FEB

Kategori: fakultas

  • UNS Jadi Host untuk Midterm Evaluation and Workshop To Design New Modules

    UNS Jadi Host untuk Midterm Evaluation and Workshop To Design New Modules

    Universitas Sebelas Maret (UNS) sukses menjadi host dalam kegiatan OPTBANK Midterm Evaluation and Workshop to Design New Modules yang digelar pada akhir September 2019 di Hotel Royal Heritage Surakarta. UNS merupakan koordinator untuk universitas partner di Indonesia dalam program OPTBANK Erasmus+ Project,

    Peserta dari kegiatan ini adalah perwakilan dari universitas partner di Eropa (European Partner University) antara lain Universite de Limoges – Perancis, Universita Degli Studi Roma Tre – Italia, University of Bangor – UK (Inggris), dan Technical University of Crete – Yunani; partner universitas dari Indonesia yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Bandung (ITB), UIN Syarif Hidayattullah Jakarta, Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH), Universitas Sriwijaya (UNISRI), dan Universitas Tanjungpura (UNTAN).

    Selain itu, associate partner lain dari bank regulator seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.

    Dalam kegiatan Midterm Evaluation dilakukan evaluasi untuk segala kegiatan dari program OPTBANK yang telah berlangsung pada tahun sebelumnya.

    Koordinator Proyek (Project Coordinator), Prof. Amine Tarazi dari Universite de Limoges – Perancis, mengapresiasi segala usaha yang telah diberikan dalam pelaksanaan aktivitas OPTBANK sejak dimulai pada tahun 2018 hingga pertengahan 2019.

    Terdapat banyak hal perlu diperbaiki untuk program-program selanjutnya, seperti proses seleksi peserta dalam program exchange (pertukaran pelajar) dan training, proses diseminasi strategi untuk setiap aktivitas, alur pelaporan, dan kejelasan PIC (Person in Charge-Penanggungjawab) untuk program selanjutnya.

    Meskipun begitu Project Committees (Komite Project) optimis bahwa semua program yang akan datang dapat dilaksanakan dengan sukses, hingga akhir project pada tahun 2020.

    Setelah Midterm Evaluation, selanjutnya dibahas mengenai topik “How to Design New Modules for PhD in Banking and Finance. Terdapat 10 modul yang dipresentasikan oleh para ahli yang hadir termasuk 2 modul yang melibatkan 3 regulator di bidang perbankan din Indonesia yaitu BI, OJK, dan LPS.

    Modul-modul tersebut membahas mengenai berbagai area khusus di bidang keuangan dan perbankan seperti Perbankan Sharia (Islamic Banking), Institusi Perbankan dan Manajemen Risiko Perbankan (Banking Institution and Bank Risk Management), Regulasi Perbankan dan Stabilitas Keuangan (Banking Regulation and Financial Stability), Struktur dan Efisiensi di Industri Perbankan (Structure and Efficiency of Banking Markets), Literasi Keuangan, Inklusi Keuangan dan Financial Deepening (Financial Literacy, Financial Inclusion and Financial Deepening), Corporate Governance dan Institusi Keuangan (Corporate Governance of Financial Institutions), Keuangan Kuantitatif (Quantitative Finance), Operasional Riset dengan Teknik Berbasis AI dalam Keuangan dan Perbankan, serta modul yang secara khusus berhubungan dengan industri perbankan di Indonesia yang dipresentasikan oleh Dr. Inka Yusgiantoro dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dr. Yoga Affandi dari Bank Indonesia, dan Dr. Herman Saheruddin dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

    Modul-modul yang dibahas dalam pertemuan ini ditargetkan untuk diterapkan pada tahun 2020.

    Pilot project untuk modul-modul tersebut akan dilaksanakan di Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

    Keberhasilan dari pilot project akan membuka peluang bagi setiap universitas partner di Indonesia untuk menerapkan modul-modul tersebut.

    Sumber : Irwan Trinugroho, Ph.D.

  • Dorong Akselerasi Kenaikan Jabatan Akademik dan Guru Besar, FEB UNS Gelar Workshop

    Dorong Akselerasi Kenaikan Jabatan Akademik dan Guru Besar, FEB UNS Gelar Workshop

    Dorong Akselerasi Kenaikan Jabatan Akademik dan Guru Besar bagi para Dosen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Gelar Workshop, Senin,21 Oktober 2019, di UNS Inn.

