FEB

Kategori: fakultas

  • FEB UNS Peduli Taman Satwa, Galang Donasi Pembelian Tiket dan Bantu Karyawan TSTJ

    FEB UNS Peduli Taman Satwa, Galang Donasi Pembelian Tiket dan Bantu Karyawan TSTJ

    Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com.(Hons)., Ph.D., Ak. memberikan donasi sejumlah uang tunai pembelian tiket dan paket beras kepada Pengelola Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo, di Kantor Pengelola TSTJ, Senin 18 Mei 2020.

    Bantuan tersebut terkumpul setelah aksi cepatnya bersama dengan komunitas motor FEB UNS yang lebih dikenal dengan sebutan EMC melakukan sosialisasi penggalangan dana pembelian tiket kepada alumni, dosen, tenaga kependidikan, FEB UNS dan juga pihak eksternal.

    Direktur Utama (Dirut) TSTJ, Bimo Wahyu Widodo, menyambut baik kehadiran pimpinan FEB UNS dan menghaturkan banyak terima kasih atas kepeduliannya menggalang donasi pembelian tiket dan juga bantuan paket beras untuk karyawan TSTJ. Menurut Bimo, pemberian bantuan kepada karyawan TSTJ yang disampaikan FEB adalah kali pertama bantuan dari pihak eksternal, sebelumnya belum pernah ada.


    “Situasi wabah seperti ini sungguh tidak terduga sehingga sudah hampir dua bulan lamanya, kami harus menutup aktivitas operasional dan kunjungan wisatawan. Dan sepertinya akan perlu waktu yang lama untuk mulai mengoperasikan kembali. Untuk memenuhi kebutuhan pakan satwa selama masa pandemi, kami telah berkoordinasi dengan Walikota Solo hingga mengupayakan adanya program donasi melalui pembelian tiket ini” papar Dirut TSTJ.

    Dalam penyerahan donasi tersebut, Dekan didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Izza Mafruhah, Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Dr. Djuminah, dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Mugi Harsono serta Tim Satgas, Dr. Dwi Prasetyani dan Drs. Bambang Sarosa, M.Si, sekaligus sebagai Ketua EMC.

    “Gagasan ini bermula dari info yang kami dengar tentang donasi pembelian tiket dari pengelola TSTJ. Komunitas motor FEB langsung bergerak menyusun sosialisasi ke alumni dan semua warga FEB serta pihak eksternal. Semoga bantuan ini bermanfaat untuk semakin memenuhi kebutuhan pakan bagi satwa yang ada di TSTJ dan juga bermanfaat bagi karyawan yang memeliharanya” kata Prof. Djoko

    Lebih lanjut disampaikannya bahwa bagi para donatur yang sukarela untuk tidak memanfaatkan tiket kunjungan itu, kami merencanakan tiket-tiket itu nantinya disumbangkan kepada anak-anak panti asuhan atau anak-anak sekolah di taman kanak-kanak atau sekolah dasar agar usai pandemi ini, anak-anak dapat berkunjung meramaikan TSTJ.

    Prof. Djoko juga berharap bahwa silaturahmi ini akan semakin mempererat hubungan antara TSTJ dan FEB UNS. Lokasi TSTJ sangat dekat dengan UNS, sehingga sudah selayaknya jika FEB UNS ikut juga memikirkan tetangganya, “urip sing urup memayu hayuning bawono”. (Humas FEB)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Prodi MESP Gelar Visiting Lecture Bahas Pembayaran Terhadap Jasa Lingkungan

    Prodi MESP Gelar Visiting Lecture Bahas Pembayaran Terhadap Jasa Lingkungan

    Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) selenggarakan Visiting Lecture dengan narasumber Diswandi, S.E, M.Sc., Ph.D dari Universitas Mataram (UNRAM), Kamis 13 Mei 2020.

    Kegiatan yang dilaksanakan secara daring itu diikuti oleh mahasiswa MESP, PDIE, Ilmu Lingkungan UNS dan mahasiswa S2 UNRAM dengan pembahasan khusus tentang pembayaran terhadap jasa lingkungan atau dikenal dengan Payment for Environmental Services (PES).

    PES didefinisikan sebagai transaksi sukarela dimana layanan ekosistem dibeli oleh setidaknya satu pembeli layanan dari setidaknya satu penyedia layanan dengan ketentuan bahwa penyedia terus melestarikan sumber daya alam.

