FEB

Kategori: fakultas

  • Cost Benefit Analysis, Tema di Pelatihan Kedua RG Green Economics and Sustainable Development 

    Cost Benefit Analysis, Tema di Pelatihan Kedua RG Green Economics and Sustainable Development 

    Riset Group Green Economics and Sustainable Development  FEB UNS yang diketuai oleh Prof. Mugi Rahardjo, M.Si. menggelar pelatihan kedua dengan tema Cost Benefit Analysis (CBA) sebagai Pengambilan Keputusan Investasi, Selasa 8 September 2020.

    Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 80 peserta menghadirkan narasumber  Dr. Evi Gravitiani, SE, M.Si dengan moderator Aulia Hapsari Juwita, SE, ME.

    Diawal paparannya,  Dr. Evi Gravitiani menjelaskan  CBA adalah suatu proses yang sistematis untuk menghitung dan membandingkan manfaat dan biaya suatu proyek atau kegiatan investasi. Intinya CBA adalah hanya fokus membandingkan biaya dan manfaat. Manfaat harus lebih besar dari biaya, sangat simpel sebenarnya. Dalam CBA yang harus dilaksanakan adalah proyeknya pasti ada, ada alternatif, ada identifikasi, menghitung, mengukur dan menilai.

    “CBA adalah salah satu alat untuk pengambil keputusan terutama keputusan dari segi investasi. Secara teori CBA sangat mudah dipelajari, hanya saja untuk prakteknya lebih harus banyak belajar dari studi kasus. Di forum ini  akan kami sampaikan contoh dari beberapa proyek yang pernah tim lakukan” jelas dosen yang saat ini menjabat  sebagai Kepala Program Studi Magister Ekonomi Studi Pembangunan FEB UNS.

    CBA digunakan bila potensi pengeluaran proyek cukup signifikan untuk menjustifikasi pengeluaran yang dilakukan untuk memperkirakan, mengukur, menghitung dan mengevaluasi manfaat dan dampak yang akan terjadi, juga  untuk meningkatkan efisensi, dalam arti biayanya minimal tapi hasilnya bisa optimal. CBA juga digunakan bila ada dampak lingkungan atau sosial di luar pengukuran efisiensi.

    Lebih lanjut, Dr. Evi  menjelaskan proyek adalah unit terkecil dari aktivitas investasi dengan kegunaan yang saling berkaitan untuk mencapai suatu hasil atau tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Ciri-ciri proyek mempunyai titik awal dan akhir, merupakan unit tersendiri, memerlukan modal investasi tersendiri, biaya dan manfaat harus dapat diukur dalam satuan yang sama dan bukan kegiatan yang rutin.

    Tahapan proyek diawali dengan   pra konstruksi yaitu mengidentifikasi proyek hingga selesainya studi kelayakan. Lalu tahapan konstruksi pembangunan proyek atau pelaksanaan proyek yang telah  dipelajari. Dan tahapan operasi, pengoperasian proyek yang telah diselesaikan seperti pemeliharaan sistem bagi penentuan biaya operasi sistem secara global.

    Dalam proyek minimal kita melihat ada tujuh aspek yaitu aspek teknis yang membahas tentang lokasi tanah, jenis mesin, skala produksi; aspek pemasaran yang membahas tentang pasar, produk harga, promosi, distribusi; aspek manajerial dan administrasi yang membahas kemampuan staf, karyawan proyek, jumlah karyawan; aspek organisasi, membahas struktur organisasi proyek , bentuk organisasi yang digunakan, aspek finansial membahas tentang besarnya dana, sumber dana, asal dana; aspek ekonomi membahas tinjauan proyek secara ekonomi nasional, kontribusi proyek  terhadap perekonomian nasional, devisa negara  serta aspek lingkungan membahas tentang dampak lingkungan yang ditimbulkan baik negatif ataupun positif.

    (Humas)

  • Rektor UNS Kukuhkan Prof. Doddy sebagai Guru Besar Bidang Akuntansi Keuangan

    Rektor UNS Kukuhkan Prof. Doddy sebagai Guru Besar Bidang Akuntansi Keuangan

    Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof.Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum. mengukuhkan Prof. Doddy Setiawan, S.E., M.Si., Ph.D., Akt sebagai Guru Besar di Bidang Akuntansi Keuangan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS, Selasa, 8 September 2020.

    Pengukuhan dilaksanakan secara hybrid (luring dan daring) dengan menerapkan physical distancing yang ketat dan mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

    Pada sidang pengukuhan Guru Besar tersebut, Prof. Doddy Setiawan yang merupakan Guru Besar ke-15 FEB dan ke-220 UNS menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul Struktur Kepemilikan dan Kebijakan Dividen.

