FEB

Kategori: fakultas

  • FEB UNS Adakan Workshop Pengelolaan Keuangan Negara, Dorong Sinergi Pusat dan Daerah Menuju Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

    FEB UNS Adakan Workshop Pengelolaan Keuangan Negara, Dorong Sinergi Pusat dan Daerah Menuju Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Workshop Pengelolaan Keuangan Negara: Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah Menuju Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif pada Senin, 22 Desember 2025.

    Kegiatan ini dilaksanakan secara luring di UNS Inn dan dihadiri oleh akademisi, praktisi, serta perwakilan pemerintah pusat dan daerah.

    Workshop ini menghadirkan narasumber Afina Azizah dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas serta Slamet, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Jawa Tengah.

    Kegiatan bertujuan menjadi ruang diskusi strategis dalam memperkuat pengelolaan keuangan negara dan daerah guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

    Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa workshop ini dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan antara akademisi dan mitra praktisi yang memiliki pengalaman luas dalam pengelolaan keuangan publik. Fokus diskusi diarahkan pada isu pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan yang relevan dengan dinamika pembangunan nasional, termasuk implikasi kebijakan dan bencana dari berbagai perspektif, seperti mitigasi risiko dan pemerataan ekonomi.

    Selain pembahasan teknis, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasi program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi mitra praktisi, khususnya dari instansi perencanaan daerah seperti Bappeda, yang ingin melanjutkan studi pada Program Magister Ekonomi Studi Pembangunan maupun Magister Akuntansi di FEB UNS.

    “Melalui kolaborasi aktif ini, diharapkan tercipta manfaat ganda berupa peningkatan kompetensi praktis sekaligus peluang pengembangan akademik berkelanjutan bagi para profesional” tuturnya.

    Afina menegaskan bahwa pencapaian pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah. Menurutnya, daerah merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sehingga penyelarasan paradigma pembangunan menjadi tantangan krusial.

    Pemerintah, lanjutnya, telah menetapkan delapan program prioritas nasional dalam RKP 2026, antara lain ketahanan pangan, energi, makan bergizi gratis, serta penguatan koperasi dan investasi. Keselarasan pusat dan daerah diwujudkan melalui sinkronisasi RPJMN dan RPJMD periode 2025–2029, dengan capaian indikator kinerja yang telah mencapai 77 persen. Ia menekankan pentingnya kejelasan lokus perencanaan serta dukungan anggaran yang konkret agar kebijakan benar-benar berdampak pada masyarakat.

    Afina juga menyampaikan bahwa paradigma pembangunan kini bertransformasi dari orientasi output fisik menuju outcome yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Hal ini menuntut peningkatan kualitas belanja yang efektif di tengah keterbatasan ruang fiskal dan kewajiban belanja wajib. Konsistensi antara perencanaan, penganggaran, dan pengendalian harus dikawal secara kolektif melalui koordinasi intensif antara Bappenas/Bappeda dan Kementerian Keuangan/BPKAD.

    Sementara itu, Kepala BPKAD Provinsi Jawa Tengah, Slamet, memaparkan bahwa permasalahan utama pembangunan daerah tidak terletak pada perencanaan, melainkan pada terputusnya siklus antara perencanaan dan implementasi dalam APBD. Banyak program strategis gagal dieksekusi akibat kekhawatiran pejabat daerah terhadap aspek administratif, seperti teknis pertanggungjawaban dan keterbatasan payung hukum di tingkat daerah.

    Ia juga menyoroti praktik pengendalian inflasi di daerah yang masih bersifat jangka pendek dan belum menyentuh akar permasalahan pasokan. Menurutnya, daerah seharusnya didorong untuk lebih berani mengubah skema belanja menjadi subsidi melalui BUMD agar intervensi harga pasar lebih efektif dan berkelanjutan. Namun, kesenjangan regulasi antara pusat dan daerah sering kali menghambat inovasi karena risiko temuan kerugian negara.

    Menurutnya, pengelolaan keuangan daerah perlu dikawal hingga ke aspek teknis pelaksanaan dan pertanggungjawaban, serta didukung oleh payung hukum yang kuat agar program pembangunan benar-benar berdampak bagi masyarakat.

