FEB

Kategori: fakultas

  • Tim Pengabdian Masyarakat FEB UNS Latih Dalang se-Solo Raya

    Tim Pengabdian Masyarakat FEB UNS Latih Dalang se-Solo Raya

    Sejumlah dalang senior dan yunior se-Solo Raya ikuti Pelatihan Costing dan Manajemen Keuangan yang diselenggarakan oleh Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai oleh Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com.(Hons)., Ph.D., Ak dengan anggota dosen-dosen dan mahasiswa PDIE FEB UNS, Jumat 22 Oktober 2021 di Padepokan Aji Tirto Wening, Boyolali.

    Kegiatan dihadiri oleh beberapa dalang senior  diantaranya Ki Tengkleng, Ki Warseno Slenk serta dalang-dalang junior seperti  Ki Amar Pradopo, Ki galang, dan lain sebagainya. Para dalang dilatih bagaimana menghitung biaya yang timbul dari pertunjukan wayang dan mengelola keuangan yang diperoleh dari tanggapan pertunjukan wayang.

    Prof. Djoko Suhardjanto dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini sebagai salah satu bentuk pengabdian FEB UNS  kepada masyarakat.

    “Kampus harus bisa membantu apa yang menjadi keluhan masyarakat sekitar. Terlebih di masa pandemi ini, para seniman sangat terdampak, khususnya dalang yang hampir selama 2 tahun ini agak sulit mendapatkan tanggapan” jelasnya.

    Dikatakannya, untuk menyiasati kondisi agar dapat bertahan hidup, tak sedikit para dalang dan seluruh kru yang selama ini mengandalkan hidup dari pertunjukan seni tradisi tersebut harus banting setir ke profesi lain. Mereka terpaksa menjalani pekerjaan yang tidak sesuai bidangnya lagi. Selama masa pandemi yang hampir dua tahun ini banyak para dalang terpaksa harus menjual apa yang mereka miliki untuk bertahan hidup.

    Hal ini diakui oleh beberapa dalang, sebelum masa pandemi, mereka tidak melakukan pengelolaan keuangan dengan baik, ada yang setiap kali tanggapan, penghasilannya dihabiskan untuk konsumtif dan kebutuhan sehari-hari yang sifatnya jangka pendek, mereka berfikir uang habis akan ada tanggapan lagi. Padahal kebutuhan jangka panjang perlu dipersiapkan sedini mungkin, dan masa depan yang tidak jelas.

    Seniman dalang adalah sebuah profesi yang tidak ada jaminan gaji, jika tidak ada tanggapan tidak dapat penghasilan. Pengalaman pandemi seharusnya menjadi pengalaman berharga untuk menata keuangan di masa depan.

    Anggota Abdimas, Dr. Wahyu Widarjo, S.E., M.Si. menyampaikan, tuntutan bagi para seniman dalang kini tak sebatas hanya mencipta karya seni. Mereka juga dituntut bisa mengelola keuangan dengan baik serta memasarkan karya seni yang mereka ciptakan.

     “Tujuan pelatihan ini agar seniman dalang mampu membuat perencanaan keuangan jika ada tanggapan dari individu dan instansi juga bilamana mendapatkan dana dari sponsor atau bantuan dana hibah dari pemerintah. Sementara kemampuan marketing dibutuhkan agar mereka tidak hanya menunggu tanggapan atau job, tapi bisa menjual karyanya.” ungkapnya.

    Kegiatan ini akan ditindaklanjuti oleh Tim Abdimas FEB UNS yakni dengan pelatihan marketing untuk dalang.  (Humas FEB)

  • Prodi S1 Manajemen Adakan Kuliah Tamu Financial Management: Transformation in Banking

    Prodi S1 Manajemen Adakan Kuliah Tamu Financial Management: Transformation in Banking

    Program Studi S-1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, mengadakan seri kedua dari Kuliah Tamu dalam Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) 2021 berjudul “Financial Management: Transformation in Banking” pada Selasa (19/10/2021).

    Kuliah tamu dengan pembicara utama Prof. Franco Fiordelisi tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Cloud Meeting dan dihadiri oleh sekitar 70 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan Dosen dari FEB UNS.

    Mengawali paparan materi mengenai Risiko Likuiditas di sektor perbankan, Prof. Fiordelisi menyampaikan harapan untuk dapat berkunjung secara langsung ke UNS.

    “Saya berharap untuk dapat berkunjung secara langsung karena universitas anda memiliki cerita dan fasilitas yang menarik,” ungkap Prof. Fiordelisi.

