FEB

Blog

  • Laboratorium Teknologi Informasi Terpadu FEB UNS Gelar International Industry Talk Bahas Peran dan Kompetensi Karier di Bank Sentral

    Laboratorium Teknologi Informasi Terpadu FEB UNS Gelar International Industry Talk Bahas Peran dan Kompetensi Karier di Bank Sentral

    Laboratorium Teknologi Informasi Terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan International Industry Talk secara daring melalui Zoom pada 15 Februari 2026.

    Kepala Laboratorium Teknologi Informasi Terpadu, Mulyadi, S.E., M.Ec.Dev., Ph.D., MCE, dalam sambutannya menyampaikan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai dunia industri serta peluang karier di sektor ekonomi dan keuangan.

    Mengangkat tema “Working at a Central Bank: Roles, Competencies, and Career Preparation for University Students”, kegiatan ini menghadirkan Djihan Islahiyah, S.E., Junior Economist di Bank Indonesia, sebagai narasumber utama.

    Dalam pemaparannya, Djihan menjelaskan mengenai peran strategis bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, serta pengelolaan sistem pembayaran.

    Djihan juga memaparkan berbagai kompetensi yang diperlukan untuk berkarier di lembaga seperti bank sentral. Beberapa di antaranya adalah kemampuan analisis ekonomi yang kuat, pemahaman terhadap data dan dinamika ekonomi global, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan komunikasi yang baik.

    Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk aktif mengembangkan kapasitas diri melalui pengalaman organisasi, riset, maupun kegiatan akademik yang relevan dengan bidang ekonomi dan keuangan.

    Kegiatan International Industry Talk ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri.

    Selain peserta dari UNS, kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa dari BINUS University, CamEd Business School, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Universitas Muhammadiyah Pontianak, Universitas Sintuwu Maroso (UNOSO), serta Universitas Tanjungpura (UNTAN).

    Kehadiran peserta dari berbagai institusi tersebut menunjukkan tingginya minat mahasiswa terhadap pemahaman mengenai karier di sektor ekonomi dan keuangan.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai peran bank sentral sekaligus memahami kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak dini untuk berkarier di bidang ekonomi dan kebijakan publik.

    Penyelenggaraan International Industry Talk ini juga sejalan dengan upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan wawasan global mahasiswa, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan kesiapan karier generasi muda, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antar perguruan tinggi.

  • RG Green Economy and Sustanaible Development FEB UNS dan BRIDA Jateng Bahas Kajian Geopark Gunung Sewu dan UMKM Hijau

    RG Green Economy and Sustanaible Development FEB UNS dan BRIDA Jateng Bahas Kajian Geopark Gunung Sewu dan UMKM Hijau

    Research Group (RG) Green Economy and Sustanaible Development FEB UNS Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah menggelar diskusi awal kajian penelitian pada Jumat, 13 Maret 2026 di Ruang Telekonferensi Gedung Soedarah Soepono FEB UNS.

    Kegiatan ini menjadi langkah awal kolaborasi riset antara FEB UNS dan BRIDA Jawa Tengah dalam mengkaji pengembangan ekonomi berbasis potensi daerah dan keberlanjutan lingkungan.

    Diskusi ini membahas dua topik penelitian utama, yaitu Transformasi Komoditas Unggulan Daerah Berbasis Perdesaan Menuju Ekonomi Hijau Bernilai Tambah Tinggi serta Analisis Kebijakan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kawasan Geopark Gunung Sewu. Kedua kajian tersebut diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendukung penguatan ekonomi lokal sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

    Dalam sambutannya, Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E., M.Si. menyampaikan bahwa kawasan Geopark memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah apabila dikelola secara tepat dan terintegrasi dengan kegiatan ekonomi masyarakat.

    Ia menilai kawasan Geopark Gunung Sewu memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut melalui kajian yang komprehensif serta dukungan berbagai pemangku kepentingan.

    “Penelitian yang dilakukan diharapkan tidak hanya menjadi laporan akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata berupa rekomendasi kebijakan yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat,” ungkap Prof. Izza.

    Sementara itu, perwakilan BRIDA Jawa Tengah, Arif Sofianto menjelaskan bahwa saat ini BRIDA berfokus pada penguatan kegiatan riset, penelitian, serta pengkajian kebijakan yang mampu memberikan dampak langsung bagi pembangunan daerah.

    Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi sangat penting untuk menghasilkan penelitian yang aplikatif dan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan.

    Ia menambahkan bahwa kajian mengenai UMKM hijau akan menyoroti pengembangan komoditas unggulan berbasis perdesaan dengan pendekatan ekonomi hijau, seperti optimalisasi pemanfaatan hasil dan limbah komoditas pertanian agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

    Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi produk serta memperkuat rantai pasok industri lokal.

    Sementara itu, kajian mengenai Geopark Gunung Sewu akan menitikberatkan pada analisis kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

    Penelitian ini tidak hanya melihat potensi geologi, tetapi juga mengkaji aspek budaya, sosial, serta ekonomi masyarakat sekitar geopark sehingga dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan kawasan selatan yang lebih inklusif.

    Diskusi awal ini menjadi forum pertukaran gagasan antara tim peneliti FEB UNS dan BRIDA Jawa Tengah dalam merumuskan kerangka penelitian, metode pengumpulan data, serta arah rekomendasi kebijakan yang akan dihasilkan.

    Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan kajian yang tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi daerah berbasis potensi lokal dan prinsip keberlanjutan.

    Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan ekonomi lokal dan UMKM hijau, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan ekonomi berbasis keberlanjutan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi riset antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.

  • FEB UNS Sosialisasikan Pelatihan dan Sertifikasi Laboratorium 2026 bagi Mahasiswa Angkatan 2022–2024

    FEB UNS Sosialisasikan Pelatihan dan Sertifikasi Laboratorium 2026 bagi Mahasiswa Angkatan 2022–2024

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menyelenggarakan Sosialisasi Pelatihan dan Sertifikasi Laboratorium FEB UNS Tahun 2026 secara daring melalui Zoom Meeting,  Senin (9/3/2026).

    Kegiatan ini ditujukan bagi mahasiswa FEB UNS, khususnya angkatan 2022, 2023, dan 2024, sebagai bagian dari upaya peningkatan kompetensi mahasiswa melalui program pelatihan berbasis laboratorium.

    Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian FEB UNS, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D. menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini penting untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai program pelatihan laboratorium yang dirancang untuk menunjang kesiapan mereka memasuki dunia kerja.

    Ia menjelaskan bahwa mahasiswa FEB UNS perlu memiliki tiga komponen keterampilan utama, yaitu academic skills, generic skills, dan technical skills.

    Menurutnya, keterampilan teknis atau technical skills menjadi salah satu aspek penting karena berkaitan langsung dengan kemampuan spesifik dalam menjalankan pekerjaan di bidang tertentu, seperti ekspor-impor, logistik, pasar modal, maupun kewirausahaan.

    “Sosialisasi ini bertujuan agar mahasiswa memahami bahwa selain menyelesaikan berbagai mata kuliah, mereka juga perlu mengikuti kegiatan pelatihan yang setara dengan 5 SKS sebagai bagian dari penguatan kompetensi sebelum lulus,” jelasnya.

    Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari masing-masing kepala laboratorium mengenai rencana pelatihan yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2026.

    Laboratorium yang ada di FEB di antaranya Laboratorium Financial Technology, Laboratorium Ekspor-Impor, Laboratorum Logistik dan Pasar Modal, Laboratorum Simulasi Kewirausahaan, Laboratorium Perpajakan, Laboratorium Project Based Learning, dan Laboratorium Bina Desa, Laboratorium Teknologi Informasi Terpadu.

    Di sesi selanjutnya, kepala laboratorium menjelaskan jenis pelatihan, materi yang akan diberikan, serta manfaat yang dapat diperoleh mahasiswa melalui program tersebut.

    Selain pelatihan, mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan kompetensi yang diperoleh melalui sertifikasi profesi yang difasilitasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Sebelas Maret (LSP UNS). Sertifikasi ini memberikan pengakuan formal atas kompetensi yang dimiliki mahasiswa sehingga dapat menjadi nilai tambah saat memasuki dunia kerja.

    Melalui kegiatan sosialisasi ini, FEB UNS berharap mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai program pelatihan dan sertifikasi yang tersedia untuk meningkatkan keterampilan praktis, memperkuat kesiapan menghadapi dunia profesional, serta mendukung pengembangan kompetensi sejak di bangku kuliah.

    Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kualitas pembelajaran berbasis keterampilan, serta SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dengan mempersiapkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap bersaing di dunia kerja.

  • Sosialisasi Pelatihan & Sertifikasi Laboratorium FEB UNS 2026

    Sosialisasi Pelatihan & Sertifikasi Laboratorium FEB UNS 2026

    Halo, Rekan-rekan Mahasiswa FEB UNS!

    Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa angkatan 2022, 2023, dan 2024 untuk wajib hadir di Sosialisasi Pelatihan & Sertifikasi Laboratorium FEB UNS.

    Catat detail waktunya:
    🗓 Senin, 9 Maret 2026
    🕙 10.00 WIB – Selesai
    📍 Online via Zoom Meeting
    🔗 Link: uns.id/SosialisasiLabFEBUNS2026

    Pastikan kamu hadir tepat waktu untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai alur pelatihan dan sertifikasi laboratorium tahun ini. Jangan sampai terlewat!

  • Tim FEB UNS Laksanakan Pengabdian kepada Masyarakat untuk Tingkatkan Pendapatan Perajin Batik di Panggungharjo Bantul

    Tim FEB UNS Laksanakan Pengabdian kepada Masyarakat untuk Tingkatkan Pendapatan Perajin Batik di Panggungharjo Bantul

    Tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat melalui skema Equity The Impact Rankings 2025 yang bertujuan meningkatkan kapasitas usaha dan pendapatan masyarakat di Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Program ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari Catur Sugiarto, Rahmawati, Hunik Sri Runing Sawitri, Ratna Endah Santoso, serta kolaborator internasional Junaid M. Shaikh dari Universiti Teknologi Brunei, Brunei Darussalam.

    Program pengabdian ini dilatarbelakangi oleh sejumlah tantangan yang dihadapi oleh pelaku usaha kecil menengah (UKM) mitra, khususnya dalam produksi batik berbasis pewarna alami. Sebelum program berjalan, proses produksi masih dilakukan secara manual sehingga kapasitas produksi terbatas dan kualitas warna belum konsisten. Pewarnaan alami yang menjadi ciri khas produk juga kerap mengalami penurunan ketahanan luntur.

    Selain itu, sistem manajemen usaha yang masih sederhana menyebabkan pembagian tugas belum terstruktur dengan baik, sementara pemasaran digital juga belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut berdampak pada efisiensi produksi serta perluasan pasar yang belum maksimal.

    Melalui program ini, tim pengabdian melaksanakan berbagai kegiatan terintegrasi yang diawali dengan sosialisasi dan observasi lapangan untuk memetakan kebutuhan mitra. Selanjutnya dilakukan pelatihan teknis produksi batik ekoprint dan ekotik, termasuk optimalisasi proses mordanting atau fiksasi warna menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan.

    Tim juga memberikan pendampingan manajerial kepada mitra, mulai dari pembukuan sederhana, perencanaan produksi, hingga penerapan siklus manajemen plan–do–check–act. Pada aspek pemasaran, mitra didampingi dalam penyusunan analisis SWOT, pembuatan materi promosi, serta optimalisasi penggunaan media sosial dan marketplace.

    Salah satu agenda penting dalam program ini adalah serah terima bantuan teknologi tepat guna berupa mesin feeder batik serta peralatan pendukung produksi. Bantuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat proses produksi, sekaligus menjaga konsistensi kualitas tanpa menghilangkan nilai artistik batik berbasis alam.

    Melalui kegiatan ini, mitra juga berhasil mengembangkan inovasi produk baru berupa batik ekotik, yaitu perpaduan teknik batik dan ekoprint yang memanfaatkan pewarna alami lokal. Produk ini memiliki ketahanan warna yang lebih baik, desain yang lebih variatif, serta memberikan nilai tambah sebagai produk unggulan daerah yang berkelanjutan.

    Salah satu mitra pengrajin menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan oleh tim UNS. Ia mengungkapkan bahwa bantuan mesin pewarnaan yang diberikan sangat membantu proses produksi.

