FEB

Kategori: fakultas

  • FEB UNS Kerjasama dengan Bank Jateng, Salurkan Bantuan untuk Desa Binaan

    FEB UNS Kerjasama dengan Bank Jateng, Salurkan Bantuan untuk Desa Binaan

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menjalin kerjasama dengan Bank Jateng untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat desa binaan FEB.

    Di tahap awal kerjasama, Bank Jateng memberikan bantuan berupa uang tunai untuk desa binaan FEB khususnya masyarakat Desa Cangkringan Banyudono, Boyolali yang beberapa waktu lalu terkena musibah. Sejumlah 57 keluarga harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari karena beberapa warganya positif Covid-19.

    Penyerahan bantuan dilakukan di Ruang Ruang Sidang I, Kamis 6 Agustus 2020, disaksikan oleh Pimpinan FEB UNS serta perwakilan dari Bank Jateng.

    Dr. Dwi Prasetyani, M.Si., Kepala Unit Kerjasama FEB UNS menyambut baik bantuan dari Bank Jateng sebagai langkah awal untuk memulai kerjasama.

    Dikatakannya, dalam rangka melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian masyarakat, FEB UNS miliki beberapa mitra desa binaan. Untuk melakukan pendampingan terhadap masyarakat di desa binaan tentu memerlukan banyak kerjasama dengan pihak eksternal diantaranya adalah dari pihak perbankan.

    Ditegaskan pula oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS, Dr. Izza Mafruhah, M.Si. bahwa FEB UNS sangat terbuka untuk menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain, termasuk perbankan. Terlebih di FEB terdapat beberapa laboratorium yang disana akan banyak pelatihan-pelatihan yang bisa dikembangkan, dan peran dari praktisi perbankan sangat besar.

    “Dalam rangka mengimplementasikan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan program magang 6 bulan, jika Bank Jateng menjadikan FEB sebagai salah satu mitra utama maka akan kita siapkan mahasiswa-mahasiswa terbaik kami untuk magang” paparnya.

    Sementara itu, Gentur Sumaryanto, Pimpinan Bidang Pemasaran Bank Jateng mengatakan pihaknya sangat terbuka untuk melakukan kerjasama lebih lanjut dengan FEB UNS, baik dalam bentuk magang, pelatihan-pelatihan ataupun pengembangan desa binaan FEB. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Prodi S-1 Manajemen Gelar Pleno Lokakarya Kurikulum

    Prodi S-1 Manajemen Gelar Pleno Lokakarya Kurikulum

    Program Studi (Prodi) S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar Pleno Lokakarya Kurikulum, Selasa-Rabu, 4-5 Agustus 2020.

    Pembahasan di hari pertama lokakarya, fokus pada Bidang Minat Studi yakni Manajemen Operasi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pemasaran, Manajemen Keuangan dan Pleno Kurikulum Konvensional. Sedangkan di hari kedua fokus pada bidang Kampus Merdeka meliputi Bidang Penelitian, Magang Kerja, Kewirausahaan, Proyek di Desa dan Pertukaran Pelajar.

    Dalam sambutan sekaligus membuka acara, Dr. Atmaji, MM, Kepala Prodi S-1 Manajemen FEB UNS mengatakan lokakarya kurikulum ini memiliki makna yang berbeda dengan lokakarya sebelumnya karena beririsan dengan Kampus Merdeka.

    “Rekonstruksi kurikulum saat ini semestinya menggunakan dua paradigma, Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 berdasarkan Permenristekdikti No. 50/2018 diramu dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka berdasarkan Permendikbud No. 3/2020.” paparnya.

    Selanjutnya dijelaskan kurikulum tahun 2020 yang mengacu pada Permendikbud No. 3/2020 tentang Merdeka Belajar Kampus Merdeka adalah hal yang baru dan harus dicermati bersama dari panduan dan buku saku yang telah diterbitkan Kemendikbud. Dalam Merdeka Belajar, mahasiswa dapat mengambil SKS di luar perguruan tinggi sebanyak 2 semester yang setara dengan 40 Satuan Kredit Semester (SKS) serta dapat mengambil SKS di prodi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak 1 semester yang setara dengan 20 SKS.

    Terkait dengan pelaksanaan Kurikulum Kampus Merdeka, berdasarkan pembahasan bersama di Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP), UNS akan mulai menerapkan Kampus Merdeka pada semester V, jadi semester depan. Saat ini aturannya masih dalam proses penggodokan.

