FEB

Kategori: fakultas

  • Tim Pengabdian Masyarakat FEB Bina Masyarakat Desa Bolon dalam  Mengelola Sampah

    Tim Pengabdian Masyarakat FEB Bina Masyarakat Desa Bolon dalam Mengelola Sampah

    Tim pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) yang diketuai Suryandari Istiqomah, SE,M.Sc melakukan serangkaian pembinaan peningkatan pengelolaan bank sampah pada masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Karya Mandiri dan Kelompok Pemberdayaan Perempuan (POKDAYAPUAN) Karya Mandiri Dukuh Gonggangan, Desa Bolon, Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar pada September 2020 lalu.

    Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen Program Studi Manajemen FEB UNS yakni  Prof. Dr. Asri Laksmi Riani, MS, Dra. Anastasia Riani Suprapti, M.Si, Drs. Moch Amien Gunadi, MP dan Yeni Fajaryanti, SE, M.Si bertujuan  untuk meningkatkan pengelolaan bank sampah pada KUBE dan POKDAYAPUAN Karya Mandiri melalui peningkatan kesadaran anggota.

    Tempat duduk, salah satu contoh kreasi yang dilombakan, memanfaatkan sampah rumah tangga

    Anggota KUBE dan POKDAYAPUAN Karya Mandiri diharapkan dapat selalu mengumpulkan dan memilah sampah rumah tangga. Selain itu, juga meningkatkan kemampuan anggota kelompok untuk dapat mengolah sampah menjadi lebih bernilai jual dibanding dengan sampah mentah.

    Suryandari Istiqomah menjelaskan bahwa tim mengawali pembinaan dengan memberikan pengenalan dan paparan tentang adanya program sedekah sampah. Hal ini dapat dijalankan untuk meningkatkan jumlah sampah yang didonasikan oleh para anggota KUBE dan POKDAYAPUAN Karya Mandiri.

    Selanjutnya, tim juga telah mempersiapkan video tutorial pembuatan sofa dan meja dari sampah botol plastik kemudian video diupload ke channel youtube Pojok Berbagi Ndari. Link Video tersebut kemudian diberikan kepada anggota mitra binaan untuk dipelajari.

    Kegiatan lain yang dilakukan adalah lomba pembuatan sofa dari sampah plastik yang diikuti oleh 6 kelompok KUBE yang dilaksanakan pada tanggal 20 September 2020 lalu. Pelaksanaan kegiatan ini juga mendapatkan perhatian dari kepala desa dan  camat Colomadu.

    Disela-sela kegiatan lomba, tim juga memberikan pelatihan tentang digital marketing untuk mendukung penjualan produk limbah sampah yang telah dihasilkan.

    Tim berfoto bersama dengan KUBE dan POKDAYAPUAN Karya Mandiri usai pelatihan

    “Dari beberapa pelatihan yang telah dilaksanakan diharapkan akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Hasil pengumpulan sampah dan penjualan sampah secara langsung maupun turunannya digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan yaitu membantu keluarga yang tertimpa musibah kematian dengan menyediakan perlengkapan jenazah seperti kain kafan dan sebagainya.” jelas Suryandari.

    Dalam pelaksanaan kegiatan, tim juga tetap memperhatikan protokol kesehatan, penggunaan masker, adanya tempat cuci tangan dengan sabun dan tetap berjarak. (Humas)

  • Online Guest Lecture, Prof. Kabir Hassan Bahas Perkembangan Keuangan Islam

    Online Guest Lecture, Prof. Kabir Hassan Bahas Perkembangan Keuangan Islam

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Surakarta adakan Kuliah Umum Tamu pada Sabtu, 31 Oktober 2020. Acara yang merupakan kerja sama antara Grup Riset Institusi dan Pasar Keuangan dan UNS Fintech Center, tersebut menghadirkan Prof. M. Kabir Hassan, dari University of New Orleans, Amerika Serikat.

    Acara dibuka oleh Kepala Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) Fintech dan Banking, Universitas Sebelas Maret (UNS Fintech Center), Dr. Irwan Trinugroho. Dalam sambutannya,  Dr. Irwan mengucapkan terima kasih kepada Prof. Kabir Hassan yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu dengan peserta kuliah umum. Kuliah umum yang digelar diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh peserta.

    Prof. M. Kabir Hassan adalah Professor di bidang Keuangan dari Universtiy of New Orleans, ahli di bidang Keuangan Islam (Islamic Finance). Lebih dari 350 artikel ilmiahnya telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi.