    Melalui workshop ini, FEB UNS berharap dapat memperkuat pemahaman, kolaborasi, dan konsistensi antara perencanaan dan penganggaran di tingkat pusat dan daerah, guna mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

    Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 10 (Mengurangi Kesenjangan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan sinergi kebijakan dan tata kelola keuangan yang berkelanjutan.

  • Perkuat Kesiapsiagaan melalui Pelatihan Mitigasi Kebakaran dan Simulasi Penanggulangan Bencana

    Perkuat Kesiapsiagaan melalui Pelatihan Mitigasi Kebakaran dan Simulasi Penanggulangan Bencana

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar FEB UNS Gelar Pelatihan Mitigasi Kebakaran dan Simulasi Penanggulangan Bencana pada Rabu, 31 Desember 2025, bertempat di Halaman Gedung Bachtiar Effendi FEB UNS. Kegiatan ini diikuti oleh sivitas akademika FEB UNS yang meliputi tenaga kependidikan dan mahasiswa.

    Mitigasi merupakan tindakan atau upaya yang dilakukan untuk mengurangi atau mengendalikan risiko serta dampak negatif dari suatu peristiwa, termasuk kebakaran. Dalam konteks kebakaran, mitigasi mencakup berbagai langkah pencegahan dan penanganan, seperti penyediaan jalur evakuasi yang aman, pemasangan alat pendeteksi asap, hingga pelatihan penggunaan APAR serta pemahaman prosedur darurat.

    Wakil Dekan Bidang Nonakademik FEB UNS, Sutaryo, S.E., M.Si., Ph.D., Ak., CA., CRA., CRP., ACPA, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pemenuhan dokumen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), sekaligus wujud nyata penerapan manajemen risiko di lingkungan FEB UNS.

    “Kegiatan pelatihan dan simulasi ini menjadi langkah antisipatif kami dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Kami berharap, meskipun tidak mengharapkan adanya bencana, FEB UNS telah siap baik dari sisi sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana pendukung,” ungkapnya.

    Ia juga mengapresiasi antusiasme dan dukungan seluruh peserta yang terlibat. Menurutnya, upaya menciptakan lingkungan fakultas yang aman dan tanggap bencana merupakan tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika, tanpa terkecuali.

    Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai cara mencegah kebakaran, teknik memadamkan api, penggunaan APAR yang benar, serta langkah-langkah darurat yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran.

    Instruktur juga menjelaskan metode isolasi api dari oksigen, termasuk teknik tradisional menggunakan karung goni, handuk, atau kain non-sintetis.

    “Jika terjadi kebakaran kecil, ambil goni, handuk, atau kain yang ada di sekitar kita, basahi dengan air, lalu selimutkan ke api. Perhatikan arah angin dan pastikan posisi kita berlawanan arah dengan api. Setelah maju, jangan ragu dan jangan mundur, karena api bisa mengikuti arah kain,” jelas instruktur saat sesi praktik.

    Selain itu, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai penanganan kebocoran gas di rumah, di antaranya tidak menyalakan atau mematikan listrik untuk menghindari percikan api, membuka pintu dan jendela agar terjadi sirkulasi udara, serta melepas regulator dan membawa tabung gas ke luar ruangan hingga kondisi aman.

    Instruktur menegaskan bahwa sikap paling penting saat terjadi kebakaran adalah tetap tenang. “Kebakaran sering kali membesar karena kepanikan. Yang utama adalah tetap tenang, segera menghubungi pemadam kebakaran, menyelamatkan diri dan orang di sekitar, serta melakukan upaya pemadaman awal jika memungkinkan dengan teknik yang telah dipelajari,” tegasnya.

    Melalui kegiatan ini, FEB UNS berharap dapat meningkatkan literasi, kesadaran, dan budaya sadar risiko di lingkungan fakultas, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan sivitas akademika dalam menghadapi situasi darurat demi terciptanya lingkungan kampus yang aman dan berkelanjutan.

    Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui upaya peningkatan keselamatan dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan kampus.

