FEB

Blog

  • Tim Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS Bantu Masyarakat di Cangkringan

    Tim Satgas Dampak Covid-19 FEB UNS Bantu Masyarakat di Cangkringan

    Tim Satgas Dampak Covid-19 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) memberikan bantuan 57 paket kebutuhan pokok  kepada  masyarakat di Desa Cangkringan, Banyudono, Boyolali, Jumat 24 Juli 2020.

    Bantuan yang berupa  paket kebutuhan terdiri dari  beras, minyak goreng, gula pasir, teh, gandum,  kecap, sabun mandi dan lain-lain diserahkan langsung oleh  Prof. Drs. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons). Ph.D, Ak., Dekan FEB UNS kepada Ibu Himawati, Kepala Desa Cangkringan.

    Bantuan diberikan sebagai wujud empati FEB UNS kepada masyarakat yang terkena musibah, khususnya di Desa Cangkringan yang mengharuskan  57 kepala keluarga menjalani isolasi mandiri selama 14 hari karena beberapa warga positif Covid-19.

    Prof. Djoko berharap dengan bantuan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, meringankan beban dan memberikan semangat untuk sehat.

    “Kami atas nama keluarga besar FEB UNS, teman-teman, kolega, alumni, mahasiswa FEB UNS menyerahkan bantuan kebutuhan pokok untuk masyarakat Cangkringan. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban dan menambah semangat agar segera sembuh dan sehat. Semangat gotong royong, guyup rukun dan empati harus terus dikobarkan untuk menghadapi tantangan hidup ke depan. Semoga bermanfaat dan barokah. Urip sing urup memayu hayuning bawana” katanya saat menyerahkan bantuan.

    Ibu Himawati yang saat itu didampingi oleh  pejabat desa lainnya menyampaikan ucapan terima kasih kepada keluarga besar FEB UNS atas kepeduliannya berbagi kepada masyarakat di Cangkringan.

    “Saya selaku Kepala Desa Cangkringan dan juga atas nama pemerintah desa sangat senang dan berterima kasih sekali atas kedatangan Dekan FEB UNS dan rombongan  yang telah ikut peduli kepada masyarakat kami dengan memberikan paket kebutuhan pokok. Bantuan tersebut sangat membantu meringankan masyarakat khususnya untuk 57 KK di RT 4 yang saat ini sedang menjalani karantina mandiri sejak tanggal 21 Juli  dan insyaAllah berakhir tanggal 3 Agustus besok” jelasnya.

    Hingga saat ini, pemerintah desa Cangkringan masih menunggu dari dinas kesehatan terhadap  hasil swab 7 warganya yang lain yang masih belum keluar, semoga hasilnya negatif agar tidak memperpanjang proses karantina yang sedang dijalani saat ini.

    Kades Cangkringan juga mohon doa dari keluarga besar FEB agar musibah yang menimpa sebagian warganya bisa segera tersingkir dan warga kembali sehat dan bisa beraktifitas kembali. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

     

  • Prof. Rahma: Penyesuaian Program Pengabdian  Masyarakat  Di Masa Pandemi

    Prof. Rahma: Penyesuaian Program Pengabdian  Masyarakat  Di Masa Pandemi

    Di masa pandemi Covid-19, Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah melakukan beberapa  penyesuaian kegiatan atau program pengabdian masyarakat diantaranya pelaksanaan kegiatan di rumah, Work From Home (WFH) dengan video conference, pengalihan sejumlah judul  pengabdian kepada masyarakat yang memiliki potensi untuk berkontribusi dalam penyelesaian pandemi serta pelaksanaannya memperhatikan aspek keselamatan pengabdi, orang lain, dan lingkungannya selama pengabdian masyarakat.

    Kemenristekdikti juga mendorong penggiat ilmu pengetahuan dan teknologi,  mahasiswa,  pakar industri  dan masyarakat umum untuk berinovasi melalui ide, solusi produk, sistem, platform atau aplikasi mobile/web untuk bergotong royong dalam mengatasi pandemi.

    Pernyataan itu disampaikan Prof Rahmawati, M.Si, Ak, Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) saat menjadi narasumber di sebuah Webinar di Universitas Janabadra.

    Selanjutnya disampaikan, model pemberdayaan masyarakat dimasa pandemi bisa dilakukan secara daring atau online. Demikian juga dalam proses pemasaran produk yang dihasilkan oleh masyarakat dilakukan melalui e-commerce.

    Namun jika memang  terpaksa harus  offline harus selalu memperhatikan protokol kesehatan. Seperti yang dilakukan oleh tim pengabdi dari UNS yang diketuai Prof. Rahmawati bekerja sama dengan Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat di wilayah Wijirejo, Pandak, Bantul.

    Tim yang beranggotakan Dr. Ari Kuncoro Widagdo, Dr. Sarah Rum Handayani, Dr. Sri Wahyu Agustiningsih, Fitri Susilowati M. Sc, Sri Murni M.Si, Ir Warseno M Si, Djoko Karyono MM dan Siti Nurlaela M Si. saat itu fokus pada pengembangan diversifikasi produk dengan pelatihan dan pendampingan ecoprint pada binaan UKM Batik Wongso.

