FEB

Blog

  • Dikukuhkan sebagai Guru Besar UNS, Prof. Agung Prabowo Dorong Penataan Ulang Tata Kelola Korporasi di Indonesia

    Dikukuhkan sebagai Guru Besar UNS, Prof. Agung Prabowo Dorong Penataan Ulang Tata Kelola Korporasi di Indonesia

    Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar upacara Pengukuhan Guru Besar di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Selasa (10/2/2026). Prof. Drs. Muhammad Agung Prabowo, M.Si., Ph.D., Ak., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Guru Besar Bidang Akuntansi Keuangan dan Corporate Governance oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., bersama lima Guru Besar lainnya di lingkungan UNS.

    Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Mereset Diskursus Corporate Governance di Indonesia: Esensi Teoretis, Dinamika Perkembangan, dan Bukti Empiris Multidimensi”, Prof. Agung menggarisbawahi perlunya penataan ulang cara pandang terhadap praktik Good Corporate Governance (GCG) di Indonesia, agar tidak berhenti pada pemenuhan regulasi dan struktur formal semata.

    Ia menjelaskan bahwa fondasi teoretis tata kelola korporasi berangkat dari Teori Keagenan yang menyoroti konflik antara pemilik dan manajer. Namun, dalam konteks Indonesia yang banyak diwarnai struktur kepemilikan terkonsentrasi dan dominasi bisnis keluarga, persoalan tata kelola bergeser menjadi konflik antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham non-pengendali (minoritas). Oleh karena itu, perlindungan terhadap pemegang saham minoritas menjadi isu sentral dalam diskursus tata kelola nasional.

    Berdasarkan kajian empiris yang dipaparkannya, Prof. Agung menekankan bahwa keberadaan mekanisme formal seperti komisaris independen, komite audit, maupun perangkat regulasi belum tentu menjamin efektivitas pengawasan. Kualitas tata kelola sangat dipengaruhi oleh karakteristik individu dewan, independensi yang bersifat substantif, kompetensi, serta dinamika kekuasaan di dalam perusahaan.

    Ia juga menyoroti perkembangan paradigma corporate governance yang semakin terintegrasi dengan isu keberlanjutan. Tata kelola tidak lagi hanya diukur dari kinerja finansial, tetapi juga dari akuntabilitas sosial dan lingkungan. Bukti empiris menunjukkan bahwa karakter pimpinan perusahaan, latar belakang pendidikan dan keahlian dewan, serta struktur kepemilikan berpengaruh terhadap kualitas pelaporan keberlanjutan dan tanggung jawab perusahaan.

    Dalam orasinya, Prof. Agung menegaskan bahwa reformasi tata kelola di Indonesia memerlukan pendekatan kontekstual yang mempertimbangkan struktur ekonomi domestik, karakteristik kepemilikan, serta budaya korporasi nasional. Pendekatan “one size fits all” tidak memadai untuk menjawab kompleksitas tata kelola di Indonesia.

    Mengakhiri orasinya, ia mendorong penguatan independensi dewan secara nyata, peningkatan kualitas dan integritas pengelola perusahaan, serta perlindungan investor minoritas sebagai fondasi tata kelola yang adil dan berkelanjutan.

    Gagasan yang disampaikan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 16 (Institusi yang Tangguh, Transparan, dan Akuntabel), melalui penguatan tata kelola korporasi yang berintegritas dan berorientasi jangka panjang.

  • Guru Besar Baru FEB UNS Tanam Pohon di Halaman Gedung Djarwanto

    Guru Besar Baru FEB UNS Tanam Pohon di Halaman Gedung Djarwanto

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan ekosistem kampus yang asri dan berkelanjutan melalui aksi  penanaman pohon oleh para Guru Besar baru.

    Kegiatan ini dilaksanakan di halaman Gedung Djarwanto PS FEB, Kamis 12 Februari 2026.

    Ketiga Guru Besar, Prof. Dr. Evi Gravitiani, Prof. Dr. Dwi Prasetyaningsih dan Prof. Dr. Muhammad Agung Prabowo memilih jenis pohon yang variatif dan bermanfaat, yakni damar, jambu air dan duku.