    “Terima kasih kepada Prof. Rahmawati dan tim dari UNS Solo yang sudah membimbing saya selama beberapa bulan. Kami juga mendapatkan bantuan mesin untuk pewarnaan. Hasil warnanya lebih halus dan prosesnya lebih efektif dibandingkan sebelumnya yang masih dilakukan secara manual, sehingga hasilnya lebih maksimal,” ungkapnya.

    Program pengabdian ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kapasitas usaha masyarakat sekaligus memperkuat pengembangan produk kreatif berbasis sumber daya lokal.

    Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung United Nations Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8: Decent Work and Economic Growth dan SDG 12: Responsible Consumption and Production melalui penguatan ekonomi masyarakat dan pengembangan produk ramah lingkungan.

  • FEB UNS Bahas Penguatan Dokumen Menuju Akreditasi AACSB Bersama Universiti Putra Malaysia

    FEB UNS Bahas Penguatan Dokumen Menuju Akreditasi AACSB Bersama Universiti Putra Malaysia

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar diskusi penguatan dokumen dalam rangka persiapan menuju akreditasi internasional AACSB (Association to Advance Collegiate Schools of Business) pada Jumat (6/3/2026), secara hybrid.

    Kegiatan ini menghadirkan Khairunnisak Latiff, Ph.D. dari Universiti Putra Malaysia sebagai external examiner untuk memberikan masukan terhadap dokumen yang telah disusun oleh tim FEB UNS.

    Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si,. Ph.D dalam sambutannya menyampaikan bahwa FEB UNS saat ini tengah mempersiapkan proses pengajuan eligibility application yang direncanakan akan disubmit pada April mendatang. Oleh karena itu, masukan dari pihak eksternal dinilai penting untuk memperkuat dokumen yang telah disiapkan oleh tim akreditasi.

    Kami membutuhkan masukan sebelum melakukan submisi di bulan April nanti. Bagian mana yang perlu kami perkuat. Karena meskipun tim kami telah mempersiapkan materi, kami masih perlu mempelajari bagaimana cara menyampaikan dan menyajikan materi tersebut dengan lebih baik,” ungkap Prof. Bhimo.

    Dalam kesempatan tersebut, Dr. Khairunnisak juga membagikan pengalamannya dalam proses akreditasi internasional. Ia menjelaskan bahwa meskipun saat ini tidak lagi secara resmi berada dalam tim akreditasi di institusinya, ia tetap mengikuti perkembangan informasi terkait akreditasi institusi. Pengalaman awalnya terlibat dalam proses re-akreditasi AACSB di School of Business and Economics Universiti Putra Malaysia, serta dalam proses initial accreditation AMBA dan EQUIS.

    Sebelum memulai diskusi, Dr. Khairunnisak mengajukan beberapa pertanyaan kepada tim FEB UNS terkait posisi FEB UNS dalam tahapan proses akreditasi, tujuan dari diskusi yang dilakukan, serta langkah-langkah yang telah ditempuh oleh fakultas dalam mempersiapkan pengajuan akreditasi tersebut.

    Menanggapi hal tersebut, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D.Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian FEB UNS menjelaskan bahwa FEB UNS telah menjadi anggota AACSB selama sekitar sepuluh tahun, namun proses aplikasi baru dimulai pada tahun lalu.

    FEB UNS telah mengajukan business unit application dan mendapatkan tanggapan bahwa fakultas sudah dapat melanjutkan ke tahap eligibility application. Selain itu, tim FEB UNS juga telah mengikuti workshop AACSB pada tahun sebelumnya yang menjadi salah satu bagian dari persiapan pengajuan tersebut.

    Selanjutnya, Putra Pamungkas, S.E., M.Rech., Ph.D.mempresentasikan garis besar dokumen eligibility application yang telah dipersiapkan oleh tim FEB UNS. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai aspek yang telah disusun dalam dokumen tersebut sekaligus membuka ruang diskusi untuk memperoleh masukan dari Dr. Khairunnisak sebagai external examiner. Apabila diperlukan, tim FEB UNS juga akan mengirimkan dokumen lengkap eligibility application kepada Dr. Khairunnisak untuk ditelaah lebih lanjut.