    Prof. Doddy yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat pada FEB UNS periode 2016-2023 dalam karirnya sebagai dosen profesional telah terlibat dalam berbagai penelitian. Prof Doddy telah menghasilkan 60 artikel ilmiah di Jurnal nasional terindeks Sinta 2, 23 artikel ilmiah di jurnal terindeks scopus serta sitasi di Google Scholar sebanyak 1563. Prof Doddy juga menempati peringkat 192 pada TOP 500 Authors versi SINTA RISTEKBRIN pada tahun 2020 dan peringat 38 di bidang ilmu sosial versi SINTA RISTEKBRIN pada tahun 2020.

    Dalam sambutannya, Rektor UNS,  Prof. Jamal mengucapkan selamat atas prestasi yang telah dicapai Prof. Doddy.

    Selanjutnya dikatakan dengan bertambah banyaknya Guru Besar akan mengangkat derajat marwah akademik UNS, sehingga kampus atau UNS tidak akan kehilangan jati dirinya.

    Kampus harus menjadi tempat bagi tumbuhnya generasi terbaik dan peradaban baru bangsa, karena berawal dari kampuslah bermula berbagai inspirasi, ide dan gagasan orisinil diyakini mampu menghasilkan energi inovasi yang tiada henti.

    “Apalagi pada saat ini bangsa kita dan bahkan bangsa-bangsa  di dunia sedang berjibaku menghadapi  dua krisis sekaligus, yakni krisis ekonomi dan krisis kesehatan sebagai akibat hadirnya Pandemi Covid-19. inilah saatnya Saudara, para guru besar dan akademisi lainnya berani keluar dari zona nyaman, mengabdikan diri dan memberikan kontribusi berupa pemikiran kebaruannya melalui riset dan inovasi untuk menyelamatkan negara kita dari krisis yang berkepanjangan” tegasnya.

    Sudah saatnya jika para akademisi berevolusi untuk mengikuti perubahan besar yang terjadi di sekitar kita. Kampus tidak lagi hanya sekedar tempat kuliah dan memproduksi lulusannya, tapi kampus harus bisa  menjadi pusat inovasi dan gerakan perubahan. Ukuran kampus besar tidak lagi dilihat dari banyaknya jumlah prodi, atau jumlah mahasiswanya atau luasnya kampus, melainkan diukur dari seberapa banyak karya inovasi yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mengatasi problematikanya (Humas).

  • FEB UNS Tambah Satu Guru Besar

    FEB UNS Tambah Satu Guru Besar

    Prof. Doddy Setiawan, S.E., M.Si., Ph.D., Akt akan dikukuhkan Rektor UNS sebagai Guru Besar Baru di Bidang Akuntansi Keuangan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pengukuhannya akan digelar secara daring pada  Selasa (8/9/2020) bersama dengan Prof. Dr. Adi Prayitno, drg., MKes., SpPMM(K),  Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut pada Fakultas Kedokteran (FK) UNS.

    Pada sidang pengukuhan Guru Besar tersebut, Prof. Doddy Setiawan yang merupakan Guru Besar ke-15 FEB dan ke-220 UNS akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul Struktur Kepemilikan dan Kebijakan Dividen.

    Prof. Doddy menjelaskan, pengumuman mengenai pembagian dividen merupakan pengumuman yang sangat dinanti oleh para investor. Pengumuman dividen ini merupakan suatu pernyataan dari pihak perusahaan, bahwa perusahaan akan membagikan sebagian dari laba perusahaan sebagai dividen kepada pemilik saham.

    Peristiwa pengumuman dividen merupakan peristiwa yang penting bagi investor. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perhatian yang diberikan oleh media online yang memberitakan pembagian dividen oleh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

    “Pembayaran dividen merupakan suatu kabar yang sangat dinantikan oleh para investor karena ini menunjukkan hasil yang diperoleh dari investasi mereka di perusahaan tersebut,” jelas Prof. Doddy saat Jumpa Pers di Ruang Sidang 2 Gedung dr. Prakosa UNS, Senin (7/9/2020).

    Prof. Doddy mengatakan, penelitian mengenai kandungan informasi dividen telah banyak dilakukan oleh para peneliti antara lain oleh Miller and Rock (1985), Aharony and Swary (1980) dan Petit (1972).

    Prof. Doddy Setiawan, S.E., M.Si., Ph.D., Akt

    Hasil penelitian mereka menunjukkan investor bereaksi terhadap pengumuman dividen. Apabila perusahaan membayar dividen, maka investor akan bereaksi dengan cara membeli saham perusahaan tersebut. Tindakan ini akan mengakibatkan permintaan saham meningkat sehingga harga saham perusahaan mengalami peningkatan. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan pengumuman dividen memiliki kandungan informasi yang berguna.