    Membuka paparan materi, Prof. Hassan menyampaikan materi yang terbagi dalam dua bagian. Di bagian pertama tentang Dasar Teoretikal dari Keuangan Islam dengan judul “Convergence of SRI, Impact Investing, and Islamic Finance” dan berikutnya tentang risetnya dibidang ESG dan Islamic Finance.

    “Keuangan pada awalnya dibentuk untuk mendukung ekonomi riil, untuk mengalokasikan dan mengarahkan sumberdaya keuangan. Sayangnya, di kala krisis, sektor keuangan menjadi sebuah tujuan  akhir, yang seharusnya mendukung pertumbuhan ekonomi menjadi sumber pertumbuhan keuangan.

    Pada akhirnya finance menjadi sumber ketidakstabilan, yang awalnya berfokus pada pembentukan nilai jangka panjang atau long-term value creation menjadi short time returns,” ungkapnya.

    Selanjutnya disampaikannya poin-poin persamaan antara ethical finance dan islamic finance yang berfokus untuk memberikan nilai ke sektor ekonomi. Hal ini sejalan dengan nilai islamic finance yang berfokus pada penciptaan nilai ekonomi riil. Dalam hal pertumbuhan keuangan islam, sektor yang tumbuh paling pesat adalah perbankan, pasar modal islam, dan takaful.

    Indonesia dan Malaysia memegang peran penting dalam hal penerbitan Sukuk, dimana kedua negara tersebut berkontribusi pada 80% penerbitan Sukuk di seluruh dunia.

    “Indonesia merupakan pemain penting dibidang keuangan Islam saat ini, dan yang menarik adalah Pemerintah Indonesia mendukung ekonomi islam,” jelas Prof. Hassan.

    Selain membahas mengenai perkembangan keuangan islam, Prof. Hassan juga menyinggung mengenai pendidikan yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan ekonomi dan keuangan Islam. Sebuah kurikulum baru dibutuhkan agar mahasiswa yang mempelajari tentang keuangan islam. Diakhir acara, Prof. Hassan berharap akan ada lebih banyak orang yang akan menyadari nilai-nilai yang dibawa oleh islamic finance. (Aulia, Humas)

  • Prof. Budhi Akan Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Baru di Bidang Ilmu Manajemen FEB UNS

    Prof. Budhi Akan Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Baru di Bidang Ilmu Manajemen FEB UNS

    Prof. Dr. Budhi Haryanto, MM akan dikukuhkan oleh Rektor UNS sebagai Guru Besar Baru di Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pengukuhannya akan digelar secara luring dan daring pada Selasa (3/11/2020) bersama dengan Prof. Dr. Ir. Bambang Suhardi, ST, MT, IPM, ASEAN.Eng,  Guru Besar di Bidang Ilmu Teknik Industri dan Prof. Dr. Ir. Margaretha Maria Alacoque (MMA) Retno Rosariastuti, M.Si, Guru Besar di Bidang Ilmu Bioremediasi Tanah Fakultas Pertanian UNS.

    Pada sidang pengukuhan Guru Besar tersebut, Prof. Budhi Haryanto yang merupakan Guru Besar ke-16 FEB dan ke-225 di UNS akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul Model Keperilakuan Konsumen dengan variabel Pemoderasi Jenis Produk (Studi pada Makanan Tradisional).

    Prof. Budhi  menjelaskan kepada media saat  Jumpa Pers di Ruang Sidang 4 Gedung dr. Prakosa UNS, Senin (2/11/2020) bahwa kajian yang dilakukannya adalah untuk membentuk sikap dan niat agar masyarakat tetap mau membeli makanan tradisonal. Perlu stimulus yang merangsang agar masyarakat mau membeli. Untuk hal ini, tiga hal yang ditawarkan yakni harga makanan tersebut harus wajar, produk yang berkualitas dan kemudahan dalam memperolehnya.

    Prof. Budhi Haryanto bersama dengan dua profesor lain yang akan dikukuhkan sebagai guru besar

    Menurutnya, perilaku konsumen terhadap makanan tradisional merupakan isu yang relatif menarik untuk diteorikan. Hal ini dikarenakan ada dua alasan yang mendasari yaitu alasan praktis terkait fenomena riil yang terjadi di Indonesia yaitu tentang gejala-gejala negatif yang berkenaan dengan makanan tradisional. Gejala negatif yang dirasakan adalah fenomena turunnya pasar tradisional sekitar 8,1 % dan fenomena kemunculan  pasar modern sekitar 31,4%.

