FEB

Blog

  • Webinar Prodi Maksi FEB Angkat Tema Optimalisasi Pembelajaran Daring pada Program Pascasarjana

    Webinar Prodi Maksi FEB Angkat Tema Optimalisasi Pembelajaran Daring pada Program Pascasarjana

    Dalam proses pembelajaran daring, ada lima hal yang harus dipersiapkan dosen  agar proses pembelajaran berjalan efektif, yakni mempersiapkan materi pembelajaran (learning object), menyampaikan materi pembelajaran (learning delivery), mempersiapkan interaksi pembelajaran  (learning engagement), mempersiapkan aktifitas dalam pembelajaran (learning activities) dan mempersiapkan assessment dalam pembelajaran (learning assessment).

    Kita harus mendorong agar mahasiswa bukan hanya mengkonsumsi konten, bukan hanya download materi dan tugas-tugas namun mengalami proses untuk learning activities. Aktifitas  pembelajaran yang membuat mahasiswa memiliki engagement (makna) atau kesan dan experience (pengalaman) .

    Dr. Ir. Ridi Ferdiana, ST, MT, IPM, Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

    Pernyataan itu disampaikan Dr. Ir. Ridi Ferdiana, ST, MT, IPM, Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada pada Webinar yang diselenggarakan  Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Sabtu 29 Agustus 2020.

     

    Selanjutnya dikatakan, pembelajaran daring itu bukan sesuatu yang mudah, membutuhkan  sekumpulan latihan, baik  dari sisi pengajar maupun mahasiswa. Dan yang paling penting adalah bagaimana interaksi pengalaman pembelajaran dari luring itu bisa kita pindahkan sebagian besar ke daring, sehingga aktifitas pembelajaran menjadi aktifitas yang penting melebihi dari aspek-aspek konten yang mungkin kita kembangkan.

    Sebelum mengarah ke pembelajaran daring, kita harus  memahami  juga infrastruktur pembelajaran.

    “Yang sangat perlu diperhatikan adalah bukan hanya kita memilih sinkronus dan asinkronus tapi juga harus melihat  kondisi mahasiswa. Sebaiknya dosen melakukan survei di kelas masing-masing sebelum merancang learning delivery untuk memastikan apakah perangkat lunaknya sudah siap atau belum” jelasnya .

    Hal senada disampaikan oleh Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS dalam pembelajaran daring perlu usaha lebih untuk mempersiapkan materi pembelajaran, harus dibuat semenarik mungkin, harus memperhatikan sisi pedagogi dari suatu materi,  mahasiswa perlu dimotivasi dan diorganisasikan agar mereka bisa terlibat secara langsung dan juga sarana dan prasarana harus mendukung.

    Sementara itu, Dr. Sri Suning Kusumawardani, ST, MT,  Dosen DTETI FT Universitas Gadjah Mada menyampaikan meskipun  pembelajaran daring bukanlah sesuatu yang mudah namun pembelajaran ini bisa kita lakukan dengan pengalaman-pengalaman luring,  kita coba  merepresentasikan di dalam daring.   Meskipun ada keterbatasan, kita dapat mengkombinasikan antara sinkronus dengan asinkronus secara  harmonis.

    Dr. Sri Suning Kusumawardani, ST, MT, Dosen DTETI FT Universitas Gadjah Mada

    Pemaparan ketiga narasumber diikuti seksama oleh sekitar 40 peserta webinar dilanjutkan dengan diskusi  interaktif.  Acara yang bertema Optimalisasi Pembelajaran Daring pada Program Pascasarjana di Era New Normal dibuka oleh Ari Kuncara Widagdo, S.E., M.B.A.Ph.D,Ak. Kepala Program Studi Magister Akuntansi FEB UNS. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Tim Pengabdian Masyarakat FEB Beri Pelatihan dan Pendampingan UMKM Kuliner

    Tim Pengabdian Masyarakat FEB Beri Pelatihan dan Pendampingan UMKM Kuliner

    Tim pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) yang diketuai oleh Dr. Bambang Hadinugroho, S.E., M.Si. menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Wedangan Lawang Djoendjing, Kamis 27/8/2020.