    “Salah satu  bagian dari tata kelola perusahaan adalah  struktur kepemilikan. Kajian  yang telah saya lakukan menunjukan bahwa struktur kepemilikan yang ada  mempengaruhi kinerja perusahaan, mempengaruhi manajemen laba perusahaan, sehingga struktur kepemilikan sangat penting. Secara garis besar penelitiannya menunjukkan bahwa struktur kepemilikan yang terkonsentrasi justru memberikan dividen yang lebih tinggi” paparnya.

    Selanjutnya dikatakan, struktur kepemilikan terbagi tiga macam yaitu kepemilikan keluarga, BUMN dan asing. Hasil dari kajian yang telah dilakukannya menunjukkan bahwa   adanya perbedaan karakteristik terkait dengan kebijakan dividen.

    Kebijakan  dividen yang dihadapi perusahaan keluarga cenderung membayar dividen lebih sedikit, cenderung  lebih menahan sumber daya mereka dalam perusahaan tersebut. Berbeda dengan kebijakan yang diambil oleh perusahaan asing dan  BUMN yang  cenderung untuk membayar dividen lebih tinggi. Mereka memilih membayarkan dividen, mentrasfer sumber daya dari perusahaan ke pemegang saham dibandingkan dengan kepemilikan keluarga.

    Disarankannya  pada saat seorang investor mengambil keputusan investasi  sebaiknya memperhatikan struktur kepemilikan yang ada dalam perusahaan karena akan sangat berperan untuk mengambil keputusan terkait dengan dividen tersebut. (Humas)

  • Grup Riset Green Economics and Sustainable Development Adakan Pelatihan Seri Pertama

    Grup Riset Green Economics and Sustainable Development Adakan Pelatihan Seri Pertama

    Grup Riset Green Economics and Sustainable Development  Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) menggelar pelatihan  bertema Analisis  Stakeholder dengan menggunakan MACTOR (Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, objectives and Recommendations), Selasa 1 September 2020.

    Grup Riset yang telah menghasilkan banyak produk penelitian dan pengabdian masyarakat tersebut diketuai oleh Prof. Dr. Mugi Rahardjo, M.Si dan beranggotakan Dr. Izza Mafruhah, M.Si, Dr. Suryanto, M.Si, Dr, Evi Gravitiani, M.Si., Dra. Nunung Sri Mulyani, M.Si, Drs. Kresno Sarosa P, M.Si, Drs. Supriyono, M.Si, Drs. Wahyu Agung Setyo, M.Si, Nurul Istiqomah, SE, M.Si. dan Dewi Ismoyowati, SE.,M.Ec. Dev.

    Di pelatihan seri pertama yang digelar secara daring, Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si., menjadi narasumber  tunggal. Tidak hanya dari Jawa, peserta berasal dari berbagai provinsi, diantaranya Aceh, Padang, Jambi, Bali dan Lombok. Sebagian besar adalah dosen dan mahasiswa  dari  berbagai universitas. Ada juga dari pemerintah daerah, Litbang di  daerah Ngawi, Wonogiri, Pacitan , dan juga dari Badan Pusat Statistik.

    Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Pakar Ekonomi FEB UNS

    Di awal paparannya, Dr. Izza menjelaskan bahwa MACTOR adalah alat analisis penggabungan antara kualitatif dan kuantitatif artinya kualitatif yang dikuantitatifkan. Dasarnya adalah bagaimana kita memberikan penilaian atau persepsi atas indepth interview yang telah dilakukan kemudian diolah menggunakan matriks. MACTOR merupakan alat analisis yang belum banyak digunakan peneliti.

    Selanjutnya dikatakan bahwa selama ini, saat melakukan penelitian khususnya yang berimbas kepada kebijakan, kita sering mengatakan saat melakukan analisis terhadap Academics (A) atau Businessman (B) atau Community (C) atau Government (G), seolah olah A maupun B, C, G memiliki suara yang sama.  Sebenarnya perlu dipilah akademisi itu siapa, pelaku bisnis itu siapa, businessman itu siapa, demikian juga government.  Sebagai contoh, ketika kita bicara tentang ekonomi lingkungan, maka akademisi dari ekonomi, akademisi dari sosiologi dan akademisi lingkungan akan memiliki pendapat yang berbeda.

