FEB

Blog

  • FEB UNS Adakan Sosialisasi dan Persiapan Akreditasi AQAS

    FEB UNS Adakan Sosialisasi dan Persiapan Akreditasi AQAS

    Program Studi Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret  (UNS) tahun 2021 mengajukan Akreditasi Internasional AQAS. Self Evaluation Report (SER) AQAS sudah disubmit pada awal Agustus 2021 dengan dua prodi lainnya di lingkungan UNS. Apabila hasil review desk evaluation memenuhi,  maka awal Nopember akan ada  asesmen lapangan secara daring.

    Sehubungan dengan itu, FEB UNS menyelenggarakan Sosialisasi dan Persiapan Akreditasi Agency for Quality Assurance by Accreditation of Study Programs  (AQAS) untuk Civitas Akademika FEB UNS, Rabu 1 September 2021 secara luring dan daring.

    Dekan FEB UNS saat memberikan sambutan

    Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh tenaga pendidik, kependidikan dan perwakilan organisasi kemahasiswaan menghadirkan dua narasumber, Dr. Heni Hendrayati, SIP, MM, dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dan Irwan Trinugroho, SE, M.Sc. Ph.D, Direktur Kerjasama  dan Internasionalisasi UNS dan juga Dosen di FEB UNS.

    Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com Hons, Ph.D, Ak dalam sambutannya mengatakan, AQAS merupakan salah satu lembaga akreditasi internasional yang diakui oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan berdiri pada tahun 2002 dan berkantor pusat di Cologne, Rhine-Westphalia Utara, Jerman.

    “Semenjak UNS berstatus Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH) per 6 Oktober 2019 lalu, kita diberi mandat untuk bisa masuk ke 500 universitas besar di dunia. Ini sangat berat dan merupakan  tantangan kita bersama, oleh karena itu akreditasi internasional sangat diperlukan” ungkapnya.

    Selanjutnya dikatakan, Universitas Sebelas Maret yang memiliki 167 prodi, oleh kementerian ditarget 15 dari  prodi S1 harus terakreditasi internasional. FEB untuk S1 jelas tertarget semuanya untuk dapat tersertifikasi.

    Sebelum PTNBH, sebenarnya prodi di FEB sudah memiliki sertifikasi akreditasi internasional. Prodi S1 Manajemen, Ekonomi Pembangunan telah mendapat sertifikasi AUN QA, serta Prodi S1 Akuntansi tersertifikasi EPAS. Sedangkan untuk prodi pascasarjana, Magister Akuntansi, Magister Manajemen, Magister Akuntansi serta Program Doktor Ilmu Ekonomi telah tersertifikasi ABEST 21. Namun lembaga tersebut. Saat ini tidak diakui Dikti sehingga kita harus bisa sedikit merubah strategi untuk mencari lembaga akreditasi international yang diakui.

    Diakhir sambutan, Dekan berharap kedua narasumber bisa memberikan pencerahan, bagaimana titik fokus dari Akreditasi AQAS sehingga prodi di FEB berhasil memiliki status akreditasi internasional tersebut.  Di kriteria BAN PT, dalam peraturannya dinyatakan jika prodi sudah mendapatkan akreditasi internasional otomatis akan disetarakan dengan status unggul. Diharapkan akhir tahun ini seluruh prodi S1 bisa terakreditasi international.

    Irwan Trinugroho, Ph.D saat berikan arahan 

    Di kegiatan ini, kedua narasumber menjelaskan secara detil proses persiapan, pelaksanaan visitasi hingga gambaran evaluasi dari akreditasi AQAS. Dijelaskan juga strategi yang harus dilakukan agar pelaksanaannya berjalan dengan lancar.

    Irwan, Ph.D menekankan yang terpenting adalah  prodi dan taskforce secara intensif bertemu dengan dosen, mahasiswa dan siapapun stakeholder yang diminta interview sesuai SER AQAS, diskusikan dan dikomunikasikan agar semua berada dalam halaman yang sama. Persiapkan semua potensial dokumen dalam google drive dan sudah disusun dalam sub-sub untuk memudahkan pencarian file. Selain itu diisiplin dengan jadwal yang telah disetujui serta fokus pada proses asesmen. (Humas FEB)

  • The Morning Briefing of UNS: Three Focal Points According to the Dean of FEB UNS

    The Morning Briefing of UNS: Three Focal Points According to the Dean of FEB UNS

    As one of the universities that nurtured from the Pancasila values and devoted all of its capabilities to the greater community welfare, Universitas Sebelas Maret plays an active role in learning activities that involve all stakeholders in the Merdeka Belajar Kampus Merdeka Program (MBKM).