    Acara yang dihadiri oleh seluruh dosen FEB UNS menghadirkan dua pembicara: Prof. Dr. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti dan M.Si., Dr.Didit Purnomo, M.Si.

    Sebelum acara inti, Prof. Dr. Tulus Haryono,M.Ek., Dosen FEB UNS paparkan Potret Dosen FEB UNS Tahun 2019 dan Upaya Percepatan Kenaikan Pangkat.

    Profesor yang juga masuk dalam Tim PAK (Penilai Angka Kredit) UNS menyampaikan pengalamannya dalam mengurus kenaikan pangkat, yang hampir rata-rata diupayakannya dalam kurun waktu 2 tahun.

    “Perlu tekad yang kuat untuk bisa mempercepat kenaikan pangkat untuk bisa mencapai Lektor Kepala hingga meraih jabatan tertinggi akademik yaitu guru besar. Hidup harus ada target agar kita termotivasi” tegasnya menyemangati.

  • Encouraging the Academic Rank Increment, FEB UNS Organizes a Workshop

    Encouraging the Academic Rank Increment, FEB UNS Organizes a Workshop

    To encourage the increment in academic rank as well as Professor promotion for the Faculty member of the Faculty of Economics and Business, Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), the faculty organizes a Workshop on October 21, 2019. The event was attended by all of FEB UNS faculty member, with two main speakers Prof. Dr. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti and M.Si., Dr.Didit Purnomo, M.Si.

    During the opening remark, Prof. Dr. Tulus Haryono,M.Ek., provides a brief description of the current condition of FEB UNS faculty member and the effort taken to accelerate the academic rank increment. The speakers who is also part of Credit Score Assessor Team tell the participant about their experience on the management of rank promotion, which usually takes 2 years. “A strong determination is needed to speed-up the increment process to reach Senior Lecturer rank, and greater effort to earn full Professor. We need a target in life to keep ourselves motivated,” they explained.

  • Platform Logistik Memerlukan Otomatisasi

    Platform Logistik Memerlukan Otomatisasi

    Tren pasar logistik di Indonesia perlu mendapatkan perhatian lebih terutama karena biaya logistik yang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

    Tren logistik di era ekonomi 4.0 memerlukan kontribusi dari dunia pendidikan seperti yang ada di universitas. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan salah satu dari empat hal yang penting untuk diperhatikan jika ingin mengembangkan dunia logistik, yakni: deregulasi yang lebih tepat untuk logistik di Indonesia, harmonisasi regulasi pemerintah pusat dan daerah, pembangunan infrastruktur fisik dan informasi teknologi dan Pendidikan.

    Pentingnya logistik di Indonesia terutama karena melihat fakta bahwa potensi di Indonesia belum termaksimalisasi. Saat ini, Indonesia merupakan kawasan berkembang tetapi menempati posisi ke-3 secara kekuatan ekonomi ASEAN. Indonesia juga menempati peringkat nomor 6 dalam pertumbuhan ekonomi ASEAN.

    Solo khususnya, sebenarnya juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan karena Solo punya banyak keunggulan terutama adanya perusahaan tekstil terbesar di ASEAN.

    Pernyataan itu disampaikan Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) ALFI dalam Seminar Nasional The Role of Accounting in Logistic Industry, Jum’at 18 Oktober 2019 di Aula Gedung V FEB UNS.

    Menurutnya, sekarang kita telah berada di digital era sehingga diperlukan pembaharuan terkait model bisnis baru yang dapat merangkul era digital dengan internet sebagai nafas utamanya sebagai tools untuk mempermudah dunia perlogistikan.

    “Perlu dilakukan pengembangan sistem yang mumpuni untuk menyatukan dan mengkolaborasikan keempat komponen yang perlu diperhatikan dalam dunia perlogistikan tadi” katanya

    Kedepan, infrastruktur dan area fisik (physical logistic) tidak lagi menjadi komponen penting dalam dunia logistik sehingga kita perlu berubah dan berkembang mengikuti area. Platform logistik memerlukan otomatisasi sehingga dapat mempermudah kolaborasi dan efisiensi informasi dengan global network.

