FEB

Kategori: fakultas

  • Memasuki New Normal, Tak Hanya Hotel,  Atraksi Wisata Solo pun Harus Siap

    Memasuki New Normal, Tak Hanya Hotel,  Atraksi Wisata Solo pun Harus Siap

    Memasuki tatanan kehidupan baru, masyarakat diharapkan mampu beradaptasi mengubah perilaku keseharian,  termasuk juga bagi kalangan perhotelan. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) telah menyiapkan protokol kesehatan untuk kembali mengoperasikan sektor usahanya di tengah pandemi Covid-19. Secara bertahap, hotel mulai buka kembali setelah beberapa waktu berhenti beroperasi dan banyak yang merumahkan karyawannya.

    Drs. Bambang Irawan, M.Si,  Pengamat  Ekonomi  dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan  pihak PHRI yang menjemput bola untuk mulai menghidupkan kembali hotel dan restoran.

    Menyongsong new normal, PHRI jauh lebih siap untuk mulai  menggiatkan kembali  industri perhotelan. Namun, pariwisata tidak hanya hotel, ada atraksi wisata  yang menjadi daya tarik kota Solo,  selain itu juga ada kuliner dan pasar tradisional.

    Pemerintah pusat melalui PHRI perlu mendorong pemerintah kota untuk mendorong atraksi wisata atau produk-produk wisata lain untuk segera mempersiapkan diri menuju new normal sehingga bisa berakselerasi.

    “Jika ada  meeting di hotel Solo, tentunya peserta tidak akan melulu tinggal di hotel  saja, mereka akan berjalan-jalan mengunjungi pasar tradisonal ataupun  menikmati kuliner yang banyak disuguhkan di kota Solo. Dan untuk hal ini,  sangat perlu dipersiapkan protokol kesehatan yang baru sesuai dengan yang digariskan oleh pemerintah. Harus ada akselerasi yang saling terkait antara pemerintah pusat, provinsi maupun daerah” tegasnya.

    Di tingkat nasional, Solo berada diperingkat delapan dalam hal  MICE (meeting, incentive, convention, exhibition). Hanya dalam konteks exhibition saja yang kurang, Solo belum mempunyai ruang yang memadai.  Solo memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi kawasan MICE City. Potensi yang dimiliki Solo diantaranya keragaman budaya, obyek wisata yang beragam, dan hotel bertaraf internasional.

    Pendapatan dari hotel kebanyakan dengan menjual mice-nya. Hotel perlu mempersiapkan diri di setiap event-event yang diselenggarakannya agar tidak menabrak protokol kesehatan, misalnya dengan pembatasan tamu yang berkunjung. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • PPM dan PDIE Gelar Sarasehan Daring Membangun Kebaruan Model Disertasi Manajemen

    PPM dan PDIE Gelar Sarasehan Daring Membangun Kebaruan Model Disertasi Manajemen

    Mahasiswa yang menempuh studi pada program doktor harus mampu menunjukkan kepakarannya, memiliki kedalaman pengetahuan, kemampuan analisa, dan pengakuan kepakaran. Mahasiswa diharapkan mampu menyumbangkan konsep-konsep baru dan memperkaya teori. Teori jadi rujukan karena ada kesimpulan-kesimpulan solusi mendasar yang dijustifikasi dengan pikiran-pikiran argumentatif dan diterima secara luas dan seringkali teori ini menurunkan sebuah konsep yaitu pernyataan yang sudah teruji.

    Hal itu disampaikan Dr. Ahmad Ikhwan Setiawan, SE, MT, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) di Sarasehan Daring bertema Membangun Kebaruan Model Disertasi Manajemen, Senin, 6/7/2020.

    Selanjutnya dikatakan, mahasiswa S3 bergerak dilevel teori dan konsep dituntut untuk melakukan kebaruan. Alasan pertama adalah seringkali ada kesenjangan antara realitas bisnis, baik mikro maupun makro dengan perkembangan teori .

    “Tugas mahasiswa adalah menjelaskan kesenjangan realitas bisnis dengan teori. Sebagai contoh, sebelumnya jika bicara marketing mix, maka biasanya ada product , price, promotion, dan place. Namun sekarang sudah terjadi transformasi, masih pentingkah tempat? toh kita bisa jualan dimana-mana bahkan kadangkala pelaku bisnis tidak punya tempat riil, tempatnya adalah dunia maya” papar dosen yang saat ini mengelola Pusat Pengembangan Manajemen (PPM) FEB UNS.

    Alasan berikutnya adalah karena terjadinya perubahan penilaian bahwa keunggulan bersaing yang biasanya ditentukan oleh kemampuan pelaku bisnis untuk memiliki tempat strategis, tempat di pinggir jalan dan gudang yang luas, namun saat ini bergeser, ditentukan oleh kemampuan pelaku bisnis dalam menjalin jejaring digital, e-networking.

    Dulu dikenal pola perilaku pembelian berdasarkan konsep customer, AIDA, Attention (Perhatian), Interest (Minat), dan Desire (Keinginan), dan Action (Aksi), namun saat ini bergeser berdasarkan konsep customer path 5A, aware, appeal, ask, act dan advocate.