    In this MBKM program, UNS must shape the noble and virtuous character of the nation’s young generation and assist students in developing their abilities. This assistance should cover both the hard skills and soft skills through the eight types of MBKM activities. Doing so will ensure that UNS will not become an ivory tower in the education sector but also plays an active role in the community by devoting its energy through scientific contribution and charitable knowledge. This statement was delivered by the Dean of the Faculty of Economics and Business, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com (Hons), Ph.D., Ak., in the virtual Morning Briefing attended by all UNS academic members, Monday, August 30, 2021.

    Further, he explains that evaluation and budget implementation for the second half of the semester aims to improve education quality both in human resource development, teaching and learning facilities, including international-class laboratories, and various supporting facilities to encourage superior accreditation at both national and international levels.

    In terms of the achievement of the second semester in 2021 Key Performance Indicators (KPI), Prof. Djoko states that UNS has made various efforts to achieve the target KPI in the previous semester. All UNS academic members, including the faculty members in collaboration with lecturers, students, and academic support staff, are working hard to achieve the KPI target and even exceed it and continue to strengthen UNS position in the first cluster of Indonesia’s universities ranking. However, all these strenuous efforts must be implemented continuously to achieve UNS’ ultimate objective as a world-class university, both at the Asian University Ranking and the World University Ranking.

    These three main points were conveyed by Prof. Djoko Suhardjanto in the Morning Briefing welcoming the last week of August. Many are expected that UNS will be more successful both in the national and international spheres.

    The Morning Briefing is a routine held by UNS on Mondays, where the party responsible for the briefing is selected from, in turn, from the 16 Work Units at UNS. As of August 30, 2021, FEB is fully responsible for the Morning Briefing implementation.

    Other than Prof. Djoko, other officers who served in the Morning Briefing are the Head of the Management Study Program, Dr. Atmaji, who led the tribute to Country Flag and National Anthem. Meanwhile, the Moment of Silence was led by the FEB UNS Dean, Prof. Djoko Suhardjanto, followed by the Recitation of the Pancasila Manuscript by the Chair of the Faculty Senate, Prof. Tulus Haryono, Recitation of the Preamble to the 1945 Constitution by the Vice Dean for Academics, Research, and Student Affairs, Prof. Izza Mafruhah, Recitation of the Panca Prasetya Korps Pegawai RI by the Vice Dean for Human Resources, Finance, and Logistics Affairs, Dr. Djuminah, Prayer by the Vice Dean for Planning, Partnership, Business, and Information Affairs, Dr. Mugi Harsono, and lastly the Master of Ceremony was conducted by the FEB UNS Public Relations Staff, Tetri Wahyu Aryanti. (Humas FEB)

  • Tiga Hal Pokok Disampaikan Dekan FEB UNS dalam Apel Pagi yang Diikuti Seluruh Pegawai di Lingkungan UNS

    Tiga Hal Pokok Disampaikan Dekan FEB UNS dalam Apel Pagi yang Diikuti Seluruh Pegawai di Lingkungan UNS

    Universitas Sebelas Maret sebagai salah satu perguruan tinggi yang tumbuh dari Rakyat Kampus Benteng Pancasila dan mengabdikan seluruh kemampuannya untuk kesejahteraan rakyat, berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh stakeholder dalam kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

    Dalam kegiatan MBKM ini, UNS harus mampu membentuk karakter anak bangsa yang berbudi luhur, mahasiswa bisa mengembangkan kemampuan diri  bukan hanya hardskill namun juga softskill melalui delapan jenis kegiatan MBKM. Kondisi ini memastikan UNS tidak menjadi menara gading dalam dunia pendidikan namun juga ikut berperan aktif ke masyarakat mengabdikan energinya melalui amal ilmiah dan ilmu amaliah.

    Pernyataan itu disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com (Hons), Ph,D, Ak. dalam Apel Pagi yang diikuti oleh seluruh pegawai di lingkungan UNS, Senin 30 Agustus 2021 secara daring.

    Selanjutnya dikatakan,  evaluasi kegiatan selama paruh semester kedua dan penyerapan anggaran  digunakan untuk meningkatkan fasilitasi baik dalam ranah pengembangan sumber daya manusia, fasilitas belajar mengajar termasuk laboratorium berkelas internasional serta berbagai macam fasilitas kegiatan dalam mendorong pencapaian akreditasi unggul baik level nasional maupun internasional.

    Peserta Apel Saat Penghormatan kepada Sang Merah Putih

    Dan di pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) semester kedua pada tahun 2021, di semester pertama kita telah melakukan berbagai upaya dalam pencapaian target IKU. Para pimpinan universitas, fakultas bahu membahu dengan dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan bekerja keras untuk bisa mencapai target IKU bahkan melampauinya dan tetap memantapkan UNS pada universitas klaster satu. Namun tentu saja hal ini harus terus berlanjut agar kita bisa masuk ke dalam universitas kelas dunia baik dalam tataran Asian University Ranking maupun World University Ranking.