    Tim yang beranggotakan Dra. Ig. Sri Seventi Pudjiastuti, M.Si., Dr. Sri Hartoko, MBA, Ak, Heru Agustanto, SE, ME, Drs. Sunaryanto, M.M., Yohana Tamara,SE, M.M, Dr. Endang Suhari, M.Si dan Drs Harmadi,M.M. secara bergantian memberikan materi pelatihan dan pendampingan  15 orang pelaku usaha kuliner di Kecamatan Jebres Surakarta.

    Dra. Ig. Sri Seventi Pudjiastuti, M.Si., Dosen FEB UNS

    Selain itu, Tim juga mendatangkan praktisi Gojek untuk memberikan pelatihan kepada peserta dalam penjualan online dengan aplikasi.

    Materi yang disampaikan meliputi akuntansi dan perpajakan, manajemen dan manajemen keuangan sederhana untuk pembukuan, manajemen pemasaran digital serta membantu kemitraan usaha dengan gojek (gofood, go send, go shop).

    Tim berharap dengan pelatihan dan pendampingan tersebut mampu membantu pencapaian peningkatkan profit UMKM.

    Para pelaku UMKM perlu memahami manajemen pemasaran sebagai cara yang paling efektif untuk memperkenalkan produk dan jasa kepada masyarakat sehingga konsumen mau melakukan pembelian dan akhirnya mampu meningkatkan profit perusahaan secara keseluruhan.

    Strategi pemasaran harus dilakukan UMKM terhadap produk, penetapan harga, lokasi dan juga dan promosi.

    Drs. Sunaryanto, M.M., Dosen FEB UNS

    Dalam hal strategi pemasaran produk, UMKM harus menciptakan produk yang unik, menarik dan memiliki kelebihan dari produk lain serta terus berinovasi memenuhi selera dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

    Selain itu, dalam hal promosi, UMKM harus mampu beradaptasi dengan melakukan pemasaran secara digital dengan memanfaatkan internet.

    Yohana Tamara,SE, M.M, Dosen FEB UNS

    Kegiatan ini berjalan lancar dan mendapat tanggapan positif dari seluruh peserta. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Dua Narasumber Webinar Beri Tips Publikasi Ilmiah

    Dua Narasumber Webinar Beri Tips Publikasi Ilmiah

    Menulis menjadi suatu keharusan bagi mahasiswa untuk membagikan ide, menyelesaikan permasalahan, menambah ilmu pengetahuan dan membangun bangsa. Menulis sangat berkaitan erat dengan publikasi. Hasil penelitian seseorang dapat dilihat oleh masyarakat umum melalui adanya publikasi.

    Secara akademik, publikasi berguna untuk presentasi suatu seminar, hibah penelitian dan lain sebagainya. Sedangkan secara non akademik publikasi digunakan untuk kontribusi lapangan, pertimbangan untuk promosi serta reputasi. Publikasi dapat dilakukan di beberapa sumber seperti jurnal, buku, tesis, makalah, majalah dan lainnya.

    Untuk mempublikasikan paper dalam jurnal, yang harus disiapkan mahasiswa adalah menyiapkan manuskrip, mengidentifikasi langkah penting dalam penerbitan, mencari jurnal yang tepat, menerbitkan makalah ke jurnal yang terindeks oleh SCOPUS atau WoS.

    Hal tersebut disampaikan Prof. Tamat Sarmidi dari Universiti Kebangsaan Malaysia mengawali presentasinya dalam Webinar Academic Writing and Publication Tips yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan (MESP) Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret FEB UNS, Kamis, 27 Agustus 2020.

    Prof. Tamat Sarmidi dari Universiti Kebangsaan Malaysia

    Selanjutnya disampaikan, dalam penulisan pendahuluan sebuah paper hindari kalimat “studi pertama”, “sebelumnya belum dijelaskan” dan kata-kata negatif lain. Tulis sistematika yang logis agar pembaca dengan mudah memahami makalah atau jurnal kita.