    PES bertujuan untuk mendorong pemanfaatan sumberdaya alam yang lebih efisien dan bertanggungjawab. Tanpa ada intervensi langsung dari publik, ancaman terhadap kerusakan lingkungan akan semakin meningkat, ketersediaan jasa lingkungan akan menjadi langka, dan muncul berbagai persoalan lingkungan, seperti banjir, kekeringan, tanah longsor dan pemanasan global.

    Beberapa skema PES diantaranya
    penyerapan dan penyimpanan karbon (misalnya perusahaan listrik membayar petani atau pemilik tanah untuk menanam dan memelihara pohon tambahan); Perlindungan keanekaragaman hayati (misalnya donor konservasi membayar penduduk lokal untuk memulihkan daerah membuat koridor biologis); Perlindungan daerah aliran sungai (misalnya konsumen air hilir membayar pengguna hutan di hulu untuk mengadopsi pengelolaan lahan yang mengendalikan deforestasi, erosi tanah, risiko banjir, dll.); dan kemudahan lanskap (misalnya operator pariwisata membayar komunitas lokal untuk menjaga keindahan lanskap atau tidak berburu di hutan yang digunakan untuk ekowisata)

    Diswandi telah melakukan studi kasus PES di Lombok sebagai respon terhadap ancaman kekurangan air di Lombok.

    Menurutnya, kesenjangan ekonomi antara masyarakat yang mengelola hutan di daerah pedesaan dan mereka yang mengonsumsi air di daerah perkotaan menimbulkan konflik kepentingan terkait tata kelola hutan.

    Penduduk desa miskin yang tinggal di sekitar hutan Rinjani didorong untuk mengambil bagian dalam perlindungan hutan, yang bertentangan dengan ketergantungan ekonomi mereka pada lahan hutan. Sementara itu, masyarakat yang relatif makmur di daerah perkotaan membutuhkan air dan karenanya bergantung pada tata kelola hutan yang efektif.

    Program PES di Lombok Barat terintegrasi dengan hutan kemasyarakatan untuk membantu petani mendapatkan benih gratis, yang utamanya adalah Multipurpose Trees Species (MPTS) yang seharusnya memberikan manfaat ekonomi dan dengan demikian berkontribusi pada pengurangan kemiskinan.

    Namun, karena jumlah dana yang disediakan relatif kecil, itu hanya dapat digunakan untuk modal tambahan untuk mengelola hutan rakyat. Sulit untuk berpendapat bahwa PES akan dapat menyelesaikan masalah kemiskinan dalam jangka pendek. Karena sebagian besar pohon yang ditanam dikategorikan sebagai MPTS, dapat diasumsikan bahwa lebih banyak manfaat akan dinikmati dalam jangka panjang setelah siap dipanen. (Humas FEB)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Pelaksanaan Pelatihan Online pada Program Kartu Prakerja Masih Belum Efektif

    Pelaksanaan Pelatihan Online pada Program Kartu Prakerja Masih Belum Efektif

    Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan tapi berimbas pada sektor ekonomi dan akibat yang paling banyak dirasakan adalah menurunnya kegiatan ekonomi sehingga banyak orang kehilangan pekerjaan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tidak bisa dihindarkan terutama pada pusat-pusat industri.

    Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah telah meluncurkan program kartu prakerja yang sebenarnya sudah disiapkan jauh hari sebelum munculnya wabah. Kartu prakerja yang digulirkan pemerintah diharapkan dapat mengatasi persoalan pengangguran yang belakangan ini semakin meningkat.

    Menyikapi kondisi ini, di Bincang Pagi RRI Surakarta, Kamis 14 Mei 2020, Pakar Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si. mengatakan bahwa kartu prakerja ini telah diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) no 36 Tahun 2020 tentang Pengembangan Kompetensi Kerja melalui Kartu Prakerja yang tujuannya untuk mengembangkan kompetensi angkatan kerja dan meningkatkan produktifitas dan daya saing angkatan kerja.

    Menurut Dr. Izza, efektivitas program kartu prakerja bisa diukur dari tiga tahapan program kartu prakerja yaitu pada pra pelaksanaan, pelaksanaan dan output atau hasilnya.

    Pada saat pra pelaksanaan atau proses seleksi, perlu diperhatikan kriteria penerima kartu pra kerja, siapa saja yang dapat. Banyak masyarakat yang berharap untuk bisa lolos dalam program ini. Perlu diperhatikan pula indikator penilaian seleksi dan harus fair dalam penentuan penerimaan.

    Selain itu harus juga ada pembedaan wilayah karena Indonesia sangat luas, ada yang di pegunungan, pedesaan, perkotaan dan pesisir. Ada daerah-daerah yang sangat sulit untuk mengakses internet.