    Kebaruan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa harus memiliki 3 unsur yakni ada unsur solutifnya, berkontribusi memecahkan masalah. Jika hanya bergerak dilevel abstrak, maka tidak memberikan kemanfaatan. Selanjutnya adalah orisinal penelitian yang dilakukan, pengembangan kotemplasi teoritis dan empirris peneliti sendiri dan memiliki pandangan berbeda dari peneliti sebelumnya atau unik, baik metode ataupun solusi.

    Terakhir disampaikan tentang tahapan membuat variabel baru, diawali dengan mengindentifikasi gap research dan phenomena gap lalu mengidentifikasi penyebab dan solusi masalah, menentukan nama variabel yang unik dan menarik, memayungi konsep baru dengan sintesa , mendeskripsikan lebih menarik dengan mengidentiikasi anteseden dan konsekuen, dan membangun model riset.

    Selain Dr. Akhmad Ikhwan, kegiatan ini juga menghadirkan lima pembicara alumni PDIE lain, yakni Dr. Fitri Wulandari, SE, M.Si, Dr.Titik Kusmantini, M.Si, CRP, Dr. Kholid Arif Rozaq, MM, Dr. Sri Rahayu, MM dan Dr. Septiana Novita Dewi, M.Si, MM.

    Dalam sambutannya, Prof. Dr, Rahmawati, M.Si, Ak. Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB UNS menyampaikan terima kasih kepada PPM yang telah berkolaborasi dengan PDIE untuk sharing ilmu di Sarasehan Daring.

    PDIE FEB UNS memiliki tiga peminatan yakni Manajemen, Akuntansi dan Ekonomi Pembangunan. Webinar ini akan dilakukan berseri, tahap awal Minat Manajemen, selanjutnya Akuntansi dan Ekonomi Pembangunan.

    Webinar ini sekaligus sebagai sosialisasi bagi calon mahasiswa yang akan mendaftar di PDIE yang saat ini masih membuka proses pendaftaran. Peserta sarasehan dapat belajar dari alumni PDIE bagaimana membuat kebaruan atau novelty sebuah disertasi. (Humas).

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan,  M.Si.

  • International Webinar Bahas Global Economy and Financial Sector Post Covid-19

    International Webinar Bahas Global Economy and Financial Sector Post Covid-19

    Covid-19 akan memiliki dampak yang signifikan pada perekonomian dunia sehingga regulator perlu berfokus pada upaya untuk melakukan mitigasi. Kondisi perekonomian di Indonesia yang menghadapi dampak terbesar adalah di kota-kota besar. Akan tetapi setiap negara tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk mengurangi efek dari pandemi.

    Dengan kondisi struktur ekonomi, sosial, dan demografi, defisit anggaran Indonesia cenderung lebih rendah dibandingkan negara lain, hal ini mungkin disebabkan karena perekonomian Indonesia yang ditopang oleh mayoritas ekonomi pedesaan yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

    Hal itu disampaikan Prof. Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai keynote speech di International Webinar yang membahas Global Economy and Financial Sector Post Covid-19, Senin, 6/7/2020. Dalam pidatonya, Prof. Wimboh juga membagikan pengalamannya dalam mendesain respon kebijakan keuangan terkait efek dari Covid-19 di Indonesia.

    Sementara itu, dari sisi asuransi, Prof. Alistair Milne, pembicara webinar dari Loughborough University, UK menyatakan bahwa untuk menentukan kebijakan asuransi dalam kondisi pandemi di kemudian hari, terdapat dua isu penting yang perlu diperhatikan yaitu bahwa penyedia asuransi mungkin saja masih memiliki peran mereka, seperti dalam hal menentukan premi, coverage, dan mitigasi, serta adanya kesulitan dalam menentukan risiko ataupun menghitung tingkat risiko yang dihadapi.

    Pembicara webinar lain yang menyampaikan materi terkait kondisi perekonomian global paska pandemi Covid-19 yakni Sergio Schmukler, PhD – Lead Economist World Bank, Prof. Franco Fiordelisi – University Rome III, Italy/ University of Essex, UK, Dr Emma Allen – Country Specialist Asian Development Bank-ADB, Prof. Amine Tarazi – University of Limoges, France, Prof. Jon Williams – Bangor University, Prof. Robin Luo – Xihua University, China), Prof. Mahmet Huseyin Bilgin -Istanbul Madeniyet University, Turkey), Zenu Sharma, Ph.D-St. John’s University, USA, dan terakhir Irwan Trinugroho, Ph.D- Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Unggulan Iptek (PUI) Fintech dan Banking Universitas Sebelas Maret.

    Dalam setiap materi presentasi pembicara memaparkan bahwa Covid-19 telah menyebabkan krisis yang berbeda dari krisis-krisis yang telah terjadi sebelumnya. Akan tetapi beberapa pembicara menggarisbawahi bahwa saat ini sektor keuangan bukanlah penyebab utama dari krisis yang terjadi, akan tetapi sebaliknya, sektor ini dapat menjadi salah satu jalan keluar untuk menanggulangi krisis. Hampir seluruh pembicara merasa optimis bahwa kondisi keuangan global akan membaik.

    Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama UNS, Prof. Sajidan mewakili Rektor terselenggara atas kerjasama Otoritas Jasa Keuangan, Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS didukung oleh Pusat Unggulan Iptek (PUI) Fintech dan Banking UNS (UNS Fintech Center) dan Erasmus+ Optimizing Research & Doctoral Programs in Banking and Finance in Indonesian Universities (OPTBANK) Programme of the European Union. (Aulia/Humas FEB).

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Defisit Energi Akan Terjadi Jika Tak Segera Ambil Langkah Cepat Transisi Energi

    Defisit Energi Akan Terjadi Jika Tak Segera Ambil Langkah Cepat Transisi Energi

    Akibat pandemi Covid-19, mulai tahun 2021, Indonesia diperkirakan mengalami defisit energi dan ini kali pertama sepanjang sejarah. Dengan keadaan ini, jika tidak segera melakukan langkah-langkah darurat dari sekarang, maka di tahun 2040 defisit energi Indonesia mencapai 80 miliar USD.

    Ada upaya untuk mengurangi tekanan defisit energi dengan mengintrodusir biodiesel. Disetiap liter bensin atau solar, 30%-nya dicampur dengan minyak sawit yang diolah. Namun, hal ini menimbukan masalah baru, subsidi BBM turun, tapi ada subsidi lain yang sangat besar bagi pengelolaan sawit. Diprediksi tahun 2025 terjadi defisit sawit, sehingga dibutuhkan 5 hingga 9 juta hektar lahan sawit baru, hal ini bisa merusak hutan. Ongkos untuk energi ini akan sangat mahal.

    Pernyataan ini disampaikan Faisal Basri, SE, MA, Ekonom Indonesia pada Webinar Seri Diskusi Kebangsaan bertema Defisit Energi di Era Pandemi yang digelar Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Senin, 6 Juli 2020.

    Kepada peserta webinar yang sebagian besar adalah dosen dan mahasiswa, Faisal Basri menyarankan agar bisa menggunakan energi yang ramah lingkungan dan juga secara teknis lebih murah.

    Lebih lanjut disampaikan, masa pandemi ini menjadi momen bagi generasi muda, generasi milineal untuk menyampaikan pandangan-pandangannya. Generasi muda memiliki hak mendapatkan lingkungan yang baik di masa kini dan mendatang.

    Sementara itu, Hery Sulistyo Jati N, S, S.E., MSE., Dosen FEB UNS mengatakan menurut data Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) defisit listrik akan terjadi sekitar tahun 2022 dan 2023 jika tidak ada komitmen baru dalam jangka dekat dan tidak ada upaya dalam mendorong Energi Baru Terbarukan (EBT).

    Hery Sulistyo Jati N, S, S.E., MSE

    Dengan pandemi ini, energi terbesar yang digunakan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga adalah listrik. Hal ini akan mendorong defisit yang lebih cepat jika tidak ada komitmen baru dalam pembangkitan energi. Di struktur pasar energi kita, meskipun harga energi primer jatuh kita tetap membayar sesuai harga yang ditetapkan (administered price), industri pun tetap membayar pada harga minimum untuk listrik.

    ”Saat ini, transisi energi kita menghadapi tantangan besar. Dalam RUPTL, kita sudah merancang transisi energi dan harapannya di tahun 2022 atau 2023 kita akan punya investasi-investasi baru yang berkaitan dengan energi baru terbarukan sebagai bagian dari komitmen kita terhadap transisi energi. Apapun kondisinya, saat ini upaya untuk investasi EBT rasanya sangat berat, disatu sisi kita sudah mulai stop menggunakan energi fosil karena memang dalam perencananaannya kita sudah mengarah kepada transisi energi” jelas Hery.

    Sasaran pengelolaan dalam tatanan ke depan, kita butuh ketahanan energi, utamanya energi listrik karena landscape-nya berubah, sebagian besar orang kembali ke rumah. Aktivitas akan dilakukan dari rumah seperti bekerja, sekolah dan kuliah dari rumah. Dalam tatanan normal baru, energi listrik memiliki kontribusi signifikan dan mulai menggeser peran BBM khususnya pada rumah tangga.

    Tantangan energi kita adalah disinsentif terhadap pengembangan EBT, yang dulu investasinya mahal dan akan disubsidi pemerintah, sekarang pemerintah tidak akan fokus ke arah itu karena harus mengalokasikan sebagian besar dana untuk penanganan pandemi ini. Meskipun demikian, disatu sisi kita juga punya target pencapaian penurunan emisi, semuanya mengarahkan kita kepada transisi energi. (Humas FEB).

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan,  M.Si.

