FEB

Kategori: fakultas

  • Kerja Sama FEB UNS dan Wageningen University & Research Gelar Using Evidence in Policy Making: Impact Evaluation Workshop 

    Kerja Sama FEB UNS dan Wageningen University & Research Gelar Using Evidence in Policy Making: Impact Evaluation Workshop 

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Wageningen University & Research menyelenggarakan Using Evidence in Policy Making: Impact Evaluation Workshop  Selasa, 2 Desember 2025, di UNS Tower.

    Kegiatan ini menghadirkan Associate Professor Robert Sparrow dari Wageningen University & Research sebagai narasumber utama.

    Workshop diikuti oleh dosen FEB UNS, mahasiswa program pascasarjana (PDIE), serta mahasiswa program sarjana yang memiliki ketertarikan pada evaluasi kebijakan dan analisis dampak program sosial.

    Acara dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian FEB UNS, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran Assoc. Prof. Robert Sparrow di FEB UNS.

    Dalam sambutannya, Prof. Tri menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan berharga bagi sivitas akademika untuk memperdalam pemahaman mengenai impact evaluation, khususnya dalam mendukung perumusan kebijakan publik yang berbasis bukti ilmiah.

    Sebelumnya, Assoc. Prof. Robert juga telah berkontribusi sebagai narasumber dalam Intensive Workshop on Applied Macroeconomics for Global Health.

    Dalam sesi utama, Assoc. Prof. Robert Sparrow memaparkan konsep dasar impact evaluation, tujuan pelaksanaannya, serta berbagai metode yang umum digunakan untuk menilai dampak kebijakan sosial.

    Ia menjelaskan bahwa impact evaluation berfokus pada analisis efek kausal dari suatu kebijakan yang dirancang untuk menyelesaikan masalah sosial atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Beberapa metode evaluasi yang diperkenalkan antara lain quasi-experiment, propensity score matching, instrumental variable, dan difference-in-difference. Pada workshop ini, Robert secara khusus menekankan penggunaan metode difference-in-difference dan propensity score matching yang kerap digunakan dalam penelitian kebijakan publik.

    Workshop berlangsung interaktif melalui pembahasan studi kasus, di mana peserta diajak menganalisis potensi permasalahan dalam desain evaluasi suatu proyek sosial serta membandingkan penggunaan dua metode evaluasi dampak yang berbeda.

    Robert menekankan bahwa tantangan utama dalam impact evaluation terletak pada penentuan control group yang kredibel. Menurutnya, keberadaan kelompok pembanding yang tepat menjadi prasyarat penting sebelum melakukan evaluasi dampak secara ilmiah.

    Melalui kegiatan ini, FEB UNS berharap dapat memperkuat kapasitas akademisi dan mahasiswa dalam memahami serta menerapkan evaluasi kebijakan berbasis bukti, sehingga mampu berkontribusi dalam perumusan kebijakan publik yang lebih efektif dan berdampak nyata.

    Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas akademik dan riset, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) dengan mendorong kebijakan publik yang berbasis bukti dan evaluasi ilmiah.

  • P4M FEB UNS Selenggarakan Workshop Creativity and Innovation in Business

    P4M FEB UNS Selenggarakan Workshop Creativity and Innovation in Business

    Pusat Pengembangan, Penelitan dan Pengabdian pada Masyarakat (P4M) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Workshop “Creativity and Innovation in Business”, Kamis 5 Desember 2025.

    Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Teleconference FEB UNS diikuti oleh dosen serta mahasiswa FEB UNS sebagai bagian dari penguatan wawasan akademik dan praktis di bidang inovasi bisnis.

    Workshop menghadirkan Associate Professor Dr. Anuar Shah bin Bali Mahomed dari Faculty of Economics and Management, Universiti Putra Malaysia, sebagai narasumber utama.

    Dalam kesempatan tersebut, Dr. Anuar menyampaikan materi mengenai pentingnya creative thinking dalam mendorong inovasi bisnis di tengah perubahan lingkungan ekonomi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat.

    Dr. Anuar menekankan bahwa terdapat dua aspek utama yang menentukan keberhasilan inovasi bisnis, yaitu teknologi dan budaya.

    Menurutnya, kemajuan teknologi saat ini telah memberikan kemudahan akses serta manfaat yang sangat besar bagi pelaku usaha maupun konsumen. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan bisnis tradisional semakin sulit berkompetisi dengan bisnis berbasis digital.