    Sebagai bagian dari seri kuliah tamu di bidang manajemen keuangan, materi yang disampaikan oleh Prof. Fiordelisi dalam kuliah tamu kali ini bertujuan untuk memahami bank mengelola sumber risiko likuiditas.

    Materi dibuka dengan pengertian dari likuiditas dari tiga jenis likuiditas yaitu sekuritas, pasar, dan keuangan. Sebuah instrumen sekuritas dianggap likuid atau lancar jika instrumen tersebut muda diperjualbelikan di pasar modal.

    Disisi lain, sebuah market (pasar saham/modal) dianggap likuid ketika terdapat tingkat permintaan dan penawaran yang baik atau seimbang, sementara financial liquidity (likuiditas keuangan) adalah kondisi dimana sebuah instrumen keuangan dapat digunakan untuk mendapatkan pendanaan atau untuk melunasi kewajiban. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara umum likuiditas dapat diartikan sebagai jumlah aset yang dapat segera digunakan dalam transaksi.

    Dalam kaitannya dengan institusi perbankan, Prof. Fiordelisi berpendapat bahwa bank adalah satu-satunya institusi yang dihadapkan pada tekanan likuiditas terbesar akibat adanya kewajiban untuk menjaga kepercayaan nasabah.

    Menurutnya, bank harus bisa mengatur likuiditas dengan baik untuk memastikan bahwa nasabah dapat menarik dana untuk kebutuhan sehari-hari.

    Risiko likuiditas dapat terjadi karena dua jenis keadaan yaitu akibat dari kejadian spesifik ataupun karena adanya kondisi sistemik. Kejadian spesifik yang dapat menjadi risiko likuiditas biasanya terjadi karena kondisi internal dari bank, misal karena adanya debitur yang gagal bayar sehingga mengganggu tingkat likuiditas di bank tersebut.

    Kondisi ini menurut Prof. Fiordelisi membutuhkan perhatian lebih dari manajer bank. Disisi lain, risiko likuiditas yang disebabkan oleh kondisi sistemik biasa terjadi pada institusi perbankan lain akan tetapi memiliki dampak sistemik pada sistem keuangan di sebuah negara.

    “Meskipun kondisi sistemik ini sebenarnya tidak melibatkan suatu bank tertentu, namun kondisi ini bisa saja mempengaruhi kepercayaan nasabah pada sektor perbankan secara keseluruhan. Jadi, manajer tetap harus memperhatikan kondisi sistemik ini dalam mengambil keputusan,” jelas Prof. Fiordelisi.

    Topik bahasan berlanjut ke jenis-jenis pendekatan dalam manajemen risiko likuiditas yang terdiri dari stock-based approach, cash flow, dan hybrid. Materi ditutup dengan penjelasan berbagai peraturan di bidang perbankan yang secara global diatur dalam oleh Basel Committee on Banking Supervision dalam Basel III.

    Reporter         : Aulia

    Editor              : Humas

  • Hadirkan Dua Narasumber, Bidang Akrima FEB UNS Optimalkan Peran Unit Kegiatan Kemahasiswaan

    Hadirkan Dua Narasumber, Bidang Akrima FEB UNS Optimalkan Peran Unit Kegiatan Kemahasiswaan

    Bidang Akademik, Riset dan Kemahasiswaan (Akrima) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan yang bertema Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi Bidang Kemahasiswaan melalui Optimalisasi Peran Unit Kegiatan Kemahasiswaaan (UKM) dalam Pembelajaran MBKM, Jumat 22 Oktober 2021 di Hotel Sahid Jaya, Solo.

    Kegiatan yang diikuti oleh pengurus Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) dan Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM), Pembimbing ORMAWA serta Tenaga Kependidikan sub kemahasiswaan itu menghadirkan narasumber Susanto, S.Si., DEA., Direktur Direktorat Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS dan Dr. Alim Setiawan, S. STP, M.Si, Direktur Pembinaan Kemahasiswaan IPB.

    Di awal paparannya, Dr. Sutanto memilahkan mahasiswa UNS menjadi dua bagian, ada mahasiswa yang belum mengikuti Ormawa atau UKM dan ada mahasiswa yang sudah mengikuti ORMAWA atau UKM.

    “Dari data yang saya ambil dari SIPSmart dan SIMKATMAWA, mahasiswa yang punya prestasi, menang dalam kejuaraan,  aktif beraktifitas,  baik ikut konferen dan kegiatan lainnya adalah mahasiswa yang aktif di kegiatan ORMAWA atau UKM. Saya sangat menganjurkan agar mahasiswa bisa masuk ke ORMAWA atau UKM yang sudah ada ataupun mengajukan unit kegiatan yang baru, kami akan siap menfasilitasi apa yang dibutuhkan” tegasnya.