    “Dengan menggunakan alat analisis MACTOR, kita dapat memilah banyak pelaku dan banyak tujuan.  Masing-masing pelaku memiliki aliansi dan konflik, bagaimana cara mereka mengelolanya. Hal ini bisa menjadi satu analisis kebijakan, kita jadi tahu sebenarnya antar aktor itu mana yang bisa beraliansi, antar stakeholder itu mana yang paling berpotensi atau memilik daya saing. Dengan menggunakan alat analisis ini kita bisa menjawab beberapa pertanyaan di atas” jelas dosen yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS.

    Analisis ini akan menggambarkan hubungan antara pemangku kepentingan, seberapa kuat jaringan yang terbentuk, bagaimana divergensi dan konvergensinya. Seberapa penting hubungan antara pemangku kepentingan terhadap pemangku kepentingan yang lain. Misalnya ketika kita bicara pengembangan UMKM yang ada di wilayah Solo Raya, mana yang paling potensi. Setelah dilakukan penelitian di Solo Raya yang paling memiliki pengaruh adalah Dinas Perdagangan, dan kalau di Boyolali adalah Dinas Pertanian, masing-masing pemangku berbeda-beda. Itu yang akan digambarkan dalam analisis ini.

    Analisis ini juga menggambarkan hubungan antara pemangku kepentingan dengan tujuan yang ingin dicapai, mengidentifikasi pemangku kepentingan, membedakan dan mengkategorikan antar pemangku kepentingan, serta menganalisis ketertarikan antar pemangku kepentingan. (Humas)

  • Strategi Penguatan UMKM Di Tengah Masa Pandemi

    Strategi Penguatan UMKM Di Tengah Masa Pandemi

    Strategi dan  kebijakan pemerintah untuk membantu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar bertahan selama krisis harus benar-benar efektif. Dua hal yang harus diketahui oleh pengambil kebijakan agar bantuan kepada UMKM berjalan  efektif yakni melalui identifikasi jalur transmisi apa saja krisis tersebut berdampak pada UMKM dan langkah-langkah mitigasi krisis apa yang telah, sedang dan akan  diambil oleh UMKM.

    Pernyataan itu disampaikan Prof. Tulus Tambunan, pemerhati UMKM dari Universitas Trisakti pada Webinar Series bertajuk Strategi Penguatan UMKM Di Tengah Masa Pandemi yang diselenggarakan Riset Group Fiskal dan Moneter Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS), Kamis, 13 Agustus 2020.

    Prof. Tulus Tambunan, Pemerhati UMKM dari Universitas Trisakti

    Beberapa jalur transmisi yang perlu diidentifikasi diantaranya jalur impor bahan baku, jalur permintaan ekspor, dan jalur permintaan dalam negeri yang turun.

    Dalam kondisi ini, menurutnya, kebijakan yang diperlukan adalah dukungan terhadap peralihan dari pemasaran berbasis  toko atau pertemuan fisik ke pemasaran berbasis daring  yang harus dilakukan oleh semua UMKM, khususnya bagi UMKM yang sangat bergantung kepada kunjungan konsumen. Bantuan pemerintah dapat berupa pendampingan bantuan modal murah atau pendampingan pelatihan.

    Setelah pemerintah mengidentifikasi jalur-jalurnya, pemilik UMKM harus ditekankan  untuk mampu berkreatifitas dan memiliki kemampuan berinovasi serta kecepatan dan keinginan mereka untuk melakukan langkah-langkah kongkrit mitigasi, seperti pemasaran konvensional atau luring menjadi daring, atau mengantar pesanan lewat WhatsApp dan sebagainya.

    “Kebijakan pemerintah harus membantu UMKM dalam melakukan diversifikasi pasar bahan baku dalam negeri, mendampingi UMKM dalam mencari alternatif bahan baku. Selain itu juga membantu melakukan penyesuaian produksi mereka dengan  tujuan mengurangi dampak kenaikan biaya dari mahalnya bahan baku,  misalnya tetap produksi tapi porsi bahan bakunya dikurangi”, jelasnya.

    Sementara itu, narasumber lain, Lukman Hakim, Ph.D., Akademisi FEB UNS menyoroti paradigma baru UMKM sebagai by design.

    Lukman Hakim, Ph.D., Akademisi FEB UNS

    Dikatakannya, UMKM dalam situasi krisis ekonomi termasuk di masa pandemi seperti ini sering dianggap sebagai  katup pengaman. Masyarakat yang terkena PHK atau penurunan pendapatan akan sangat mudah masuk ke sektor UMKM “kaki lima”.

    “Pandangan seperti ini berarti  memahami UMKM  hanya sebagai by accident.  Dan sebagian besar kita memahaminya seperti itu. Pada  kondisi ekonominya bagus, kita tidak pernah bisa berfikir konstruktif bahwa UMKM adalah sesuatu yang memang kita perlukan” tegasnya.