    “Seleksi penerima kartu prakerja harus dicek ulang apakah sudah efektif atau belum karena mungkin saja yang ingin mendaftar banyak namun terhambat karena kesulitan jaringan atau belum paham teknologi dan jangan-jangan yang bisa daftar orang-orang tertentu. Kita sadar bahwa tidak semua masyarakat Indonesia melek teknologi” jelasnya.

    Lebih lanjut disampaikan, pada tahap pelaksanaan, perlu dilihat jenis pelatihan yang dibutuhkan apakah skill, up skill, atau re skill. Dan juga kompetensi yang dibutuhkan apakah hardskill atau softskill. Jika pelatihan yang sifatnya softskill seperti komunikasi, publik speaking, komputer , bahasa, dan pemasaran mungkin bisa dilatih secara online namun untuk perbengkelan, menjahit dan sejenisnya yang butuh keterampilan secara offline, maka dimasa ini tidak bisa diterapkan.

    Pada masa pandemi ini yang memang harus menggunakan online, pelatihan softskill harus didorong. Dan yang paling penting lagi adalah perlu melihat keunikan wilayah sesuai kondisi geografis.

    Pelaksanaan pelatihan online kurang efektif karena tidak semua masyarakat bisa mengikuti, masih ada yang belum “melek” teknologi dan juga praktik yang sifatnya skill sangat sulit untuk dilakukan.

    Sementara itu, untuk efektivitas output kartu prakerja akan bisa dilihat sekitar bulan Agustus, perlu beberapa hal untuk dikaji, indikatornya seperti apa, durasi mendapatkan pekerjaan setelah diberikan sertifikasi oleh penyedia jasa online, dan kesesuaian antara pelatihan yang diperoleh dengan pekerjaan yang dilakukan.

    Menurut Dr. Izza ada beberapa permasalahan dalam hal program kartu pekerja, diantaranya adalah pemahaman masyarakat mengenai kartu prakerja yang melihat ini sebagai insentif seperti jaminan sosial bagi pengangguran di banyak negara maju. Padahal intinya adalah pada pelatihan atau pembekalan yang diberikan pada kartu prakerja . Hal ini berkait langsung dengan sosialisasi yang diterima oleh masyarakat bahwa ini adalah bantuan pengangguran.

    Selain itu, saat ini belum ada basis data tentang masyarakat yang menganggur atau fresh graduate, karena memang mobilitasnya sangat cepat. Berbeda dengan penduduk miskin, di mana kita punya TPKN (Tim penanggulangan Kemiskinan Nasional) yang telah memiliki BDT (Basis Data Terpadu) bahkan by name by address by kepemilikan harta dan sebagainya ada. Ini menjadi kendala ketika harus melakukan verifikasi bagi pencari kartu kerja, sehingga memakan waktu yang relatif lama.

    Permasalahan lainnya yakni tidak semua angkatan kerja melek teknologi . Kemampuan menggunakan internet yang tidak merata, pendidikan dari pencari kerja pun beragam.

    Di akhir perbincangan Dr. Izza menyampaikan harapannya kepada penerima kartu prakerja untuk bisa benar-benar memanfaatkan peluang yang diberikan. Dan pasca Covid-19, banyak hal yang bisa dilakukan oleh penerima kartu prakerja untuk meningkatkan kompetensi, bisa memanfaatkan potensi yang muncul karena akan ada perubahan yang sangat signifikan, akan membuka peluang yang bukan hanya bekerja tapi peluang berusaha (Humas FEB)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Melihat Lebih Dekat Kondisi Mahasiswa, Dekanat FEB UNS Kunjungi Mahasiswa di Kos

    Melihat Lebih Dekat Kondisi Mahasiswa, Dekanat FEB UNS Kunjungi Mahasiswa di Kos

    Dekan, para Wakil Dekan, dan Perwakilan Sub Bagian Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mengunjungi tiga mahasiswa yang masih berada di kos sekitar kampus UNS, Kamis 14 Mei 2020.

    Ketiga mahasiswa yang dikunjungi yakni Aurora Farras Proram S1 Transfer Ekonomi Pembangunan dari Purbalingga, Muhammad Luthfi Yusaqi, Program Studi S1 Manajemen dari Padang dan Risca Dwi Jayanti, Program Magister Akuntansi dari Malang.

    Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com.(Hons)., Ph.D., Ak., Dekan FEB UNS mengatakan, selama pagebluk multi dimensi ini ada sekitar 100-an mahasiswa FEB UNS yang masih berada di kos sekitar Kampus Benteng Pancasila.