    Dan untuk literature review menampilkan teori atau penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian kita, juga harus menekankan apa yang kita ketahui dan apa yang belum kita ketahui.

    Dalam mengangkat teori atau penelitian terdahulu harus memiliki landasan terlebih dahulu mengapa penting bagi penelitian kita. Hindari mengutip terlalu luas, mengutip jurnal dibawah publikasi tahun 2000 dan jangan mengutip di jurnal yang memiliki grade rendah.

    “Minta rekan anda untuk membaca hasil penelitian anda. Periksa kembali penulisan, pengumpulan data, pengolahan data serta logika hasil penelitian anda seperti teknik estimasi, ukuran sampel, indikator penelitian, variabel penelitian dan lainnya. Hindari kata-kata non kuantitatif, kata “tentu saja”, kata “jelas” dan minimalkan penggunaan kata “namun”, “sebagai tambahan”, “selain itu” paparnya.

    Sementara itu, disesi kedua webinar, Malik Cahyadin, SE, M.Si, dosen FEB UNS juga menegaskan bahwa    Iiteratur review itu bukan meringkas tapi mensintesis referensi, mengkaitkan inti satu hal dengan hal lain menjadi satu alur cerita yang jadi fokus isu atau tujuan riset kita .

    Malik juga memberikan solusi terhadap beberapa kendala yang sering dialami mahasiswa dalam publikasi, diantaranya mahasiswa harus aktif dalam kegiatan penulisn ilmiah, aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat di berbagai skema dan sumber pendanaan yang memenuhi syarat, jangan menunda menuliskan ide pubikasi dari hasil riset yang telah disusun dan yang terpenting juga gunakan software bahasa Inggris seperti grammarly dan lain-lain, tetapi paper tetap proffread. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

     

  • Prodi EP FEB Gelar  The 1st International Conference on Sustainable Business and Economic Environment

    Prodi EP FEB Gelar  The 1st International Conference on Sustainable Business and Economic Environment

    Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, mengadakan The 1st International Conference on Sustainable Business and Economic Environment (ICSBEE) pada Rabu, 12/8/2020 secara daring.

    Acara tersebut menghadirkan Prof. Arif Anshory Yusuf dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) sebagai keynote speaker dan tiga plenary speaker yaitu Prof. Ruhul Salim dari Curtin University yang saat ini menjabat sebagai Director of Graduate Research in Economics and Finance Curtin University, Associate Prof. Tamat Tarmizi dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), saat ini menjabat sebagai Deputy Dean of the Faculty of Economics and Management in Research and Innovation, Wakil President of the Persatuan Econometrics Malaysia serta menjadi editorial board di dua jurnal internasional Jurnal Ekonomi Malaysia and International Journal of Economics and Management, dan juga  Dr. Vincent Hadi Wiyono,  akademisi FEB UNS.

    Dr. Izza Mafruhah, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS dalam sambutan membuka acara menyampaikan ungkapan terima kasih kepada para pembicara yang telah bersedia hadir, serta para peserta ICSBEE.

    “ICSBEE 2020 bertujuan untuk menumbuhkan ide-ide dan inovasi sebagai kontribusi yang dapat digunakan untuk memastikan bahwa target SDG (Sustainable Development Goals) Indonesia di tahun 2020 tetap tercapai meski ditengah kondisi Pademi Covid-19,” ungkap Dr. Izza.

    Lebih lanjut, Dr. Izza berharap supaya ICSBEE dapat meningkatkan jumlah publikasi artikel ilmiah di FEB UNS,  dari target 50 publikasi internasional, saat ini sudah ada 35 artikel yang terpublikasi di jurnal internasional ter-index scopus.

    Keynote speech oleh Prof. Arif Anshory Yusuf membahas SDG di Indonesia, dampak dan penyesuaian selama pandemi.

    Dalam presentasinya, Dr. Arif yang saat ini menjabat sebagai President of Indonesian Regional Science Association, menyoroti dampak pandemic Covid-19 pada dua aspek SDG yaitu SDG 1 Kemiskinan dan SDG 10 Kesenjangan Ekonomi.