    Dekan FEB, Prof. Bhimo Rizky Samudro dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemilihan lokasi di depan Gedung Djarwanto bertujuan untuk menambah ruang terbuka hijau agar lebih optimal. Langkah ini juga dipandang strategis untuk mendukung pencapaian universitas dalam pemeringkatan UI GreenMetric.

    Penanaman pohon ini diharapkan tidak hanya memberi kesejukan fisik, tetapi juga menjadi simbol kontribusi dan “warna baru” yang dibawa oleh para Guru Besar bagi kemajuan fakultas.

    “Mudah-mudahan ini bisa berbuah, memberi warna, dan memberi kesejukan buat kita semua, sebagaimana esensi kehadiran Bapak/Ibu Guru Besar baru di lingkungan FEB,” ujar Prof. Bhimo dalam arahannya.

    Melalui kegiatan ini, FEB berharap tradisi menanam pohon dapat terus terjaga sebagai bentuk tanggung jawab kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan kampus bagi generasi mendatang.

    Dekan juga mengapresiasi inisiatif para Guru Besar serta dukungan dari tenaga kependidikan (Tendik) yang telah memfasilitasi acara ini hingga berjalan lancar.

    Kegiatan penanaman pohon ini merupakan langkah nyata FEB UNS dalam mendukung SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui aksi penghijauan untuk mengurangi emisi karbon, serta SDGs 15 (Ekosistem Daratan) dengan menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan menciptakan lingkungan kampus yang berkelanjutan.

  • Kunjungan Studi SMAN 1 Grobogan ke FEB UNS: Fokus pada Pendidikan Berkualitas dan Beretika

    Kunjungan Studi SMAN 1 Grobogan ke FEB UNS: Fokus pada Pendidikan Berkualitas dan Beretika

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menerima kunjungan studi dari SMA Negeri 1 Grobogan pada Kamis, 12 Februari 2026 di Aula Gedung Suhardi FEB UNS, kunjungan ini bertujuan untuk memberikan wawasan dunia kampus serta memotivasi siswa kelas XII dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

    Dalam sambutan kunjungan, Pram Suryanadi, S.E., M.Si., Ketua Tim Kehumasan FEB UNS memaparkan berbagai keunggulan fakultas, termasuk keberadaan program studi terbaru, Bisnis Digital. Ia menjelaskan bahwa pendidikan bisnis di FEB UNS tidak hanya berfokus pada pencapaian profit, tetapi juga memegang teguh prinsip tiga pilar utama: profit, people, dan planet.

    “Bisnis yang baik harus memberikan dampak positif bagi manusia dan kelestarian lingkungan. Di FEB UNS, kami berkomitmen menjaga kualitas pendidikan agar lulusan kami tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki etika dan kepedulian terhadap isu-isu global,” ungkap Pram Suryanadi.

    Pram juga menambahkan bahwa UNS dengan atmosfer kota Solo yang kental akan budaya namun memiliki biaya hidup yang terjangkau, UNS menawarkan pengalaman belajar bertaraf internasional bagi mahasiswa dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

    Sementara itu, Djoko Priyanto, S.Pd., M.Pd., Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Grobogan menyampaikan bahwa UNS merupakan tujuan favorit bagi para siswanya. Ia menekankan bahwa banyak guru di SMA Negeri 1 Grobogan merupakan alumni UNS, sehingga ikatan emosional dan kepercayaan terhadap kualitas pendidikan di UNS sangat tinggi. Selain sebagai sarana motivasi, kunjungan ini juga menjadi momen bagi sekolah untuk mengucapkan selamat atas Dies Natalis ke-50 UNS yang jatuh pada 11 Maret mendatang.

    “Kami berharap hubungan silaturahmi antara SMA Negeri 1 Grobogan dengan FEB UNS dapat terjalin lebih erat dan berlanjut pada kerja sama yang lebih konkret di masa depan,” ujar Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Grobogan.

    Kegiatan penyambutan siswa juga diisi dengan pemaparan program studi, diskusi interaktif, serta pengenalan fasilitas kampus guna memberikan gambaran nyata bagi para siswa mengenai kehidupan akademik di salah satu universitas terbaik di Indonesia.