    Gejala berikutnya adalah masuknya berbagai makanan impor yang bersaing dengan makanan tradisional dengan berbagai rancangan strategi pemasaran yang menarik, diantaranya KFC, CFF, Burger King yang bersaing di kelas ayam goreng. Selanjutnya Thai Tea, Star Buck, minuman buble dan minuman impor lain yang bersaing dengan jenis minuman tradisional seperti kopi klothok, dawet dan minuman tradisional lainnya .

    Hal yang sama yang terjadi pada jenis jajanan impor yang mulai menggeser jajanan tradisional. Kondisi ini diperparah pola asuh orang tua yang mengarahkan anak-anaknya untuk menyenangi makanan impor.

    “Perenungan kita adalah sampai kapankah makanan tradisional kita mampu bersaing dengan makanan-makanan impor? ujar Prof. Budhi.

    Prof. Budhi menambahkan, berbagai kajian keilmuan dan berbagai pendekatan para peneliti lain telah dilakukan, diantaranya dari sisi kebudayaan, keagamaan, kepariwisataan dan berbagai pendekatan lainnya yang  pada dasarnya untuk mempertahankan eksistensi makanan tradisional. Cara-cara tersebut memang efektif namun sifatnya masih dalam himbauan,  ajakan atau hal lain yang terkait dengan kepatutan, etika dan kebangsaan. (Humas)

     

  • FEB UNS Gelar The 1st Incredible

    FEB UNS Gelar The 1st Incredible

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menggelar sebuah konferensi internasional, bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Jawa Tengah, pada Selasa, 27 Oktober 2020.

    Rangkaian acara 1st International Congress on Regional Economic Development, Information Technology, and Sustainable Business (INCREDIBLE) sudah mulai dilaksanakan sehari sebelumnya di hari Senin, 26 Oktober 2020 dalam bentuk Pre-Conference Workshop.

    Membuka jalannya acara, pidato sambutan disampaikan oleh Dr. Prasetyo Aribowo selaku Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Prof. Jamal Wiwoho selaku Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), Dekan FEB UNS Prof. Djoko Suhardjanto, dan Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

    Dalam sambutannya, Dr. Aribowo mengungkapkan bahwa kegiatan INCREDIBLE dengan tema “Pandemic, Business Impact, and Economic Recovery” diharapkan dapat menjadi sebuah platform untuk pertukaran pengetahuan, informasi, dan pengalaman dalam recovery ekonomi dan bisnis dari dampak pandemi Covid-19.

    “Sesi plenary diharapkan dapat memberikan berbagai perspektif bagi kita dalam hal pembangunan ekonomi daerah, teknologi informasi, dan sustainable business. Saya percaya bahwa pengetahuan yang disampaikan oleh para pembicara dari Indonesia, Austria, Malaysia, Inggris, dan Amerika Serikat, akan memberikan pencerahan bagi kita di tengah kondisi pandemi saat ini,” ungkapnya.

    Prof. Jamal Wiwoho mengungkapkan rasa syukur karena masih diberi kesehatan untuk bergabung dalam konferen internasional yang diselenggarakan oleh FEB UNS ini. Lebih lanjut beliau berpesan bahwa transformasi tidak hanya dalam bentuk program, tetapi juga dalam bentuk tata kerja yang fleksibel dan effisien yang menggunakan kemajuan teknologi.

    Menutup sambutannya, Prof. Jamal berharap agar peserta conference dapat berdiskusi dengan lancar selama acara berlangsung.

    Pidato pembukaan selanjutnya disampaikan oleh Dekan FEB UNS, Prof. Djoko Suhardjanto. Mengawali sambutannya, Prof. Djoko menyampaikan bahwa, “pandemi Covid-19 telah menyebabkan disrupsi di sektor bisnis dan menghambat tercapainya Sustainable Development Program (SDG) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Konferensi ini adalah media yang efektif untuk melaksanakan dialog konstruktif yang melibatkan akademisi, sektor bisnis, dan pemerintah.”

    Setelah sambutan dari Prof. Djoko, acara dilanjutkan dengan pembukaan Konferensi Internasional oleh Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang diwakilkan pada Kepala BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah, Dr. Prasetyo Aribowo.

    Menginjak sesi utama, terdapat dua Keynote Speech yang disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Dr. Suharso Monoarfa, dengan materi Efek Pandemi Covid-19 di Sektor Bisnis, Usaha Pemerintah Dalam Pemulihan Ekonomi, dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Doni Primanto Joewono, yang menyampaikan materi terkait Dukungan Bank Indonesia Terhadap Ekonomi Indonesia dalam Krisis Covid-19.