    “Selama pendampingan di Bantul dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, ada pembatasan orang yang dibina,  bermasker dan menjaga jarak dan untuk konsultasi lebih lanjut bisa dilakukan secara online, bisa menggunakan email ataupun whatsapp ” jelasnya .

    Prof. Rahma memberikan semangat dan motivasi kepada para pelaksana pengabdian masyarakat untuk tetap giat melaksanakan tugas pengabdian meskipun dengan segala keterbatasan di masa pandemi.

    Pada kesempatan itu, Prof. Rahma juga mempresentasikan pengabdian masyarakat yang dilakukannya  sebelum pandemi bersama tim dengan tema Penguatan Ekspor Sarung Goyor Berbasis Online Village On One Produk (Ovop) di Sragen, mulai dari mempersiapkan proposal pengabdian, pelaksanaan hingga luaran yang dicapai di tingkat nasional maupun internasional.

    Untuk kepentingan akreditasi prodi, Prof. Rahma  juga menekankan agar dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat sebaiknya selalu melibatkan mahasiswa, baik pada program  S-1, S-2  atau S-3. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Tim Pengabdian Masyarakat FEB Kembangkan Potensi Batik Ciprat Bantu Penyandang Disabilitas

    Tim Pengabdian Masyarakat FEB Kembangkan Potensi Batik Ciprat Bantu Penyandang Disabilitas

    Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Surakarta bekerjasama dengan pemerintah Desa Karangpatihan Ponorogo menggelar Webinar bertema Implementasi Pembelajaran Batik Ciprat bagi Penyandang Disabilitas sebagai Upaya Peningkatan Perekonomian di Kampung Idiot Ponorogo, Selasa 22 Juli 2020.

    Ketua Pengabdian Masyarakat, Dr. Evi Gravitiani, S.E., M.Si. dalam sambutannya mengatakan webinar ini adalah satu rangkaian acara dari Program Pengabdian Masyarakat yang beranggotakan dosen FEB UNS yakni Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si,. Ph.D., Prof. Dr. Mugi Rahardjo, M.S, Prof. Dr. Julianus Johnny Sarungu, M.S serta Rochmat Aldy Purnomo, M.Si. mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB UNS sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

    Menurut Dr. Evi, program pengabdian masyarakat ini, persiapannya telah dilakukan sejak bulan Maret. Satu buku tentang Batik Ciprat sedang dalam proses editing dan tim bersyukur sudah memperoleh 3 HAKI dan ada 2 paper pengabdian yang sudah di submit ke jurnal pengabdian.

    Selain Bhimo Rizky, PhD, narasumber lainnya adalah Eko Mulyadi, Kepala Desa Karangpatihan Ponorogo dan Samuji, pelaku sekaligus sebagai pendamping dari warga tuna grahita yang memproduksi batik ciprat.

    Dalam paparan yang bertajuk Humanomics dalam Pembangunan Berkelanjutan, Belajar dari Batik Ciprat di Kampung Idiot Ponorogo, Bhimo mengangkat konsep bagaimana agar bisnis Batik Ciprat tetap berjalan dan bahkan meningkat namun juga tetap menghargai sisi kemanusiaan warga di sana yang melakukan proses produksi. Karena ada keterbatasan, kita perlu membantu mereka dalam memasarkan dan memantaunya serta menjaga kualitasnya dan menjaga sisi keamanan dari bahan bakunya.

    Terlebih di masa pandemi, dimana pekerja juga dikenalkan dengan teknologi, maka perlu pendampingan yang lebih intensif.

    “Kita mendorong pekerja yang memiliki kebutuhan khusus tersebut agar mampu berkembang, mereka tidak diperlakukan sekedar sebagai pekerja namun juga menjaga keberlangsungan sosialnya. Kita sebagai penyangga produk mereka sehingga ada yang menampung dan mereka tinggal menunggu feedbacknya, tidak harus mereka yang memasarkan atau mempromosikannya. Perlu diperhatikan pula bagaimana kualitas hidup mereka apakah semakin berkembang”, jelas Bhimo.

    Sementara itu Eko Mulyadi mengatakan warga yang memiliki keterbatasan, khususnya tunagrahita diberi keterampilan Batik Ciprat hingga mereka benar-benar menguasainya.

    Upaya ini dilakukan sebagai wujud pemberdayaan masyarakat, selain memberdayakan ekonomi sekaligus mengangkat strata mereka.

    Warga memiliki pendapatan harian, bulanan, triwulan dan tahunan. Dengan keempat pendapatan yang mereka terima, kebutuhan hidup mereka sudah terpenuhi. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Seminar Pengabdian Masyarakat Bahas Kebebasan Finansial di Era Kenormalan Baru

    Seminar Pengabdian Masyarakat Bahas Kebebasan Finansial di Era Kenormalan Baru

    Secara umum kebebasan finansial dapat diartikan dengan memiliki tabungan, investasi, dan uang tunai untuk membiayai hidup yang kita inginkan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Untuk mendapatkan kebebasan finansial dapat dimulai dengan menetapkan target, lalu mengidentifikasi situasi, menganalisis kesenjangan dan terakhir merencanakan pencapaian tujuan.

