Sebanyak 10 tim terbaik berhasil lolos dan menyisihkan 41 tim lainnya dalam ajang International Business Canvas Competition yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS). Tim tersebut berlaga kembali secara daring menampilkan presentasi ide-ide bisnis terbaiknya dihadapan para juri, Selasa, 27 April 2021.
Kesepuluh tim itu yakni Tim Sentelala dari Universitas Prasetiya Mulya, Diceritain dari Universitas Indonesia, CoC Unsoed dari Universitas Jenderal Sudirman, Labs dari Telkom Unibersoty, CnW dari Universitas Negeri Malang, Jetz! dari Universitas Gadjah Mada, tim * dari Universitas Padjadjaran, Team Deadline Susulan dari Univeristas Sebelas Maret, PalePale dari Institut Teknologi Bandung dan Castelo dari Telkom University.
Juri di kompetisi ini dari akademisi yakni Catur Sugiarto, S.E., M.S.M. Ph.D dan Ariyanto Adhi Nugroho, SE, M.Ec,Dev, MAPPI, dosen FEB UNS. Selain itu juga dari praktisi, Kusdarmawan Aryo Brakoso, CEO Rown Division, Bull Syndicate dan Hallosolo Kitchen.
Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com, (Hons), Ph.D, Ak mengatakan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Dies Natalis ke-45 UNS ini bertujuan untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur bagi mahasiswa dalam suatu wadah kompetisi bisnis tingkat nasional maupun internasional. Generasi muda yang mampu memunculkan ide-ide baru yang out of the box. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mencetak entrepreneur muda yang memiliki ide bisnis cemerlang serta mendukung bagi pengembangan bisnis para entrepreneur muda.
International Business Canvas Competition telah berlangsung sejak 22 Februari 2021 lalu dan diikuti oleh 51 tim mahasiswa dari perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Kegiatan Dimulai dari proses registrasi dan selanjutnya secara bertahap, tim yang berjumlah 51 beradu ide bisnis secara daring yang dilaksanakan pada tanggal 5, 6 dan 19 April 2021.
Tim Jetz!, salah satu tim International Business Canvas Competition
10 tim terbaik yang terpilih dan telah mempresentasikan ide bisnisnya pada 27 April 2021 akan disaring menjadi 5 tim sebagai pemenang kompetisi dan akan diumumkan pada tanggal 20 Mei 2021 mendatang. (Humas FEB)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Webinar Internasional Business Model Canvas Competition bertema Finding Success as Creative Millenial Entrepreneurs in The Digital Economy Era dan diikuti oleh lebih dari 1000 peserta melalui zoom cloud meeting dan youtube, Senin 26 April 2021.
Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S. menghadirkan empat narasumber yakni Utari Octavianty, Co-Founder and General Director Aruna; Keke Genio, Co-Founder and CMO of Lokapoin Content Creator at Youtube; Meidy Fitranto, Co-Founder and CEO Nodeflux serta Agung Nur Probohudono, SE, M.Si. Ph,D, AK, CA, CFrA, Kepala Program Studi Akuntansi FEB UNS.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiago Salahuddin Uno hadir sebagai Keynote Speaker pada webinar yang juga merupakan rangkaian peringatan Dies Natalis ke 45 UNS.
Dekan FEB UNS, Prof. Djoko Suhardjanto
Mengawali sambutannya, Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com, (Hons). Ph,D.,Ak, mengatakan pandemi Covid 19 telah memberikan efek domino yang multisektoral dari semua aspek kehidupan seperti kesehatan, sosial, ekonomi, keuangan dan lain sebagainya. Meskipun demikian, aktifitas ekonomi harus terus berjalan dengan tetap memperhatikan faktor-faktor kesehatan.
Selama masa pandemi ini, pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara mengalami peningkatan. Banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan digital seperti berbelanja online, ecommerce hingga jasa pengantar makanan.
Mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebutkan bahwa perkembangan ekonomi digital dan industri 4,0 di Indonesia merupakan yang tercepat di Asia Tenggara dan akan menjadi kekuatan tersendiri untuk mewujudkan Visi Indonesia Emas melalui industri 4,0.
Agung Nur Probohudono, Ph,D, Kepala Program Studi Akuntansi FEB UNS
Selanjutnya disampaikan bahwa adanya pandemi covid 19 membawa percepatan adopsi digital permanen dan yang masif. Pertumbuhan ini juga tidak terlepas dari perkembangan infrastruktur dan penetrasi digital di Indonesia.
Bersumber dari Google, Temasek, Bain and Company menyebutkan pengguna baru sebanyak 37% dari total pengguna digital di Indonesia.
Meidy Fitranto, Co-Founder and CEO Nodeflux
“Bisnis startup di Indonesia mulai menjadi trend dan mulai banyak digandrungi para milenial sejak 5 tahun belakangan ini. Kesuksesan para perusahaan start up besar di tanah air menjadi suatu penggerak utama bagi bisnis-bisnis startup di Indonesia. Pemilik bisnis startup lokal selalu bertambah setiap tahunnya dan menyentuh jumlah hingga 1500 bisnis. Hal ini karena pengguna internet di Indonesia terus meningkat secara drastis setiap harinya” jelas Dekan FEB yang di tahun ini juga sebagai Ketua Dies Natalis ke 45 UNS.
Keke Genio, Co-Founder and CMO of Lokapoin Content Creator at Youtube
Meskipun peluang dalam membangun startup sangat terbuka, namun Profesor Thomas R. Eisenmann dari Havard Business School mencatat bahwa bisnis rintisan atau startup banyak yang berujung pada kegagalan.
Utari Octavianty, Co-Founder and General Director Aruna
Berdasarkan riset CB Insights berjudul Top 20 Reasons Startup Fail, ada 5 faktor utama penyebab kegagalan perusahaan rintisan antara lain, produk tidak sesuai dengan kebutuhan pasar, kurangnya pendanaan, tim yang tidak solid, kalah bersaing, dan penetapan harga produk atau biaya operasional yang tidak akurat. Hal tersebut merupakan catatan penting bagi para milenial yang akan memulai bisnis startup.
Di akhir sambutannya, Prof. Djoko berharap dengan terselenggaranya Internasional Business Model Canvas Competition akan menumbuhkan bibit-bibit baru di Indonesia yang mampu berinovasi, memunculkan ide-ide baru yang out of the box.
Di kegiatan ini pula sebanyak 51 tim dari perguruan terbaik di Indonesia berkompetisi mengeksplorasikan ide-ide bisnis mereka. Dari sejumlah itu, 10 tim terbaik akan berlaga kembali mempresentasikan ide-ide bisnis mereka. (Humas FEB)
Saat ini ada sekitar 34 juta masyarakat Indonesia yang menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengajak kaum milenial untuk mulai merintis usaha, menjadi wirausahawan, mengambil peluang untuk menciptakan lapangan kerja.
Indonesia butuh entrepreneur-entrepreneur agar sektor ini semakin cepat pulih dan berkembang karena ujung tombak penciptaan lapangan kerja adalah pariwisata dan ekonomi kreatif. 97% lapangan kerja diciptakan oleh Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Start Up dan perusahaan rintisan.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiago Salahuddin Uno saat menjadi Keynote Speaker pada Webinar International Business Model Canvas Competition yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Senin 26 April 2021.
Pada masa pandemi, hampir semua subsektor ekonomi kreatif mengalami penurunan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ada 2 subsektor yang memiliki laju positif terhadap pertumbuhan PDB, yakni aplikasi dan game developer serta pertelevisian dan radio yang semakin meningkat. Termasuk juga eSports, industrinya total sudah lebih dari Rp 16 triliun per hari ini. Dua subsektor ini bertumpu pada teknologi dan digitalisasi pada pengaplikasiannya dan menyasar pada konsumen yang melek teknologi.