    Menurutnya, paling tidak prodi sudah membuat rambu- rambu tentang bagaimana merekognisi kegiatan belajar di luar kampus selama tiga semester dan juga satuan kredit semester selanjutnya didefinisikan sebagai jam kegiatan, bukan jam belajar.

    Dalam aturan baru di UNS yang akan terbit sekitar bulan Oktober atau November 2020, bentuk-bentuk merdeka belajar ada 10 bidang yakni magang atau praktik kerja, asistensi mengajar di satuan pendidikan, penelitian/riset, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, studi/proyek independen, membangun desa/kuliah kerja nyata tematik, pelatihan militer, bentuk lain yang ditetapkan oleh Rektor, serta pertukaran mahasiswa.

    Tidak hanya sekedar merekonstruksi kurikulum namun juga mengkonstruksikan beberapa hal yakni persyaratan sehingga mahasiswa boleh atau tidak mengikuti kegiatan itu, mekanisme, pembentukan penanggung jawab per bidang, menyusun rubrik penilaian termasuk kemungkinan adanya sanggahan dari mahasiswa, kemungkinan pembiayaan mandiri atau kerjasama dan juga monitoring.

    Dr. Atmaji juga berpesan, dalam pelaksanaan Kurikulum Kampus Merdeka ini, peran Pembimbing Akademik (PA) menjadi sangat penting.

    “PA perannya sangat luar biasa dalam Merdeka Belajar, PA akan ditanya mahasiswa dalam banyak hal, mohon PA selalu mempelajari panduan Kampus Merdeka dari Kemendikbud’ tegasnya.

    Pada pleno lokakarya tersebut, para peserta banyak memberikan masukan kepada masing-masing bidang untuk menyempurnakan kurikulum prodi.

    Diantara masukan peserta, harus ada MoU dan MoA diantara perguruan tinggi yang melakukan pertukaran mahasiswa karena hubungannya dengan kewajiban pelaporan hasil studi mahasiswa ke pangkalan data perguruan tinggi. Perlu ditetapkan pula matakuliah yang dipertukarkan dan termasuk kuota mahasiswanya. Selain itu harus ada seleksi administrasi dan akademik.

    Program kampus merdeka dengan konvensional tidak bersifat kompetitif, namun berjalan sinergi dan saling melengkapi. Prodi bertanggung jawab terhadap berjalannya program tersebut.

    (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Siapkan UMKM Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru

    Siapkan UMKM Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru

    Menuju adaptasi kebiasaan baru (new normal) secara otomatis kita harus masuk ke dalam situasi yang selalu menjaga jarak atau mengurangi kontak, istilah yang digunakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional dikenal dengan  less contact economy.  Perubahan gaya hidup dan tatanan ekonomi selama pandemi mempengaruhi bagaimana bentuk new normal, adanya pergeseran pola bisnis, ketahanan dan efisiensi, pergeseran struktur industri, pergeseran perilaku masyakarat, revolusi industri 4.0, serta ekosistem digital yang terhubung antar sektor.

    New normal akan mengakibatkan pergeseran pola ekonomi yang minim pertemuan tatap muka atau less contact economy. Less contact economy ditandai dengan adanya hyperconnectivity antar manusia melalui teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Beberapa contoh hyperconnectivity yang sudah diterapkan selama pandemi diantaranya e-commerce dan logistik.

    Hal itu disampaikan Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) saat menjadi salah satu narasumber pada Webinar bertajuk Penanganan Dampak Covid 19 Terhadap Pelaku UMKM di Jawa Tengah yang digelar oleh  Bappeda Jawa Tengah, Senin 27 Juli 2020.

    Selanjutnya disampaikan, pemerintah telah melakukan  langkah-langkah  penanganan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pasca Covid 19 diantaranya penangguhan pajak, penangguhan pembayaran jaminan sosial, penangguhan pembayaran angsuran hutang dan sewa yang berfokus pada wirausaha untuk meringankan kendala likuiditas,  pemberian jaminan pinjaman berupa Government Guarantee  untuk usaha-usaha baru dengan modal yang kecil, penyediaan hibah dan subsidi pasca Covid 19 untuk memulai usaha lagi, meningkatkan pinjaman dengan bunga bersubsidi, meningkatkan kemampuan UMKM di bidang teknologi untuk mengadopsi munculnya new normality  yang memaksa UMKM mengubah pola produksi dan pemasaran serta skema dan pendampingan khusus  dalam penyiapan pengembangan usaha pasca Covid 19.

