutnya, keberadaan inkubator mampu mempercepat proses transformasi inovasi menjadi solusi yang memiliki nilai dan manfaat bagi masyarakat.

    Sementara itu, Prof. Dr. Datien Eriska Utami dari UIN RM Said menekankan pentingnya membangun inkubator modern sebagai ekosistem kolaboratif yang adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi.

    Prof. Datien menyoroti perlunya pendekatan multidisiplin meliputi desain produk, analisis perilaku konsumen, hingga strategi pemasaran digital untuk memastikan para tenant mampu bersaing secara berkelanjutan.

    Baginya, kesuksesan inkubator tidak hanya bergantung pada fasilitas fisik, tetapi juga pada kekuatan jaringan mentor, akses pasar, dan kemampuan mengintegrasikan hasil riset dengan kebutuhan industri.

    Dari perspektif pengelolaan inkubator, Dr. Idris, Kepala KKIB UNDIP menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menyediakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya startup. Hal ini mencakup ruang bagi kreativitas, keberanian bereksperimen, serta budaya inovasi yang kuat. Ia menambahkan bahwa dukungan kebijakan institusi, fasilitas riset, hingga kemitraan industri menjadi faktor penting agar startup dapat tumbuh sejak tahap ide hingga komersialisasi.

    Melalui FGD ini, kedua institusi sepakat memperkuat kolaborasi riset, berbagi praktik terbaik, serta mendorong pengembangan model inkubator yang mampu menjadi motor lahirnya startup unggul di tingkat nasional.

    Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat ekosistem kewirausahaan kampus, tetapi juga memberi kontribusi konkret bagi pertumbuhan inovasi dan daya saing nasional.

    Inisiatif pengembangan inkubator startup ini berkontribusi pada SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kapasitas kewirausahaan berbasis riset; SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penciptaan peluang usaha baru dan penguatan ekonomi kreatif; serta SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan ekosistem inovasi, kolaborasi industri, dan percepatan hilirisasi riset di perguruan tinggi.

  • Pre Job Training Batch 2: FEB UNS Perkuat Kesiapan Mahasiswa Menghadapi Tren Dunia Kerja

    Pre Job Training Batch 2: FEB UNS Perkuat Kesiapan Mahasiswa Menghadapi Tren Dunia Kerja

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan Pre-Job Training Batch 2, sebuah program yang dirancang untuk memperkuat kesiapan karier mahasiswa dalam menghadapi dinamika dan tantangan dunia kerja modern.

    Kegiatan yang diikuti lebih dari 200 mahasiswa ini berlangsung di Aula Soedarah Soepono FEB UNS, Senin 17 November 2025.

    Acara yang menghadirkan dua alumni FEB UNS tersebut dibuka oleh Tastaftiyan Risfandy, S.E., M.Sc., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB UNS.

    Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan ruang strategis bagi mahasiswa untuk memahami kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini maupun masa depan.

    “Mahasiswa harus mampu membaca arah perubahan industri, memahami kompetensi apa saja yang harus disiapkan, serta memiliki keberanian dalam menapaki jalur karier masing-masing dengan percaya diri,” ujarnya.

    Pada sesi pertama, Adhi Rohman Tri Widagdo, Senior Analyst II Financing PT Pertamina Geothermal Energy Tbk  membagikan wawasan terkait kompetensi finansial, analisis bisnis, serta kebutuhan SDM yang mampu beradaptasi dengan perkembangan energi berkelanjutan.

    Adhi menyoroti perubahan lanskap dunia kerja yang dipengaruhi transformasi digital, otomasi & AI, serta dorongan menuju industri hijau (sustainable & green industry).

    Ia menekankan bahwa lulusan saat ini tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, literasi teknologi, penguasaan data, kemampuan komunikasi, serta kreativitas.

    Adhi juga mengangkat pendekatan trivium, grammar, rhetoric, dan logic sebagai fondasi penting pendidikan tinggi, yang membentuk kemampuan bahasa, komunikasi persuasif, serta pola pikir analitis mahasiswa.

    “Dunia kerja bukan untuk yang paling pintar, tetapi untuk yang paling adaptif, beretika, dan terus berkembang. Bangun relasi, belajar dari pengalaman, dan tetap rendah hati,” pesan Adhi dalam bagian penutup materinya .

