FEB

Blog

  • MM FEB UNS Won Indonesia Digital Popular Brand Award 2021

    MM FEB UNS Won Indonesia Digital Popular Brand Award 2021

    The Master Program in Management (MM) Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta won the Indonesia Digital Popular Brand Award (IDPBA) 2021 as a MM education institution with the best digital media management in Indonesia. In total there are 9 (nine) other MM programs from different universities in Indonesia, UNAIR, UNPAD, ITB, IPB, UNDIP, UI, UGM, USU, and UB, that were receiving the award. The award was handed online through the IDPBA ceremony on Thursday (28/10/2021).

    Retno Tanding Suryandari, S.E., M.E., Ph.D., the Head of MM FEB UNS, explained that there are three assessment criteria in IDPBA: Search Engine Based, Social Media Based, and Websites Based. The Search Engine Based criteria were assessed through brand discussion on the internet pages and the average monthly brand search on the internet. The Social Media Based was assessed through the engagement in Facebook, Instagram, and YouTube. Lastly, the Website Based criteria assessment was based on the website traffic, website access speed, and mobile user-friendliness. Ten MM programs were selected from these three criteria with early selection criteria of university reviewed in more than 10,000 search engine pages, which UNS was included in the category.

    “One of the factors that I think make UNS included in the Best 10 (is because) UNS actively uses its social media besides formal media at internet pages in introducing UNS and its programs. The utilization of social media, such as YouTube, Instagram, Twitter that become an assessment criterion for university or program traffic,” Retno Tanding Suryandari, Ph.D. explained.

    She also explained that besides the website, currently MM UNS also utilizes other social media such as YouTube, Instagram, Twitter, and Facebook to communicate with its stakeholders, prospective students, students, and information seekers. Several contents in MM social media are related to business contents, how to manage a business, and the challenges and solutions that can be taken by decision-makers for problems faced by business management and organization.

    The content shared in MM UNS social media is expected to benefit students and other information seekers, such as business managers and other parties. Hopefully, the content provided in the MM social media can be beneficial not only for the students of MM UNS but also for other stakeholders. According to Retno Tanding Suryandari, Ph.D., this award is the result of the Team’s hard works, not only the social media managers but also website managers, faculty contributions, and promotion conducted by the university for all programs in UNS. (Humas FEB)

  • MM FEB UNS Raih Penghargaan Indonesia Digital Popular Brand Award 2021

    MM FEB UNS Raih Penghargaan Indonesia Digital Popular Brand Award 2021

    Program Studi (Prodi) Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) memperoleh penghargaan Indonesia Digital Popular Brand Award (IDPBA) 2021 sebagai salah satu perguruan tinggi penyelenggara pendidikan MM dengan pengelolaan media digital terbaik di Indonesia.  Adapun 9 Prodi MM perguruan tinggi lainnya yang juga meraih penghargaan adalah UNAIR, UNPAD, ITB, IPB, UNDIP, UI, UGM, USU dan UB.  Penghargaan diberikan secara daring pada acara seremoni Penghargaan IDPBA, Kamis 28 Oktober 2021.

    Retno Tanding Suryandari, S.E., M.E., Ph.D., Kepala Prodi MM FEB UNS mengatakan, di penghargaan IDPBA, ada 3 kriteria penilaian yakni Search Engine Based, berdasarkan ulasan brand di halaman internet dan pencarian brand rata-rata perbulan di internet, kemudian Social Media Based, berdasarkan engagement Facebook, Instagram & Youtube dan juga Website Based, berdasarkan traffic website, kecepatan akses website dan mobile user friendliness.

    Jadi, dari tiga kriteria penilaian itu, Info Brand memilih sepuluh prodi MM dari perguruan tinggi yang memenuhi kriteria awal yaitu kriteria  perguruan tinggi yang diulas lebih dari 10.000 halaman mesin pencari dan  UNS masuk dalam kategori itu.

    “Salah satu yang saya kira membuat UNS bisa masuk ke dalam 10 besar ini, UNS sangat  gencar memanfaatkan media sosial disamping media formal di laman-laman internet untuk memperkenalkan UNS dan prodi yang ada dilingkungan UNS. Pemanfaatan media sosial seperti Youtube, Instagram, Twitter yang kemudian menjadi salah satu dari penilaian tentang seberapa besar traffic yang diperoleh oleh perguruan tinggi maupun prodi tersebut “ paparnya.