  • FEB UNS Terima Kunjungan Saxion University, Bahas Kolaborasi Double Degree

    FEB UNS Terima Kunjungan Saxion University, Bahas Kolaborasi Double Degree

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menerima kunjungan Dr. Dennis Vossen, Program Director of International Finance and Accounting Saxion University of Applied Sciences, The Netherlands, pada Rabu, 24 Desember 2025.

    Kunjungan ini menjadi langkah awal penjajakan kerja sama internasional antara kedua institusi, khususnya dalam penyelarasan kurikulum untuk pengembangan program double degree di bidang Akuntansi dan Manajemen.

    Agenda utama kunjungan diwujudkan melalui Forum Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Ruang Sidang Dekan FEB UNS.

    FGD dihadiri oleh pimpinan fakultas, yakni Dekan FEB UNS Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., Kepala Program Studi S-1 Akuntansi Prof. Doddy Setiawan, S.E., M.Si., Ph.D., serta Kepala Program Studi S-1 Manajemen Dr. Sinto Sunaryo, S.E., M.Si.

    Dalam diskusi tersebut, kedua belah pihak membahas peluang kolaborasi akademik yang berfokus pada kesetaraan kurikulum, skema pembelajaran, serta mekanisme implementasi program double degree dan exchange student.

    Hasil FGD menyepakati bahwa FEB UNS menyatakan kesiapan dan komitmennya untuk menjalin kerja sama dengan Saxion University dalam bentuk program double degree serta pertukaran mahasiswa.

    Melalui kolaborasi ini, FEB UNS menegaskan komitmennya dalam memperluas jejaring akademik global serta mendorong mobilitas internasional mahasiswa.

    Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan international exposure bagi mahasiswa sekaligus meningkatkan reputasi FEB UNS di tingkat global, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

  • Senat Akademik FEB UNS Gelar Pleno Finalisasi Renstra dan Evaluasi Proses Belajar Mengajar

    Senat Akademik FEB UNS Gelar Pleno Finalisasi Renstra dan Evaluasi Proses Belajar Mengajar

    Senat Akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan rapat pleno pada Kamis, 11 Desember 2025 di UNS Inn Solo.

    Kegiatan ini sebagai forum strategis untuk membahas sejumlah agenda penting, mulai dari finalisasi Rencana Strategis (Renstra), evaluasi proses pembelajaran, penjelasan SOP tentang pencegahan dan pelaporan pelanggaran integritas akademik, penutupan PPAK,  juga penerapan kurikulum baru Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE).

    Dalam sambutannya, Ketua Senat Akademik Fakultas FEB UNS, Prof. Dr. Hunik Sri Runing Sawitri, M.Si., menyampaikan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyatukan pandangan sekaligus menuntaskan agenda kerja yang telah direncanakan sepanjang tahun 2025.

    Lebih lanjut, Prof. Hunik menegaskan bahwa rapat pleno ini merupakan bagian dari rangkaian pembahasan program kerja jangka menengah FEB UNS untuk periode 2025–2029.

    Diharapkan, seluruh masukan dan diskusi yang berkembang dapat mengarah pada tahap finalisasi, sehingga rencana strategis yang disusun dapat dijalankan secara optimal dan berkelanjutan.

    “Setelah proses finalisasi ini selesai, maka tugas kita untuk tahun ini dapat dikatakan tuntas. Oleh karena itu, pertemuan ini juga menjadi rapat terakhir Senat Akademik Fakultas di tahun 2025,” ujarnya.

    Pada kesempatan tersebut, Ketua SAF juga menyampaikan meskipun jumlah kehadiran tidak sepenuhnya ideal, kegiatan tetap dilaksanakan dengan komitmen untuk menghasilkan keputusan dan rekomendasi terbaik bagi pengembangan FEB UNS ke depan.

    Melalui forum ini, Senat Akademik Fakultas FEB UNS menegaskan perannya sebagai penjaga mutu akademik dan pengarah kebijakan strategis fakultas, khususnya dalam memastikan relevansi kurikulum, kualitas proses belajar mengajar, serta kesinambungan tata kelola akademik yang adaptif terhadap dinamika pendidikan tinggi.

    Kegiatan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kurikulum dan mutu proses pembelajaran, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan tata kelola akademik yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.