    Dalam pemaparannya, Dr. Anuar mengambil contoh perkembangan layanan e-hailing seperti Grab, Uber, dan Gojek di Malaysia.

    Berdasarkan hasil studi yang dilakukan, kemunculan layanan e-hailing terbukti menurunkan pendapatan pengemudi taksi tradisional. Namun, di sisi lain, aplikasi bisnis digital tersebut juga terbukti mampu menurunkan biaya layanan yang harus ditanggung oleh pelanggan.

    “Coba kita lihat lewat munculnya aplikasi e-hailing. Teknologi ini terbukti memberikan kemudahan bagi pengguna dan juga menurunkan biaya untuk menyediakan layanan tersebut. Sama halnya dengan kondisi industri perbankan saat ini, semakin banyak bank yang tidak lagi membuka kantor cabang karena seluruh proses telah dapat dilakukan melalui aplikasi,” jelas Dr. Anuar.

    Selain membahas aspek teknologi, Dr. Anuar juga mengulas pentingnya aspek budaya dalam inovasi bisnis. Dengan merujuk pada dimensi budaya yang dikemukakan oleh Hofstede, ia menegaskan bahwa pemahaman terhadap budaya di suatu wilayah menjadi hal krusial bagi pelaku bisnis. Perbedaan budaya akan memengaruhi perilaku dan preferensi konsumen, sehingga strategi bisnis perlu disesuaikan dengan karakteristik budaya setempat.

    Menutup sesi workshop, Dr. Anuar berpesan agar pelaku bisnis dan generasi muda yang akan terjun ke dunia usaha mampu beradaptasi dengan perubahan, khususnya dengan memahami pola konsumsi generasi muda yang akan menjadi pasar utama di masa depan. “Jika bisnis tidak mau berubah dan menyesuaikan diri dengan preferensi generasi muda, maka mereka akan kehilangan pasar tersebut,” ungkapnya.

    Melalui kegiatan ini, FEB UNS berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kapasitas inovasi bisnis, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan pemikiran kreatif dan adaptasi teknologi dalam dunia usaha.

  • FEB UNS Terima Kunjungan Siswa SMA Islam Al Azhar 3 Jakarta

    FEB UNS Terima Kunjungan Siswa SMA Islam Al Azhar 3 Jakarta

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menerima kunjungan siswa kelas XII SMA Islam Al Azhar 3 Jakarta di Aula Gedung Suhardi, Kamis, 4 Desember 2025 di Aula Gedung Suhardi FEB UNS.

    Kegiatan ini menjadi ruang berbagi wawasan bagi para siswa yang tengah mempersiapkan diri memasuki jenjang pendidikan tinggi.

    Dalam sambutannya, Pram Suryanadi, S.E., M.Si, menyampaikan bahwa memilih menempuh pendidikan di Solo menjadi kesempatan berharga untuk mengenal lebih dekat budaya Jawa. Solo dan Yogyakarta telah lama menjadi pusat kebudayaan Jawa dan menjadi tempat bertemunya talenta dari berbagai wilayah di Indonesia. Keberagaman ini, menurutnya, menjadi fondasi penting bagi generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan yang menjunjung nilai Bhinneka Tunggal Ika.

    Ia juga menegaskan komitmen UNS dalam menghadirkan pendidikan berkualitas. Saat ini UNS Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional maupun global.

    Meskipun FEB UNS berdiri sejak tahun 1976 dan tergolong lebih muda dibandingkan universitas besar lainnya, Solo jauh sebelumnya telah menjadi pusat kegiatan intelektual. Kota ini dikenal sebagai ruang tumbuhnya berbagai gerakan pemikiran, salah satunya Sarekat Islam.

    Pram turut menggambarkan Solo sebagai kota yang ideal bagi mahasiswa, dengan biaya hidup terjangkau, suasana kondusif, iklim “slow living” yang tetap modern, serta akses mudah ke berbagai destinasi alam seperti Tawangmangu dan kawasan pantai Yogyakarta.

    “Kami mengajak Anda memanfaatkan kesempatan ini sebagai ruang belajar dan berbagi inspirasi,” ujarnya. Ia juga mengutip pepatah Jawa “Guru iku padang, murid iku laku”, mengingatkan pentingnya bimbingan guru sebagai penerang jalan dalam proses mencari ilmu dan meraih cita-cita.

    Sementara itu, Kepala SMA Islam Al Azhar 3 Jakarta, Syamsudin, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas sambutan FEB UNS. Ia menekankan bahwa kunjungan ini penting bagi siswa untuk mendapatkan gambaran lebih luas mengenai perguruan tinggi, tidak terbatas pada wilayah Jakarta dan sekitarnya.