  • Prof. Doddy: Publikasi di Jurnal Terindeks Scopus Bukan Proses Instan

    Prof. Doddy: Publikasi di Jurnal Terindeks Scopus Bukan Proses Instan

    Filosofi dalam publikasi seperti mengukur baju sendiri, riset sejauh apa dan dapat publikasi dimana, jangan karena publikasi, author melakukan tindakan unethical yang dapat merusak reputasi author.

    Pernyataan itu disampaikan Rayenda Khresna Brahmana, Ph.D., Associate Managing Editor fo Internatiopnal Joural of Business and society Scopus H-Index:5; Documents:44 Universiti Malaysia Serawak, mengawali presentasinya pada Webinar Strategi Publikasi Jurnal Internasional, Selasa, 30/6/2020.

    Rayenda Khresna Brahmana, Ph.D

    Selanjutnya dikatakan, strategi publikasi bisa dalam kuantitas dan kualitas. Untuk earlier researcher biasanya memilih salah satu. Dari segi kuantitas adalah dengan menggunakan kolaborasi. Semakin banyak orang yang berkolaborasi, maka semakin banyak kuantitasnya.

    “Bagi yang expert researcher dapat mengkombinasi. Agar menghasilkan publikasi 8-10 tahun depan, paling tidak submit 15 paper tahun ini. Untuk mengejar kuantitas, perlu pendampingan sejumlah paper yang disubmit di beberapa jurnal” papar Rayenda

    Dari segi kualitas, perlu dilakukan training dalam pembuatan paper berkualitas, faktor lingkungan, resource (software proofread, gramarly, software statistic, mendeley) pengukuran melihat ABDC list, ABS list dan menggunakan metode kolaborasi dan benchmarking dengan membaca paper-paper yang relevan.

    Sementara itu, Prof. Doddy Setiawan, SE.,MSi,. Ph.D, Ak menyarankan untuk earlier researcher dapat mencari mentor atau senior yang bisa membimbing, “do not work alone” karena di jurnal top-tier sangat jarang ditulis hanya untuk 1 penulis. Cara mencari partner adalah dengan menghubungi partner yang mempunyai keahlian di bidang tertentu.

    Dijelaskan pula bahwa proses publikasi di jurnal terindeks scopus bukan merupakan proses instan. Untuk mencari jurnal internasional yang tepat pastikan jurnal yang di tuju tidak di blacklist oleh DIKTI, hindari predatory journal, perhatikan jumlah issue yang diterbitkan dalam 1 tahun dan jumlah artikel dalam satu kali terbit, apakah jurnal tersebut pernah mempublikasikan artikel dengan topik yang sama.

    Prof. Doddy juga menyarankan untuk mengacu ke artikel yang relevan yang telah terbit di jurnal yang dituju, cek kualitas terbitan jurnal dan forth coming article, cek submission/publication fee. Submit artikel secara bertahap, cari call of paper yang fokusnya pada tema paper author. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Tren Baru Penelitian Intellectual Capital

    Tren Baru Penelitian Intellectual Capital

    Setidaknya, ada empat tren baru dalam penelitian intellectual capital (IC) yakni 1) mengembangkan pengukuran intellectual capital pada industri yang spesifik (misalnya industri perhotelan, perbankan, dan sektor industri non profit), 2) inovasi dalam menganalisis interaksi antar komponen intellectual capital, 3) peran intellectual capital dalam model bisnis yang baru (misalnya start-ups), dan 4) pengambilan keputusan dalam pengungkapan modal intelektual atau Intellectual Capital Disclosure (ICD).

    Bukan hanya di Indonesia, namun juga di dunia, intellectual capital belum diakui sebagai aset perusahaan sehingga ICD menjadi alternatif dalam menyampaikan informasi IC perusahaan kepada stakehoder. Oleh karena itu, muncul agenda-agenda riset yang tren tentang ICD.

    Berdasarkan hasil reviu literatur yang dilakukan Cuozzo et al. (2019) selama periode tahun 2000-2017 pada 246 artikel yang masuk dalam 10 top tier journal (JIC, JHRCA, AAR, AAAJ, AF, BAR, AOS, CPA, EAR, MAR), ternyata penelitian Intellectual Capital Disclosure (ICD) mendapatkan beberapa kritik, penelitian ini dinilai kurang inovatif karena sebagian besar berdasarkan laporan keuangan tahunan. Sebaiknya menggunakan media yang lain. Selain itu riset ICD berkutat di second stage, sebagian besar menggunakan konten analisis, sehingga tidak berkembang. Trennya akan lebih bagus dan menarik jika peneliti bisa datang langsung ke lokasi perusahaan dan melakukan wawancara kepada stakeholder di perusahaan.

    Kritik lain terhadap penelitian ICD adalah terjebak dalam istilah intellectual capital versus Intangible assets. Para praktisi lebih familiar dengan intangible assets daripada intellectual capital.

    Hal ini disampaikan Dr. Wahyu Widarjo , dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Akuntansi FEB UNS bertema Tren Riset Intellectual Capital Selasa, 30/6/2020.