    Penetapan target dapat ditentukan apakah pada tahapan  passive income seseorang dapat mencukupi semua kebutuhan pokok, ataukah passive income dapat memenuhi sampai dengan kebutuhan sekunder atau hingga memenuhi kebutuhan tersier.

    Hal itu disampaikan Hery Sulistio Jati Nugroho Sriwiyanto, S.E., M.S.E, dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan (Prodi EP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) pada Webinar Pengabdian kepada Masyarakat Prodi EP dengan tema Perencanaan dan Kebebasan Finansial di Era Kenormalan Baru, Sabtu 11 Juli 2020.

    Selanjutnya Hery menyampaikan usai penetapan target perlu juga mengidentifikasikan kondisi yang sedang berjalan saat ini bagaimana kondisi pekerjaan, usia, keluarga, kesehatan maupun perubahan kebutuhan pokok di masa new normal.

    Sedangkan untuk pencapaian tujuan direncanakan mulai dengan tetapkanlah life style Anda lalu buat anggaran bulanan dengan mengidentifikasikan pengeluaran dan pemasukan, hentikan pengeluaran yang tidak diperlukan seperti belanja yang tidak terencana dan hutang tidak produktif. Selanjutnya tingkatkan alokasi tabungan dan investasi yang menghasilkan pendapatan pasif.

    “Pastikan kebutuhan akan fungsi kendaraan, rumah, liburan dan  ada aksesoris diri sesuai dengan fungsinya, hindari gengsi. Terkadang kita memaksakan kebutuhan yang sebenarnya tidak memiliki fungsi lebih. Aktifitas liburan yang diutamakan sering hanya sekedar  untuk update status media sosial atau memiliki jam olah raga padahal tidak benar-benar berolahraga dan lainnya” tegasnya.

    Sementara itu, narasumber kedua, Devi Anggraini dari BNI Sekuritas Surakarta menyatakan di masa pandemi, masyarakat harus belajar untuk mengatur keuangan karena saat ini dalam kondisi ketidakpastian. Detoksi finansial perlu untuk menyehatkan kondisi keuangan kita.

    Memasuki new normal, hal yang perlu dilakukan adalah menghentikan pengeluaran yang tidak penting, membuat skala prioritas kebutuhan, memisahkan dana darurat dan tabungan.

    Dana darurat sendiri sifatnya harus mudah dikeluarkan, biasanya rata-rata 6 hingga 12 bulan ke depan. Hal ini untuk antisipasi misal kondisi terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau kerja tidak penuh dengan gaji separuh untuk selanjutnya diatur lagi hingga kondisi membaik.  Tabungan untuk melakukan diversifikasi investasi diantaranya deposito, emas , properti, surat utang negara, reksadana dan saham.

    Di akhir paparannya, Devi mengingatkan agar masyarakat memilih investasi mana yang baik untuk pengelolaan keuangannya dan dapat mengenali ciri-ciri investasi bodong agar tidak mudah tertipu. Beberapa ciri investasi bodong yakni memberikan imbal hasil yang menggiurkan dalam waktu singkat dan tidak rasional, tidak memiliki ijin resmi dan kelengkapan legal,  tidak berada dibawah naungan OJK meskipun terkadang sudah mengantongi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), tidak dijelaskan bagaimana cara mengelola investasinya, tidak dijelaskan struktur kepengurusannya, struktur kepemilikan, jenis kegiatan usaha dan alamat domisili, kegiatan yang dilakukan menyerupai money game dan skema ponzi (MLM) yang menyebabkan kegagalan untuk mengembalikan dana masyarakat yang diinvestasikan serta  menggandeng orang terkenal untuk mengaburkan tipuan. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Strategi Bisnis Keluarga Menghadapi Covid-19

    Strategi Bisnis Keluarga Menghadapi Covid-19

    Bisnis keluarga merupakan bisnis yang kepemilikan dan pengambilan keputusannya berada di tangan keluarga dengan manajemennya yang unik. Berbagai survei terhadap bisnis di Indonesia dari usaha kecil sampai besar rata-rata dinominasi  bisnis keluarga hingga mencapai 73%.  Bisnis keluarga juga sebagai penyumbang Gross Domestic Product (GDP),  jumlahnya di atas 40% .

    Di sisi kepemilikannya, Bisnis keluarga terbagi menjadi dua yakni family managed firms dan family owned firm. Family managed firms, keluarga akan mempertahankan saham mayoritas dan pengelolaannya jauh lebih rumit karena faktor emotion yang lebih tinggi.  Sedangkan dalam family managed firms, pemilik meng-hire profesional untuk menjalankan perusahaan agar berkembang lebih baik, pemilik hanya sebagai pengambil kebijakan.

    Hal itu disampaikan Dr. Mugi Harsono, M.Si, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) saat menjadi narasumber di Webinar yang diselenggarakan oleh Universitas Maritim Raja Ali Haji , Sabtu 18 Juli 2020.