    Sesi berikutnya diisi oleh Syaiful Amri, Sub Branch Head KCPS Klaten, Bank BTN, yang memaparkan perkembangan industri perbankan, terutama sektor pembiayaan perumahan.

    Ia menjelaskan peran strategis Bank BTN sebagai pelopor pasar perumahan nasional, yang telah menyalurkan lebih dari 5 juta unit KPR, termasuk 300 ribu unit KPR Syariah.

    Dalam pemaparannya, Syaiful menyoroti sejumlah isu penting dunia kerja saat ini, antara lain kesenjangan kompetensi (vertical mismatch) antara lulusan dan kebutuhan perusahaan, tingginya pekerja yang menerima upah di bawah UMP, seta tantangan akses hunian akibat kenaikan harga properti.

    Ia juga memberikan motivasi agar mahasiswa mampu menentukan arah karier secara jelas.

    “Tahu diri itu penting. Kamu harus tahu mau kerja di mana, ingin berkontribusi seperti apa, mau gaji berapa, dan apa yang bisa kamu berikan untuk orang tua. Jangan jadi sarjana bingungan,” tegasnya.

    Syaiful mendorong mahasiswa untuk membangun jaringan, melakukan profiling perusahaan yang ingin dilamar, serta menyusun picklist tujuan karier yang dapat dicapai secara bertahap.

    Ia menutup sesi dengan pesan filosofis: “Kita punya timeline masing-masing. Teruslah melangkah, tetap rendah hati, dan mau belajar. Jika tidak bisa menjadi solusi, minimal jangan menambah beban. Kerja kerasmu hari ini bisa jadi karena doa ibumu sedang bekerja.”

    Pre-Job Training Batch 2 ini menjadi salah satu program unggulan FEB UNS dalam menjembatani mahasiswa dengan kebutuhan industri terkini. Melalui kombinasi wawasan mengenai tren kompetensi masa depan, pengetahuan dunia industri, hingga pembekalan kesiapan mental, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat daya saing lulusan FEB UNS di pasar kerja.

    Kegiatan ini juga mendukung kontribusi FEB UNS terhadap pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam aspek peningkatan kompetensi SDM, literasi karier, serta pemahaman industri yang relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan peningkatan kualitas pendidikan, pekerjaan layak, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

  • Percepatan Publikasi Mahasiswa, Prodi Magister Manajemen FEB UNS Undang International Profesor

    Percepatan Publikasi Mahasiswa, Prodi Magister Manajemen FEB UNS Undang International Profesor

    Program Studi Magister Manajemen (MM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, bekerjasama dengan Grup Riset Institusi dan Pasar Keuangan (GRISKA), menghadirkan Assoc. Prof. Fakarudin Kamarudin, Ph.D., dari Universiti Putra Malaysia.

    Gelaran Guest Lecture bertajuk “A Talk Session: How to Publish in Reputable Journals?” tersebut diselenggarakan pada Jum’at, 31 Oktober 2025, bertempat di Gedung Soedarah Soepono FEB UNS.

    Dr. Lilik Wahyudi, Kepala Program Studi Magister Manajemen (MM) FEB UNS membuka jalannya agenda Guest Lecture tersebut. Dalam sambutannya Dr. Lilik menyampaikan bahwa agenda tersebut adalah bagian dari program percepatan publikasi mahasiswa MM.

    “Kemarin kita sudah mengundang ahli untuk bidang keperilakuan dan hari ini kita menghadirkan pembicara untuk bidang keuangan (finance). Silakan dieksplor seluas-luasnya, karena Assoc. Prof. Fakarudin ini merupakan expert di bidang keuangan,” ungkap Dr. Lilik.

    Harapannya setelah adanya agenda tersebut akan ada mahasiswa yang kemudian sukses melakukan publikasi di tingkat internasional.

    Membuka paparan materi, Assoc. Prof. Fakarudin, menyampaikan bahwa hal pertama yang perlu diperhatikan sebelum melakukan publikasi adalah ‘kenapa kita perlu melakukan publikasi’ atau alasan mengapa seseorang perlu mempublikasikan hasil risetnya.

    “Kita bisa melihat alasan ini dari dua perspektif. Perspektif sebagai mahasiswa dan perspektif sebagai dosen. Tentunya sebagai mahasiswa, publikasi ini menjadi syarat kelulusan. Sementara sebagai dosen, tentunya alasan utama melakukan publikasi adalah untuk tujuan KPI (Key Performance Indicator),” jelasnya.

    Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa selain kualitas, dalam melakukan publikasi, penulis perlu menulis artikel dengan mempertimbangkan tiga perspektif, sebagai penulis, reviewer, dan editor.

    Sebagai penulis, beberapa aspek yang penting dipertimbangkan adalah target, scope, dan tim peneliti. Kesesuaian antara topik penelitian dan scope jurnal yang dituju adalah penting karena ketidaksesuaian akan berujung pada desk rejection.

    Disisi lain, sebagai reviewer, terdapat pertimbangan berbeda dalam memilih artikel yang akan diterima dan dipublikasikan di jurnal. Pertimbangan tersebut mencakup kebaharuan (apakah isu yang diangkat relevan dan baru), isi dari abstrak (apakah tujuan dari penelitian dapat terjawab dengan metodologi yang dipakai), dan analisis empiris (ekonometri dan hasil).

    “Sementara itu, sebagai editor, tiga hal yang akan dilihat yaitu similarity (tingkat kesamaan/plagiarisme), kesesuaian scope, dan novelty. Novelty ini sifatnya subjektif. Ini merujuk pada kontribusi baru (new contribution). Sehingga ini tergantung pada editor dari jurnal tersebut,” jelas Assoc. Prof. Fakarudin.

    Assoc. Prof. Fakarudin juga memperingatkan peserta terkait penggunaan artificial intelligence (AI) dan pentingnya networking dalam proses publikasi.

    Lebih jauh, beliau juga membagikan beberapa tips seperti pentingnya visibilitas peneliti di bidang keahliannya. Hal ini bisa dibangun dengan menghadiri konferensi internasional. Selain itu, menjadi reviewer pada jurnal bereputasi menjadi satu poin penting untuk membangun networking.

    Guest lecture yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut, ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara Assoc. Prof. Fakarudin dengan peserta guest lecture, yang mayoritas merupakan mahasiswa program pascasarjana di lingkungan FEB UNS.

    Kegiatan guest lecture ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas, melalui peningkatan kapasitas akademik mahasiswa dan dosen dalam publikasi ilmiah bereputasi, serta Tujuan 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi internasional antara FEB UNS dan Universiti Putra Malaysia.

  • FEB UNS Tingkatkan Kompetensi Pegawai melalui Pelatihan Penguatan Mindset dan Kinerja

    FEB UNS Tingkatkan Kompetensi Pegawai melalui Pelatihan Penguatan Mindset dan Kinerja

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kinerja Pegawai pada Jumat, 7 November 2025 di Aula Gedung Soedarah Soepono.

    Kegiatan yang diikuti oleh Tenaga Kependidikan (Tendik) FEB UNS menghadirkan narasumber Heri Susilo, Happiness Motivator sekaligus penulis yang aktif memberikan edukasi mengenai pengembangan diri dan produktivitas.

    Dalam pemaparannya, Heri membawakan materi berjudul “The Happiness Trap: Menemukan Kedamaian di Tengah Tekanan”.

    Ia menjelaskan bahwa banyak individu tanpa sadar terjebak dalam tuntutan untuk selalu bahagia, sehingga tekanan yang muncul justru memicu rasa tidak puas dan kecemasan.

    Heri menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari menghindari penderitaan, tetapi dari kemampuan memberi makna pada setiap proses hidup.

    Peserta juga mempelajari Late Happiness Model yang mencakup empat langkah: Let it flow, Appreciate the process, Embrace meaning, dan Transform pain. Model ini memberikan panduan praktis untuk menerima emosi, mengapresiasi proses kerja, serta mengubah tantangan menjadi kekuatan personal.

    Selain penyampaian materi, pelatihan dilengkapi sesi interaktif seperti Feeling Game dan leadership role play yang melatih komunikasi, kolaborasi, dan sensitivitas dinamika kelompok. Heri juga memperkenalkan konsep Expand Your State, yaitu kemampuan memperbesar kapasitas diri sehingga lebih siap menghadapi tekanan pekerjaan.

    Pada sesi akhir, peserta diajak memahami konsep Energy Investment yang terdiri dari empat elemen: Resources, Attention, Effort, dan Time. Pengelolaan energi ini menjadi strategi penting untuk mencapai kinerja maksimal sambil menjaga keseimbangan mental di lingkungan kerja.