    Bagaimana kondisi Jawa Tengah untuk menghadapi adaptasi kebiasaan baru tersebut?. Perlu dilakukan penelitian mengenai bagaimana fase-fase kondisi ekonomi masyarakat, mulai dari krisis, depresi, recovery, development.

    “Kita perlu mengidentifikasi secara detil pada level kabupaten kota, sehingga nanti kabupaten kota punya data yang akurat kira-kira siapa yang akan dibantu,  bagaimana model bantuannya dan seperti apa pendampingan yang akan dilakukan, kemudian identifikasi aturan pendukungnya baik pada level pemerintah pusat, kementerian/ lembaga maupun level daerah. Selanjutnya perlu dilakukan pendampingan usaha dan implementasi new normal’ paparnya.

    Dr. Izza memberikan usulan aspek kelembagaan untuk menuju adaptasi kebiasaan baru sehingga akan muncul konsep siapa melakukan apa,  agar tidak tumpang tindih.  Jika tidak terkonsep maka masing-masing akan bergerak sendiri-sendiri.

    Menurutnya, stakeholder dipilahkan ke dalam 4 kelompok yakni regulator, eksekutor, supporting institution dan target atau end user.  Aspek regulatornya berada pada kementerian/lembaga, pemerintah daerah dan dinas terkait. Dari regulasi yang sudah diterapkan kemudian di eksekusi  oleh dinas-dinas terkait, lalu harus ada supporting institution oleh perbankan, akademisi dan juga masyarakat. Target atau end usernya adalah UMKM atau pelaku usaha.

    “Kami juga mengusulkan semacam rumah virtual UMKM, yang disana terdapat virtual community untuk  memberikan pemahaman, sosialisasi kepada masyarakat bagaimana penggunaan virtual yang mendukung rumah virtual UMKM” jelasnya.

    Rumah virtual UMKM mendukung UMKM dari aspek produksi, masyarakat memproduksi apa saja kemudian mereka menciptakan pasarnya sendiri (supply created own demand). Selain itu juga ada  pendidikan dan pelatihan pendampingan dan pengembangan ekonomi, pemasaran dan trading house, serta bantuan alat dan permodalan.

    Dukungan dan kerjasama yang baik semua pihak terhadap konsep aspek kelembagaan untuk menuju adaptasi kebiasaan baru sangat diperlukan agar proses recovery kita berjalan dengan lancar dan cepat. (Humas)

  • International Webinar Bahas Financial Crime, Fraud and Cybersecurity

    International Webinar Bahas Financial Crime, Fraud and Cybersecurity

    Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Taufiq Arifin, S.E., M.Sc., Ph.D, Ak, menjadi salah satu pembicara dalam webinar internasional yang diselenggarakan UNS bekerja sama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia, didukung oleh Pusat Unggulan Iptek (PUI) Fintech dan Banking serta FEB UNS,Selasa 28/7/2020.

    Dalam presentasiangkatnya adalah tentang peran fintech dalam financial fraud atau kecurangan di bidang keuangan, dengan menekankan pada apakah fintech mendukung financial fraud atau justru dapat digunakan untuk mengurangi atau bahkan mengeliminasi fraud.

    “Fintech membuat industri jasa keuangan (financial service) dapat menyediakan jasa yang lebih cepat kepada pelanggan. Akan tetapi, industri jasa keuangan adalah yang paling sering mengalami insiden cybersecurity dibandingkan industri lainnya,” jelasnya.

    Cybersecurity menjadi sebuah topik yang penting untuk dipahami mengingat serangan kriminal cyber (cyberattack) yang terjadi pada industri jasa keuangan semakin hari menjadi lebih canggih dan beragam.

    Dalam hal ini Dr. Taufiq memberi contoh salah satu kasus cyberattack yang baru-baru ini terjadi di Tokopedia yang notabene adalah salah satu penyedia jasa e-commerce terbesar di Indonesia.

    Delapan pembicara lain yang turut menyemarakkan webinar internasional tersebut yakni Prof. Stuart Madnick dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Prof. John Goodell dari University of Akron, AS, Dr. Dominic Thomas-James dari University of Cambridge, UK dan Yale University, USA, Prof. Marianne Junger dari University of Twente, Netherlands, Dr. David Chaikin dari University of Sydney, Australia, Dr. Baharom Abdul Hamid dari INCEIF, Malaysia, Dr. Mohamad Iqbal Aruzzi dari BPK , dan  Dr. Richard Alexander dari SOAS University of London, UK.