    “Secara periodik dua mingguan, Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS memberi bantuan bahan pangan atau uang kepada mahasiswa” jelasnya

    Kunjungan Dekan berserta rombongan hari ini bertujuan untuk melihat lebih dekat kondisi sesungguhnya mahasiswa FEB UNS yang masih berada di kos dan juga memberikan dukungan semangat untuk belajar meski harus jauh dari keluarga di masa pandemi.

    Dekan dan rombongan sengaja melakukan kunjungan tersebut dalam waktu yang hanya sebentar sebagai upaya untuk mentaati protokol pencegahan penularan Covid-19 dan dengan tetap menjaga jarak serta mengenakan masker.

    Dalam kunjungan singkat itu, Dekan dan Wakil Dekan menanyakan tentang keadaan kesehatan mahasiswa di kos, aktifitas yang dilakukan dan juga seputar perkembangan studinya. Mahasiswa didorong untuk selalu semangat mengikuti seluruh proses perkuliahan yang dilaksanakan secara daring. Mahasiswa juga diharapkan agar selalu menjaga kesehatan diri, tetap berkomunikasi dengan Tim Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS.

    Usai kunjungan, Dekan menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan orang tua dari Muhammad Luthfi Yusaqi, dengan Ibu Nur Evi yang berada di Padang, Sumatera Barat.

    Ibu Nur Evi sangat berterima kasih kepada Dekanat FEB dan tim yang berkenan menengok putranya di kos.

    “Terima kasih sudah mengunjungi anak kami, sungguh kami sangat mencemaskan, saat ini kami sangat lega lihat keadaan Luthfi dan perhatian Bapak Ibu Pimpinan dan Tim , semoga Allah SWT membalas kebaikan dengan pahala dan keberkahan, kami menghaturkan banyak terima kasih “ papar Bu Nur.

    Pimpinan melalui Tim Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS senantiasa menjalin komunikasi dengan mahasiswa yang masih berada di kos melalui grup whatsapp. Selain memantau kondisi mahasiswa, tim selalu berkoordinasi dalam memberikan bantuan yang direncanakan secara bertahap hingga wabah usai. Tim juga masih menerima masukan seandainya masih ada mahasiswa di sekitar kampus yang belum tergabung dan belum menerima bantuan. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

     

  • Bagian Akademik Lakukan Cek Berkas Fisik dan Verifikasi Online Calon Mahasiswa Baru Jalur SNMPTN

    Bagian Akademik Lakukan Cek Berkas Fisik dan Verifikasi Online Calon Mahasiswa Baru Jalur SNMPTN

    Masa registrasi online bagi calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Sebelas Maret (UNS) jalur SNMPTN telah selesai dan tahap berikutnya adalah pengecekan berkas fisik dan verifikasi online yang dimulai sejak tanggal 12 – 20 Mei 2020 oleh petugas akademik di masing-masing fakultas.

    Untuk mentaati protokoler pemerintah yang masih memberlakukan jaga jarak selama Pandemi Covid -19, maka camaba mengirimkan berkas fisik registrasi online melalui pos atau jasa pengiriman ke bagian akademik fakultas. Tahun kemarin, sebelum ada wabah, camaba usai registrasi online, menyerahkan berkas langsung ke fakultas untuk dicek petugas.

    Sebelumnya, camaba saat registrasi online sudah mengunggah berkas ajuan sebanyak 12 berkas, diantaranya fotokopi sertifikat akreditasi sekolah yang telah dilegalisasi kepala sekolah, bukti pembayaran UKT dari bank, kopi buku rapor yang dilegalisasi oleh kepala sekolah, surat keterangan penghasilan orang tua, kartu tanda peserta SNMPTN dan berkas lainnya yang telah disyaratkan oleh bagian akademik .

    Menurut Kepala Sub Bagian Akademik FEB UNS, Nur Hariawan, SH, hingga hari ini, berkas fisik yang dikirimkan mahasiswa melalui pos belum seluruhnya diterima oleh bagian akademik FEB.

    Tanduk bagian akademik sedang mengecek berkas dan verifikasi online
    Tendik bagian akademik sedang cek berkas dan verifikasi online

    “Kami bisa memahami, datangnya berkas memang tidak bisa bersamaan karena tempat tinggal mahasiswa berbeda-beda, ada yang jauh dan dekat. Kami akan menunggu. Bagian akademik menerima berkas fisik persyaratan registrasi online dari camaba yang terkirim melalui pos paling lambat tanggal 20 Mei 2020 ” tuturnya.