    “Untuk peneltian ICD, yang harus kita lakukan adalah perlu inovatif dalam mencari media pelaporan informasi bukan hanya laporan keuangan, namun bisa melalui website atau media yang lain. Perlu mencari alternatif metode pengumpulan data, bisa survei atau wawancara langsung untuk memperkaya wawasan kita, sehingga kita tahu betul apa yang terjadi di lapangan. Kita juga perlu mengeksplorasi, memperbanyak diskusi terkait istilah intellectual capital dan intangible assets” jelasnya.

    Sementara itu, narasumber lain, Prof. Dr. Ihyaul Ulum, Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Muhammadiyah Malang mengambil dari pendapat Bontis, 1998 bahwa secara umum, para peneliti mengidentifikasi IC disangga oleh tiga pilar yakni human capital, structural capital dan customer capital. Penelitian IC yang banyak dilakukan di Indonesia adalah IC performance dan IC disclosure. Karena IC tidak bisa diukur secara langsung, beberapa penelitian mengukur dampaknya, bukan IC-nya . (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Webinar Prodi Akuntansi Bahas Peran Auditor dan Akademisi dalam Pemberantasan Korupsi

    Webinar Prodi Akuntansi Bahas Peran Auditor dan Akademisi dalam Pemberantasan Korupsi

    Istilah fraud lebih dari sekedar kecurangan, fraud terdiri dari korupsi, penyalahgunaan aset, dan manipulasi laporan keuangan. Fraud dalam laporan keuangan biasanya dilakukan dengan menurunkan nilai, me-markup nilai, memanipulasi revenue dan banyak lagi.

    Peran utama auditor sangat strategis sebagai penjaga utama terjadinya fraud, karena akan memantau operasional hingga memantau kepatuhan, dan tingkah laku sebuah perusahaan atau instansi yang diaudit. Audit internal paling berperan dalam pencegahan penyalahgunaan aset dan korupsi sedangkan audit eksternal berperan dalam pencegahan manipulasi laporan keuangan. Audit internal dan eksternal, keduanya memiliki peran dalam mendeteksi fraud.

    Hal itu disampaikan Budi Santoso, SE, Ak, MFA, PGCS, CA, CPA, CFE, Senior Director, Business Intelligence & Investigations Kroll, Dhuff & Phelps mengawali presentasinya di kegiatan Webinar Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) bertema Kerja Bersama dalam Akuntabilitas Publik untuk Mengawal Pemberantasan Korupsi (Peran Profesi Akuntan), Senin, 29/6/ 2020.

    Selanjutnya dikatakan, sesuai dengan regulasi terkini di dunia dari Statement on Auditing Standars (SAS) 99, auditor eksternal akuntan publik ketika melakukan audit laporan keuangan perusahaan harus berusaha mendeteksi adanya fraud terkait laporan keuangan. Jangan sampai ada kejadian, laporan keuangan dimanipulasi tapi akuntan tidak dapat mendeteksi, tidak mengetahui adanya manipulasi laporan keuangan sehingga investor dan pemegang saham tertipu, perusahaan collapse hingga merugikan banyak orang.

    “Tren dunia dari perhitungan kerugian fraud mencapai 5% dari pendapatan perusahaan. Jenis fraud yang paling sering dilakukan adalah penyalahgunaan aset. Kerugiannya paling sering dilakukan kedua adalah korupsi. Sedangkan untuk manipulasi laporan keuangan paling jarang terjadi, hanya 10% kejadiannya, akan tetapi kerugiannya yang paling besar mencapai 954 ribu US$” jelasnya.

    Budi menilai banyak kelalaian auditor dalam memeriksa laporan keuangan, diantaranya auditor kurang skeptis, kurang curiga, dan audit prosesnya kurang efektif.

    Budi Santoso, SH, LL, M,

    Sementara itu, narasumber lain, Budi Santoso, SH, LL, M, Fungsional Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan dalam hal implementasi pemberatasan korupsi, KPK melakukan intervensi ke perguruan tinggi dengan Tri Darma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Masyarakat). KPK mendorong agar akademisi turut berperan dalam upaya pemberantasan korupsi. Setiap perguruan tinggi diharapkan mempunyai kurikulum anti korupsi atau dilakukan sisipan di mata kuliah wajib. Kampus sebagai pusat riset, data dan berbagai kajian anti korupsi serta menjadi rumah bagi para ahli untuk berkontribusi sesuai dengan keilmuannya dalam penyelesaian perkara tindak pidana.

    KPK juga mendorong agar setiap kampus mengembangkan model Kampus Bersih yaitu dengan penerapan keterbukaan informasi publik misalnya transparansi anggaran dan belanja kampus dan complaint handling system yang kredibel whistle blower system, system penanganan konflik kepentingan di bidang akademik maupun non akademik serta system pengelolaan gratifikasi.

    Dua pembicara lain, Agung Nur Probohudono, SE, M.Si, Ph.D., Ak, CA, CfrA. Kepala Program Studi Akuntansi FEB UNS dan Khresna Bayu Sangka, SE, MM, Ph.D, Kepala Pusat Studi Transparansi dan Antikorupsi UNS lebih menyoroti tentang langkah nyata UNS turut berperan aktif dalam pemberantasan korupsi.