     “Pandemi Covid-19 sangat berdampak bagi bisnis keluarga.  Untuk melindungi bisnis keluarga,  pemilik dapat mendelegasikan tanggung jawab kepada yang ahli, membuat rencana kontingensi untuk pekerja, memprioritaskan aktivitas bisnis yang penting, peduli pada aliran kas karena kas adalah jantungnya perusahaan  serta  memperkuat komunikasi dengan stakeholder inti, konsumen atau penyandang dana dan seterusnya” Jelasnya.

    Selanjutkan disampaikan, kelebihan bisnis keluarga adalah ketika menghadapi resesi finansial adalah masih bisa bicara menggunakan hati dan tidak pakai rasio, mengembangkan hubungan yang terbuka dan harmonis di antara anggota keluarga.

    Strategi yang harus ditempuh bisnis keluarga dalam menghadapi Covid-19 adalah dengan strategi adaptif berdasarkan keunggulan kompetisi lalu dikompromikan dengan kondisi yang ada. Diantara strategi itu yakni redudancy, melakukan pengembangan sistem dan sumber daya cadangan untuk melindungi perusahaan manakala menghadapi gempuran dan memastikan agar operasional perusahaan tetap berjalan. Selain itu modularity,  kita mengajak pihak lain untuk bersama dengan perusahaan kita untuk membuat kepemimpinan yang kuat.

    Strategi lainnya adalah mitigasi, secara cepat berevolusi ke market yang baru, dengan penjualan online, menciptakan produk dengan konsumen walaupun jaraknya jauh, intinya merespon perubahan yang sangat cepat. Hal lain yang juga penting dalam menghadapi pandemi adalah symbiosis,  kita mengembangkan kedekatan hubungan dekat dengan pelaku-pelaku penting, yakni bank, kreditur, konsumen,  pemerintah, dan seterusnya.

    Selanjutnya, simplification,   mengurangi kompleksitas, memangkas birokrasi yang bertele-tele untuk mengatasi kelangkaan sumber daya serta heterogenity dengan mempromosikan keragaman dalam portofolio. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • MM dan MESP FEB UNS Gelar Business Webinar Series Angkat Tema Behavioral Economics

    MM dan MESP FEB UNS Gelar Business Webinar Series Angkat Tema Behavioral Economics

    Program Studi Magister Manajemen (MM) dan Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menyelenggarakan webinar yang bertajuk Behavioral Economics, Prinsip dan Aplikasi Teori Prospek, Sabtu 18 Juli 2020.

    Kegiatan ini adalah kali kedua yang diselenggarakan dalam Business Webinar Series, diikuti oleh 107 peserta dengan narasumber Harry Susianto, Ph.D. , Psikolog Ekonomi dan Konsumen dari Universitas Indonesia.

    Behavioral Economics (BE) berusaha mengkombinasikan prinsip-prinsip dasar ilmu ekonomi dengan realita yang tidak jarang dipengaruhi oleh psikologi manusia. Lingkup ranah BE adalah mempelajari keputusan-keputusan irasional orang (dalam hal ini user atau pengguna).

    Harry menjelaskan bahwa BE mirip dengan psikologi, mayoritas menggunakan eksperimen, true experiment, ada randomisasi dan manipulasi. Dalam contoh- contoh kasusnya yang diberikan ke partisipan biasanya selalu diberikan konteks. Eksperimen dilakukan hanya satu kali dan ada insentif diberikan kepada partisipan yang sifatnya merata. Hal lain yang menjadi ciri khas BE adalah minoritas survei.

    Sementara itu, Experimental Economics (EE) yang pernah dibahas di webinar sebelumnya berbeda dengan BE, contoh- contoh kasusnya yang diberikan ke partisipan biasanya bersifat abstrak, eksperimen dilakukan berulang-ulang, banyak menggunakan contoh-contoh hipotetikal dan insentif untuk partisipan mengikuti performance, semakin rasional insentifnya semakin besar.

    “Di Indonesia, banyak studi yang menggunakan survei dan jarang sekali yang menggunakan eksperimen. Sebenarnya dengan eksperimen bisa mengklaim sebab akibat. Namun banyak orang berpikir keliru dengan menggunakan survei dan SEM (Structural Equation Modeling) untuk membuat sebab akibat. Padahal SEM itu hanya statistik, alat menghitung. Kita dapat membuat klaim sebab akibat jika penelitiannya berdesain eksperimen, jika tidak begitu, tidak bisa” jelasnya.

    Selanjutnya Harry menjelaskan penggunaan nudge dalam mempengaruhi keputusan ekonomi yang merupakan karya monumental Richard H Thaler. Nudge adalah suatu hal yang secara efektif mampu mengatur keputusan individu , kelompok atau masyarakat tanpa paksaan, sifatnya lebih kepada menggugah melalui alam bawah sadar. Bagaimana kita bisa mengatur orang untuk berperilaku tertentu tanpa merasa orang itu diatur atau dipengaruhi.

    Nugde terbagi menjadi dua , Edukatif Nudge dan Non Edukatif Nudge. Ide dari Edukatif Nugde adalah individu itu dibuat kapasitasnya meningkat, disadarkan, diingatkan, dari tidak tahu menjadi tahu. Jika ada perubahan maka perubahan itu disadari orang itu dan memang harus dilakukan.