    Sementara itu, keynote speech disampaikan secara langsung oleh Dr. Agung Firman Sampurna, CSFA selaku Direktur BPK RI.

    Dalam pidatonya Dr. Agung, menekankan pada penggunaan sistem teknologi dan informasi dalam bidang audit investigatif untuk mendukung kemampuan deteksi dan preventif terhadap fraud. Dikatakannya bahwa risiko dibidang teknologi termasuk ke dalam 20 besar tipe risiko yang membutuhkan atensi khusus.

    International Webinar Financial Crime, Fraud and Cybersecurity yang dibuka oleh Rektor UNS,  Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum menarik perhatian sebanyak lebih dari 5.000 an peserta yang mendaftar dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, dosen, staf BPK, hingga peneliti dari luar negeri. Peserta mengikuti acara melalui Zoom Cloud Meeting dan Youtube Live Streaming di Channel Youtube Universitas Sebelas Maret. (Humas)

     

     

  • Tim Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS Bantu Masyarakat di Cangkringan

    Tim Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS Bantu Masyarakat di Cangkringan

    Tim Satgas Dampak Covid-19 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) memberikan bantuan 57 paket kebutuhan pokok  kepada  masyarakat di Desa Cangkringan, Banyudono, Boyolali, Jumat 24 Juli 2020.

    Bantuan yang berupa  paket kebutuhan terdiri dari  beras, minyak goreng, gula pasir, teh, gandum,  kecap, sabun mandi dan lain-lain diserahkan langsung oleh  Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons). Ph.D, Ak., Dekan FEB UNS kepada Ibu Himawati, Kepala Desa Cangkringan.

    Bantuan diberikan sebagai wujud empati FEB UNS kepada masyarakat yang terkena musibah, khususnya di Desa Cangkringan yang mengharuskan  57 kepala keluarga menjalani isolasi mandiri selama 14 hari karena beberapa warga positif Covid-19.

    Prof. Djoko berharap dengan bantuan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, meringankan beban dan memberikan semangat untuk sehat.

    “Kami atas nama keluarga besar FEB UNS, teman-teman, kolega, alumni, mahasiswa FEB UNS menyerahkan bantuan kebutuhan pokok untuk masyarakat Cangkringan. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban dan menambah semangat agar segera sembuh dan sehat. Semangat gotong royong, guyup rukun dan empati harus terus dikobarkan untuk menghadapi tantangan hidup ke depan. Semoga bermanfaat dan barokah. Urip sing urup memayu hayuning bawana” katanya saat menyerahkan bantuan.

    Ibu Himawati yang saat itu didampingi oleh  pejabat desa lainnya menyampaikan ucapan terima kasih kepada keluarga besar FEB UNS atas kepeduliannya berbagi kepada masyarakat di Cangkringan.

    “Saya selaku Kepala Desa Cangkringan dan juga atas nama pemerintah desa sangat senang dan berterima kasih sekali atas kedatangan Dekan FEB UNS dan rombongan  yang telah ikut peduli kepada masyarakat kami dengan memberikan paket kebutuhan pokok. Bantuan tersebut sangat membantu meringankan masyarakat khususnya untuk 57 KK di RT 4 yang saat ini sedang menjalani karantina mandiri sejak tanggal 21 Juli  dan insyaAllah berakhir tanggal 3 Agustus besok” jelasnya.

    Hingga saat ini, pemerintah desa Cangkringan masih menunggu dari dinas kesehatan terhadap  hasil swab 7 warganya yang lain yang masih belum keluar, semoga hasilnya negatif agar tidak memperpanjang proses karantina yang sedang dijalani saat ini.

    Kades Cangkringan juga mohon doa dari keluarga besar FEB agar musibah yang menimpa sebagian warganya bisa segera tersingkir dan warga kembali sehat dan bisa beraktifitas kembali. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

     

  • Prof. Rahma: Penyesuaian Program Pengabdian  Masyarakat  Di Masa Pandemi

    Prof. Rahma: Penyesuaian Program Pengabdian  Masyarakat  Di Masa Pandemi

    Di masa pandemi Covid-19, Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah melakukan beberapa  penyesuaian kegiatan atau program pengabdian masyarakat diantaranya pelaksanaan kegiatan di rumah, Work From Home (WFH) dengan video conference, pengalihan sejumlah judul  pengabdian kepada masyarakat yang memiliki potensi untuk berkontribusi dalam penyelesaian pandemi serta pelaksanaannya memperhatikan aspek keselamatan pengabdi, orang lain, dan lingkungannya selama pengabdian masyarakat.