     “Indonesia memiliki banyak kampus terbaik, dan salah satunya adalah UNS,” ujarnya.

    Syamsudin turut menyampaikan bahwa Prodi Manajemen dan Prodi Bisnis di FEB UNS merupakan program studi unggulan yang memiliki reputasi baik. Ia mendorong para siswa agar memiliki wawasan luas dan tekad kuat dalam meraih cita-cita. Dengan pengalaman panjang sejak 1976, FEB UNS diyakini mampu memberikan bimbingan terbaik, terlebih dengan pilihan program studi yang lengkap serta kelas internasional yang bekerja sama dengan berbagai institusi luar negeri.

    Acara dilanjutkan dengan pemaparan profil program studi oleh Adnan Effendi, S.E., M.Sc. mewakili Program Studi S1 Manajemen dan Muhammad Alif Nur Irvan, S.Ak., M.Acc., CPA mewakili Program Studi S1 Akuntansi.

    Kegiatan berlangsung interaktif, termasuk sesi game berhadiah yang menguji pemahaman siswa terkait paparan kelas internasional FEB UNS. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya siswa yang aktif menjawab dan berdiskusi.

    Kunjungan ini diharapkan dapat membuka wawasan para siswa mengenai dunia akademik di perguruan tinggi sekaligus memperkuat motivasi mereka dalam menentukan langkah studi di masa depan. FEB UNS berharap kegiatan ini menjadi jembatan kolaborasi dan inspirasi bagi generasi muda yang tengah mempersiapkan diri memasuki dunia kampus.

    Kegiatan kunjungan ini selaras dengan SDG 4: Quality Education, khususnya dalam mendorong akses informasi pendidikan tinggi, memperluas wawasan akademik siswa, serta memperkuat kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

  • Tim Peneliti FEB UNS Bahas Peran FinTech dalam Respon Kebijakan Moneter dan Fiskal

    Tim Peneliti FEB UNS Bahas Peran FinTech dalam Respon Kebijakan Moneter dan Fiskal

    Tim Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) melaksanakan kegiatan kuliah umum bertema “FinTech dan Respon Kebijakan Moneter–Fiskal” sebagai bagian dari diseminasi hasil penelitian.

    Kegiatan ini diselenggarakan pada Rabu, 3 Desember 2025, di Aula Roedhiro, FEB Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), dan diikuti oleh lebih dari 70 peserta yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan serta dosen.

    Kuliah umum ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan financial technology (FinTech) yang semakin mendorong generasi muda untuk melakukan transaksi keuangan secara digital. Seiring dengan meningkatnya penggunaan layanan FinTech dan beragamnya produk keuangan digital.

    Tim Peneliti FEB UNS menekankan pentingnya penguatan respon kebijakan moneter dan fiskal agar sejalan dengan dinamika sistem keuangan digital. Kegiatan ini terlaksana atas dukungan pendanaan Hibah Penelitian Fundamental DIKTI Tahun 2025.

    Dalam sambutannya, Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan FEB UNSOED, Dr. Agus Arifin, menyampaikan apresiasi kepada Tim Peneliti FEB UNS atas terselenggaranya kuliah umum ini.

    Ia menyoroti bahwa tingkat literasi dan kajian akademik mahasiswa terkait FinTech masih relatif tertinggal dibandingkan dengan tingkat inklusi keuangan digital. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat telah aktif menggunakan layanan keuangan digital tanpa diiringi pemahaman yang memadai.

    Pada sesi pemaparan materi, Arif Rahman Hakim menjelaskan bahwa saat ini tersedia beragam platform FinTech yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa maupun masyarakat. Namun demikian, pengguna perlu lebih berhati-hati dalam memilih layanan dengan memastikan bahwa penyedia FinTech telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Ia juga memaparkan bahwa tingkat pengembalian pinjaman FinTech masih berada pada level yang relatif baik, yang mencerminkan kepatuhan nasabah dalam memenuhi kewajiban pembayaran. Selain itu, transaksi paylater dan penggunaan QRIS menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam sistem pembayaran digital.

    Lebih lanjut, Tim Peneliti FEB UNS menegaskan bahwa respon kebijakan moneter perlu diarahkan pada penyusunan kerangka kebijakan moneter berbasis pembayaran digital. Kerangka tersebut dapat berfungsi sebagai pedoman dalam pengendalian suku bunga dan inflasi, sekaligus menjamin tata kelola sistem pembayaran digital yang sistematis dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

    Sementara itu, dari sisi kebijakan fiskal, penguatan dapat dilakukan melalui pengembangan sistem penerimaan dan pengeluaran negara serta daerah berbasis digital, baik pada tingkat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sehingga transaksi keuangan pemerintah semakin transparan dan akuntabel.