    Kegiatan kunjungan ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada pilar Pendidikan Berkualitas (SDGs 4) melalui pemberian akses informasi pendidikan tinggi bagi siswa daerah. Selain itu, komitmen FEB UNS dalam mengedukasi prinsip bisnis yang menjaga ekosistem lingkungan dan kesejahteraan manusia merupakan wujud nyata dukungan terhadap Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDGs 12).

  • Mempersiapkan Akuntan Masa Depan: Magister Akuntansi FEB UNS Gelar Orientasi Mahasiswa Baru dan Guest Lecture

    Mempersiapkan Akuntan Masa Depan: Magister Akuntansi FEB UNS Gelar Orientasi Mahasiswa Baru dan Guest Lecture

    Program Studi Magister Akuntansi (Maksi) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan rangkaian acara Orientasi Mahasiswa Baru yang dibalut dengan Guest Lecture “Governance Professional serta Sharing Session with Alumni, Jumat 13 Februari 2026 di Ruang Telekonferen FEB UNS.

    Acara ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru untuk memahami arah akademik sekaligus peluang karier strategis di kancah internasional.

    Acara dibuka oleh Kepala Program Studi (Kaprodi) Magister Akuntansi, Lulus Kurniasih, S.E., M.S.Ak., Ph.D. Dalam sambutannya, Kaprodi menyampaikan apresiasi atas bergabungnya para mahasiswa baru dan menekankan bahwa kurikulum Maksi UNS dirancang untuk membentuk akuntan yang adaptif terhadap perubahan global.

    Sesi utama menghadirkan pakar internasional, Dr. Nazratul Aina Mohamad Anwar dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM). Dalam presentasinya yang dimoderasi oleh Muhammad Alif Nur Irvan, S.Ak., M.Acc., CPA, Dr. Nazratul mengupas evolusi peran Sekretaris Perusahaan menjadi Governance Professional.

    Ia menekankan bahwa di era modern, tanggung jawab akuntan dan profesional tata kelola melampaui sekadar kepatuhan hukum (legal compliance), melainkan telah bergeser menjadi mitra strategis dewan direksi dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi organisasi.

    Sesi berbagi pengalaman alumni menghadirkan sosok luar biasa, Antin Okfitasari, S.E., S.H., M.Si., Ak., CA., BKP., Asean CPA. Sebagai praktisi yang sukses mengelola kantor konsultan pajak dan jasa akuntan, Antin membagikan perjalanan kariernya yang multidisiplin, mulai dari akuntansi, hukum, hingga keterlibatannya di berbagai sektor.

    “Cintailah profesi akuntansi dengan sepenuh hati. Pemahaman yang mendalam akan melahirkan kompetensi dan praktik etika yang kokoh,” ujar Antin. Ia juga menyoroti pentingnya reskilling dan pemanfaatan teknologi seperti cyber law dalam menghadapi tantangan profesi di daerah pedesaan hingga kota besar.

    Diskusi panel tersebut juga menggarisbawahi fakta bahwa jumlah akuntan profesional di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan total populasi. Hal ini dipandang sebagai peluang besar bagi mahasiswa S2 Akuntansi untuk mengisi kekosongan tersebut, terutama melalui sertifikasi profesi dan riset terapan yang relevan dengan kebutuhan industri.

    Menutup rangkaian acara, pengelola program studi memaparkan arah akademik program Magister Akuntansi, mencakup: struktur kurikulum: fokus pada penguatan analisis data dan tata kelola, persyaratan tesis: panduan riset yang aplikatif dan inovatif serta fasilitas yang meliputi sumber daya perpustakaan dan laboratorium yang tersedia untuk mendukung kelancaran studi mahasiswa.

    Kegiatan ini secara langsung mendukung pencapaian SDGs, khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): Menjamin pendidikan tinggi akuntansi yang relevan dengan standar industri global; SDG 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi): Mencetak tenaga ahli untuk memperkuat transparansi ekonomi nasional serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, & Kelembagaan yang Tangguh): Mendorong tata kelola organisasi yang etis, akuntabel, dan bebas korupsi melalui peran akuntan profesional.

  • Prof. Evan Lau Poh Hock Bagikan Strategi Sukses PhD dan Publikasi Ilmiah kepada Dosen FEB UNS

    Prof. Evan Lau Poh Hock Bagikan Strategi Sukses PhD dan Publikasi Ilmiah kepada Dosen FEB UNS

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan Workshop “Academic Growth Lab: PhD, Writing, and Research”, Senin 9 Februari 2026, di Ruang Sidang 1 Gedung Soeharno TS FEB UNS.