    Kemenristekdikti juga mendorong penggiat ilmu pengetahuan dan teknologi,  mahasiswa,  pakar industri  dan masyarakat umum untuk berinovasi melalui ide, solusi produk, sistem, platform atau aplikasi mobile/web untuk bergotong royong dalam mengatasi pandemi.

    Pernyataan itu disampaikan Prof Rahmawati, M.Si, Ak, Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) saat menjadi narasumber di sebuah Webinar di Universitas Janabadra.

    Selanjutnya disampaikan, model pemberdayaan masyarakat dimasa pandemi bisa dilakukan secara daring atau online. Demikian juga dalam proses pemasaran produk yang dihasilkan oleh masyarakat dilakukan melalui e-commerce.

    Namun jika memang  terpaksa harus  offline harus selalu memperhatikan protokol kesehatan. Seperti yang dilakukan oleh tim pengabdi dari UNS yang diketuai Prof. Rahmawati bekerja sama dengan Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat di wilayah Wijirejo, Pandak, Bantul.

    Tim yang beranggotakan Dr. Ari Kuncoro Widagdo, Dr. Sarah Rum Handayani, Dr. Sri Wahyu Agustiningsih, Fitri Susilowati M. Sc, Sri Murni M.Si, Ir Warseno M Si, Djoko Karyono MM dan Siti Nurlaela M Si. saat itu fokus pada pengembangan diversifikasi produk dengan pelatihan dan pendampingan ecoprint pada binaan UKM Batik Wongso.

    “Selama pendampingan di Bantul dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, ada pembatasan orang yang dibina,  bermasker dan menjaga jarak dan untuk konsultasi lebih lanjut bisa dilakukan secara online, bisa menggunakan email ataupun whatsapp ” jelasnya .

    Prof. Rahma memberikan semangat dan motivasi kepada para pelaksana pengabdian masyarakat untuk tetap giat melaksanakan tugas pengabdian meskipun dengan segala keterbatasan di masa pandemi.

    Pada kesempatan itu, Prof. Rahma juga mempresentasikan pengabdian masyarakat yang dilakukannya  sebelum pandemi bersama tim dengan tema Penguatan Ekspor Sarung Goyor Berbasis Online Village On One Produk (Ovop) di Sragen, mulai dari mempersiapkan proposal pengabdian, pelaksanaan hingga luaran yang dicapai di tingkat nasional maupun internasional.

    Untuk kepentingan akreditasi prodi, Prof. Rahma  juga menekankan agar dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat sebaiknya selalu melibatkan mahasiswa, baik pada program  S-1, S-2  atau S-3. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Tim Pengabdian Masyarakat FEB Kembangkan Potensi Batik Ciprat Bantu Penyandang Disabilitas

    Tim Pengabdian Masyarakat FEB Kembangkan Potensi Batik Ciprat Bantu Penyandang Disabilitas

    Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Surakarta bekerjasama dengan pemerintah Desa Karangpatihan Ponorogo menggelar Webinar bertema Implementasi Pembelajaran Batik Ciprat bagi Penyandang Disabilitas sebagai Upaya Peningkatan Perekonomian di Kampung Idiot Ponorogo, Selasa 22 Juli 2020.

    Ketua Pengabdian Masyarakat, Dr. Evi Gravitiani, S.E., M.Si. dalam sambutannya mengatakan webinar ini adalah satu rangkaian acara dari Program Pengabdian Masyarakat yang beranggotakan dosen FEB UNS yakni Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si,. Ph.D., Prof. Dr. Mugi Rahardjo, M.S, Prof. Dr. Julianus Johnny Sarungu, M.S serta Rochmat Aldy Purnomo, M.Si. mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB UNS sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

    Menurut Dr. Evi, program pengabdian masyarakat ini, persiapannya telah dilakukan sejak bulan Maret. Satu buku tentang Batik Ciprat sedang dalam proses editing dan tim bersyukur sudah memperoleh 3 HAKI dan ada 2 paper pengabdian yang sudah di submit ke jurnal pengabdian.

    Selain Bhimo Rizky, PhD, narasumber lainnya adalah Eko Mulyadi, Kepala Desa Karangpatihan Ponorogo dan Samuji, pelaku sekaligus sebagai pendamping dari warga tuna grahita yang memproduksi batik ciprat.