    Sesi plenary dengan 5 speakers, Dr. Chandra Chahyadi (Eastern Illinois University, USA) dengan materi berjudul “How Financial Empowerment Program Improves Community Financial Resiliency during Covid-19 Crisis”, Prof. Hasan Fauzi (Universitas Sebelas Maret, Indonesia) dengan materi berjudul “Enhanced Sustainability: The Green Swans and the Role of Accountant”, Prof. Kuperan Viswanathan (University Utara Malaysia, Malaysia) menyampaikan materi berjudul “Covid-19 and Economic Policy”, Dr. Andrea Moro (Cranfield University, UK) dengan materi berjudul “When the Rainy Day is the Worst Hurricane Ever: The Effect of Governmental Policies on SMEs During Covid-19 in UK, serta Alexander Bauer, PhD (Wittenborg University of Applied Science, Austria) dengan materi berjudul “Lesson learned at Austrian SMEs during the Pandemic-a Microeconomic Snapshot”.

    Selain sesi plenary yang berlangsung akan terdapat sesi paralel dimana terdapat 150 artikel yang akan dipresentasikan dalam enam topik sesi paralel yaitu Ekononomi, Manajemen, Accounting, Ilmu Sosial, Teknologi Informasi, dan Efek Pandemi Covid di sektor bisnis dan recovery.

    The 1st Incredible ini diikuti oleh lebih dari 1500 peserta lewat Zoom Cloud Meeting dan Live Youtube Streaming di kanal resmi FEB UNS.

  • Webinar Seri Pertama Kolaborasi Empat Perguruan Tinggi Diikuti Lebih Dari 500 Peserta

    Webinar Seri Pertama Kolaborasi Empat Perguruan Tinggi Diikuti Lebih Dari 500 Peserta

    Lebih dari 500 peserta ikuti webinar seri pertama di rangkaian webinar series, kolaborasi dari empat perguruan tinggi yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan  Universitas Borneo Tarakan, Kamis, 1 Oktober 2020.

    Kegiatan yang bertema Mengantisipasi Paralisis dalam Perekonomian Indonesia, Strategi, Kebijakan dan Implementasi Selama Pandemi Covid-19 dibuka oleh Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS.

    Di awal sambutannya, Dr. Izza menjelaskan bahwa Indonesia telah melalui tiga masa krisis dan tahun 2020 adalah krisis yang keempat.

    “Krisis di tahun 1965 dimulai dengan krisis politik selama beberapa tahun sebelumnya; tahun 1998 terkena imbas dari krisis perbankan yang sangat cepat bergerak pada krisis moneter yang mengarah juga pada krisis kepercayaan; tahun  2008 krisis keuangan global meskipun tidak terkena imbas secara keras tapi cukup menurunkan laju pertumbuhan ekonomi dan di tahun 2020 krisis kesehatan yang menjadi krisis multidimensi, imbas besarnya juga terjadi pada sektor perekonomian” terangnya.

    Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS

    Lebih lanjut dikatakan webinar yang dilaksanakan untuk mendiskusikan bagaimana membangun struktur industri yang kompetitif untuk menghindari atau paling tidak mengeliminir dampak dari resesi dan paralisis. Harapannya dengan pandemi yang tidak tahu kapan usainya karena vaksin belum ada, namun sudah ada kesiapan imunitas yang harus selalu kita bangun, tidak hanya dari segi kesehatan, tapi juga imunitas dari dunia usaha.

    Kodrat Wibowo, SE, MA, Ph.D,  Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha

    Salah satu hal penting untuk mengeliminir dampak krisis adalah bagaimana kita bisa masuk secara utuh dalam industri 4.0, dimana mekanisme-mekanisme online atau mekanisme lain  yang belum pernah dilakukan yang merupakan bagian dalam disruption ternyata bisa membantu kita dalam mengatasi dampak-dampak krisis.

    Sementara itu, narasumber webinar, Kodrat Wibowo, SE, MA, Ph.D,  Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengatakan ditingkat nasional, KPPU telah mengukur indeks persaingan usaha dan perkembangan indeks terakhir menunjukkan bahwa sektor industri dan perbankan nasional levelnya masih berada pada kategori iklim persaingan yang kurang sehat. Salah satu indikator menunjukkan bahwa kedua sektor industri ini masih didominasi oleh segelintir perusahaan tertentu dengan penguasaan penjualan hanya oleh 4 kelompok perusahaan terbesar dengan lebih dari 40% total sales di industri tersebut, secara rata-rata.

    Seperti yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang 20/2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, KPPU juga mengawasi kemitraan. Pelaku-pelaku usaha baik di konvensional, semi digital, murni digital atau apapun sektor di luar non industri yang melibatkan e-commerce harus ada kolaborasi yang disebut dengan kemitraan. Pelaku usaha yang sudah besar bahkan sudah menerapkan digital  harus bermitra dengan usaha kecil dan menengah dengan tidak ada unsur menguasai dan mengendalikan.