    Secara spesifik, Malik Cahyadin memaparkan hasil survei perilaku pengguna FinTech di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah yang dilaksanakan pada Juli hingga awal Agustus 2025. Di Provinsi DIY, survei melibatkan 351 responden pengguna FinTech yang didominasi oleh perempuan (61,54%), dengan tingkat pendidikan mayoritas SMA (50,71%) dan Sarjana (34,47%), beragama Islam (93,16%), serta berada pada rentang usia 30-an tahun. Sementara itu, di Provinsi Jawa Tengah, jumlah responden mencapai 585 orang, didominasi oleh perempuan (61,03%), mayoritas beragama Islam (83,42%), berpendidikan SMA (55,41%), dan berada pada rentang usia 18–22 tahun.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor utama yang memengaruhi transaksi FinTech meliputi kemampuan adaptasi dan adopsi teknologi, persepsi manfaat FinTech terhadap pemenuhan kebutuhan pribadi dan usaha mikro, tingkat pengeluaran bulanan, serta kepercayaan pengguna.

    Berdasarkan temuan tersebut, Tim Peneliti FEB UNS merekomendasikan agar OJK terus mendorong peningkatan literasi keuangan digital masyarakat, sementara penyedia layanan FinTech perlu memperkuat tata kelola bisnis dan sistem keamanan data nasabah.

    Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, kegiatan dan hasil penelitian ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan sistem keuangan yang inklusif, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi dalam sektor keuangan.

  • Diseminasi Riset FinTech: Tim Peneliti FEB UNS Bahas Stabilitas Sistem Keuangan Nasional

    Diseminasi Riset FinTech: Tim Peneliti FEB UNS Bahas Stabilitas Sistem Keuangan Nasional

    Tim Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kuliah umum bertema “FinTech dan Stabilitas Sistem Keuangan”, Jumat, 5 Desember 2025 di Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (UNNES).

    Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 75 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan dosen, dan dilaksanakan secara paralel di Ruang 501 dan 506 Gedung FE UNNES.

    Kuliah umum ini menjadi bagian dari diseminasi hasil penelitian Tim Peneliti FEB UNS terkait perkembangan financial technology (FinTech) serta implikasinya terhadap stabilitas sistem keuangan nasional.

    Dalam pemaparannya, Ayya Agmulia Asmarani Islam menjelaskan bahwa perkembangan FinTech di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dengan beragam platform layanan keuangan digital. Meski demikian, kontribusi transaksi FinTech lending masih relatif kecil dibandingkan total transaksi kredit perbankan nasional.

    Lebih lanjut disampaikan bahwa keberadaan FinTech memberikan sejumlah manfaat bagi ekosistem stabilitas keuangan, antara lain peningkatan efisiensi dan transparansi transaksi keuangan digital, diversifikasi risiko transaksi, serta penguatan inklusi keuangan.

    Namun demikian, FinTech juga menghadapi tantangan berupa lemahnya sistem keamanan data terhadap serangan siber dan praktik tata kelola keuangan digital yang belum sepenuhnya kuat. Oleh karena itu, pengembangan FinTech perlu ditempatkan dalam kerangka besar stabilitas sistem keuangan nasional.

    Pada sesi berikutnya, Malik Cahyadin memaparkan hasil survei pengguna FinTech di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Survei ini dilaksanakan pada Juli hingga awal Agustus 2025 dengan dukungan pendanaan Hibah Penelitian Reguler DIKTI Tahun 2025.

    Responden penelitian terdiri atas karyawan dan pemilik usaha mikro yang menggunakan layanan paylater maupun peer-to-peer (P2P) lending, dengan jumlah responden masing-masing sebanyak 351 orang di DIY, 585 orang di Jawa Tengah, dan 738 orang di Jawa Timur.

    Hasil survei menunjukkan karakteristik responden yang beragam di tiap provinsi. Di Provinsi DIY, responden didominasi perempuan (61,54%), beragama Islam (93,16%), dengan tingkat pendidikan SMA dan Sarjana, serta rentang usia yang signifikan pada kelompok 30-an dan 50-an tahun. Responden di Jawa Tengah juga didominasi perempuan (61,03%), mayoritas berpendidikan SMA (54,61%), beragama Islam (83,42%), dan berada pada rentang usia 18–22 tahun. Sementara itu, responden di Jawa Timur didominasi perempuan (65,45%), dengan tingkat pendidikan lulusan SMP dan Sarjana, mayoritas beragama Islam (87,67%), serta rentang usia 18–27 tahun.