“Biasanya fesyen, kuliner dan kriya merupakan subsektor ekonomi kreatif yang berkontribusi terbesar pada kontribusi PDB. Namun saat ini justru mengalami penurunan yang signifikan yakni 2,8 % untuk fesyen, 3,3% untuk kriya dan 3,89% untuk kuliner” ungkapnya.
Menparekraf, Sandiago Salahuddin Uno saat menjadi Keynote Speaker
Hal ini dikarenakan subsektor ini belum secara optimal beradaptasi pada digitalisasi. Ecommerce dan platform lainnya yang mendukung dan memudahkan pelaku UMKM untuk mengubah bisnisnya belum secara maksimal diaplikasikan oleh para pelaku bisnis fesyen, kuliner maupun juga kriya. Meskipun sudah ada yang memulai tapi masih terbatas dan perlu ditingkatkan.
Menurutnya, tantangan ekonomi kreatif di tahun 2021 adalah bagaimana mengubah UMKM yang konvensional menjadi bisnis yang berbasis digital. Hal ini karena terjadi perubahan perilaku konsumen di seluruh dunia yang mengedepankan pada kesehatan, higienitas, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.
Bisnis digital sangat perlu dikembangkan, bisnis yang berdasarkan teknologi dan big data, cloud computing, artificial intelligence dan internet of everything. Hal ini menjadikan pelaku ekonomi kreatif semakin efisien,semakin efektif dalam menentukan kebijakan yang secara cepat, real time dan akurat karena basisnya data yang semakin hari semakin smart.
Dihadapan lebih dari 1000 peserta webinar yang bertema Finding Success as Creative Millenial Entrepreneurs in The Digital Economy Era, Sandiago menyampaikan, Indonesia saat ini memiliki penduduk usia muda sebanyak 170,9 juta yang milenial dan generasi Z, di tahun 2030 menjadi 187,6 juta. Bonus demografi ini merupakan peluang namun sekaligus tantangan, jika kita tidak memberikan entrepreneurship, edukasi dan leadership, mereka malah menjadi beban.
Tantangan tersebut harus diatasi dengan peningkatan SDM. SDM ekonomi kreatif harus terbentuk dengan mindset milenial yang entrepreneur, inovatif, proaktif dan berani mengambil resiko. Aspek inovasi, adaptasi dan juga kolaborasi dengan berbagai stakeholder harus kita dorong.
“Saya berharap kegiatan International Business Model Canvas Competition ini dapat memunculkan bisnis baru dan ide-ide baru dari para milenial sehingga ekonomi Indonesia dapat semakin meningkat, tumbuh berkembang berbasis start up dalam bingkai digital di berbagai sektor” pungkasnya.
Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S. dan Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com, (Hons). Ph,D.,Ak, menghadirkan empat narasumber, Utari Octavianty, Co-Founder and General Director Aruna, Keke Genio, Co-Founder and CMO of Lokapoin Content Creator at Youtube, Meidy Fitranto, Co-Founder and CEO Nodeflux serta Agung Nur Probohudono, SE, M.Si. Ph,D, AK, CA, CFrA, Kepala Program Studi Akuntansi FEB UNS. (Humas FEB)
Olimpus merupakan ajang kompetisi kreatifitas mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang digelar secara rutin setiap tahun. Di Olimpus 2021, ada empat bidang yang dikompetisikan yakni Keilmiahan, Olahraga, Seni dan Budaya serta Apresiasi Mahasiswa.
Di kegiatan ini, 4 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS berhasil meraih penghargaan yang diumumkan pada Closing Olimpus yang digelar pada Minggu 11 April 2021 secara luring di Auditorium UNS dan daring.