    Kegiatan ini menghadirkan Prof. Evan Lau Poh Hock dari Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) dan dihadiri oleh dosen FEB UNS.

    Prof. Evan membuka paparan dengan menekankan pentingnya motivasi dalam menempuh studi doktoral (PhD). Menurutnya, motivasi dapat dimulai dari sebuah pertanyaan atau rumusan masalah yang jelas.

    “Sebelum Anda memulai PhD, mulailah dengan sebuah pertanyaan. Dengan begitu ketika Anda menyelesaikan PhD, Anda akan mendapatkan kesimpulan,” jelas Prof. Evan.

    Ia mengajak peserta untuk membiasakan diri selalu menanyakan sesuatu, baik saat membaca artikel ilmiah maupun dalam kegiatan sehari-hari. Kebiasaan bertanya ini dinilai akan sangat membantu dalam proses PhD, karena tujuan utama dari PhD adalah menemukan pendekatan alternatif dalam menyelesaikan atau menjawab permasalahan yang ada.

    Selain itu, kolaborasi dalam riset menjadi hal yang penting. Kolaborasi dapat melengkapi serta membantu peneliti dalam menemukan metode atau pendekatan alternatif tersebut.

    Dalam perjalanan studi doktoral, tidak jarang mahasiswa maupun dosen mengalami kehilangan ide menarik di tengah proses. Oleh karena itu, menjaga motivasi melalui pertanyaan-pertanyaan kritis menjadi salah satu kunci keberlanjutan riset.

    Lebih lanjut, Prof. Evan juga menjelaskan beberapa sumber literatur dan jurnal yang dapat menjadi referensi sekaligus inspirasi dalam melakukan riset PhD.

    Paparan materi ditutup dengan motivasi kepada peserta agar tidak takut menghadapi rejection dalam proses publikasi artikel ilmiah. Penolakan, menurutnya, merupakan bagian dari proses akademik yang harus dihadapi dan dijadikan pembelajaran untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

    Kegiatan ini mencerminkan komitmen FEB UNS dalam mendorong penguatan kapasitas dosen di bidang studi lanjut dan publikasi ilmiah. Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan mutu pendidikan tinggi dan riset, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi akademik internasional.

  • FEB UNS Sambut Tiga Guru Besar Baru: Perkuat Skuad Senat Akademik Fakultas

    FEB UNS Sambut Tiga Guru Besar Baru: Perkuat Skuad Senat Akademik Fakultas

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) tengah diselimuti rasa bahagia atas pengukuhan tiga Guru Besar baru, yakni Prof. Dr. Evi Gravitiani, Prof. Dr. Dwi Prasetyaningsih dan Prof. Dr. Muhammad Agung Prabowo. Kehadiran ketiganya disambut hangat oleh pimpinan fakultas dan Senat Akademik Fakultas (SAF) dan keluarga besar FEB UNSdalam acara penyambutan resmi.

    Ketua Senat Akademik Fakultas, Prof. Hunik Sri Runing Sawitri , menyatakan bahwa bertambahnya tiga Guru Besar ini memberikan harapan besar bagi penguatan organisasi internal SAF. Ketiganya secara otomatis akan bergabung menjadi anggota Senat Akademik Fakultas.

    “Beliau-beliau ini diharapkan nantinya akan memberikan energi yang besar, memperkuat skuad SAF dengan memberikan sumbang sarannya, masukan-masukannya, pertimbangan-pertimbangan yang diberikan,” ujar Prof. Hunik.

    Beliau juga menekankan bahwa kontribusi ini sangat penting untuk membantu pencapaian kinerja akademik yang menjadi kontrak antara Dekan FEB dengan Rektor UNS agar target tersebut dapat lebih cepat tercapai.

    Senada dengan hal tersebut, Dekan FEB UNS memberikan apresiasi tinggi atas perjalanan panjang yang telah dilalui ketiga Guru Besar. Ia menyebut dinamika dalam proses meraih gelar tertinggi akademik ini sebagai sebuah seni.