    Penelitian ini menemukan bahwa faktor-faktor yang secara signifikan mendorong transaksi FinTech di ketiga provinsi tersebut meliputi kemampuan adaptasi dan adopsi teknologi, persepsi dampak positif transaksi keuangan digital bagi pengguna, serta tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan FinTech.

    Berdasarkan temuan tersebut, Tim Peneliti FEB UNS merekomendasikan agar otoritas keuangan terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, serta penyedia layanan FinTech memperkuat tata kelola dan keamanan transaksi keuangan digital.

    Dari sisi kontribusi global, kegiatan dan hasil penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan ekosistem keuangan inklusif, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan inovasi teknologi di sektor keuangan.

  • FEB UNS Jalin Kerja Sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Surakarta

    FEB UNS Jalin Kerja Sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Surakarta

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) resmi menjalin kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Surakarta melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Rabu, 3 Desember 2025. Acara berlangsung di Ruang Sidang Dekan, Gedung Soeharno TS Lantai 2 FEB UNS.

    Penandatanganan dilakukan oleh Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si., Ph.D., dan Teguh Wiyono, Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Surakarta.

    Acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D. serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Tastaftiyan Risfandy, S.E., M.Sc., Ph.D.

    MoU ini menjadi dasar kerja sama antara FEB UNS sebagai institusi pendidikan tinggi dan BPJS Ketenagakerjaan sebagai badan hukum publik penyelenggara program jaminan sosial ketenagakerjaan.

    Dalam dokumen perjanjian, disepakati bahwa mahasiswa FEB yang menjalankan kerja praktik, magang, profesi, serta kegiatan mahasiswa di bidang olahraga, seni, dan budaya, termasuk dalam kategori Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU). Dengan demikian, mahasiswa berhak memperoleh perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan sesuai ketentuan yang berlaku.

    Ruang lingkup kerja sama mencakup sosialisasi, pendaftaran kepesertaan, hingga fasilitasi pembayaran iuran bagi mahasiswa. Melalui perlindungan program BPJS Ketenagakerjaan, termasuk Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). kerja sama ini diharapkan dapat memberikan rasa aman ketika mahasiswa mengikuti berbagai kegiatan yang memiliki potensi risiko.

    Kerja sama ini merupakan langkah penting untuk memastikan kegiatan akademik maupun non-akademik mahasiswa tetap berjalan dengan standar keamanan yang lebih baik. Mahasiswa FEB UNS kini memiliki dukungan perlindungan yang semakin kuat, terutama ketika terjun langsung dalam aktivitas praktik dan kegiatan lapangan lainnya.

    Melalui MoU ini, FEB UNS dan BPJS Ketenagakerjaan sepakat untuk saling mendukung dalam penyelenggaraan program jaminan sosial ketenagakerjaan secara efektif, efisien, dan terkoordinasi, sebagaimana tercantum dalam maksud dan tujuan perjanjian kerja sama.

    Tastaftiyan Risfandy, Ph.D., menekankan pentingnya sosialisasi kepada mahasiswa agar mereka memahami manfaat dan prosedur kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebelum menjalani berbagai aktivitas praktik dan kegiatan lapangan.

    “Ini adalah informasi yang sangat penting bagi mahasiswa. Karena menyangkut perlindungan mereka, kami merasa perlu untuk segera mensosialisasikannya dan akan mengagendakan penyampaian informasinya dalam waktu dekat,” ujarnya.

    Dengan adanya kerja sama ini, FEB UNS berharap dapat memperkuat perlindungan dan keamanan bagi mahasiswa ketika mengikuti kegiatan akademik maupun non-akademik yang memiliki risiko kerja, serta memastikan seluruh kegiatan mahasiswa terlaksana dengan standar perlindungan yang lebih baik.

    Kemitraan ini mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan perlindungan kerja bagi mahasiswa, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kerja sama institusional antara FEB UNS dan BPJS Ketenagakerjaan.

  • HMJA Goes To School 2025: Kenal Lebih Dekat dengan Prodi S1 Akuntansi

    HMJA Goes To School 2025: Kenal Lebih Dekat dengan Prodi S1 Akuntansi

    Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJA) FEB UNS sukses melaksanakan program perdana HMJA Goes To School (HGTS) 2025, Senin, 24 November 2025.