    Menurut Harry, yang lebih menarik adalah yang Non Edukatif Nudge. Kita tidak berusaha menambah kemampuan orang itu, yang dieksploitasi atau yang diatur adalah lingkungannya, dimanipulasi. Dengan lingkungan itu diharapkan perilaku orang menjadi berubah. Dalam hal ini akan muncul choice architect, arsitek yang mengatur pilihan orang yang sehingga hasilnya seperti yang kita inginkan.

    Di kegiatan ini, Harry lebih banyak memberikan contoh-contoh teknis dari beberapa artikel dengan menggunakan teori prospek dan peserta aktif mengikuti jalannya acara. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • PDIE Hadirkan Lima Editor, Diskusikan Artikel Berstandar Jurnal Internasional Bereputasi

    PDIE Hadirkan Lima Editor, Diskusikan Artikel Berstandar Jurnal Internasional Bereputasi

    Lebih dari 150 peserta yang sebagian besar mahasiswa  Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mengikuti kegiatan Shark Tank: Meet and Discuss with the Journals’ Editors, Sabtu 18 Juli 2020.

    Kegiatan yang diselenggarakan oleh  PDIE FEB UNS bertujuan untuk membantu mahasiswa PDIE yang sedang dalam proses publikasi hasil penelitian disertasi sehingga mereka dapat melakukan revisi artikel sesuai dengan standar jurnal internasional bereputasi.

    Dalam pidato sambutannya,  Prof. Rahmawati, Kepala Program Studi (Kaprodi) PDIE FEB UNS berterimakasih kepada para peserta yang hadir terutama para editor jurnal yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing mahasiswa. Event tersebut diharapkan dapat memfasilitasi para mahasiswa PDIE dalam melakukan publikasi, mengkritisi, serta memberikan masukan terhadap artikel yang telah ditulis.

    “Saat ini PDIE sedang dalam proses akreditasi internasional, sehingga harapannya, acara ini akan dapat mendukung visi jangka panjang UNS untuk menjadi World Class University serta mengakselerasi proses publikasi artikel di PDIE,” paparnya kemudian.

    Berbeda dengan acara diskusi pada umumnya dimana semua peserta tergabung di sebuah forum besar atau utama, usai pembukaan acara oleh Wakil Dekan Bidang Akademik mewakili Dekan FEB UNS,  peserta dibagi ke dalam lima ruang diskusi. Hal ini bertujuan  agar  peserta dapat  fokus mendiskusikan artikel dengan bimbingan masing-masing editor jurnal. Lebih dari 20 artikel yang dikirimkan peserta menjadi bahasan dalam diskusi.

    Lima editor jurnal internasional tersebut yakni Prof. Siong Hook Law,  Editor in Chief, International Journal of Economics and Management, Scopus membimbing di ruang 1 dengan topik Financial Economics and Corporate Finance; Prof. Hooy Chee Wooi, Editor in Chief, Asian Academy of Management Journal of Finance and Counting, Scopus membimbing di ruang 2 dengan topik diskusi Accounting and Corporate Governance; Dr. Evan Lau, Managing editor, International Journal of Business and Society, Scopus di ruang 3 dengan topik diskusi Economics; Dr. Abu Hanifah Ayob, Associate Editor, Jurnal pengurusan, Scopus di ruang 4 dengan topik diskusi di bidang Management; dan terakhir di ruang 5 Dosen dari FEB UNS Dr. Irwan Trinugroho, Associate Editor, International Journal of Economics and Management, Scopus, Associate editor, Asian Academy of Management Journal of Finance and Accounting, Scopus., & Managing Editor, International Journal of Economic Policy in Emerging Economies, Scopus dengan topik di bidang Banking and Fintech.

    Sebelum memasuki sesi diskusi artikel, Prof. Hooy Chee Wooi yang berada di ruang diskusi 2 menyampaikan alasan-alasan yang paling sering terjadi ketika sebuah artikel ditolak oleh sebuah jurnal.

    Prof. Hooy menyebutkan delapan alasan mengapa sebuah artikel ditolak antara lain karena gagal melewati screening teknis, tidak mencakup topik yang sesuai dengan jurnal yang dituju, tidak lengkap, kelemahan dalam hal prosedur analisis data, simpulan yang tidak didukung oleh argument yang kuat, memiliki kontribusi yang kecil, sulit dimengerti, dan yang terakhir adalah karena artikel tersebut membosankan.

    Lebih lanjut, Prof. Hooy menyatakan bahwa penting bagi penulis untuk memilih jurnal yang tepat dengan memperhatikan peringkat dari setiap jurnal, sehingga jangan sampai salah mempublikasikan artikel.

    “Di sini saya menggunakan analogi mobil, artikel Anda adalah mobil yang memiliki kualitas tertentu. Apabila anda memiliki artikel dengan kualitas yang tinggi maka jangan publikasi artikel tersebut di jurnal dengan ranking rendah, begitu pula sebaliknya,” jelas Prof. Hooy.