    “Kita tahu persis bagaimana dinamika submit, ditolak, revisi, itu adalah bagian dari the art of being a professor,” ungkap Pak Dekan dalam sambutannya.

    Proses tersebut, menurut Prof. Hunik, membutuhkan ketelatenan dan kesabaran ekstra, terutama dengan adanya perubahan aturan syarat khusus Guru Besar tahun ini yang semakin berat, yakni kewajiban publikasi dua artikel di jurnal internasional bereputasi (Q1, Q2, atau Q3).

    Meskipun gelar Guru Besar akan membuka peluang bagi ketiganya untuk aktif di luar kampus, baik Prof. Hunik maupun Pak Dekan memberikan pesan kuat agar mereka tetap mengutamakan kepentingan internal fakultas.

    “Utamakanlah yang kepentingan FEB UNS. Karena kita para guru besar itu berasal dari FEB dan membawa bendera FEB,” tegas Prof. Hunik.

    Dekan FEB menambahkan bahwa para Guru Besar baru ini diharapkan menjadi “lokomotif” bagi dosen-dosen muda lainnya untuk segera menyusul, sekaligus meningkatkan bobot kualitas penelitian dan reputasi internasional FEB UNS demi memenuhi Indikator Kinerja Utama (IKU) fakultas.

    Ketiga Guru Besar baru pun berkesempatan memberikan sambutan mereka, membagikan cerita, refleksi atas pencapaian gelar tertinggi di dunia akademik tersebut.

    Langkah FEB UNS dalam mencetak lebih banyak Guru Besar bukan sekadar seremoni akademik, melainkan manifestasi nyata terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

    Pertama, pencapaian ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), di mana penambahan pakar di level tertinggi akan secara langsung meningkatkan mutu pengajaran dan kurikulum di lingkungan universitas. Kedua, melalui kepakaran para Guru Besar baru di bidang ekonomi, FEB UNS memperkuat kontribusinya pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui riset-riset yang aplikatif bagi kebijakan nasional. Terakhir, peningkatan reputasi internasional yang dibawa oleh ketiga Profesor ini selaras dengan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), memperkuat posisi UNS dalam kolaborasi akademik global.

  • Peresmian Islamic Economics and Business Center Tandai Langkah Strategis UNS Bangun Ekosistem Syariah

    Peresmian Islamic Economics and Business Center Tandai Langkah Strategis UNS Bangun Ekosistem Syariah

    Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta secara resmi meresmikan Gedung Islamic Economics and Business Center di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Selasa (10/2/2026). Peresmian gedung ini merupakan bagian dari Program Kemaslahatan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Tahun 2025 sekaligus menjadi wujud komitmen UNS dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional.

    Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada BPKH atas dukungan yang diberikan melalui Program Kemaslahatan sehingga pembangunan gedung tersebut dapat terlaksana. Ia menjelaskan bahwa pembangunan Gedung Islamic Economics and Business Center UNS telah dimulai sejak Juli 2025 dan kini siap dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan akademik dan pengembangan keilmuan.

    Menurut Prof. Hartono, kehadiran gedung ini merefleksikan semangat kolaborasi dan visi bersama dalam membangun masa depan ekonomi syariah yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan keuangan syariah dan industri halal, seiring dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia, riset, serta ekosistem yang berkesinambungan.

    Lebih lanjut, Prof. Hartono menyampaikan bahwa pembangunan Islamic Economics and Business Center sejalan dengan strategi DREAMTEAM UNS, khususnya nilai Active, yang menekankan pentingnya kolaborasi strategis dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, hingga masyarakat sipil.

    Ia menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai agen solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, gedung ini diharapkan menjadi pusat unggulan pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dengan fokus pada pengembangan ekonomi dan bisnis syariah berbasis keilmuan dan kemaslahatan umat.

    Selain itu, Islamic Economics and Business Center UNS diproyeksikan menjadi ruang lahirnya gagasan inovatif, riset aplikatif, serta wadah sinergi lintas sektor dalam pengembangan ekonomi syariah di tingkat lokal, nasional, hingga global. UNS berharap pusat ini mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, etika, dan kepedulian sosial.