    Dijelaskan pula, saat ini selain website, MM juga memanfatkan media sosial lainnya yakni Youtube, Instagram, Twitter dan Facebook sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan stakeholder, calon mahasiswa, juga para mahasiswa maupun para pencari informasi.

    Beberapa konten dalam medsos MM, ada yang terkait dengan konten-konten bisnis, bagaimana mengelola bisnis, apa saja tantangan serta solusi yang bisa diambil oleh para pengambil keputusan terkait problem-problem yang dihadapi pengelola bisnis dan organisasi.

    Harapan kami, konten-konten yang kami sajikan dalam medsos MM tidak hanya bermanfaat untuk kalangan mahasiswa,  namun juga pencari informasi lainnya, misalnya para pengelola bisnis dan lain sebagainya.

    Menurut  Dr. Retno Tanding, penghargaan yang diperoleh Prodi MM ini merupakan hasil kerja keras banyak tim. Tidak hanya pengelola media sosial MM, namun juga para pengelola website, kontribusi fakultas dan juga promosi yang dilakukan universitas tentang keseluruhan prodi di UNS. (Humas FEB)

  • FEB UNS Monitors Budget Absorption Capacity for 2021

    FEB UNS Monitors Budget Absorption Capacity for 2021

    In an attempt to improve budget absorption for the 2021 fiscal year, the Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) held a Budget Absorption Monitoring, Tuesday, October 19, 2021, at the Lor In Hotel, Karanganyar. The Dean of FEB UNS, Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com., (Hons), Ph.D., Ak., in his remarks, states that the objective of the activity is to monitor and evaluate all planned activities that must be completed by the end of November 2021.

    “I hope that budget users can administer and accomplish all planned activities by the end of November 2021. This meeting was necessary because there was only a month and a half left. All budget users can explain which activities have been carried out and administratively completed or activities carried out but yet to be completed. The explanation for incomplete activities must detail the difficulty to complete the task and immediate efforts to resolve the situation.

    Separately, the Vice Dean of Human Resources, Finance, and Logistics FEB UNS, Dr. Djuminah, M.Si., Ak., emphasized that this coordination is carried out at all levels of the budget user unit. This monitoring coincides with the start of the 4th quarter of the 2021 fiscal year, or the 3rd week of this 4th quarter, to be precise.

    On the other hand, all activities must be completed by the end of November 2021, including accountability reports for all budget implementation. Hence, it is estimated that several agendas cannot be implemented due to certain situations and conditions. It is expected that through this monitoring, activity confirmation can be carried out to encourage collaboration among the FEB UNS units.

    By the end of the 2021 fiscal year, FEB absorption capacity is expected to reach almost 100% or even 100%. (Humas FEB)

  • Undang Pengguna Dana, FEB UNS Lakukan Monitoring Daya Serap Anggaran Tahun 2021

    Undang Pengguna Dana, FEB UNS Lakukan Monitoring Daya Serap Anggaran Tahun 2021

    Dalam rangka meningkatkan daya serap anggaran tahun anggaran 2021, Fakultas Ekonomi dan Bisnis  (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan bertajuk Monitoring Daya Serap Anggaran, Selasa 19 Oktober 2021 di Hotel Lor inn, Karanganyar.

    Dekan FEB UNS, Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com., (Hons), Ph.D, Ak. dalam sambutannya menyampaikan, di kegiatan ini, kita ingin memonitor kegiatan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang harus diselesaikan pada akhir November 2021.

    “Saya harapkan pengguna dana bisa mengadministrasikan dan melakukan aktifitasnya selesai di akhir November 2021 ini. Pertemuan ini menjadi penting karena waktunya tinggal satu setengah bulan lagi. Semua pengguna dana bisa memaparkan mana kegiatan yang telah dilakukan dan sudah selesai administrasinya, mana yang sudah kegiatan tapi belum selesai administrasinya. Jika belum selesai, kesulitannya dimana dan segera diselesaikan. Jika ada kegiatan yang kira-kira tidak bisa dilakukan, dikumpulkan dulu saja nanti akan dipikirkan” paparnya.