    Beberapa hal yang telah dilakukan UNS yakni dalam hal tata kelola lembaga pendidikan yang transparan dan akuntabel, mengevaluasi sistem pendidikan tinggi dengan menyisipkan anti korupsi pada kurikulum. Matakuliah dalam kurikulum Prodi Akuntansi mendukung upaya pencegahan korupsi yakni pengauditan, akuntansi forensik dan audit investigasi, pengauditan internal, pengauditan berbasis komputer, analisis informasi keuangan, dan akuntansi sektor publik.

    Selain itu, UNS juga telah melakukan internalisasi pendidikan karakter dan integritas antikorupsi dan sinergitas semua civitas akademika untuk berkomitmen bersikap jujur, berintegritas dan menjalankan fungsinya secara aktif. Dukungan lain dengan reformasi birokrasi, satuan pengawas internal, pustapako, sekolah anti korupsi dan kampanye anti korupsi. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Aksi Nyata Perusahaan Bantu Pemerintah ditengah Pandemi

    Aksi Nyata Perusahaan Bantu Pemerintah ditengah Pandemi

    Pemerintah sudah menjalankan perannya dalam menghadapi Covid-19. Bagaimana dengan perusahaan yang bertindak sebagai private business economy? Perusahaan merupakan salah satu pelaku ekonomi yang terkena imbas berat dalam Pandemi Covid-19 ini, bahkan peran UMKM di krisis yang sekarang berbeda dengan krisis 1998.

    Akibat daya beli masyarakat yang menurun, maka perusahaan harus melakukan keputusan sulit untuk melakukan PHK atau merumahkan karyawannya. Selain itu juga diakibatkan karena rantai suplainya terganggu baik dari sisi produksi maupun penjualan, maupun di ekspor dan impor.

    Perusahaan yang melakukan PHK besar-besaran biasanya sudah mempunyai masalah sebelum adanya Covid-19 tersebut. Sehingga Covid-19 hanya sebagai pemicu adanya bom waktu yang terjadi pada perusahaan tersebut.

    Tetapi, jika kondisi perusahaannya sehat maka adanya Covid-19 ini membuat tujuan perusahaan yang profit oriented bertindak pula sebagai “corporate citizen”, yaitu memberikan manfaat atau pelayanan kepada anggotanya dan bergerak meningkatkan kesejahteraan sosial.

    Pendapat itu disampaikan pakar ekonomi, Nurul Istiqomah, SE, M.Si, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) yang saat ini menjabat sebagai Kepala Laboratorium Perbankan FEB UNS.

    Dikatakan, banyak perusahaan yang akhirnya merubah produk yang dihasilkannya untuk mendukung program pemerintah, baik pada lini kesehatan, serta penyediaan kebutuhan dasar masyarakat.

    Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang garmen akhirnya memproduksi APD untuk memenuhi keperluan garda depan sektor kesehatan untuk mengatasi Covid-19 supaya angka kematian petugas kesehatan tidak tinggi.

    Persentase kematian tenaga kesehatan akibat Covid-19 di Indonesia adalah sebesar 6,5 % dan merupakan angka yang memprihatinkan karena berada jauh di atas angka kematian tenaga kesehatan global yang sebesar 0,37 %. Tingkat kematian tenaga kesehatan di Inggris saja hanya sebesar 0,5 %; di Amerika Serikat yang mempunyai jumlah penduduk terpapar Covid-19 terbesar pun hanya sebesar 0,16 % (The Conversation). Hal ini disebabkan masih minimnya APD yang digunakan para tenaga kesehatan serta kualitasnya mungkin belum sesuai dengan yang diterapakan dalam standar kesehatan.

    “Keikutsertaan perusahaan dalam menjalankan fungsinya pada masa pandemi sekarang  ini tidak semata untuk mencari keuntungan saja, melainkan untuk membantu pemerintah untuk memerangi wabah Covid-19 dan juga untuk membangun citra positif di mata publik. Citra baik bagi perusahaan adalah aset, karena nantinya brand image memiliki dampak pada persepsi konsumen” paparnya

    Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan adalah dalam bentuk empati, yaitu membuat atau membagikan produk untuk menopang kesehatan seperti masker atau hand sanitizer. Jika terdapat perusahaan yang beralih untuk memproduksi barang-barang tersebut (masker dan hand sanitizer), maka merupakan salah satu bentuk jalan keluar jangka pendek untuk mempertahankan supaya usahanya tetap berjalan guna menyelamatkan karyawannya dari gelombang PHK.

    Peran lain yang dilakukan perusahaan adalah memberikan solusi. Ketika semua sistem yang biasa terjadi dalam kehidupan berubah tatanannya, dari kegiatan yang bersifat luring menjadi daring maka kita melihat banyak perusahaan yang ikut terjun untuk memberikan solusi, beberapa lembaga pendidikan online akhirnya mengratiskan pembelajaran supaya bisa dinikmati lebih banyak pelajar di Indonesia.