    Peserta terlihat antusias mengikuti rangkaian materi yang disampaikan. Banyak dari mereka aktif berdiskusi, berbagi pengalaman terkait tekanan yang dihadapi, serta mencoba menerapkan teknik-teknik pengelolaan emosi yang diperkenalkan oleh narasumber.

    Pada sesi role play dan Feeling Game, peserta juga menunjukkan partisipasi yang tinggi melalui interaksi antar kelompok, latihan komunikasi, dan simulasi situasi kerja.

    Respons positif juga muncul ketika narasumber menyampaikan konsep-konsep praktis yang dapat diterapkan dalam rutinitas sehari-hari, seperti strategi mengatur energi, penguatan pola pikir positif, hingga pengelolaan konflik sederhana di lingkungan kerja.

    Pelatihan ini menjadi wadah bagi Tendik untuk tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga membangun hubungan kerja yang lebih solid serta meningkatkan well-being dalam menjalankan tugas sehari-hari.

    Kegiatan ini selaras dengan komitmen FEB UNS terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth).

    Melalui pelatihan ini, FEB UNS terus berupaya menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

  • FEB UNS Gelar Sharing Session UNS Global Challenge 2026

    FEB UNS Gelar Sharing Session UNS Global Challenge 2026

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Sharing Session UNS Global Challenge 2026 sebagai upaya memperkuat kesiapan mahasiswa dalam mengikuti program mobilitas internasional, Jumat 14 November 2025 secara daring.

    Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber Tastaftiyan Risfandy, S.E., M.Sc., Ph.D, Wakil Dekan  Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB UNS dan Adinda Yuddiearth, Mahasiswa Ekonomi Pembangunan FEB UNS & Awardee Global Challenge UNS 2025, Audencia Business School, France.

    Tastaftiyan Risfandy, Ph.D menjelaskan secara rinci mengenai ketentuan, timeline, serta prosedur seleksi yang berlaku dalam dua jalur pendaftaran, yaitu jalur universitas dan jalur fakultas.

    Untuk jalur universitas, persyaratan meliputi mahasiswa aktif minimal semester tiga, kemampuan bahasa Inggris (tidak wajib), serta Letter of Acceptance dari universitas mitra. Program dijadwalkan berlangsung pada April–Juli 2026 dan didukung skema fully funded.

    Sedangkan jalur fakultas ditujukan bagi mahasiswa minimal semester enam dengan bukti kemampuan bahasa Inggris yang bersifat wajib, serta proses seleksi yang meliputi dua tahap wawancara. Program dijalankan pada April–September 2026 dengan skema pendanaan co-funding maupun fully funded.

    Ia juga memaparkan timeline lengkap, mulai dari masa pendaftaran, proses seleksi, pengumuman, hingga penyusunan laporan akhir program. Selain itu, mahasiswa mendapat informasi tentang komponen pendanaan, yang mencakup tiket pesawat, biaya visa, hingga uang saku bagi peserta terpilih sesuai ketentuan masing-masing jalur.

    Melalui penjelasan tersebut, mahasiswa diharapkan mendapatkan pemahaman menyeluruh terkait perencanaan akademik, persiapan administratif, hingga strategi untuk memaksimalkan peluang lolos program.

    Sementara itu Adinda berbagi pengalaman saat mengikuti Short Course Cross Cultural Management di Audencia Business School, France yang berlangsung pada 23–27 Juni. Ia memperoleh pembelajaran intensif yang menggabungkan teori, studi kasus, diskusi kelas, serta proyek kelompok dengan mahasiswa dari berbagai negara.

    Pengalaman belajar di lingkungan multikultural tersebut memberikan pemahaman mendalam mengenai bagaimana budaya memengaruhi komunikasi, gaya kerja, dan dinamika tim dalam konteks ekonomi dan bisnis global.

    Kelasnya super insightful dan meaningful. Mentornya benar-benar expert di bidangnya. Kelasnya juga sangat interaktif, ada workshop, case discussion group, dan di hari terakhir ada final individual presentation. Kelasnya diverse banget. Ada yang dari Brazil, Hong Kong, UK, Ukraine, Perancis, sampai Netherlands. Major mereka juga beda-beda, nggak cuma ekonomi, tapi ada politik dan sains. Jadi perspektif yang muncul selama diskusi itu banyak banget. Dari situ aku belajar bahwa makin diverse lingkungannya, entah itu sekolah atau bisnis, makin besar juga perspektif untuk kita berkembang,” Ungkapnya.