    Selain mahasiswa bisa masuk ke dalam organisasi kemahasiswaan, mahasiswa juga bisa menggali kemauan, menciptakan  ide-ide lainnya.

    “Di UNS masih kurang banyak komunitas yang bergerak dibidang IT padahal mahasiswa sangat suka dengan hal-hal yang serba  digital. Bentuklah komunitas IT dan komunitas-komunitas lainnya, ajukan ke kami” katanya.

    Selanjutnya, terkait dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Dr. Sutanto mengklusterkan menjadi 2 yaitu Penalaran dan Minat yang masing-masing sudah ada PIC nya. Penalaran meliputi riset, magang profesional, pertukaran mahasiswa, asistensi mengajar dan KKN Tematik. Sedangkan Minat meliputi kewirausahaan, project kemanusiaan, project independent dan bela negara.

    Dr. Sutanto mengajak mahasiswa agar ketika berkegiatan masuklah ke salah satu program MBKM ini, yang di UNS ada 9, ditambah dengan bela negara.

    “Jadi, Merdeka Belajar itu, kira-kira Anda minatnya dimana? Apakah mau di asistensi mengajar atau ikut kegiatan di desa atau yang lainnya. Pak Nadiem itu simpel, setelah kalian lulus, kalian tidak cukup hanya mengandalkan kebisaan di prodi untuk membuat perusahaan atau bekerja dengan layak. Kalian butuh multi disiplin ilmu, karena dunia sudah berubah.  Maka mulailah sekarang jalan-jalan ke sana. Kesembilan “empang” (baca: program) yang disediakan UNS. Mulailah dari sekarang, petakan kebisaan Anda, keinginan Anda  untuk bisa masuk kesini semua” ungkapnya.

    Dr. Sutanto memberikan contoh, bagaimana aktifitas MBKM yang bisa dilakukan oleh mahasiswa. Misalnya membuat  Sekolah Generasi Indonesia, relokasi daerah yang rawan banjir seperti yang dilakukan oleh mahasiswa FEB UNS, membantu pengentasan gizi buruk seperti yang dilakukan oleh komunitas mahasiswa UNS di Brebes, membantu pengairan lahan pertanian masyarakat, membantu petani memberantas hama dan banyak kegiatan lainnya yang benar-benar riil bisa membantu masyarakat dan juga bisa direkognisi.

    Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Alim Setiawan, S. STP, M.Si Direktur Pembinaan Kemahasiswaan IPB memaparkan tentang inovasi kurikulum, kiat dan strategi pencapaian IKU di Institut Pertanian Bogor (IPB). (Humas FEB)

  • Prodi S1 Manajemen Hadirkan Prof. Franco Fiordelisi dalam Financial Management, Recent Issues in Finance

    Prodi S1 Manajemen Hadirkan Prof. Franco Fiordelisi dalam Financial Management, Recent Issues in Finance

    Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali mengundang Profesor ternama dalam rangkaian kegiatan Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) 2021.

    Kali ini,  Prodi Manajemen mengundang Prof. Franco Fiordelisi yang merupakan profesor di bidang keuangan dan perbankan dari University or Rome III, Italia, dan University of Essex, Inggris. Di bidang professional, Prof. Fiordelisi juga menjabat sebagai President of the Financial Intermediation Network of European Studies (FINEST).

    Pada gelaran kuliah tamu yang diadakan secara daring melalui Zoom Cloud Meeting, Selasa (12/10/2021), Prof. Fiordelisi menyampaikan materi terkait manajemen keuangan utamanya dalam hal manajemen risiko.

    Di awal paparan, Prof. Fiordelisi menjelaskan mengenai pengertian manajemen risiko di sektor perbankan yang mencakup dua jenis risiko yaitu risiko suku bunga (interest risk) dan risiko kredit (credit risk).

    Dijelaskan juga mengenai perbedaan antara risiko dan ketidakpastian (uncertainty) yang seringkali dianggap memiliki makna yang sama. Dalam hal ini Prof. Fiordelisi menyatakan bahwa terdapat sedikit perbedaan antara risiko dan ketidakpastian.

    “Risiko adalah kondisi masa depan yang kemungkinan terjadinya dapat diukur, sementara dalam uncertainty (ketidakpastian) kemungkinan ini bersifat tidak terbatas atau tidak dapat diukur,” ungkap Prof. Fiordelisi .

    Penjelasan materi dilanjutkan dengan definisi dari manajemen risiko yang secara umum dapat diartikan sebagai proses logis yang dilakukan untuk mengurangi kemungkinan kerugian.