    Nur Hariawan berharap semoga sebelum tanggal 20 Mei 2020, keseluruhan berkas fisik sudah diterima bagian akademik FEB untuk dapat diverifikasi lebih lanjut oleh petugas.

    Untuk membantu kelancaran proses pengecekan berkas dan verifikasi online camaba jalur SNMPTN, bagian akademik FEB telah menugaskan empat orang tenaga kependidikan. Pelaksanaan tugasnya disesuaikan dengan jadwal piket kantor selama masa Pandemi Covid-19 (Humas FEB).

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Di Tahap ketiga , Tim Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS Beri Bantuan 44 Mahasiswa

    Di Tahap ketiga , Tim Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS Beri Bantuan 44 Mahasiswa

    Tim Satgas Dampak Covid-19 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) di tahap ketiga memberikan bantuan bahan makanan kepada 44 mahasiswa FEB UNS, Senin 11 Mei 2020 di depan Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FEB UNS.

    Dekanat menyerahkan bantuan kepada mahasiswa

    Bantuan bahan makanan diserahkan oleh Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons). Ph.D, Ak., Dekan FEB UNS didampingi para Wakil Dekan dan Tim Satgas Dampak Covid- 19. Selanjutnya secara bergantian, bantuan diserahkan oleh para Wakil Dekan dan Tim Satgas sejak pukul 13.00 hingga 14.00 WIB.

    Penerima bantuan adalah mahasiswa yang di masa wabah masih berada di kos sekitar kampus dan memasak sendiri. Jumlah penerima bantuan di tahap ketiga ini bertambah dari sebelumnya yang hanya 20 mahasiswa.

    Petugas mengecek kesesuaian data mahasiswa penerima bantuan

    Sebelum membagikan bahan makanan, petugas mengecek kesesuaian data mahasiswa dan selama pelaksanaannya harus tetap mentaati protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19, mencuci tangan dengan hand sanitizer yang telah disediakan, mengenakan masker dan juga menjaga jarak.

    Bahan makanan yang diberikan oleh Tim Satgas juga mengalami perubahan dan penambahan jenisnya sesuai dengan kebutuhan mahasiswa berupa beras, minyak goreng, gula pasir, mie instan, telur ayam, garam, penyedap rasa, kue dan suplemen.

    Risca Dwi Jayanti, salah satu mahasiswa FEB UNS yang berasal dari Malang merasa bersyukur dan terbantu dengan adanya Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS.

    Kesibukan petugas, menata dan mengemas bahan makanan

    “Kami bersyukur bahwa FEB UNS bisa cepat dan tanggap untuk memberikan bantuan. Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian menanggapi situasi pandemik seperti ini. Insya’Allah bantuan dari kampus cukup memenuhi kebutuhan kami mahasiswa selama stay at home, karena memang banyak warung yang tutup, sehingga bantuan bahan makanan itu sangat tepat bagi kami yang bisa lebih produktif untuk bisa mengolah bahan makanan sendiri” tuturnya.

    Terlebih ketika mahasiswa yang masih kos bisa tergabung dalam grup yang terpantau oleh Tim Satgas, Risca yang saat ini hanya sendiri di kos merasakan adanya kebersamaan, semakin banyak support system yang bisa saling menguatkan dan menyemangati satu sama lain.

    Untuk memudahkan komunikasi , Tim Satgas membentuk grup whatsapp dengan mahasiswa yang masih kos di sekitar kampus dan senantiasa menyampaikan agar mahasiswa bisa mengkomunikasikan kondisi kesehatannya. Tim masih menerima masukan seandainya masih ada mahasiswa di sekitar kampus yang belum tergabung dan belum menerima bantuan. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Pengembangan Ekonomi Pariwisata Perlu Libatkan Masyarakat

    Pengembangan Ekonomi Pariwisata Perlu Libatkan Masyarakat

    Masalah utama dari ekonomi pariwisata atau ekonomi lingkungan adalah bahwa ekonomi pariwisata merupakan barang publik yang memiliki eksternalitas yang mungkin kita mengalami kesulitan untuk mengestimasi.

    Beberapa metode valuasi yang bisa digunakan untuk mengestimasi adalah dengan beberapa metode valuasi yakni Travel Cost Methods, Hedonic Price, Contingent Valuation, dan Benefit Transfer.

    Hal itu diungkapkan Agni Alam Awirya, SE, MSE, narasumber pada Visiting Lecture yang diselenggarakan Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Kamis 7 Mei 2020.