    Menutup diskusi, Dr. Khairunnisak menyarankan agar proses peninjauan dokumen dapat diselesaikan sebelum Idulfitri sehingga proses pengajuan tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Ia juga menekankan pentingnya komitmen institusi dalam mengikuti proses akreditasi internasional, salah satunya dengan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh AACSB.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FEB UNS dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan tata kelola akademik menuju standar internasional. Inisiatif tersebut sejalan dengan United Nations Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui peningkatan mutu pendidikan tinggi serta SDG 17: Partnerships for the Goals melalui penguatan kolaborasi internasional dengan institusi mitra.

  • Working Paper Forum FEB UNS Bahas Valuasi Ekonomi sebagai Dasar Skema Pembayaran Jasa Lingkungan

    Working Paper Forum FEB UNS Bahas Valuasi Ekonomi sebagai Dasar Skema Pembayaran Jasa Lingkungan

    Pusat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P4M) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Working Paper Forum secara daring pada Kamis (5/3/2026).

    Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Evi Gravitiani, S.E., M.Si., CBEc dari Research Group Green Economy and Sustainable Development FEB UNS yang memaparkan hasil riset berjudul “Ekologi ke Ekonomi: Valuasi Ekonomi sebagai Basis Desain Skema Pembayaran Jasa Lingkungan, Sebuah Riset Lapangan di Sub DAS Pusur, Klaten.”

    Dalam pemaparannya, Prof. Evi menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari keterkaitan antara aspek ekologi dan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam. Ia menekankan bahwa pendekatan valuasi ekonomi diperlukan untuk memberikan nilai terhadap jasa lingkungan yang selama ini sering kali tidak terlihat dalam sistem ekonomi.

    Menurutnya, degradasi lingkungan yang terjadi di wilayah daerah aliran sungai dapat berdampak pada kualitas dan ketersediaan air. Dalam konteks ini, wilayah hulu berperan sebagai penyedia jasa lingkungan, sedangkan wilayah tengah dan hilir memanfaatkan manfaat ekonomi dari sumber daya air tersebut.

    “Ekologi dan ekonomi sebenarnya saling berkaitan. Valuasi ekonomi menjadi jembatan untuk melihat bagaimana jasa lingkungan dapat dihargai secara ekonomi,” jelasnya.

    Penelitian yang dilakukan di Sub DAS Pusur, Kabupaten Klaten, ini melibatkan survei kepada masyarakat untuk mengetahui kesediaan mereka dalam mendukung upaya konservasi lingkungan melalui skema pembayaran jasa lingkungan (Payment for Environmental Services/PES).

    Dalam penelitian tersebut, tim peneliti mengukur dua pendekatan utama, yaitu Willingness to Pay (WTP) atau kesediaan masyarakat pengguna air untuk membayar upaya konservasi lingkungan, serta Willingness to Accept (WTA) atau kesediaan masyarakat di wilayah hulu untuk menerima kompensasi atas upaya menjaga kelestarian lingkungan.

    Lokasi penelitian mencakup wilayah hulu di Desa Mriyan dan Desa Pagerjurang serta wilayah tengah di Desa Ponggok dan Desa Cokro, Kabupaten Klaten. Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan langsung dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air di kawasan Sub DAS Pusur.

    Melalui metode survei lapangan dengan pendekatan Contingent Valuation Method (CVM), penelitian ini melibatkan ratusan responden untuk mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap skema pembayaran jasa lingkungan.

    Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara nilai kesediaan membayar masyarakat pengguna air dan nilai kompensasi yang diharapkan oleh masyarakat di wilayah hulu. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa implementasi skema pembayaran jasa lingkungan memerlukan dukungan kebijakan dan penguatan kelembagaan agar dapat berjalan secara efektif.

    Melalui forum ini, para peserta mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi mengenai pengembangan skema kebijakan lingkungan berbasis valuasi ekonomi, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya integrasi antara aspek ekologi, ekonomi, dan sosial dalam pengelolaan sumber daya alam.

    Kegiatan Working Paper Forum ini juga menjadi bagian dari upaya FEB UNS dalam mendorong penguatan riset dan diskusi akademik yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.

    Sebagai bagian dari komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), kegiatan ini sejalan dengan SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air serta SDG 13 (Climate Action) dan SDG 15 (Life on Land) melalui penguatan kajian ilmiah mengenai konservasi lingkungan dan pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan.