    Disela-sela paparan materinya, Prof. Fiordelisi memberikan pertanyaan pada peserta mahasiswa terkait risiko terbesar yang dihadapi oleh sektor perbankan saat ini. Sesi tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk dapat berinteraksi secara langsung dengan Prof. Fiordelisi.

    Selanjutnya Prof. Fiordelisi menjelaskan mengenai tahapan/langkah-langkah dalam manajemen risiko dan risiko suku bunga. “Risiko suku bunga terjadi akibat adanya ketidaksesuaian nilai antara aset (maturity) dan laba,” jelas Prof. Fiordelisi.

    Terkait risiko suku bunga, terdapat dua efek dari perubahan tingkat suku bunga, yaitu perubahan nilai pasar dari aset/utang yang merupakan efek langsung dari perubahan tingkat suku bunga, dan perubahan kuantitas aset finansial/utang, yang merupakan efek tidak langsung dari perubahan tingkat suku bunga.

    Reporter: Aulia

    Editor: Humas

  • Sejumlah Mahasiswa Ikuti Pelatihan Startup Kewirausahaan

    Sejumlah Mahasiswa Ikuti Pelatihan Startup Kewirausahaan

    Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) yang terbagi dalam 2 kelas mengikuti Pelatihan Startup Kewirausahaan secara hybrid, luring di kelas 2202 dan 2203 serta daring melalui zoom meeting, Kamis 14/10/2021.

    Prof. Asri Laksmi Riani, M,Si, Ketua Laboratorium Kewirausahaan (Lab KWU)  dalam laporannya menyampaikan, kegiatan pelatihan ini  merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Lab KWU.

    “Pelatihan KWU akan berlangsung hingga pertengahan bulan November 2021. Aktifitas dimulai dengan perekrutan pelatihan KWU dari dosen FEB per program  studi, dilanjutkan kegiatan Trianing Of Trainer (TOT) dengan mengundang beberapa narasumber, penyusunan modul, pelaksanaan pelatihan, penyusunan proposal bisnis,  presentasi, pendampingan dan evaluasi”, ungkap Prof. Asri.

    Dikatakannya, dalam pelaksanaan pelatihan, ada 18 instruktur dari dosen  FEB UNS, 8 orang Tenaga Kependidikan dan mahasiswa yang berjumlah 29 orang. Dari 29 mahasiswa yang mengikuti pelatihan, 24 mahasiswa mengikuti secara luring dan 5 lainnya mengikuti secara daring. Mahasiswa terbagi dalam 6 kelompok dengan 3 bidang usaha yaitu fashion, kuliner dan kriya.

    Target kegiatan ini adalah pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) UNS yaitu terdapatnya beberapa mahasiswa yang melakukan rintisan usaha baru dan kegiatan ini merupakan pilot project bagi kegiatan yang akan datang.

    Senada dengan Prof. Asri, Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan FEB UNS, Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si. dalam sambutannya menyampaikan, perguruan tinggi mendapatkan 8 tugas untuk pencapaian IKU, diantaranya adalah lulusan yang mendapatkan pekerjaan yang layak atau berwirausaha atau melanjutkan studi. Dalam Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), salah satu programnya adalah KWU agar mahasiswa menjadi lulusan yang menciptakan lapangan kerja.

    Prof. Izza berharap, pelatihan yang difasilitasi oleh FEB UNS memberikan manfaat kepada mahasiswa,  membawa nilai plus, bukan hanya Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang akan diberikan kepada seluruh peserta tapi nilai plus yang berkaitan dengan keilmuan, bagaimana strategi atau trik dalam berwirausaha. Untuk mengembangkan KWU, mahasiswa perlu berkolaborasi dengan fakultas-fakultas lain agar mendapatkan hasil yang  lebih baik.

    Sementara itu, Drs. Rohman Agus Pratomo, Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaaan UNS mengapresiasi pelatihan KWU yang dilaksanakan FEB UNS secara hybrid. Dengan pelatihan KWU ini, mahasiswa diharapkan bisa berkompetisi di tingkat universitas dan juga di tingkat nasional.