    Selanjutnya dikatakan, paradigma baru UMKM sebagai by design, untuk diciptakan  bukan lagi karena kecelakaan. Seharusnya UMKM harus kita siapkan benar-benar,  dibina sejak kecil menjadi menengah hingga besar. Pemerintah dengan anggarannya mempunyai kapasitas untuk itu, bisa bekerja sama dengan PT, swasta, technopark dan lainnya.

    Dua narasumber lain di webinar tersebut, Agung Pratama Community Leader Qasir.id yang membahas tentang kesetaraan UMKM dalam penggunaan teknologi yang tepat serta Dedy Sunaryo Nainggolan, SE, ME, Credit Reviewer PT Bank DKI yang membahas peran bank dalam mendorong literasi keuangan digital bagi UMKM. (Humas)

  • Applied Microeconomics Research Group Bahas Adaptasi Perubahan Iklim di Sektor Pertanian

    Applied Microeconomics Research Group Bahas Adaptasi Perubahan Iklim di Sektor Pertanian

    Perubahan suhu dan curah hujan merupakan dua indikator utama dari  perubahan iklim  yang telah terjadi  di belahan dunia,  tidak terkecuali di Indonesia. Kondisi seperti  ini berdampak pada seluruh sektor, salah satunya adalah sektor pertanian.

    Sektor pertanian sangat tergantung kepada iklim. Ketika ada perubahan iklim, sektor pertanian terganggu dan dampaknya luar biasa, baik terhadap produksi maupun kestabilan ketersediaan pangan sehingga perlu adanya adaptasi.  Salah satunya adalah adaptasi petani.

    Untuk mendiseminasikan hasil penelitian,  Applied Microeconomics Research Group yang diketuai oleh Prof. Dr. Yunastiti Purwaningsih, MP mengadakan webinar bertemakan  Adaptasi Perubahan Iklim di Sektor Pertanian,  Kamis,  13 Agustus 2020.

    Prof. Dr. Yunastiti Purwaningsih, MP, Dosen FEB UNS

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan bersama dengan tim, Prof. Yunastiti menyampaikan dalam presentasinya bahwa faktor yang berpengaruh terhadap pilihan adaptasi petani adalah umur, pengetahuan terhadap perubahan iklim, luas lahan, pendapatan non pertanian dan keanggotaan dalam kelompok tani.

    Pada lahan tidak beririgasi, semakin tua umur petani maka cenderung akan memilih adaptasi monocrops atau monokultur, yakni menanam satu jenis tanaman saja pada musim tanam yang sama, misalnya hanya menanam padi. Sedangkan petani yang mempunyai pengetahuan tentang perubahan iklim atau yang menjadi anggota dalam kelompok tani akan cenderung memilih jenis adaptasi multicrops  atau multikultur,  yakni menanam lebih dari satu jenis tanaman, misalnya menanam padi dan palawija.

    Dan pada lahan beririgasi, semakin tinggi luas lahan maka petani cenderung untuk memilih adaptasi multicrops. Semakin tinggi pendapatan non pertanian semakin besar peluang petani untuk memilih jenis adaptasi monocrops.

    Dalam penelitian ini, tim  memberikan saran agar  lebih mengefektifkan dan mengoptimalkan  kegiatan penyuluhan pertanian  dalam kondisi perubahan iklim. Materi yang lebih intensif yang disampaikan kepada petani adalah informasi mengenai perubahan iklim dan adaptasi yang diperlukan dalam menghadapi perubahan iklim serta  jenis tanaman yang cocok dan menguntungkan pada budaya multicrops di  tengah perubahan iklim.

    Prof. Dr. Rizaldi Boer, Pakar Manajemen Resiko Iklim, Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim IPB

    Sementara itu, Prof. Dr. Rizaldi Boer, Pakar Manajemen Resiko Iklim, Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim IPB membahas tentang  interkoneksi antara sistem pangan dan perubahan iklim.

    Pertanian pangan berkontribusi terhadap emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Semakin besar kontribusi emisi akan mempengaruhi iklim. semakin tinggi emisi GRK di atmosfir akan menimbulkan kejadian iklim ekstrim yang besar baik intensitas maupun frekwensinya yang berdampak pada berkurangnya kemampuan produksi.

    Lebih lanjut disampaikan untuk mengembangkan sistem pertanian yang rendah emisi dan adaptif  terhahap perubahan iklim,  FAO sudah mengembangkan sisem pertanian yang cerdas iklim yang terangkum dalam 6 komponen yakni penggunaan teknologi yang lebih efisien energi dan sumber energi berbasis non-BBM, penggunaan pupuk non  organik lebih efisien dan pupuk organik meningkat (optimalisasi pemanfatan limbah organik).

