Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Sharing Session UNS Global Challenge 2026 sebagai upaya memperkuat kesiapan mahasiswa dalam mengikuti program mobilitas internasional, Jumat 14 November 2025 secara daring.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber Tastaftiyan Risfandy, S.E., M.Sc., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB UNS dan Adinda Yuddiearth, Mahasiswa Ekonomi Pembangunan FEB UNS & Awardee Global Challenge UNS 2025, Audencia Business School, France.
Tastaftiyan Risfandy, Ph.D menjelaskan secara rinci mengenai ketentuan, timeline, serta prosedur seleksi yang berlaku dalam dua jalur pendaftaran, yaitu jalur universitas dan jalur fakultas.
Untuk jalur universitas, persyaratan meliputi mahasiswa aktif minimal semester tiga, kemampuan bahasa Inggris (tidak wajib), serta Letter of Acceptance dari universitas mitra. Program dijadwalkan berlangsung pada April–Juli 2026 dan didukung skema fully funded.
Sedangkan jalur fakultas ditujukan bagi mahasiswa minimal semester enam dengan bukti kemampuan bahasa Inggris yang bersifat wajib, serta proses seleksi yang meliputi dua tahap wawancara. Program dijalankan pada April–September 2026 dengan skema pendanaan co-funding maupun fully funded.
Ia juga memaparkan timeline lengkap, mulai dari masa pendaftaran, proses seleksi, pengumuman, hingga penyusunan laporan akhir program. Selain itu, mahasiswa mendapat informasi tentang komponen pendanaan, yang mencakup tiket pesawat, biaya visa, hingga uang saku bagi peserta terpilih sesuai ketentuan masing-masing jalur.
Melalui penjelasan tersebut, mahasiswa diharapkan mendapatkan pemahaman menyeluruh terkait perencanaan akademik, persiapan administratif, hingga strategi untuk memaksimalkan peluang lolos program.

Sementara itu Adinda berbagi pengalaman saat mengikuti Short Course Cross Cultural Management di Audencia Business School, France yang berlangsung pada 23–27 Juni. Ia memperoleh pembelajaran intensif yang menggabungkan teori, studi kasus, diskusi kelas, serta proyek kelompok dengan mahasiswa dari berbagai negara.
Pengalaman belajar di lingkungan multikultural tersebut memberikan pemahaman mendalam mengenai bagaimana budaya memengaruhi komunikasi, gaya kerja, dan dinamika tim dalam konteks ekonomi dan bisnis global.
“Kelasnya super insightful dan meaningful. Mentornya benar-benar expert di bidangnya. Kelasnya juga sangat interaktif, ada workshop, case discussion group, dan di hari terakhir ada final individual presentation. Kelasnya diverse banget. Ada yang dari Brazil, Hong Kong, UK, Ukraine, Perancis, sampai Netherlands. Major mereka juga beda-beda, nggak cuma ekonomi, tapi ada politik dan sains. Jadi perspektif yang muncul selama diskusi itu banyak banget. Dari situ aku belajar bahwa makin diverse lingkungannya, entah itu sekolah atau bisnis, makin besar juga perspektif untuk kita berkembang,” Ungkapnya.
Dalam pemaparannya, Adinda juga menjelaskan rangkaian proses yang ia jalani sebelum mengikuti program, mulai dari pengumpulan dokumen, penyusunan rencana kegiatan yang relevan dengan bidang akademik, hingga riset mengenai universitas tujuan serta persiapan teknis lain seperti pendanaan dan penyesuaian jadwal akademik.
“Aku sangat merekomendasikan teman-teman untuk membuat semuanya terorganisir. Kemarin aku pakai spreadsheet dan notion untuk list negara, universitas, program yang open, sampai nge-track sudah di-approach atau belum, termasuk konten emailnya. Beberapa universitas nggak mencantumkan short course di website mereka, atau informasinya sangat tersembunyi. Jadi teman-teman perlu email langsung universitas untuk memastikan programnya tersedia dan sesuai timeline Global Challenge, ” jelasnya.
Ia juga turut membagikan saran kepada mahasiswa yang ingin mengikuti program internasional, seperti pentingnya mulai mempersiapkan LoA dari jauh hari, memilih program yang relevan dengan tujuan akademik, serta menjaga komunikasi yang baik dengan International Office UNS.
Kegiatan ini memperkuat komitmen UNS dalam mendorong internasionalisasi dan peningkatan kapasitas mahasiswa melalui pengalaman belajar global. Program ini juga selaras dengan SDG 4 (Quality Education) dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengalaman internasional, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan jejaring dan kolaborasi dengan institusi pendidikan dunia.















The research team from FEB UNS was led by Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E., M.Si., together with Dewi Ismoyowati, S.E., M.Ec.Dev., Dr. Nurul Istiqomah, S.E., M.Si., and several students. The study examined three selected regions—Demak Municipality, Wonosobo Municipality, and Pekalongan City—using a comprehensive academic approach to observe how the MBG Program operates in practice, particularly in relation to the availability of local food resources and the dynamics of fulfilling the nutritional needs of targeted beneficiaries.
The research illustrates the ongoing progress of MBG implementation in Central Java. As of October 2025, a total of 1,596 Food and Nutrition Provision Units (SPPG) have been established, representing 49.4 percent of all districts and cities. These data provide an essential foundation for local governments to refine implementation strategies, particularly in strengthening regional independence in providing nutritious food.
The delegation was welcomed by the Dean of FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, alongside with the Vice Dean for Non-Academic Affairs, Sutaryo, Ph.D., Head of the Center for Fintech and Banking, Putra Pamungkas, Ph.D., Arum Setyowati, Ph.D., and Linggar Ikhsan Nugroho, M.Ec.Dev.
In the AACSB preparation process, FEB UNS requires international partners who can provide feedback, informal advisory support, and document review. The presence of UPM scholars, who have frequently engaged with FEB UNS, creates opportunities for such support. “They have visited FEB UNS multiple times and have been involved in numerous joint researches with our faculty. Informally, we receive valuable input for the preparation of AACSB documents, including the review of processes,” Prof. Bhimo added.