    Perusahaan juga memberikan dukungan akses internet serta sarana teknologi informasi dan komunikasi untuk rumah sakit guna mempermudah para petugas dan relawan untuk berkoordinasi, demikian juga pengantaran makanan serta barang online mempunyai peran yang besar untuk mengurangi kerumunan masyarakat di tempat-tempat publik.

    Pada masa pandemi sekarang ini memang waktunya untuk memberi, aksi nyata yang telah dilakukan perusahaan adalah membantu pemerintah dalam memberikan aksi sosial kepada masyarakat, yaitu pemberian paket bantuan sembako bagi masyarakat yang membutuhkan.

    Diharapkan bantuan yang diberikan dapat mengurangi dampak sosial akibat adanya pandemic Covid-19, sehingga beberapa hal buruk misalkan angka kriminalitas bisa ditekan. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan,  M.Si.

    Sumber: Nurul Istiqomah, SE, M.Si.

     

  • Peran Pemerintah Atasi Pandemi Covid-19

    Peran Pemerintah Atasi Pandemi Covid-19

    Pakar Ekonomi,  Nurul Istiqomah, SE, M.Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) berpendapat bawah krisis yang terjadi pada tahun 2020 ini adalah krisis kesehatan publik serta humanitarian terbesar, dimana tidak saja menimbulkan kedaruratan kesehatan melainkan juga memberikan kerugian secara ekonomi yang cukup besar.

    Hampir semua sektor terkena imbasnya, dan sektor yang paling berat terkena pandemi Covid-19 adalah sektor pariwisata karena terhentinya usaha disebabkan social distancing. Sektor tersebut diprediksikan baru pulih pada tahun 2022. Sedangkan di sektor keuangan, terdapat ancaman ketidakmampuan dunia usaha untuk melakukan pembayaran pinjaman.

    Oleh karena itu, OJK melakukan monitoring terhadap sektor produktif yang paling terkena dampak dari Covid-19. Walaupun komposisi pembiayaan terhadap sektor produktif hanya berkisar 28-30 %, sedangkan pembiayaan konsumtif berkisar 70-72% tetapi sektor tersebut yang memberikan efek multiplier yang lebih banyak ke perekonomian dibandingkan pembiayaan konsumtif.

    Salah satu kebijakan yang dilakukan oleh OJK yang tertuang dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11 tahun 2020 tentang Stimulus Perekonomian adalah dengan Relaksasi Kredit untuk menekan resiko kredit macet perbankan, sehingga perbankan tidak perlu menambah Non Performing Loan (NPL) guna menambah cadangan kerugian akibat kredit macet.

    Hal ini dilakukan untuk menambah daya tahan dari dunia usaha dalam menghadapi Covid-19. Permintaan agregat yang menurun dari masyarakat, karena adanya ketidakpastian mengenai kondisi yang akan datang menyebabkan masyarakat melakukan langkah aman dengan mengurangi permintaan akan barang di lini sekunder dan tersier. Konsumsi yang tetap dilakukan oleh masyarakat adalah pada basic need, seperti pada produk bahan makanan, sedangkan permintaan pada produk sekunder dan tersier mengalami kelesuan.

    Rentetan akibat penurunan permintaan agregat dari masyarakat selain berdampak kepada kedua sektor tersebut, ternyata juga berdampak ke sektor lainnya seperti sektor transportasi dan otomotif karena penurunan mobilitas manusia, sektor pertambangan karena adanya kelebihan produksi, sektor konstruksi disebabkan adanya potensi kenaikan pembangunan serta sektor UMKM.

    Pada krisis ekonomi tahun 1998, UMKM bertindak sebagai penyelamat perekonomian Indonesia tapi pada krisis kesehatan publik sekarang ini justru UMKM yang menderita paling berat. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh CORE Indonesia (Center of Reform on Economics) mengatakan bahwa masyarakat golongan rentan dan hampir miskin yang mempunyai potensi kehilangan pekerjaan yang paling besar karena umumnya mereka bekerja pada sektor informal, serta banyak usaha yang harus ditutup sementara karena adanya kebijakan PSBB.

    Ketika permintaan agregat masyarakat mengalami penurunan maka gelombang PHK pun mulai melanda Indonesia. Berdasarkan data (Mei 2020) dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, terdapat 6 juta tenaga kerja yang terkena dampak dan 90 % dalam status dirumahkan sedangkan sisanya di PHK. Angka tersebut baru bisa dilacak dari sektor formal saja, sedangkan di sektor informal terdapat 314.883 orang (CNN Indonesia). Jika jumlah pengangguran bertambah, maka bisa dipastikan bahwa daya beli masyarakat mengalami penurunan dan berakibat terhadap tingkat inflasi. Berdasarkan catatan dari BPS menyatakan bahwa inflasi Indonesia pada bulan April 2020 mencapai titik terendah yaitu sebesar 0,08 %. Ini merupakan penggambaran anomali yang terjadi di Indonesia ketika menjelang lebaran, dimana inflasi biasanya mengalami peningkatan karena adanya peningkatan permintaan barang dan jasa.