    Dalam pemaparannya, Adinda juga menjelaskan rangkaian proses yang ia jalani sebelum mengikuti program, mulai dari pengumpulan dokumen, penyusunan rencana kegiatan yang relevan dengan bidang akademik, hingga riset mengenai universitas tujuan serta persiapan teknis lain seperti pendanaan dan penyesuaian jadwal akademik.

    Aku sangat merekomendasikan teman-teman untuk membuat semuanya terorganisir. Kemarin aku pakai spreadsheet dan notion untuk list negara, universitas, program yang open, sampai nge-track sudah di-approach atau belum, termasuk konten emailnya. Beberapa universitas nggak mencantumkan short course di website mereka, atau informasinya sangat tersembunyi. Jadi teman-teman perlu email langsung universitas untuk memastikan programnya tersedia dan sesuai timeline Global Challenge,jelasnya.

    Ia juga turut membagikan saran kepada mahasiswa yang ingin mengikuti program internasional, seperti pentingnya mulai mempersiapkan LoA dari jauh hari, memilih program yang relevan dengan tujuan akademik, serta menjaga komunikasi yang baik dengan International Office UNS.

    Kegiatan ini memperkuat komitmen UNS dalam mendorong internasionalisasi dan peningkatan kapasitas mahasiswa melalui pengalaman belajar global. Program ini juga selaras dengan SDG 4 (Quality Education) dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengalaman internasional, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan jejaring dan kolaborasi dengan institusi pendidikan dunia.

     

  • FEB UNS Terima Kunjungan Studi Banding Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional Denpasar

    FEB UNS Terima Kunjungan Studi Banding Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional Denpasar

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menerima kunjungan studi banding dan sharing session dari Program Studi S1 Bisnis Digital, Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional), Denpasar, pada Jumat (31/10/2025).

    Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang 1 Gedung Soeharno TS FEB UNS ini bertujuan untuk saling berbagi praktik baik dalam pengelolaan program studi, pengembangan kurikulum berbasis digital, dan peluang kolaborasi riset.

    Rombongan IPB Internasional yang berjumlah 14 orang terdiri dari dosen, pimpinan program studi, serta perwakilan mahasiswa semester lima.

    Dalam sambutannya, Aldy Fariz Achsanta, S.E., M.Rech., Ph.D., Ketua Program Studi Bisnis Digital FEB UNS, memperkenalkan profil prodi, capaian akreditasi, serta arah pengembangan ke depan. Ia juga memaparkan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran, termasuk laboratorium financial technology dan kerja sama riset yang telah dijalin,  diantaranya dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

    “Kami berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem bisnis digital melalui pembelajaran berbasis riset dan kolaborasi dengan berbagai mitra. FEB UNS juga sedang menyiapkan proses akreditasi internasional AACSB” ujarnya.

    Sekretaris Program Studi Bisnis Digital IPB Internasional, Ni Made Ayu Natih Widhiarini, S.Tr.Par., M.M., menyampaikan apresiasinya atas sambutan dari FEB UNS.

    Kunjungan ini merupakan bagian dari program tahunan akademik IPB Internasional yang disebut Digication (Digital Vacation), yaitu kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan mata kuliah e-Tourism, e-Travel, dan e-Tour Operator.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa ditugaskan untuk merancang dan melaksanakan perjalanan akademik sekaligus memperluas wawasan di bidang bisnis digital.

     “Kami memperoleh banyak wawasan mengenai praktik pembelajaran digital, pengelolaan program studi, dan peluang kolaborasi publikasi riset. Semoga ke depan bisa terjalin kerja sama antara mahasiswa dan dosen dari kedua institusi,” ujarnya.

    Diskusi berjalan interaktif dan diakhiri dengan sesi sharing antar mahasiswa kedua program studi. Melalui kegiatan ini, FEB UNS terus memperkuat perannya sebagai mitra akademik strategis bagi perguruan tinggi lain dalam pengembangan inovasi pendidikan digital dan riset terapan.

    Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen FEB UNS terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 (Quality Education) dan ke-17 (Partnerships for the Goals), melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kolaborasi lintas institusi.