    “Aktifitas KWU dirintis mulai dari sekarang, tahun depan mahasiswa ikut kompetisi di universitas, dan juga ke tingkat nasional. Perencanaan bisnisnya dibuat yang keren, diimplementasikan dan dikembangkan.  Setelah mahasiswa lulus bisa menjadi usahawan, jadi job creator bukan job seeker sehingga bisa menggandeng kawan, tetangga  dan seterusnya. Hal ini juga tentunya akan membanggakan institusi tempat belajar” pungkasnya. (Humas FEB)

  • 41 Tahun Mengabdi di UNS, Prof JJS Kontribusikan Kepakarannya  Dibidang Ekonomi Makro dan Ekonomi Pembangunan

    41 Tahun Mengabdi di UNS, Prof JJS Kontribusikan Kepakarannya  Dibidang Ekonomi Makro dan Ekonomi Pembangunan

    Dekan dan segenap Civitas Akademika Fakultas Ekonomi dan Binis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Julius Jhonny Sarungu, MS atau yang biasa disapa akrab dengan Prof. JJS atas kontribusi dan darmabaktinya selama mengabdi di FEB UNS.  Kami berharap dalam memasuki purnabakti, Prof.  JJS selalu sehat, tetap terus berkarya, dan bahagia bersama keluarga tercinta.

    Pernyataan itu disampaikan Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto., M.Com. (Hons), Ph.D, Ak. pada kegiatan Webinar Orasi Ilmiah Penghargaan Purnabakti Profesor yang diselenggarakan luring di Ruang Sidang IV UNS dan daring melalui Zoom Cloud Meeting,  Rabu, 29 September 2021.

    Dekan FEB Mengucapkan Terimakasih atas Pengabdian Prof. JJS

    Dikatakannya, sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1980, Prof. JJS melakukan pengabdian luar biasa terhadap UNS selama 41 tahun.

    “Ciri khas pria kelahiran Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 11 Juli 1959 ini adalah jaket hitam dan saat mengajar selalu membawa kopi atau teh hangat. Prof JJS adalah dosen yang disiplin, ramah dan sabar. Menurut mahasiswanya, dalam mengajar pria berjaket hitam ini selalu menghargai pendapat dari mahasiswa. Tutur kata dan improvisasi saat mengajar membuat mahasiswa mudah paham dengan materi ajar. Pada saat membimbing tugas akhir, dengan sabar menjelaskan teori serta alur penulisan” jelasnya.

    Prof. JJS  lulus pendidikan Strata 1 dari Universitas Kristern Satya Wacana Salatiga di bidang studi ekonomi pada tahun 1977. Lulus pendidikan Strata 2 di Universitas Indonesia dengan bidang studi Kependudukan dan ketenagakerjaan di tahun 1991. Lulus pendidikan Strata 3 di Universitas Airlangga Surabaya di bidang studi Ilmu Ekonomi pada tahun 2001.

    Sebagai salah satu peletak dasar Fakultas Ekonomi khususnya di Program Studi Ekonomi Pembangunan, Prof. JJS pernah menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan, Asisten Direktur Bidang Akademik Program Studi MM (S2) dan Sekretaris II Program Doktor Ilmu Ekonomi (S3) Pascasarjana FEB UNS.

    Penyambutan Prof. JJS di Taman FEB Jaya

     

    Prof. JJS sangat menginspirasi yuniornya, telah berkontribusi di bidang keilmuan dan, puluhan tulisannya baik berupa buku text, artikel yang dimuat dalam jurnal Internasional Bereputasi, Jurnal Nasional terakreditasi maupun dalam bentuk prosiding. Karyanya menunjukkan kepakaran di bidang Ekonomi Makro dan Ekonomi Pembangunan. Dia juga aktif dalam organisasi keilmuan antara lain Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia dan Member of The Australian Development Studies Network, The ANU, Autralia. (Humas FEB).

  • Ketua OJK, Rektor UNS dan Dekan FEB UNS Tandatangani Prasasti, Resmikan Masjid Al-Latief FEB UNS

    Ketua OJK, Rektor UNS dan Dekan FEB UNS Tandatangani Prasasti, Resmikan Masjid Al-Latief FEB UNS

    Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia, Prof. Wimboh Santoso, Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prof. Jamal Wiwoho dan  Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS Prof. Djoko Suhardjanto menandatangani prasasti sebagai tanda diresmikannya Masjid Al-Latief FEB UNS, Jumat (1/10/2021).

    Dalam peresmian masjid itu, Prof. Wimboh, Prof. Jamal dan Prof. Djoko juga melakukan pengguntingan pita sebagai tanda bahwa Masjid Al-Latief sudah mulai bisa digunakan sebagai tempat beribadah khusus seperti sholat maupun aktifitas-aktifitas lain yang mendukung kepada peningkatan ibadah dan juga kesejahteraan masyarakat.

    Pengguntingan pita: Prof. Jamal, Prof. Wimboh, Prof. Djoko (dari kiri ke kanan)

    Dekan FEB UNS dalam laporannya menyampaikan, Masjid Al-Latief yang diresmikan saat ini sebelumnya merupakan sebuah musala. Renovasi terhadap bangunan sangat perlu dilakukan agar jamaah bisa lebih nyaman dalam menjalankan ibadahnya.