Di bidang Seni dan Budaya, Rosa Faustina Sari Maandag memperoleh juara I lomba Tari Tradisional. Tiga mahasiswa FEB lainnya memperoleh penghargaan di bidang apresiasi mahasiswa yakni Titin Dwi Aryanti berhasil meraih Juara 3 Duta Kampus UNS, Budi Priyanto Ramelan sebagai Insan Aktifis Sosial dan Aqifa Febrianti sebagai Insan Penalaran Olimpus UNS 2021.
Saat dihubungi oleh media FEB, Rosa Faustina, mahasiswi Program Studi Akuntansi FEB UNS yang memiliki hobi menari khususnya tarian Jawa itu mengungkapkan kebahagiaannya bisa menjadi juara satu di Olimpus 2021. Rosa sangat mencintai budaya Jawa terutama tariannya yang gemulai, namun Rosa tidak menutup diri untuk mempelajari tarian dari daerah lain.
“Sejak awal masuk kuliah, saya langsung mencari Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) untuk mengasah bakat tari yang sejak kecil saya tekuni. Di Badan Koordinasi Kesenian Tradisional (BKKT) UNS, saya mulai menyalurkan bakat bersama dengan mahasiswa lain yang memiliki budaya berbeda. Kebersamaan dengan mahasiswa dari lain daerah di BKKT UNS mampu menambah wawasan bagi saya tentang budaya dan seni Indonesia” Ungkap Rosa
Sebelumnya, banyak prestasi di bidang seni yang di raih Rosa, diantaranya Juara harapan 2 lomba tari Festival Lomba Seni Siswa Nasional tahun 2011, tiga terbaik lomba tari Festival Lomba Seni Siswa Nasional tahun 2014, juara 2 Festival Tari Tradisional Pelajar dan Mahasiswa UNESA tingkat nasional tahun 2020, Tata Rias dan Busana Terbaik Festival Tari Tradisional Pelajar dan Mahasiswa UNESA tingkat nasional tahun 2020.
Sementara itu, Titin Dwi Aryanti, mahasiswi Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB tidak menyangka jika dirinya bakal memperoleh juara 3 Duta Kampus UNS karena ajang seperti ini adalah pengalamannya yang pertama. Di Olimpus 2021, banyak peserta yang memiliki pengalaman sebagai duta dalam berbagai kompetisi.
Dengan dorongan dari keluarga dan juga teman-teman di FEB UNS, Titin mampu melewati berbagai tahapan di ajang Duta Kampus UNS 2021 mulai dari pembekalan-pembekalan, tes tertulis, wawancara, uji bakat, uji prestasi dan juga uji publik.
Dua mahasiswa lainnya dari Program Studi Ekonomi Pembangunan juga, Budi Priyanto Ramelan yang memperoleh apresiasi penghargaan sebagai Insan Aktifis Sosial dan Aqifa Febrianti sebagai Insan Penalaran Olimpus UNS 2021 terpilih karena banyaknya aktifitas-aktifitas yang diikutinya, baik kegiatan-kegiatan sosial maupun penalaran.
Prestasi yang diraih keempat mahasiswa FEB UNS semoga mampu memacu prestasi bagi mahasiswa-mahasiswa lain di FEB UNS (Humas FEB).
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus untuk Persiapan Perkuliahan Luring, Senin 19 April 2021 secara luring di Aula FEB UNS dan juga daring.
Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Dr. Ir.Ahmad Yunus, MS diikuti oleh 49 mahasiswa FEB angkatan 2020 dari tiga Program Studi S1, Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi Pembangunan yang hadir di Aula FEB. Sementara, mahasiswa lainnya dari angkatan yang sama mengikuti kegiatan pengenalan melalui daring.
Mahasiswa Memberikan Pesan Kesan
Kegiatan diawali dengan pengenalan pimpinan dan penyampaian profil FEB oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, MCom Hons. PhD, Ak. Dilanjutkan dengan pengenalan program studi oleh Kepala Program Studi S1, pengenalan Organisasi kemahasiswaan dan diakhiri dengan pengenalan fasilitas di lingkungan FEB UNS.