    Dalam paparan yang bertajuk Humanomics dalam Pembangunan Berkelanjutan, Belajar dari Batik Ciprat di Kampung Idiot Ponorogo, Bhimo mengangkat konsep bagaimana agar bisnis Batik Ciprat tetap berjalan dan bahkan meningkat namun juga tetap menghargai sisi kemanusiaan warga di sana yang melakukan proses produksi. Karena ada keterbatasan, kita perlu membantu mereka dalam memasarkan dan memantaunya serta menjaga kualitasnya dan menjaga sisi keamanan dari bahan bakunya.

    Terlebih di masa pandemi, dimana pekerja juga dikenalkan dengan teknologi, maka perlu pendampingan yang lebih intensif.

    “Kita mendorong pekerja yang memiliki kebutuhan khusus tersebut agar mampu berkembang, mereka tidak diperlakukan sekedar sebagai pekerja namun juga menjaga keberlangsungan sosialnya. Kita sebagai penyangga produk mereka sehingga ada yang menampung dan mereka tinggal menunggu feedbacknya, tidak harus mereka yang memasarkan atau mempromosikannya. Perlu diperhatikan pula bagaimana kualitas hidup mereka apakah semakin berkembang”, jelas Bhimo.

    Sementara itu Eko Mulyadi mengatakan warga yang memiliki keterbatasan, khususnya tunagrahita diberi keterampilan Batik Ciprat hingga mereka benar-benar menguasainya.

    Upaya ini dilakukan sebagai wujud pemberdayaan masyarakat, selain memberdayakan ekonomi sekaligus mengangkat strata mereka.

    Warga memiliki pendapatan harian, bulanan, triwulan dan tahunan. Dengan keempat pendapatan yang mereka terima, kebutuhan hidup mereka sudah terpenuhi. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Seminar Pengabdian Masyarakat Bahas Kebebasan Finansial di Era Kenormalan Baru

    Seminar Pengabdian Masyarakat Bahas Kebebasan Finansial di Era Kenormalan Baru

    Secara umum kebebasan finansial dapat diartikan dengan memiliki tabungan, investasi, dan uang tunai untuk membiayai hidup yang kita inginkan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Untuk mendapatkan kebebasan finansial dapat dimulai dengan menetapkan target, lalu mengidentifikasi situasi, menganalisis kesenjangan dan terakhir merencanakan pencapaian tujuan.

    Penetapan target dapat ditentukan apakah pada tahapan  passive income seseorang dapat mencukupi semua kebutuhan pokok, ataukah passive income dapat memenuhi sampai dengan kebutuhan sekunder atau hingga memenuhi kebutuhan tersier.

    Hal itu disampaikan Hery Sulistio Jati Nugroho Sriwiyanto, S.E., M.S.E, dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan (Prodi EP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) pada Webinar Pengabdian kepada Masyarakat Prodi EP dengan tema Perencanaan dan Kebebasan Finansial di Era Kenormalan Baru, Sabtu 11 Juli 2020.

    Selanjutnya Hery menyampaikan usai penetapan target perlu juga mengidentifikasikan kondisi yang sedang berjalan saat ini bagaimana kondisi pekerjaan, usia, keluarga, kesehatan maupun perubahan kebutuhan pokok di masa new normal.

    Sedangkan untuk pencapaian tujuan direncanakan mulai dengan tetapkanlah life style Anda lalu buat anggaran bulanan dengan mengidentifikasikan pengeluaran dan pemasukan, hentikan pengeluaran yang tidak diperlukan seperti belanja yang tidak terencana dan hutang tidak produktif. Selanjutnya tingkatkan alokasi tabungan dan investasi yang menghasilkan pendapatan pasif.

    “Pastikan kebutuhan akan fungsi kendaraan, rumah, liburan dan  ada aksesoris diri sesuai dengan fungsinya, hindari gengsi. Terkadang kita memaksakan kebutuhan yang sebenarnya tidak memiliki fungsi lebih. Aktifitas liburan yang diutamakan sering hanya sekedar  untuk update status media sosial atau memiliki jam olah raga padahal tidak benar-benar berolahraga dan lainnya” tegasnya.

    Sementara itu, narasumber kedua, Devi Anggraini dari BNI Sekuritas Surakarta menyatakan di masa pandemi, masyarakat harus belajar untuk mengatur keuangan karena saat ini dalam kondisi ketidakpastian. Detoksi finansial perlu untuk menyehatkan kondisi keuangan kita.