    Acara yang sebagian besar diikuti oleh mahasiswa MESP dan beberapa dosen itu dilaksanakan secara daring dan berisi sharing penelitian tentang ekonomi pariwisata dan lingkungan yang telah dilakukan oleh narasumber.

    Menurut Agni, ada tiga hal yang bisa diupayakan untuk memelihara lingkungan wisata diantaranya dengan memberikan tarip wisata yang lebih tinggi bagi pengunjung untuk biaya pengelolaan lingkungan wisata. Ada harga tinggi untuk keindahan lingkungan.

    Pemeliharaan lingkungan wisata juga bisa ditempuh dengan keterlibatan masyarakat yang lebih luas. Masyarakat turut aktif dalam menjaga lingkungan sekaligus mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata. Pengembangan wisata merupakan salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi wisata.

    Selain itu, pariwisata dapat diorganisir dengan baik. Sebagai contoh implementasinya di Yogyakarta ada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pengelola bisa juga menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, melibatkan mahasiswa yang Kuliah Kerja Nyata (KKN).

    “Ekonomi pariwisata bukan sekadar pengalaman mengunjungi tempat. Namun ada tanggung jawab secara sosial dan secara emosional merawat lokasi yang dikunjungi, pun kesediaan untuk membayar lebih mahal. Peran ekonomi pariwisata adalah untuk memangkas aspek negatif dari pariwisata massal” jelasnya

    Selanjutnya disebutkan indikator pariwisata berkelanjutan dapat dibangun dengan memanfaatkan sumber daya lingkungan secara optimal, menghormati keaslian budaya sosial masyarakat tuan rumah dan juga memberikan manfaat sosial ekonomi bagi semua pemangku kepentingan yang terdistribusi secara adil, termasuk kesempatan kerja yang stabil dan berkontribusi pada pengurangan kemiskinan.

    Di sisi lain, Agni menjelaskan bahwa upaya meningkatkan kunjungan wisatawan tidak hanya mengandalkan tujuan wisata utama. Namun penting juga untuk pengembangan kawasan wisata pendukung (peripheral area).

    Pengembangan wisata pendukung diharapkan dapat meningkatkan pilihan tujuan wisata sehingga memperpanjang lama tinggal wisatawan.

    Selain itu, pengembangan wisata pendukung juga diharapkan dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal dengan memanfaatkan momentum peningkatan kunjungan wisatawan.

    Menyinggung kondisi lokasi wisata di masa wabah Corona, Agni melihat dengan wabah ini, ada keseimbangan alam yang terjadi, lokasi wisata alam tampak lebih segar dan bersih.

    Usai wabah, masyarakat bisa memilih wisata alam sebagai wahana wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. (Humas FEB)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Tendik FEB Lolos 8 Besar Lomba Pantun Empati Wabah Covid-19

    Tendik FEB Lolos 8 Besar Lomba Pantun Empati Wabah Covid-19

    Sekti Anjar Sari, S.Sos, Tenaga Kependidikan (Tendik) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS)   berhasil terpilih dalam 8 besar pemenang lomba pantun yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Sebelas Maret (UNS).

    Pemenang lomba diumumkan kemarin, 7 Mei 2020 melalui media WhatsApp. Dari lomba pantun yang diikuti oleh 83 Ibu-Ibu DW Unit Persatuan (UP) UNS, terpilih 20 peringkat terbaik dan akan diabadikan dalam sebuah buku UNTAIAN PANTUN DWP UNS “Empati Covid-19”.

    Tim penilai adalah 3 orang dosen UNS yang ahli dalam bidang bahasa dan sastra yakni  Dr. M. Rohmadi, S.S., M.Hum., Prodi,  Drs. Al. Prasojo, M.Sn,  dan Asep Yudha  W, S.S., M.A.

    Tendik yang sehari-harinya akrab dengan panggilan Anjar dan bertugas di Bagian Keuangan Magister Manajemen dan Magister Akuntansi FEB UNS telah mengirimkan 6 karyanya di bulan April lalu  melalui Whatsapp kepada Ibu Lini Subekti Djoko Suhardjanto selaku Ketua Dharma Wanita UP FEB UNS.

    Ide judul yang dipilih untuk pantunnya yakni Ayo Berjemur, Tidak Jabat Tangan,  Optimis Corona Sirna, Di Rumah Aja, Jaga Jarak, dan Pake Masker.

    Anjar pun tidak menyangka kalo masuk dalam delapan besar, awalnya hanya sekedar iseng saja, untuk memeriahkan lomba dan juga untuk mengatasi rasa jenuh selama masa pandemi, lebih sering bekerja dari rumah.