    Salah satu temuan dalam penelitian beliau mengenai SDG Indonesia adalah bahwa penurunan mobilitas penduduk di Indonesia selama pandemi telah meningkatkan kesenjangan ekonomi.

    Menginjak ke sesi plenary, terdapat tiga pembicara yang juga menyoroti berbagai permasalahan terkait kondisi perkembangan SDG di tengah pandemi Covid-19, Prof. Ruhul Salim menyampaikan presentasi berjudul “SDG Pattern in Asia After the Pandemic”, Associate Prof. Tamat Tarmizi dengan judul “Which Macroeconomic Model Fit During and After Pandemic?”, dan Dr. Vincent Hadi Wiyono menyampaikan materi berjudul “How Does Social Capital Affect the Achievement of SDG’s During and After Pandemic in Indonesia”.

    Acara dilanjutkan dengan parallel session, peserta konferensi dibagi kedalam sesi presentasi untuk mempresentasikan artikel ilmiah yang dikirimkan ke ICSBEE 2020. Setiap peserta diberi waktu 10 menit untuk mempresentasikan artikelnya yang kemudian akan mendapatkan komentar dan saran perbaikan, oleh Chairman yang bertugas di setiap ruang paralel.  (Aulia/Humas)

  • PENGUMUMAN VANDEL & SERTIFIKAT UNTUK PERUSAHAAN MAGANG

    [gview file=”http://feb.uns.ac.id/feb/wp-content/uploads/2020/08/PENGUMUMAN-MENGENAI-VANDEL-ICD-FEB-UNS.pdf”]

  • FEB UNS Kerjasama dengan Bank Jateng, Salurkan Bantuan untuk Desa Binaan

    FEB UNS Kerjasama dengan Bank Jateng, Salurkan Bantuan untuk Desa Binaan

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menjalin kerjasama dengan Bank Jateng untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat desa binaan FEB.

    Di tahap awal kerjasama, Bank Jateng memberikan bantuan berupa uang tunai untuk desa binaan FEB khususnya masyarakat Desa Cangkringan Banyudono, Boyolali yang beberapa waktu lalu terkena musibah. Sejumlah 57 keluarga harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari karena beberapa warganya positif Covid-19.

    Penyerahan bantuan dilakukan di Ruang Ruang Sidang I, Kamis 6 Agustus 2020, disaksikan oleh Pimpinan FEB UNS serta perwakilan dari Bank Jateng.

    Dr. Dwi Prasetyani, M.Si., Kepala Unit Kerjasama FEB UNS menyambut baik bantuan dari Bank Jateng sebagai langkah awal untuk memulai kerjasama.

    Dikatakannya, dalam rangka melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian masyarakat, FEB UNS miliki beberapa mitra desa binaan. Untuk melakukan pendampingan terhadap masyarakat di desa binaan tentu memerlukan banyak kerjasama dengan pihak eksternal diantaranya adalah dari pihak perbankan.

    Ditegaskan pula oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS, Dr. Izza Mafruhah, M.Si. bahwa FEB UNS sangat terbuka untuk menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain, termasuk perbankan. Terlebih di FEB terdapat beberapa laboratorium yang disana akan banyak pelatihan-pelatihan yang bisa dikembangkan, dan peran dari praktisi perbankan sangat besar.

    “Dalam rangka mengimplementasikan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan program magang 6 bulan, jika Bank Jateng menjadikan FEB sebagai salah satu mitra utama maka akan kita siapkan mahasiswa-mahasiswa terbaik kami untuk magang” paparnya.

    Sementara itu, Gentur Sumaryanto, Pimpinan Bidang Pemasaran Bank Jateng mengatakan pihaknya sangat terbuka untuk melakukan kerjasama lebih lanjut dengan FEB UNS, baik dalam bentuk magang, pelatihan-pelatihan ataupun pengembangan desa binaan FEB. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Prodi S-1 Manajemen Gelar Pleno Lokakarya Kurikulum

    Prodi S-1 Manajemen Gelar Pleno Lokakarya Kurikulum

    Program Studi (Prodi) S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar Pleno Lokakarya Kurikulum, Selasa-Rabu, 4-5 Agustus 2020.