    Tiga hal pokok tersebut disampaikan Prof. Djoko Suhardjanto dalam pengarahan Apel Pagi     untuk menyambut pekan terakhir di bulan Agustus ini. Harapannya, UNS semakin berjaya baik dalam ranah nasional maupun internasional.

    Apel pagi rutin diselenggarakan UNS pada hari Senin dan penanggungjawabnya secara bergilir di 16 Unit Kerja yang ada di UNS. Pada tanggal 30 Agustus 2021 ini, FEB bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaannya.

    Pembacaan Naskah Pancasila oleh Ketua Senat Fakultas

    Petugas lain di apel pagi yakni Kaprodi S1 Manajemen, Dr. Atmaji yang memimpin penghormatan kepada Sang Merah Putih; Mengheningkan Cipta dipimpin oleh Dekan, Prof. Djoko Suhardjanto; Pembacaan Naskah Pancasila oleh Ketua Senat Fakultas, Prof. Tulus Haryono; Pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 oleh Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan, Prof. Izza Mafruhah; Pembacaan Panca Prasetya Korps Pegawai RI oleh Wakil Dekan Sumber Daya Manusia dan Logistik, Dr. Djuminah; Doa oleh Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi, Dr. Mugi Harsono, serta pemandu acara oleh Fungsional Pranata Humas, Tetri Wahyu Aryanti.  (Humas FEB).

  • Entrepreneurship is Powerful in the Academic and Non-Academic Activities

    Entrepreneurship is Powerful in the Academic and Non-Academic Activities

    The Management Study Program, Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) held a Technical Assistance for the Kampus Merdeka-Entrepreneurship Program: Social Entrepreneurship, Tuesday, August 3, 2021. The activity that was attended by lecturers and students from various study programs invites Melia Famiola, STP, MT, Ph.D., a lecturer from the School of Business and Management ITB.

    At the beginning of her presentation, Melia, Ph.D., introduced more details about social entrepreneurs and shared the involved parties’ experiences in this sector. According to her, the issue of social entrepreneurship was initiated with movements carried out by several people. People who choose to be social entrepreneurs must be smart, as it is not easy for them to see the gaps in their social activities in order to create transformation leading to an economic turnaround for the community.

    “This is the reason why the current entrepreneurship has become quite powerful in the academic and extracurricular activities. Even the long-established businesses are required to contribute to the achievement of the SDGs, whether in reducing poverty, hunger, addressing health, tackling environmental problems and various other problems around us,” he explained.

    Furthermore, according to Portales, there are four essential elements of a social entrepreneur. In a social entrepreneur, there must be a social mission within a systemic change. In order for the social mission to create systemic change, it must be explored along with social and economic activities. The end goal is how to create a positive impact.

    Social entrepreneurship attributes include social motivation, economic intelligence, courage, and quick and alternative thinking. A social entrepreneur is a person who has a social mission, empathy, and particular social interests. Social impact will not happen just by doing charity or charitable activities, but it must be creating transformation on how people can change toward a positive direction as expected. Additionally, what social entrepreneurs have is economic intelligence, the ability to find business opportunities.

    Two other characters possessed by social entrepreneurs are bravery, a person who dares to make difficult decisions. A social entrepreneur must be more courageous than those involved in certain businesses because sometimes the social value proposed through their opinion has no economic value, more leaning to charity in nature. However, a social entrepreneur must dare to take the risk and must be creative in looking for economic strategies, have more guts, and be stronger than an ordinary entrepreneur. The second attribute is quick-witted to find alternative ideas. This attribute refers to the condition when a person is dealing with the community, dealing with a lot of people’s behavior, that requires them to adapt to find a strategy on how to make changes.

    Further, Dr. Melia said that there are three things required to develop the Kampus Merdeka-Entrepreneurship program in social-based entrepreneurship: mindset transformation, educational ecosystem support in entrepreneurship development, and the new role of the campus as a hope.

    Furthermore, the entrepreneurship education ecosystem is built based on three roles, stimulation, support, and sustainability. Stimulation includes entrepreneurship education, motivational training, assistance and guidance in selecting products, project reports preparation, product and process development, entrepreneurial forums creation, and skills recognition.

    Supporting includes funding assistance, provision of working space, guidance, legal assistance, and provision of other public facilities. Sustainability can be provided in the form of modernization assistance, additional financing for capacity utilization, product orders, quality testing and services improvement, as well as public facilities based on needs. (Humas FEB)

  • Entrepreneurship Cukup Power Full di Dunia Akademik dan Aktifitas di Luar Akademik

    Entrepreneurship Cukup Power Full di Dunia Akademik dan Aktifitas di Luar Akademik

    Prodi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS)  mengadakan kegiatan Technical Assistance Program Kampus Merdeka-Kewirausahaan: Social Entrepreneurship, Selasa 3 Agustus 2021.  Kegiatan yang dihadiri oleh dosen dan juga mahasiswa dari berbagai prodi itu menghadirkan Melia Famiola, STP, MT, Ph.D,  Dosen School of Business and Management ITB.