Di awal sambutannya, Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Ahmad Yunus mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa angkatan 2020 yang selama menjadi mahasiswa di Agustus 2020 lalu belum pernah memasuki kelas untuk pembelajaran luring karena pandemi Covid-19.
Selanjutnya disampaikan, sejak 6 Oktober 2020, UNS telah dipercaya oleh pemerintah menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). UNS dinilai sebagai perguruan tinggi yang mandiri sehingga diberi otonomi atau keleluasaan dalam mengelola pendidikan, keuangan, SDM dan program-programnya.
Dengan beralihnya status dari Badan Layanan Umum (BLU) ke PTNBH, UNS mempunyai target-target yang berbeda dari sebelumnya.
“Target itu adalah kualitas yang lebih baik dari sebelumnya, mutunya harus level internasional” tegasnya
Ada tiga belas prodi di UNS yang diajukan untuk akreditasi internasional. UNS menargetkan 15% prodi yang ada harus terakreditasi internasional di akhir tahun ini.
Sesi Pengenalan Prodi di Kelas
UNS juga sudah mempunyai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sejak November 2020. LSP merupakan kepanjangan dari Badan Nasional Standarisasi Profesi (BNSP).
Dengan capaian ini, lulusan dari UNS nantinya diharapkan mampu untuk berkompetisi di dunia kerja.
Prof. Yunus juga berpesan agar mahasiswa mampu menggunakan kesempatan selama 4 tahun kuliah di FEB UNS dengan peraihan prestasi yang baik dan memperoleh sertifikat-sertifikat keahlian pendukung ijazah serta bisa menyelesaikan studinya tepat waktu. (Humas-FEB)
Guest Lecture 2 yang diselenggarakan oleh Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret mengangkat dua tema menarik, Kondisi Perekonomian di Masa Covid-19 oleh I Made Krisna Yudhana Wisnu Gupta, M.S.E dan Dinamika Kebijakan Publik dalam Mengatasi Pandemi oleh Lukman Hakim, S.E., M.Si., Ph,D., Kamis 8 April 2021.
Krisna dari Australian National University dalam presentasinya menyatakan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia memberikan tantangan yang sulit bagi negara, diantaranya kebutuhan fiskal untuk bantuan sosial yang meningkat tajam, industri meminta berbagai insentif seperti pemotongan pajak serta penerimaan berkurang karena ekonomi sedang lesu. Untungnya, dengan level utang saat ini, pemerintah masih memiliki ruang.
“Yang menjadi tantangan dimasa pandemi seperti saat ini bukan pada utangnya namun dalam hal penyaluran atau disbursement. Contohnya, masyarakat yang bekerja informal yang belum memiliki BPJS Tenaga Kerja tidak mendapatkan bantuan sosial karena persyaratan tidak terpenuhi. Terlebih orang yang berada sedikit di atas kategori miskin, yang berada diluar PKH ataupun penerima bantuan lain akhirnya jadi miskin karena tidak memperoleh bantuan di masa sulit.” tegasnya.
Menurutnya, pandemi membuka masalah yang selama ini tidak terlalu terlihat, ekonomi yang tidak kompetitif, sektor finansial yang tidak kompetitif, utang BUMN dan penerimaan pajak yang rendah. Tetapi Indonesia berada di posisi yang relatif baik dibanding dengan negara-negara lain, tingkat suku bunga baik, tingkat utang dan defisit serta inflasi yang terkendali. Namun tetap harus hati-hati ke depannya.
Sementara itu, Lukman Hakim, Ekonom UNS berpendapat kebijakan ekonomi yang dibuat selama Indonesia merdeka cenderung lebih banyak menggunakan wacana, paradigma asing atau bersifat eksogen. Dengan kata lain kebijakan lebih pada motivasi keinginan (want) daripada kebutuhan (need).