    Di waktu yang terpisah, Wakil Dekan Sumber Daya Manusia, Keuangan dan Logistik FEB UNS,  Dr. Djuminah, M.Si., Ak. menegaskan, koordinasi ini dilakukan di semua level unit pengguna dana. Kini sudah memasuki tri wulan ke 4 yang merupakan tri wulan terakhir penggunaan dana, bahkan sudah memasuki minggu ke 3 pada tri wulan ke 4 ini.

    Sementara di pihak lain, pada akhir November 2021,  semua kegiatan harus sudah selesai termasuk peng SPJ-annya. Sehingga jika diperkirakan terdapat beberapa agenda yang karena situasi dan kondisi tertentu tidak dapat dilaksanakan maka di kegiatan monitoring ini bisa dilakukan konfirmasi, kolaborasi dengan unit lainnya di lingkungan FEB.

    Harapannya, di akhir tahun anggaran 2021 daya serap FEB nanti mendekati 100%, atau bahkan bisa full 100%. (Humas FEB)

  • Tim Pengabdian Masyarakat FEB UNS Latih Dalang se-Solo Raya

    Tim Pengabdian Masyarakat FEB UNS Latih Dalang se-Solo Raya

    Sejumlah dalang senior dan yunior se-Solo Raya ikuti Pelatihan Costing dan Manajemen Keuangan yang diselenggarakan oleh Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai oleh Dekan FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com.(Hons)., Ph.D., Ak dengan anggota dosen-dosen dan mahasiswa PDIE FEB UNS, Jumat 22 Oktober 2021 di Padepokan Aji Tirto Wening, Boyolali.

    Kegiatan dihadiri oleh beberapa dalang senior  diantaranya Ki Tengkleng, Ki Warseno Slenk serta dalang-dalang junior seperti  Ki Amar Pradopo, Ki galang, dan lain sebagainya. Para dalang dilatih bagaimana menghitung biaya yang timbul dari pertunjukan wayang dan mengelola keuangan yang diperoleh dari tanggapan pertunjukan wayang.

    Prof. Djoko Suhardjanto dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini sebagai salah satu bentuk pengabdian FEB UNS  kepada masyarakat.

    “Kampus harus bisa membantu apa yang menjadi keluhan masyarakat sekitar. Terlebih di masa pandemi ini, para seniman sangat terdampak, khususnya dalang yang hampir selama 2 tahun ini agak sulit mendapatkan tanggapan” jelasnya.

    Dikatakannya, untuk menyiasati kondisi agar dapat bertahan hidup, tak sedikit para dalang dan seluruh kru yang selama ini mengandalkan hidup dari pertunjukan seni tradisi tersebut harus banting setir ke profesi lain. Mereka terpaksa menjalani pekerjaan yang tidak sesuai bidangnya lagi. Selama masa pandemi yang hampir dua tahun ini banyak para dalang terpaksa harus menjual apa yang mereka miliki untuk bertahan hidup.

    Hal ini diakui oleh beberapa dalang, sebelum masa pandemi, mereka tidak melakukan pengelolaan keuangan dengan baik, ada yang setiap kali tanggapan, penghasilannya dihabiskan untuk konsumtif dan kebutuhan sehari-hari yang sifatnya jangka pendek, mereka berfikir uang habis akan ada tanggapan lagi. Padahal kebutuhan jangka panjang perlu dipersiapkan sedini mungkin, dan masa depan yang tidak jelas.

    Seniman dalang adalah sebuah profesi yang tidak ada jaminan gaji, jika tidak ada tanggapan tidak dapat penghasilan. Pengalaman pandemi seharusnya menjadi pengalaman berharga untuk menata keuangan di masa depan.

    Anggota Abdimas, Dr. Wahyu Widarjo, S.E., M.Si. menyampaikan, tuntutan bagi para seniman dalang kini tak sebatas hanya mencipta karya seni. Mereka juga dituntut bisa mengelola keuangan dengan baik serta memasarkan karya seni yang mereka ciptakan.

     “Tujuan pelatihan ini agar seniman dalang mampu membuat perencanaan keuangan jika ada tanggapan dari individu dan instansi juga bilamana mendapatkan dana dari sponsor atau bantuan dana hibah dari pemerintah. Sementara kemampuan marketing dibutuhkan agar mereka tidak hanya menunggu tanggapan atau job, tapi bisa menjual karyanya.” ungkapnya.