    Diakhir paparannya, Kodrat Wibowo menyimpulkan pentingnya meningkatkan kinerja komponen tingkat persaingan usaha yang sehat di sektor industri Indonesia, baik ditingkat pusat maupun daerah propinsi/kota dan kabupaten dalam upaya meningkatkan efisiensi perekonomian sekaligus meningkatkan daya saing nasional.

    Selanjutnya perlu meriview ulang substansi dan pentahapan “Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035” dengan “Making Indonesia 4.0” karena ada ketidakharmonisan antar aturan kelembagaan ditambah minimnya pertimbangan tentang aspek dan semangat persaingan usaha yang sehat dalam program eksekutif mengembangkan sektor industri/manufaktur berbasis digitalisasi jaringan, otomatisasi produksi, serta cloud and big data management. (Humas)

  • Webinar Series 2,  Kolaborasi 4 Perguruan Tinggi Bahas  Tinjauan Kebijakan Moneter Di Masa Pandemi Covid 19

    Webinar Series 2, Kolaborasi 4 Perguruan Tinggi Bahas Tinjauan Kebijakan Moneter Di Masa Pandemi Covid 19

    Pandemi Covid-19 telah menyebabkan dampak negatif yang signifikan pada aspek kesehatan, ekonomi, sosial dan keuangan. Dari sisi output, negara-negara maju akan lebih terdampak negatif dalam pengertian pertumbuhan ekonomi lebih negatif. Meskipun dari sisi tenaga kerja, angka penggangguran negara berkembang akan relatif lebih tinggi.

    Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk akhir tahun 2020 akan tumbuh negatif antara -1,7% s.d -0,6%,  sebelumnya -1,1% s.d 0,2%. Namun untuk tahun depan di 2021, pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi positif pada kisaran 4,5% s.d 5,5% .

    Pernyataan itu disampaikan Prof. Dr Nurry Effendy, SE. MA., Guru Besar FEB UNPAD yang juga sebagai anggota  Badan Supervisi Bank Indonesia pada Webinar Series 2 di rangkaian Webinar Series kolaborasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Universitas Siliwangi, Universitas Islam Negeri Jakarta dan  Universitas Borneo Tarakan, Rabu, 14 Oktober 2020.

    Prof. Dr Nurry Effendy, SE. MA

    Lebih lanjut dikatakan, data dari World Bank menunjukkan peningkatan pengangguran  di Indonesia akibat pandemi terbesar pada sektor manufaktur sebesar 35%  dari total pengangguran. Income loss pekerja terbesar di sektor transportasi sebesar 90% dari total income loss. Akibat covid-19 pengangguran di Indonesia bertambah 3,7 juta per Juli 2020.

    Pemerintah khususnya kementerian keuangan dan lembaga-lembaga keuangan yang berperan berusaha mengintervensi makro ekonomi di Indonesia agar perekonomian berjalan lagi melalui Program Pemulihan Ekonomi (PEN).

    Untuk pemulihan ekonomi, Bank Indonesia berkoordinasi dengan lembaga dan kementerian terkait dengan melakukan quantitative easing sebesar Rp 614,8 Triliun.

    Enam kebijakan moneter Bank Indonesia untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19 yaitu dengan penurunan suku bunga, stabilisasi nilai tukar rupiah, pasar uang dan valas, pelonggaran likuiditas, pelonggaran makro prudensial dan sistem pembayaran.

    “Pemerintah telah banyak menggelontorkan bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak pandemi, baik untuk konsumen maupun produsen. Yang juga penting untuk diperhatikan adalah menjaga agar penyaluran bantuan tersebut efektif dan benar-benar tepat sasaran, harus ada pengawasan. Kevalidan data menjadi kunci utama” paparnya menanggapi beberapa pertanyaan peserta tentang efektifitas bantuan pemerintah.

    Di akhir presentasinya, Prof. Nury mengatakan salah satu harapan dari pemerintah Indonesia dan juga pemerintah di semua negara adalah ditemukannya vaksin. Dengan ditemukannya vaksin, masyarakat akan merasa lebih aman untuk melakukan aktifitas secara normal. (Humas)

  • FEB UNS Terima Kunjungan Pimpinan STIESIA

    FEB UNS Terima Kunjungan Pimpinan STIESIA

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menerima kunjungan pimpinan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya (STIESIA),  Kamis 15 Oktober 2020 di Ruang Teleconference. Kunjungan studi banding STIESIA bertujuan untuk  mengetahui lebih detil tentang penerapan kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) di FEB UNS .