Menurutnya, tiga kebijakan publik yang mendesak berdasarkan kebutuhan dan bukan keinginan adalah peningkatan kedalaman sektor keuangan, dimana Indonesia tidak naik kelas, masih sekitar 40%. Selanjutnya mewujudkan Indonesia Inc dengan berdasarkan pada sinergi antara akademis, bisnis dan pemerintah (triple helix) serta menyediakan insentif khusus kepada petani dan UMKM, sehingga akan banyak generasi muda yang mau masuk dalam bisnis ini.
Diperlukan blue print untuk membuat sistem insentif bagi petani dan UMKM. Beberapa negara seperti China dan Jepang memberikan insentif yang sangat komprehensif di sektor pertanian dan UMKM. Karena sesungguhnya perang ke depan adalah perang pangan dan energi, maka seharusnya dua hal ini diprioritaskan (Humas FEB).
Lebih dari 300 peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa pascasarjana mengikuti Workhop Analisis multivariate dengan SPSS melalui aplikasi zoom cloud meeting, Rabu-Kamis, 7-8 April 2021.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret itu menghadirkan Prof. H. Imam Ghozali, M.Com, Ph.D. sebagai narasumber.
Sebelumnya, peserta yang akan mengikuti workshop diwajibkan telah menginstal SPSS karena diworkshop ini sebagian besar materi langsung praktek menggunakan perangkat SPSS untuk menganalisis data.
Di awal presentasinya, Prof. Imam memulai dengan menyampaikan landasan teori analisis multivariate, hal ini sangat penting untuk bisa digunakan sebagai acuan dalam menulis skripsi, tesis ataupun disertasi.
Workshop yang berlangsung dari pagi hingga siang hari sangat padat materi dan diikuti dengan seksama oleh peserta. Di hari pertama dan kedua masing-masing terbagi menjadi 3 sesi. Bahasan di hari pertama diantaranya: parametrik vs non-parametrik statistik, kerangka model penelitian, metode analisis data, screening data sebelum diolah hingga multivariate analysis of variance (Manova).
Sedangkan materi di hari kedua diantaranya teori regresi dan uji asumsi klasik, regresi berganda dan uji asumsi klasik, regresi berganda dengan data sekunder dan primer hingga regresi multilevel dan logistic regression (Humas FEB ).
Mulai tahun 2015, sejak diangkat sebagai Dirjen Dukcapil Kemendagri, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H. telah melakukan reprogramming Dukcapil. Dukcapil yang sebelumnya hanya menghasilkan dokumen, telah berbenah dengan mengoptimalkan data dan memberikan ruang-ruang untuk kemudahan masyarakat, salah satunya dengan menyederhanakan proses birokrasinya.
Berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya dari respon penduduk, persepsi publik terhadap layanan dokumen produk Dukcapil dianggap kurang bagus karena prosesnya yang panjang, ribet, dan sangat tidak efektif, mulai dari RT RW setempat.
Ada 24 dokumen kependudukan yang dihasilkan dari pelayanan administrasi kependudukan (adminduk) Dukcapil dan penduduk perlu memilikinya, diantaranya KK, KIA, KTP-el, Akta Kelahiran, Akta Kematian, Akta Perkawinan dan berbagai surat keterangan lainnya. Transformasi layanan untuk kemudahan perolehan dokumen bagi masyarakat sangat segera untuk direalisasikan.
Konsep transformasi layanan Dukcapil hingga pada implementasi kepada masyarakat luas ini disampaikan Prof. Zudan saat menjadi narasumber pada Studium General yang diselenggarakan oleh Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas sebelas Maret, Sabtu 10 April 2021.
Dukcapil tidak hanya bertransformasi dalam layanan, namun juga dari aspek hukumnya untuk membangun kenyamanan.