    Program kerja baru dari Departemen Public Relation ini hadir sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam memperkenalkan Program Studi S1 Akuntansi FEB UNS kepada siswa-siswi SMA kelas 12 yang tengah mempersiapkan pilihan masa depan mereka menuju perguruan tinggi.

    Kegiatan HGTS tahun ini menandai kunjungan pertama HMJA ke SMA Regina Pacis Surakarta (Ursulin) sebagai langkah awal dalam memperluas jangkauan sosialisasi Prodi Akuntansi ke berbagai sekolah menengah atas.

    HGTS dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai dunia perkuliahan di Akuntansi FEB UNS, baik kelas reguler maupun kelas internasional, meliputi kurikulum, pengalaman belajar, prestasi mahasiswa, hingga prospek karier lulusan.

    Acara dibuka oleh MC, Abdul Kayyis Abrar dan Dewi Asiyah, disusul pemutaran video profil Akuntansi FEB UNS yang menampilkan fasilitas belajar, suasana akademik, dan berbagai pencapaian mahasiswa.

    Materi utama kemudian disampaikan oleh Muhammad Haidar Ashif dan Loris Oktaviano, yang memaparkan apa saja yang dipelajari di Akuntansi, perbedaan kelas reguler dan kelas internasional, penggunaan bahasa pengantar, peluang akademik, serta prospek karier lulusan.

    Pemateri juga menyoroti prestasi mahasiswa dan jejak alumni Akuntansi FEB UNS yang telah bekerja di perusahaan besar.

    Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para siswa. Panitia memberikan hadiah bagi peserta yang aktif bertanya sebagai bentuk apresiasi. Suasana kemudian dibuat semakin meriah melalui fun game “Bawakan Aku”, yang mengundang tawa dan semangat para peserta. Pemenang games mendapatkan hadiah menarik dari panitia.

    Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama antara panitia HMJA dan siswa-siswi SMA Regina Pacis. HMJA FEB UNS menyampaikan terimakasih atas sambutan hangat dan kerja sama yang baik dari pihak sekolah.

    Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam memperkenalkan Program Studi Akuntansi FEB UNS serta membantu siswa mengambil keputusan akademik secara tepat dan penuh keyakinan.

    Sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam pendidikan dan literasi karier, kegiatan HGTS selaras dengan komitmen FEB UNS dalam mendukung SDG 4 (Quality Education) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth).

  • Peneliti UNS Perkuat Perlindungan Indikasi Geografis bagi Kopi Robusta Lemukih

    Peneliti UNS Perkuat Perlindungan Indikasi Geografis bagi Kopi Robusta Lemukih

    Upaya memperkuat perlindungan hukum dan nilai ekonomi produk unggulan daerah kembali diperkuat melalui Penelitian Terapan Luaran Prototipe – Kemdiktisaintek 2025 berjudul “Model Pengaturan Produk Unggulan Daerah Berbasis Sustainable Tourism.”

    Penelitian ini merupakan kolaborasi lintas disiplin antara Sarjiyanto, S.E., MBA., Ph.D. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Dr. Abdul Qodir Jaelani, SH., MH. dari Fakultas Hukum  Universitas Sebelas Maret (UNS).

    Menurut Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM RI, Indikasi Geografis (IG) adalah tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang atau produk yang memiliki reputasi, kualitas, atau karakteristik tertentu karena faktor lingkungan geografis, baik faktor alam, manusia, maupun kombinasi keduanya. IG dapat berupa nama tempat, kata, gambar, huruf, atau kombinasi unsur tersebut yang dilekatkan pada produk.

    Tim Peneliti, Tim Ahli IG DJKI, Pejabat Deerah dan Pemangku Desa sedang memberikan penjelasan tahapan verifikasi kepada MPIG Kopi Robusta Lemukih Buleleng

    Penelitian ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk memperkuat ekonomi kewilayahan melalui perlindungan kekayaan intelektual komunal, sehingga produk unggulan daerah memiliki reputasi yang lebih kuat serta nilai ekonomi yang meningkat.

    Pada tahun ini, kedua peneliti UNS telah menyelesaikan proses pendampingan bagi kelompok petani Kopi Robusta di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali untuk memperoleh pengakuan IG dari Kementerian Hukum dan HAM RI.