  • Prodi S1 Manajemen Hadirkan Praktisi di Kuliah Manajemen Strategik

    Prodi S1 Manajemen Hadirkan Praktisi di Kuliah Manajemen Strategik

    Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Mata Kuliah Manajemen Strategik dengan tema “Evaluasi Strategi: Mengukur Kinerja dan Melakukan Revisi Strategis”, Kamis 4 Desember 2025.

    Kegiatan ini menghadirkan Dr. Didiek Hartantyo, M.B.A., praktisi strategik yang membagikan pengalaman empiris terkait Dynamic Strategic Evaluation dan implementasinya di PT Kereta Api Indonesia (Persero).

    Dalam paparannya, narasumber menekankan bahwa organisasi saat ini beroperasi dalam hyper dynamic environment, ditandai oleh perubahan cepat dan ketidakpastian akibat faktor politik, geopolitik, ekonomi global–domestik, bencana, hingga perubahan perilaku pelanggan.

    Kondisi tersebut menuntut perusahaan melakukan evaluasi strategi yang tidak lagi bersifat statis dan periodik, melainkan dinamis, berkelanjutan, dan adaptif.

    Untuk menjawab tantangan tersebut, disampaikan enam pendekatan. Pertama, Dynamic Strategic Evaluation, yaitu evaluasi strategi yang dilakukan secara terus-menerus dan real-time, bukan hanya melalui siklus tahunan.

    Kedua, Data-Driven Strategic Review, yang menekankan pemanfaatan Big Data, data analytics, dan kecerdasan buatan sebagai dasar pengambilan keputusan agar evaluasi strategi bersifat akurat dan prediktif.

    Pendekatan ketiga adalah Adaptive Permanent Evaluation, yang menilai kapabilitas organisasi melalui sensing, seizing, dan transforming capability agar mampu mendeteksi perubahan, menangkap peluang, serta beradaptasi secara struktural.

    Keempat, Strategic Ambidexterity Evaluation, yaitu kemampuan organisasi menjaga efisiensi dan stabilitas operasional sekaligus melakukan inovasi dan transformasi di tengah dinamika kebijakan dan ekonomi global.

    Selanjutnya, ESG-Integrated Strategic Evaluation menempatkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola sebagai bagian inti evaluasi strategi untuk menjamin keberlanjutan dan kepercayaan pemangku kepentingan.

    Terakhir, Scenario-Based Strategy Evaluation (SBSE) digunakan untuk menilai kesiapan organisasi menghadapi berbagai kemungkinan masa depan, terutama dalam situasi ketidakpastian ekstrem seperti pandemi.

    Dalam sesi implementasi, PT Kereta Api Indonesia (Persero) dipaparkan sebagai contoh nyata penerapan keenam pendekatan tersebut sejak 2016 hingga 2025. Transformasi diawali dengan penguatan fondasi dan revisi RKAP (2016–2017), dilanjutkan pencapaian peringkat AAA dari Pefindo pada 2017. KAI juga menerbitkan obligasi pada 2017 dan 2019 sebagai bentuk transparansi dan pembiayaan berbiaya efisien, serta memperoleh kepercayaan publik melalui pembiayaan proyek LRT Jabodebek.

    Pada masa pandemi COVID-19 (2020–2021), KAI menerapkan manajemen krisis melalui adaptasi layanan, penguatan protokol kesehatan, dan efisiensi operasional. Meski sempat mengalami kerugian selama dua tahun, perusahaan berhasil bangkit dan mencatatkan laba Rp 444 miliar pada 2022. Memasuki periode 2020–2025, KAI terus mengembangkan dynamic strategic evolution dengan evaluasi strategi yang bersifat kontinu guna menjaga kinerja, keselamatan, efisiensi, dan kualitas layanan.

    Kuliah praktisi ini menegaskan bahwa evaluasi strategi yang dinamis, adaptif, dan berbasis data menjadi kunci keberlanjutan organisasi modern. Enam kerangka evaluasi strategis yang disampaikan tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga terbukti aplikatif dalam praktik korporasi nasional.