    Di sisi pemanfataan lahan, lebih mengintensifkan lahan yang sudah digunakan daripada memperluas ke wilayah baru. Selanjutnya restorasi, konservasi dan penggunaan SDA yang lebih lestari  serta pemanfaatan informasi iklim. Informasi prakiraan iklim digunakan secara efektif dalam mengelola risiko iklim dan dijadikan pertimbangan dalam pengembangan kegiataan usaha tani. (Humas)

  • Webinar Prodi Maksi FEB Angkat Tema Optimalisasi Pembelajaran Daring pada Program Pascasarjana

    Webinar Prodi Maksi FEB Angkat Tema Optimalisasi Pembelajaran Daring pada Program Pascasarjana

    Dalam proses pembelajaran daring, ada lima hal yang harus dipersiapkan dosen  agar proses pembelajaran berjalan efektif, yakni mempersiapkan materi pembelajaran (learning object), menyampaikan materi pembelajaran (learning delivery), mempersiapkan interaksi pembelajaran  (learning engagement), mempersiapkan aktifitas dalam pembelajaran (learning activities) dan mempersiapkan assessment dalam pembelajaran (learning assessment).

    Kita harus mendorong agar mahasiswa bukan hanya mengkonsumsi konten, bukan hanya download materi dan tugas-tugas namun mengalami proses untuk learning activities. Aktifitas  pembelajaran yang membuat mahasiswa memiliki engagement (makna) atau kesan dan experience (pengalaman) .

    Dr. Ir. Ridi Ferdiana, ST, MT, IPM, Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

    Pernyataan itu disampaikan Dr. Ir. Ridi Ferdiana, ST, MT, IPM, Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada pada Webinar yang diselenggarakan  Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Sabtu 29 Agustus 2020.

     

    Selanjutnya dikatakan, pembelajaran daring itu bukan sesuatu yang mudah, membutuhkan  sekumpulan latihan, baik  dari sisi pengajar maupun mahasiswa. Dan yang paling penting adalah bagaimana interaksi pengalaman pembelajaran dari luring itu bisa kita pindahkan sebagian besar ke daring, sehingga aktifitas pembelajaran menjadi aktifitas yang penting melebihi dari aspek-aspek konten yang mungkin kita kembangkan.

    Sebelum mengarah ke pembelajaran daring, kita harus  memahami  juga infrastruktur pembelajaran.

    “Yang sangat perlu diperhatikan adalah bukan hanya kita memilih sinkronus dan asinkronus tapi juga harus melihat  kondisi mahasiswa. Sebaiknya dosen melakukan survei di kelas masing-masing sebelum merancang learning delivery untuk memastikan apakah perangkat lunaknya sudah siap atau belum” jelasnya .

    Hal senada disampaikan oleh Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS dalam pembelajaran daring perlu usaha lebih untuk mempersiapkan materi pembelajaran, harus dibuat semenarik mungkin, harus memperhatikan sisi pedagogi dari suatu materi,  mahasiswa perlu dimotivasi dan diorganisasikan agar mereka bisa terlibat secara langsung dan juga sarana dan prasarana harus mendukung.

    Sementara itu, Dr. Sri Suning Kusumawardani, ST, MT,  Dosen DTETI FT Universitas Gadjah Mada menyampaikan meskipun  pembelajaran daring bukanlah sesuatu yang mudah namun pembelajaran ini bisa kita lakukan dengan pengalaman-pengalaman luring,  kita coba  merepresentasikan di dalam daring.   Meskipun ada keterbatasan, kita dapat mengkombinasikan antara sinkronus dengan asinkronus secara  harmonis.

    Dr. Sri Suning Kusumawardani, ST, MT, Dosen DTETI FT Universitas Gadjah Mada

    Pemaparan ketiga narasumber diikuti seksama oleh sekitar 40 peserta webinar dilanjutkan dengan diskusi  interaktif.  Acara yang bertema Optimalisasi Pembelajaran Daring pada Program Pascasarjana di Era New Normal dibuka oleh Ari Kuncara Widagdo, S.E., M.B.A.Ph.D,Ak. Kepala Program Studi Magister Akuntansi FEB UNS. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Tim Pengabdian Masyarakat FEB Beri Pelatihan dan Pendampingan UMKM Kuliner

    Tim Pengabdian Masyarakat FEB Beri Pelatihan dan Pendampingan UMKM Kuliner

    Tim pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) yang diketuai oleh Dr. Bambang Hadinugroho, S.E., M.Si. menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Wedangan Lawang Djoendjing, Kamis 27/8/2020.