    Pendampingan dilakukan secara komprehensif, meliputi penguatan kelembagaan melalui pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Lemukih Buleleng pendampingan pengelolaan usaha, dari proses produksi hingga pemasaran; Penyusunan Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis, yang memuat reputasi, kualitas, dan karakteristik produk sebagai syarat pengajuan IG; Verifikasi Lapangan oleh DJKI

    Pada 24–27 November 2025, Tim Ahli Indikasi Geografis DJKI yang dipimpin Gunawan, S.Si. melakukan verifikasi lapangan. Kegiatan ini turut didukung oleh kedua tim peneliti UNS, Sarjiyanto, Ph.D. dan Dr. Abdul Qodir Jaelani.

    Papan Identitas Kelompok Masyarakat Perlindungan IG Kopi Lemukih

    Proses verifikasi juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan daerah, antara lain Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Gd. Melandrat; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, S.Sos., M.Si.; Perbekel Lemukih, Drs. I Nyoman Singgih; Kelian Subak Gunung Sari dan Subak Manik Galih beserta para krama

    Melalui rangkaian proses ini, Kopi Robusta Lemukih kini semakin dekat memperoleh status resmi sebagai produk ber-Indikasi Geografis. Pengakuan ini diharapkan membuka peluang lebih luas bagi peningkatan kesejahteraan petani, penguatan ekonomi desa, serta promosi potensi lokal yang dikelola secara berkelanjutan.

    Sarjiyanto, Ph.D., sebagai anggota tim peneliti dan Pembina MPIG Kopi Lemukih, menyampaikan bahwa keterlibatan dosen FEB UNS merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat secara langsung.

    Kopi Robusta Lemukih sebagai Produk Unggulan Daerah yang perlu di lindungi dan dioptimalkan nilai ekonominya sebagai modal Pembanguan Ekonomi Kewilayahaan

    Keterlibatan dosen S1 Ekonomi Pembangunan FEB-UNS dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat Desa Lemukih ini merupakah salah satu komitmen Civitas Akademik FEB-UNS dalam mendukung pencapaian SDGs, khususnya; SDG 1 – No Poverty (Tanpa Kemiskinan), SDG 8 – Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), SDG 11 – Sustainable Cities and Communities (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), SDG 12 – Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 16 – Peace, Justice and Strong Institutions (Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh).

  • ACTIVE 2025: Ajang Kolaborasi dan Kompetisi untuk Generasi Muda Berdaya Saing

    ACTIVE 2025: Ajang Kolaborasi dan Kompetisi untuk Generasi Muda Berdaya Saing

    Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan Accounting Society in Versatility (ACTIVE) 2025, rangkaian kegiatan berskala nasional bertema “Youth Empowered in United for Economics Transformation.”

    Program ini menghadirkan lima agenda utama: Talkshow Nasional, Business Plan Competition (BPC), Accounting Competition for College Students (ACCESS), Field Trip, dan Indonesian Cultural Gathering Night (ICGN).

    Rangkaian berlangsung dalam dua waktu pelaksanaan: Talkshow Nasional pada 12 Oktober 2025 di Ballroom UNS Inn, serta BPC, ACCESS, dan ICGN pada 26–27 Oktober 2025 di FEB UNS. Para delegasi juga mengikuti Field Trip ke Kampung Batik Laweyan dan Museum Monumen Pers untuk mengenal budaya dan literasi Kota Surakarta.

    Sebagai ajang nasional, ACTIVE 2025 diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang pengembangan diri, jejaring, sekaligus kompetisi yang mempertemukan talenta muda berdaya saing tinggi. Tujuan utama ACTIVE adalah mendorong mahasiswa untuk berpikir inovatif sekaligus berani mengambil aksi nyata dalam menghadapi transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.

    Talkshow Nasional mengangkat tema “Lead the Leap: Bridging Ambition and Action for an Impactful Future” dengan menghadirkan tiga narasumber inspiratif: Shafa Salsabila, Malaikha Dayanara, dan Budi Santoso, S.E., Ak.

    Selain itu, dua kompetisi utama turut digelar, yaitu BPC melalui tiga tahap seleksi BMC, proposal, pitching deck dan ACCESS melalui tahap preliminary dan final. Rangkaian ditutup dengan ICGN, malam apresiasi bernuansa budaya Indonesia.

    Kegiatan ACTIVE 2025 mendukung Sustainable Development Goals khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pengembangan kapasitas mahasiswa, peningkatan kreativitas, serta penguatan kompetensi di bidang ekonomi dan kewirausahaan.