    Dekan juga mengucapkan terima kasih kepada Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI dan OJK yang telah memberikan bantuan sehingga Masjid Al-Latief bisa lebih bagus dan memberikan kenyamanan jamaah dalam menjalankan aktifitas ibadah maupun lainnya.

    “Bangunan masjid kita desain dengan memenuhi filosofi  syariat, tarekat, hakikat, dan juga makrifat. Pilar-pilarnya gilig sebagai simbol manembah kepada gusti” ungkapnya.

    Dekan juga telah menunjuk dosen muda FEB, Ibrahim Fatwa Wijaya, Ph.D sebagai Takmir Masjid  Al-Latief untuk bisa lebih memakmurkan masjid. Takmir yang baru diharapkan mampu menjadikan masjid sebagai center of excellent. Lebih menggerakkan aktifitas masjid dengan kajian-kajian Ekonomi Islam, Sejarah Islam sehingga memberikan kemanfaatan bagi masyarakat  dan turut mengharumkan nama UNS.

    Prof. Wimboh saat memberikan sambutan

    Hampir senada, Prof. Wimboh dalam sambutannya menekankan bahwa  fungsi masjid bukan sekedar tempat beribadah namun juga sebagai tempat mengembangkan ilmu yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Di masjid harus ada kajian-kajian, inovasi-inovasi dalam pengembangan pemikiran syariah.

    “Alhamdulillah bangunan Masjid Al-Latief yang sebelumnya sebuah Musala sekarang sudah lebih baik, lebih nyaman dan bisa dimanfaatkan, baik oleh sivitas akademika FEB maupun masyarakat luas. Masjid Al-Latief dapat menjadi center of excellent. Masjid bukan hanya untuk sholat, bukan hanya untuk beribadah tapi untuk sinergi menggalang inovasi pemikiran syariah,” kata Prof. Wimboh.

    Menurutnya, hal itu sangat penting sebab dari 275 juta penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam harusnya porsi masyarakat untuk menikmati produk perbankan syariah menjadi besar.

    “Potensi syariah masih sangat kecil, hanya 9 persen. Sekarang bagaimana kita bisa meningkatkan porsi itu. Produk-produk syariah harus kita perbanyak, aset-aset syariah masyarakat juga diperbanyak. Pengurus masjid harus menggerakkan diskusi-diskusi soal inovasi bagaimana mengembangkan hal ini,” tegas Prof. Wimboh.

    Peninjauan arsitektur dan fasilitas masjid

    Usai peresmian, Prof. Wimboh, Prof. Jamal, dan Prof. Djoko diikuti oleh sejumlah tamu undangan  langsung meninjau arsitektur dan fasilitas yang ada di Masjid Al-Latief FEB UNS. (Humas FEB)

  • PDIE FEB UNS Adakan Colloquium on Business Economics

    PDIE FEB UNS Adakan Colloquium on Business Economics

    Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan the 3rd International Seminar and Colloquium on Business Economics (ICBE) dengan tema Rethinking Innovation and Research in Small and Medium Enterprises Under High Uncertainty pada 4-5 Oktober 2021.

    Seminar dan kolokium internasional tersebut terselenggara atas kerjasama dengan empat universitas mitra yaitu Universitas Garut, STIE Widya Gama Lumajang, Universitas Tidar, dan Universitas Slamet Riyadi (UNISRI).

    Di acara yang dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dan 43 presenter itu, Kaprodi PDIE FEB UNS, Prof. Rahmawati mengucapkan terima kasih kepada universitas yang telah mendukung terlaksananya acara. Harapannya, kolokium tersebut dapat membantu dan memperlancar proses publikasi artikel riset mahasiswa program PDIE yang menjadi salah satu syarat kelulusan.

    Harapannya, kolokium tersebut dapat membantu dan memperlancar proses publikasi artikel riset mahasiswa program PDIE yang menjadi salah satu syarat kelulusan.

    Sementara itu, Prof. Izza Mafruhah, Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset dan Kemahasiswaan mewakili Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, saat membuka acara mewakili Dekan mengucapkan terima kasih kepada keempat pembicara yang telah berkenan hadir dalam acara kolokium internasional tersebut.

    “Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa program doktor untuk dapat melakukan publikasi pada tingkat nasional maupun internasional, serta untuk meningkatkan reputasi PDIE di bidang publikasi,” ungkap Prof. Izza.

    Dalam agenda Kolokium internasional yang ketiga tersebut terdapat dua sesi yaitu sesi plenary, peserta akan mendengarkan paparan materia dan keynote speech dari pembicara, dan di sesi paralel, peserta presenter akan mempresentasikan artikel riset yang telah melalui proses seleksi.