    Materi kuliah ini mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kinerja dan keberlanjutan perusahaan, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui transformasi dan inovasi strategis sektor transportasi, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 16 (Institusi yang Tangguh dan Akuntabel) melalui integrasi prinsip ESG dan tata kelola yang transparan.

  • Prodi S1 Manajemen FEB UNS Hadirkan Praktisi Bio Farma Bahas Etika Pemasaran dan Perlindungan Konsumen

    Prodi S1 Manajemen FEB UNS Hadirkan Praktisi Bio Farma Bahas Etika Pemasaran dan Perlindungan Konsumen

    Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Bersama Praktisi pada Mata Kuliah Etika Bisnis dengan tema “Etika Pemasaran dan Perlindungan Konsumen” Sabtu, 13 Desember 2025.

    Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi S1 Manajemen sebagai bagian dari penguatan pembelajaran berbasis praktik.

    Kegiatan ini menghadirkan Hersi Rosilani, S.E., M.Si., Vice President Bio Farma Group, sebagai narasumber.

    Dalam paparannya, narasumber menyampaikan wawasan praktis mengenai penerapan etika pemasaran di industri farmasi yang menekankan kejujuran, transparansi informasi, kepatuhan regulasi, serta tanggung jawab perusahaan dalam melindungi konsumen.

    Hersi Rosilani menjelaskan bahwa industri farmasi memiliki fungsi sosial yang kuat, sehingga strategi pemasaran tidak semata berorientasi pada keuntungan, tetapi juga harus mengedepankan keselamatan pasien dan kepentingan masyarakat.

    Promosi produk farmasi wajib dilakukan secara bertanggung jawab, berbasis bukti ilmiah, tidak menyesatkan, serta sesuai dengan regulasi yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kode Etik Farmasi Indonesia.

    Selain itu, dibahas pula mekanisme perlindungan konsumen di sektor farmasi, termasuk hak konsumen atas keamanan, mutu, dan informasi yang benar sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

    Narasumber mencontohkan peran pengawasan BPOM dalam memastikan keamanan obat melalui registrasi, pengawasan distribusi, hingga penarikan produk apabila ditemukan pelanggaran standar mutu, keamanan, atau pelabelan.

    Melalui kuliah bersama praktisi ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai praktik bisnis yang beretika, khususnya dalam konteks pemasaran dan perlindungan konsumen di industri strategis seperti farmasi.

    Kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan pembelajaran kontekstual dengan menghadirkan praktik nyata dari dunia industri.

    Kegiatan Kuliah Bersama Praktisi ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pembelajaran berbasis praktik, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penekanan pada keselamatan dan perlindungan konsumen farmasi, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penerapan etika bisnis dan pemasaran yang bertanggung jawab.

  • FEB UNS Gelar Pre Job Training Batch 3, Siapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja dan Karier Masa Depan

    FEB UNS Gelar Pre Job Training Batch 3, Siapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja dan Karier Masa Depan

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan Pre Job Training (PJT) Batch 3 sebagai bagian dari upaya pembekalan mahasiswa menghadapi transisi dari dunia kampus ke dunia kerja.

    Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 6 Desember 2025 di Ruang Sidang 1 Gedung 1 FEB UNS, dan diikuti oleh mahasiswa FEB UNS, khususnya mahasiswa semester 7 yang belum mengikuti PJT batch sebelumnya.

    Mengusung tema “Aligning Competencies with Current and Future Career Trends”, kegiatan ini menghadirkan Syaiful Amri, M.M., Sub Branch Head KCPS BTN Klaten, sebagai narasumber.

    Dalam paparannya, Syaiful Amri menekankan pentingnya kesiapan mental, etos kerja, dan penguatan kompetensi agar lulusan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.

    Dalam sesi tersebut, narasumber juga membagikan gambaran tantangan ketenagakerjaan di Indonesia, seperti tingginya jumlah pencari kerja, ketidaksesuaian antara lulusan dan kebutuhan industri (vertical mismatch), serta masih besarnya persentase pekerja dengan upah di bawah standar. Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk memiliki growth mindset, rasa tanggung jawab (ownership), serta kemampuan membangun jejaring dan portofolio sejak dini.