    Rombongan yang dipimpin oleh Ketua STIESIA, Dr. Nur Fadjrih Asyik, SE, M.Si., Ak diterima langsung oleh Dekan, Wakil Dekan, Kepala Prodi S1, Kepala Unit Kerjasama, Kabag Tata Usaha dan Kasubbag Akademik dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

    Usai menyampaikan ucapan selamat datang dan memperkenalkan pimpinan yang hadir, Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com., (Hons)., Ph.D. Ak., Dekan FEB UNS memaparkan profil FEB, berbagai capaian yang telah ditempuh, mulai dari kerjasama dalam dan luar negeri hingga akreditasi dari lembaga akreditasi nasional maupun internasional serta berbagai peran alumni.

    Dalam hal Merdeka Belajar, mahasiswa mengikuti proses pembelajaran di kampus selama 5 semester dan mahasiswa memiliki hak di 3 semester berikutnya untuk melakukan pembelajaran di luar kampusnya, di prodi lain, di fakultas lain, di universitas lain, di daerah-daerah ataupun di industri.  Implementasi belajar 3 semester di luar yakni melalui delapan aktifitas yakni pertukaran pelajar, magang atau praktik kerja, asistensi mengajar di satuan pendidikan, penelitian, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha,  studi atau proyek independen serta membangun desa atau kuliah kerja nyata tematik.

    Disampaikannya, FEB UNS sudah menjalankan aktifitas MBKM tersebut, diantaranya di semester ini untuk ketiga program studi, Manajemen, Akuntansi, Ekonomi Pembangunan FEB UNS sudah bekerja sama dan melakukan pertukaran pelajar dengan universitas lain. FEB UNS juga sudah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan, misalnya Sritex dan juga dengan Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI).

    Sementara itu, Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS mengatakan langkah awal UNS dalam pelaksanaan MBKM adalah dengan melakukan perubahan Peraturan Rektor, khususnya dalam pengelolaan program sarjana. Selanjutnya berpayung dengan peraturan itu, dibuat panduan yang mencakup 8 aktifitas kampus merdeka.

    “Dari 8 aktifitas itu kita siapkan panduan dan alurnya, misalnya alur untuk magang, bina desa atau penelitian yang masing-masing prodi tidak pasti sama tergantung fokusnya. Yang penting lagi adalah memperbanyak komunikasi dengan alumni, karena alumni punya potensi yang luar biasa untuk membantu pelaksanaan MBKM. Dalam MBKM, prodi, pembimbing akademik dan tim rekognisi memiliki peran yang sangat penting” jelasnya.

    Ditegaskan oleh Dr. Izza, yang sangat penting juga dalam MBKM adalah prodi harus memiliki keberanian untuk melakukan restrukturisasi kurikulum walaupun kurikulum inti tetap ada untuk mewadahi mahasiswa yang menggunakan haknya untuk tidak keluar kampus.

    Diskusi berlangsung sangat aktif dan kunjungan berakhir dengan sesi penyerahan cinderamata dari FEB UNS ke STIESIA dan sebaliknya. Pimpinan STIESIA berharap ada tindak lanjut kerjasama dengan FEB UNS. (Humas)

  • Dekan FEB UNS Paparkan Sinergi Kebijakan Pemulihan Ekonomi Cirebon di Era Kenormalan Baru

    Dekan FEB UNS Paparkan Sinergi Kebijakan Pemulihan Ekonomi Cirebon di Era Kenormalan Baru

    Permasalahan di masa pandemi Covid-19 harus disikapi dengan baik karena pagebluk ini diprediksi akan berlangsung lama. Sejarah menunjukkan bahwa pandemi muncul setiap 100 tahun dan mereda dalam waktu 3 sampai dengan 6 tahun dan memakan banyak korban.  Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini akan memakan waktu yang lebih pendek karena kecanggihan teknologi dunia kedokteran, mungkin hingga akhir tahun 2021 karena sampai sekarang vaksinnya belum ditemukan.

    Hal itu disampaikan Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com., (Hons)., Ph.D. Ak., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), mengawali presentasinya pada Webinar Series Sinergi Kebijakan Pemulihan Ekonomi Cirebon di Era Kenormalan Baru yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Himatansi Universitas Swadaya Gunung Jati dengan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) Wilayah Jabar dan  Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Cirebon, Rabu, 14/10/2020.

    Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com., (Hons)., Ph.D. Ak., Dekan FEB UNS

    Di kegiatan yang diikuti lebih dari 400 peserta itu, Prof. Djoko mengutip pernyataan dari Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonnesia (KPwBI) Cirebon, Bakti Artanta bahwa pada triwulan II lalu, pertumbuhan ekonomi secara nasional turun hingga minus 5,3 % di Jawa Barat, pertumbuhan ekonomi minus 5,69%.

    Namun Prof. Djoko optimis pertumbuhan ekonomi positif pada triwulan  III  ini karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tak lagi diberlakukan. Penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) diharapkan dapat membuat masyarakat lebih produktif dan berkembang. Dibandingkan dengan Thailand yang minus 12%, Singapura minus 12% dan Malaysia minus 13 %, pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih lebih  baik.

    Selanjutnya disampaikan kebijakan pemulihan ekonomi di era kenormalan baru bisa dilakukan dari beberapa perspektif yakni waktu, orientasi ekspor – impor, demand  – supply, UMKM – usaha menengah besar, offline – online dan pelibatan stakeholder.

    “Dalam jangka pendek, pemulihan ekonomi dapat dilakukan dengan bantuan langsung tunai kepada masyarakat yang terdampak dengan proses administrasi yang tidak rumit dan berbelit seperti syarat NPWP. Pemerintah daerah juga dapat menggiatkan padat karya yang mendukung sektor produksi pangan dan pertanian dalam arti yang luas seperti pembuatan saluran, pompa air dan talut” Jelasnya.

    Model kemandirian masyarakat di Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Purworejo, salah satu desa binaan FEB UNS menjadi contoh. Dari desa yang semula sangat miskin dengan hanya memiliki satu musim panen berkembang menjadi  tiga musim panen, dan sekarang sudah semakin berkembang dengan membangun bisnis digital.

    Di jangka menengah dengan memperkuat ketahanan pangan dengan subsidi pupuk dan benih serta menyiapkan sektor pariwisata. Dalam jangka panjang jelas menfokuskan pada pendidikan yang berkarakter dan pertahanan bela bangsa.

    Menurutnya, dampak terbesar Pandemi Covid-19 dialami UMKM sehingga pemerintah daerah harus semaksimal mungkin mengurangi beban pajak dan retribusi ke masyarakat, meniadakan sementara pajak PPh, PBB dan PPN serta memberi bantuan kredit murah dengan tanpa administrasi yang rumit serta mengadakan pelatihan dan pendampingan digitalisasi.

    Kebijakan pemulihan ekonomi juga harus melibatkan semua komponen. Pemerintah harus  menggelontorkan skema peningkatan demand. Perguruan tinggi juga memiliki peran yang sangat strategis, terutama program kampus merdeka dapat menjadi program unggulan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak Covid. Bantuan berupa pelatihan kepada UMKM atau pendampingan desa.

    Di penutup paparannya, Prof. Djoko mengajak kepada semua komponen anak bangsa agar lebih mencintai dan membeli produk bangsa sendiri sehingga bangsa Indonesia  bisa menjadi kuat.  (Humas)

  • Prodi MM Gelar Workshop  Pengabdian Masyarakat

    Prodi MM Gelar Workshop  Pengabdian Masyarakat

    Mengembangkan dan mempertahankan pariwisata lokal saat pandemi menjadi tema khusus yang diangkat dalam Workshop  Pengabdian Masyarakat Program Studi Magister Managemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (MM FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Rabu 30 September 2020.

    Kegiatan yang digelar secara daring dan luring itu merupakan kerjasama antara  MM FEB UNS dengan RG Digital Economy, Marketing, and Consumer Insights serta Unit Pelaksana Teknis Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Gunung Bromo UNS.

    Retno Tanding Suryandari, Ph.D, Ketua Program Studi MM FEB UNS menjadi moderator dalam kegiatan yang menghadirkan tiga narasumber yakni Suwarmin, Direktur Bisnis Solo Pos, Junaedhi Mulyono, Kepala Desa Ponggok Klaten dan Parjan, pengelola obyek wisata Kalibiru Kulon Progo.

    Direktur Bisnis Solo Pos, Suwarmin dalam paparan materinya mengatakan era baru pasca pamdemi harus disambut dengan semangat baru mulai dari sekarang.

    “Era pandemi ini memberikan peluang yang sama, baik yang di daerah maupun di pusat untuk menemui market di luar. Pengelola wisata harus aktif mencari peluang itu. Aktif di platform digital dengan memanfaatkan wisata virtual dan merawat jaringan dengan live IG.

    “Cari tokoh-tokoh yang memiliki follower yang banyak untuk diwawancarai dan live-kan di instagram, misal Pak Ganjar” tegasnya.