    Di awal presentasinya, Melia, Ph.D mengenalkan lebih detil tentang social entrepreneur dan banyak bercerita tentang pengalaman orang-orang yang menggelutinya. Menurutnya, isu social entrepreneur lahir dengan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh beberapa orang. Semua orang yang melakukan social entrepreneur pastilah orang cerdas karena tidak mudah bagi mereka untuk melihat celah dari kegiatan sosialnya untuk menghasilkan sesuatu perubahan bagi orang lain dan ada perputaran ekonomi.

    “Inilah alasannya, hari ini  entrepreneurship menjadi cukup memiliki kekuatan yang penuh dalam dunia akademik juga aktifitas di luar, bahkan bisnis-bisnis yang berjalan sudah sekian lama kemudian  di direct untuk bisa mengambil apa isu kontribusi mereka terhadap SDGs, apakah dalam hal mengurangi kemiskinan, mengurangi kelaparan, mengatasi kesehatan, mengatasi masalah lingkungan  dan berbagai masalah di sekitar kita.” jelasnya.

    Lebih lanjut dikatakan, elemen penting dari social entrepreneur menurut portales ada empat hal.  Dalam social entrepreneur, harus ada social mission kemudian dibalut dengan systemic change. Agar social mission menciptakan systemic change harus digali dengan aktifitas sosial dan aktifitas ekonomi. Tujuan akhirnya adalah bagaimana menciptakan sebuah impact, sesuatu yang positif.

    Sedangkan atribut social entrepreneur meliputi social motivation, economic  intelligence, courage serta quick and alternative thinking.

    Seorang social entrepreneur adalah orang yang memiliki misi sosial, punya empati, punya interest sosial tertentu. Impact tidak akan terjadi hanya melakukan charity atau kegiatan amal, namun harus melakukan change, bagaimana orang hingga bisa berubah ke arah positif sesuai dengan diharapkannya.

    Selain itu, yang dimiliki social entrepreneur adalah economic intelligence yakni kemampuan melihat peluang bisnisnya.

    Dua karakter lain yang dimiliki social entrepreneur adalah courage, orang yang berani mengambil keputusan yang sulit. Keberanian seorang social entrepreneur bahkan harus melebihi  orang yang melakukan bisnis tertentu saja karena terkadang  nilai sosial yang diangkat itu menurut kita tidak ada nilai ekonominya, lebih banyak charitynya, tapi seorang  social entrepreneur harus berani mengambil itu dan harus kreatif mencari strategi ekonominya, punya nyali yang lebih kuat dari seorang entrepreneur biasa.

    Sedangkan atribut quick and alternative thinking, ketika kita berhadapan dengan komunitas, berhadapan dengan banyak perilaku orang, kita harus beradaptasi mencari strategi bagaimana bisa melakukan  perubahan.

    Sementara itu, Melia, Ph.D menyampaikan ada tiga hal yang diperlukan dalam hal pengembangan kompetensi kampus merdeka kewirausahaan berbasis social entrepreneur yakni perubahan mindset, ekosistem pendidikan sebagai institusi pengembangan kewirausahaan dan peran baru kampus sebagai ope.

    Selanjutnya, ekosistem pendidikan kewirausahaan dibangun dengan tiga peran yaitu stimulation, supporting dan sustainability. Stimulation meliputi pendidikan kewirausahaan, pelatihan motivasi, bantuan dan bimbingan dalam memilih produk dan menyiapkan laporan proyek, pengembangan produk dan proses, membuat forum wirausaha dan pengakuan keterampilam.

    Supporting berupa bantuan pendanaan, penyediaan tempat berkeja (working space), bimbingan,  mendapatkan bantuan hukum, dan menyediakan fasilitas umum lainnya. Sedangkan untuk sustainability berupa bantuan modernisasi, pembiayaan tambahan untuk pemanfaatan kapasitas, pemesanan produk, pengujian kualitas dan peningkatan layanan serta fasilitas umum berbasis kebutuhan. (Humas FEB)

  • Humanitarian Project Trains Students to Have Social Sensitivity

    Humanitarian Project Trains Students to Have Social Sensitivity

    The Humanitarian Project is a part of the Kampus Merdeka program. Students with a young spirit, scientific competencies, and interests can become the “foot soldiers” in humanitarian and other development projects both in Indonesia and abroad. A humanitarian project aims to prepare excellent students who uphold humanity in carrying out their duties based on religion, morals, and ethics. The project also trains students to have social sensitivity to investigate and explore existing problems at the same time providing solutions according to their respective interests and expertise.