    Kegiatan ini akan ditindaklanjuti oleh Tim Abdimas FEB UNS yakni dengan pelatihan marketing untuk dalang.  (Humas FEB)

  • FEB UNS Community Service Team Hosted Training for Dalang in Solo

    FEB UNS Community Service Team Hosted Training for Dalang in Solo

    Surakarta shadow puppeteers (Dalang) took part in a Costing and Financial Management Training organized by the Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Community Service Team on Friday, October 22, 2021, at Padepokan Aji Tirto Wening, Boyolali. This team was led by the Dean of FEB UNS, Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com., Hons., Ph.D., Ak., with the PDIE FEB UNS lecturers and students as members.

    The training was attended by several senior Dalang, such as Ki Tengkleng and Ki Warseno Slenk, as well as junior Dalang, including Ki Amar Pradopo, Ki Galang, and many others. The participating Dalang are trained to calculate the costs incurred from Wayang Kulit (Shadow puppets) performances and manage the funds collected from those performances.

    In his speech, Prof. Djoko Suhardjanto states that this activity is a form of FEB UNS’s service to the community.

    “The campus must assist the local community in solving their complaints and concerns. Especially during this pandemic, artists are significantly affected, especially a Dalang, who has had a hard time getting a performance request for almost 2 (two) years,” he explained.

    Further, he said that in order to survive the pandemic, not a few of the Dalang and the entire performance crew, who had been relying on these traditional performing arts for a living, had to find other professions. They are forced to do jobs that are no longer appropriate to their fields of expertise. During this nearly two-year pandemic, many Dalangs were forced to sell their private collection (property) to survive.

    This situation is acknowledged by several Dalang. Before the pandemic, they did not manage their finances properly. All income they earned from a performance was spent on consumptive and short-term daily needs. At that time, they thought that if they were running out of money, there would be another performance. Whereas long-term financial needs must be prepared as early as possible, and the future is not clear.

    Dalang is a profession that has no guaranteed salary. It is likely that if a Dalang is not invited to any performance, there is no income. The pandemic situation should be a valuable experience for managing finances in the future. The Abdimas Team member, Dr. Wahyu Widarjo, SE, M.Sc., said that the current demands for Dalang are not limited to just creating works of art. They are also required to manage their finances well and promote their artworks.

    “The purpose of this training is to assist Dalang in preparing financial plans according to Wayang Kulit performance order from individuals and agencies, or else when they get funding from sponsors or grants from the government. Meanwhile, marketing skills are needed to allow them to sell their work and not idling when waiting for performance requests,” he said.

    This activity will be followed up with marketing training for Dalang, organized by the Abdimas FEB UNS Team. (Humas FEB)

  • Prodi S1 Manajemen Adakan Kuliah Tamu Financial Management: Transformation in Banking

    Prodi S1 Manajemen Adakan Kuliah Tamu Financial Management: Transformation in Banking

    Program Studi S-1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, mengadakan seri kedua dari Kuliah Tamu dalam Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) 2021 berjudul “Financial Management: Transformation in Banking” pada Selasa (19/10/2021).

    Kuliah tamu dengan pembicara utama Prof. Franco Fiordelisi tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Cloud Meeting dan dihadiri oleh sekitar 70 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan Dosen dari FEB UNS.

    Mengawali paparan materi mengenai Risiko Likuiditas di sektor perbankan, Prof. Fiordelisi menyampaikan harapan untuk dapat berkunjung secara langsung ke UNS.

    “Saya berharap untuk dapat berkunjung secara langsung karena universitas anda memiliki cerita dan fasilitas yang menarik,” ungkap Prof. Fiordelisi.

    Sebagai bagian dari seri kuliah tamu di bidang manajemen keuangan, materi yang disampaikan oleh Prof. Fiordelisi dalam kuliah tamu kali ini bertujuan untuk memahami bank mengelola sumber risiko likuiditas.

    Materi dibuka dengan pengertian dari likuiditas dari tiga jenis likuiditas yaitu sekuritas, pasar, dan keuangan. Sebuah instrumen sekuritas dianggap likuid atau lancar jika instrumen tersebut muda diperjualbelikan di pasar modal.