    Disisi lain, ketika daya beli masyarakat menurun karena adanya PHK serta penerapan PSBB, konsumsi aoutonomus yang dikeluarkan masyarakat tetap ada, bahkan kewajiban pembayaran yang bersifat wajib tetap harus dilakukan masyarakat. Ini menimbulkan gejolak dalam masyarakat, diantaranya adalah peningkatan tingkat kriminalitas, karena ketika perut butuh sesuatu untuk dimakan sedangkan uang yang ada dalam genggaman mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak ada pemasukan, maka hal tersebut merupakan salah satu pemicu munculnya angka kriminalitas yang tinggi.

     “Negara Harus Hadir” dilakukan dengan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang dilakukan pemerintah karena merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kepada masyarakat.

    Beberapa program yang dilakukan tersebut adalah bantuan sosial, percepatan pelaksanaan Kartu Prakerja serta pemotongan tagihan listrik. Berdasarkan pernyataan Imaduddin Abdullah (pengamat ekonomi Indef) menyatakan bahwa negara-negara yang berhasil mengatasi dampak Covid-19 melakukan stimulus fiskal disektor kesehatan, pengurangan dampak negatif dari Covid-19 serta bantuan bisnis yang diberikan pasca pandemik.

    Stimulus fiskal yang diberikan oleh pemerintah untuk mengatasi Pandemi Covid-19 adalah sebesar Rp. 405,1 triliun yang akan diberikan kepada sektor kesehatan sebesar Rp. 75 triliun untuk pembelian alat kesehatan, perlindungan tenaga kesehatan, peningkatan kapasitas rumah sakit rujukan.

     Sedangkan untuk perlindungan sosial sebesar Rp. 110 triliun yang digunakan bagi 10 juta penduduk penerima PKH, 20 juta penerima kartu sembako, 5,6 juta penerima kartu pra kerja, serta insentif cicilan KPR untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) serta diskon tarif listrik bersubsidi. Stimulus pemerintah dalam intensif pajak dan stimulus kredit usaha rakyat sebesar Rp. 75,1 triliun serta untuk pemulihan ekonomi sebesar 150 triliun yang bertujuan untuk restrukturisasi kredit serta penjaminan dan pembiayaan dunia usaha, khususnya UMKM. (Humas FEB).

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

    Sumber: Nurul Istiqomah, SE, M.Si.

  • Webinar Kampus Merdeka Bahas Pemagangan Mahasiswa di Pemerintahan, Swasta dan BUMN

    Webinar Kampus Merdeka Bahas Pemagangan Mahasiswa di Pemerintahan, Swasta dan BUMN

    Pemagangan mahasiswa merupakan bentuk sinergi dan dukungan semua pihak yang mengacu kepada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI nomor 36 tahun 2016 tentang Pemagangan di dalam negeri.  Tujuan dari pemagangan adalah untuk pengayaan wawasan dan keterampilan mahasiswa serta untuk mempersiapkan dan menciptakan SDM Indonesia  yang unggul terutama dalam menghadapi persaingan global.

    Bagi perguruan tinggi, pemagangan berguna sebagai kalibrasi link dan match kurikulum serta silabus antara yang disampaikan di perguruan tinggi dengan yang dibutuhkan oleh industri sedangkan bagi industri, pemagangan menjadi sumber rekrutasi karyawan sesuai kebutuhan serta untuk meningkatkan company branding bagi perusahaan.

    Hal itu disampaikan Dewi Kurnia Salwa, SH, M.Psi T, Vice President Human Capital PT Pertamina Hulu Indonesia, salah satu narasumber Webinar Kampus Merdeka yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas  Maret (FEB UNS), Selasa 23/6/2020.

    Selanjutnya disampaikan, PT Pertamina memiliki dua  program pemagangan, yakni pemagangan kerja untuk mahasiswa yang telah lulus selama 6 bulan dan kerja praktek untuk mahasiswa yang belum lulus , basisnya adalah untuk mensupport penulisan tugas akhir. Di tahun 2020, Pertamina menerima 20000 mahasiswa untuk mengikuti magang. Pertamina juga menerbitkan sertifikat magang berguna untuk membekali mahasiswa untuk mencari pekerjaan usai lulus studi.

    “Banyak mahasiswa yang secara nilai akademik tinggi, pada saat intereview bagus, namun ketika masuk dalam dunia kerja, masuk ke dalam tim kerja mengalami kendala . Dengan magang, mahasiswa banyak memperoleh pengalaman,  dikenalkan dengan dunia kerja untuk pengembangan individual competency dan organizational competency. ” paparnya.

    Dua pembicara lain, Ubaidi Socheh Hamidi yang diwakili oleh Fathul Kamil Tumbriyantoro dari Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan dan Eny Rahma Zaenah, SE, MM, CEP PT tiga Serangkai Inti Corpora menjelaskan tentang program pemagangan  mahasiswa di di pemerintahan dan swasta. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.