  • Mahasiswa MESP FEB UNS Raih Penghargaan Best Presenter di TICEMBA 2025

    Mahasiswa MESP FEB UNS Raih Penghargaan Best Presenter di TICEMBA 2025

    Prestasi membanggakan ditorehkan oleh mahasiswa Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) FEB UNS dalam ajang Tidar International Conference on Economics, Management, Business, and Accounting (TICEMBA) 2025.

    Pada konferensi internasional yang berlangsung pada 30–31 Oktober 2025 tersebut, dua mahasiswa MESP, David Andrean berhasil meraih penghargaan Best Presenter 1st Place dan Sanefaro Infun J. Mofu, Best Presenter 3rd Place.

    Penghargaan tersebut diberikan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Tidar bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah Kota Magelang, sebagai bentuk apresiasi atas kemampuan penyampaian materi dan kualitas riset yang unggul.

    Dalam konferensi ini, David mempresentasikan riset berjudul “Do Infrastructure Indicators Reduce Rural Poverty? Evidence from Karanganyar Regency

    Penelitian tersebut mengkaji bagaimana pembangunan infrastruktur memengaruhi tingkat kemiskinan di wilayah perdesaan, dengan melihat dinamika hubungan pusat–pinggiran (core–periphery).

    David menjelaskan bahwa Karanganyar, yang memiliki pusat pertumbuhan sekaligus area rural, merupakan konteks ideal untuk menilai apakah pembangunan mampu menjembatani ketimpangan atau justru memperlebar jarak kesejahteraan.

    Saya sangat bersyukur memperoleh predikat Best Presenter. Ini pengalaman berkesan karena pesertanya berasal dari berbagai daerah. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk meningkatkan kemampuan riset dan public speaking ke depan,” ungkap David.

    Tantangan terbesar baginya adalah menyederhanakan hasil penelitian yang kompleks ke dalam presentasi singkat namun tetap substantif. Didukung oleh data PODES BPS serta visualisasi yang kuat, presentasi David dinilai reviewer sebagai relevan, tajam, dan mudah dipahami.

    David juga mengapresiasi arahan dari dosen pembimbing, Sarjiyanto, Ph.D dan Malik Cahyadin, Ph.D serta dukungan rekan studi dan keluarga. Ia berharap mahasiswa MESP lain berani mencoba kesempatan konferensi internasional.

    Kita tidak harus sempurna untuk memulai. Yang terpenting adalah keberanian mencoba. Shoot your shot, you never know what doors will open.”

    Peraih Best Presenter lainnya, Sane, membawakan penelitian berjudul “Regional Disparities and Determinants of Poverty in Papua: Klassen Typology Analysis and Panel Data Regression”.

    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh paradoks pembangunan di Papua, di mana perbaikan indikator makroekonomi tidak serta-merta diikuti penurunan kemiskinan yang signifikan. Bahkan, pada beberapa periode angka kemiskinan menunjukkan peningkatan.

    Keprihatinan terhadap kondisi Papua membuat saya ingin mengkaji penyebab ketimpangan ini secara lebih ilmiah. Ini bukan sekadar riset akademik, tetapi bentuk advokasi kecil untuk membawa isu Papua ke forum internasional, jelas Sane.

    Dalam proses persiapan, tantangan terbesarnya adalah membagi waktu antara penyusunan proposal tesis dan persiapan konferensi. Sementara saat presentasi, ia harus merangkum penelitian kompleks menjadi penyampaian yang padat dan impactful dalam durasi hanya tujuh menit.

    Sane menyampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing Dr. Evi Gravitiani dan Sarjiyanto, Ph.D yang terus membimbing penyempurnaan kualitas penelitiannya.

    TICEMBA menjadi wahana penting untuk melatih komunikasi ilmiah dan memperluas wawasan isu pembangunan, sekaligus kesempatan untuk membawa suara Papua dalam diskusi akademik,tuturnya.

    Prestasi kedua mahasiswa FEB UNS ini sekaligus menunjukkan kualitas riset dan pembelajaran di Program Studi MESP yang terus relevan dengan isu ekonomi regional maupun nasional.

    Riset yang dipresentasikan kedua mahasiswa MESP FEB UNS memiliki kontribusi langsung terhadap SDG 1 (No Poverty) melalui analisis mendalam mengenai penyebab dan solusi pengentasan kemiskinan. Topik infrastruktur dan ketimpangan wilayah juga mendukung SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) serta SDG 10 (Reduced Inequalities).

    Keterlibatan keduanya dalam konferensi internasional turut memperkuat SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi dan pertukaran pengetahuan di forum global.