    Di penutup acara, Prof. Evi menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya air. Ia menyampaikan bahwa selama ini banyak orang berpikir air tidak akan pernah habis karena memiliki siklus alami. Namun, ia mengingatkan bahwa siklus tersebut dapat terganggu apabila ekosistem penopangnya, seperti pohon dan daerah tangkapan air, tidak lagi terjaga.

    Ia menjelaskan bahwa selama siklus air masih berjalan, air dapat dikategorikan sebagai renewable resources. Akan tetapi, apabila siklus tersebut hilang, maka air hanya akan tersisa sebagai stok yang terbatas dan berpotensi menjadi sumber daya yang tidak terbarukan.

    Menurutnya, upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah hal tersebut adalah dengan menjaga konservasi air serta menerapkan pemanfaatan air secara berkelanjutan. Salah satunya melalui konsep penggunaan kembali air (circular use), seperti memanfaatkan air bekas wudu untuk menyiram tanaman.

    Prof. Evi berharap kesadaran untuk menjaga air dapat terus ditanamkan, sehingga keberadaan air dan siklusnya tetap terjaga. Dengan demikian, generasi mendatang tidak harus menghadapi kelangkaan air atau bahkan membayar air dengan harga yang sangat mahal.

    Ia pun mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan air sebagai sumber kehidupan.

  • FEB UNS Gelar Pelatihan Ekspor Impor bagi Pemula, Bekali Mahasiswa Keterampilan Perdagangan Internasional

    FEB UNS Gelar Pelatihan Ekspor Impor bagi Pemula, Bekali Mahasiswa Keterampilan Perdagangan Internasional

    Laboratorium Ekspor Impor (EXIM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Pelatihan Ekspor Impor bagi Pemula (Batch 1) di Laboratorium Teleconference, Gedung Soedarah Soepomo FEB UNS, Selasa (3/3/2026).

    Pelatihan ini diikuti oleh mahasiswa FEB UNS dengan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi ekspor.

    Kepala Laboratorium Ekspor Impor FEB UNS, Arif Rahman Hakim, S.E., M.Ec.Dev., Ph.D., MCE, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pengembangan kompetensi mahasiswa di bidang perdagangan internasional.

    Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2026 Laboratorium Ekspor Impor FEB UNS berencana menyelenggarakan enam kali pelatihan ekspor impor. Kegiatan yang dilaksanakan saat ini merupakan batch pertama dari rangkaian pelatihan tersebut.

    “Insyaallah tahun ini Laboratorium Ekspor Impor akan melaksanakan enam kali pelatihan. Ini kita mulai dari batch pertama, kemudian akan dilanjutkan batch kedua, ketiga, hingga pelatihan yang disertai sertifikasi bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan,” jelasnya.

    Arif menambahkan bahwa pelatihan batch pertama hingga batch kelima diselenggarakan secara internal dengan menghadirkan pembicara dari kalangan dosen serta praktisi ekspor di Kota Surakarta. Sementara itu, pelatihan dengan skema sertifikasi akan dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan.

    Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan sertifikat pelatihan dari fakultas, tetapi juga didorong untuk melanjutkan ke tahap sertifikasi profesi di tingkat universitas melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UNS.

    “Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini, teman-teman tidak berhenti sampai di sini saja. Silakan melanjutkan ke sertifikasi di LSP UNS agar memiliki kompetensi yang lebih kuat di bidang ekspor impor,” ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tujuan pelatihan ini tidak hanya sekadar memenuhi persyaratan administratif mahasiswa, tetapi juga untuk memperkuat keterampilan dan soft skills yang relevan dengan dunia kerja.

    “Kami ingin mahasiswa tidak hanya memiliki IPK yang baik, tetapi juga memiliki keahlian yang dapat menjadi bekal ketika terjun ke dunia kerja, salah satunya melalui pemahaman tentang ekspor impor,” tambahnya.

    Pada sesi pertama pelatihan, Muhammad Bagus Sistriatmaja, S.E., M.E., dosen FEB UNS, memberikan materi mengenai dasar-dasar identifikasi komoditas ekspor serta klasifikasi Harmonized System (HS) Code yang digunakan dalam perdagangan internasional.