    Pembahasan di hari pertama lokakarya, fokus pada Bidang Minat Studi yakni Manajemen Operasi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pemasaran, Manajemen Keuangan dan Pleno Kurikulum Konvensional. Sedangkan di hari kedua fokus pada bidang Kampus Merdeka meliputi Bidang Penelitian, Magang Kerja, Kewirausahaan, Proyek di Desa dan Pertukaran Pelajar.

    Dalam sambutan sekaligus membuka acara, Dr. Atmaji, MM, Kepala Prodi S-1 Manajemen FEB UNS mengatakan lokakarya kurikulum ini memiliki makna yang berbeda dengan lokakarya sebelumnya karena beririsan dengan Kampus Merdeka.

    “Rekonstruksi kurikulum saat ini semestinya menggunakan dua paradigma, Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 berdasarkan Permenristekdikti No. 50/2018 diramu dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka berdasarkan Permendikbud No. 3/2020.” paparnya.

    Selanjutnya dijelaskan kurikulum tahun 2020 yang mengacu pada Permendikbud No. 3/2020 tentang Merdeka Belajar Kampus Merdeka adalah hal yang baru dan harus dicermati bersama dari panduan dan buku saku yang telah diterbitkan Kemendikbud. Dalam Merdeka Belajar, mahasiswa dapat mengambil SKS di luar perguruan tinggi sebanyak 2 semester yang setara dengan 40 Satuan Kredit Semester (SKS) serta dapat mengambil SKS di prodi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak 1 semester yang setara dengan 20 SKS.

    Terkait dengan pelaksanaan Kurikulum Kampus Merdeka, berdasarkan pembahasan bersama di Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP), UNS akan mulai menerapkan Kampus Merdeka pada semester V, jadi semester depan. Saat ini aturannya masih dalam proses penggodokan.

    Menurutnya, paling tidak prodi sudah membuat rambu- rambu tentang bagaimana merekognisi kegiatan belajar di luar kampus selama tiga semester dan juga satuan kredit semester selanjutnya didefinisikan sebagai jam kegiatan, bukan jam belajar.

    Dalam aturan baru di UNS yang akan terbit sekitar bulan Oktober atau November 2020, bentuk-bentuk merdeka belajar ada 10 bidang yakni magang atau praktik kerja, asistensi mengajar di satuan pendidikan, penelitian/riset, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, studi/proyek independen, membangun desa/kuliah kerja nyata tematik, pelatihan militer, bentuk lain yang ditetapkan oleh Rektor, serta pertukaran mahasiswa.

    Tidak hanya sekedar merekonstruksi kurikulum namun juga mengkonstruksikan beberapa hal yakni persyaratan sehingga mahasiswa boleh atau tidak mengikuti kegiatan itu, mekanisme, pembentukan penanggung jawab per bidang, menyusun rubrik penilaian termasuk kemungkinan adanya sanggahan dari mahasiswa, kemungkinan pembiayaan mandiri atau kerjasama dan juga monitoring.

    Dr. Atmaji juga berpesan, dalam pelaksanaan Kurikulum Kampus Merdeka ini, peran Pembimbing Akademik (PA) menjadi sangat penting.

    “PA perannya sangat luar biasa dalam Merdeka Belajar, PA akan ditanya mahasiswa dalam banyak hal, mohon PA selalu mempelajari panduan Kampus Merdeka dari Kemendikbud’ tegasnya.

    Pada pleno lokakarya tersebut, para peserta banyak memberikan masukan kepada masing-masing bidang untuk menyempurnakan kurikulum prodi.