    This message was conveyed by Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, member of the Dissemination Lecture Team for MBKM Dikti Program, in the Technical Assistance Program for the Kampus Merdeka-Humanity Project organized by the Management Study Program, Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Thursday, August 12, 2021.

    Furthermore, he explains that for the implementation of the program, the study programs or faculties can establish agreements with partners in the form of a Memorandum of Understanding (MoU/SPK). This collaboration can be established with domestic institutions such as with the Regional Government, PMI, BPBD, BNPB, sub-districts, religious organizations, and others, or foreign institutions such as UNESCO, UNICEF, WHO, UNOCHA, UNHCR, and so on.

    In order for the program to run well, program ambassadors are needed, namely lecturers from each study program who are responsible for providing assistance, supervision, assessment, and evaluation of humanitarian project activities carried out by students. Lecturers together with partner institutions compile a logbook form.

    In the next stage, study programs need to make technical guidelines for learning activities through humanitarian projects. It is necessary to form a strong task force to support the implementation, final evaluations, and equalization of student humanitarian project activities into relevant subjects. “Lecturers can help in identifying activities, finding program partners, assisting students until the final evaluation, equalizing humanitarian activities into relevant courses according to the faculty Semester Credit, and encourage sustainability of the program,” Wisnu said.

    All activities must be reported by the study program to the Faculty, then the Faculty to the University MBKM task force. Finally, the university should report the results of learning activities to the Directorate General of Higher Education through the Higher Education Database.

    For curriculum equalization in humanitarian projects, there are several methods available, including free forms, which are formulated in hard skills, problem-solving methods according to graduate learning outcomes, technical adjustments formulation, and synthesizing capabilities. Students’ soft skills achievement includes communication skills, cooperation, leadership, hard work, and creativity. Equalization can also create a structured form, structured according to the curriculum taken by students. Credits are stated in the form of equivalent courses. Actually, the easiest method to do this is to combine free form and structure form.

    Students can collect data when participating in a humanitarian project for their thesis, for example, preparing a budget and cost plan for a humanitarian project, managing logistics, networking with partners, and many others. In the event, which was attended mostly by lecturers, Dr. Wisnu also explained about scientific research grant schemes, including lecturers’ independent research grants, entrepreneurship research, rural research, and humanitarian activities grants.

    Humanitarian activity grants aim to produce designs or models related to humanitarian activities management that are useful in disaster relief handling, producing beneficial science and technology, equipment or policies according to the type of disaster. This grant is also useful in combining each lecturer’s expertise in research activities to learning programs in a humanitarian project and disseminating the humanitarian research results.

    The focus of scientific research for humanitarian activities includes scientific research on Covid 19 prevention, scientific research on technology and geological disaster management, scientific research on technology and hydrometeorological disaster management, scientific research on technology and disaster management of land/forest fires, scientific research on technology and environmental management, and scientific research on disaster-related policy or governance. (Humas FEB)

  • Proyek Kemanusiaan Latih Mahasiswa Memiliki Kepekaan Sosial

    Proyek Kemanusiaan Latih Mahasiswa Memiliki Kepekaan Sosial

    Proyek Kemanusiaan menjadi salah satu bagian dalam program kampus merdeka. Mahasiswa dengan jiwa muda, kompetensi ilmu, dan minatnya dapat menjadi “foot soldiers” dalam proyek-proyek kemanusiaan dan pembangunan lainnya baik di Indonesia maupun di luar negeri. Proyek ini bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa unggul yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan etika. Juga melatih mahasiswa memiliki kepekaan sosial untuk menggali dan menyelami permasalahan yang ada serta turut memberikan solusi sesuai dengan  minat dan keahliannya masing-masing.

    Hal itu disampaikan Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, Tim Sosialisasi Dosen Penggerak MBKM Dikti saat menjadi narasumber pada Technical Assistance Program Kampus Merdeka-Proyek Kemanusiaan yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis 12 Agustus 2021.

    Selanjutnya dikatakan, untuk mekanismenya, prodi atau fakultas membuat kesepakatan dengan mitra dalam bentuk dokumen kerja sama (MoU/SPK), baik dalam negeri seperti dengan Pemda, PMI, BPBD, BNPB, kelurahan kecamatan, organisasi keagamanan  dan lain-lain maupun dengan  lembaga luar negeri  yakni UNESCO, UNICEF, WHO, UNOCHA, UNHCR dan sebagainya .

    Agar program berjalan dengan baik, diperlukan duta kampus merdeka yaitu dosen dari masing-masing prodi yang memiliki tugas memberikan pendampingan, pengawasan, penilaian dan evaluasi terhadap kegiatan proyek kemanusiaan yang dilakukan mahasiswa. Dosen bersama lembaga mitra menyusun form logbook.