    Disisi lain, sebuah market (pasar saham/modal) dianggap likuid ketika terdapat tingkat permintaan dan penawaran yang baik atau seimbang, sementara financial liquidity (likuiditas keuangan) adalah kondisi dimana sebuah instrumen keuangan dapat digunakan untuk mendapatkan pendanaan atau untuk melunasi kewajiban. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara umum likuiditas dapat diartikan sebagai jumlah aset yang dapat segera digunakan dalam transaksi.

    Dalam kaitannya dengan institusi perbankan, Prof. Fiordelisi berpendapat bahwa bank adalah satu-satunya institusi yang dihadapkan pada tekanan likuiditas terbesar akibat adanya kewajiban untuk menjaga kepercayaan nasabah.

    Menurutnya, bank harus bisa mengatur likuiditas dengan baik untuk memastikan bahwa nasabah dapat menarik dana untuk kebutuhan sehari-hari.

    Risiko likuiditas dapat terjadi karena dua jenis keadaan yaitu akibat dari kejadian spesifik ataupun karena adanya kondisi sistemik. Kejadian spesifik yang dapat menjadi risiko likuiditas biasanya terjadi karena kondisi internal dari bank, misal karena adanya debitur yang gagal bayar sehingga mengganggu tingkat likuiditas di bank tersebut.

    Kondisi ini menurut Prof. Fiordelisi membutuhkan perhatian lebih dari manajer bank. Disisi lain, risiko likuiditas yang disebabkan oleh kondisi sistemik biasa terjadi pada institusi perbankan lain akan tetapi memiliki dampak sistemik pada sistem keuangan di sebuah negara.

    “Meskipun kondisi sistemik ini sebenarnya tidak melibatkan suatu bank tertentu, namun kondisi ini bisa saja mempengaruhi kepercayaan nasabah pada sektor perbankan secara keseluruhan. Jadi, manajer tetap harus memperhatikan kondisi sistemik ini dalam mengambil keputusan,” jelas Prof. Fiordelisi.

    Topik bahasan berlanjut ke jenis-jenis pendekatan dalam manajemen risiko likuiditas yang terdiri dari stock-based approach, cash flow, dan hybrid. Materi ditutup dengan penjelasan berbagai peraturan di bidang perbankan yang secara global diatur dalam oleh Basel Committee on Banking Supervision dalam Basel III.

    Reporter         : Aulia

    Editor              : Humas

  • Management Study Program Holds Guest Lecture in Financial Management: Transformation in Banking

    Management Study Program Holds Guest Lecture in Financial Management: Transformation in Banking

    The Management Study Program, Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, held the second part of the Guest Lectures series in the 2021 Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) entitled “Financial Management: Transformation in Banking” on Tuesday (19/10/2021).

    The Guest Lecture with Prof. Franco Fiordelisi was held virtually through the Zoom Cloud Meeting and was attended by around 70 participants consisting of students and lecturers from FEB UNS.

    Before starting his material presentation on Liquidity Risk in the Banking sector, Prof. Fiordelisi expressed his hope to visit UNS directly. “I hope to be able to visit UNS in person because your university has interesting stories and facilities,” said Prof. Fiordelisi.

    As part of the Guest Lecture series on financial management, the material presented by Prof. Fiordelisi in this guest lecture aims to help students in understanding how banks are managing their sources of liquidity risk.

    The material is started with the definition of liquidity from three different views, namely the securities, markets, and financial liquidity. Liquidity viewed from the security instrument refers to the condition where a security instrument can be traded easily in the capital market.

    On the other hand, a market (stock/capital market) is considered liquid when there is a good or balanced level of demand and supply. On the other hand, financial liquidity is a condition where a financial instrument can be used to obtain funding or to pay off obligations. Hence, it can be concluded that, in general, liquidity can be defined as the number of assets that can be immediately used in transactions.

    In relation to banking institutions, Prof. Fiordelisi mentioned that banks are the only institutions dealing with tremendous liquidity pressures due to their obligation to maintain customer trust.

    According to him, banks must be able to manage liquidity well to ensure that customers can withdraw funds for their daily needs.

    Liquidity risk can occur under two types of circumstances, a result of specific events or due to systemic conditions. Specific events liquidity risk normally occur due to internal conditions of the bank or a specific event happened, for example, debtors that fail to settle periodic installments, which then disrupts the bank’s liquidity level. This condition, according to Prof. Fiordelisi, requires more attention from bank managers.