    Selain membahas kesiapan karier, Syaiful Amri turut memperkenalkan peran PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, khususnya melalui layanan pembiayaan perumahan dan pengembangan produk syariah, sebagai contoh kontribusi sektor perbankan dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Ia menegaskan bahwa dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan orientasi kontribusi.

    Melalui Pre Job Training Batch 3 ini, FEB UNS berharap mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai arah karier, kesiapan menghadapi proses rekrutmen, serta kesadaran bahwa kompetensi, sikap, dan nilai kerja merupakan bekal utama dalam memasuki dunia profesional.

    Kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kesiapan lulusan, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong generasi muda yang kompeten, berdaya saing, dan siap berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan.

  • Kuliah Praktisi FEB UNS: Mengawal Kesuksesan Proyek melalui Project Integrated Monitoring & Controlling

    Kuliah Praktisi FEB UNS: Mengawal Kesuksesan Proyek melalui Project Integrated Monitoring & Controlling

    Program Studi S1 Manajemen dan S2 Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kuliah praktisi dengan tema Mengawal Kesuksesan Proyek melalui Project Integrated Monitoring & Controlling”, Sabtu, 6 Desember 2025 di Aula Gedung Suhardi FEB UNS.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Minat Operasi yang menghadirkan praktisi profesional untuk memperkaya wawasan mahasiswa terkait pengelolaan proyek modern.

    Narasumber pada kesempatan ini adalah Edi Marwanto, Vice President Business Development PT National Energy Solutions, yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam proyek konstruksi di sektor minyak, gas, dan petrokimia.

    Dalam pemaparannya, Edi Marwanto menekankan bahwa proyek tidak hanya menghasilkan deliverable unik, tetapi juga mendorong perubahan dan menciptakan nilai bagi organisasi.

    Ia menjelaskan bahwa kegagalan proyek sering diakibatkan oleh lemahnya proses pengendalian, perubahan yang tidak terkelola, serta rendahnya pemantauan kinerja proyek. Data The Standish Group menunjukkan proyek dengan anggaran besar memiliki risiko kegagalan yang signifikan jika tidak dikendalikan dengan baik.

    Materi kemudian menguraikan konsep-konsep inti dalam Project Management, antara lain: Framework Project Management, Monitoring & Controlling Terintegrasi, Peran Project Management Office (PMO) dan Rekomendasi untuk Kesuksesan Proyek.

    Narasumber memaparkan alur menyeluruh siklus proyek, mulai dari initiating, planning, executing, monitoring & controlling, hingga closing. Setiap fase memiliki peran penting dalam memastikan proyek berjalan sesuai rencana.

    Bagian utama kuliah menyoroti pentingnya Project Integrated Monitoring & Controlling, yaitu proses yang mencakup pengendalian ruang lingkup (scope) agar tidak terjadi scope creep, Pengendalian jadwal proyek melalui pemantauan baseline, engendalian biaya dengan indikator CPI dan CV, pengendalian kualitas agar hasil sesuai spesifikasi, serta pengelolaan risiko, komunikasi, sumber daya, dan stakeholder.

    Edi memperkenalkan penerapan metode Earned Value Management (EVM) sebagai alat yang sangat efektif dalam membaca kinerja aktual proyek serta memprediksi kondisi akhir proyek. Studi kasus yang dipaparkan menunjukkan bagaimana EVM membantu mengidentifikasi deviasi sejak dini sehingga tim proyek dapat merancang action plan yang tepat.

    Narasumber menegaskan pentingnya keberadaan PMO sebagai pusat tata kelola proyek organisasi. PMO berfungsi memastikan keselarasan strategi, mengelola proses bisnis proyek, mengembangkan kompetensi SDM, serta mentransfer pengetahuan sehingga organisasi lebih siap menghadapi kompleksitas proyek modern.

    Mengakhiri pemaparan, Edi Marwanto menyampaikan beberapa rekomendasi kunci: implementasi standar global manajemen proyek, penguatan manajemen risiko dan manajemen perubahan, kepemimpinan berkarakter, termasuk kecerdasan emosional serta penerapan talent triangle bagi project manager: technical, leadership, dan strategic-business skills

    Kuliah praktisi ini mendukung pencapaian SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kompetensi mahasiswa di bidang manajemen proyek. Selain itu, penguatan praktik monitoring & controlling, tata kelola proyek, dan efisiensi penggunaan sumber daya turut mendukung SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) dan SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions) melalui pengelolaan proyek yang transparan, efektif, dan berkelanjutan.