    Seperti halnya Prof. Hooy, keempat editor jurnal di ruang daring yang lain berdiskusi dan mereview  artikel-artikel yang telah dikirimkan peserta. Peserta sangat antusias mengikuti jalannya diskusi hingga usai. (Aulia/Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

     

     

     

  • New Normal, Saat Tepat Me-Rebranding Pasar Tradisional

    New Normal, Saat Tepat Me-Rebranding Pasar Tradisional

    Pembatasan sosial yang diterapkan di awal Maret 2020 lalu karena pandemi Covid-19 berdampak pada menurunnya transaksi ekonomi. Banyak pedagang khususnya di pasar tradisional yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya karena pendapatan mereka turun drastis. Data dari Dinas Perdagangan  Solo di bulan Mei 2020 transaksi di Kota Solo menurun terus  antara 30% hingga 90% sesuai jenis komoditas.

    Kondisi seperti di atas melatarbelakangi  Tim Riset dari Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai Dr. Sutanto, S.Si., DEA, Prof. Jamal Wiwoho, SH, M.Hum serta beranggotakan Dr. Intan Novela Qurrotul Aini, S.E., M.Si, Dr. Isharyanto, S.H., M.Hum. dan Tonang Dwi Ardyanto, dr.,Sp.PK., Ph.D. untuk  mencari alternatif solusi mengurangi keterpurukan para pedagang.

    Tim mulai menyusun gagasan dan segera mengimplementasikan sistem barter,  sistem perdagangan dengan saling bertukar barang. Dasar dari konsep ini adalah ketika transaksi berkurang karena krisis covid-19 dan jumlah uang beredar adalah tetap, maka agar tidak terjadi inflasi yang harus dilakukan adalah mengurangi kecepatan (velocity) uang berpindah tangan. Cara mengurangi velocity uang adalah membuat sistem barter di pasar tradisional dimana pedagang dapat menukarkan komoditasnya dengan sembako.

    Hal itu disampaikan Dr. Intan Novela Qurrotul Aini, S.E., MSi. dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, selaku anggota tim riset ini, pada Seminar Riset Daring, Kamis 16 Juli 2020.

    Konsep ini mulai dijalankan pada April-Mei 2020 kepada para pedagang di Pasar Legi Solo.  Pedagang sangat antusias karena memang mereka saat itu tidak mendapatkan pemasukan karena penurunan omzet pejualan yang sangat drastis. Dana awal yang didapat Tim dari donatur, dalam dan luar negeri dibelikan sembako dan pedagang melakukan barter dengan  barang dagangan mereka, diantaranya pisang, buah, sayur, empon-empon dan lain sebagainya.

    “Ketika barang dari pedagang sudah banyak, pada Mei-Juni 2020 Tim sudah menformalkan konsep barter, barang-barang barter dari pedagang mulai diseleksi kualitasnya, diberi petunjuk harga dan dijual online melalui WA Bisnis, facebook, instagram dan aplikasi lainnya. Dan memasuki new normal kegiatan barter mulai menurun namun pasar penjualan online semakin luas, pedagang banyak mengambil manfaatnya dari penjualan online. Pesanan konsumen semakin meluas tidak hanya  barang yang ada di Pasar Legi namun merambah juga barang-barang yang dijual di pasar-pasar lainnya, seperti ikan dan ayam dan lainnya.” jelasnya.

    Dr. Intan melanjutkan, fokus dari konsep barter  itu tidak hanya menopang hidup para pedagang tapi juga mengedukasi tentang protokol kesehatan. Dalam proses menukar barang, pedagang harus belajar mentaati protokol kesehatan, mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.

    Dalam menjalankan sistem barter ini, Tim memiliki  keterbatasan dalam hal  sosialisasi yang kurang masiv dan belum ada kepercayaan dari semua pedagang, mengingat ini adalah hal yang baru buat mereka. Baru sebagian pedagang yang bersedia bergabung dan bekerja sama. Profil pedagang sebagian besar merupakan wanita berusia lebih dari 30 tahun, berpendidikan SMA dan berdagang yang lebih dari 10 tahun.

    Keterbatasan lain untuk menjalankan gagasan ini adalah banyak pedagang yang kurang melek teknologi sehingga kurang termotivasi untuk ikut terlibat.

    Tim riset tetap optimis sistem perdagangan online akan berkembang di lingkungan pasar tradisional, karena era digitalisasi adalah sesuatu keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan.  Agar konsep penjualan baru ini bisa berjalan dengan baik, para pedagang perlu mendapatkan lebih banyak edukasi, butuh usaha yang keras untuk memahamkan kepada pedagang agar lebih digital mindset. Juga perlu kerjasama intensif dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas SDM serta kerjasama dari aspek digitalisasi dan pembiayaan. Perlu juga di atur peran pemerintah untuk memberi regulasi barter serta pemberian insentif untuk memacu penjualan online pasar tradisional.

    Beberapa manfaat sistem barter yang diterapkan pada pedagang pasar tradisional mampu memperluas jaringan pasar dengan membuat market place bersama secara online, mempunyai komoditas hasil barter yang bisa dijual secara online, serta data komoditas beserta daftar harga akan menjadi peluang untuk membuat sistem perdagangan online dimana stok komoditas tetap berada di kios-kios pedagang.

