Sejumlah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti Working Paper Forum, forum akademik yang membahas proses penulisan hingga publikasi artikel ilmiah bereputasi, Rabu, 23 April 2025 di Ruang Koordinasi FEB UNS.
Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P4M) kali ini mengangkat topik Optimalisasi Publikasi di Jurnal Bereputasi: Novelty, dengan narasumber Ibrahim Fatwa Wijaya, S.E., M.Sc., Ph.D., Peneliti Kebanggaan FEB UNS, H-index 4 – Research Group Auditing & Sistem Informasi.
Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian memberikan apresiasi kepada P4M yang sudah mengoordinir acara ini. Poinnya adalah kita menumbuhkan ekosistem research supaya Bapak lbu Dosen dapat berbagi juga kepada yang lainnya.

“Dengan kegiatan ini, kita ingin menularkan ilmu dari teman-teman yang menjadi narasumber kepada yang lainnya, kami mencoba atraktif, ke depan jika berkenan teman-teman lain dapat mengisi. Dan jika punya tamu dari luar atau universitas lain yang kerja bareng di research group jadwalnya kita kondisikan” tuturnya.
Ada 4 hal yang didiskusikan oleh narasumber dalam forum itu, yakni apa itu desk rejection, tips dari para editor jurnal, contoh penerapan tips dari editor, novelty/kebaruan dan kontribusi.

Ibrahim, Ph.D mengatakan sengaja memilih tema novelty, karena novelty menjadi masalah utama dalam research.
Kenapa sebuah manuscript yang kita submit di-reject? Ini menjadi pertanyaan yang sangat penting karena haril riset menunjukkan ternyata 51% paper itu ditolak masuk jurnal karena tidak ada novelty-nya, selanjutnya 17% karena diluar scope jurnal, 10 % karena desain metodologi lemah, 5,3% karena bahasa dan story masih lemah, dan lainnya seperti: wrong conclusion, error in data analysis.
Dia juga menjelaskan tips dari para editor jurnal, pentingnya menulis novelty sejak awal.

“Jika paper tidak ada novelty akan ditolak, berarti ketika kita menulis sebuah paper, kita harus tahu betul kebaruan kita. Sesudah tahu bahwa paper kita ada novelty, maka kita harus menjual novelty itu sejak cover letter. Strategi yang oke menuliskan novelty kita sejak dicover letter, setelah itu kita tuliskan lagi di abstrak, kemudian kita tuliskan di introduction, sesibuk-sibuknya editor paling tidak akan baca cover letter dan abstrak. Ingat 51% paper ditolak karena tidak novelty, maka sejak awal sudah dituliskan” terangnya.
Selanjutnya, Ibrahim,Ph.D memaparkan bagaimana penerapan tips dari para jurnal editor tersebut dan seperti apa novelty/kebaruan serta kontribusi research.
Dalam forum itu, peserta berkesempatan aktif bertanya kepada narasumber.
Kegiatan Working Paper Forum ini mendukung SDG 4: Quality Education melalui peningkatan kapasitas dosen dalam riset dan publikasi ilmiah. Selain itu, forum ini turut memperkuat SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure dengan mendorong lahirnya penelitian yang lebih inovatif dan berkualitas sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi berkelanjutan.
Link Materi: Materi Working Paper Forum FEB 23April2025.pdf







en di FEB sering melakukan kegiatan penelitian, mengeksplor hal yang baru kemudian dikembangkan dalam bahan pembelajaran. Mahasiswa S-3 bisa kerja bareng dengan Dosen dalam penelitiannya.
During the session, artisans receive direct guidance from UNS experts on the use and maintenance of the tools involved. “By using the drying machine, our production—especially at the drying stage—becomes faster, more consistent, and no longer dependent on sunlight,” says Samuji, one of the participating batik artisans.


In his remarks, UNS Secretary, Prof. Dr. Agus Riwanto, S.H., S.Ag., M.Ag., M.H., stated that with the Signing of the Integrity Pact and the Implementation of Risk Management, it is hoped that by this year UNS will already have formal Risk Management Procedures in place—both at the faculty level and across central administrative units, bodies, and university institutions. The aim is to eventually establish university-wide Risk Management Procedures.
He further explained that Risk Management is closely linked with the Integrity Zone. The ultimate goals of both Risk Management and the Integrity Zone are to ensure high-quality public services within the university, with its constituents being the students and all associated stakeholders.
“That is why the Minister of Education is currently promoting the idea that Good Corporate Governance should also be reflected as Good University Governance. We cannot claim strong performance indicators while having poor governance structures. In fact, the function of Risk Management and the Integrity Zone is to organize and improve governance—not just for accreditation or rankings. For example, if bureaucracy remains complex, signatures take too long, or graduation processing is lengthy—those are the kinds of inefficiencies we aim to eliminate. The goal is to ensure excellent performance indicators, rankings, and governance,” he explained.
He added that UNS will also initiate certification for all administrative personnel within the university. The hope is that anyone holding a leadership position at UNS will be certified in Risk Management, ensuring that their leadership qualifications are not in question—because they understand whom they serve and how to make strategic decisions.








The session featured several speakers including the Vice Dean for Academic and Research Affairs, Prof. Tri Mulyaningsih, Ph.D.; Head of the Management Study Program, Dr. Sinto Sunaryo; Head of the Development Economics Study Program, Muhammad Yusuf Indra Purnama, Ph.D.; and a faculty representative from the Accounting Study Program, Nur Chayati, S.E., M.Sc. In addition, three international class students—Muhammad Haidar Ashif, Muhammad Hisyam Asadul Haq, and Nurul Yantika—shared their perspectives and experiences.
The discussion also highlighted the distinctions between regular and international class programs, particularly in terms of student mindset and skills. International class students tend to develop stronger soft skills such as adaptability, confidence, independence, and cross-cultural communication, shaped through their learning experiences abroad.