    Ditahap berikutnya, prodi perlu membuat pedoman teknis kegiatan pembelajaran melalui proyek kemanusiaan. Perlu dibentuk gugus tugas yang kuat agar semua berjalan dengan baik dan juga melakukan evaluasi akhir serta penyetaraan kegiatan proyek kemanusiaan  mahasiswa menjadi mata kuliah yang relevan.

    Dr. Wisnu bersama dengan Kaprodi S1 Mnj dan Moderator

    “Dosen dapat membantu mengidentifikasi kegiatan, mencarikan mitranya sampai evaluasi akhir, menyetarakan kegiatan menjadi matakuliah yang relevan SKSnya  dan mendorong program ini berkesinambungan” ungkapnya.

    Semua kegiatan harus dilaporkan prodi ke fakultas, lalu fakultas ke gugus tugas MBKM Universitas. Dan dari universitas melaporkan hasil kegiatan belajar ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi.

    Untuk penyetaraan kurikulum dalam proyek kemanusiaan ada beberapa tipe,  ada free form,  dirumuskan dalam bentuk hard skill, merumuskan  penyelesaian permasalahan sesuai capaian pembelajaran lulusan, merumuskan penyesaian teknisnya,  dan kemampuan untuk sintesa. Sedangkan softskillnya, kemampuan berkomunikasi, kerjasama, kepemimpinan, kerja keras  dan kreatiftitasnya. Penyetaraan bisa juga membuat stucture form, distrukturkan  sesuai dengan kurikulum yang ditempuh mahasiswa. SKS dinyatakan dalam bentuk kesetaraan matakuliah yang disetarakan. Sebetulnya yang paling mudah adalah penggabungan antara  free form dan structure form.

    Mahasiswa dapat mengambil data pada saat mengikuti proyek kemanusiaan untuk dijadikan skripsi, misalnya membuat suatu rancangan anggaran dan biaya dalam rangka perolehan kemanusiaan, pengelolaan logistik,  networking dengan mitra-mitranya dan lain sebagainya.

    Di kegiatan yang sebagian besar pesertanya adalah dosen, Dr. Wisnu juga menjelaskan tentang  skema hibah riset keilmuan meliputi hibah riset mandiri dosen, hibah riset kewirausahaan, hibah riset desa dan hibah kegiatan kemanusiaan.

    Hibah kegiatan kemanusiaan bertujuan untuk menghasilkan rancangan atau model terkait penanganan kegiatan kemanusiaan yang bermanfaat dalam penanganan masalah kebencanaan, menghasilkan iptek, peralatan atau kebijakan yang berguna sesuai dengan jenis kebencanaan dan keahlian dosen masing-masing, menggabungkan kegiatan riset dengan program pembelajaran dalam kegiatan kemanusiaan dan mendesiminasikan hasil-hasil kegiatan riset kemanusiaan.

    Peserta Technical Assistance

    Fokus riset keilmuan untuk kegiatan kemanusiaan  diantaranya: riset keilmuan penanggulangan Covid 19, riset keilmuan teknologi dan manajemen bencana geologi, riset keilmuan teknologi dan manajemen bencana hidrometereologi,  riset      keilmuan   teknologi         dan manajemen bencana kebakaran lahan/hutan, riset keilmuan teknologi dan manajemen lingkungan, serta riset keilmuan kebijakan atau tatakelola terkait dengan manajemen penanggulangan bencana. (Humas  FEB)

  • Management Study Program FEB UNS Invites Dr. Alexander Bauer in Technical Assistance: Project-Based Learning Method

    Management Study Program FEB UNS Invites Dr. Alexander Bauer in Technical Assistance: Project-Based Learning Method

    The Management Study Program, Faculty of Economics and Business, Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Surakarta invited another international academician in a series of activities for the 2021 Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), Monday (16/8/2021). The event, which was attended by FEB UNS faculty members, invited Dr. Alexander Christian Bauer from the Wittenborg University of Applied Science.

    Starting the presentation of the material, Dr. Bauer explained the definition of Project-Based Learning (PBL), the forms of PBL implementation in the teaching and learning process at universities, and examples of PBL that he has applied. In general, Dr. Bauer explained that PBL is a form of learning method in which students are encouraged to identify problems that occur in the real world and find solutions to these problems.

    Through this method, students are required to conduct in-depth research to be able to answer complex questions and collaborate in teams to solve problems and find solutions.

    The PBL method no longer relies on lectures delivered by lecturers but encourages students to think critically through stories or problems related to the theories that students learn. In addition, the advantages of PBL include providing opportunities for students to use technology in the process of completing projects, introducing lifelong learning techniques to students, introducing students to problems that occur in the real world, developing skills, creativity, and imagination of students, and motivate students to be more involved in the active learning process.

    “Student projects help them (the students) to review the lecture material they have received and prepare them for the next material,” said Dr. Bauer.