    Di akhir paparannya, Dr. Intan menyampaikan, menuju new normal adalah sebuah momentum yang sangat tepat sekali untuk mulai me-rebranding pasar tradisional. Pasar yang semula di-image-kan sebagai tempat kumuh, tidak rapi dan kurang nyaman dapat diubah sebagai pasar yang bersih,  rapi, dan  mengikuti protokol kesehatan serta memiliki keunggulan dan keunikan. Pasar bukan sekedar tempat bertemunya pembeli dan penjual tapi juga tempat yang memberikan kenyamanan sebagai salah satu destinasi wisata dan menjadi edu wisata bagi kenormalan baru. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Ariyo, Alumni FEB UNS Ajak Mahasiswa Berkarir sebagai Peneliti

    Ariyo, Alumni FEB UNS Ajak Mahasiswa Berkarir sebagai Peneliti

    Ekonom atau peneliti ekonomi memiliki berbagai aktifitas diantaranya menyusun program penelitian, menulis proposal, mencari sponsor atau mitra dalam penulisan artikel, menyusun jurnal, working paper, policy brief, kolom media, serta menjadi pembicara atau narasumber di seminar, media nasional, dan lain sebagainya.

    Untuk itu, seorang ekonom harus memiliki intuisi ekonomi, pemikiran kritis, kemampuan menulis, pengetahuan tentang data ekonomi, analisis kuantitatif dan kualitatif, kemampuan presentasi, serta memiliki jejaring yang luas dan kuat.

    Hal itu disampaikan Ariyo Dharma Pala Irhamna, Peneliti Ekonomi di INDEF (The Institute for Development of Economics and Finance) kepada mahasiswa FEB UNS yang akan menjalani program magang, Senin 13 Juli 2020.

    Kepada mahasiswa yang berjumlah lebih dari 400 orang itu, Ariyo mendorong agar lulusan FEB UNS dapat berkarir sebagai seorang peneliti.

    Selain pengetahuan yang diperoleh selama kuliah, mahasiswa dapat belajar membangun kemampuan sebagai peneliti dari aktifitas lain, bergabung dengan organisasi internal atau eksternal kampus, mengikuti isu-isu terkini dengan banyak membaca buku, koran atau media online serta aktif melakukan diskusi dengan berbagai pihak, dengan dosen, mahasiswa lain, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pihak eksternal lain.

    “Mahasiswa juga harus sering menulis, membuat prososal penelitian, laporan penelitian, artikel. Harus juga mengenal atau familiar dengan sumber perolehan data-data yang berhubungan dengan ekonomi. Hal itu dibangun melalui banyak membaca, tidak sekedar mendapatkan informasi dari yang disediakan tapi bagaimana selanjutnya penulis mampu menuangkan argumen-argumennya” jelasnya.

    Softskill yang harus dimiliki oleh seorang peneliti adalah kepemimpinan, providing feedback Influencing skill, pemikiran kritis, public speaking serta jejaring yang luas dan kuat.

    Meskipun karir peneliti itu lebih kepada kemampuan individual namun dalam pelaksanaannya menjadi lebih baik jika ada kerjasama dengan pihak-pihak lain, diperlukan kemampuan memimpin. Semisal, menyusun sebuah program, dalam mengimplementasikan ide-ide riset perlu ada kemampuan memimpin, bagaimana memperoleh masukan-masukan, mampu mempengaruhi di lembaga tempat bekerja.

    Jiwa kepemimpinan, public speaking, jejaring luas dan kemampuan lain yang mendukung karir sebagai peneliti banyak diperoleh dari keaktifan berorganisasi di masa studi. Ariyo sangat menekankan ke mahasiswa untuk berorganisasi selama studi karena sangat membawa manfaat besar dalam memasuki dunia kerja.

    Manfaat itu juga yang dirasakan oleh Ariyo, alumni FEB UNS yang saat ini sukses menekuni karirnya sebagai Peneliti Ekonomi di INDEF, sebuah lembaga riset independen yang tugas utamanya melakukan riset mengenai isu-isu terkini terutama mengenai kebijakan ekonomi.

    Selama menjalani perkuliahan di Jurusan Ekonomi Pembangunan (EP), alumni Angkatan 2008 itu sangat aktif di beberapa organisasi kampus, menjadi Pengurus 2009-2010 Himpunan Mahasiswa Jurusan EP, Pendiri sekaligus Ketua Umum Kelompok Studi Bengawan 2009-2012, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FEB UNS 2012-2013, dan menjadi salah satu pendiri AIESEC UNS di tahun 2012. (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

  • Siapkan Lulusan yang Adaptif dan Inovatif, ICD FEB UNS Gelar PJT

    Siapkan Lulusan yang Adaptif dan Inovatif, ICD FEB UNS Gelar PJT

    Lebih dari 400 mahasiswa dari Program Studi S1 Reguler angkatan 2017 dan S1 Transfer angkatan  2019 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mengikuti Pre Job Training (PJT) secara daring yang diselenggarakan oleh Internship dan Career Development (ICD), Selasa 14 Juli 2020.