  • Prodi Manajemen FEB UNS Gelar Kuliah Praktisi Bahas Transformasi Digital Layanan KAI

    Prodi Manajemen FEB UNS Gelar Kuliah Praktisi Bahas Transformasi Digital Layanan KAI

    Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar Kuliah Praktisi Komunikasi Bisnis dengan menghadirkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai mitra industri, Sabtu 29/11/2025.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Prodi Manajemen memperkuat keterkaitan antara teori akademik dan praktik dunia kerja.

    Kuliah praktisi bertema Komunikasi Digital dan Transformasi Layanan: Membangun Pengalaman Pelanggan melalui Aplikasi KAI Access dan Media Sosial tersebut menghadirkan Erni Sylviane Purba, Vice President Public Relations PT KAI, sebagai narasumber.

    Acara yang dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh mahasiswa Program Studi Manajemen dimoderatori oleh Dr. Intan Novela Qurrotul Aini, S.E., M.Si, Dosen FEB UNS.

    Dalam sesi tersebut, narasumber menjelaskan perjalanan kariernya yang berawal dari dunia teknologi, media sosial, hingga akhirnya bergabung dengan KAI pada 2013 sebagai Manajer CRM dan Digital Media.

    Di periode ini, KAI mulai mengimplementasikan social media listening yang terintegrasi dengan sistem operasional sehingga perusahaan dapat membedakan suara pelanggan asli, opini publik, hingga komentar dari akun non-pelanggan.

    Narasumber menekankan bahwa media sosial kini menjadi kanal penting dalam mendeteksi isu layanan. “Setiap kritik dan apresiasi harus dianalisis. Kami memanfaatkan command center 24 jam yang terhubung dengan contact center dan CCTV analytics di seluruh stasiun,” jelasnya.

    Sistem ini memungkinkan KAI mendeteksi potensi krisis layanan, termasuk penanganan kasus pelecehan di area stasiun.

    “Jangan harap pelaku kekerasan seksual bisa naik kereta, terutama di Jabodetabek. Sistem kami memantau pergerakan pelanggan demi keamanan bersama,” tegasnya.

    KAI juga memanfaatkan social media listening untuk membaca kebutuhan penumpang secara akurat. Kritik mengenai kenyamanan kereta ekonomi, fasilitas toilet, hingga permintaan sarana penunjang perjalanan telah melahirkan berbagai perbaikan nyata.

    “Dari komentar sederhana tentang sandaran kursi hingga permintaan toilet pria-wanita terpisah, semua kami respons melalui inovasi,” jelasnya. Bahkan strategi investasi seperti penyediaan water station diputuskan berdasarkan suara pelanggan—sebagai upaya mengurangi sampah plastik sekaligus meningkatkan kenyamanan.

    Dalam satu semester 2025, KAI mencatat lebih dari 6 juta mention terkait layanan kereta api, namun setelah dianalisis, hanya 1,58 juta yang benar-benar merupakan suara pelanggan.

    “Di sinilah pentingnya memilah. Kita harus memuaskan pelanggan, bukan sekadar mengikuti dinamika netizen,” tambahnya.

    Narasumber juga mencontohkan penanganan isu viral seperti kasus “Tumbler”. Menurutnya, KAI memilih merilis klarifikasi pada malam hari setelah melihat tingginya intensitas percakapan siang hari. Ia menegaskan bahwa status lepas dinas bukanlah pemecatan, melainkan prosedur perlindungan bagi pegawai saat proses klarifikasi berlangsung.

    Selain itu, ia memaparkan bahwa KAI telah menyelamatkan lebih dari 12.000 barang penumpang dengan nilai lebih dari Rp12 miliar, menunjukkan integritas perusahaan dalam menjaga barang pelanggan.

    KAI kini mengelola lebih dari 400 juta penumpang per tahun, dengan proyeksi mencapai 500 juta penumpang pada akhir 2025. Angka tersebut menunjukkan tingginya dampak ekonomi dari layanan kereta api bagi masyarakat.