    The material is followed by examples of project-based learning applied by Dr. Bauer, which can generally be divided into two criteria. An integrated project (implemented within the course) and an external project which does not include in a course. Each project implemented begins with the delivery of general project information related to business conditions and problems that arise, followed by project research questions, where the level of difficulty is adapted to the semester. To answer these questions, students must conduct research on the problems that occur.

    Students are divided into small groups that include several special roles such as team leader, research department, secretary, and finance department. The team that has been formed then carries out a series of projects assisted by the lecturers of related subjects to provide suggestions and input. At the end of the session, the student team is required to make a final report and present their work.

    The event, which was attended by more than 30 participants, went interactively with a question and answer session between the lecturers of the Management Study Program FEB UNS and Dr. Bauer.

    Reporter: Aulia
    Editor: Humas FEB

  • Prodi S1 Manajemen Undang Dr. Alexander Bauer Dalam Technical Assistance: Project-Based Learning Method

    Prodi S1 Manajemen Undang Dr. Alexander Bauer Dalam Technical Assistance: Project-Based Learning Method

    Program Studi (Prodi) S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Surakarta kembali menghadirkan akademisi internasional dalam rangkaian kegiatan Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) 2021, Senin (16/8/2021).

    Acara yang di ikuti kalangan akademisi itu mengundang Dr. Alexander Christian Bauer dari Wittenborg University of Applied Science.

    Mengawali paparan materi, Dr. Bauer menjelaskan definisi dari pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning (PBL), bentuk-bentuk penerapan PBL dalam proses belajar-mengajar di universitas, dan contoh-contoh PBL yang pernah beliau terapkan.

    Secara umum, Dr. Bauer menjelaskan bahwa PBL adalah bentuk metode pembelajaran dimana mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi dunia riil dan menemukan solusi untuk permasalahan tersebut.

    Melalui metode tersebut mahasiswa diharuskan untuk melakukan riset mendalam untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kompleks dan berkolaborasi dalam tim untuk menyelesaikan masalah serta menemukan solusi.

    Metode PBL tidak lagi bergantung pada kuliah yang disampaikan oleh dosen, melainkan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis melalui cerita atau permasalahan yang berhubungan dengan teori yang dipelajari mahasiswa. Selain itu kelebihan dari PBL antara lain adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menggunakan teknologi dalam proses penyelesaikan proyek, mengenalkan teknis ‘lifelong-learning’ kepada mahasiswa, mengenalkan mahasiswa pada permasalahan yang terjadi di dunia nyata, mengembangkan skill, kreatifitas, and imaginasi dari mahasiswa, serta memotivasi mahasiswa untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran aktif.

    “Proyek mahasiswa membantu mereka untuk melakukan review terhadap materi kuliah yang telah mereka terima serta mempersiapkan mereka untuk materi selanjutnya,” ungkap Dr. Bauer.

    Materi dilanjutkan dengan contoh-contoh project based learning yang diterapkan oleh Dr. Bauer, yang secara umum dapat dibagi menjadi dua kriteria. Proyek yang terintegrasi dalam mata kuliah dan proyek di luar mata kuliah. Setiap proyek yang dilaksanaan diawali dengan penyampaian informasi umum proyek yang berkaitan dengan kondisi bisnis dan permasalahan yang timbul, diikuti dengan pertanyaan penelitian proyek yang memiliki tingkat kesulitan sesuai dengan semester mahasiswa. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, mahasiswa harus melakukan riset/penelitian terhadap permasalahan yang terjadi.

    Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil yang mencakup beberapa peran khusus seperti ketua tim, bagian penelitian, sekretaris, dan bagian keuangan. Tim yang telah terbentuk kemudian melaksanakan rangkaian proyek dengan didampingi oleh dosen mata kuliah terkait untuk memberikan saran dan masukan. Di akhir sesi, tim mahasiswa diharuskan membuat laporan akhir dan melakukan presentasi dari hasil kerja mahasiswa.

    Acara yang dihadiri oleh lebih dari 30 peserta itu berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab antara dosen Prodi S1 Manajemen FEB UNS dengan Dr. Bauer.

    Reporter: Aulia
    Editor: Humas

  • Sambut Maba, Dekan FEB Ajak Mahasiswa Torehkan Prestasi di Tingkat Nasional Maupun Internasional

    Sambut Maba, Dekan FEB Ajak Mahasiswa Torehkan Prestasi di Tingkat Nasional Maupun Internasional

    Lebih dari 700 mahasiswa baru Program Studi (Prodi) S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang digelar secara daring, Senin, 16 Agustus 2021.

    Dekan FEB, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons). Ph.D A,k. mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa baru dan secara simbolis menyerahkan Kartu Rencana Studi kepada tiga mahasiswa perwakilan prodi, Widya Zhafira dari S-1 Akuntansi, Devina Alfa Levia Rizky Alharis dari S-1 Manajemen dan Perdana Gilang Yudha Firmansyah dari S-1 Ekonomi Pembangunan.