    Sementara itu, Prof. Drs. Hassan Fauzi, M.Ba., Ph.D., Ak, Dosen Akuntansi FEB UNS menyatakaan , selain tools untuk melakukan proses supply chain management, stakeholder di dalam entitas juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

    Hal ini terkait dengan sumber daya manusia yang menjadi kunci pertama pelaksanaan supply chain management yang efektif.

    Proses supply chain management tidak lagi berorientasi pada mencari laba, akan tetapi juga perlu memperhatikan kepentingan sosial dan lingkungan sebagai bentuk pertanggung jawaban sosial perusahaan.

    Narasumber lain di acara yang digelar atas kerjasama ALFI dan FEB UNS adalah Arif Prabowo, CEO PT. Pelindo III Regional Jawa Tengah.

    Di kegiatan itu, juga dilakukan Penandatangan MoU atau kerjasama antara ALFI dan FEB UNS.

    Diolah dari: Prodi Akuntansi

  • Pengaruh Power Pemilik Hotel bagi Perkembangan Bisnis Hotel

    Pengaruh Power Pemilik Hotel bagi Perkembangan Bisnis Hotel

    Power pemilik hotel yang tinggi akan menghambat terciptanya partisipasi peran akuntan dan menghambat penggunaan akuntansi manajemen strategis. Sebaliknya, power pemilik hotel yang rendah akan mendorong peningkatan partisipasi peran akuntan dan peningkatan penggunaan akuntansi manajemen strategis perusahaan.

    Pernyataan itu disampaikan Antonius Singgih Setiawan dalam presentasi disertasinya di Ujian Terbuka Promosi Doktor pada Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, Kamis, 17/10/2019.

    “Peran akuntan dan penggunaan akuntansi manajemen strategis akan lebih tinggi saat perusahaan menerapkan strategi yang berorientasi prospector daripada perusahaan yang menerapkan strategi defender. Semakin tinggi peran akuntan dalam membuat keputusan strategis akan mendorong peningkatan penggunaan sistem akuntansi manajemen strategis pada hotel” jelasnya

    Disisi lain, kinerja terintegrasi sangat dipengaruhi oleh pemanfaatan dan penggunaan akuntansi manajemen strategis secara optimal. Pilihan strategi kompetitif juga menjadi faktor untuk diterapkan.

    “Pemilik hotel harus berani mendelegasikan power pengelolaan pada operator/manajemen yang ditunjuk agar operator mempunyai peluang untuk mengimplementasikan kreativitas mereka sehingga mereka mempunyai tanggung jawab yangebih untuk memberikan kinerja terbaik bagi perusahaan” papar Dosen Universitas Katolik Musi Charitas Palembang.

    Disertasi yang berjudul Anteseden-Konsekuensi Akuntansi Manajemen Strategis: Peran Power Pemilik (Studi pada Industri Hotel di Wilayah Sumatera) dipertahankan di hadapan delapan penguji dengan Promotor: Prof. Dr. Rahmawati, M.Si.,Ak. Ko-Promotor: Dr. Djuminah, M.Si,Ak dan Ari Kuncara Widagdo,SE,

  • Semangati Yang Muda untuk Berprestasi di Bidangnya

    Seru dan menginspirasi kaum muda di Talkshow & Seminar National “Capture Moment for The Greatest Future, Sabtu 12/10/2019, Auditorium UNS.

    Dengan pembicara yang sangat ahli yakni dr. Andri Putranto, Abel Cantika, Ernest Prakasa, Aulion & Amri Naufal.

    Talkshow Nasional merupakan wadah bagi kaum muda pada umumnya untuk bertemu dengan pembicara-pembicara inspiratif yang akan berbagi ilmu, pengalaman, dan motivasi mengenai bagaimana menjalankan dunia bisnis.

    Memberikan sarana belajar dan hiburan untuk mahasiswa UNS khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam event Talkshow Nasional.

    Harapannya FEB mampu meningkatkan kemampuan kompetisi di bidang akademik bagi mahasiswa. Juga menumbuhkan inovasi yang dimiliki oleh mahasiswa untuk dapat menggunakan potensinya sebagai salah satu asset untuk mencapai perekonomian yang lebih baik.