    Memasuki new normal, hal yang perlu dilakukan adalah menghentikan pengeluaran yang tidak penting, membuat skala prioritas kebutuhan, memisahkan dana darurat dan tabungan.

    Dana darurat sendiri sifatnya harus mudah dikeluarkan, biasanya rata-rata 6 hingga 12 bulan ke depan. Hal ini untuk antisipasi misal kondisi terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau kerja tidak penuh dengan gaji separuh untuk selanjutnya diatur lagi hingga kondisi membaik.  Tabungan untuk melakukan diversifikasi investasi diantaranya deposito, emas , properti, surat utang negara, reksadana dan saham.

    Di akhir paparannya, Devi mengingatkan agar masyarakat memilih investasi mana yang baik untuk pengelolaan keuangannya dan dapat mengenali ciri-ciri investasi bodong agar tidak mudah tertipu. Beberapa ciri investasi bodong yakni memberikan imbal hasil yang menggiurkan dalam waktu singkat dan tidak rasional, tidak memiliki ijin resmi dan kelengkapan legal,  tidak berada dibawah naungan OJK meskipun terkadang sudah mengantongi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), tidak dijelaskan bagaimana cara mengelola investasinya, tidak dijelaskan struktur kepengurusannya, struktur kepemilikan, jenis kegiatan usaha dan alamat domisili, kegiatan yang dilakukan menyerupai money game dan skema ponzi (MLM) yang menyebabkan kegagalan untuk mengembalikan dana masyarakat yang diinvestasikan serta  menggandeng orang terkenal untuk mengaburkan tipuan. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Strategi Bisnis Keluarga Menghadapi Covid-19

    Strategi Bisnis Keluarga Menghadapi Covid-19

    Bisnis keluarga merupakan bisnis yang kepemilikan dan pengambilan keputusannya berada di tangan keluarga dengan manajemennya yang unik. Berbagai survei terhadap bisnis di Indonesia dari usaha kecil sampai besar rata-rata dinominasi  bisnis keluarga hingga mencapai 73%.  Bisnis keluarga juga sebagai penyumbang Gross Domestic Product (GDP),  jumlahnya di atas 40% .

    Di sisi kepemilikannya, Bisnis keluarga terbagi menjadi dua yakni family managed firms dan family owned firm. Family managed firms, keluarga akan mempertahankan saham mayoritas dan pengelolaannya jauh lebih rumit karena faktor emotion yang lebih tinggi.  Sedangkan dalam family managed firms, pemilik meng-hire profesional untuk menjalankan perusahaan agar berkembang lebih baik, pemilik hanya sebagai pengambil kebijakan.

    Hal itu disampaikan Dr. Mugi Harsono, M.Si, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) saat menjadi narasumber di Webinar yang diselenggarakan oleh Universitas Maritim Raja Ali Haji , Sabtu 18 Juli 2020.

     “Pandemi Covid-19 sangat berdampak bagi bisnis keluarga.  Untuk melindungi bisnis keluarga,  pemilik dapat mendelegasikan tanggung jawab kepada yang ahli, membuat rencana kontingensi untuk pekerja, memprioritaskan aktivitas bisnis yang penting, peduli pada aliran kas karena kas adalah jantungnya perusahaan  serta  memperkuat komunikasi dengan stakeholder inti, konsumen atau penyandang dana dan seterusnya” Jelasnya.

    Selanjutkan disampaikan, kelebihan bisnis keluarga adalah ketika menghadapi resesi finansial adalah masih bisa bicara menggunakan hati dan tidak pakai rasio, mengembangkan hubungan yang terbuka dan harmonis di antara anggota keluarga.

    Strategi yang harus ditempuh bisnis keluarga dalam menghadapi Covid-19 adalah dengan strategi adaptif berdasarkan keunggulan kompetisi lalu dikompromikan dengan kondisi yang ada. Diantara strategi itu yakni redudancy, melakukan pengembangan sistem dan sumber daya cadangan untuk melindungi perusahaan manakala menghadapi gempuran dan memastikan agar operasional perusahaan tetap berjalan. Selain itu modularity,  kita mengajak pihak lain untuk bersama dengan perusahaan kita untuk membuat kepemimpinan yang kuat.