    “Segenap pimpinan FEB UNS mengucapkan selamat kepada mahasiswa baru. Perasaan senang dan bangga karena Anda semua telah bergabung menjadi mahasiswa kami. Sekali lagi, selamat, Anda sudah menjadi warga FEB UNS, mohon untuk selalu semangat belajar dan belajar, perkuat jati diri Anda di kawah candradimuka FEB, tempat menggembleng agar kalian semua menjadi sukses”  kata Dekan menyemangati.

    Ungkapan syukur harus senantiasa terpanjatkan karena mahasiswa telah diterima di FEB UNS, fakultas yang membanggakan, kampus yang mempunyai reputasi, nasional maupun internasional.

    Seluruh prodi di FEB UNS telah terakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Sertifikasi akreditasi internasional pun telah diraih yakni  EPAS, AUN QA dan ABEST21. Sejak 6 Oktober 2020 lalu, UNS menyandang status sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Selain itu, UNS masuk klaster satu atau klaster utama dari Perguruan Tinggi (PT) terbaik di Indonesia.

    Peserta mengikuti jalannya acara PKKMB melalui daring

    Dekan juga berpesan agar dalam menempuh perkuliahan di FEB UNS, mahasiswa baru harus membaur dengan semua komponen yang telah lebih dulu melakukan aktifitas di kampus dan juga berbaur dengan para alumni yang sering datang ke FEB.

    Alumni-alumni FEB banyak yang sukses dan menduduki jabatan penting di pemerintahan  maupun swasta. Diantaranya, Wimboh Santoso yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan RI, Doni P Joewono, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Didik Hartantyo, Dirut PT KAI, dan beberapa alumni lain yang sukses disektor swasta diantaranya Harijanto dan Nur Harjanto serta beberapa alumni lainnya.

    Di akhir sambutannya, Dekan berharap agar mahasiswa bisa menorehkan prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional dengan tetap mengangkat nilai-nilai budaya bangsa. Kita harus memiliki prinsip hidup ‘urip sing urup memayu hayuning bawana”. Ini adalah salah satu pedoman hidup dari para leluhur. Kehidupan kita harus memberikan manfaat untuk orang lain maupun untuk alam semesta.

    Kegiatan PKKMB yang digelar sejak pagi hingga menjelang sore tersebut diisi juga dengan paparan dari para Wakil Dekan, Pengelola Laboratorium dan Unit Pendukung serta dari Pengelola dan wakil dosen masing-masing program studi.

    Para alumni yang telah berjaya dan berprestasi pun dihadirkan untuk memotivasi mahasiswa baru, diantaranya Doni Primanto Joewono, SE, M.Si, Ubaidi Socheh Hamidi, SE, MM, Endang Kurniawan, SE, Ak., dan Dr. Nur Harjanto, MM.

    Salah satu alumni yang saat  ini menduduki jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doni Primanto, dalam arahan dan motivasinya menyampaikan empat hal penting untuk menjadi pegangan mahasiswa agar sukses dalam menempuh studi dan berkarir yakni, bersyukur, mencari role model, punya passion dan harus adaptif.

    Keberhasilan mahasiswa yang telah diraih saat ini adalah karena rido  Allah dan juga kedua orang tua. Rasa syukur harus senantiasa terpanjatkan karena bisa bergabung di kampus ini. Bersyukur karena saat ini prestasi FEB UNS sangat cepat berkembang. Buktinya banyak, seluruh prodi di FEB telah terakreditasi A dan juga telah tersertifikasi internasional.

    Selanjutnya disampaikan, mahasiswa juga harus punya role model yakni suatu cerminan untuk mendorong keberhasilan studi dan karir ke depan.

    “Role model memberikan  motivasi dan semangat dalam belajar untuk meraih keberhasilan. Dengan memiliki role model, memungkinkan kita untuk mengeksplor diri, kita punya mimpi, mulai hari ini kita mau jadi apa, apakah akan melanjutkan kuliah atau menjadi ahli ekonomi atau menjadi seorang pengusaha, siapa yang akan menjadi contoh kita” tegasnya penuh semangat.

    Doni P Joewono saat memberikan motivasi kepada mahasiswa baru

    Mahasiswa juga harus punya passion, harus punya minat. Passion akan mendorong menemukan role model, mendorong untuk aktif berorganisasi sebagai salah satu cara melakukan pengkayaan, meluaskan pengetahuan dan pengalaman.

    Dan yang keempat, mahasiswa harus adaptif. Orang yang berhasil adalah orang yang adaptif, bukan orang pintar dan yang cerdas. Berapa banyak orang yang dalam prestasi kuliahnya biasa saja, namun saat kerja sukses karena didukung dengan kemampuannya dalam beradaptasi. (Humas FEB)