    The 3rd ICBE kali ini menghadirkan empat pembicara internasional antara lain Prof. Indah Susilowati dari Universitas Diponegoro, Dr. Kwabena G. Boakye dari Georgia Southern University, Prof. Budy Resosudarmo dari Australian national University, dan Prof. Benny Tjahjono dari Coventry University.

    Peserta mengikuti jalannya sesi plenary bersama dengan dua pembicara yaitu Prof. Indah Susilowati dan Dr. Kwabena G. Boakye. Dalam paparannya Prof. Indah menyampaikan materi berjudul ‘Rethinking Innovation and Resarch in Small and Medium Enterprises under High Uncertainty.’

    Prof. Indah menjelaskan bagaimana pandemi Covid-19 mempengaruhi kondisi perekonomian. Untuk sektor UMKM terdapat beberapa kendala yang dihadapi seperti menurunnya modal dan pelanggan, serta penurunan harga barang. Meskipun begitu, Prof. Indah mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia telah cukup proaktif dalam usaha pemulihan ekonomi.

    “Dengan gotong-royong, kerja sama, kita akan bisa menghadapi pandemi ini. Pemulihan ekonomi tentu akan membutuhkan waktu untuk dapat diterapkan dengan sukses,” ungkap Prof. Indah.

    Dr. Kwabena G. Boakye dengan materi yang berjudul Small and Medium Enterprises from Crisis to Growth mengatakan bahwa sumbangan sektor UMKM pada kondisi ekonomi cukup signifikan.

    “Dalam hal ini pemerintah dapat mendukung keberadaan UMKM melalui pelatihan keuangan, mendorong kemajuan riset, dan memberikan bantuan yang bersifat sector-specific,” jelasnya.

    Pada sesi plenary tersebut peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan secara interaktif kepada pembicara. Setelah sesi plenary selesai, peserta diundang untuk dapat mengikuti sesi paralel.

    Reporter: Aulia

    Editor: Humas

  • BPUF FEB UNS Beri Pelatihan Manajerial Pengurus Koperasi Syariah di Solo

    BPUF FEB UNS Beri Pelatihan Manajerial Pengurus Koperasi Syariah di Solo

    Sejumlah pengurus Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) di Solo mengikuti pelatihan manajerial yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Usaha Fakultas Ekonomi dan Bisnis (BPUF) Universitas Sebelas Maret (UNS), Sabtu, 25 September di Hotel Amrani Solo.

    Ketua BPUF, Dr. Ahmad Ikhwan Setiawan, S.E., M.T. dalam rilisnya mengatakan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyadarkan pentingnya mempertimbangkan berbagai hal dalam penerapan fintech.

    Menurutnya, penerapan fintech pada KSPPS di Surakarta masih sangat terbatas. Sebagian besar dari mereka masih beroperasi secara manual dengan pasar terbatas. Kondisi ini berbalik terbalik dengan semangat UMKM di Solo untuk berbisnis secara online.

    Kesenjangan ini perlu segera diatasi agar KSPPS di Solo berperan secara signifikan bagi peningkatan bisnis maupun pertumbuhan perekonomian Solo secara umum. Selain itu KSPPS juga diharapkan mampu bersinergi dengan lembaga keuangan yang ada untuk meningkatkan inovasi produk dan pembiayaan.

    “Koperasi perlu melakukan asesmen teknologi fintech untuk mengamati berbagai fintech yang sesuai bagi koperasi. Berikutnya koperasi perlu melakukan internalisasi dan sosialisasi kemanfaatan fintech agar karyawan tidak resisten. Pemilihan mitra penerapan fintech juga sangat penting agar dapat dipilih teknologi keuangan yang mumpuni sekaligus efesien. Setiap periode tertentu penerapan fintech bisa dievaluasi (monev) untuk mengetahui dampaknya terhadap kinerja koperasi”  jelasnya.

    Dr. Ikhwan menambahkan, banyak keuntungan yang diperoleh jika KSPPS menerapkan fintech. Koperasi yang menerapkan fintech menunjukkan kesungguhan pelayanan untuk mencapai kepuasan konsumen atau anggota. Koperasi yang mampu menggunakan fintech akan memperoleh citra koperasi yang terpercaya karena mereka mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

    Penerapan fintech juga memperluas pasar koperasi baik penabung maupun peminjam yang tidak hanya berasal dari suatu kota namun konsumen -baca anggota koperasi- bisa dari berbagai kota yang tersebar pada berbagai daerah. Fintech memungkinkan komunikasi antara penabung dan peminjam untuk saling terikat bisnis sehingga berbagai keputusan pinjam-meminjam bisa dilaksanakan dengan cepat. (Humas FEB).