    :

  • Berwirausaha di Era Ekonomi Kreatif

    Berwirausaha di Era Ekonomi Kreatif

    Beda antara employee dan entrepreneur yang paling nampak adalah dalam hal waktu. Employee akan bekerja sekitar 8-12 jam. Bekerja terkekang oleh waktu dan tidak bisa mendelegasikan. Sedangkan seorang entrepreneur bisa mengontrol uang dan waktunya.

    Seorang pekerja mendapatkan upah tetap, jika tidak bekerja tidak mendapatkan upah serta bekerja dalam batasan usia. . Sedangkan seorang pebisnis akan dapat hasil yang lebih banyak dari pengelolaan bisnisnya dan waktu yang tidak dibatasi usia.

    Hal itu disampaikan Endang Kurniawan, alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret saat berbagi cerita suksesnya di acara Entrepreneur & Charity With Alumni “Berwirausaha Inovatif di Era Ekonomi Kreatif, Sabtu 12/10/2019 –

    Dihadapan ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Wirausaha FEB UNS, Endang Kurniawan memberikan semangat untuk para wirausaha muda agar menjadi seorang pebisnis yang tangguh, dan tidak bermental “block”.

    Menurut Endang, mental block adalah pengekangan terhadap memori atau pikiran dalam diri seseorang. memiliki perasaan “nggak enak” atau waw-was yang menghambat seseorang melakukan sebuah tindakan. Beberapa pernyataan itu diantaranya “jangan’-jangan lagi meeting”, ” jangan- jangan sedang sibuk”, “Jangan-jangan ditolak” ,”Jangan-jangan barangnya dinilai nggak-baik ” dan lainnya sebagainya.

    Pebisnis harus fokus pada keunggulan yang dimiliki dan harus bisa membedakan antara bisnis dan sosial. Tidak mencampur adukan keduanya agar manajemen tertata rapi.

    Yang juga penting bagi seorang pebisnis adalah membangun “customer base” agar memperolah pengetahuan tentang customer, tracking behaviour (individual), membangun kompetensi dasar individu dan organisasi, individu yang highskilled dan juga multiskilled, dan membangu skema baru dari hubungan C to C, seperti cooperation, joint competence.

  • Sebagian Besar UMKM Belum Memiliki Pengetahuan yang Cukup tentang Prosedur Ekspor

    Sebagian Besar UMKM Belum Memiliki Pengetahuan yang Cukup tentang Prosedur Ekspor

    Selama ini, sebagian besar Usaha Menengah Kecil (UMK) dari Yogyakarta masih belum mampu mengekspor sendiri produk kerajinan mereka. Hal ini disebabkan bukan karena produknya tidak laku di manca negara namun karena mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang prosedur ekspor.

    Pernyataan itu disampaikan Dr. Evi Gravitiani, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) dalam rilisnya berkaitan dengan kegiatan Workshop Prosedur Ekspor Produk Kerajinan, yang diselenggarakan di Ruang Pamer CV Ragil Craft, Desa Gamplong, Moyudan, Sleman, di bulan Juli 2019 lalu.

    Workshop yang diinisiasi oleh Riset Grup Sustainable Development and Green Business FEB UNS diikuti 23 peserta perajin produk anyaman berbahan dasar serat alam dan benang rajut, dari Sleman dan Kulonprogo.

    Kepada para perajin, Dr. Evi Gravitiani, sebagai ketua tim , juga dibantu anggota lainnya, Dr. AM. Soesilo dan Dr. Erni Ummi Hasanah memberikan pengarahan tentang mekanisme dan tatalaksana ekspor serta perbaikan kualitas produk.

    Selanjutnya, dikatakan, workshop yang diselenggarakan terwadahi dalam skema pengabdian Program Pengembangan Produk Ekspor (PPPE) dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuatitas produk UMK agar berdaya saing tinggi untuk pasar dalam dan manca negara. Juga sebagai bagian dari upaya aktif menjaga keberlangsungan warisan budaya lokal.
    Program hibah PPPE merupakan hibah multi tahun yang dimulai tahun 2018 sampai dengan 2019. Program diperuntukkan bagi UMK-UMK mitra.