    Diantara masukan peserta, harus ada MoU dan MoA diantara perguruan tinggi yang melakukan pertukaran mahasiswa karena hubungannya dengan kewajiban pelaporan hasil studi mahasiswa ke pangkalan data perguruan tinggi. Perlu ditetapkan pula matakuliah yang dipertukarkan dan termasuk kuota mahasiswanya. Selain itu harus ada seleksi administrasi dan akademik.

    Program kampus merdeka dengan konvensional tidak bersifat kompetitif, namun berjalan sinergi dan saling melengkapi. Prodi bertanggung jawab terhadap berjalannya program tersebut.

    (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Siapkan UMKM Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru

    Siapkan UMKM Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru

    Menuju adaptasi kebiasaan baru (new normal) secara otomatis kita harus masuk ke dalam situasi yang selalu menjaga jarak atau mengurangi kontak, istilah yang digunakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional dikenal dengan  less contact economy.  Perubahan gaya hidup dan tatanan ekonomi selama pandemi mempengaruhi bagaimana bentuk new normal, adanya pergeseran pola bisnis, ketahanan dan efisiensi, pergeseran struktur industri, pergeseran perilaku masyakarat, revolusi industri 4.0, serta ekosistem digital yang terhubung antar sektor.

    New normal akan mengakibatkan pergeseran pola ekonomi yang minim pertemuan tatap muka atau less contact economy. Less contact economy ditandai dengan adanya hyperconnectivity antar manusia melalui teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Beberapa contoh hyperconnectivity yang sudah diterapkan selama pandemi diantaranya e-commerce dan logistik.

    Hal itu disampaikan Dr. Izza Mafruhah, SE, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) saat menjadi salah satu narasumber pada Webinar bertajuk Penanganan Dampak Covid 19 Terhadap Pelaku UMKM di Jawa Tengah yang digelar oleh  Bappeda Jawa Tengah, Senin 27 Juli 2020.

    Selanjutnya disampaikan, pemerintah telah melakukan  langkah-langkah  penanganan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pasca Covid 19 diantaranya penangguhan pajak, penangguhan pembayaran jaminan sosial, penangguhan pembayaran angsuran hutang dan sewa yang berfokus pada wirausaha untuk meringankan kendala likuiditas,  pemberian jaminan pinjaman berupa Government Guarantee  untuk usaha-usaha baru dengan modal yang kecil, penyediaan hibah dan subsidi pasca Covid 19 untuk memulai usaha lagi, meningkatkan pinjaman dengan bunga bersubsidi, meningkatkan kemampuan UMKM di bidang teknologi untuk mengadopsi munculnya new normality  yang memaksa UMKM mengubah pola produksi dan pemasaran serta skema dan pendampingan khusus  dalam penyiapan pengembangan usaha pasca Covid 19.

    Bagaimana kondisi Jawa Tengah untuk menghadapi adaptasi kebiasaan baru tersebut?. Perlu dilakukan penelitian mengenai bagaimana fase-fase kondisi ekonomi masyarakat, mulai dari krisis, depresi, recovery, development.

    “Kita perlu mengidentifikasi secara detil pada level kabupaten kota, sehingga nanti kabupaten kota punya data yang akurat kira-kira siapa yang akan dibantu,  bagaimana model bantuannya dan seperti apa pendampingan yang akan dilakukan, kemudian identifikasi aturan pendukungnya baik pada level pemerintah pusat, kementerian/ lembaga maupun level daerah. Selanjutnya perlu dilakukan pendampingan usaha dan implementasi new normal’ paparnya.

    Dr. Izza memberikan usulan aspek kelembagaan untuk menuju adaptasi kebiasaan baru sehingga akan muncul konsep siapa melakukan apa,  agar tidak tumpang tindih.  Jika tidak terkonsep maka masing-masing akan bergerak sendiri-sendiri.

    Menurutnya, stakeholder dipilahkan ke dalam 4 kelompok yakni regulator, eksekutor, supporting institution dan target atau end user.  Aspek regulatornya berada pada kementerian/lembaga, pemerintah daerah dan dinas terkait. Dari regulasi yang sudah diterapkan kemudian di eksekusi  oleh dinas-dinas terkait, lalu harus ada supporting institution oleh perbankan, akademisi dan juga masyarakat. Target atau end usernya adalah UMKM atau pelaku usaha.