    Panitia lomba sebenarnya hanya mensyaratkan peserta untuk membuat dan mengirimkan 3 hingga 5 buah pantun bertemakan pencegahan Covid-19, tidak ada persyaratan lain. Namun Anjar punya gagasan lain , tidak hanya menulis pantun tetapi mencoba mengkreasikannya dengan sebuah aplikasi.

    Anjar bergegas belajar sebuah aplikasi melalui putri semata wayangnya, Naira. Setelah cukup mampu, Anjar dengan kelihaian tangannya membuat pantun-pantun itu yang tak hanya indah dibaca tapi juga indah dipandang.

    “Untuk membuat pantunnya tidak butuh waktu lama, namun mengkreasikannya dengan sebuah aplikasi yang butuh waktu agak lama. Kurang lebih sekitar tiga jam saya menyusun keenam pantun itu dan saya membuatnya ketika malam hari, suasana sepi memudahkan untuk mengeluarkan ide-ide” ujarnya.

    Bagi Anjar, lomba ini adalah pengalaman pertamanya, dan hasil dari lomba ini semakin menantangnya lebih berkreasi lagi untuk mengikuti lomba-lomba pantun berikutnya. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

     

  • Dosen FEB UNS Bangkitkan Kampung Maronggelo

    Dosen FEB UNS Bangkitkan Kampung Maronggelo

    Dua Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Bambang Sarosa dan Heru Agustanto di Februari 2020 lalu, melakukan serangkaian kegiatan di Kampung Maronggelo, Desa Wolomeze, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Kedua dosen Program Studi Manajemen FEB UNS tersebut membantu mendukung kemajuan SMK Pertanian Terpadu Santo Bertelomeus Maronggelo di bidang sumber daya manusia , sarana dan prasarana pendidikan serta bantuan lainnya. SMK tersebut berada dibawah naungan Yayasan Pendidikan Cahaya Warukia (SANDICAKIA).

    Pendirian SMK Pertanian Terpadu Santo Bertelomeus Maronggelo, beberapa tahun lalu telah digagas kedua dosen FEB UNS tersebut bersama dengan tokoh agama dari Desa Maronggelo, Romo Berto, Pastor yang juga Doktor di bidang Sosiologi Agama dan bersama beberapa tokoh masyarakat lain.

    Rapat dengan guru dan pengurus yayasan pendidikan membahas kurikulum SMK

    Sekolah itu saat ini sudah masuk tahun kedua dan untuk sementara masih menempati sekolah lain desa setempat.

    Rencananya momen 2 Mei 2020 akan dilakukan peletakan batu pertama untuk mulai pembangunan gedung. Targetnya selesai 5 tahun dengan 6 ruang kelas, aula, ruang guru, dan ruang penjaga sekolah.

    Menurut Heru Agustanto, gagasan pendirian SMK Pertanian Terpadu Santo Bertelomeus Maronggelo agak berbeda dengan ide pendirian sekolah-sekolah lain pada umumnya, yakni sekolah pertanian dan peternakan terpadu yang berorientasi pada kearifan lokal dengan pengembangan dan budidaya tanaman lokal.

    Nantinya diharapkan bisa menjadi contoh sekolah mandiri berbasis kearifan lokal, dimana sebagian dari biaya sekolah dan proses belajar mengajar didanai dari hasil pertanian dan peternakan yang dikelola oleh siswa dan guru di lahan seluas sekitar 10 hektar yang diserahkan oleh desa Maronggela sebagai lahan untuk praktek sekolah tersebut.

    “Itulah yang mendorong kami berdua untuk lebih punya perhatian dan melibatkan diri ikut mendorong memajukan sekolah tersebut” jelasnya.

    Selanjutnya dikatakan bahwa sebenarnya keduanya mulai masuk di Maronggelo sejak Desember 2017. Berbagai program yang telah dilakukan diantaranya membentuk koperasi pendidikan, koperasi petani, membuat latihan pupuk bokashi, dan juga memberikan pelatihan kerajinan bambu bagi masyarakat setempat.

    Untuk mensukseskan serangkaian program tersebut, selama tiga periode Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNS, keduanya mengajak mahasiswa ke Maronggelo untuk melanjutkan-programnya programnya.

    “Kami dan beberapa mahasiswa yang pernah KKN di sana, sampai sekarang terus berusaha melanjutkan mimpi-mimpi bersama masyarakat setempat” jelas dosen yang saat ini menjabat sebagai Koordinator Bidang Sarana dan Prasarana FEB UNS.