    Tim yang beranggotakan Dra. Ig. Sri Seventi Pudjiastuti, M.Si., Dr. Sri Hartoko, MBA, Ak, Heru Agustanto, SE, ME, Drs. Sunaryanto, M.M., Yohana Tamara,SE, M.M, Dr. Endang Suhari, M.Si dan Drs Harmadi,M.M. secara bergantian memberikan materi pelatihan dan pendampingan  15 orang pelaku usaha kuliner di Kecamatan Jebres Surakarta.

    Dra. Ig. Sri Seventi Pudjiastuti, M.Si., Dosen FEB UNS

    Selain itu, Tim juga mendatangkan praktisi Gojek untuk memberikan pelatihan kepada peserta dalam penjualan online dengan aplikasi.

    Materi yang disampaikan meliputi akuntansi dan perpajakan, manajemen dan manajemen keuangan sederhana untuk pembukuan, manajemen pemasaran digital serta membantu kemitraan usaha dengan gojek (gofood, go send, go shop).

    Tim berharap dengan pelatihan dan pendampingan tersebut mampu membantu pencapaian peningkatkan profit UMKM.

    Para pelaku UMKM perlu memahami manajemen pemasaran sebagai cara yang paling efektif untuk memperkenalkan produk dan jasa kepada masyarakat sehingga konsumen mau melakukan pembelian dan akhirnya mampu meningkatkan profit perusahaan secara keseluruhan.

    Strategi pemasaran harus dilakukan UMKM terhadap produk, penetapan harga, lokasi dan juga dan promosi.

    Drs. Sunaryanto, M.M., Dosen FEB UNS

    Dalam hal strategi pemasaran produk, UMKM harus menciptakan produk yang unik, menarik dan memiliki kelebihan dari produk lain serta terus berinovasi memenuhi selera dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

    Selain itu, dalam hal promosi, UMKM harus mampu beradaptasi dengan melakukan pemasaran secara digital dengan memanfaatkan internet.

    Yohana Tamara,SE, M.M, Dosen FEB UNS

    Kegiatan ini berjalan lancar dan mendapat tanggapan positif dari seluruh peserta. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Dua Narasumber Webinar Beri Tips Publikasi Ilmiah

    Dua Narasumber Webinar Beri Tips Publikasi Ilmiah

    Menulis menjadi suatu keharusan bagi mahasiswa untuk membagikan ide, menyelesaikan permasalahan, menambah ilmu pengetahuan dan membangun bangsa. Menulis sangat berkaitan erat dengan publikasi. Hasil penelitian seseorang dapat dilihat oleh masyarakat umum melalui adanya publikasi.

    Secara akademik, publikasi berguna untuk presentasi suatu seminar, hibah penelitian dan lain sebagainya. Sedangkan secara non akademik publikasi digunakan untuk kontribusi lapangan, pertimbangan untuk promosi serta reputasi. Publikasi dapat dilakukan di beberapa sumber seperti jurnal, buku, tesis, makalah, majalah dan lainnya.

    Untuk mempublikasikan paper dalam jurnal, yang harus disiapkan mahasiswa adalah menyiapkan manuskrip, mengidentifikasi langkah penting dalam penerbitan, mencari jurnal yang tepat, menerbitkan makalah ke jurnal yang terindeks oleh SCOPUS atau WoS.

    Hal tersebut disampaikan Prof. Tamat Sarmidi dari Universiti Kebangsaan Malaysia mengawali presentasinya dalam Webinar Academic Writing and Publication Tips yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan (MESP) Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret FEB UNS, Kamis, 27 Agustus 2020.

    Prof. Tamat Sarmidi dari Universiti Kebangsaan Malaysia

    Selanjutnya disampaikan, dalam penulisan pendahuluan sebuah paper hindari kalimat “studi pertama”, “sebelumnya belum dijelaskan” dan kata-kata negatif lain. Tulis sistematika yang logis agar pembaca dengan mudah memahami makalah atau jurnal kita.

    Dan untuk literature review menampilkan teori atau penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian kita, juga harus menekankan apa yang kita ketahui dan apa yang belum kita ketahui.

    Dalam mengangkat teori atau penelitian terdahulu harus memiliki landasan terlebih dahulu mengapa penting bagi penelitian kita. Hindari mengutip terlalu luas, mengutip jurnal dibawah publikasi tahun 2000 dan jangan mengutip di jurnal yang memiliki grade rendah.

    “Minta rekan anda untuk membaca hasil penelitian anda. Periksa kembali penulisan, pengumpulan data, pengolahan data serta logika hasil penelitian anda seperti teknik estimasi, ukuran sampel, indikator penelitian, variabel penelitian dan lainnya. Hindari kata-kata non kuantitatif, kata “tentu saja”, kata “jelas” dan minimalkan penggunaan kata “namun”, “sebagai tambahan”, “selain itu” paparnya.