    “Kami juga mengusulkan semacam rumah virtual UMKM, yang disana terdapat virtual community untuk  memberikan pemahaman, sosialisasi kepada masyarakat bagaimana penggunaan virtual yang mendukung rumah virtual UMKM” jelasnya.

    Rumah virtual UMKM mendukung UMKM dari aspek produksi, masyarakat memproduksi apa saja kemudian mereka menciptakan pasarnya sendiri (supply created own demand). Selain itu juga ada  pendidikan dan pelatihan pendampingan dan pengembangan ekonomi, pemasaran dan trading house, serta bantuan alat dan permodalan.

    Dukungan dan kerjasama yang baik semua pihak terhadap konsep aspek kelembagaan untuk menuju adaptasi kebiasaan baru sangat diperlukan agar proses recovery kita berjalan dengan lancar dan cepat. (Humas)

  • International Webinar Bahas Financial Crime, Fraud and Cybersecurity

    International Webinar Bahas Financial Crime, Fraud and Cybersecurity

    Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Taufiq Arifin, S.E., M.Sc., Ph.D, Ak, menjadi salah satu pembicara dalam webinar internasional yang diselenggarakan UNS bekerja sama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia, didukung oleh Pusat Unggulan Iptek (PUI) Fintech dan Banking serta FEB UNS,Selasa 28/7/2020.

    Dalam presentasiangkatnya adalah tentang peran fintech dalam financial fraud atau kecurangan di bidang keuangan, dengan menekankan pada apakah fintech mendukung financial fraud atau justru dapat digunakan untuk mengurangi atau bahkan mengeliminasi fraud.

    “Fintech membuat industri jasa keuangan (financial service) dapat menyediakan jasa yang lebih cepat kepada pelanggan. Akan tetapi, industri jasa keuangan adalah yang paling sering mengalami insiden cybersecurity dibandingkan industri lainnya,” jelasnya.

    Cybersecurity menjadi sebuah topik yang penting untuk dipahami mengingat serangan kriminal cyber (cyberattack) yang terjadi pada industri jasa keuangan semakin hari menjadi lebih canggih dan beragam.

    Dalam hal ini Dr. Taufiq memberi contoh salah satu kasus cyberattack yang baru-baru ini terjadi di Tokopedia yang notabene adalah salah satu penyedia jasa e-commerce terbesar di Indonesia.

    Delapan pembicara lain yang turut menyemarakkan webinar internasional tersebut yakni Prof. Stuart Madnick dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Prof. John Goodell dari University of Akron, AS, Dr. Dominic Thomas-James dari University of Cambridge, UK dan Yale University, USA, Prof. Marianne Junger dari University of Twente, Netherlands, Dr. David Chaikin dari University of Sydney, Australia, Dr. Baharom Abdul Hamid dari INCEIF, Malaysia, Dr. Mohamad Iqbal Aruzzi dari BPK , dan  Dr. Richard Alexander dari SOAS University of London, UK.

    Sementara itu, keynote speech disampaikan secara langsung oleh Dr. Agung Firman Sampurna, CSFA selaku Direktur BPK RI.

    Dalam pidatonya Dr. Agung, menekankan pada penggunaan sistem teknologi dan informasi dalam bidang audit investigatif untuk mendukung kemampuan deteksi dan preventif terhadap fraud. Dikatakannya bahwa risiko dibidang teknologi termasuk ke dalam 20 besar tipe risiko yang membutuhkan atensi khusus.

    International Webinar Financial Crime, Fraud and Cybersecurity yang dibuka oleh Rektor UNS,  Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum menarik perhatian sebanyak lebih dari 5.000 an peserta yang mendaftar dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, dosen, staf BPK, hingga peneliti dari luar negeri. Peserta mengikuti acara melalui Zoom Cloud Meeting dan Youtube Live Streaming di Channel Youtube Universitas Sebelas Maret. (Humas)