    Dr. Arum Kusumaningdyah Adiati, S.E, MM, Kepala Unit ICD FEB UNS bersama dengan divisi di ICD mengangkat  tema kegiatan ini sesuai dengan kondisi di masa pandemi Covid-19 “Menyiapkan Lulusan yang Adaptif dan Inovatif”. Diharapkan, lulusan FEB UNS mampu menyiapkan diri menjadi pribadi yang mudah beradaptasi dan inovatif terhadap tuntutan mutu dalam dunia usaha dan juga beradaptasi terhadap kondisi-kondisi yang terkadang tidak bisa kita prediksikan, seperti dimasa pandemi seperti ini.

    Dalam pembukaannya mewakili Dekan FEB UNS,  Dr. Mugi Harsono, M.Si., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB UNS menyampaikan pesan kepada peserta bahwa sebuah negara akan kuat perekonomiannya manakala jumlah entrepreneurnya semakin besar .

    “Ketika Anda lulus,  memulai sebagai employee adalah sebuah kewajaran. Yang penting adalah menikmati masa employee dan kemudian mempersiapkan diri untuk menjadi employer. Jangan terlalu bangga menjadi employee, siapkan masa-masa employee sebagai masa belajar dan akhirnya menjadi seorang pengusaha atau dengan menjalankan dua karir, disatu sisi sebagai employee pada sebuah organisasi tapi disisi lain punya usaha sendiri, kami mengharapkan seperti itu” jelasnya.

    Menghadapi masa kerja dimasa pandemi maka gerak, corak, filosofi dan gaya bekerja kita akan sangat berbeda dari tahun sebelumnya dan hal ini perlu  menjadikan pertimbangan.

    Di kegiatan ini,  ICD kembali menghadirkan salah satu alumni FEB UNS sebagai narasumber, Wahyu Purnamawati yang saat ini menjabat sebagai  Asisten Vice President Perencanaan dan Portofolio Divisi Bisnis Kartu  BNI dengan tema Tantangan  SDM di Era Digital.

    Diawal paparannya, Wahyu mendorong mahasiswa FEB UNS untuk tetap semangat belajar dan mengembangkan kemampuan diri  meski berada di masa pandemi.

    “Walaupun berada dalam kondisi pandemi Covid-19 dan ada pembatasan, sebenarnya banyak kesempatan yang bisa dilakukan.  Hal ini harus menjadi  penyemangat diri, tidak  khawatir meski ada krisis ekonomi ataupun Covid-19. Era di hadapan kalian sangat berbeda dari tahun sebelumnya, gunakan kesempatan ini” tegas alumni Program Studi Akuntansi angkatan 1998.

    Lebih lanjut disampaikan, dalam memasuki dunia kerja, banyak hal yang perlu dipersiapkan, mahasiswa harus mampu mengenal diri apa kelemahan dan kelebihan yang dimiliki,   mengasah kemampuan untuk terus belajar menjadi lebih baik, dan yang juga  penting adalah menyiapkan mental untuk kuat dan selalu berpikir positif.

    Saat ini mulai masuk ke era yang Vollatile, Uncertain, Complex  dan Ambigous  (VUCA), terjadi  perubahan yang sangat cepat, kesulitan untuk memprediksi kejadian atau peristiwa di masa depan, bauran antara isu dengan chaos yang terjadi di organisasi makin beraneka ragam dan kaburnya realitas dengan makna bauran dari berbagai kondisi yang ada. Kondisi ini menyebabkan ketidakpastian di pasar, digital disruption dan makin banyaknya proses yang terotomasi.  Dengan hal ini, para lulusan sangat perlu untuk beradaptasi dan berinovasi.

    Menurut Wahyu, SDM yang dibutuhkan di era VUCA adalah generasi yang banyak mencari tahu, yang terus menerus belajar mengembangkan diri dan tidak menutup diri hanya pada yang ilmu yang dimiliki saja.

    Untuk memasuki dunia kerja, satu hal lagi yang penting bagi lulusan generasi milineal yang jika dipopulasi hampir menguasai  30% dari jumlah penduduk Indonesia adalah tuntutan untuk berani bicara, berani berpendapat dan memunculkan ide-ide baru, out of the box.

    Terakhir, Wahyu menyemangati  bahwa lulusan UNS luar biasa, banyak yang telah sukses. Lulusan UNS harus berani untuk menunjukkan diri dengan segala kelebihannya. Era sekarang bukan untuk menjadi gentar tapi era untuk semakin bersemangat karena peluang menjadi sangat luas.

    Sementara itu, narasumber kedua,  Gita Aulia Nurani,  Psikolog yang sangat sering membantu proses rekrutmen di beberapa perusahaan menyampaikan secara detil proses rekrutmen  yang dilakukan oleh perusahaan dan strategi yang perlu dilakukan para lulusan agar mampu bersaing.

    Gita berpesan agar  mahasiswa mulai sekarang bisa melatih untuk menggali informasi yang berhubungan dengan isu-isu terkini dan juga mengasah kemampuan berpikir analitik melalui informasi yang diperolehnya. Rekruiter di awal 5 menit pertama wawancara bisa mendapatkan gambaran dari kandidat dari penguasaannya dalam bidang informasi.

    Sembilan puluh dua persen rekruiter menggunakan sosial media untuk mencari kandidat dan  87 % rekruiter percaya Linkedln dapat membantu mereka mendapatkan kandidat berkualitas .  (Humas)

    Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.