    “Kereta api tidak hanya memindahkan orang, tetapi menggerakkan ekonomi. Ada hotel, kuliner, dan sektor lain yang bergerak bersamaan,” ungkapnya.

    Pada tingkat global, KAI tengah mempersiapkan diri untuk menawarkan International Operation & Management Service, termasuk peluang menjadi operator di Abu Dhabi dan negara lain. Digitalisasi, elektrifikasi, dan penguatan strategi jangka panjang menjadi fokus pengembangan ke depan.

    Dalam penutup, narasumber menyampaikan kebanggaannya dapat hadir di UNS sebagai bagian dari upaya edukasi publik. Berbagai studi kasus komunikasi KAI bahkan telah menjadi rujukan mahasiswa S1 dan S2.

    “KAI ingin menunjukkan transparansi dan kesiapan untuk menjadi bagian dari transformasi ekonomi Indonesia dan kontribusi global,” ujarnya.

    Kuliah umum ini sekaligus memperkuat kolaborasi antara KAI dan lingkungan akademik dalam mengembangkan kajian komunikasi, transformasi digital, dan pelayanan publik berbasis data.

    Kegiatan kuliah praktisi ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pembelajaran berbasis praktik industri, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemaparan transformasi digital dan inovasi layanan transportasi, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui pengembangan transportasi publik yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.

  • Prodi MESP FEB UNS Review Kurikulum, Perkuat Pembelajaran Berbasis Data dan Tantangan Pembangunan

    Prodi MESP FEB UNS Review Kurikulum, Perkuat Pembelajaran Berbasis Data dan Tantangan Pembangunan

    Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Review Kurikulum MESP, Kamis, 4 Desember 2025 di Ruang Telekonferen Gedung Bachtiar Effendi FEB UNS.

    Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya berkelanjutan Prodi MESP dalam memastikan kurikulum tetap relevan dengan perkembangan keilmuan, kebutuhan dunia kerja, serta tantangan pembangunan nasional dan daerah.

    Ketua Program Studi MESP FEB UNS, Prof. Dr. Suryanto, S.E., M.Si menegaskan bahwa review kurikulum menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas pembelajaran di jenjang magister.

    Kurikulum MESP diarahkan agar tidak hanya kuat secara teoritis, tetapi juga aplikatif dan berbasis data, sehingga lulusan mampu berkontribusi nyata dalam perumusan dan evaluasi kebijakan pembangunan.

    Kegiatan ini menghadirkan Mulyo Widodo dari Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai narasumber yang memaparkan keterkaitan mata kuliah MESP dengan indikator statistik strategis.

    Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa mata kuliah seperti Ekonomi Mikro dan Makro Madya, Ekonometrika, Ekonomi Pembangunan, Ekonomi Regional, hingga Ekonomi SDA dan Lingkungan berperan penting dalam membekali mahasiswa kemampuan analisis terhadap isu inflasi, PDRB, kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, IPM, serta indikator pembangunan berkelanjutan.

    Narasumber lainnya, Amirullah Setya Hardi, menyampaikan materi mengenai Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Program Studi MESP FEB UNS.

    Ia menjelaskan bahwa RPL memberikan pengakuan atas capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan formal, nonformal, informal, maupun pengalaman kerja. Sesuai dengan Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025, mahasiswa MESP berpeluang mengajukan rekognisi hingga 21 SKS dari total 56 SKS beban studi.

    Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas penguatan capaian pembelajaran lulusan, kekhasan kurikulum MESP FEB UNS, serta penajaman isu-isu strategis seperti pembangunan berkelanjutan, kelembagaan, sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi serta data statistik. Forum ini juga menyoroti pentingnya kurikulum yang adaptif bagi mahasiswa fresh graduate maupun profesional.

    Melalui kegiatan ini, Prodi MESP FEB UNS berharap mampu terus menghasilkan lulusan magister yang kompeten, kritis, dan berdaya saing tinggi dalam mendukung pembangunan nasional dan daerah.

    Kegiatan review kurikulum ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui penguatan pendidikan ekonomi dan kebijakan berbasis data.