    Pada kesempatan yang sama, Rektor UNS juga menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS serta seluruh pihak yang telah mempersiapkan pengelolaan gedung secara berkelanjutan. UNS pun membuka peluang kerja sama seluas-luasnya dengan pemerintah daerah, lembaga keuangan syariah, lembaga zakat dan wakaf, dunia industri, hingga mitra internasional.

    Sementara itu, Anggota Dewan Pengawas BPKH, Dr. Mulyadi, S.E., M.M., M.Si., menjelaskan bahwa Dana Abadi Umat yang dikelola BPKH memiliki fungsi kemaslahatan, salah satunya melalui dukungan terhadap pembangunan sektor pendidikan. Prinsip tersebut menjadi landasan BPKH dalam mendukung pembangunan Gedung Islamic Economics and Business Center di UNS.

    Ia menyambut baik langkah UNS yang tidak hanya memanfaatkan pembangunan gedung, tetapi juga merencanakan pembukaan program studi baru di bidang ekonomi dan keuangan Islam. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan mandat BPKH dalam mengelola keuangan haji secara transparan, akuntabel, dan berlandaskan prinsip syariah.

    Melalui kerja sama ini, BPKH berharap kolaborasi dengan UNS dapat terus dikembangkan dalam berbagai bentuk, khususnya dalam bidang pendidikan serta penguatan literasi ekonomi dan keuangan Islam. Kehadiran program studi baru juga membuka peluang kegiatan lanjutan, seperti sosialisasi keuangan haji, seminar, dan penguatan peran BPKH di tengah masyarakat.

    Dalam pelaksanaannya, Program Kemaslahatan BPKH dikelola bersama mitra pelaksana, salah satunya Rumah Zakat. BPKH telah membangun berbagai fasilitas pendidikan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke, termasuk pondok pesantren dan institusi pendidikan lainnya. Dipilihnya UNS sebagai mitra strategis didasarkan pada peran UNS sebagai perguruan tinggi yang terus berkembang serta memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat dan potensi besar sebagai pusat pengembangan pendidikan ekonomi dan keuangan Islam di Indonesia.

  • Pengukuhan Guru Besar UNS: Prof. Dwi Prasetyani Tegaskan Peran Strategis Perempuan Pengusaha dalam Pembangunan Berkelanjutan

    Pengukuhan Guru Besar UNS: Prof. Dwi Prasetyani Tegaskan Peran Strategis Perempuan Pengusaha dalam Pembangunan Berkelanjutan

    Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali mengukuhkan Guru Besar dalam sebuah prosesi khidmat yang digelar di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Selasa (10/2/2026).

    Prof. Dr. Dwi Prasetyani, S.E., M.Si., CIPE., CPRM. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kewirausahaan dan Pemberdayaan Perempuan oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., bersama lima Guru Besar lainnya di lingkungan UNS.

    Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Peran Perempuan Pengusaha dalam Perspektif Holistik: Antara Bisnis, Keluarga, Agama, Masyarakat dan Pembangunan Berkelanjutan”, Prof. Dwi Prasetyani menegaskan bahwa perempuan pengusaha memiliki posisi strategis sebagai penggerak ekonomi sekaligus penjaga nilai dalam masyarakat.

    Di awal orasinya, Prof. Dwi memaparkan data empiris yang menunjukkan adanya kemajuan dalam pembangunan gender di Indonesia, seperti peningkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG), Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), serta partisipasi pendidikan tinggi perempuan. Namun demikian, ia menekankan bahwa kesenjangan masih nyata, tercermin dari perbedaan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), kesenjangan upah, hingga keterwakilan politik perempuan yang belum mencapai kuota afirmatif.

    “Kemajuan telah dicapai, tetapi kesetaraan substantif masih memerlukan upaya kolektif,” tegasnya.

    Menurutnya, perempuan yang telah menikah sering menghadapi peran ganda sebagai ibu dan pekerja, yang kerap memunculkan konflik antara tanggung jawab domestik dan profesional. Dalam konteks inilah kewirausahaan hadir sebagai alternatif pemberdayaan yang memberikan fleksibilitas sekaligus otonomi bagi perempuan.

    Prof. Dwi menjelaskan bahwa kewirausahaan menjadi ruang yang memungkinkan perempuan mengintegrasikan peran bisnis dan keluarga. Motivasi utama perempuan dalam berwirausaha sering kali bertumpu pada otonomi dan fleksibilitas, di samping kebutuhan ekonomi dan aktualisasi diri.

    Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan pengusaha, antara lain bias gender, keterbatasan akses modal, beban domestik, kesenjangan teknologi, serta keterbatasan jejaring profesional. Oleh sebab itu, pendekatan pemberdayaan perempuan tidak dapat bersifat parsial, tetapi harus kontekstual, sensitif gender, dan berbasis nilai budaya.

    Salah satu penekanan utama dalam orasi pengukuhan ini adalah integrasi nilai-nilai Islam dalam praktik kewirausahaan perempuan. Berdasarkan temuannya pada perempuan pengusaha Muslimah di Surakarta, Prof. Dwi menjelaskan bahwa penerapan nilai Islam tercermin dalam tiga ranah utama: pengelolaan usaha, pengelolaan karyawan, dan pengelolaan keuangan.

    Dalam pengelolaan usaha, orientasi tidak semata pada profit, tetapi juga pada keberkahan dan ridha Allah SWT. Dalam pengelolaan karyawan, nilai keadilan, pemenuhan hak secara tepat waktu, dan pembinaan spiritual menjadi bagian dari budaya kerja. Sementara dalam pengelolaan keuangan, kehati-hatian terhadap riba serta penerapan prinsip muamalah menjadi pedoman utama.

    “Keberhasilan usaha tidak lagi diukur hanya dari pertumbuhan aset atau omzet, tetapi juga dari ketenangan batin, keseimbangan peran, dan keberkahan,” ungkapnya.

    Ia menyebut proses ini sebagai transformasi perilaku, dari orientasi material menuju falah (kesuksesan dunia-akhirat), yang memadukan bisnis, keluarga, dan spiritualitas dalam satu kesatuan utuh.

    Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, Prof. Dwi menegaskan bahwa perempuan pengusaha berkontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam pengentasan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi local, peningkatan kesetaraan gender, inovasi dan praktik bisnis berkelanjutan yang ramah lingkungan, serta pendidikan dan pelatihan masyarakat sekitar.

    Menurutnya, perempuan pengusaha bukan hanya pelaku ekonomi, melainkan agen perubahan sosial yang membawa dampak sistemik bagi kesejahteraan masyarakat.

    Mengakhiri orasinya, Prof. Dwi menekankan perlunya pendekatan holistik dalam pengembangan kewirausahaan perempuan. Ia mengusulkan lima dimensi utama yang perlu diakomodasi, yaitu pendidikan kewirausahaan berbasis nilai, pembangunan berkelanjutan, akses pembiayaan yang sesuai (termasuk skema syariah), dukungan budaya lokal dan religius, serta penguatan nilai agama.

    “Bisnis dapat berjalan seiring dengan ibadah, pencapaian ekonomi dapat bersanding dengan kebahagiaan keluarga, dan pembangunan berkelanjutan dapat berakar pada nilai-nilai luhur,” tegasnya.

    Orasi ilmiah ini sekaligus menjadi refleksi bahwa perempuan pengusaha adalah pilar pembangunan bangsa, bukan hanya sebagai pelaku usaha, tetapi sebagai penjaga harmoni keluarga, pemelihara budaya, dan pengamal nilai-nilai spiritual dalam praktik ekonomi modern.

  • Prof. Dr. Evi Gravitiani Dikukuhkan sebagai Guru Besar FEB UNS, Tegaskan Peran Ekonomi SDA untuk Pembangunan Berkelanjutan

    Prof. Dr. Evi Gravitiani Dikukuhkan sebagai Guru Besar FEB UNS, Tegaskan Peran Ekonomi SDA untuk Pembangunan Berkelanjutan

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali mencatatkan capaian akademik membanggakan. Prof. Dr. Evi Gravitiani, S.E., M.Si., CBEc resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Sumber Daya Alam dalam prosesi pengukuhan Guru Besar UNS yang digelar di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Selasa (27/1/2026).

    Pengukuhan ini menjadi tonggak penting bagi FEB UNS dalam memperkuat pengembangan keilmuan ekonomi, khususnya yang berorientasi pada pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

    Prof. Evi merupakan satu-satunya Guru Besar dari FEB UNS yang dikukuhkan pada awal tahun 2026, bersamaan dengan delapan Guru Besar lainnya dari berbagai fakultas di lingkungan UNS.

    Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Ekonomi Sumber Daya Alam dan Transformasi Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan sebagai Fondasi Keilmuan Model Pariwisata Sirkular,” Prof. Evi menekankan pentingnya pendekatan ekonomi sumber daya alam yang adaptif terhadap tantangan global, krisis lingkungan, serta tuntutan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

    Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam tidak lagi dapat dipahami semata dari sisi eksploitasi ekonomi, melainkan harus ditempatkan dalam kerangka keberlanjutan jangka panjang yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan kesejahteraan masyarakat. Model pariwisata sirkular menjadi salah satu tawaran konseptual yang dinilai relevan untuk menjawab tantangan tersebut.

    “Transformasi pembangunan ekonomi perlu bertumpu pada paradigma keberlanjutan, di mana pemanfaatan sumber daya alam diarahkan untuk memberikan nilai tambah tanpa mengorbankan generasi mendatang,” tegasnya dalam pidato pengukuhan.

    Bagi FEB UNS, pengukuhan Prof. Dr. Evi Gravitiani tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga memperkuat peran fakultas dalam pengembangan ilmu ekonomi yang responsif terhadap isu keberlanjutan, lingkungan, dan pembangunan berbasis potensi lokal. Ke depan, keilmuan yang dikembangkan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengambilan kebijakan dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.

    Pengukuhan Prof. Dr. Evi Gravitiani sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Sumber Daya Alam juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Keilmuan yang dikembangkan berkontribusi langsung pada SDGs Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim), serta Tujuan 15 (Ekosistem Daratan) melalui penguatan paradigma pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan.

  • FEB UNS Hosts Benchmarking Visit from UNESA, Dean Emphasizes the Importance of Inter-University Collaboration

    FEB UNS Hosts Benchmarking Visit from UNESA, Dean Emphasizes the Importance of Inter-University Collaboration

    Faculty of Economics and Business (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS), welcomed a benchmarking visit from the Accounting Study Program of Campus UNESA 5, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), on Thursday, 22 January 2026. The visit took place at the Fiscal Corner Room, Soeharno TS Building, FEB UNS. The activity aimed to strengthen academic governance, enhance study program quality, and expand institutional networks and collaboration among higher education institutions.

    The UNESA delegation was received directly by the Dean of FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si., Ph.D. The benchmarking session was attended by the leadership team of FEB UNS and faculty members from the Accounting Study Program FEB UNS.

    In his remarks, Prof. Bhimo stated that the benchmarking visit represented a valuable momentum, particularly in light of the development and opening of new study programs at FEB UNS. He emphasized that differences in institutional character and academic orientation should be viewed as complementary strengths rather than barriers.

    “When we received the letter from UNESA, we had just opened a new study program. I believe this is a valuable opportunity. Although our institutional bases differ, where UNESA has a strong foundation in education, this is precisely where we can learn a great deal, particularly in teaching practices,” he explained.

    He further elaborated that UNESA’s established educational systems, curriculum development frameworks, and instructional methodologies could serve as important references for FEB UNS. Conversely, FEB UNS is equally open to sharing best practices in academic governance and study program development.

    Prof. Bhimo also noted that collaboration could be implemented gradually, either partially or at the study program level. Potential areas for cooperation include the management of scientific journals, the development of international classes, and the implementation of Recognition of Prior Learning (RPL) schemes.

    In the subsequent session, the Head of the Undergraduate Accounting Study Program at FEB UNS, Prof. Doddy Setiawan, S.E., M.Si., Ph.D., Ak., delivered a comprehensive presentation on the profile and management of the Accounting Study Program. His presentation covered curriculum structure, learning systems, academic governance, as well as various innovations and development initiatives undertaken by the program. The session facilitated an interactive discussion and exchange of best practices between FEB UNS and the Undergraduate Accounting Study Program of UNESA.

    Through this benchmarking activity, both institutions are expected to foster sustained synergy and collaboration in enhancing the quality of higher education, particularly in the field of accounting.

    This initiative also supports the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), specifically SDG 4 (Quality Education) and SDG 17 (Partnerships for the Goals), through strengthened academic quality and inter-institutional collaboration in higher education.