    On the other hand, liquidity risk due to systemic conditions usually occurs in other banking institutions but has a systemic impact on a country’s financial system. “Although this systemic condition does not actually involve the concerned bank, such condition could affect customer confidence in the banking sector as a whole. Therefore, managers still have to pay attention to this systemic condition in making decisions,” explained Prof. Fiordelisi.

    The topic of discussion continues to the types of calculation approaches in liquidity risk management, which consist of a stock-based approach, cash flow, and hybrid. The discussion is closed with the explanation of various regulations in the banking sector, which are globally regulated by the Basel Committee on Banking Supervision within the Basel III provision.

    Reporter: Aulia
    Editor: Humas FEB

  • Hadirkan Dua Narasumber, Bidang Akrima FEB UNS Optimalkan Peran Unit Kegiatan Kemahasiswaan

    Hadirkan Dua Narasumber, Bidang Akrima FEB UNS Optimalkan Peran Unit Kegiatan Kemahasiswaan

    Bidang Akademik, Riset dan Kemahasiswaan (Akrima) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan yang bertema Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi Bidang Kemahasiswaan melalui Optimalisasi Peran Unit Kegiatan Kemahasiswaaan (UKM) dalam Pembelajaran MBKM, Jumat 22 Oktober 2021 di Hotel Sahid Jaya, Solo.

    Kegiatan yang diikuti oleh pengurus Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) dan Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM), Pembimbing ORMAWA serta Tenaga Kependidikan sub kemahasiswaan itu menghadirkan narasumber Susanto, S.Si., DEA., Direktur Direktorat Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS dan Dr. Alim Setiawan, S. STP, M.Si, Direktur Pembinaan Kemahasiswaan IPB.

    Di awal paparannya, Dr. Sutanto memilahkan mahasiswa UNS menjadi dua bagian, ada mahasiswa yang belum mengikuti Ormawa atau UKM dan ada mahasiswa yang sudah mengikuti ORMAWA atau UKM.

    “Dari data yang saya ambil dari SIPSmart dan SIMKATMAWA, mahasiswa yang punya prestasi, menang dalam kejuaraan,  aktif beraktifitas,  baik ikut konferen dan kegiatan lainnya adalah mahasiswa yang aktif di kegiatan ORMAWA atau UKM. Saya sangat menganjurkan agar mahasiswa bisa masuk ke ORMAWA atau UKM yang sudah ada ataupun mengajukan unit kegiatan yang baru, kami akan siap menfasilitasi apa yang dibutuhkan” tegasnya.

    Selain mahasiswa bisa masuk ke dalam organisasi kemahasiswaan, mahasiswa juga bisa menggali kemauan, menciptakan  ide-ide lainnya.

    “Di UNS masih kurang banyak komunitas yang bergerak dibidang IT padahal mahasiswa sangat suka dengan hal-hal yang serba  digital. Bentuklah komunitas IT dan komunitas-komunitas lainnya, ajukan ke kami” katanya.

    Selanjutnya, terkait dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Dr. Sutanto mengklusterkan menjadi 2 yaitu Penalaran dan Minat yang masing-masing sudah ada PIC nya. Penalaran meliputi riset, magang profesional, pertukaran mahasiswa, asistensi mengajar dan KKN Tematik. Sedangkan Minat meliputi kewirausahaan, project kemanusiaan, project independent dan bela negara.

    Dr. Sutanto mengajak mahasiswa agar ketika berkegiatan masuklah ke salah satu program MBKM ini, yang di UNS ada 9, ditambah dengan bela negara.

    “Jadi, Merdeka Belajar itu, kira-kira Anda minatnya dimana? Apakah mau di asistensi mengajar atau ikut kegiatan di desa atau yang lainnya. Pak Nadiem itu simpel, setelah kalian lulus, kalian tidak cukup hanya mengandalkan kebisaan di prodi untuk membuat perusahaan atau bekerja dengan layak. Kalian butuh multi disiplin ilmu, karena dunia sudah berubah.  Maka mulailah sekarang jalan-jalan ke sana. Kesembilan “empang” (baca: program) yang disediakan UNS. Mulailah dari sekarang, petakan kebisaan Anda, keinginan Anda  untuk bisa masuk kesini semua” ungkapnya.