“Saya melakukan pembaharuan-pembaharuan hukum karena situasinya sudah berubah dan masyarakat meminta perubahan yang sangat cepat. Dukcapil merubah berbagai aturan agar harapan masyarakat bisa direspon. Kita melakukan suatu transformasi regulasi, dari aturan yang ribet berubah menjadi userfriendly, dari yang berbayar menjadi gratis, dari layanan tunggal menjadi terintegrasi. Kalo dulu ngurus akte hanya dapat akte saja, sekarang dapat juga kartu identitas anak, sudah satu paket dan berbagai kemudahan lainnya. Seluruh produk dokumen hasil transformasi menggunakan kertas putih bercirikan QR code sehingga dapat dicek keaslian dokumennya. Hal ini dapat mencegah adanya pemalsuan dokumen”, jelasnya.
Disampaikannya juga, Dukcapil telah menjalin kerjasama dalam hal integrasi data dengan banyak lembaga, hingga akhir tahun 2020 ada 2155 lembaga pusat dan 698 lembaga daerah. Total hingga akhir 2020 berjumlah 2853 lembaga.
“karena sudah terintegrasi, maka lembaga yang sudah bekerja sama sudah tidak memerlukan foto kopian berkas dari penduduk, misal dalam membuat SIM, tinggal tunjukan sim yang lama ketik NIK langsung dibuatkan” jelasnya.
Dukcapil juga sudah membuat Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM) yang hingga saat ini berjumlah 164 ADM, yang terakhir di Palu. Penduduk bisa lebih aktif mendapatkan dokumennya sendiri melalui ADM sepanjang memilik PIN dari QR code yang diberikan oleh Dukcapil.
Reprogramming ini akan selalu dikawal dalam prosesnya, selalu dievaluasi agar masyarakat mendapatkan layanan yang mudah dan nyaman. (Humas FEB)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menerima kunjungan dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Pusat Statistik (Pusdiklat BPS), Rabu 7 April 2021. Kedatangan Kepala Pusdiklat BPS, Eni Lestariningsih beserta tim diterima oleh Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi, Wakil Dekan SDM, Logistik dan Keuangan, Para Kaprodi S2 dan juga para pengelola Badan Usaha Fakultas.
Eny Lestariningsih menyampaikan bahwa kunjungannya bersama tim adalah dalam rangka penjajagan kerjasama tugas belajar. Sejalan dengan perkembangan global, semua serba digitalisasi dan perlu spesialisasi tertentu di BPS yang tidak hanya mengandalkan latar belakang statistik saja, maka perlu adanya upaya peningkatan kompetensi SDM.
“Dengan adanya kebutuhan peningkatan kompetensi, softskill maupun hardskill, pimpinan BPS memandang urgent untuk meningkatkan skill SDM di BPS, tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis yang terbatas pada statistik saja, namun juga keilmuan lainnya. Dalam hal ini BPS perlu pendampingan dari perguruan tinggi negeri, diantaranya adalah ilmu akuntansi, Ilmu ekonomi moneter, manajemen SDM dan lain-lain” katanya
BPS saat ini memiliki 16.000 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia, 60% sudah bergelar S1 ke atas. Karyawan yang berpendidikan S2 sudah menyampai target minimal yang diharapkan, yakni 20% dan S3nya 13 %. Hanya saja belum memiliki keilmuan yang merata sesuai dengan yang dibutuhkan BPS saat ini.
Dr. Mugi Harsono, S.E., M.Si., Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi FEB UNS menyampaikan ucapan selamat datang dan menyambut baik kunjungan dari Pusdikat UNS. Awalan rencana kerja sama ini diharapkan dapat berlanjut dengan diskusi-diskusi lain hingga sepakat membuat Perjajian Kerja Sama (PKS). Harapannya, kesepakatan yang dihasilkan dari diskusi tersebut hingga pelaksanaan kerjasama akan memberikan kemanfaatan lebih bagi kedua belah pihak. (Humas FEB)
Sebanyak 63 peserta dari rumah sakit negeri dan swasta serta puskemas dari seluruh Indonesia mengikuti Lokakarya Peningkatan Mutu Pelayanan Publik melalui Penerapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) yang digelar oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS).
Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com.(Hons).Ph.D.,Ak, Dekan FEB UNS dalam sambutannya mengatakan PPK BLUD kini menjadi sebuah sistem yang ingin diterapkan oleh banyak unit kerja. Alasan utamanya adalah fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan yang berbeda dari keuangan daerah. Banyak unit kerja di beberapa daerah yang hendak menerapkan PPK BLUD tapi tidak tahu apa manfaatnya dan kenapa harus diterapkan sistem tersebut.
Terbitnya Permendagri no 79 tahun 2018 sebagai pengganti Permendagri 61 tahun 2007 adalah upaya untuk lebih meningkatkan kinerja BLUD baik berkaitan dengan tata kelola, pelayanan, perencanaan dan pelaksanaan anggaran serta pelaporan dan pertanggungjawaban. Permendagri ini telah merubah paradigma pengelolaan dari pengelolaan yang tadinya statis menjadi fleksibel, dari birokratis menjadi lebih leluasa.
Kebijakan penerapan BLUD disebutkan pada Permendagri 79 tahun 2018 pasal 31 bahwa penerapan BLUD diutamakan untuk pelayanan kesehatan yaitu RSUD, puskesmas, dan balkesmas.
Prof. Djoko Suhardjanto, Dekan FEB UNS saat memberikan sambutan
“Kendala yang dirasakan puskesmas dalam memberikan layanan sebelum menerapkan BLUD adalah terkait dengan pengelolaan keuangan, penyediaan sarana dan prasarana, SDM dll. Oleh karena itu, BLUD memiliki konsep dasar adanya fleksibilitas dalam pengelolaan keuangannya. Sehingga dengan pengelolaan keuangan yang mandiri, akan menghasilkan meningkatnya pelayanan dan efisiensi anggaran” ungkapnya.
Selanjutnya dikatakan, seringkali terjadi ketakutan di daerah untuk menerapkan fleksibilitas dalam penganggaran, misalnya penerapan ambang batas, menggeser anggaran, tidak merinci anggaran berdasarkan rincian objek, Dalam pengadaan barang dan jasa masih menerapkan mekanisme yang ribet, ketakutan untuk perekrutan tenaga non ASN dan sebagainya.
Dari kondisi-kondisi inilah yang melatarbelakangi FEB untuk menginisiasi terselenggaranya Lokakarya Peningkatan Mutu Pelayanan Publik melalui PPK-BLUD. Harapannya, kegiatan ini mampu memberikan sumbangan pengetahuan yang lebih khususnya bagi peningkatan kinerja dan pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit ataupun puskesmas.
Lokakarya digelar selama 2 hari, dari tanggal 8 hingga 9 April 2021 di Solo Paragon Hotel dengan menghadirkan 3 narasumber yakni R. Wisnu Saputro (Kepala Seksi BLUD Wil.2, Subdit BLUD, Direktorat BUMD, BLUD dan BMD, Ditjen Bina Keuda, Kementerian Dalam Negeri); Drs. Syahrudin Hamzah, SE., MM (Ex Wadir Keuangan RSUD dr. Moewardi Prov Jateng, Pengurus Pusat ARSADA dan PERSI, Tim Penyusun dan Narasumber Nasional BLUD) serta Drs. Wartono, MSi, AK, CPA, CA (Anggota tim penyusun Permendagri tentang BLUD, Dosen FEB UNS, Dewan Pengawas beberapa RSUD, Narasumber Nasional BLUD di Kementerian Dalam Negeri, Dirjen Cipta Karya Kementerian P.U, dan ARSADA & Adinkes). (Humas-FEB)