    Sementara itu, disesi kedua webinar, Malik Cahyadin, SE, M.Si, dosen FEB UNS juga menegaskan bahwa    Iiteratur review itu bukan meringkas tapi mensintesis referensi, mengkaitkan inti satu hal dengan hal lain menjadi satu alur cerita yang jadi fokus isu atau tujuan riset kita .

    Malik juga memberikan solusi terhadap beberapa kendala yang sering dialami mahasiswa dalam publikasi, diantaranya mahasiswa harus aktif dalam kegiatan penulisn ilmiah, aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat di berbagai skema dan sumber pendanaan yang memenuhi syarat, jangan menunda menuliskan ide pubikasi dari hasil riset yang telah disusun dan yang terpenting juga gunakan software bahasa Inggris seperti grammarly dan lain-lain, tetapi paper tetap proffread. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

     

  • Prodi EP FEB Gelar  The 1st International Conference on Sustainable Business and Economic Environment

    Prodi EP FEB Gelar  The 1st International Conference on Sustainable Business and Economic Environment

    Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, mengadakan The 1st International Conference on Sustainable Business and Economic Environment (ICSBEE) pada Rabu, 12/8/2020 secara daring.

    Acara tersebut menghadirkan Prof. Arif Anshory Yusuf dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) sebagai keynote speaker dan tiga plenary speaker yaitu Prof. Ruhul Salim dari Curtin University yang saat ini menjabat sebagai Director of Graduate Research in Economics and Finance Curtin University, Associate Prof. Tamat Tarmizi dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), saat ini menjabat sebagai Deputy Dean of the Faculty of Economics and Management in Research and Innovation, Wakil President of the Persatuan Econometrics Malaysia serta menjadi editorial board di dua jurnal internasional Jurnal Ekonomi Malaysia and International Journal of Economics and Management, dan juga  Dr. Vincent Hadi Wiyono,  akademisi FEB UNS.

    Dr. Izza Mafruhah, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS dalam sambutan membuka acara menyampaikan ungkapan terima kasih kepada para pembicara yang telah bersedia hadir, serta para peserta ICSBEE.

    “ICSBEE 2020 bertujuan untuk menumbuhkan ide-ide dan inovasi sebagai kontribusi yang dapat digunakan untuk memastikan bahwa target SDG (Sustainable Development Goals) Indonesia di tahun 2020 tetap tercapai meski ditengah kondisi Pademi Covid-19,” ungkap Dr. Izza.

    Lebih lanjut, Dr. Izza berharap supaya ICSBEE dapat meningkatkan jumlah publikasi artikel ilmiah di FEB UNS,  dari target 50 publikasi internasional, saat ini sudah ada 35 artikel yang terpublikasi di jurnal internasional ter-index scopus.

    Keynote speech oleh Prof. Arif Anshory Yusuf membahas SDG di Indonesia, dampak dan penyesuaian selama pandemi.

    Dalam presentasinya, Dr. Arif yang saat ini menjabat sebagai President of Indonesian Regional Science Association, menyoroti dampak pandemic Covid-19 pada dua aspek SDG yaitu SDG 1 Kemiskinan dan SDG 10 Kesenjangan Ekonomi.

    Salah satu temuan dalam penelitian beliau mengenai SDG Indonesia adalah bahwa penurunan mobilitas penduduk di Indonesia selama pandemi telah meningkatkan kesenjangan ekonomi.

    Menginjak ke sesi plenary, terdapat tiga pembicara yang juga menyoroti berbagai permasalahan terkait kondisi perkembangan SDG di tengah pandemi Covid-19, Prof. Ruhul Salim menyampaikan presentasi berjudul “SDG Pattern in Asia After the Pandemic”, Associate Prof. Tamat Tarmizi dengan judul “Which Macroeconomic Model Fit During and After Pandemic?”, dan Dr. Vincent Hadi Wiyono menyampaikan materi berjudul “How Does Social Capital Affect the Achievement of SDG’s During and After Pandemic in Indonesia”.

    Acara dilanjutkan dengan parallel session, peserta konferensi dibagi kedalam sesi presentasi untuk mempresentasikan artikel ilmiah yang dikirimkan ke ICSBEE 2020. Setiap peserta diberi waktu 10 menit untuk mempresentasikan artikelnya yang kemudian akan mendapatkan komentar dan saran perbaikan, oleh Chairman yang bertugas di setiap ruang paralel.  (Aulia/Humas)