    Meninjau lahan pendirian SMK Pertanian Terpadu Santo Bertelomeus

    Bambang Sarosa dan Heru Agustanto saat ini juga sedang merancang program pertanian kedele di wilayah Riung Barat. Program ini akan bekerja sama dengan pemerintahan kecamatan dan desa.

    Dengan kesibukannya sebagai tenaga pengajar dan peneliti, aktifitas mulia kedua dosen FEB, membangun dan membangkitkan Kampung Maronggelo semoga menginspirasi tenaga pendidik lainnya untuk meringkankan langkah mengabdi bagi masyarakat yang lebih luas. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Pengamat Ekonomi: Kartu Pra Kerja Sangat Membantu Para Buruh Yang Terkena PHK Dampak Pandemi Covid-19

    Pengamat Ekonomi: Kartu Pra Kerja Sangat Membantu Para Buruh Yang Terkena PHK Dampak Pandemi Covid-19

    Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang luas bagi seluruh masyarakat di Indonesia, terlebih bagi para buruh. Tak sedikit para buruh yang harus kehilangan pekerjaannya karena perusahaan tempatnya bekerja terpaksa harus melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

    Kondisinya memang darurat, di wilayah yang sudah menerapkan Pembantasan Sosial Berskala Besar (PSBB), jika perusahaan masih mempekerjakan tenaga kerjanya akan terkena denda 100 juta hingga sanksi lain dalam bentuk pencabutan ijin dan sebagainya.

    Untuk membantu masyarakat yang terkena PHK dan memiliki keterampilan lain , pemerintah telah meluncurkan Program Kartu Pra Kerja pada awal April 2020 bekerja sama dengan mitra memberikan pelatihan-pelatihan secara daring atau online.

    Banyaknya pelatihan-pelatihan online yang diselenggarakan pada program ini sangat membantu masyarakat, dan pemerintah cukup “fair” karena tidak hanya memberikan pelatihan tapi juga memantau hasil pelaksanaannya agar tenaga kerja memiliki kompetensi yang sama dengan tenaga kerja asing.

    Hal itu disampaikan Pengamat Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Dr. Izza Mafruhah, M.Si saat dialog interaktif bincang pagi online dengan RRI Surakarta, Jumat 1 Mei 2020.

    Selanjutnya disampaikan, dalam program ini pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp 3,55 juta dengan rincian 1 juta untuk biaya pelatihan dengan mitra kerja online, 2,4 juta untuk insentif pasca penuntasan pelatihan pertama yang setiap bulan diberikan 600 ribu selama 4 bulan, dan 150 ribu untuk insentif evaluasi, usai pelatihan harus ada 3 kali evaluasi.

    Kartu pra kerja yang disediakan pemerintah untuk 5,6 juta pekerja dengan dana sekitar 20 trilyun dan dilakukan bertahap. Pada tahap pertama, dari 8 juta pendaftar, telah terverifikasi dan lolos 926.790 orang. Dan saat ini tahap kedua sudah mulai dibuka.

    Para pekerja yang terdampak covid dengan sangat mudah dapat mengakses program kartu pra kerja di laman resmi http://www.prakerja.go.id/. Di masing-masing satgas kelurahan pun sudah dibekali untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan untuk mendaftar.

    Di sisi lain, Dr. Izza yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS menjelaskan bahwa ketahanan pangan secara lingkungan menjadi bagian yang penting disaat sebagian besar orang kehilangan pekerjaan , tidak bisa melakukan aktifitas apapun.

    Dr. Izza juga menyampaikan hasil rapat onlinenya dengan kementerian desa tentang ketahanan pangan yang harus disiapkan dari desa. Dana desa bisa dialihkan untuk langkah penanganan covid di masing-masing desa, misalnya pembuatan lumbung pangan. Tak hanya pemerintah desa yang bekerja, masyarakat juga ikut berperan aktif di dalam pengembangan lumbung pangan ini.

    Selanjutnya dikatakan ketika ada seorang tetangga meninggal karena kelaparan atau kekurangan pangan maka yang paling bersalah adalah tetangganya, mengapa tidak tahu.

    Kepekaan sosial harus dibangun dari dasar, mulai dari diri sendiri, mulai bersama-sama dan mulai dari sekarang.

    “Insya’ Allah semua permasalahan cepat selesai dan yang paling penting adalah jangan saling menyalahkan, ini adalah bencana non alam yang seluruh dunia mengalami, mari kita bangkit bersama. ” tuturnya menutup perbincangan pagi.

    (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.