  • Guest Lecture Praktik Simulasi Manajerial Angkat Topik Prospek Bisnis Properti dan Pengembangan Wisata Tematik

    Guest Lecture Praktik Simulasi Manajerial Angkat Topik Prospek Bisnis Properti dan Pengembangan Wisata Tematik

    Dunia properti tidak akan ada habisnya karena kebutuhan rumah semakin hari semakin banyak, hanya saja permasalahannya adalah pada lokasinya dan juga bagaimana daya beli dari masyarakat.

    Bisnis properti merupakan bisnis yang berjangka panjang. Bisnis ini nilai asetnya naik terus, valuenya tidak pernah turun, tahan sekali dengan inflasi. Yang terpenting dari bisnis ini adalah legalitas developer karena banyak sekali yang legalitasnya kurang. Bisnis ini juga padat modal karena pengadaannya sangat besar, belum lagi dengan pembangunannya.

    Pernyataan itu diungkapkan Djoko Santoso, Praktisi Bisnis Properti Solo Raya pada kegiatan Guest Lecture Praktik Simulasi Manajerial Prospek Bisnis Properti dan Pengembangan Wisata Tematik yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Rabu 15 September 2021.

    Selanjutnya disampaikan nilai bisnis properti ditentukan oleh empat hal yakni lokasi, fasilitas, brand dan tematik.

    Untuk menentukan perumahan yang akan dibangun yang utama adalah lokasi. Infrastruktur maupun penunjang-penunjangnya akan menjadi nilai tambah dalam perumahan. Fasilitas yang paling umum diantaranya jalan dan tempat ibadah. Sedangkan brand sangat mempengaruhi daya jual marketingnya. Ketika brand sudah kuat di daerah itu, akan mempengaruhi daya jual produk perumahan.

    Ada beberapa perumahan yang sudah mulai menerapkan tematik dalam pembangunannya, ini sangat tergantung kepada kelompok-kelompok konsumen tertentu, biasanya untuk yang level atas.

    Berdasarkan pengalamannya di bisnis properti, Djoko Santoso melihat bahwa pedoman yang menjadi dasar dalam bisnis properti adalah lokasi dan target pasar, harga lahan, tema atau jenis perumahan, sistem kepemilikan serta marketing.

    “Yang pertama adalah kita harus memilih lokasi atau target pasar, lokasi jelas, dan target pasar yang akan kita tuju yang mana, apakah kelas bawah, menengah atau atas, karena ini sangat mempengaruhi produk yang akan kita jual dan juga target-target yang akan kita sasar” katanya.

    Saat ini, untuk menjual produk, sistem marketingnya sangat beragam, ada program rumah tanpa DP atau  bayar separuh dulu, separuhnya dibayar 12 kali tanpa bunga dan lainya. Sistem marketing seperti ini dilakukan untuk menarik konsumen.

    Demikian pula dalam hal permodalan bisnis properti, sekarang sangat beragam. Jika dulu hanya memakai modal sendiri, saat ini, bisa kerjasama dengan pemilik lahan, pembiayaan oleh bank, atau kerja sama dengan investor.

    Sementara itu, narasumber kedua, Gilang Ramadhan, Musisi, Mentor Pengembangan Pariwisata Kemenparekraf menceritakan pengalamannya selama berkecimpung di bidang pariwisata. Menurutnya, untuk mengembangkan pariwisata harus kreatif.

    Dalam mengembangkan wisata, kita harus memperhatikan minat dari para turis dalam mengunjungi tempat-tempat pariwisata. Turis yang VVIP banyak menginginkan tempat yang benar-benar original. Untuk hal ini,  konsep tempat wisata yang original bisa kita lakukan.

    “Perlu diperhatikan juga, kira-kira apa yang bisa membius orang sedunia untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Indonesia, misalnya kopi. Kopi adalah satu senjata untuk mendatangkan turis, presentasikan itu. Dan jangan lupa, dimana-mana kita harus menggunakan bendera merah putih sebagai salah satu ciri ke Indonesiaan kita” ungkapnya.

    Hal lain yang juga perlu dilakukan adalah mendata turis yang datang dengan cara santai dan  penuh persahabatan, sehingga kita bisa mendapatkan dengan mudah emailnya untuk mempromosikan tempat-tempat wisata lainnya.

    Blueprint  yang  berkesinambungan  sangat penting  dalam  mengembangkan  pariwisata. Sementara   ini,   blueprint  yang   paling  bagus adalah dari Bali. (Humas FEB).