    Dua UMK mitra yakni CV Ragil Craft yang beralamat di Desa Gamplong, Moyudan, Sleman dan diQ’s Craft di Banggan Tuksono Sentolo Kulon Progo memiliki basis input yang hampir sama, yaitu serat alam seperti pandan, serat agel, enceng gondok, lidi kelapa, mending dan akar wangi.

    Bahan-bahan alami ini ditenun atau dianyam dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan juga materi dari benang nilon.
    Untuk membantu mengoptimalkan produksi, Tim PPPE juga menyerahkan bantuan berupa mesin. Untuk mitra CV Ragil Jaya Craft diberikan bantuan berupa mesin ATBM dimodifikasi dengan dinamo listrik. Alat ini akan membantu penenun untuk tidak lagi menginjak dan mendorong ATBM agar lebih efisien untuk menghasilkan hasil tenunan serat alam.

  • Prof. Hunik Dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Manajemen SDM

    Prof. Hunik Dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Manajemen SDM

    Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Jamal Wiwoho, mengukuhkan Prof. Dr. Hunik Sri Runing Sawitri, S. E., M. Si sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Prof. Dr. dr. Yulia Lanti Retno Dewi, M. Si sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Fakuktas Kedokteran (FK), Selasa (15/10/2019).

    Dalam sidang senat terbuka pengukuhan guru besar yang digelar di Gedung Auditorium G. P. H Haryo Mataram UNS, Prof. Dr. dr. Yulia Lanti Retno Dewi, M. Si menyampaikan pidato inaugurasinya yang berjudul ‘Kekurangan Iodium dalam Perspektif Ekologi dan Upaya Penanggulangannya’. Pidato inaugurasi yang disusunnya tersebut merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan Prof. Yulia bersama dengan Grup Riset Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI).

    Mengawali pidatonya, Prof. Yulia mengatakan bahwa kekurangan iodium merupakan salah satu masalah global dan di Indonesia sendiri diperkirakan jumlah penduduk yang tinggal di wilayah kekurangan iodium berjumlah 54 juta orang dan tersebar di seluruh wilayah.
    “Kementerian Kesehatan menetapkan kekurangan iodium sebagai salah satu masalah gizi utama karena memenuhi kriteria, seperti banyak penderitanya, tersebar di seluruh Indonesia, dan dampaknya buruk bagi kualitas manusia Indonesia dalam jangka panjang,” papar Prof. Yulia.

    Sementara itu, Prof. Dr. Hunik Sri Runing Sawitri, S. E., M. Si menyampaikan pidato inaugurasinya yang berjudul ‘Komitmen Organisasional, Budaya, dan Kinerja Karyawan’. Sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen SDM FEB UNS, Prof. Hunik dalam pidato inaugurasinya menyinggung hubungan antara komitmen dan kinerja pada seorang karyawan.

    “Sering orang beranggapan bahwa ketika karyawan mempunyai komitmen yang tinggi kinerjanya akan baik. Namun, ternyata hasil penelitian menunjukkan tidak selalu demikian,” ujar Prof. Hunik membuka pidato inaugurasinya.

    Prof. Hunik mengatakan bahwa berbagai riset yang telah dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kedua konstruk tersebut masih belum jelas dan menunjukkan hubungan yang bervariasi.

    “Oleh karena itu, ketika kita ingin melihat hubungan antara komitmen dan kinerja perlu diperjelas terlebih dahulu komitmen organisasional yang dimaksud,” ujar Prof. Hunik.

    Dengan dikukuhkannya Prof. Hunik dan Prof. Yulia sebagai Guru Besar UNS, Rektor UNS Prof. Jamal Wiwoho berharap agar Prof. Hunik dan Prof. Yulia senantiasa menjaga dan mengembangkan keilmuan dan nilai-nilai akademik, serta memberikan sumbangsihnya bagi kepentingan pengembangan UNS dimasa mendatang dan kemaslahatan umat.