    Pengelola harus mampu merawat dan membuat ketertarikan para pengunjung yang pernah datang ke tempat wisata, menyapa dan bersilaturahmi dengan virtual. Selanjutnya pengembangan wisata dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan kantor-kantor pemerintahan yang akan melakukan upgrading kepada timnya dengan melakukan kunjungan virtual atau bisa juga bekerja sama dengan wedding organizer untuk memanfaatkan tempat wisata.

    Menjelang akhir paparannya, Junaedhi menyampaikan bahwa pasca pandemi, wisatawan ingin mendapatkan best experience, mendapat pengalaman yang berbeda. Desa wisata yang dikelola dengan 3 s, yakni serenity (ketenangan diri), spirituality (ketenangan batin) dan sustainability (menjaga keberlanjutan alam) akan lebih banyak dicari pengunjung.

    Sementara itu, Kepala Desa Ponggok Klaten menjelaskan pengembangan Umbul Ponggok sebagai destinasi wisata yang terkenal secara nasional dan internasional  dengan daya tariknya yang unik.

    Dimasa pandemi, Umbul Ponggok telah menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan pengawasan yang ketat. Layanan wisata juga dimodifikasi dengan layanan privat, semi prifat dan wisata virtual untuk pembatasan jumlah pengunjung disertai peningkatan kualitas layanan.

    Untuk pembatasan interaksi pelaku wisata dengan pengunjung, pengelola Umbul Ponggok memberlakukan e-ticketing dan paket “all in”. Juga mengembangkan konsep storynomic untuk peningkatan nilai jual produk wisata, job creation dalam semua aspek layanan dan produk wisata.

    Sementara itu, narasumber ketiga, Parjan,  pengelola wisata Kali Biru Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta memaparkan upaya yang telah ditempuh dalam pengembangan destinasi wisata Kali Biru. (Humas)

  • PDIE FEB UNS Gelar The 2nd Doctoral Colloquium on Business and Economics

    PDIE FEB UNS Gelar The 2nd Doctoral Colloquium on Business and Economics

    Program Doktor Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret (PDIE FEB UNS) mengadakan The 2nd Doctoral Colloquium on Business and Economics, di dukung oleh Center for Fintech and Banking (PUI PT Fintech and Banking UNS) dan berkolaborasi dengan Universitas  dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Gama Lumajang, Selasa, 6 Oktober 2020,

    Dalam kegiatan yang diikuti lebih dari 150 peserta tersebut, terdapat 80 artikel ilmiah yang dipresentasikan dalam 21 sesi paralel dan terbagi menjadi tiga bidang, Akuntansi dan Keuangan, Manajemen, dan Ekonomi.

    Prof. Djoko Suhardjanto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) saat membuka acara berharap kegiatan tersebut dapat memfasilitasi mahasiswa program Doktoral untuk mendiseminasikan artikel penelitian mereka. Hal senada diungkapkan oleh Kepala PDIE FEB UNS, Prof. Rahmawati dalam pidato sambutannya.

    Selama sesi paralel,  akademisi dari berbagai institusi perguruan tinggi baik dari Indonesia maupun Internasional memberikan opini, saran, dan pembahasan yang dapat membantu presenter untuk menyempurnakan artikel ilmiah yang dipresentasikan.

    Akademisi yang hadir sebagai discussant dalam sesi paralel antara lain berasal dari University of Nottingham, NIDA Thailand, Universiti Tunku Abdul Rahman Malaysia, Universiti Malaysia Sarawak, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, BINUS University, dan tak ketinggalan UNS.

    Disela sesi paralel terdapat pula sesi plenary yang menampilkan presentasi dari 5 (lima) pembicara dibidang bisnis dan ekonomi antara lain Prof. Bruno Sergi dari Harvard University USA, Prof. Renatas Kizys dari Southshampton School of Business UK, Assoc. Prof. Dr. Wan Azwan dari Universiti Putra Malaysia, Dr. Inka Yusgiantoro dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Prof. Doddy Setiawan dari UNS.

    Di akhir acara terdapat penyerahan anugerah Best Paper Award dan Best Rising Star in Banking kepada lima presenter dengan artikel terbaik.

    Dari kelima artikel terbaik tersebut, dua diantaranya adalah dari UNS, yakni  artikel berjudul  Google Trends and Depositor’s Behavior dengan penulis Nugroho Saputro dkk sebagai Best Paper 2, serta artikel berjudul Critism on Triple Bottom Line The Perspective of Green Swans  dengan penulis Elvia Ivada sebagai Best Paper 4. (Humas)