    Ia menjelaskan bahwa peserta akan diajak memahami cara mengidentifikasi komoditas yang memiliki potensi pasar ekspor serta mempelajari klasifikasi barang menggunakan HS Code.

    “Kita akan mencoba mengidentifikasi komoditas-komoditas yang memiliki potensi pasar ekspor, misalnya kopi, rempah-rempah seperti cabai dan jahe, serta melihat negara mana yang memiliki peluang pasar terbesar,” jelasnya.

    Selain pemaparan materi, peserta juga diajak melakukan simulasi sederhana untuk memahami proses identifikasi komoditas ekspor. Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta mengenai perdagangan internasional.

    Pelatihan ini juga menghadirkan Ivan Kurniawan, praktisi dan pelaku ekspor dari Kota Surakarta, yang berbagi pengalaman mengenai praktik ekspor secara langsung di lapangan.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh wawasan praktis mengenai perdagangan internasional sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi dinamika dunia bisnis global. Selain itu, pelatihan ini menjadi bagian dari upaya FEB UNS dalam mendukung penguatan kompetensi mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri.

    Pelatihan ini juga sejalan dengan komitmen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi mahasiswa di bidang perdagangan internasional, serta SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan membekali mahasiswa keterampilan praktis yang relevan dengan dunia industri dan peluang bisnis global.

     

     

  • Kolaborasi Akademisi dan Industri Warnai Gelaran FutureFin di FEB UNS

    Kolaborasi Akademisi dan Industri Warnai Gelaran FutureFin di FEB UNS

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi tuan rumah kegiatan FutureFin dalam rangka inisiatif Tech for Indonesia yang diselenggarakan di Aula Gedung Suhardi FEB UNS, Selasa (3/3/2026).

    Kegiatan yang bertema Exploring Digital Lending Through Data, Ethics and Critical Thinking  menghadirkan kolaborasi antara dunia akademisi, industri, dan regulator untuk memperkuat literasi serta inklusi keuangan digital di kalangan mahasiswa.

    Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si,. Ph.D, dalam sambutannya menilai kegiatan FutureFin Talk ini sangat penting bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, karena memberikan kesempatan untuk belajar langsung dari para praktisi dan pemangku kepentingan di bidang teknologi finansial.

    “Mahasiswa tidak hanya mengikuti pelajaran dan teori secara eksklusif di kelas. Kampus juga harus terintegrasi dengan berbagai perkembangan di luar, termasuk dengan dunia industri,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa UNS saat ini juga menekankan integrasi kegiatan akademik dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), salah satunya SDG 4: Quality Education. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pencerahan dan wawasan baru dari para narasumber yang berkompeten.

    Kepala OJK Solo Eko Hariyanto  menyampaikan apresiasi kepada FEB UNS atas komitmennya dalam mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan melalui penyelenggaraan kegiatan edukasi bagi mahasiswa.

    OJK juga mengapresiasi kontribusi perusahaan fintech AdaKami yang terlibat dalam program literasi dan inklusi keuangan di Indonesia dengan menghadirkan mahasiswa sebagai peserta dalam kegiatan ini.

    Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Bisnis Digital, Aldy Fariz Achsanta, S.E., M.Rech.,Ph.D, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah dan memperbarui pengetahuan mengenai teknologi finansial, baik dari segi konsep maupun berbagai tantangan yang muncul dalam praktiknya.

    Ia menjelaskan bahwa peserta mendapatkan paparan dari dua narasumber dengan perspektif yang berbeda, yakni dari sisi industri dan dari sisi akademisi, sehingga mahasiswa dapat memahami perkembangan fintech secara lebih komprehensif.

    “Pada dasarnya acara ini merupakan bagian dari sinergi yang luar biasa antara dunia akademis dan dunia industri. Ke depan diharapkan kolaborasi ini dapat melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, baik dari dunia bisnis, regulator, maupun masyarakat,” ungkapnya.

    Aldi menambahkan bahwa kolaborasi tersebut penting untuk mendorong tercapainya inklusi keuangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Ia juga mengajak mahasiswa untuk menyimak materi dengan baik agar dapat memahami secara langsung bagaimana industri fintech berjalan di dunia nyata.

    Melalui kegiatan FutureFin ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman diskusi yang memberikan gambaran nyata tentang praktik industri.