  • Talkshow Entreprenuer

    Talkshow Entreprenuer

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bekerjasama dengan Harian Bisnis Indonesia menggelar Talkshow di Kampus Sukses Menjadi Entrepreneur Muda di Tengah Era Disrupsi. Talkshow ini digelar di Aula FEB UNS, Selasa (15/10/2019) dengan dibuka oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho. Dalam kesempatan tersebut, hadir sebagai pembicara Direktur Strategic Human Capital BTN, Yossi Istanto, Owner Regarsport, Jumariyanto, Ekonom Indef, Bhima Yudhistira dan Staf Ahli Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Pengembangan Usaha UNS, Dr. Sutanto S.Si.DEA.

    Dalam sambutannya, Rektor UNS, Prof.Dr. Jamal Wiwoho mengatakan, revolusi industri 4.0 yang sekarang melanda semua negara, mendorong terjadinya disrupsi dalam berbagai bidang yang memberikan tantangan dan peluang, termasuk bagi generasi muda atau lebih dikenal dengan sebutan generasi milenial. Generasi milenial yang cukup dominan pada era digital, akan memainkan peran yang sangat penting dalam menghadapi industri 4.0. Hal itu terkait erat dengan masa bonus demografi negara Indonesia hingga tahun 2030.

    “Kita sadar dan akui bahwa perubahan teknologi dewasa ini terjadi begitu cepat akibat disrupsi. Tren perkembangan teknologi juga telah bergeser, sehingga perusahaan teknologi digital merajai ekosistem dan perekonomian dunia. Tantangan lain yang kita hadapi saat ini adalah lapangan pekerjaan menjadi semakin berkurang akibat kemajuan teknologi,” terang Prof. Jamal disela-sela acara.

    Jamal menambahkan, diperkirakan setidaknya 5 juta orang akan kehilangan pekerjaan akibat otomasi. Perubahan besar dunia industri nampaknya berdampak langsung terhadap eksistensi generasi milenial, karena meskipun generasi milenial memiliki jiwa wirausaha yang tinggi, namun ternyata masih lemah dalam eksekusinya.

    Di era digital sekarang ini, bisa jadi mudah untuk menjadi pengusaha karena kemajuan teknologi. Hanya saja generasi milenial tingkat kesuksesan usahanya masih rendah, karena faktor gaya hidup yang masih konsumtif. Oleh karena itu, perlu perubahan paradigma, atau pola pikir dari para milinial, yang tidak hanya mampu bekerja dengan cara-cara efisien dan produktif saja, tetapi untuk menjadi hebat dan memenangkan persaingan, harus punya inovasi, kreativitas dan entrepreneurship. Sekarang ini ada sekitar 130 juta jiwa yang berusia produktif dapat mengambil kesempatan baru untuk mengembangkan bisnis di era digital. Sebut saja Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan yang terakhir muncul Ruang Guru diprediksi dalam waktu dekat akan menjadi Unicorn Indonesia.

    Pesatnya perkembangan bisnis digital tersebut, maka Pemerintah Indonesia sendiri telah menargetkan terciptanya 1.000 technopreneur pada tahun 2020 mendatang.
    “Untuk itulah, saya dan kampus UNS harus bisa mengajak generasi milenial terutama yang hadir di acara ini dan di seluruh Indonesia, untuk meraih kesempatan yang sama dalam berkontribusi dan berperan aktif di era industri digital,” imbuh Prof. Jamal.

    Prof. Jamal menambahkan bahwa UNS harus bisa melakukan empowering human talents yang dimiliki saat ini untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 dan era VUCA (Volatile/cepat berubah, Uncertain/situasi yang tidak pasti,Complexity/lebih banyak faktor yang saling mempengaruhi, dan Ambiguous/tidak jelas artinya). Kuncinya hanya satu yaitu SDM yang kompetitif dan inovatif. “Untuk membuktikan bahwa UNS mampu melakukan inovasi, saat ini kami juga telah memiliki startup hasil riset dosen muda Fakultas Teknik berupa Battery Lithium dan Batik Pewarna Alami (Ecody), yang selanjutnya akan menjadi Teaching Factory-nya UNS,” imbuhnya.

    Sementara itu, Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia, Hery Trianto mengatakan bahwa kegiatan seperti ini tidak hanya diselenggarakan di UNS, melainkan juga digelar diberbagai kampus lainnya. “Dengan acara ini, kami menghimbau kepada mahasiswa ketika lulus tidak hanya mencari pekerjaan melainkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Hery.