    Strategi lainnya adalah mitigasi, secara cepat berevolusi ke market yang baru, dengan penjualan online, menciptakan produk dengan konsumen walaupun jaraknya jauh, intinya merespon perubahan yang sangat cepat. Hal lain yang juga penting dalam menghadapi pandemi adalah symbiosis,  kita mengembangkan kedekatan hubungan dekat dengan pelaku-pelaku penting, yakni bank, kreditur, konsumen,  pemerintah, dan seterusnya.

    Selanjutnya, simplification,   mengurangi kompleksitas, memangkas birokrasi yang bertele-tele untuk mengatasi kelangkaan sumber daya serta heterogenity dengan mempromosikan keragaman dalam portofolio. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • MM dan MESP FEB UNS Gelar Business Webinar Series Angkat Tema Behavioral Economics

    MM dan MESP FEB UNS Gelar Business Webinar Series Angkat Tema Behavioral Economics

    Program Studi Magister Manajemen (MM) dan Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menyelenggarakan webinar yang bertajuk Behavioral Economics, Prinsip dan Aplikasi Teori Prospek, Sabtu 18 Juli 2020.

    Kegiatan ini adalah kali kedua yang diselenggarakan dalam Business Webinar Series, diikuti oleh 107 peserta dengan narasumber Harry Susianto, Ph.D. , Psikolog Ekonomi dan Konsumen dari Universitas Indonesia.

    Behavioral Economics (BE) berusaha mengkombinasikan prinsip-prinsip dasar ilmu ekonomi dengan realita yang tidak jarang dipengaruhi oleh psikologi manusia. Lingkup ranah BE adalah mempelajari keputusan-keputusan irasional orang (dalam hal ini user atau pengguna).

    Harry menjelaskan bahwa BE mirip dengan psikologi, mayoritas menggunakan eksperimen, true experiment, ada randomisasi dan manipulasi. Dalam contoh- contoh kasusnya yang diberikan ke partisipan biasanya selalu diberikan konteks. Eksperimen dilakukan hanya satu kali dan ada insentif diberikan kepada partisipan yang sifatnya merata. Hal lain yang menjadi ciri khas BE adalah minoritas survei.

    Sementara itu, Experimental Economics (EE) yang pernah dibahas di webinar sebelumnya berbeda dengan BE, contoh- contoh kasusnya yang diberikan ke partisipan biasanya bersifat abstrak, eksperimen dilakukan berulang-ulang, banyak menggunakan contoh-contoh hipotetikal dan insentif untuk partisipan mengikuti performance, semakin rasional insentifnya semakin besar.

    “Di Indonesia, banyak studi yang menggunakan survei dan jarang sekali yang menggunakan eksperimen. Sebenarnya dengan eksperimen bisa mengklaim sebab akibat. Namun banyak orang berpikir keliru dengan menggunakan survei dan SEM (Structural Equation Modeling) untuk membuat sebab akibat. Padahal SEM itu hanya statistik, alat menghitung. Kita dapat membuat klaim sebab akibat jika penelitiannya berdesain eksperimen, jika tidak begitu, tidak bisa” jelasnya.

    Selanjutnya Harry menjelaskan penggunaan nudge dalam mempengaruhi keputusan ekonomi yang merupakan karya monumental Richard H Thaler. Nudge adalah suatu hal yang secara efektif mampu mengatur keputusan individu , kelompok atau masyarakat tanpa paksaan, sifatnya lebih kepada menggugah melalui alam bawah sadar. Bagaimana kita bisa mengatur orang untuk berperilaku tertentu tanpa merasa orang itu diatur atau dipengaruhi.

    Nugde terbagi menjadi dua , Edukatif Nudge dan Non Edukatif Nudge. Ide dari Edukatif Nugde adalah individu itu dibuat kapasitasnya meningkat, disadarkan, diingatkan, dari tidak tahu menjadi tahu. Jika ada perubahan maka perubahan itu disadari orang itu dan memang harus dilakukan.

    Menurut Harry, yang lebih menarik adalah yang Non Edukatif Nudge. Kita tidak berusaha menambah kemampuan orang itu, yang dieksploitasi atau yang diatur adalah lingkungannya, dimanipulasi. Dengan lingkungan itu diharapkan perilaku orang menjadi berubah. Dalam hal ini akan muncul choice architect, arsitek yang mengatur pilihan orang yang sehingga hasilnya seperti yang kita inginkan.

    Di kegiatan ini, Harry lebih banyak memberikan contoh-contoh teknis dari beberapa artikel dengan menggunakan teori prospek dan peserta aktif mengikuti jalannya acara. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.