    Dr. Sutanto memberikan contoh, bagaimana aktifitas MBKM yang bisa dilakukan oleh mahasiswa. Misalnya membuat  Sekolah Generasi Indonesia, relokasi daerah yang rawan banjir seperti yang dilakukan oleh mahasiswa FEB UNS, membantu pengentasan gizi buruk seperti yang dilakukan oleh komunitas mahasiswa UNS di Brebes, membantu pengairan lahan pertanian masyarakat, membantu petani memberantas hama dan banyak kegiatan lainnya yang benar-benar riil bisa membantu masyarakat dan juga bisa direkognisi.

    Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Alim Setiawan, S. STP, M.Si Direktur Pembinaan Kemahasiswaan IPB memaparkan tentang inovasi kurikulum, kiat dan strategi pencapaian IKU di Institut Pertanian Bogor (IPB). (Humas FEB)

  • Inviting Two Speakers, FEB UNS Akrima Unit Optimizes the Role of Students Activity Units

    Inviting Two Speakers, FEB UNS Akrima Unit Optimizes the Role of Students Activity Units

    The Academic, Research, and Student Affairs (Akrima) Unit, Faculty of Economics and Business (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) held a meeting entitled ‘University Key Performance Indicators (IKU) Achievement Strategy for the Student Affairs Sector through the Student Activity Units (UKM) Role Optimization in MBKM Learning,’ Friday, October 22, 2021, at Hotel Sahid Jaya, Solo.

    The activity was attended by the Administrators of Student Organizations (Ormawa), Student Activity Units (UKM), ORMAWA Supervisors, and the Academic Support Staff for Student Affairs. Two speakers were invited to the event, namely Susanto, S.Si., DEA., Director of Academic Reputation and Student Affairs UNS, and Dr. Alim Setiawan, S. STP, M.Si., Director of Student Development of IPB.

    At the beginning of his presentation, Dr. Sutanto divides UNS students into two groups: the students who have not participated in Ormawa or UKM and students who have participated in ORMAWA or UKM. “Based on the data from SIPSmart and SIMKATMAWA, students with numerous achievements or championships victory, and those who are active in various students activities such as participating in conferences and other activities, are students who have active participation in ORMAWA or UKM organization. I strongly recommend that students join the existing ORMAWA or UKM or propose new student activity units. We will be ready to facilitate students’ needs,” he said.

    Besides joining student associations and organizations, students can also explore their interests and create other innovations. “At UNS, there is still not many organization engaged in IT even though students love digital technology. You can establish an IT community and other communities, submit the proposal to us,” Dr. Sutanto said.

    Furthermore, related to the MBKM Program, Dr. Sutanto categorized the program into 2 (two) clusters, namely the Reasoning and Interest-Based, whereas each cluster has its designated PIC. Reasoning cluster includes research, professional internships, student exchanges, teaching assistance, and Thematic Community Service Program. Meanwhile, Interests-based clusters include entrepreneurship, humanitarian projects, independent projects, and national defense.

    Dr. Sutanto invites students to join one of the MBKM programs under the 9 (nine) categories provided by UNS, which includes national defense. “Thus, for the Merdeka Belajar program, which one is interesting for you? Do you want to participate in teaching assistance, a village development program, or something else? Mr. Nadiem is simple after you graduate, you cannot just rely on your learning experience in the study program to start a company or work properly. You need multi-disciplinary skills because the world has changed. So start walking there now, toward the nine “ponds” (read: programs) provided by UNS. Start from now, map your skills, your desire to be competent can be covered in this program, all of them,” he said.

    Dr. Sutanto gave an example of how students can carry out MBKM activities, for instance, establishing the Indonesian Generation School, relocating flood-prone areas (a program by FEB UNS students), helping to eradicate malnutrition (UNS student community service in Brebes), assisting the establishment of irrigation system for the agricultural land community, pests eradication assistance, and many other beneficial activities for the community, which can also be recognized under the MBKM program.

    Meanwhile, the second speaker, Dr. Alim Setiawan, S. STP, M.Si., the Director of Student Development of IPB University, explained curriculum innovation, the tips, and strategies for achieving IKU at the Bogor Agricultural University (IPB). (Humas FEB)